24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kupu-Kupu Merah Bata | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
January 23, 2021
in Cerpen
Kupu-Kupu Merah Bata | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]

“Indah sekali!” Karin berujar dengan aksen kental Indonesia ketika mata kameranya menangkap kilau es puncak gunung Matterhorn.

Seketika seperti ada yang menampar telinga Franz. Ia kemudian menghampiri.

 “Mengapa perempuan Indonesia begitu berani jalan-jalan sendiri di Swiss?” Franz bertanya

 “Swiss yang ramah tak pernah memerlukan keberanian bagi perempuan yang lebih bahagia menikmati alam ketimbang mengurung diri di kamar.” Karin menjawab dingin seraya merogoh saku dan menawarkan sepotong coklat dengan asumsi bahwa coklat mampu merangsang rasa bahagia.

Percakapan mereka akhirnya tumpah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Karin mengatakan bahwa ia baru pertama kali ke Zenmart. Franz menceritakan kota di atas pegunungan itu dengan rinci mulai dari udara yang sejuk, waktu yang efisien, dan kebersihan yang tak akan ia temui di Indonesia. Dan karena memiliki tujuan yang sama, sore itu, di atas kereta menuju Basel Karin menceritakan perasaan jatuh setiap  cinta pada pintu kereta yang terbuka dan tertutup dengan anggun, juga veron  yang muncul ajaib di bawah kaki setelah kereta berhenti. Sampai di Basel, tak terasa mereka begitu jauh menceritakan nasib  masing-masing.

Franz mengatakan bahwa dia bukan lelaki Swiss tulen. Darahnya, setidaknya, setengah Indonesia dan separuhnya Swisss. Masa kecilnya tak pernah bahagia. Segala sayup kesedihan dalam hidupnya berasal dari sana.  Saat usia 10 tahun orang tuanya berpisah.  Mereka tak pernah akur semenjak ada lubang rahasia yang terbuka. Ayah Franz menjalin hubungan lain dan dengan niat tebal kemudian menceraikan ibunya dan menikahi perempuan rumah bordir di Surabaya. Karena sakit hati dan agar tak terkenang-kenang akan suaminya, Franz diajak ibunya pulang ke Swiss.

Sejak saat itu, ibunya selalu berusaha memupuk kebencian Franz kepada ayahnya, dan tentu juga, perempuan yang berhasil memikat ayahnya. Sampai sekarang. Sampai usianya 19 tahun, di depan ibunya Franz selalu berusaha membenci ayahnya dan tak sekalipun menyebut namanya. Tapi dalam hati sebenarnya Franz ingin mendapatkan jawaban yang pasti mengapa Franz harus membenci ayahnya. Ia ingin bertanya tentang kebenaran itu. Tapi bagaimana mungkin kebenaran  ia dapatkan? Franz tak memiliki alamat dan kerabat yang bisa menjelaskan keberadaan ayahnya.

Franz juga akhirnya sedikit tercengang ketika ia tahu bahwa Karin adalah orang Surabaya.  Elmo, ayah angkatnya, menawari untuk kuliah filsafat di Swiss. Mulanya, ibunya tak mengizinkan karena karin adalah perempuan satu-satunya. Ia begitu berarti bagi keluarga. Tapi dengan tegas karin sanggup menyakinkan, bahwa sejak lama ia ingin belajar serius dan pantas di perguruan tinggi. Petatah-petitih tentang pentingnya mengenyam pendidikan tinggi terus ia lontarkan kepada ibunya sampai pada akhirnya ia luluh.

Dalam keras keinginan Karin, ibunya sempat berkata dengan wajah sedih. “hidup begitu sepi seandainya kamu pergi” Karin tertegun dan langsung memeluk ibunya. Sekali lagi, ia memaksa ibunya untuk percaya bahwa ia tak akan lama meninggalkan Surabaya. Setelah selesai kuliah, ia berjanji akan mencari kerja untuk memperbaiki kegagalan kehidupan keluarganya selama ini. Karin benar-benar memaksa ibunya untuk berhenti bersedih dan memberikan pelukan hangat dalam beberpa menit. Franz tak begitu detail mendengarkan cerita Karin. Sambil membayangkan Surabaya, rasanya Franz telah banyak melewatkan cerita pedih dalam hidup Karin.

Di hari-hari berikutnya, kehadiran Karin kemudian membawa keberuntungan. Setiap enam bulan sekali, ia selalu meluangkan waktu pelesir ke Surabaya menemani Karin menikmati libur semester. Franz menyempatkan  berkunjung ke rumah-rumah bordir —tempat satu-satunya yang ia bayangkan untuk menemui ayahnya. Franz hanya ingin melihat apakah ayahnya bahagia dengan pilihan itu.  Hanya itu. Tak lebih. Tapi tanpa sengaja ia menikmati kebiasaan jalan-jalan mengunjungi rumah bordir satu ke yang lainnya.

Pada mulanya ia hanya menemukan rumah bordir sebagaimana rumah bordir pada umumnya yang memajang perempuan-perempuan dalam aquarium. Mereka seperti ikan hias yang  ditawarkan. Meski mereka cantik, Franz telah memendam perasaan benci. Sesekali Franz memang memesan perempuan itu, tapi bukan untuk ditiduri. Franz hanya mengajaknya bersenda gurau di sebuah kafe dan sekadar memancing perempuan-perempuan itu untuk menceritakan hidupnya dan bertanya apakah ia mengetahui Sukarjo, ayahnya. Tapi Franz tak menemukan apa-apa. Barangkali memang kehidupan orang tak selamanya perlu diceritakan.

