2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
February 17, 2024
in Cerpen
Galungan | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

SEINGATKU, belum pernah aku merasakan kebahagiaan merayakan Galungan. Jangankan bisa memakai baju baru, bersenang-senang berwisata dengan orang tua dan teman-teman, asalkan tidak kena marah saja rasanya sudah untung. Itu sebabnya kalau Galungan aku tak pernah memiliki perasaan yang nyaman. Selalu gelisah, sedih ingin menangis, tapi tak bisa meneteskan air mata. 

Aku tak tahu bagaimana asal mulanya. Yang selalu kuingat sampai sekarang, setiap Galungan, setiap hari raya, ibu selalu ketus, marah-marah. Salah sedikit aku dipukul. 

Bapak juga begitu, bicaranya selalu keras, berteriak-teriak sambil memegang kartu judian, berjudi. Kalau sedah asyik main judi, ia tak bisa diganggu. Selalu minta dilayani.  Apa pun permintaannya harus disediakan, harus cepat. Kalau tidak dituruti, makin keras teriakannya, Kadang-kadang disertai caci maki. 

Setiap hari raya, apalagi Galungan, bapak ibuku selalu bertengkar, bahkan pernah sampai berkelahi. 

Aku ingat saat itu. Pada Galungan tahun 2001. Aku sudah duduk di kelas dua SMP. Guru Agama mengajarkan aku, bahwa Hari Raya Galungan katanya momentum untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Bapak Guru juga mengatakan bahwa yang paling penting adalah mengalahkan adharma atau keburukan dalam diri sendiri. Itu yang selalu kuingat, yang membuatku tak pernah sedih kalau Galungan tak memiliki baju baru, tak memiliki makanan enak.

Tapi yang membuatku sedih adalah prilaku Bapak yang seperti sengaja mengganggu. Selalu membuat keributan. Kebenarannya hanya berjudi. Kalau sudah berjudi, berkumpul dengan teman-temannya sesama penjudi, ia bisa duduk seharian, sampai lupa mandi. Seperti Galungan kala itu. 

“Buatkan kopi dua, teh tiga!” Bapak berteriak. Walau bapak tak menyebut nama, seketika aku menyiapkan kopi dan teh, agar dia berhenti teriak. 

Pada saat menyiapkan kopi dan teh, aku kaget. Ibu menjewer telingaku. 

“Selesaikan dulu pasucian-nya, jangan mengambil pekerjaan lain. Dari dulu I Luh sudah Ibu beritahu, jangan kamu layani bapakmu, agar tidak menjadi kebiasan. Galungan itu hari raya besar, banyak yang harus dikerjakan. Jangankan membantu istri, selalu asyik berjudi, minta dilayani!” Ibu marah. 

Kuurungkan menuangkan air yang mendidih itu, kutinggalkan bahan kopi dan teh itu. Kembali aku menata dan merangkai pasucian, aku ingat pelajaran agama di sekolah. Pasucian itu katanya dipersembahkan kepada Bhatara sebagai sarana pembersihan, di saat menata pasucian seharusnya dilakukan dengan perasan yang tulus dan suci. Aku ingat pada nasehat guru agamaku, kutenangkan hati. Kubendung air mataku yang hendak menebes ke luar. Pelan-pelan, dalam situasi seperti itu kurapalkan mantra gayatri, barulah napasku terasa ringan, lapang. 

Kulanjutkan pekerjaanku. Setiap kali hatiku terasa perih, kurapalkan lagi mantra gayatri. Akhirnya selesai juga banten-banten itu kutata. 

Kembali kudengar teriakan Bapak. Kini namaku yang dipanggil disertai caci maki. 

“Luh Karti, sialan kamu, anak setan, kenapa setahun membuat kopi, bikin malu saja, kubunuh kamu ya!” Bapak marah. 

“Wehh, kok seenaknya minta kopi, kopi milik siapa? Memangnya pernah membeli?” Ibu menyahut, ikut marah.

Terdengar lagi Bapak marah, kemudian Ibu, Bapak lagi. Aku takut, gemetar, tak berani mendekat. Cepat-cepat kuambil canang dan banten, lari ke sanggah. Sambil menangis aku menghaturkan sesajen, memohon anugrah kepada Sanghyang Widhi. 

Sekitar satu jam aku menghaturkan sesajen, pelan-pelan aku berjalan pulang. Aku kaget semua alat-alat dapur berserakan, piring dan gelar pecah berantakan. Kulihat ada tetesan darah. 

