3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wanita yang Hidup Dalam Kebencian | Cerpen Riska Widiana

Riska Widiana by Riska Widiana
November 11, 2023
in Cerpen
Wanita yang Hidup Dalam Kebencian | Cerpen Riska Widiana

Ilustrasi tatkala.co

WANITA itu masih tertegun di pojok kafe seorang diri, sejak satu jam lalu belum beranjak. Tidak ada  yang datang menemui, ia hanya seorang diri menatap hampa ke luar kafe yang berdinding kaca, sambil menyaksikan orang-orang berlalu lalang. Beberapa pasangan saling memberi perhatian, bergandengan, sambil tertawa riang.

Arumi, gadis itu, hanya tersenyum datar menyaksikan kehidupan orang lain yang begitu berbeda dengannya, ia meminum jus, esnya mulai meleleh membasahi meja. Matanya terus menangkap beberapa aktivitas orang-orang di luar kafe. Kebanyakan dari mereka terlihat bahagia, meski pun ada yang berjalan sendiri, terlihat jelas bahwa ada binar harapan dan gairah hidup, serta impian yang membuat mereka lebih terlihat segar, meski siapa yang tahu bagaimana setiap batin manusia.

Arumi menghela napas berat, melepaskan segala bimbang. Sedangkan hidupnya kini entah bahagia atau menderita, rasanya tidak bisa disimpulkan salah satunya. Tiba-tiba seseorang berpakaian hitam mendekat, duduk menghadap ke arahnya, Arumi tidak bergeming, ia sama sekali tidak peduli siapa yang datang.

“Bagaimana mengamati hidup orang lain selama bertahun-tahun?”

Seseorang itu menatap dalam Arumi, yang ditanya hanya menunduk sambil menjawab datar.

“Entahlah, semuanya terasa sama.”

“Sampai kapan kau akan hidup dalam kebencian?”

Seseorang berbaju hitam itu kembali bertanya, reaksi Arumi tetap sama.

“Tidak senang juga tidak sedih, sudah kukatakan semua sama.”

“Apakah kau yakin dengan ucapanmu?” tanyanya memastikan.

“Apa aku terlihat meragukan?”

“Benar, kau begitu yakin dengan segala ucapan, bahkan pikiranmu.”

“Bahkan ucapan tidak jauh berbeda dengan pikiran,” potong Arumi cepat, lalu beranjak berdiri, melangkah meninggalkan meja. Seseorang itu kembali melemparkan pertanyaan hingga membuatnya terhenti.

“Kau mau ke mana? Apa seperti ini sikapmu selalu menghindar?”

Arumi memalingkan badannya sempurna, ia menatap tidak suka ke arah seseorang tersebut.

“Ke mana saja terserah, berhenti mengikutiku dan jangan urusi kehidupanku.”

“Wah, kau benar-benar keterlaluan.”

“Aku rasa kau akan masuk ke salah satu daftar orang yang akan aku benci selanjutnya.”

Selesai mengatakan demikian, Arumi langsung melangkah pergi tanpa menoleh. Meski seseorang berbaju hitam itu terus memanggilnya. Saat ia hendak mengejar langkah Arumi, perempuan itu sudah pergi bersama taksi, ia hanya tertegun.

***

Arumi sampai di rumah dengan perasaan bimbang, sunyi kembali memeluk dirinya. Sudah sepuluh tahun, waktu benar-benar cepat berlalu, sejak hari itu, ketika dia memutuskan segalanya dan hidup dalam kesendirian. Pertanyaan seseorang yang terus muncul entah dari mana asalnya itu, menggema di telinga

“Sampai kau hidup dalam kebencian?”

Ia tersenyum getir, seraya memandangi beberapa foto bersama sahabat, kekasih serta keluarganya.

“Entahlah, aku juga tidak tahu, setidaknya saat ini aku merasa sedikit lebih baik setelah membenci mereka dan menjauh,” gumamnya seorang diri, sambil memandangi foto-foto lama yang terlihat bahagia dalam sebuah bingkai, serta beberapa penghargaan bergantung di dinding.

