3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa

tatkala by tatkala
June 23, 2024
in Ulas Pentas
Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa

Arja Kokar Bali di PKB 2024

ENTAH energi apa yang dimiliki para remaja di atas panggung di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat malam, 21 Juni 2024. Mereka, para remaja itu, memainkan drama tari arja dengan begitu percaya diri seakan-akan mereka penari-penari yang sudah dewasa dan matang.

Mereka adalah remaja yang tergabung dalam Sanggar Kokar Bali. Mereka mementaskan drama tari arja dengan kisah Candradewi.

Terutama aat matembang (menyanyi) para remaja itu begitu menguasai materi, olah vokal yang baik dan yang paling penting adalah menjiwi setiap tembang yang dibawakan.

Dramatari Arja itu mengangkat kisah “Candradewi” ini pentas dengan durasi waktu tiga jam lebih. Adapun kisahnya, Candradewi adalah seorang putri dari Kerajaan Mas Ambara Puri yang dipimpin oleh Ratu Ganda Siniwi. Seluruh isi kerajaan selalu meragukan kebenaran Ganda Siniwi sebagai ibu kandung dari Candradewi.

Itu karena, Ganda Siniwi selalu menyiksa Candradewi dan sangat memanjakan adik dari Candradewi, Arum Manis. Kesedihan Candradewi memuncak di saat cintanya kepada Raden Panji Langen dihalangi oleh Arum Manis yang membuat Ganda Siniwi mengusirnya dari kerajaan. Candradewi boleh kembali kalau bisa membawa emas-berlian dari Hutan Mastulian.

Melalui petualangan Candradewi diiringi oleh embannya yang setia kemudian bertemua dengan Prabhu Kerta Nuedan. Emas-berlian paling berharga, dan kebenaran akhirnya diberikan kepada Candradewi karena keteguhan hati dan memiliki prilaku yang sangat baik. Candradwi kemudian pula membawa berlian itu.

Sesampai di kerajaan, Ibu tirinya tetap saja menyalahkannya karena dianggap menjual diri untuk mendapatkan berlian itu. Ibu tiri lalu menyiksa dan membunuhnya, namun segera dihalangi Prabhu Kerta Nuedan yang ternyata adalah ayah kandungnya. Prabu marah kemudian membunuh ibu tiri Candrawati yang tiada lain adalah istri kedua sang prabu.

Candrawari menghentikan amarah Sang Prabu, karena manusia tidak luput dari kesalahaan, sehingga penting untuk memaafkan. Apalagi, Ibu Tiri mengakui kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi. Pertunjukan usai, penonton pun bubar.

Setiap adegan juga pembabakan yang dimainkan di atas panggung, senantiasa mampu mengundang rasa haru penonton, karena tembang-tembang itu terlantun dengan penuh penjiwaan.

Pada adegan ketika Galuh Candradewi yang disiksa oleh ibu tirinya, suasana di kursi penonton begitu hening. Haru terasa menyeruak di mana-mana.  Tembang sedih yang dinyanyikan oleh penari secara pelan, lembut dan memelas itu, membuat beberapa penonton tak kuasa mengeluarkan air mata.  Nyoman Atheny Pramasastra Dewi yang menjadi pemeran tokoh Candradewi sungguh menjiwai peran yang dimainkannya. 

Apalagi, pada saat kesedihan Candradewi memuncak di saat cintanya kepada Mantri Manis, Raden Panji Langen dihalangi oleh Galuh Liku bernama Arum Manis (adik tirinya). Ibu tiri, Ganda Siniwi, mengusir dari kerajaan dan hanya boleh kembali kalau Candradewi bisa membawa emas-berlian dari Hutan Mastulian. Suasana semakin sedih, penonton pun diam ikut bersedih.

