23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senandung Senyap (2022): Kisah Perjuangan Mufi dan Bagaimana Seharusnya Kita Memperlakukan Teman Tuli

Jaswanto by Jaswanto
September 22, 2023
in Khas
Senandung Senyap (2022): Kisah Perjuangan Mufi dan Bagaimana Seharusnya Kita Memperlakukan Teman Tuli

Mufi saat tampil di panggung We The Fest 2019 | Foto: Dok. @hasnna_

HASNA MUFIDAH atau yang lebih akrab dipanggil Mufi, berdiri tepat di samping Pamungkas. Di atas panggung musik We The Fest 2019 itu, ia dan Pamungkas akan tampil bersama membawakan lagu Intro I dan beberapa lagu dalam album Walk The Talk (2018). Malam itu, dengan mengenakan busana hitam yang elegan, Mufi tampil begitu energik.

Ia tak hanya menerjemahkan lirik lagu ke dalam bahasa isyarat untuk dimengerti para penonton yang Tuli, tapi juga menarikannya. Tak jarang ia bergerak lincah seolah sedang berada di kamarnya sendiri.

Mufi adalah seniman Tuli berbakat yang tuli sejak lahir. Dan meski terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, tapi saat ia didapuk sebagai salah seorang penyanyi dan penari—semacam juru bahasa isyarat—pada konser We The Fest, ia tak bisa menyembunyikan kegugupannya.

Di atas adalah fragmen awal dalam film Senandung Senyap (A Sonorous Melody) (2022) karya Riani Singgih yang diputar Minikino Film Week Bali International Short Film Festival 2023 di MASH Denpasar. Film dokumenter berdurasi 24 menit itu menampilkan kisah Mufi dalam memperjuangkan kariernya di bidang seni, khsusnya musik. Meski bagi sebagian orang ia dianggap memiliki keterbatasan, tapi itu tidak menjadi hambatannya dalam meraih mimpi.

“Mulai pembuatan film ini sebenarnya sudah sejak tahun 2019. Dan karena pendemi, tahun 2022 baru selesai,” ujar Riani Singgih, kepada tatkala.co, Kamis (21/9/2023).

Riani Singgih sendiri, sebagaimana yang tertulis dalam In-Docs, seorang sutradara muda film dokumenter dan sinematografer berbasis di Asia Tenggara. Ia terdorong untuk bercerita tentang masyarakat Asia Tenggara, khususnya dalam isu kesehatan mental, disabilitas, dan LGBTQ+.

Film-film dokumenter pendeknya telah ditayangkan di lebih dari 50 festival film di seluruh dunia, serta ditayangkan di Vice Media, Discovery Channel, dan PBS Network. Ia juga berpartner dengan NGO di seluruh dunia yang bertujuan untuk bercerita tentang kisah yang berdampak panjang.

Melalui Senandung Senyap, kata Riani, ia ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan teman Tuli di dunia seni itu seperti apa. Dari situlah, bersama timnya ia mulai mengikuti kehidupan Mufi, yang kebetulan ia kenal saat mengerjakan film VR bersama Mohammad Ismail—seorang Tuli yang bekerja di SIGAB Indonesia—dan Annisa Adjam, produser film dan pendiri komunitas Inteamates.

“Selama kami bekerja bersama Mufi dalam dunia seni, kami melihat secara langsung bagaimana orang dengar itu merendahkan teman Tuli. Jadi, perjuangan teman Tuli di dunia seni itu tidak mudah, penuh tekanan,” tukas Riani, serius.

Selain hanya sekadar mengetahui teman Tuli dalam berkesenian, lebih dari itu, Senandung Senyap hendak menyampaikan pesan bahwa teman Tuli juga bisa berkarya. Mereka tidak selemah yang selama ini banyak orang pikirkan. Seperti Mufi, misalnya, ia mengukir karier musiknya; dan karyanya mampu menginspirasi orang lain untuk mengekspresikan diri melalui bahasa isyarat.