***

Sepuluh tahun silam, ketika Arumi yang ceria memiliki prestasi  luar biasa, dia juga banyak disukai oleh teman-teman, hingga mudah bergaul di mana pun. Bahkan keluarganya bangga dan selalu memujinya, saat itu tidak sulit bagi Arumi untuk mendapat cinta, kepercayaan dan segalanya. Maka tidak heran, dalam masa remajanya sungguh gemilang.

Siapa saja akan mengira, seorang Arumi akan menjadi bintang di masa depan, jika dia dewasa kelak. Siapa sangka dimulai dari pengkhianatan kekasihnya yang mendua, lalu alasan mencintainya sebab ingin mendapat posisi baik di mata teman-teman, salah satunya ketenaran. Karena Arumi sangat terkenal di kalangan sekolah dalam prestasi, cantik dan kaya.

Tapi sayangnya ia tidak diberi kesempatan untuk mendapat ketulusan seperti yang ia lakukan kepada banyak orang. Setelah mengetahui demikian, Arumi benar-benar sedih, hingga prestasinya menurun, membuat nilainya drastis berubah. Ditambah teman-temannya mulai menjauh tanpa alasan, setelah dirinya tidak sehebat dulu.

Bukan hanya demikian, orang tua Arumi juga mengalami pertengkaran hebat, disebabkan perusahaan mereka bangkrut karena ditipu. Arumi terabaikan, ia menjadi prustasi dan jarang masuk sekolah. Nilainya semakin merosot, lalu keluar dari sepuluh besar. Sekolahnya tidak lagi mempercayai Arumi untuk mewakili setiap lomba, dia tidak lagi mendapat kepercayaan dan kepedulian di sekolah oleh teman-teman dan guru-gurunya. Tepat saat kenaikan sekolah menengah atas, ia menduduki peringkat lima paling akhir.

Gadis yang dulu cemerlang kini kehilangan cahaya, ia menunjukkan hasil ujian  kepada kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Bukan mendapat kekuatan seperti yang diharapkan, seperti ungkapan yang membuat dirinya menjadi sedikit lebih baik.

“Tidak apa-apa Nak, kau sudah berusaha, kami sudah bangga padamu.”

“Tidak usah bersedih, selama ini kau sudah hebat, tidak selamanya harus demikian.”

“Kami tidak kecewa, apa pun hasilnya kami tetap bangga padamu.”

“Kau tetap yang terbaik buat kami, jangan bersedih.”

Sayangnya semua itu hanya ilusi, yang ada kata-kata menyakitkan keluar dari mulut keluarganya.

“Kau seharusnya tidak menambah beban kami, pergilah aku tidak ingin melihatmu.”

Entah itu maksudnya mengusir atau hanya pergi dari hadapan seseorang sejenak, yang sedang tidak ingin menambah kemarahannya. Bagi Arumi itu tidaklah sederhana, selama ini hatinya sudah banyak menyimpan keperihan, hari itu ia benar-benar berdarah. Tanpa sepatah kata pun, malam hari dia mengemasi barang dan kembali mendengar keributan ayah dan ibunya yang bertengkar saling melempar barang, meraung dan berteriak sambil mengumpat kata-kata kotor.

Arumi hendak mengucapkan beberapa patah kata, dia urungkan dan memilih untuk tetap berjalan. Sebelum perempuan itu sempurna meninggalkan pintu, ia mendengar kalimat ibunya yang membuat dirinya semakin terluka.

“Aku lelah jika harus begini, kenapa kau menjadi bodoh, aku benci melihat kalian, bahkan Arumi menambah beban lagi, aku muak melihatnya, jika saja aku bisa menghilang aku pasti akan ..”

“Apa katamu, bodoh? Kaulah yang sinting, dasar wanita tak tahu diri.”

Plak, suara tamparan mengenai pipi ibu Arumi, gadis itu hendak berlari menyelamatkan ibunya, tapi ia kembali terhenti.

“Aku juga tertekan, bahkan anak-anak menambah beban, terutama Arumi,” ucap ayahnya dengan penuh emosi

“Buang saja Arumi, buang anak-anak kita, dengan begitu beban kita akan ringan, mari bercerai.”

