2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menengok Bonsai Ratusan Juta di Taman Bung Karno Singaraja

Jaswanto by Jaswanto
March 21, 2024
in Khas
Menengok Bonsai Ratusan Juta di Taman Bung Karno Singaraja

Bonsai mame milik Galih Saputra | Foto: Dian

LELAKI itu mengatakannya dengan logat Jawa-Madura yang khas. “Tahun 2009 saya sudah mulai budidaya bonsai,” katanya, di sebuah warung kopi di kawasan Ruang Terbuka Hijau Taman Bung Karno Singaraja, Rabu (21/3/2024) siang. Ia duduk di sebelah Ketua Panitia Pamnas Bonsai 2024, Ketut Windu Saputra.

Lelaki kelahiran tahun ’96 itu berasal dari Bondowoso, Jawa Timur. Sekira dua hari sebelum acara pameran bonsai di Taman Bung Karno dimulai, dirinya sudah datang dengan tujuh pohon yang siap dipamerkan—termasuk satu pohon kecintaan istrinya, sancang ukuran 15 cm.

Bagi orang Singaraja yang tak pernah ke mana-mana, bisa jadi Bondowoso adalah tempat yang jauh—yang tak terjangkau, yang teronggok di pulau seberang sana. Tetapi, bagi orang yang senang bepergian, jarak 213 km tentu bukan alang-rintangan. Seperti Galih Saputra, misalnya. Ia menyeberangi Selat Bali dengan riang gembira. Dan seperti menuntaskan sebuah misi, Galih pantang kembali ke tanah asal sebelum pameran selesai.

“Jangankan di Singaraja, pameran bonsai di perbatasan Malaysia saja saya datangi,” katanya membandingkan, seolah ingin menunjukkan bahwa jarak Bondowoso-Singaraja bukanlah apa-apa.

Galih seorang yang bisa dikatakan hidup dari bonsai. Di rumahnya di Bondowoso, ia membudidayakan ribuan pohon yang dikerdilkan itu. Bonsai-bonsai yang ia budidayakan sudah dikirim sampai ke belahan dunia lain, yang tak pernah ia bisa bayangkan, seperti Amerika. “Bonsai saya pernah dibeli orang Amerika. Kami kenal di Facebook,” ujarnya.

Tahun ini, di Pameran Nasional Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (Pamnas PPBI) 2024 di Ruang Terbuka Hijau Taman Bung Karno Singaraja, sebagaimana telah disinggung di atas, Galih membawa tujuh pohon untuk dipamerkan. Salah satu pohon yang ia daftarkan adalah sancang ukuran 15 cm yang bertengger di kelas mame pratama—kategori bonsai dengan ukuran tak lebih dari 15 cm.

Galih mengaku telah merawat pohon sancang itu selama lima tahun. Bonsai mame pilih tanding tersebut didapatnya dari mencangkok. Selama lima tahun, dari mulai menanam, merawat, sampai hari ini, paling ia hanya menghabiskan biaya tak lebih dari tiga juta rupiah.

Pohon sancang kerdil milik Galih menyandang gelar “best ten”. Dan tinggi sancang itu hanya seukuran dua kali panjang korek api—sangat kerdil. Tapi karena kualitasnya tidak main-main, harga pohon kerdil itu setara dengan motor 150 cc bikinan Jepang.

“Kemarin ditawar 20 juta, tapi tidak saya lepas. Kalau 30 juta saya lepas,” tutur Galih dengan logat Maduranya yang medok. Semacam ada nada kebanggan saat ia mengatakannya. Dan hingga hari ini, ia telah banyak meraup keuntungan dari budidaya bonsai—pohon yang ditanam dan dirawat hanya untuk dikerdilkan itu.

Cerita lain datang dari pembudidaya bonsai lainnya, Kadek Armayasa dari Buleleng. Armayasa sudah menggeluti dunia bonsai selama 15 tahun lamanya. Awalnya ia mendongkel di alam. Tapi sekarang sudah mengembangkan bibit dari kebunnya sendiri. Seperti Galih, ia juga mencangkok dan menyetek. “Saya buka stand di sini. Bawa bahan-bahan bonsai untuk dijual,” katanya sambil menyalakan sebatang rokok.

