6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa

tatkala by tatkala
June 23, 2024
in Ulas Pentas
Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa

Arja Kokar Bali di PKB 2024

ENTAH energi apa yang dimiliki para remaja di atas panggung di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat malam, 21 Juni 2024. Mereka, para remaja itu, memainkan drama tari arja dengan begitu percaya diri seakan-akan mereka penari-penari yang sudah dewasa dan matang.

Mereka adalah remaja yang tergabung dalam Sanggar Kokar Bali. Mereka mementaskan drama tari arja dengan kisah Candradewi.

Terutama aat matembang (menyanyi) para remaja itu begitu menguasai materi, olah vokal yang baik dan yang paling penting adalah menjiwi setiap tembang yang dibawakan.

Dramatari Arja itu mengangkat kisah “Candradewi” ini pentas dengan durasi waktu tiga jam lebih. Adapun kisahnya, Candradewi adalah seorang putri dari Kerajaan Mas Ambara Puri yang dipimpin oleh Ratu Ganda Siniwi. Seluruh isi kerajaan selalu meragukan kebenaran Ganda Siniwi sebagai ibu kandung dari Candradewi.

Itu karena, Ganda Siniwi selalu menyiksa Candradewi dan sangat memanjakan adik dari Candradewi, Arum Manis. Kesedihan Candradewi memuncak di saat cintanya kepada Raden Panji Langen dihalangi oleh Arum Manis yang membuat Ganda Siniwi mengusirnya dari kerajaan. Candradewi boleh kembali kalau bisa membawa emas-berlian dari Hutan Mastulian.

Melalui petualangan Candradewi diiringi oleh embannya yang setia kemudian bertemua dengan Prabhu Kerta Nuedan. Emas-berlian paling berharga, dan kebenaran akhirnya diberikan kepada Candradewi karena keteguhan hati dan memiliki prilaku yang sangat baik. Candradwi kemudian pula membawa berlian itu.

Sesampai di kerajaan, Ibu tirinya tetap saja menyalahkannya karena dianggap menjual diri untuk mendapatkan berlian itu. Ibu tiri lalu menyiksa dan membunuhnya, namun segera dihalangi Prabhu Kerta Nuedan yang ternyata adalah ayah kandungnya. Prabu marah kemudian membunuh ibu tiri Candrawati yang tiada lain adalah istri kedua sang prabu.

Candrawari menghentikan amarah Sang Prabu, karena manusia tidak luput dari kesalahaan, sehingga penting untuk memaafkan. Apalagi, Ibu Tiri mengakui kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi. Pertunjukan usai, penonton pun bubar.

Setiap adegan juga pembabakan yang dimainkan di atas panggung, senantiasa mampu mengundang rasa haru penonton, karena tembang-tembang itu terlantun dengan penuh penjiwaan.

Pada adegan ketika Galuh Candradewi yang disiksa oleh ibu tirinya, suasana di kursi penonton begitu hening. Haru terasa menyeruak di mana-mana.  Tembang sedih yang dinyanyikan oleh penari secara pelan, lembut dan memelas itu, membuat beberapa penonton tak kuasa mengeluarkan air mata.  Nyoman Atheny Pramasastra Dewi yang menjadi pemeran tokoh Candradewi sungguh menjiwai peran yang dimainkannya. 

Apalagi, pada saat kesedihan Candradewi memuncak di saat cintanya kepada Mantri Manis, Raden Panji Langen dihalangi oleh Galuh Liku bernama Arum Manis (adik tirinya). Ibu tiri, Ganda Siniwi, mengusir dari kerajaan dan hanya boleh kembali kalau Candradewi bisa membawa emas-berlian dari Hutan Mastulian. Suasana semakin sedih, penonton pun diam ikut bersedih.

