12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Asmaraloka: Antologi Cinta yang Tak Biasa

Nengah Kertalangu by Nengah Kertalangu
July 3, 2024
in Esai
Asmaraloka: Antologi Cinta yang Tak Biasa

Buku Asmaraloka karya Alit S Rini

SEBUAH genre seni lukis romantisme sempat menjadi bagian dari sejarah perkembangan seni lukis Indonesia. Mooi Indie atau Indonesia Molek, sebagai penanda memberi gairah pada kasat mata. Keindahan  atau kemolekan figur benda-benda, alam tropis dan juga tubuh ditunjukkan secara berlebihan, dramatis dan ekosotis.

Eksotis  di mata orang luar dianggap sebuah keunikan yang dramatis. Bila telanjur bayangan tentang eksotis mengarah erotis, apa boleh buat, begitulah, secara umum romantisme juga kerap dianggap sesuatu yang erotis.

Bila penjelasan itu  digunakan untuk menilai karya sastra, apa sajak-sajak dalam buku Asmaraloka, dengan tambahan sebagai sebuah antologi cinta di belakang judul buku, sebagai sajak-sajak romantisme? Ini bagian lain memerlukan penjelasan lain pula.

Sebagai penikmat, bukan pengamat, hal tersebut tak terlalu penting. Lebih utama ingin menemukan nilai. Atau makna kehidupan. Sebab karya susastra itu indah dan mengandung makna. Di balik pernyataan tersurat ada yang  tersirat. Dan pada buku ini ada janji menyuguhkan cinta yang tak biasa dengan cara yang tak biasa pula. Ini sudah nampak pada sejumlah judul sajak.  

Alih-alih menemukan suasana hati yang lembut, mendayu-dayu eksotis apalagi erotis, sebaliknya kita menemukan ungkapan lugas, menabrak pikiran. Misal, sajak “Pembual Kehilangan Cinta.” Ini sajak terasa skeptis  bahwa cinta menjadi sebatas alat. Ini persoalan tubuh. Dengan personifikasi burung merak sebagai tokoh ‘dikorbankan’  sebagai pembual.

Burung merak, simbol maskulin nan anggun, seolah-olah seorang hero yang ditumbangkan melalui penceritaan begitu linier. Memaparkan secara dramatis, teatrikal sang merak tak menemukan yang dicari. Terbayang pesona tubuh yang berharap pemujaan atas keanggunan dirinya. Namun sesungguhnya bagaimana

“Menerima ketaksempurnaan/ Bukan jadi bayang-bayang/ Tak saling memuja,/ menjadi setengah berhala” (sajak Ibadah Cinta,hal 40).   

Apa sesungguhnya cinta itu? Makhluk apakah dia gerangan? Dan menjadi buah bibir dimana-mana. Ada begitu banyak ungkapan pemujaan namun sebaliknya ada pernyataan sinis, bahkan skeptis. Mungkin ini sajak bisa membawa kita pada sebuah pernyataan yang umum dan klise, bahwa ”cinta dari mata turun ke hati” seharusnya sebaliknya, “dari hati lalu ke mata.”    

Pesan semacam ini mudah ditemui dalam novel remaja atau filem yang menempatkan perempuan pada posisi kalah atau korban. Ketika dibangun menjadi sebuah sajak, ini menjadi tantangan. Bisa jadi sebagai uji nyali menantang daya kreativitas  menunjukkan sejauh pencapaian estetika mampu mengeksplorasi yang umum dan yang  remeh-temeh.

Sebuah transformasi menjadikan narasi puitis. Dan ini  menjadi alasan penting,  sesudah penyairnya menerbikan dua  buku kumpulan sajak dengan konten berbeda dan dengan cara bercerita dari sudut pandang perempuan. Dapat dirasakan bahwa sajak-sajak di buku Asmaraloka erat kaitannya dengan peristiwa sosial yang umum.

Penyisipan imajinatif dengan realitas di lingkungan domestik  yang memberi batasan garis tegas dalam hal hubungan personal mengenai cinta. Pada batas ini, beberapa sajak di buku Asmaraloka mengarah ke kritik sosial.

Buku ketiga dari dua buku kumpulan sajak sebelumnya ”Karena Aku Perempuan Bali” (Arti Foundation 2003)  buku kedua “Arunika” (Pustaka Ekspresi 2024) sebagai buku sastra pilihan Majalah Tempo 2023, memang berbeda kontennya namun tetap saja unsur kritik sosial muncul pada ketiga buku.   

