13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arunika, Terminal Dua Keberangkatan  Alit S Rini

Nengah Kertalangu by Nengah Kertalangu
February 5, 2024
in Khas
Arunika, Terminal Dua Keberangkatan  Alit S Rini

Alit S Rini dan buku Arunika

CANDI bentar tua menjulang dan di ujungnya bulan bundar sangat menawan. Itu di  sebuah griya, di sebuah desa tempat kelahiran leluhurnya, sebuah keluarga Brahmana. Sebuah  bangunan  piasan di tengah merajan tua.

Tidur bergerombol di bawah kolongnya dengan kawan-kawan kecilnya serta saudara-saudaranya tanpa sekat pembatas. Juga, cerita horor  dari para tetua, adalah masa kanak-kanak yang indah, gembira tanpa sekat.Itu dunia kecilnya yang baur terasa hilang ketika kembali ke kota.    

Menjadi urban berarti mengambil jarak. Itu dipertanyakan oleh Alit S Rini saat  pembatasan mulai dirasakan.

Dunia masa kecilnya lambat-laun adalah romantisme yang hilang. Sesuatu yang asing tiba-tida dan dirindukannya. Terutama pembauran dan bahasa ekspresif yang santun dan akrab.

Urbaninasi tak hanya mengubah seting namun juga perilaku, sistem pola asuh yang  terasa lebih mengintervensi atas dasar kecemasan, bukan karena keselamatan karena kota yang hingar. Kesadaran tentang yang lian dibangun. Ruang ekspresi dan komunikasi dikontrol demikian rupa. Keluar berarti ancaman. Sesuatu tentang kemanusiaan mulai memasuki wilayah pertanyaan dalam hati,tanpa ada jawaban.

Dunia sekolah dengan kawan-kawan di sekolah dasar (SD) 6, di Jalan Melati Denpasar, tak lebih dari 500 meter letaknya dari rumah tinggal di Jalan Anggrek, memberikannya kembali keakraban berteman. Komukasi dengan bahasa Bali yang ekspresif  terasa menyenangkan.

Begitu juga ketika bersekolah di SLUB 1 Saraswati hingga di SMA 1 Denpasar. Duabelas tahun bersekolah dan 4 tahun di Fakultas Sastra Jurusan Sastra Inggris di Universitas Udayana baru menyadari apa sejatinya sebuah identitas.

Santiago, tokoh nelayan tua dalam The Old Man And The Sea, karya Hemingway dan lukisan Dewa Ruci, hadiah dari seorang teman dekat menjadi arah diskusi perjalanan tentang identitas hingga eksistesi. Itu kemudian menjadi materi skripsinya dengan judul “Filsafat Eksistensialisme Dalam Novel The Old Man In The Sea karya Hemingway” di tingkat doktoral.

Seorang dosen, usai ujian skripsi,  bertanya, ”Anda Dayu?”

Ia gelisah dengan pertanyaan itu. Namun ia merasa beruntung ketika Umbu Landu Paranggi memberikan semacam status nyineb wangsa dengan nama pena Alit S Rini dalam puisi yang dimuat di koran Bali Post. Ketika itu ia baru belajar menulis puisi di tahun 1980-an dengan terbata-bata memasuki dunia kepenyairan.

“Ruang ekspresi re-kreatif dan kreatif saya temukan lewat puisi dan esei sastra atas jasa Umbu. Dia guru spiritual lewat jalan puisi,” kata Alit.

Alit S. Rini kemudian menjelahi dunia kerja sebagai jurnalis di koran Bali Post. Itu karena puisi. Semula sebagai penerjemah. Lalu memegang rubrik budaya,agama,adat dan pendidikan, rubrik opini sekaligus. Mulai merekrut teman di luar koran dan melanglang menemukan seniman, orang-orang dan tokoh agama, adat, budayawan serta masyarakat lainnya untuk memantapkan rubrik yang dipegang. Liputan di rubriknya sempat menjadi rujukan orang asing, sebagai informasi, penelitian, hingga disediakan mesin foto copy oleh kantor.