Ibu Arumi menjerit, tapi sebuah pukulan kembali mendarat, disambut suara perempuan yang mengatai suaminya

“Pukul aku sampai mati, wajar saja Arumi bodoh, dia sepertimu ..”

Perempuan itu kembali berteriak, kali ini gadis itu tidak tahu harus membela ibunya atau pergi, tapi langkahnya telah sempurna meninggalkan rumah, sedangkan di dalam suara perdebatan kedua orang tuanya masih terdengar. Dengan air mata berderai, gadis itu hanya membawa beberapa baju dengan tas punggung, ia benar-benar seperti sedang berada di neraka.

***

Arumi meminum air putih, ia tersenyum getir mengingat masa lalu, bahkan orang-orang yang selalu merendahkan dirinya. Tapi ia kemudian tergugu, sebagai wanita tidak berguna, kini hanya mampu menarik diri dari banyak orang, memilih hidup di kota asing, dengan orang-orang baru yang hidup tidak saling memperdulikan.

Tapi ada satu orang yang selalu membuatnya kesal kadang juga bahagia, sesekali seseorang itu bisa menjadi teman di kala kesepian. Seseorang berbaju hitam yang selalu menemuinya apabila saat sedang sedih, biasanya dia akan muncul secara tiba-tiba, katanya ia adalah jelmaan dari rasa kebencian yang ia pelihara selama ini. Entah itu mimpi atau hanya fana, tapi semua itu nyata.

Suatu hari saat musim gugur di kota Osaka, seorang mengetuk pintu dan bertamu, lalu menawarkan diri untuk menjadi teman. Arumi mengabaikan, tapi lelaki itu terus mendatanginya hingga tiga tahun belakangan ini, ia merasakan mendapat teman baru, meski awalnya ia mengabaikan, hingga kemudian membiarkannya menjadi teman, kadang juga dia abaikan.

Arumi hidup sepuluh tahun dengan sebongkah batu kebencian di dalam dadanya, maka acuh tak acuh terhadap seseorang itu. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu apartemen, Arumi bergegas membuka pintu, tatapannya datar menatap seseorang berbaju hitam tersebut.

“Tepat hari ini sudah tiga tahun kau terus mengikutiku, bisakah kau pergi?”

“Cairlah musim dingin di hatimu itu.” Ia menunjuk ke arah Arumi seperti menjampi-jampi.

“Pergilah, aku lelah!” Arumi hendak menutup pintu, seseorang itu menahan daun pintu dengan cepat.

“Berhentilah membenci banyak orang, mari mulai lagi seperti sebelumnya.”

Arumi menatap lekat seseorang tersebut.

“Kau tahu rasanya memendam kebencian?”

Seseorang itu menggeleng

“Aku tahu, kau hanya seorang yang entah dari mana, tugasmu hanya akan terus membuat kebencianku tumbuh.”

“Benarkah begitu?”

Seseorang itu menjawab dengan santai, sebelah tangannya masih menahan daun pintu.

“Seperti memakan makanan panas, kau hanya perlu bersabar dan menahannya untuk merasakan betapa lezatnya makanan tersebut saat panas, sebelum semuanya menjadi dingin.”

“Apa kau tidak lelah?”

“Aku tidak pernah lelah, aku suka membenci banyak orang, dia juga seperti makanan yang pedas, awalnya kau hanya perlu menahan rasa pedas itu hingga akhirnya terbiasa, lalu kebencian itu menjadi lezat.”

“Kau berkata demikian, hanya untuk membuat dirimu baik-baik saja bukan?”

“Kau terus bertanya hal yang tidak penting,” jawab Arumi ketus.

“Jadi kau akan terus begini?”

“Kau sudah tahu jawabannya, silakan pergi.”

“Aku rasa, orang-orang tidak akan tahan jika terus memakan makanan pedas?”

Seseorang itu tersenyum penuh arti, Arumi menatapnya dengan tatapan marah.

“Pergi saja, hari ini aku benar-benar menyuruhmu pergi, sudah tiga tahun bukan, sesuai janji, kau tidak akan menemuiku lagi dalam tahun.”

