23 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa

tatkala by tatkala
June 23, 2024
in Ulas Pentas
Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa

Arja Kokar Bali di PKB 2024

ENTAH energi apa yang dimiliki para remaja di atas panggung di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat malam, 21 Juni 2024. Mereka, para remaja itu, memainkan drama tari arja dengan begitu percaya diri seakan-akan mereka penari-penari yang sudah dewasa dan matang.

Mereka adalah remaja yang tergabung dalam Sanggar Kokar Bali. Mereka mementaskan drama tari arja dengan kisah Candradewi.

Terutama aat matembang (menyanyi) para remaja itu begitu menguasai materi, olah vokal yang baik dan yang paling penting adalah menjiwi setiap tembang yang dibawakan.

Dramatari Arja itu mengangkat kisah “Candradewi” ini pentas dengan durasi waktu tiga jam lebih. Adapun kisahnya, Candradewi adalah seorang putri dari Kerajaan Mas Ambara Puri yang dipimpin oleh Ratu Ganda Siniwi. Seluruh isi kerajaan selalu meragukan kebenaran Ganda Siniwi sebagai ibu kandung dari Candradewi.

Itu karena, Ganda Siniwi selalu menyiksa Candradewi dan sangat memanjakan adik dari Candradewi, Arum Manis. Kesedihan Candradewi memuncak di saat cintanya kepada Raden Panji Langen dihalangi oleh Arum Manis yang membuat Ganda Siniwi mengusirnya dari kerajaan. Candradewi boleh kembali kalau bisa membawa emas-berlian dari Hutan Mastulian.

Melalui petualangan Candradewi diiringi oleh embannya yang setia kemudian bertemua dengan Prabhu Kerta Nuedan. Emas-berlian paling berharga, dan kebenaran akhirnya diberikan kepada Candradewi karena keteguhan hati dan memiliki prilaku yang sangat baik. Candradwi kemudian pula membawa berlian itu.

Sesampai di kerajaan, Ibu tirinya tetap saja menyalahkannya karena dianggap menjual diri untuk mendapatkan berlian itu. Ibu tiri lalu menyiksa dan membunuhnya, namun segera dihalangi Prabhu Kerta Nuedan yang ternyata adalah ayah kandungnya. Prabu marah kemudian membunuh ibu tiri Candrawati yang tiada lain adalah istri kedua sang prabu.

Candrawari menghentikan amarah Sang Prabu, karena manusia tidak luput dari kesalahaan, sehingga penting untuk memaafkan. Apalagi, Ibu Tiri mengakui kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi. Pertunjukan usai, penonton pun bubar.

Setiap adegan juga pembabakan yang dimainkan di atas panggung, senantiasa mampu mengundang rasa haru penonton, karena tembang-tembang itu terlantun dengan penuh penjiwaan.

Pada adegan ketika Galuh Candradewi yang disiksa oleh ibu tirinya, suasana di kursi penonton begitu hening. Haru terasa menyeruak di mana-mana.  Tembang sedih yang dinyanyikan oleh penari secara pelan, lembut dan memelas itu, membuat beberapa penonton tak kuasa mengeluarkan air mata.  Nyoman Atheny Pramasastra Dewi yang menjadi pemeran tokoh Candradewi sungguh menjiwai peran yang dimainkannya. 

Apalagi, pada saat kesedihan Candradewi memuncak di saat cintanya kepada Mantri Manis, Raden Panji Langen dihalangi oleh Galuh Liku bernama Arum Manis (adik tirinya). Ibu tiri, Ganda Siniwi, mengusir dari kerajaan dan hanya boleh kembali kalau Candradewi bisa membawa emas-berlian dari Hutan Mastulian. Suasana semakin sedih, penonton pun diam ikut bersedih.

Berbeda dengan adegan sebelumnya, pada saat Candradewi sedang kasmaran dimanja-manjakan, disanjung dalam adegan percintaan bersama Mantri Manis yang diperankan Ni Made Pramitha Prabaswari. Candradewi melantunkan tembang-tembang manis memikat hati. Demikian pula, Mantri Manis yang sangat piawai matembang.

