14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api

Alit S Rini by Alit S Rini
January 23, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api

Sketsa Nyoman Wirata


AKU DAN PERTIWI,

PERCAKAPAN DI DEPAN API


Api menjulur-julur mengkabutkan pandangan

       Orang-orang kian menjadi bayangan

       Oleh lelehan air mata melepas sebuah kepulangan


Jika pun bukan dia

         Di pembaringan api itu, katamu

Aku harus menyaksikan tarian api yang sama

 Memulangkanmu pada tanah, pada angin,

          Pada air dan ruang tak berbentuk

          Lewat penyucian api.


Tapi hari ini, meski tanpa air mata

Ingatan masih mengiris setajam belati

Terkadang menyulut ketidakpahaman

Seperti kabut, mengaburkan langkah yang mulai pasti

       Menuju arah, entah secerah atau segerah apa


Jangan mengubah diri,

       jadi kemayu,

       jadi bisu, gagu,

       Memaknai peristiwa perjalanan.

Kau hanya terpilih,

       Bersaksi, mengantar yang hendak pulang.


Saksikanlah wajah-wajah liar saat  ini

        Tanpa warna, berpayung kemegahan semu

Yang kau lihat hanya warna lumpur,

        dan debu kehidupan

Dibalurkan hujan dan kemarau.


Jalan setapak menuju rumah kenangan,

      Takkan mudah, tak mungkin tanpa resah

Suara-suara bangkit dari mantram yang tertanam

       di empat sudut  rumah,

       dari balik pintu  yang tak rapat tertutup,

       dari helai daun dan bunga kesayangan

       yang kau ajak becakap tentang kesepian

        dan kala suntuk.


Atau lolong satwa menjelang malam,

       Memberi isyarat ada yang mengintai

       Dari lubang gerbang.

       Mungkin juga dari kedalaman batin

              Orang-orang yang diganggu rasa bersalah


Mimpi hari ini membuatmu bergairah

Hari-hari dialiri pertanda,

Bermula dan berakhir dengan tanya

Ayat ayat, lturun dari langit

Melingkar, berpusar di langit-langit rumah

Seperti kupu-kupu yang tiba-tiba mendekat

    Tak teduga kedatanganya, dan

     Dibaca dukun petanda  baik


Jangan terkesima pada kata dan pertanda

Tak selalu menjaga kehidupan, bersih dari

      hiruk pikuk keinginan

Limbahnya  terserak di mana-mana.


Jalanan kian riuh dengan lalu lalang

Orang-orang bicara agama,

Di pelataran terang, atau bawah pohon tanpa cahaya.

Di ujung hari mereka  pulang

        tanpa penerangan.

 Membawa belati tersembunyi di dadanya

Degan mata nyalang

      dituntun dendam.


8jan2021


PEREMPUAN SEKUNTUM


Apa agama pemberi luka, apa

      agama penyembuh?

Perempuan perindu menghutankan kesepiannya

     jadi belantara pekat.

Tanpa cahaya menyelinap di rimbunnya.


Jika kau tersesat di lingkupnya,

Pastikan tak mematahkan

       kuntumnya yang lunglai

Karena kau membawa dengung

     membangkitkan hangat percintaan.


Ia pemuja mimpi.

Di hari tak terduga,

Badai datang di cuaca benderang.

Menghalau mimpi tanpa janji.


Ia mengintai celah jeruji perunggu

Terpaku pada  fatamorgana.

Dari bilik berpintu emas,

Membayangkan yang enggan datang.

Di mimpinya ia jadi perempuan

     bermahkota bunga

Menari bersama lelaki bersuara lirih

Bersama memetik saripati kehidupan

Di sela ilalang  beraroma tanah basah

      usai hujan semalam


Hari akan selalu pekat,

     mengelam oleh pikiran murung

     seperti  tanpa bulan.

Mendung memahkotai langit.

Awan menyembul tipis

       Dari selipan halilintar.


Hati seperti layar , bercahaya temaram

      lalu redup.

Pohon-pohon jadi bayangan,

Terguncang-guncang  di angin

       Seperti  suasana hati, seperti  air mata

 Menunggui hari dengan mata cekung,

Ayat-ayat seperti teraduk-aduk dalam sujud

Sudah  lama ia lupa keceriaan sembahyang

Sepi demi sepi sederas dukacita

Tapi kesepian bukan  kata mati


Biarkan keheningan meraya.


20 des 2020


TIRAN


Kurungan itu bernama waktu

Membatasi gerak perjalanan , dari

    gerbang rahim hingga perhentian  mahahening

Dalam perjalanan, menyusuri lorong pencarian

Di dindingnya terbaca tulisan takdir

      Mungkin tak terpahami, tapi sejati

       Pertemuan, di ujung pencarian.


Ada ribuan mata cahaya berpendar

Di dinding gua yang menggemakan suara

      Mengirim pantulannya ke dalam jiwa yang mendengar

       Menggemakan yang tak ingin kau ingat,

      Meletupkan yang ingin kau senyapkan.

Mengingatkan ke sebuah hubungan

     Kekeramatan menara rapuh angan-angan

     Rasa sakit, derita zaman,

     Orang-orang meneriakkan luka


Di dalam kurungan waktu,

Jiwa terlontar dari kesilaman,

      Juga melontarkan semua gumam

         Jadi suara kanak-kanak,

         menyanyikan keinginan tak terukur.

         berputar-putar,

 di udara, terserak  jadi dingin angin


Saatnya pulang pada hati yang terjaga.

