13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menengok Bonsai Ratusan Juta di Taman Bung Karno Singaraja

Jaswanto by Jaswanto
March 21, 2024
in Khas
Menengok Bonsai Ratusan Juta di Taman Bung Karno Singaraja

Bonsai mame milik Galih Saputra | Foto: Dian

LELAKI itu mengatakannya dengan logat Jawa-Madura yang khas. “Tahun 2009 saya sudah mulai budidaya bonsai,” katanya, di sebuah warung kopi di kawasan Ruang Terbuka Hijau Taman Bung Karno Singaraja, Rabu (21/3/2024) siang. Ia duduk di sebelah Ketua Panitia Pamnas Bonsai 2024, Ketut Windu Saputra.

Lelaki kelahiran tahun ’96 itu berasal dari Bondowoso, Jawa Timur. Sekira dua hari sebelum acara pameran bonsai di Taman Bung Karno dimulai, dirinya sudah datang dengan tujuh pohon yang siap dipamerkan—termasuk satu pohon kecintaan istrinya, sancang ukuran 15 cm.

Bagi orang Singaraja yang tak pernah ke mana-mana, bisa jadi Bondowoso adalah tempat yang jauh—yang tak terjangkau, yang teronggok di pulau seberang sana. Tetapi, bagi orang yang senang bepergian, jarak 213 km tentu bukan alang-rintangan. Seperti Galih Saputra, misalnya. Ia menyeberangi Selat Bali dengan riang gembira. Dan seperti menuntaskan sebuah misi, Galih pantang kembali ke tanah asal sebelum pameran selesai.

“Jangankan di Singaraja, pameran bonsai di perbatasan Malaysia saja saya datangi,” katanya membandingkan, seolah ingin menunjukkan bahwa jarak Bondowoso-Singaraja bukanlah apa-apa.

Galih seorang yang bisa dikatakan hidup dari bonsai. Di rumahnya di Bondowoso, ia membudidayakan ribuan pohon yang dikerdilkan itu. Bonsai-bonsai yang ia budidayakan sudah dikirim sampai ke belahan dunia lain, yang tak pernah ia bisa bayangkan, seperti Amerika. “Bonsai saya pernah dibeli orang Amerika. Kami kenal di Facebook,” ujarnya.

Tahun ini, di Pameran Nasional Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (Pamnas PPBI) 2024 di Ruang Terbuka Hijau Taman Bung Karno Singaraja, sebagaimana telah disinggung di atas, Galih membawa tujuh pohon untuk dipamerkan. Salah satu pohon yang ia daftarkan adalah sancang ukuran 15 cm yang bertengger di kelas mame pratama—kategori bonsai dengan ukuran tak lebih dari 15 cm.

Galih mengaku telah merawat pohon sancang itu selama lima tahun. Bonsai mame pilih tanding tersebut didapatnya dari mencangkok. Selama lima tahun, dari mulai menanam, merawat, sampai hari ini, paling ia hanya menghabiskan biaya tak lebih dari tiga juta rupiah.

Pohon sancang kerdil milik Galih menyandang gelar “best ten”. Dan tinggi sancang itu hanya seukuran dua kali panjang korek api—sangat kerdil. Tapi karena kualitasnya tidak main-main, harga pohon kerdil itu setara dengan motor 150 cc bikinan Jepang.

“Kemarin ditawar 20 juta, tapi tidak saya lepas. Kalau 30 juta saya lepas,” tutur Galih dengan logat Maduranya yang medok. Semacam ada nada kebanggan saat ia mengatakannya. Dan hingga hari ini, ia telah banyak meraup keuntungan dari budidaya bonsai—pohon yang ditanam dan dirawat hanya untuk dikerdilkan itu.

Cerita lain datang dari pembudidaya bonsai lainnya, Kadek Armayasa dari Buleleng. Armayasa sudah menggeluti dunia bonsai selama 15 tahun lamanya. Awalnya ia mendongkel di alam. Tapi sekarang sudah mengembangkan bibit dari kebunnya sendiri. Seperti Galih, ia juga mencangkok dan menyetek. “Saya buka stand di sini. Bawa bahan-bahan bonsai untuk dijual,” katanya sambil menyalakan sebatang rokok.