Selain Galuh, Mantra Manis, Mantri Buduh, Desak Rai Limbur dan semua punakawan juga terdengar begiti piawai menyanyikan tembang-tembang dalam kisah Candradewi itu. Tembang-tembang sebagai dialog para penari dalam menyampaikan pesan.

Karena itu, selain dituntut harus bisa berakting, para penari dramatari arja itu juga harus bisa berdialog verbal, berdialog dengan tembang tradisional Bali sambil menari. Tembang dalam opera khas Bali ini secara macapat yang memiliki makna. Dalam pertunjukan dramatari, tembang itu kemudian diterjemahkan oleh punakawan, sehingga makna itu bisa sampai kepada penonton.

Pemeran punakawan Punta dan Wijil, baik itu yang manis (protagonis) maupun yang buduh (antagonis) tampak berusaha sekuat mungkin untuk menciptakan suasana pentas lebih menarik, agar penonton yang hadir tidak meninggalkannya.

Mereka mengemas gending-gending yang dipadu dengan banyolan-banyolan yang inovatif. Pada awalnya, mungkin terasa mentah, tetapi belakangan justru memikat.

Banyolan yang dilemparkan ke penonton, disambut hangat, sehingga mengundang gelak tawa penonton.

Apalagi, gegonjakan punakawan buduh saat mengiringi Mantri Buduh yang diperankan oleh Ni Made Pramitha Prabaswari itu, sungguh atraktif. Dalam adegan sekitar satu jam, mereka mampu menghipnotis penonton untuk larut dalam suasana tawa.

Punta yang diperankan I Ketut Fajar Naranata Sukanadi dan wijil yang diperankan I Kadek Bintang Danuarta begitu lihai di dalam memancing reaksi penonton. Mereka mampu menciptakan suasana pertunjukan lebih komunikatif. Lawakan yang dilemparkan sangat sederhana, dekat dengan kebiasaan sehari-hari, mampu memikat pengunjung semakin banyak.

Satu hal yang menarik lagi, Punta dan Wijil Buduh ini harus mampu menjaga stamina dan sponanitas di tengah keriuhan penonton di Panggung Ardha Candra. Di tengah gemuruh sorak para penonton, yang mirip suara hujan lebat itu, mereka tetap focus pada materi, sehingga penonton tak berpaling. Nafas mereka tampak ngos-ngosan yang berbicara sambil bergerak.

Tak terkecuali pada saat keangkuhan dan kekonyolan Galuh Liku, Arum Manis yang diperankan Ni Kadek Desi diirngi dayang Kenyar (Ni Kadek Ayu Ari Artini) dan Kenyur (Ni Komang Popy Tria Lestari). Ketiga tokoh ini selalu kreatif, dan selalu tanggap lawakan apa yang mesti di diolah kemudian dilemparkan kepada penonton. Mereka mampu menciptakan suasana dengki dan benci.

Penasar Manis (protagonis), I Gusti Putu Gede Sastrawan Wah mengaku, untuk menerjuni kesenian arja khususnya memerankan penasar itu tidak gampang. Walau memiliki modal sebagai dalang, namun memerankan penasar manis itu lebih sulit.

“Dalam tokoh Penasar Manis itu lebih tertata dalam berbahasa juga gerak,” katanya.

Namun, dengan latihan yang serius, ia bisa tampil. Ia lebih banyak belajar di rumah baik tentang vocal ataupu tari. Lalu, untuk mendapatkan bahan lawakan, itu dilakukan secara spontam. Ada yang menggalah dari data sebelumnya.

“Saat ini saya harus menyesuaikan dengan tema PKB Jana Kerthi, maka mengangkat tentang adab manusia, tingkah laku dan cara berpikir,” ujarnya.

Pemeran Limbur, Ni Putu Nessa Shivana Pradnyani, mengatakan sangat bangga bisa tampil di ajang PKB ini. Sebelumnya, biasa nyayah-ngayah untuk mengasah kemampuan.