Armayasa berkisah, dirinya pernah mendapat hadiah sebuah rumah di Kabupaten Jembrana saat pohon bonsainya mendapat gelar juara. Itu sesuatu yang tak terbayangkan. Ia tak pernah mengira bahwa apa yang ia lakukan selama ini telah menghidupi keluarga kecilnya. “Awalnya saya membuat bonsai dari pohon loa. Kecil saja. Coba-coba waktu itu, otodidak,” katanya, dengan nada terkesan mencoba meyakinkan pendengarnya.

Armayasa memulai semuanya sejak masih memiliki satu anak. Kini ia telah memiliki lebih daripada itu. Dan semuanya, dari bekal hidup, pendidikan, ditopang dari jual-beli bonsai. Ia termasuk pembudidaya yang tekun. Tak hanya pandai menanam, Armayasa juga memprogram sekaligus merawat bonsai-bonsainya sendiri. “Saya pernah beli pohon seharga 400 ribu, saya rawat selama dua tahun, tadi sudah ada yang menawar 15 juta,” katanya. “Kami hidup dari bonsai,” sambungnya tegas.

Bonsai pohon asam yang ditawar hingga 500 juta | Foto: Dian

Di Ruang Terbuka Hijau Taman Bung Karno Singaraja, 717 pohon dari 574 peserta dari seluruh Indonesia, berderet memamerkan diri. Macam-macam pohon, seperti sancang, serut, anting putri, sianci, asam, waru, ficus, santigi, dan nama-nama lain yang sulit diingat, meliuk-liuk indah di atas pasir Malang, di dalam pot tembikar, di atas batu yang bolong. Semua pohon tak ada yang besar dan tinggi, sebagaimana aslinya di alam.

Pohon-pohon yang sudah tersentuh oleh tangan-tangan seniman itu, teronggok dalam tujuh kategori yang berbeda: mame, small, prospek, prospek plus, pratama, madya, dan utama. Pameran Nasional Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (Pamnas PPBI) 2024 ini diselenggarakan bertepatan pada perayaan HUT Kota Singaraja yang ke-420 tahun.

Saat pembukaan pemeran, Selasa (19/3/2024) pagi, Penjabat (Pj) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana menginginkan ajang pameran dan lomba bonsai di Kabupaten Buleleng menjadi agenda rutin tahunan, khususnya pada HUT Kota Singaraja—ini ucapakan khas seorang pejabat pemerintahan.

Menurut Ketua Panitia Pamnas Bonsai 2024, Ketut Windu Saputra, peserta terjauh datang dari Provinsi Lampung. Banyak juga peserta dari Pulau Jawa, seperti Bandung dan Surabaya. Dan jika berkaca dari tahun laiu, pameran di Buleleng kali ini ada peningkatan. Pada tahun 2023, pameran masih bersifat lokal. Sedangkan tahun ini sudah skala nasional.

Tetapi seharusnya memang demikian. Komunitas bonsai memang tidak hanya ada di Buleleng saja, tapi di seluruh Indonesia. “Karena komunitas kami ini tidak hanya ada di Buleleng. Buleleng hanya menjadi cabang dari Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) yang pusatnya ada di Jakarta. Jika tidak salah, di seluruh kabupaten/kota di Indonesia ada cabangnya,” tutur Windu, lelaki berambut gimbal yang akrab dipanggil Jro itu.

Di pameran yang mengusung tema “Sudamala Bonsai” ini, yang berlangsung dari tanggal 16 hingga 24 Maret 2024, kata Windu, ada satu bonsai yang ditawar hingga 500 juta oleh salah seorang kolektor dari Jawa. “Tapi tidak dilepas!” sambung Windu tegas.

Bonsai asam jawa dengan gaya formal milik salah seorang penghobi dari Buleleng itu, sudah dirawat selama 43 tahun. Dan ini alasan orang itu tak melepasnya, dia sudah menganggap pohon asam kerdil dan tua itu seperti keluarganya sendiri—bahkan mungkin termasuk bagian dari tubuhnya sendiri. Namun sayang, siang itu sang pemilik tak ada di lokasi pameran.