Berbeda dengan adegan sebelumnya, pada saat Candradewi sedang kasmaran dimanja-manjakan, disanjung dalam adegan percintaan bersama Mantri Manis yang diperankan Ni Made Pramitha Prabaswari. Candradewi melantunkan tembang-tembang manis memikat hati. Demikian pula, Mantri Manis yang sangat piawai matembang.

Selain Galuh, Mantra Manis, Mantri Buduh, Desak Rai Limbur dan semua punakawan juga terdengar begiti piawai menyanyikan tembang-tembang dalam kisah Candradewi itu. Tembang-tembang sebagai dialog para penari dalam menyampaikan pesan.

Karena itu, selain dituntut harus bisa berakting, para penari dramatari arja itu juga harus bisa berdialog verbal, berdialog dengan tembang tradisional Bali sambil menari. Tembang dalam opera khas Bali ini secara macapat yang memiliki makna. Dalam pertunjukan dramatari, tembang itu kemudian diterjemahkan oleh punakawan, sehingga makna itu bisa sampai kepada penonton.

Pemeran punakawan Punta dan Wijil, baik itu yang manis (protagonis) maupun yang buduh (antagonis) tampak berusaha sekuat mungkin untuk menciptakan suasana pentas lebih menarik, agar penonton yang hadir tidak meninggalkannya.

Mereka mengemas gending-gending yang dipadu dengan banyolan-banyolan yang inovatif. Pada awalnya, mungkin terasa mentah, tetapi belakangan justru memikat.

Banyolan yang dilemparkan ke penonton, disambut hangat, sehingga mengundang gelak tawa penonton.

Apalagi, gegonjakan punakawan buduh saat mengiringi Mantri Buduh yang diperankan oleh Ni Made Pramitha Prabaswari itu, sungguh atraktif. Dalam adegan sekitar satu jam, mereka mampu menghipnotis penonton untuk larut dalam suasana tawa.

Punta yang diperankan I Ketut Fajar Naranata Sukanadi dan wijil yang diperankan I Kadek Bintang Danuarta begitu lihai di dalam memancing reaksi penonton. Mereka mampu menciptakan suasana pertunjukan lebih komunikatif. Lawakan yang dilemparkan sangat sederhana, dekat dengan kebiasaan sehari-hari, mampu memikat pengunjung semakin banyak.

Satu hal yang menarik lagi, Punta dan Wijil Buduh ini harus mampu menjaga stamina dan sponanitas di tengah keriuhan penonton di Panggung Ardha Candra. Di tengah gemuruh sorak para penonton, yang mirip suara hujan lebat itu, mereka tetap focus pada materi, sehingga penonton tak berpaling. Nafas mereka tampak ngos-ngosan yang berbicara sambil bergerak.

Tak terkecuali pada saat keangkuhan dan kekonyolan Galuh Liku, Arum Manis yang diperankan Ni Kadek Desi diirngi dayang Kenyar (Ni Kadek Ayu Ari Artini) dan Kenyur (Ni Komang Popy Tria Lestari). Ketiga tokoh ini selalu kreatif, dan selalu tanggap lawakan apa yang mesti di diolah kemudian dilemparkan kepada penonton. Mereka mampu menciptakan suasana dengki dan benci.

Penasar Manis (protagonis), I Gusti Putu Gede Sastrawan Wah mengaku, untuk menerjuni kesenian arja khususnya memerankan penasar itu tidak gampang. Walau memiliki modal sebagai dalang, namun memerankan penasar manis itu lebih sulit.

“Dalam tokoh Penasar Manis itu lebih tertata dalam berbahasa juga gerak,” katanya.

Namun, dengan latihan yang serius, ia bisa tampil. Ia lebih banyak belajar di rumah baik tentang vocal ataupu tari. Lalu, untuk mendapatkan bahan lawakan, itu dilakukan secara spontam. Ada yang menggalah dari data sebelumnya.

“Saat ini saya harus menyesuaikan dengan tema PKB Jana Kerthi, maka mengangkat tentang adab manusia, tingkah laku dan cara berpikir,” ujarnya.