Dunia kepenyairan mulai menyadarkan, dia lalu menerbitkan buku kumpulan puisi pertama “Karena Aku Perempuan Bali” (Arti Fondation, 2003) yang isinya sekitar wilayah rubriknya dan pertanyaan krtitis terkait eksistensi perempuan di tengah budaya, adat dan agama. Itu buku puisi berisi kritik sosial, menurut Dharma Putra yang kini profesor di Universitas Udayana dalam kata pengantar yang ditulisnya.

Buku kumpulan puisi “Karena Aku Perempuan Bali”  boleh disebut “terminal satu” keberangkatan dari menulis puisi di tahun 1980 hingga 2003. Dua puluh tahun kemudian buku kumpulan puisinya “Arunika” (Pustaka Ekspresi, 2023) sebagai terminal kedua. Buku “Arunika” ini mendapat penghargaan sebagai buku puisi terbaik versi Majalah Tempo 2023, yang baru bebarapa hari lalu diumumkan secara luas.

Apakah sejak dulu bercita-cita jadi penyair?

Sebuah pertanyaan yang mengagetkan baginya. Sebab baginya, menulis puisi cara lain untuk mengisi hidup. Memberi cara lain dalam memandang peristiwa dan menyadari kehidupan sosial adalah sebuah teks yang berubah, hidup dan harus terus dibaca ulang dan terus-menerus. Disebut penyair hanya dampak. Hanya penanda.

”Saya keluar dari identitas kelahiran dan identitas kepenyairan, ketika saya harus terlibat kegiatan adat, agama dan dalam pergaulan keluarga besar atau masyarakat umum di bebanjaran. Dengan begitu saya dapat begitu banyak bahan pemikiran untuk jadi puisi,“ ujar Alit.  Selanjutnya, “Dulu di keluarga asal saya amat sinis dengan kata seniman!”

Ketika ditanya balik, tapi, Anda memiliki teman hidup juga penulis puisi?

“Ya itu sebuah pilihan sadar. Puisi mengantarkan saya mendapatkan rasa percaya diri. Bertemu  pendamping hidup sekaligus teman diskusi dan saling menuntun ke arah kesadaran spiritual melalui jalan estetika bersama-sama. Menemukan kehidupan yang hangat dalam keluarga,” kata Alit.

Selanjutnya…

“Saya bisa memiliki sejumlah lukisan yang menjadi mimpi di masa remaja, terasa mewah dan rasanya tak terjangkau di masa lalu. Dulu tembok luas di rumah terasa luas ingin dihiasi satu atau dua lukisan sebaliknya sekarang rumah pun terasa sempit sebab  temboknya dipenuhi dengan koleksi lukisan yang saya kumpulkan sejak 2003 lalu,” ujar Alit.

Dua lukisan sang pendamping hidup menjadi cover  pada dua buku puisinya.

“Lukisan untuk cover buku  pertama, sayangnya hilang. Menjadi seniman atau tidak toh saya sudah berada di dalamnya. Seperti ujar sang guru, Umbu, kepada saya, menjadi penyair atau tidak itu tak masalah namun harus bisa mengapresiasi karya seni. Itu pemikiran yang seharusnya jadi visi ke depan dalam pendidikan kita sebab estetika dasarnya adalah imajinasi,” kata Alit. [T]

“Arunika” Karya Alit S Rini, Buku Puisi Terbaik Pilihan Tempo 2023
Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api
Sastra Indonesia di Bali | Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi
Tags: Alit S Rinibuku puisikumpulan puisiPuisisastraSastra Indonesiasastra indonesia di Balisastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kolektif, Gairah, dan Antuasiasme Bingar Showcase! #Vol2 di Uncle Ben’s 23

Next Post

77 Tahun HMI: Membaca Kembali Pemikiran Lafran Pane

Nengah Kertalangu

Nengah Kertalangu

Penulis tinggal di Denpasar

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
77 Tahun HMI: Membaca Kembali Pemikiran Lafran Pane

77 Tahun HMI: Membaca Kembali Pemikiran Lafran Pane

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co