Terlepas dari bahasan di atas, untuk saat ini, pohon santigi sedang banyak diminati di Bali. Para penghobi, seniman, kolektor, banyak berburu sampai ke pelosok-pelosok Sumba, Maluku, Sulawesi—tiga daerah yang terkenal dengan kualitas pohon santiginya. Santigi, dalam dunia perbonsaian, dianggap sebagai pohon yang lengkap.

Tumbuhan dengan nama latin Phempis Accidula itu memiliki gerak dasar atau liukan yang indah—kadang ekstrem. Karakternya yang khas, unsur tuanya yang mencolok, menjadikan santigi sebagai primadona—walaupun bukan satu-satunya pohon yang mempesona.

“Saya akui, santigi memang pohon yang berkelas. Semua kriteria bonsai, ada pada dirinya. Daunya yang kecil, kulitnya yang terkesan tua, liukannya, semuanya dimiliki santigi,” ujar Windu sambil mengikat rambutnya yang gimbang sepaha.

Dalam dunia perbonsaian di Indonesia, diakui atau tidak, Bali, khususnya Gianyar, masih menjadi wilayah yang diperhitungkan. Di Gianyar, para kolektor, seniman, pemula, tumbuh berjibun seperti gulma di musim penghujan.

Orang-orang di Gianyar memperlakukan bonsai seperti emas batangan. Mereka membiayai perawatannya sebagaimana menyekolahkan anak-anaknya. Dan bagi para penghobi, pameran di Gianyar merupakan ujian yang berat—beberapa orang bahkan merasa ngeri, saking ketatnya persaingan.

“Sejak pandemi, peminat bonsai di Bali semakin banyak,” kata Windu. Hal ini membuktikan bahwa seni kuno membentuk pohon yang berasal dari Jepang ini masih eksis hingga hari ini.

Hari ini, di Bali, sebagaimana dikatakan Windu di atas, perkembangan bonsai semakin pesat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Peminat bonsai semakin banyak. Pohon-pohon baru diproduksi, tidak setiap tahun atau bulan, tapi setiap hari. Hal tersebut didukung dengan teknologi audio visual yang semakin melesat. Media sosial menjadi medium yang efektif untuk bertransaksi jual-beli bonsai.

Sebagaimana Galih dan Armayasa, yang memanfaatkan aplikasi yang merubah wajah dunia itu sebagai media jualan, ratusan orang, bahkan mungkin ribuan orang lainnya, juga melakukannya—dan sama-sama berharap bisa bernasib seperti Galih atau Armayasa.

Media sosial adalah penemuan penting abad ini—walaupun tetap tak terlepas dari sisi negatifnya. Selain melenakan, aplikasi tersebut juga banyak membawa keberkahan. Buktinya, bonsai Galih bisa sampai Amerika karenanya.[T]

 Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Pj Bupati Buleleng Inginkan Pameran dan Lomba Bonsai Jadi Agenda Rutin Tahunan
Muslikhin: Bonsai Bukan Hanya Sekadar Hobi, tapi Juga Terapi

Awalnya Iseng, Dharma Sentosa Kini Jadi Seniman Bonsai dengan Banyak Penghargaan
Bonsai: Seni, Botani, dan Boleh Sekadar Ikut-Ikutan – [1]
Tags: bonsaibulelengpameran bonsaiPamnas PPBI 2024Ruang Terbuka Hijau Taman Bung KarnoSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebaran, Masyarakat Tradisional, dan Komunikasi

Next Post

Desa Selat Punya Kantor Baru, Pj Bupati Buleleng Ingin Kinerja Perbekel dan Perangkatnya Makin Meningkat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Desa Selat Punya Kantor Baru, Pj Bupati Buleleng Ingin Kinerja Perbekel dan Perangkatnya Makin Meningkat

Desa Selat Punya Kantor Baru, Pj Bupati Buleleng Ingin Kinerja Perbekel dan Perangkatnya Makin Meningkat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co