24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
February 17, 2024
in Cerpen
Galungan | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

SEINGATKU, belum pernah aku merasakan kebahagiaan merayakan Galungan. Jangankan bisa memakai baju baru, bersenang-senang berwisata dengan orang tua dan teman-teman, asalkan tidak kena marah saja rasanya sudah untung. Itu sebabnya kalau Galungan aku tak pernah memiliki perasaan yang nyaman. Selalu gelisah, sedih ingin menangis, tapi tak bisa meneteskan air mata. 

Aku tak tahu bagaimana asal mulanya. Yang selalu kuingat sampai sekarang, setiap Galungan, setiap hari raya, ibu selalu ketus, marah-marah. Salah sedikit aku dipukul. 

Bapak juga begitu, bicaranya selalu keras, berteriak-teriak sambil memegang kartu judian, berjudi. Kalau sedah asyik main judi, ia tak bisa diganggu. Selalu minta dilayani.  Apa pun permintaannya harus disediakan, harus cepat. Kalau tidak dituruti, makin keras teriakannya, Kadang-kadang disertai caci maki. 

Setiap hari raya, apalagi Galungan, bapak ibuku selalu bertengkar, bahkan pernah sampai berkelahi. 

Aku ingat saat itu. Pada Galungan tahun 2001. Aku sudah duduk di kelas dua SMP. Guru Agama mengajarkan aku, bahwa Hari Raya Galungan katanya momentum untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Bapak Guru juga mengatakan bahwa yang paling penting adalah mengalahkan adharma atau keburukan dalam diri sendiri. Itu yang selalu kuingat, yang membuatku tak pernah sedih kalau Galungan tak memiliki baju baru, tak memiliki makanan enak.

Tapi yang membuatku sedih adalah prilaku Bapak yang seperti sengaja mengganggu. Selalu membuat keributan. Kebenarannya hanya berjudi. Kalau sudah berjudi, berkumpul dengan teman-temannya sesama penjudi, ia bisa duduk seharian, sampai lupa mandi. Seperti Galungan kala itu. 

“Buatkan kopi dua, teh tiga!” Bapak berteriak. Walau bapak tak menyebut nama, seketika aku menyiapkan kopi dan teh, agar dia berhenti teriak. 

Pada saat menyiapkan kopi dan teh, aku kaget. Ibu menjewer telingaku. 

“Selesaikan dulu pasucian-nya, jangan mengambil pekerjaan lain. Dari dulu I Luh sudah Ibu beritahu, jangan kamu layani bapakmu, agar tidak menjadi kebiasan. Galungan itu hari raya besar, banyak yang harus dikerjakan. Jangankan membantu istri, selalu asyik berjudi, minta dilayani!” Ibu marah. 

Kuurungkan menuangkan air yang mendidih itu, kutinggalkan bahan kopi dan teh itu. Kembali aku menata dan merangkai pasucian, aku ingat pelajaran agama di sekolah. Pasucian itu katanya dipersembahkan kepada Bhatara sebagai sarana pembersihan, di saat menata pasucian seharusnya dilakukan dengan perasan yang tulus dan suci. Aku ingat pada nasehat guru agamaku, kutenangkan hati. Kubendung air mataku yang hendak menebes ke luar. Pelan-pelan, dalam situasi seperti itu kurapalkan mantra gayatri, barulah napasku terasa ringan, lapang. 

Kulanjutkan pekerjaanku. Setiap kali hatiku terasa perih, kurapalkan lagi mantra gayatri. Akhirnya selesai juga banten-banten itu kutata. 

Kembali kudengar teriakan Bapak. Kini namaku yang dipanggil disertai caci maki. 

“Luh Karti, sialan kamu, anak setan, kenapa setahun membuat kopi, bikin malu saja, kubunuh kamu ya!” Bapak marah. 

“Wehh, kok seenaknya minta kopi, kopi milik siapa? Memangnya pernah membeli?” Ibu menyahut, ikut marah.

Terdengar lagi Bapak marah, kemudian Ibu, Bapak lagi. Aku takut, gemetar, tak berani mendekat. Cepat-cepat kuambil canang dan banten, lari ke sanggah. Sambil menangis aku menghaturkan sesajen, memohon anugrah kepada Sanghyang Widhi. 

Sekitar satu jam aku menghaturkan sesajen, pelan-pelan aku berjalan pulang. Aku kaget semua alat-alat dapur berserakan, piring dan gelar pecah berantakan. Kulihat ada tetesan darah. 