“Ibu… Ibu…!” Aku panik mencari-cari ibu.  “Ibu… Ibu…!” teriakku lagi. 

“Plung… ” Hampir saja kepalaku terkena kursi yang dilemparkan Bapak. Aku bingung, sesak. Bapak memanggil, matanya merah. Aku semakin ketakutan. 

Untung sekali banyak sanak saudara yang berdatangan, yang menghalangi Bapak. Kalau seandainya tak ada yang tahu, pasti aku terluka, atau bahkan bisa terbunuh. Aku ingat saat itu aku ditarik oleh paman yang tinggal di kota. Mungkin memang takdir, ia pas pulang dan melihat peristiwa itu.

Sejak saat itu diajaknya aku tinggal di kota, tinggal di rumahnya. Aku disekolahkan, sampai tamat SMA. Sekarang aku sudah bekerja sebagai kasir pada salah satu swalayan. 

Sudah lima tahun aku tak pernah pulang, tak pernah bertemu Bapak dan Ibu. Pamanku bilang Bapak kini sakit-sakitan. Semenjak Bapak sakit-sakitan, ibuku pulang ke rumah agar ada yang merawat Bapak.

Aku kagum pada cinta kasih Ibu kepada Bapak. Rindu sekali aku pada Ibu, juga ingin bertemu Bapak, tetapi dalam hati aku tidak suka pada perilakunya. Itu sebabnya aku merasa diri tidak berhak merayakan Galungan. Sudah sepuluh kali Galungan aku tak pulang. Lama sekali aku berusaha menaklukkan perasaan benciku pada Bapak. Kini rasanya aku bisa, kutekadkan hati untuk pulang. 

Turun dari bis, kakiku gemetar. Ingin bertemu Ibu dan Bapak, tetapi merasa takut. Kuletakkan bawaanku di atas trotoar. Kuperiksa lagi. Ada buah-buahan, kue, ada baju kebaya untuk ibu, ada kain sarung untuk Bapak, ada juga lauk daging urutan kesenangan Bapak. 

Sesudah di depan kamar, kembali aku diam. Merasa tak berani masuk. 

“Ibu, Bapak, aku Luh Karti pulang!” Ingin sekali aku berseru seperti itu, tapi lidahku kelu. Air mataku mengalir deras. Lama aku terdiam, bengong dengan perasaan kosong. Sampai aku tak tahu ada yang datang. Ibu, ibu sudah ada di hadapanku, lalu memelukku erat, sangat erat seperti tak ingin kutinggalkan. 

“I Luh, I Luh, benar ini I Luh? Bapak, Bapak, I Luh pulang, I Luh sudah pulang!” Ibu berseru. Bapak datang menyambut dan bersimpuh di kakiku. 

“Bapak…!” Aku kaget. Wajah Bapak terlihat sangat tua. Kuangkat tubuh Bapak. Kuajak Ibu dan Bapak ke kamar dan kududukkan di balai. 

“Luh, Bapak menyangka kamu tak akan mau pulang lagi. Bapak selalu mengatakan kamu tak sudi mempunyai bapak yang buruk sepertinya. Ibu tak percaya, Ibu yakin kamu pasti pulang. Setiap Galungan, Ibu berdoa memohon agar I Luh mau pulang!” Ibu menangis. Tangis ibu adalah tangis suka cita, tangis bahagia. 

Mataku juga berair, aku bahagia, karena pada Galungan ini aku merasa merayakan Galungan. Sudah mampu mengalahkan kebencianku pada Bapak, mengalahkan rasa benci dengan kasih sayang. [T]

  • Catatan: Cerpen ini adalah terjemahan dari cerpen berbahasa Bali yang berjudul Galungan, diambil dari buku berjudul Luh Jalir yang diterbitkan Pustaka Tarukan Agung (2008). Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Made Adnyana Ole

[][][]

BACA cerpen-cerpen lain

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi
Luh Jalir | Cerpen Mas Ruscitadewi
Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Lelaki Tua Bersama Bunga-Bunga | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Budhi Setyawan | Mendengar Lagu Blues dan Teringat Chairil Anwar

Next Post

Tidak Mudah “Ngripta Prasi”: Menggambar Anatomi Wayang dengan Pas di Daun Lontar

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Tidak Mudah “Ngripta Prasi”: Menggambar Anatomi Wayang dengan Pas di Daun Lontar

Tidak Mudah “Ngripta Prasi”: Menggambar Anatomi Wayang dengan Pas di Daun Lontar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co