24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Asmaraloka: Antologi Cinta yang Tak Biasa

Nengah Kertalangu by Nengah Kertalangu
July 3, 2024
in Esai
Asmaraloka: Antologi Cinta yang Tak Biasa

Buku Asmaraloka karya Alit S Rini

SEBUAH genre seni lukis romantisme sempat menjadi bagian dari sejarah perkembangan seni lukis Indonesia. Mooi Indie atau Indonesia Molek, sebagai penanda memberi gairah pada kasat mata. Keindahan  atau kemolekan figur benda-benda, alam tropis dan juga tubuh ditunjukkan secara berlebihan, dramatis dan ekosotis.

Eksotis  di mata orang luar dianggap sebuah keunikan yang dramatis. Bila telanjur bayangan tentang eksotis mengarah erotis, apa boleh buat, begitulah, secara umum romantisme juga kerap dianggap sesuatu yang erotis.

Bila penjelasan itu  digunakan untuk menilai karya sastra, apa sajak-sajak dalam buku Asmaraloka, dengan tambahan sebagai sebuah antologi cinta di belakang judul buku, sebagai sajak-sajak romantisme? Ini bagian lain memerlukan penjelasan lain pula.

Sebagai penikmat, bukan pengamat, hal tersebut tak terlalu penting. Lebih utama ingin menemukan nilai. Atau makna kehidupan. Sebab karya susastra itu indah dan mengandung makna. Di balik pernyataan tersurat ada yang  tersirat. Dan pada buku ini ada janji menyuguhkan cinta yang tak biasa dengan cara yang tak biasa pula. Ini sudah nampak pada sejumlah judul sajak.  

Alih-alih menemukan suasana hati yang lembut, mendayu-dayu eksotis apalagi erotis, sebaliknya kita menemukan ungkapan lugas, menabrak pikiran. Misal, sajak “Pembual Kehilangan Cinta.” Ini sajak terasa skeptis  bahwa cinta menjadi sebatas alat. Ini persoalan tubuh. Dengan personifikasi burung merak sebagai tokoh ‘dikorbankan’  sebagai pembual.

Burung merak, simbol maskulin nan anggun, seolah-olah seorang hero yang ditumbangkan melalui penceritaan begitu linier. Memaparkan secara dramatis, teatrikal sang merak tak menemukan yang dicari. Terbayang pesona tubuh yang berharap pemujaan atas keanggunan dirinya. Namun sesungguhnya bagaimana

“Menerima ketaksempurnaan/ Bukan jadi bayang-bayang/ Tak saling memuja,/ menjadi setengah berhala” (sajak Ibadah Cinta,hal 40).   

Apa sesungguhnya cinta itu? Makhluk apakah dia gerangan? Dan menjadi buah bibir dimana-mana. Ada begitu banyak ungkapan pemujaan namun sebaliknya ada pernyataan sinis, bahkan skeptis. Mungkin ini sajak bisa membawa kita pada sebuah pernyataan yang umum dan klise, bahwa ”cinta dari mata turun ke hati” seharusnya sebaliknya, “dari hati lalu ke mata.”    

Pesan semacam ini mudah ditemui dalam novel remaja atau filem yang menempatkan perempuan pada posisi kalah atau korban. Ketika dibangun menjadi sebuah sajak, ini menjadi tantangan. Bisa jadi sebagai uji nyali menantang daya kreativitas  menunjukkan sejauh pencapaian estetika mampu mengeksplorasi yang umum dan yang  remeh-temeh.

Sebuah transformasi menjadikan narasi puitis. Dan ini  menjadi alasan penting,  sesudah penyairnya menerbikan dua  buku kumpulan sajak dengan konten berbeda dan dengan cara bercerita dari sudut pandang perempuan. Dapat dirasakan bahwa sajak-sajak di buku Asmaraloka erat kaitannya dengan peristiwa sosial yang umum.

Penyisipan imajinatif dengan realitas di lingkungan domestik  yang memberi batasan garis tegas dalam hal hubungan personal mengenai cinta. Pada batas ini, beberapa sajak di buku Asmaraloka mengarah ke kritik sosial.

Buku ketiga dari dua buku kumpulan sajak sebelumnya ”Karena Aku Perempuan Bali” (Arti Foundation 2003)  buku kedua “Arunika” (Pustaka Ekspresi 2024) sebagai buku sastra pilihan Majalah Tempo 2023, memang berbeda kontennya namun tetap saja unsur kritik sosial muncul pada ketiga buku.   