“Ibu… Ibu…!” Aku panik mencari-cari ibu.  “Ibu… Ibu…!” teriakku lagi. 

“Plung… ” Hampir saja kepalaku terkena kursi yang dilemparkan Bapak. Aku bingung, sesak. Bapak memanggil, matanya merah. Aku semakin ketakutan. 

Untung sekali banyak sanak saudara yang berdatangan, yang menghalangi Bapak. Kalau seandainya tak ada yang tahu, pasti aku terluka, atau bahkan bisa terbunuh. Aku ingat saat itu aku ditarik oleh paman yang tinggal di kota. Mungkin memang takdir, ia pas pulang dan melihat peristiwa itu.

Sejak saat itu diajaknya aku tinggal di kota, tinggal di rumahnya. Aku disekolahkan, sampai tamat SMA. Sekarang aku sudah bekerja sebagai kasir pada salah satu swalayan. 

Sudah lima tahun aku tak pernah pulang, tak pernah bertemu Bapak dan Ibu. Pamanku bilang Bapak kini sakit-sakitan. Semenjak Bapak sakit-sakitan, ibuku pulang ke rumah agar ada yang merawat Bapak.

Aku kagum pada cinta kasih Ibu kepada Bapak. Rindu sekali aku pada Ibu, juga ingin bertemu Bapak, tetapi dalam hati aku tidak suka pada perilakunya. Itu sebabnya aku merasa diri tidak berhak merayakan Galungan. Sudah sepuluh kali Galungan aku tak pulang. Lama sekali aku berusaha menaklukkan perasaan benciku pada Bapak. Kini rasanya aku bisa, kutekadkan hati untuk pulang. 

Turun dari bis, kakiku gemetar. Ingin bertemu Ibu dan Bapak, tetapi merasa takut. Kuletakkan bawaanku di atas trotoar. Kuperiksa lagi. Ada buah-buahan, kue, ada baju kebaya untuk ibu, ada kain sarung untuk Bapak, ada juga lauk daging urutan kesenangan Bapak. 

Sesudah di depan kamar, kembali aku diam. Merasa tak berani masuk. 

“Ibu, Bapak, aku Luh Karti pulang!” Ingin sekali aku berseru seperti itu, tapi lidahku kelu. Air mataku mengalir deras. Lama aku terdiam, bengong dengan perasaan kosong. Sampai aku tak tahu ada yang datang. Ibu, ibu sudah ada di hadapanku, lalu memelukku erat, sangat erat seperti tak ingin kutinggalkan. 

“I Luh, I Luh, benar ini I Luh? Bapak, Bapak, I Luh pulang, I Luh sudah pulang!” Ibu berseru. Bapak datang menyambut dan bersimpuh di kakiku. 

“Bapak…!” Aku kaget. Wajah Bapak terlihat sangat tua. Kuangkat tubuh Bapak. Kuajak Ibu dan Bapak ke kamar dan kududukkan di balai. 

“Luh, Bapak menyangka kamu tak akan mau pulang lagi. Bapak selalu mengatakan kamu tak sudi mempunyai bapak yang buruk sepertinya. Ibu tak percaya, Ibu yakin kamu pasti pulang. Setiap Galungan, Ibu berdoa memohon agar I Luh mau pulang!” Ibu menangis. Tangis ibu adalah tangis suka cita, tangis bahagia. 

Mataku juga berair, aku bahagia, karena pada Galungan ini aku merasa merayakan Galungan. Sudah mampu mengalahkan kebencianku pada Bapak, mengalahkan rasa benci dengan kasih sayang. [T]

  • Catatan: Cerpen ini adalah terjemahan dari cerpen berbahasa Bali yang berjudul Galungan, diambil dari buku berjudul Luh Jalir yang diterbitkan Pustaka Tarukan Agung (2008). Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Made Adnyana Ole

[][][]

BACA cerpen-cerpen lain

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi
Luh Jalir | Cerpen Mas Ruscitadewi
Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Lelaki Tua Bersama Bunga-Bunga | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Budhi Setyawan | Mendengar Lagu Blues dan Teringat Chairil Anwar

Next Post

Tidak Mudah “Ngripta Prasi”: Menggambar Anatomi Wayang dengan Pas di Daun Lontar

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Tidak Mudah “Ngripta Prasi”: Menggambar Anatomi Wayang dengan Pas di Daun Lontar

Tidak Mudah “Ngripta Prasi”: Menggambar Anatomi Wayang dengan Pas di Daun Lontar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co