Armayasa berkisah, dirinya pernah mendapat hadiah sebuah rumah di Kabupaten Jembrana saat pohon bonsainya mendapat gelar juara. Itu sesuatu yang tak terbayangkan. Ia tak pernah mengira bahwa apa yang ia lakukan selama ini telah menghidupi keluarga kecilnya. “Awalnya saya membuat bonsai dari pohon loa. Kecil saja. Coba-coba waktu itu, otodidak,” katanya, dengan nada terkesan mencoba meyakinkan pendengarnya.

Armayasa memulai semuanya sejak masih memiliki satu anak. Kini ia telah memiliki lebih daripada itu. Dan semuanya, dari bekal hidup, pendidikan, ditopang dari jual-beli bonsai. Ia termasuk pembudidaya yang tekun. Tak hanya pandai menanam, Armayasa juga memprogram sekaligus merawat bonsai-bonsainya sendiri. “Saya pernah beli pohon seharga 400 ribu, saya rawat selama dua tahun, tadi sudah ada yang menawar 15 juta,” katanya. “Kami hidup dari bonsai,” sambungnya tegas.

Bonsai pohon asam yang ditawar hingga 500 juta | Foto: Dian

Di Ruang Terbuka Hijau Taman Bung Karno Singaraja, 717 pohon dari 574 peserta dari seluruh Indonesia, berderet memamerkan diri. Macam-macam pohon, seperti sancang, serut, anting putri, sianci, asam, waru, ficus, santigi, dan nama-nama lain yang sulit diingat, meliuk-liuk indah di atas pasir Malang, di dalam pot tembikar, di atas batu yang bolong. Semua pohon tak ada yang besar dan tinggi, sebagaimana aslinya di alam.

Pohon-pohon yang sudah tersentuh oleh tangan-tangan seniman itu, teronggok dalam tujuh kategori yang berbeda: mame, small, prospek, prospek plus, pratama, madya, dan utama. Pameran Nasional Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (Pamnas PPBI) 2024 ini diselenggarakan bertepatan pada perayaan HUT Kota Singaraja yang ke-420 tahun.

Saat pembukaan pemeran, Selasa (19/3/2024) pagi, Penjabat (Pj) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana menginginkan ajang pameran dan lomba bonsai di Kabupaten Buleleng menjadi agenda rutin tahunan, khususnya pada HUT Kota Singaraja—ini ucapakan khas seorang pejabat pemerintahan.

Menurut Ketua Panitia Pamnas Bonsai 2024, Ketut Windu Saputra, peserta terjauh datang dari Provinsi Lampung. Banyak juga peserta dari Pulau Jawa, seperti Bandung dan Surabaya. Dan jika berkaca dari tahun laiu, pameran di Buleleng kali ini ada peningkatan. Pada tahun 2023, pameran masih bersifat lokal. Sedangkan tahun ini sudah skala nasional.

Tetapi seharusnya memang demikian. Komunitas bonsai memang tidak hanya ada di Buleleng saja, tapi di seluruh Indonesia. “Karena komunitas kami ini tidak hanya ada di Buleleng. Buleleng hanya menjadi cabang dari Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) yang pusatnya ada di Jakarta. Jika tidak salah, di seluruh kabupaten/kota di Indonesia ada cabangnya,” tutur Windu, lelaki berambut gimbal yang akrab dipanggil Jro itu.

Di pameran yang mengusung tema “Sudamala Bonsai” ini, yang berlangsung dari tanggal 16 hingga 24 Maret 2024, kata Windu, ada satu bonsai yang ditawar hingga 500 juta oleh salah seorang kolektor dari Jawa. “Tapi tidak dilepas!” sambung Windu tegas.

Bonsai asam jawa dengan gaya formal milik salah seorang penghobi dari Buleleng itu, sudah dirawat selama 43 tahun. Dan ini alasan orang itu tak melepasnya, dia sudah menganggap pohon asam kerdil dan tua itu seperti keluarganya sendiri—bahkan mungkin termasuk bagian dari tubuhnya sendiri. Namun sayang, siang itu sang pemilik tak ada di lokasi pameran.