Buku kumpulan sajak Asmaraloka antologi cinta ini menjadi unik. Karena tak terjebak diksi yang umum. Beberapa sajak terasa provokatif (Pembual Kehilangan Cinta), dan pada sajak “Cinta Offside” seolah penyairnya melakukan suatu penjelasan bahwa mahkota mutiara, kemegahan yang tak rapuh, tak lapuk dikikis waktu.

Dan mahkota mutiara jelas asosiatif dengan martabat seseorang. Mudah dikaitkan dengan tokoh sentral burung merak nan anggun pada sajak “Pembual Kehilangan Cinta.”  Penyairnya mengatakan, padaku mahkota (kemegahan, keanggunan mudah memenjara, membelenggu, beban bagi kebebasan( hal 33).

Bagi penyairnya, cinta seharusnya memberi ruang bukan membelenggu atas nama kasih sayang. Lagi-lagi terasa umum kita dengar. Ketika dibuat dramatis, ini upaya,  menyuguhkan yang umum menjadi tak biasa.

Ada pula sajak mengandung  asosiatif dengan spirit penerimaan yang afirmatif (Cinta Hujan Puisi). Sikap hidup sebagai pilihan dan penerimaan dengan spirit berserah diri bukan menyerah pada nasib. Melainkan menyerahkan hasil dari memperjuangkan hidup.

Sebuah filosofi cinta yang sembunyi di balik bangunan narasi yang lugas dalam sajak Siklus Waktu seperti sebuah ceritera Panji yang “rindu rasa rindu rupa” (meminjam pernyataan penyair Amir Hamzah dalam sajak “Padamu Jua”) mengalami samsara tubuh di bumi. Cinta menjadi sesuatu yang gaib.

Dalam bahasa lokal ada istilah jatukarma, pertemuan karena karma. Alur narasi dibuat seperti garis lingkaran. Bermula dari titik awal dan ujung perjalanan menuju kembali ke titik semula. Penyairnya menjelaskan tentang ruang dan waktu menjadi jarak dari pertemuan di masa kanak-kanak, seiring waktu saling mencari yang tak diketahui siapa yang dicari, sesat oleh bayang-bayang identitas imajiner.

Sebuah eksplorasi dari ceritera panji dan dongeng pangeran dalam ceritera klasik. Jarak yang terbentang membuat tersesat karena yang dicari menjelma seekor angsa, belibis atau seekor kodok. Eksplorasi menarik jika kreativitas ini dapat memasuki wilayah sejarah sebagai sumber teks di kemudian hari.

Jika sajak dicarikan hubungan dengan kebangkitan kreativitas pada media sosial, apa mungkin di samping konten sejarah sajak juga bisa bicara soal horor? Dalam bentuk cerpen agaknya sudah ada yang memulai.   

 “Deru angin mengurung/ Mengguncang keberadaan/ Tangan-tangan menyulut api amarah// Tak juga hangus// Alam bersuara/ jiwa mendengar/ Menggema seantero sukma,/membuat demarkasi/Lingkaran gaib/Menghadang yang menerabas/lewat gelap……” (Demarkasi Hening, hal 52 ).

Ini cerita lain lagi. Kuasa supranatural memasuki wilayah cinta menjadi magis. Jika istilah penelitian dianggap terlalu berlebihan maka wilayah observasi dan yang bersifat empirik mungkin diperlukan bagi penulis sajak menuju konten lebih luas. Sajak ini bisa dianggap membuka tabir yang membatasi kreativitas.    

Saya bertanya tentang cinta dan Anda pasti punya jawaban panjang dan mungkin juga  mudah terjebak pada rasa romantis maupun erotis.

Bagaimana mengungkapkan cinta tanpa romantis dan erotis temukanlah pada sejumlah judul pada sajak: Percintaan Uji Nyali (hal 13), Anomali Cinta (hal. 17), Titik Nol Cinta (hal.20), Gelembung Cinta (hal 26), Cinta Offside (hal. 33), Cinta Nukturno (hal.50).

Penyairnya mengatakan ini sebuah tawaran dan bukan main-main menawarkan 28 sajak dalam sebuah buku. [T]

Arunika, Terminal Dua Keberangkatan  Alit S Rini
“Arunika” Karya Alit S Rini, Buku Puisi Terbaik Pilihan Tempo 2023
Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api
Puisi-puisi Alit S.Rini | Mantra Disko dari Pub Dekat Kuburan
Sastra Indonesia di Bali | Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi
Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”
Tags: Alit S Rinibuku puisipenyair baliSastra Indonesiasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gambuh Pedungan: Kesenian Klasik yang Dilematis dan Persoalan Lain di Baliknya

Next Post

Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Nengah Kertalangu

Nengah Kertalangu

Penulis tinggal di Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co