Dari rumah bordir satu ke lainnya, Franz hampir melakukan hal yang sama. Tapi suatu kali, ia menemukan rumah bordir yang berbeda. Rumah Bordir Kupu-Kupu. Tapi anehnya, ketika Franz memasuki rumah bordir itu, tak satupun ia temukan perempuan muda yang cantik jelita. Hanya rumah kecil yang tembok-tembok sekelilingnya bersih. Tak ada debu yang menempel. Cat temboknya nampak selalu baru. Hanya perempuan tua yang mencoba terlihat muda dengan bedak tipis dan bening gincu di bibir halusnya. Gaun tipis dengan corak pantai membuat hidupnya tampak cerah. Kedua tangannya sibuk menulis sesuatu pada sebuah kertas. Sesekali ia juga memainkan telepon genggamnya. Suaranya tertahan. Batuk dan serak.

Franz mendengar rumor bahwa nama perempuan tua itu adalah adalah Maddam Hana. Entah itu nama asli atau hanya nama samaran dan Franz merasa tak perlu mengetahui  terlalu jauh. Melihat Franz berdiri di depan pintu, Maddam langsung menghentikan kesibukannya. Matanya langsung tertuju ke arah Franz.

“Hallo adik manis. Mau pesan yang umur berapa?”

“Apa saya boleh mampir saja dan tidak memesan apa-apa?” tanya Franz kepada Maddam.

“Sudah lama tak ada anak muda yang tertarik mengunjungi tempat ini. Duduklah barang sebentar. Jika tak terburu-buru, akan Maddam buatkan teh.”

Franz mengangguk. Perempuan tua tersenyum. Dengan saksama Franz memerhatikan wajahnya, kulit tuanya nampak menimbulkan gurat keriput. Ia membayangkan betapa cantiknya perempuan tua ini beberapa tahun silam.

“Meski tempatnya kecil, ini adalah rumah bordir terbesar di Surabaya, “ katanya sambil menghidangkan teh di meja.  Irisah jahe dan sereh tenggelam dalam gelas. Barangkali perempuan tua itu tak pernah nimkat minum teh tanpa rempah.

“Bahkan saking banyaknya pelayan, sampai-sampai tak ada yang menemani Maddam di sini kan?” kata Franz menimpali.

Mereka berdua tertawa lepas.

Hari-hari berikutnya, setiap berkunjung ke Surabaya, Franz hanya berkunjung ke rumah Bordir Kupu-Kupu dan merasa tak tertarik lagi mengunjungi rumah bordir lainnya. Ia merasa lebih tertarik bergurau dengan Maddam ketimbang sibuk mencari tahu keberadaan ayahnya. Sejak hari pertama Franz ke tempat ini, ia merasa betah dan melupakan ambisi mendatangi rumah- rumah bordir. Maddam Hana kemudian franz anggap sebagai ibunya sendiri. Madam Hanna baik dan menyayangi Franz. Ia kerap menyapa franz dengan  dengan pangggilan ‘anakku’. Tanpa sadar, Maddam telah menceritakan banyak hal tentang perempuan dan perihal mengapa rumah bordir ini tak menyediakan perempuan. Rumah ini hanya menyediakan pesanan. Bila kita memesan,maka pesanan itu akan diantar ke tempat tertentu (biasanya sebuah hotel atau losmen). Hal itu bertujuan sedikit menjaga identitas si pelaku bordir. Pernah suatu kali Franz bertanya perihal daftar nama pelayan di rumah ini, tapi segera Maddam menjawab tak ada daftar.

Perempuan-perempuan di rumah ini boleh datang dan pergi sesukanya. Rumah ini juga tak memandang usia dan wajah. Rumah bordir ini menjamin hak kebebasan perempuan. Franz tahu perempuan tua itu sedang bebohong dalam beberapa hal dan Franz juga tak ingin mengulik lebih dalam rahasia dapur perusahaan. Tapi satu yang Maddam tekankan, bahwa untuk memberikan ciri khas, Maddam memberitahukan bahwa setiap pelayan dari ruamah bordir ini memiliki gambar kupu-kupu merah bata di punggungnya.

Cerita cerita rahasia tanpa sadar telah semua menyembul dari mulut Maddam. Tapi setahun belakangan Franz tak pernah berkunjung ke Surabaya. Di Swiss, musim dingin semakin menumbuhkan cinta. Karin dan Franz mulai menimbang, apakah  berumah tangga adalah pilihan selanjutnya? Mulanya mereka abai, tapi akhirnya pilihan itu mereka jalani. Di usia yang sudah matang dan memiliki perkerjaan berpenghasilan mapan. Maka mereka akhirnya datang ke Surabaya untuk kesekian kalinya. Karin meminta restu kepada ibunya, sedangkan Franz menyempatkan diri mengunjungi Maddam. Mereka berdua tentu merestui. Di usia yang semakin ringkih, Maddam hanya memberi restu dan doa bahagia. Dengan alasan bahwa ia telah berjanji tak akan meninggalkan rumah bordir  kupu-kupu, maka ia tak akan datang ke acara pernikahan Franz.   

Di malam pertama bulan madu. Mereka menginap di pinggiran Danau Janeva. Mereka ingin menikmati sensasi bercinta pertama kali di balkon yang menghadap danau dengan interior kilau warna cahaya dari bening danau dan bulan yang tentu akan memantulkan bayangan yang sedang bercinta. Maka Franz dengan semangat menyongsong ranjang. Di sana karin menanti. Ketika karin membuka bajunya, Franz tiba-tiba menelan ludah. Di punggungnya, ada gambar setangkai bunga dan seekor kupu-kupu merah bata. Memandang gambar itu, Franz kemudian tersenyum. Indah sekali. Ia sejenak memalingkan wajah. Di atas sana, cahaya bulan membayang. Begitu tua.  [T]

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Uba ngamah ko?” | Mari Belajar Bahasa Pedawa

Next Post

Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api

Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co