14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api

Alit S Rini by Alit S Rini
January 23, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api

Sketsa Nyoman Wirata


AKU DAN PERTIWI,

PERCAKAPAN DI DEPAN API


Api menjulur-julur mengkabutkan pandangan

       Orang-orang kian menjadi bayangan

       Oleh lelehan air mata melepas sebuah kepulangan


Jika pun bukan dia

         Di pembaringan api itu, katamu

Aku harus menyaksikan tarian api yang sama

 Memulangkanmu pada tanah, pada angin,

          Pada air dan ruang tak berbentuk

          Lewat penyucian api.


Tapi hari ini, meski tanpa air mata

Ingatan masih mengiris setajam belati

Terkadang menyulut ketidakpahaman

Seperti kabut, mengaburkan langkah yang mulai pasti

       Menuju arah, entah secerah atau segerah apa


Jangan mengubah diri,

       jadi kemayu,

       jadi bisu, gagu,

       Memaknai peristiwa perjalanan.

Kau hanya terpilih,

       Bersaksi, mengantar yang hendak pulang.


Saksikanlah wajah-wajah liar saat  ini

        Tanpa warna, berpayung kemegahan semu

Yang kau lihat hanya warna lumpur,

        dan debu kehidupan

Dibalurkan hujan dan kemarau.


Jalan setapak menuju rumah kenangan,

      Takkan mudah, tak mungkin tanpa resah

Suara-suara bangkit dari mantram yang tertanam

       di empat sudut  rumah,

       dari balik pintu  yang tak rapat tertutup,

       dari helai daun dan bunga kesayangan

       yang kau ajak becakap tentang kesepian

        dan kala suntuk.


Atau lolong satwa menjelang malam,

       Memberi isyarat ada yang mengintai

       Dari lubang gerbang.

       Mungkin juga dari kedalaman batin

              Orang-orang yang diganggu rasa bersalah


Mimpi hari ini membuatmu bergairah

Hari-hari dialiri pertanda,

Bermula dan berakhir dengan tanya

Ayat ayat, lturun dari langit

Melingkar, berpusar di langit-langit rumah

Seperti kupu-kupu yang tiba-tiba mendekat

    Tak teduga kedatanganya, dan

     Dibaca dukun petanda  baik


Jangan terkesima pada kata dan pertanda

Tak selalu menjaga kehidupan, bersih dari

      hiruk pikuk keinginan

Limbahnya  terserak di mana-mana.


Jalanan kian riuh dengan lalu lalang

Orang-orang bicara agama,

Di pelataran terang, atau bawah pohon tanpa cahaya.

Di ujung hari mereka  pulang

        tanpa penerangan.

 Membawa belati tersembunyi di dadanya

Degan mata nyalang

      dituntun dendam.


8jan2021


PEREMPUAN SEKUNTUM


Apa agama pemberi luka, apa

      agama penyembuh?

Perempuan perindu menghutankan kesepiannya

     jadi belantara pekat.

Tanpa cahaya menyelinap di rimbunnya.


Jika kau tersesat di lingkupnya,

Pastikan tak mematahkan

       kuntumnya yang lunglai

Karena kau membawa dengung

     membangkitkan hangat percintaan.


Ia pemuja mimpi.

Di hari tak terduga,

Badai datang di cuaca benderang.

Menghalau mimpi tanpa janji.


Ia mengintai celah jeruji perunggu

Terpaku pada  fatamorgana.

Dari bilik berpintu emas,

Membayangkan yang enggan datang.

Di mimpinya ia jadi perempuan

     bermahkota bunga

Menari bersama lelaki bersuara lirih

Bersama memetik saripati kehidupan

Di sela ilalang  beraroma tanah basah

      usai hujan semalam


Hari akan selalu pekat,

     mengelam oleh pikiran murung

     seperti  tanpa bulan.

Mendung memahkotai langit.

Awan menyembul tipis

       Dari selipan halilintar.


Hati seperti layar , bercahaya temaram

      lalu redup.

Pohon-pohon jadi bayangan,

Terguncang-guncang  di angin

       Seperti  suasana hati, seperti  air mata

 Menunggui hari dengan mata cekung,

Ayat-ayat seperti teraduk-aduk dalam sujud

Sudah  lama ia lupa keceriaan sembahyang

Sepi demi sepi sederas dukacita

Tapi kesepian bukan  kata mati


Biarkan keheningan meraya.


20 des 2020


TIRAN


Kurungan itu bernama waktu

Membatasi gerak perjalanan , dari

    gerbang rahim hingga perhentian  mahahening

Dalam perjalanan, menyusuri lorong pencarian

Di dindingnya terbaca tulisan takdir

      Mungkin tak terpahami, tapi sejati

       Pertemuan, di ujung pencarian.


Ada ribuan mata cahaya berpendar

Di dinding gua yang menggemakan suara

      Mengirim pantulannya ke dalam jiwa yang mendengar

       Menggemakan yang tak ingin kau ingat,

      Meletupkan yang ingin kau senyapkan.

Mengingatkan ke sebuah hubungan

     Kekeramatan menara rapuh angan-angan

     Rasa sakit, derita zaman,

     Orang-orang meneriakkan luka


Di dalam kurungan waktu,

Jiwa terlontar dari kesilaman,

      Juga melontarkan semua gumam

         Jadi suara kanak-kanak,

         menyanyikan keinginan tak terukur.

         berputar-putar,

 di udara, terserak  jadi dingin angin


Saatnya pulang pada hati yang terjaga.