Buku kumpulan sajak Asmaraloka antologi cinta ini menjadi unik. Karena tak terjebak diksi yang umum. Beberapa sajak terasa provokatif (Pembual Kehilangan Cinta), dan pada sajak “Cinta Offside” seolah penyairnya melakukan suatu penjelasan bahwa mahkota mutiara, kemegahan yang tak rapuh, tak lapuk dikikis waktu.

Dan mahkota mutiara jelas asosiatif dengan martabat seseorang. Mudah dikaitkan dengan tokoh sentral burung merak nan anggun pada sajak “Pembual Kehilangan Cinta.”  Penyairnya mengatakan, padaku mahkota (kemegahan, keanggunan mudah memenjara, membelenggu, beban bagi kebebasan( hal 33).

Bagi penyairnya, cinta seharusnya memberi ruang bukan membelenggu atas nama kasih sayang. Lagi-lagi terasa umum kita dengar. Ketika dibuat dramatis, ini upaya,  menyuguhkan yang umum menjadi tak biasa.

Ada pula sajak mengandung  asosiatif dengan spirit penerimaan yang afirmatif (Cinta Hujan Puisi). Sikap hidup sebagai pilihan dan penerimaan dengan spirit berserah diri bukan menyerah pada nasib. Melainkan menyerahkan hasil dari memperjuangkan hidup.

Sebuah filosofi cinta yang sembunyi di balik bangunan narasi yang lugas dalam sajak Siklus Waktu seperti sebuah ceritera Panji yang “rindu rasa rindu rupa” (meminjam pernyataan penyair Amir Hamzah dalam sajak “Padamu Jua”) mengalami samsara tubuh di bumi. Cinta menjadi sesuatu yang gaib.

Dalam bahasa lokal ada istilah jatukarma, pertemuan karena karma. Alur narasi dibuat seperti garis lingkaran. Bermula dari titik awal dan ujung perjalanan menuju kembali ke titik semula. Penyairnya menjelaskan tentang ruang dan waktu menjadi jarak dari pertemuan di masa kanak-kanak, seiring waktu saling mencari yang tak diketahui siapa yang dicari, sesat oleh bayang-bayang identitas imajiner.

Sebuah eksplorasi dari ceritera panji dan dongeng pangeran dalam ceritera klasik. Jarak yang terbentang membuat tersesat karena yang dicari menjelma seekor angsa, belibis atau seekor kodok. Eksplorasi menarik jika kreativitas ini dapat memasuki wilayah sejarah sebagai sumber teks di kemudian hari.

Jika sajak dicarikan hubungan dengan kebangkitan kreativitas pada media sosial, apa mungkin di samping konten sejarah sajak juga bisa bicara soal horor? Dalam bentuk cerpen agaknya sudah ada yang memulai.   

 “Deru angin mengurung/ Mengguncang keberadaan/ Tangan-tangan menyulut api amarah// Tak juga hangus// Alam bersuara/ jiwa mendengar/ Menggema seantero sukma,/membuat demarkasi/Lingkaran gaib/Menghadang yang menerabas/lewat gelap……” (Demarkasi Hening, hal 52 ).

Ini cerita lain lagi. Kuasa supranatural memasuki wilayah cinta menjadi magis. Jika istilah penelitian dianggap terlalu berlebihan maka wilayah observasi dan yang bersifat empirik mungkin diperlukan bagi penulis sajak menuju konten lebih luas. Sajak ini bisa dianggap membuka tabir yang membatasi kreativitas.    

Saya bertanya tentang cinta dan Anda pasti punya jawaban panjang dan mungkin juga  mudah terjebak pada rasa romantis maupun erotis.

Bagaimana mengungkapkan cinta tanpa romantis dan erotis temukanlah pada sejumlah judul pada sajak: Percintaan Uji Nyali (hal 13), Anomali Cinta (hal. 17), Titik Nol Cinta (hal.20), Gelembung Cinta (hal 26), Cinta Offside (hal. 33), Cinta Nukturno (hal.50).

Penyairnya mengatakan ini sebuah tawaran dan bukan main-main menawarkan 28 sajak dalam sebuah buku. [T]

Arunika, Terminal Dua Keberangkatan  Alit S Rini
“Arunika” Karya Alit S Rini, Buku Puisi Terbaik Pilihan Tempo 2023
Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api
Puisi-puisi Alit S.Rini | Mantra Disko dari Pub Dekat Kuburan
Sastra Indonesia di Bali | Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi
Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”
Tags: Alit S Rinibuku puisipenyair baliSastra Indonesiasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gambuh Pedungan: Kesenian Klasik yang Dilematis dan Persoalan Lain di Baliknya

Next Post

Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Nengah Kertalangu

Nengah Kertalangu

Penulis tinggal di Denpasar

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co