Berbeda dengan adegan sebelumnya, pada saat Candradewi sedang kasmaran dimanja-manjakan, disanjung dalam adegan percintaan bersama Mantri Manis yang diperankan Ni Made Pramitha Prabaswari. Candradewi melantunkan tembang-tembang manis memikat hati. Demikian pula, Mantri Manis yang sangat piawai matembang.

Selain Galuh, Mantra Manis, Mantri Buduh, Desak Rai Limbur dan semua punakawan juga terdengar begiti piawai menyanyikan tembang-tembang dalam kisah Candradewi itu. Tembang-tembang sebagai dialog para penari dalam menyampaikan pesan.

Karena itu, selain dituntut harus bisa berakting, para penari dramatari arja itu juga harus bisa berdialog verbal, berdialog dengan tembang tradisional Bali sambil menari. Tembang dalam opera khas Bali ini secara macapat yang memiliki makna. Dalam pertunjukan dramatari, tembang itu kemudian diterjemahkan oleh punakawan, sehingga makna itu bisa sampai kepada penonton.

Pemeran punakawan Punta dan Wijil, baik itu yang manis (protagonis) maupun yang buduh (antagonis) tampak berusaha sekuat mungkin untuk menciptakan suasana pentas lebih menarik, agar penonton yang hadir tidak meninggalkannya.

Mereka mengemas gending-gending yang dipadu dengan banyolan-banyolan yang inovatif. Pada awalnya, mungkin terasa mentah, tetapi belakangan justru memikat.

Banyolan yang dilemparkan ke penonton, disambut hangat, sehingga mengundang gelak tawa penonton.

Apalagi, gegonjakan punakawan buduh saat mengiringi Mantri Buduh yang diperankan oleh Ni Made Pramitha Prabaswari itu, sungguh atraktif. Dalam adegan sekitar satu jam, mereka mampu menghipnotis penonton untuk larut dalam suasana tawa.

Punta yang diperankan I Ketut Fajar Naranata Sukanadi dan wijil yang diperankan I Kadek Bintang Danuarta begitu lihai di dalam memancing reaksi penonton. Mereka mampu menciptakan suasana pertunjukan lebih komunikatif. Lawakan yang dilemparkan sangat sederhana, dekat dengan kebiasaan sehari-hari, mampu memikat pengunjung semakin banyak.

Satu hal yang menarik lagi, Punta dan Wijil Buduh ini harus mampu menjaga stamina dan sponanitas di tengah keriuhan penonton di Panggung Ardha Candra. Di tengah gemuruh sorak para penonton, yang mirip suara hujan lebat itu, mereka tetap focus pada materi, sehingga penonton tak berpaling. Nafas mereka tampak ngos-ngosan yang berbicara sambil bergerak.

Tak terkecuali pada saat keangkuhan dan kekonyolan Galuh Liku, Arum Manis yang diperankan Ni Kadek Desi diirngi dayang Kenyar (Ni Kadek Ayu Ari Artini) dan Kenyur (Ni Komang Popy Tria Lestari). Ketiga tokoh ini selalu kreatif, dan selalu tanggap lawakan apa yang mesti di diolah kemudian dilemparkan kepada penonton. Mereka mampu menciptakan suasana dengki dan benci.

Penasar Manis (protagonis), I Gusti Putu Gede Sastrawan Wah mengaku, untuk menerjuni kesenian arja khususnya memerankan penasar itu tidak gampang. Walau memiliki modal sebagai dalang, namun memerankan penasar manis itu lebih sulit.

“Dalam tokoh Penasar Manis itu lebih tertata dalam berbahasa juga gerak,” katanya.

Namun, dengan latihan yang serius, ia bisa tampil. Ia lebih banyak belajar di rumah baik tentang vocal ataupu tari. Lalu, untuk mendapatkan bahan lawakan, itu dilakukan secara spontam. Ada yang menggalah dari data sebelumnya.

“Saat ini saya harus menyesuaikan dengan tema PKB Jana Kerthi, maka mengangkat tentang adab manusia, tingkah laku dan cara berpikir,” ujarnya.