Sunyi seribu pintu melilit jadi naga waktu

     Memanggil awan, mencegah gemintang

      mendekat sebagai utusan malam.

Tapi malam tak bisa menunda kedatangannya

       menyungkup jiwa yang  jumawa.

Di perjalanan,

     menuju perhentian,

Apa makna kemegahan,

Kesilaman yang kau bawa

      dengan dada membusung.

Kekeramatan silsilah,

      Di menara angan-angan

masihkah bermakna?


15 jan2021


CERITA DI UJUNG TAHUN


Saksikanlah  perayaan ,

       tanpa festival kembang api.

Duduk kita di tepi trotoar, bersisian

      Dengan orang-orang berbaju lusuh.

Wajah-wajah tak tertakar oleh kata.

Kita simpan kantung kata,

      Yang isinya tak seberapa

      untuk menggambarkan kedalaman duka.

Hanya langit semburat merah

Membayangi malam.


Mereka menanti kelahiran tahun

Menitipkan pengharapan di doa-doa,

      sarat beban,  sarat keinginan.


Kelahiran,

      terhubung dengan hakikat,

      Penebusan yang dikendalikan takdir

      Mengalir dalam perencanaan mahakala.

Menghela orang- orang ke medan perburuan hidup

Menghadang waktu,

Di sana keberanian terhunus

          dan terukur.


Aku gentar, terkurung rasa tertikam,

Pilu menolehkan wajah ke sekitar,

Juga ke belakang,

     Ke bentangan berlumpur.

Di atasnya berdiri hunian tak utuh,

     Rumah rohaniku.

Beratap berlubang di sana sini

Sebagian  keropos

     dikikis badai musiman.


Musik syahdu mengalun dari seberang jalan

Bergantian dengan irama gerimis

Semakin memperkuat nuansa dingin desember

Orang -orang,

   lewat paduan suara  menyayat hati

Menangisi lelaki yang darahnya

Membasuh dosa  peradaban

Luka demi luka berbalasan dosa demi dosa


Penanda perayaan,

Pohon-pohon buatan dipajang di etalase toko

Berhias lampu warna warni,    

Bintang-bintang, salju,

           Juga buatan.


Puisi  sendu terselip di bawah alas meja  perjamuan,

Agar tak mengganggu perayaan

 Kerlip lampu kian liar seiring malam,

      merambati kota

Cahayanya jatuh di tubuh orang – orang

       Yang tenggelam dalam kerumunan

Gelak tawa menjalari kehangatan.


Bayangan gelap pohon menimpa

      para penyusur jalanan.

Derai tawa perempuan bersahutan dengan

Gurau nakal petualang tengah malam.

Hilang muncul di gang tanpa papan nama.


Siapa peduli jika pun kau tak bernama

Bahkan gambar wajah memelasmu

Terbuang tanpa catatan waktu


Orang-orang asyik masyuk,

Dan kau terantuk-antuk

   menyusuri kesendirian.

Sampai di ujung hari sekali pun.


28 des 2020


DURGA


Kau, bagiku, juga ibu

Jelita, menari di kedalaman kalbu

Bersthana di pikiran dan kata

Menerima yang pulang,

     Juga yang datang

     membawa permintaan.


Di hari terpilih,

     di taman indahmu,Gandamayu

Aku akan bertemumu

Disambut lima perempuan bercadar putih

Kumasuki hamparan jiwa jagatraya

       Mahapenerima.


Aku seperti kanak-kanak,

Pulang bermain di ambang sore

Membawa hati riang bercerita

Aku, kau, mempercakapkan segala

Yang kupetik di permainan hidup

     Sukacita, dukalara, hingga

      Dendam yang membakarku

Juga berjilid-jilid tanya

Yang kutulis sebelum  ajal.


Kusimpan wujudmu,

Perempuan perkasa nan jelita

Tangan-tangan terkembang

Selayaknya memayungi semesta

Menjadi shakti , menjaga keseimbangan takdir

Rumah indahmu, tamansari penuh bunga

Dijaga dayang-dayang

     Pengabdi penuh cinta.


Siapakah merajah kekeramatan

    pada pepohonan, menakik-nakik bongkah kayu

     jadi menyeramkan

Berabad lamanya mengukir wajahmu

     yang menggetarkan, berkuasa atas makam.


Orang-orang enggan

Melintas di malam-malam,

        Engkau menari tanpa bulan.


Rinduku melebur jadi doa,

Saat terbuka gerbang lorong waktu

Inginku membawa semua tanya

Yang lama  mengganggu jiwa

Membuatku tak nyaman,

Seperti menjalani kutuk,

          Karena aku perempuan.

Angin liar berputar dalam tubuh, menggiringku

Jadi pengigau, pemuram,

       berkali-kali kehilangan gairah sujud


Jika aku hadir tak lagi

sepenuhnya manusia

       Mungkin sebagian wajahku denawa,

        Satwa, atau entah apa

Sesungguhnyalah karena tenung luka,

   amarah, jadi sakit menahun tanpa dukun

Menguras sari rasa hidup.

Kubawa di berbagai musim

Mencari penawar racun di antara huruhara

       yang selalu mengurung.


22 des 2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kupu-Kupu Merah Bata | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

Next Post

Teknologi Berkembang, Budaya Bali Tetap Lestari

Alit S Rini

Alit S Rini

Penyair, tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Teknologi Berkembang, Budaya Bali Tetap Lestari

Teknologi Berkembang, Budaya Bali Tetap Lestari

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co