Pemeran Limbur, Ni Putu Nessa Shivana Pradnyani, mengatakan sangat bangga bisa tampil di ajang PKB ini. Sebelumnya, biasa nyayah-ngayah untuk mengasah kemampuan.

“Saya sangat suka dengan kesenian klasik ini. Kendala pasti ada, tetapi selalu bersemangat memerankan Limbur,” ucapnya.

Ia mengaku, mesti menguasai dua karakter yang berbeda, yakni kerakrer halus yang menyayangi anak kandung Aru Manis, dan karakter keras kasar kepada anak tirinya Candradewi. Selain itu, ia yang masih muda mesti bisa tampil sebagai orang tua. “Maka itu, saya harus bekerja keras untuk mendapatkkan karakter tua, seperti tokoh limbur,” ujarnya bersemangat.

Vokal dan gerak disesuaikan, sehingga mampu mendapatkan karaker Limbur. Missal, suara dibuat lebih besar dan cara bicara marah-marah, seperti ibu-ibu berkasta. Maka, bergerak dan berbicara harus disesuaikan.

“Tokoh Limbur itu tokoh ratu yang agung berwibawa dan berkarakter manis untuk Arum Manis dan karakter jahat untuk Candradewi. Ada dua karakter,” sebutnya.

Kepala SMKN 3 Sukawati (Kokar dulu), I Gusti Ngurah Made Umbara, ST.,M.Pd mengatakan, dramatari arja ini merupakan kesenian langka. Sebagai sekolah pelestari seni budaya, sehingga SMKN 3 Sukawati diberikan kesempatan untuk tampil membawakan dramatari arja.

“Kami melibatakan dua kompetensi tari dan pedalangan, juga kompetensi karawitan,” ucapnya.

Jumlah penari dramatari arja sejumlah 12 orang dan 13 orang pengiring tabuh geguntuangan. Semua pelaku dalam sajian seni kali ini, adalah siswa. Arja yang identik dengan penari senior dewasa, tetapi Kokar justri menyajikan penari arja remaja. “Itu karena kami memiliki misi pelestari budaya,” tegasnya.

Ketua Sanggar Seni Kokar Bali, I Ketut Darya, SSP mengatakan, di dalam pembelajaran sidswa SMKN 3 Sukawati tidak ada materi arja, tetapi materi vocal itu diberikan kepada semua siswa.

“Kekuatan Kokar itu ada pada tari. Kalau mempelajari arja maka yang terpenting adalah vocal. Nah, ide membentuk arja Kokar ini dari kepala sekolah, dan baru berjalan setahun,” paparnya.

Dukungan untuk memunculkan Arja di Kokar datang dari Prof. Made Bandem, Prof. I Wayan Dibia dan Prof. Sedana. “Kita membangkitan arja, karena grafiknya itu menurun terus. Maka membangkitkan kesenian ini dimuali dari remaja. Cara menarik bakat anak-anak untuk belajar dramatari arja terus kami lakukan. Dramatari arja dilestarikan dan dikembangkan, sehingga grafiknya bisa naik,” katanya. [T][Pan]

Editor: Adnyana Ole

Tembakan Teatrikal dan Musik yang Beda dari “Raja Buduh” – Catatan Baleganjur Duta Jembrana di PKB 2024
Klasik Arja Citta Usadhi Badung vs Dingin Gedung Ksirarnawa
Diasuh Ninik Tjandri, Arja Remaja Komunitas Napak Tuju, Ubud, Tampil Klasik dan Segar
Tags: arjadramatari arjaPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2024seni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [3]: Memilih Pemimpin Bali

Next Post

Angklung Kendang Mebarung dari Bali Barat, Ada Kendang Terbesar di Dunia

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Angklung Kendang Mebarung dari Bali Barat, Ada Kendang Terbesar di Dunia

Angklung Kendang Mebarung dari Bali Barat, Ada Kendang Terbesar di Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co