“Saya sangat suka dengan kesenian klasik ini. Kendala pasti ada, tetapi selalu bersemangat memerankan Limbur,” ucapnya.

Ia mengaku, mesti menguasai dua karakter yang berbeda, yakni kerakrer halus yang menyayangi anak kandung Aru Manis, dan karakter keras kasar kepada anak tirinya Candradewi. Selain itu, ia yang masih muda mesti bisa tampil sebagai orang tua. “Maka itu, saya harus bekerja keras untuk mendapatkkan karakter tua, seperti tokoh limbur,” ujarnya bersemangat.

Vokal dan gerak disesuaikan, sehingga mampu mendapatkan karaker Limbur. Missal, suara dibuat lebih besar dan cara bicara marah-marah, seperti ibu-ibu berkasta. Maka, bergerak dan berbicara harus disesuaikan.

“Tokoh Limbur itu tokoh ratu yang agung berwibawa dan berkarakter manis untuk Arum Manis dan karakter jahat untuk Candradewi. Ada dua karakter,” sebutnya.

Kepala SMKN 3 Sukawati (Kokar dulu), I Gusti Ngurah Made Umbara, ST.,M.Pd mengatakan, dramatari arja ini merupakan kesenian langka. Sebagai sekolah pelestari seni budaya, sehingga SMKN 3 Sukawati diberikan kesempatan untuk tampil membawakan dramatari arja.

“Kami melibatakan dua kompetensi tari dan pedalangan, juga kompetensi karawitan,” ucapnya.

Jumlah penari dramatari arja sejumlah 12 orang dan 13 orang pengiring tabuh geguntuangan. Semua pelaku dalam sajian seni kali ini, adalah siswa. Arja yang identik dengan penari senior dewasa, tetapi Kokar justri menyajikan penari arja remaja. “Itu karena kami memiliki misi pelestari budaya,” tegasnya.

Ketua Sanggar Seni Kokar Bali, I Ketut Darya, SSP mengatakan, di dalam pembelajaran sidswa SMKN 3 Sukawati tidak ada materi arja, tetapi materi vocal itu diberikan kepada semua siswa.

“Kekuatan Kokar itu ada pada tari. Kalau mempelajari arja maka yang terpenting adalah vocal. Nah, ide membentuk arja Kokar ini dari kepala sekolah, dan baru berjalan setahun,” paparnya.

Dukungan untuk memunculkan Arja di Kokar datang dari Prof. Made Bandem, Prof. I Wayan Dibia dan Prof. Sedana. “Kita membangkitan arja, karena grafiknya itu menurun terus. Maka membangkitkan kesenian ini dimuali dari remaja. Cara menarik bakat anak-anak untuk belajar dramatari arja terus kami lakukan. Dramatari arja dilestarikan dan dikembangkan, sehingga grafiknya bisa naik,” katanya. [T][Pan]

Editor: Adnyana Ole

Tembakan Teatrikal dan Musik yang Beda dari “Raja Buduh” – Catatan Baleganjur Duta Jembrana di PKB 2024
Klasik Arja Citta Usadhi Badung vs Dingin Gedung Ksirarnawa
Diasuh Ninik Tjandri, Arja Remaja Komunitas Napak Tuju, Ubud, Tampil Klasik dan Segar
Tags: arjadramatari arjaPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2024seni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [3]: Memilih Pemimpin Bali

Next Post

Angklung Kendang Mebarung dari Bali Barat, Ada Kendang Terbesar di Dunia

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails
Next Post
Angklung Kendang Mebarung dari Bali Barat, Ada Kendang Terbesar di Dunia

Angklung Kendang Mebarung dari Bali Barat, Ada Kendang Terbesar di Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026
Ulas Pentas

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

by Chandra Manikan
July 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965
Khas

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]
Ulas Rupa

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

by Angga Wijaya
July 22, 2026
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia
Esai

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Khas

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co