“Apa kau yakin, kau boleh saja membenci banyak orang, tapi pikirkan orang tuamu, aku tahu saat ini kau merindukan mereka, tapi egomu telah menjadi bukit,” ucap seseorang itu mengabaikan perkataan Arumi, dan gadis itu tersenyum meremehkan.

“Kau sudah tahu itu, tapi sok bijaksana, pergi dari hidupku, kau hari ini membuatku muak.”

“Apa yang akan kau lakukan jika kedua orang tuamu ada di hadapanmu sekarang?”

Sejenak Arumi terdiam, ia tidak menjawab, matanya terlihat ragu, memilih tidak peduli lalu menutup pintu dengan keras, tapi seseorang-laki itu kembali berkata,

“Semua musim dingin akan berakhir, tidak ada musim abadi, cairkan kebencian itu segera, sebelum dunia berakhir, buka pintu  dan lihatlah, jika tidak kau tidak ingin menyesal selamanya.”

Arumi terhenti, ia perlahan mengintip dari celah pintu untuk memastikan, tetapi ia tidak mendapati siapa pun, melainkan kedua orang tuanya yang kini sudah tua berdiri di hadapannya, dengan dua orang saudaranya. Arumi berkaca-kaca, air matanya tumpah tanpa ia sadari, kebencian itu seakan menjadi sebuah kerinduan yang besar kemudian pecah menjadi sungai.

Arumi awalnya ragu hendak membuka pintu, mengingat peristiwa menyakitkan sepuluh tahun silam. Bahkan ia mengabaikan telepon dari keluarga dan beberapa teman yang ingin mengetahui kabarnya, tapi ia memilih memutus segala bentuk komunikasi dari dunia maya dan dunia nyata. Lama ia tertegun, hingga kata-kata seseorang berbaju hitam barusan membuatnya bimbang.

“Semua musim dingin akan berakhir, tidak ada musim abadi, cairkan kebencian itu segera, sebelum dunia berakhir, buka pintu  dan lihatlah, jika tidak kau tidak ingin menyesal selamanya.”

Tangannya gemetar, perlahan membuka pintu, terlihatlah dua orang yang sudah tua dengan kulit keriput, Arumi tertegun beberapa saat, hingga sebuah suara menggema di telinganya.

“Apa kau masih mau menjadi anak durhaka, lihat orang tuamu yang sudah tua, sampai kapan kau memelihara diriku, sedangkan aku kini akan pergi jauh.”

“Apakah kau masih membenci kami? Maafkan kami Arumi?” ucap orang tuanya yang kini bergetar menahan tangis melihat putri yang mereka rindukan berpuluh tahun.

Pertanyaan dan pernyataan sederhana itu membuat musim dingin di jiwa Arumi perlahan mencair. Sedangkan seseorang yang tadi berucap sudah tidak terlihat sosoknya. Dia hanya perlu melepaskan kebencian itu sejenak, membiarkan apa yang ingin ia lakukan muncul ke muara, dengan perasaan haru Arumi memeluk kedua orang tuanya, mereka bertangisan, lalu sebuah suara kembali menggema.

“Terima kasih telah memenuhi keinginanku, kini aku tidak lagi menjadi sebuah kebencian, melainkan rasa kasih yang mengalir seperti sungai.” [T]

Riau, 2023

  • Baca CERPEN lain
Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan
Saklon | Cerpen Sonhaji Abdullah
Sebuah Tas Untuk Istri Dokter | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Rehan Naza | Peristiwa Singkat untuk Ingatan Panjang

Next Post

Wayan Antari, Gerip Maurip, dan Makin Kencanglah Angin Sastra dari Bangli

Riska Widiana

Riska Widiana

Berdomisili di Riau, Kabupaten Indragiri Hilir. Karyanya dimuat di berbagai media di Indonesia. Peraih Anugerah sebagai puisi terbaik, Negeri Kertas 2022, kategori puisi terbaik nasional oleh penerbit Alqalam Batang dan Salam Pedia, 2021. Facebook Ri-Ana, Instagram riskawidiana97

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Wayan Antari, Gerip Maurip, dan Makin Kencanglah Angin Sastra dari Bangli

Wayan Antari, Gerip Maurip, dan Makin Kencanglah Angin Sastra dari Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co