22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [3]: Memilih Pemimpin Bali

Rsi Suwardana by Rsi Suwardana
June 23, 2024
in Opini
“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [1]: Kepemimpinan dan Joged Jaruh

KEMBALI lagi dengan lanjutan diskursus kepemimpinan di Bali. Pada artikel sebelumnya telah didedahkan mengapa rabies masih saja terus mewabah sejak tahun 2008, meski pucuk pimpinan provinsi Bali—yakni gubernur dan wakil gubernur—telah berganti.

Tulisan kali ini dan selanjutnya tidak akan mengupas permasalahan sosial secara spesifik serta mengaitkannya dengan karakter kepemimpinan yang ada. Giliran pembaca yang diharapkan memberikan opini pribadinya tentang kondisi kepemimpinan di Bali. Bercermin dari kasus rabies, secara personal saya sependapat dengan guru Sugi Lanus bahwa terjadi defisit karakter tegas dan visioner dari para pemimpin Bali dewasa ini (https://tatkala.co/2024/04/23/belajar-dari-penertiban-joged-era-belanda).

Bali Memilih Pemimpin

Masyarakat Bali memilih secara langsung pemimpinnya dalam ajang pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang pertama kali dilaksanakan pada tahun 2008 dan terus berlangsung hingga sekarang. I Wayan Koster telah menyelesaikan periode pertama kepemimpinannya (2018-2023) sebagai gubernur Bali, serta kemungkinan besar akan bertarung kembali pada Pilkada 2024.

Made Mangku Pastika adalah gubernur pertama yang terpilih sejak Pilkada digulirkan dan telah menjabat selama dua periode (2008-2018). Pada periode sebelumnya (2003-2008), I Dewa Made Beratha terpilih sebagai gubernur Bali berdasarkan pemungutan suara yang dilakukan oleh perwakilan rakyat yakni DPRD Bali.

Jika kita mundur terus ke belakang, pemilihan para pemimpin administratif di pulau Bali adalah wewenang penguasa dari luar Bali. Entah jabatan pemimpin administratif itu adalah seorang gubernur yang ditunjuk oleh pemerintah pusat pasca kemerdekaan Indonesia, atau seorang residen (residentie) saat era penjajahan Belanda, atau seorang dalem (raja) yang mendapat legitimasi dari penguasa Majapahit. Sebelum menjadi wilayah taklukan Majapahit, tampuk pimpinan di Bali dipegang oleh raja-raja yang berkuasa secara independen.

Sebagai bagian dari masyarakat Bali, tentu saya ingin agar mekanisme pemilihan pemimpin di Bali tetap melibatkan partisipasi masyarakat. Tidak ujug-ujug melalui penunjukan oleh presiden/menteri di Jakarta atau campur tangan penguasa kapital dari negeri antah berantah. Tidak juga kembali ke masa feodalisme ketika pemimpin ditentukan berdasarkan trah/dinasti dari raja yang sedang berkuasa. Pertanyaannya adalah, ketika kita memiliki wewenang untuk memilih pemimpin secara langsung, lalu mengapa “kita” (sekurang-kurangnya saya dan Sugi lanus) masih mengeluh tentang karakter pemimpin yang terpilih? Bukankah kita sendiri yang bertanggungjawab terhadap proses pemilihannya?

Urun rembuk demokrasi

Sistem demokrasi memungkinkan siapapun bisa memilih dan dipilih sebagai pemimpin sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pelaksanan pilkada berdasarkan prinsip demokrasi sebenarnya adalah konsep baru yang diperkenalkan kepada masyarakat, utamanya pasca kejatuhan Orde Baru dan diberlakukannya prinsip otonomi daerah. Sebelumnya, masyarakat Bali tidak pernah memiliki kewenangan untuk memilih pemimpinnya secara langsung.

Seperti yang telah disinggung pada paragraf sebelumnya, secara pribadi saya menganggap demokrasi adalah sistem politik yang paling logis untuk saat ini. Oleh karenanya, tanggungjawab pertama saya adalah untuk mempertahankan demokrasi tetap berjalan hingga nanti terdapat sistem politik yang lebih efektif.

Meskipun demikian, terdapat beberapa catatan untuk sistem demokrasi yang telah dijalankan, baik catatan praktikal maupun konseptual. Tak dapat dipungkiri bahwa demokrasi menimbulkan kebisingan serta meningkatkan risiko terjadinya perpecahan di masyarakat akibat perbedaan calon pemimpin yang hendak diusung. Masifnya penetrasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari meningkatkan volume bising dan risiko gesekan di masyarakat. Ikut memantau proses demokrasi agar berlangsung dengan tertib adalah catatan praktikal yang menjadi kewajiban kedua dari saya.

Sistem demokrasi yang berlangsung di berbagai belahan dunia—termasuk Indonesia dan Bali—saat ini mencontoh sistem politik yang diterapkan oleh Athena dan banyak negara-kota zaman Yunani Kuno. Menyelami samudra pemikiran para filsuf Yunani kontemporer dapat menjadi catatan-catatan konseptual untuk terus menyempurnakan sistem demokrasi yang kita terapkan.