Terlepas dari bahasan di atas, untuk saat ini, pohon santigi sedang banyak diminati di Bali. Para penghobi, seniman, kolektor, banyak berburu sampai ke pelosok-pelosok Sumba, Maluku, Sulawesi—tiga daerah yang terkenal dengan kualitas pohon santiginya. Santigi, dalam dunia perbonsaian, dianggap sebagai pohon yang lengkap.

Tumbuhan dengan nama latin Phempis Accidula itu memiliki gerak dasar atau liukan yang indah—kadang ekstrem. Karakternya yang khas, unsur tuanya yang mencolok, menjadikan santigi sebagai primadona—walaupun bukan satu-satunya pohon yang mempesona.

“Saya akui, santigi memang pohon yang berkelas. Semua kriteria bonsai, ada pada dirinya. Daunya yang kecil, kulitnya yang terkesan tua, liukannya, semuanya dimiliki santigi,” ujar Windu sambil mengikat rambutnya yang gimbang sepaha.

Dalam dunia perbonsaian di Indonesia, diakui atau tidak, Bali, khususnya Gianyar, masih menjadi wilayah yang diperhitungkan. Di Gianyar, para kolektor, seniman, pemula, tumbuh berjibun seperti gulma di musim penghujan.

Orang-orang di Gianyar memperlakukan bonsai seperti emas batangan. Mereka membiayai perawatannya sebagaimana menyekolahkan anak-anaknya. Dan bagi para penghobi, pameran di Gianyar merupakan ujian yang berat—beberapa orang bahkan merasa ngeri, saking ketatnya persaingan.

“Sejak pandemi, peminat bonsai di Bali semakin banyak,” kata Windu. Hal ini membuktikan bahwa seni kuno membentuk pohon yang berasal dari Jepang ini masih eksis hingga hari ini.

Hari ini, di Bali, sebagaimana dikatakan Windu di atas, perkembangan bonsai semakin pesat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Peminat bonsai semakin banyak. Pohon-pohon baru diproduksi, tidak setiap tahun atau bulan, tapi setiap hari. Hal tersebut didukung dengan teknologi audio visual yang semakin melesat. Media sosial menjadi medium yang efektif untuk bertransaksi jual-beli bonsai.

Sebagaimana Galih dan Armayasa, yang memanfaatkan aplikasi yang merubah wajah dunia itu sebagai media jualan, ratusan orang, bahkan mungkin ribuan orang lainnya, juga melakukannya—dan sama-sama berharap bisa bernasib seperti Galih atau Armayasa.

Media sosial adalah penemuan penting abad ini—walaupun tetap tak terlepas dari sisi negatifnya. Selain melenakan, aplikasi tersebut juga banyak membawa keberkahan. Buktinya, bonsai Galih bisa sampai Amerika karenanya.[T]

 Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Pj Bupati Buleleng Inginkan Pameran dan Lomba Bonsai Jadi Agenda Rutin Tahunan
Muslikhin: Bonsai Bukan Hanya Sekadar Hobi, tapi Juga Terapi

Awalnya Iseng, Dharma Sentosa Kini Jadi Seniman Bonsai dengan Banyak Penghargaan
Bonsai: Seni, Botani, dan Boleh Sekadar Ikut-Ikutan – [1]
Tags: bonsaibulelengpameran bonsaiPamnas PPBI 2024Ruang Terbuka Hijau Taman Bung KarnoSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebaran, Masyarakat Tradisional, dan Komunikasi

Next Post

Desa Selat Punya Kantor Baru, Pj Bupati Buleleng Ingin Kinerja Perbekel dan Perangkatnya Makin Meningkat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Desa Selat Punya Kantor Baru, Pj Bupati Buleleng Ingin Kinerja Perbekel dan Perangkatnya Makin Meningkat

Desa Selat Punya Kantor Baru, Pj Bupati Buleleng Ingin Kinerja Perbekel dan Perangkatnya Makin Meningkat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co