Sunyi seribu pintu melilit jadi naga waktu

     Memanggil awan, mencegah gemintang

      mendekat sebagai utusan malam.

Tapi malam tak bisa menunda kedatangannya

       menyungkup jiwa yang  jumawa.

Di perjalanan,

     menuju perhentian,

Apa makna kemegahan,

Kesilaman yang kau bawa

      dengan dada membusung.

Kekeramatan silsilah,

      Di menara angan-angan

masihkah bermakna?


15 jan2021


CERITA DI UJUNG TAHUN


Saksikanlah  perayaan ,

       tanpa festival kembang api.

Duduk kita di tepi trotoar, bersisian

      Dengan orang-orang berbaju lusuh.

Wajah-wajah tak tertakar oleh kata.

Kita simpan kantung kata,

      Yang isinya tak seberapa

      untuk menggambarkan kedalaman duka.

Hanya langit semburat merah

Membayangi malam.


Mereka menanti kelahiran tahun

Menitipkan pengharapan di doa-doa,

      sarat beban,  sarat keinginan.


Kelahiran,

      terhubung dengan hakikat,

      Penebusan yang dikendalikan takdir

      Mengalir dalam perencanaan mahakala.

Menghela orang- orang ke medan perburuan hidup

Menghadang waktu,

Di sana keberanian terhunus

          dan terukur.


Aku gentar, terkurung rasa tertikam,

Pilu menolehkan wajah ke sekitar,

Juga ke belakang,

     Ke bentangan berlumpur.

Di atasnya berdiri hunian tak utuh,

     Rumah rohaniku.

Beratap berlubang di sana sini

Sebagian  keropos

     dikikis badai musiman.


Musik syahdu mengalun dari seberang jalan

Bergantian dengan irama gerimis

Semakin memperkuat nuansa dingin desember

Orang -orang,

   lewat paduan suara  menyayat hati

Menangisi lelaki yang darahnya

Membasuh dosa  peradaban

Luka demi luka berbalasan dosa demi dosa


Penanda perayaan,

Pohon-pohon buatan dipajang di etalase toko

Berhias lampu warna warni,    

Bintang-bintang, salju,

           Juga buatan.


Puisi  sendu terselip di bawah alas meja  perjamuan,

Agar tak mengganggu perayaan

 Kerlip lampu kian liar seiring malam,

      merambati kota

Cahayanya jatuh di tubuh orang – orang

       Yang tenggelam dalam kerumunan

Gelak tawa menjalari kehangatan.


Bayangan gelap pohon menimpa

      para penyusur jalanan.

Derai tawa perempuan bersahutan dengan

Gurau nakal petualang tengah malam.

Hilang muncul di gang tanpa papan nama.


Siapa peduli jika pun kau tak bernama

Bahkan gambar wajah memelasmu

Terbuang tanpa catatan waktu


Orang-orang asyik masyuk,

Dan kau terantuk-antuk

   menyusuri kesendirian.

Sampai di ujung hari sekali pun.


28 des 2020


DURGA


Kau, bagiku, juga ibu

Jelita, menari di kedalaman kalbu

Bersthana di pikiran dan kata

Menerima yang pulang,

     Juga yang datang

     membawa permintaan.


Di hari terpilih,

     di taman indahmu,Gandamayu

Aku akan bertemumu

Disambut lima perempuan bercadar putih

Kumasuki hamparan jiwa jagatraya

       Mahapenerima.


Aku seperti kanak-kanak,

Pulang bermain di ambang sore

Membawa hati riang bercerita

Aku, kau, mempercakapkan segala

Yang kupetik di permainan hidup

     Sukacita, dukalara, hingga

      Dendam yang membakarku

Juga berjilid-jilid tanya

Yang kutulis sebelum  ajal.


Kusimpan wujudmu,

Perempuan perkasa nan jelita

Tangan-tangan terkembang

Selayaknya memayungi semesta

Menjadi shakti , menjaga keseimbangan takdir

Rumah indahmu, tamansari penuh bunga

Dijaga dayang-dayang

     Pengabdi penuh cinta.


Siapakah merajah kekeramatan

    pada pepohonan, menakik-nakik bongkah kayu

     jadi menyeramkan

Berabad lamanya mengukir wajahmu

     yang menggetarkan, berkuasa atas makam.


Orang-orang enggan

Melintas di malam-malam,

        Engkau menari tanpa bulan.


Rinduku melebur jadi doa,

Saat terbuka gerbang lorong waktu

Inginku membawa semua tanya

Yang lama  mengganggu jiwa

Membuatku tak nyaman,

Seperti menjalani kutuk,

          Karena aku perempuan.

Angin liar berputar dalam tubuh, menggiringku

Jadi pengigau, pemuram,

       berkali-kali kehilangan gairah sujud


Jika aku hadir tak lagi

sepenuhnya manusia

       Mungkin sebagian wajahku denawa,

        Satwa, atau entah apa

Sesungguhnyalah karena tenung luka,

   amarah, jadi sakit menahun tanpa dukun

Menguras sari rasa hidup.

Kubawa di berbagai musim

Mencari penawar racun di antara huruhara

       yang selalu mengurung.


22 des 2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kupu-Kupu Merah Bata | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

Next Post

Teknologi Berkembang, Budaya Bali Tetap Lestari

Alit S Rini

Alit S Rini

Penyair, tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Teknologi Berkembang, Budaya Bali Tetap Lestari

Teknologi Berkembang, Budaya Bali Tetap Lestari

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co