Plato, dalam bukunya yang berjudul Republic (saya membaca terjemahan Bahasa Inggris dari Collins Classic), menuliskan bahwa keadaan tanpa pengetahuan dan tidak mendapat informasi yang benar (uneducated and uninformed of the truth) adalah hambatan utama dalam sistem demokrasi. Siapapun bisa dipilih sebagai pemimpin dalam sistem demokrasi, termasuk individu dengan wawasan yang sempit akibat dari kurangnya pengetahuan dan input informasi tentang problematika sosial yang terjadi. Pola kepemimpinan dari individu minim pengetahuan dan informasi menjadi tidak efektif karena tiap-tiap keputusan yang diambilnya tidak memiliki arah serta tujuan yang pasti.

Dari sudut pandang yang lebih ekstrem, diskursus filsafat yang tertuang dalam Republic memperingatkan bahwa karakteristik masyarakat tanpa pengetahuan dan informasi akurat, tidak hanya menghambat sistem demokrasi, tetapi membunuh demokrasi itu sendiri dan menggantikannya dengan sistem tirani.

Hal itu terjadi karena rakyat akan dengan mudah dihasut untuk memilih pemimpin yang tidak bertanggungjawab, hanya karena pemimpin yang dimaksud berhasil menarik simpati rakyat. Sistem tirani muncul ketika pemimpin yang berwatak culas ini memanipulasi sentimen mayoritas dengan melabeli minoritas sebagai kelompok “liyan”. Selain itu, pemimpin ini akan berupaya untuk menyingkirkan individu atau kelompok yang dianggap mengancam kekuasaannya, serta cenderung mencegah masyarakat menjadi lebih terdidik dan tercerahkan demi mempertahankan hegemoni kekuasaannya.  

Arah demokrasi kita

Meskipun kondisi sosial-politik Bali saat ini memiliki kemungkinan yang kecil untuk jatuh ke dalam sistem tirani, namun penyelenggaraan serta upaya untuk terus menyempurnakan sistem demokrasi cenderung mengalami stagnansi, bahkan dekadensi.

Terbaru, pelarangan diskusi People’s Water Forum (PWF) akhir Mei kemarin menandakan bahwa kebebasan untuk bertukar pengetahuan mengalami regresi. Forum diskusi PWF itu bukan tentang komunisme, ajaran sampradaya, atau wisata halal. Tetapi tentang air (tirtha), elemen kunci yang menopang kehidupan manusia dan lingkungan hidup. Adakah berita PWF menjadi viral di media sosial? Tentu tidak, algoritma media sosial lebih mengutamakan rangkaian pernikahan penyanyi wanita asal Bali dengan rekan laki-laki sesama profesi yang kebetulan tidak berdarah Bali.

Adakah tokoh politik yang digadang-gadang mengikuti pertarungan pemilihan gubernur 2024 berkomentar tentang insiden ini? Belum saya dengar atau baca informasinya. Bahkan penjabat sementara (PJ) gubernur pun hanya mampu berkomentar normatif terhadap kejadian pelarangan diskusi PWF. Dimana letak ketegasannya wahai bapak-bapak pemimpin kami? Di larung ke laut, mungkin. Atau menyusut bersama keringnya saluran irigasi untuk subak serta debit air danau Buyan dan Tamblingan.

Inikah tujuan demokrasi yang sesuai kehendak kita? Pesta lima tahunan untuk menggilir tampuk kekuasaan semata. Tanpa adanya evaluasi karakter pemimpin yang terpilih, atau fokus kebijakan dan program kerja yang akan diambil. Sedangkan kompleksitas permasalahan tentang pariwisata, sosial budaya, ekonomi, transportasi, lingkungan hidup, kesehatan, serta aspek-aspek lainnya terus menjejali pulau yang semakin penuh sesak ini. [T]

  • *Sangkalan (disclaimer): Artikel tentang kepemimpinan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan pihak-pihak tertentu pada pilkada gubernur tahun ini. Sebagai catatan, pilkada 2008 saya tidak memiliki hak pilih karena belum cukup umur. Saya memilih Made Mangku Pastika pada pilkada 2013. Sedangkan tahun 2018 saya tidak menggunakan hak pilih karena menilai calon yang bersaing bukanlah kandidat yang mewakili aspirasi saya. Adapun pilkada 2024 ini saya juga tidak akan menggunakan hak pilih karena masih melanjutkan studi doktoral di luar negeri.  
“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [1]: Kepemimpinan dan Joged Jaruh
“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [2]: Rabies yang Tak Kunjung Hilang
“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa”[4]: Pemimpin dan Kaum Intelektual
Tags: kepemimpinanpemimpin baliPilkada Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tembakan Teatrikal dan Musik yang Beda dari “Raja Buduh” – Catatan Baleganjur Duta Jembrana di PKB 2024

Next Post

Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa

Rsi Suwardana

Rsi Suwardana

Lulus sebagai dokter umum tahun 2018, memiliki ketertarikan dalam bidang mikrobiologi

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa

Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co