Pemeran Limbur, Ni Putu Nessa Shivana Pradnyani, mengatakan sangat bangga bisa tampil di ajang PKB ini. Sebelumnya, biasa nyayah-ngayah untuk mengasah kemampuan.

“Saya sangat suka dengan kesenian klasik ini. Kendala pasti ada, tetapi selalu bersemangat memerankan Limbur,” ucapnya.

Ia mengaku, mesti menguasai dua karakter yang berbeda, yakni kerakrer halus yang menyayangi anak kandung Aru Manis, dan karakter keras kasar kepada anak tirinya Candradewi. Selain itu, ia yang masih muda mesti bisa tampil sebagai orang tua. “Maka itu, saya harus bekerja keras untuk mendapatkkan karakter tua, seperti tokoh limbur,” ujarnya bersemangat.

Vokal dan gerak disesuaikan, sehingga mampu mendapatkan karaker Limbur. Missal, suara dibuat lebih besar dan cara bicara marah-marah, seperti ibu-ibu berkasta. Maka, bergerak dan berbicara harus disesuaikan.

“Tokoh Limbur itu tokoh ratu yang agung berwibawa dan berkarakter manis untuk Arum Manis dan karakter jahat untuk Candradewi. Ada dua karakter,” sebutnya.

Kepala SMKN 3 Sukawati (Kokar dulu), I Gusti Ngurah Made Umbara, ST.,M.Pd mengatakan, dramatari arja ini merupakan kesenian langka. Sebagai sekolah pelestari seni budaya, sehingga SMKN 3 Sukawati diberikan kesempatan untuk tampil membawakan dramatari arja.

“Kami melibatakan dua kompetensi tari dan pedalangan, juga kompetensi karawitan,” ucapnya.

Jumlah penari dramatari arja sejumlah 12 orang dan 13 orang pengiring tabuh geguntuangan. Semua pelaku dalam sajian seni kali ini, adalah siswa. Arja yang identik dengan penari senior dewasa, tetapi Kokar justri menyajikan penari arja remaja. “Itu karena kami memiliki misi pelestari budaya,” tegasnya.

Ketua Sanggar Seni Kokar Bali, I Ketut Darya, SSP mengatakan, di dalam pembelajaran sidswa SMKN 3 Sukawati tidak ada materi arja, tetapi materi vocal itu diberikan kepada semua siswa.

“Kekuatan Kokar itu ada pada tari. Kalau mempelajari arja maka yang terpenting adalah vocal. Nah, ide membentuk arja Kokar ini dari kepala sekolah, dan baru berjalan setahun,” paparnya.

Dukungan untuk memunculkan Arja di Kokar datang dari Prof. Made Bandem, Prof. I Wayan Dibia dan Prof. Sedana. “Kita membangkitan arja, karena grafiknya itu menurun terus. Maka membangkitkan kesenian ini dimuali dari remaja. Cara menarik bakat anak-anak untuk belajar dramatari arja terus kami lakukan. Dramatari arja dilestarikan dan dikembangkan, sehingga grafiknya bisa naik,” katanya. [T][Pan]

Editor: Adnyana Ole

Tembakan Teatrikal dan Musik yang Beda dari “Raja Buduh” – Catatan Baleganjur Duta Jembrana di PKB 2024
Klasik Arja Citta Usadhi Badung vs Dingin Gedung Ksirarnawa
Diasuh Ninik Tjandri, Arja Remaja Komunitas Napak Tuju, Ubud, Tampil Klasik dan Segar
Tags: arjadramatari arjaPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2024seni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [3]: Memilih Pemimpin Bali

Next Post

Angklung Kendang Mebarung dari Bali Barat, Ada Kendang Terbesar di Dunia

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Angklung Kendang Mebarung dari Bali Barat, Ada Kendang Terbesar di Dunia

Angklung Kendang Mebarung dari Bali Barat, Ada Kendang Terbesar di Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co