Dalam film Senandung Senyap, sebagai sutradara, Riani benar-benar menempatkan Mufi sebagai subjek. Ia memberikan ruang yang leluasa untuk Mufi berbahasa isyarat. Dengan begitu, Mufi tampil dengan apa adanya. Seniman Tuli yang juga seorang sutradara film Kereta Kita—yang memenangkan Festival Film Pendek Jakarta 2019—itu, begitu luwes dalam menuturkan kisah hidupnya.

Bahkan, mengulang kembali apa yang telah disampaikan Putu Bayuwestra, “Melalui selera humornya, Mufi bahkan sempat memparodikan suatu situasi, ketika bel rumahnya ditekan, dan dirinya berjoget.”

“Film ini melibatkan partisipasi teman Tuli juga. Selain Mufi sebagai protagonisnya, ada juga Mas Mail [maksudnya Mohammad Ismail, seorang Tuli yang bekerja di SIGAB Indonesia] mentor kami di bidang disabilitas dan Sinta Nainggolan—seorang Juru Bahasa Isyarat (JBI). Dari sini kami membentuk tim namanya Tim Dampak,” ujar Annisa Adjam, produser film Senandung Senyap, menyebut dua nama yang kebetulan juga ada di sana saat ia diwawancarai.

Dalam proses produksi film Senandung Senyap, selain kendala bahasa, Annisa menuturkan bahwa pendanaan dan pendemi juga cukup menjadi hambatan. Dan sebelum film tersebut benar-benar didistribusikan ke masyarakat luas, Riani dkk meminta teman Tuli untuk menontonnya terlebih dahulu. Hal itu dilakukan untuk mengetahui bagaimana respon mereka setelah menonton film dokumenter pendek yang masuk nominasi The RWI Asia Pacific Award at MFW9 itu.

Projek film ini tidak hanya sampai di sini, lanjut Annisa, tapi akan berlanjut dengan program-program lain yang akan melibatkan teman-teman komunitas Tuli di berbagai kota di Indonesia. “Jadi, mimpinya itu lebih panjang lagi,” katanya. Film Senandung Senyap dianggap sebagai pemantik untuk gerakan-gerakan berdampak selanjutnya.

Sesaat setelah Annisa mengatakan hal tersebut, Mufi meresponnya dengan bahasa isyarat. Melalui  Sinta Nainggolan, interpreternya saat itu, Mufi mengatakan, “Ini akan terus berlanjut sampai seterusnya. Kita akan menunjukkan tentang Tuli ini ke seluruh Indonesia.”

Menurut Annisa,  program jangka panjang dari projek film ini adalah menumbuhkan kepercayaan diri, baik teman Tuli maupun teman dengar, untuk bersosialisasi melalui interaksi seni. “Ke depan akan ada edukasi kesenian, kolaborasi dengan teman Tuli, dan juga akan ada penyuluhan atau edukasi basic tentang bahasa isyarat,” kata Annisa, menjelaskan.

Senandung Senyap telah tayang di berbagai festival film di belahan dunia seperti Bengaluru International Shorts Film Festival (India), Show Me Shorts New Zealand Indonesia Innovation Focus (Selandia Baru), dan lain-lain.

Mufi dan Seni

Hasna Mufidah—atau Mufi—bercerita dengan bahasa isyarat. Kedua tangan dan mulutnya tak berhenti bergerak. Kedua tangan itu kadang bergerak cepat, membentuk pola-pola, dan kadang melambat saat mencoba membentuk huruf supaya bisa dieja interpreternya.

Sinta Nainggolan, interpreternya—yang sekaligus seorang Juru Bahasa Isyarat (JBI) profesional—menerjemahkan gerakan tangan dan mulut Mufi secara tepat dan cermat. Mereka berdua seolah memiliki chemistry yang telah terjalin bertahun-tahun yang lalu. Sinta, begitu ia akrab dipanggil, belajar bahasa isyarat sejak tahun 2017.

Mufi tuli sejak lahir. Hal tersebut diketahui orang tuanya saat umurnya masih enam bulan. “Ketika papa mama mau foto-foto aku, mereka manggil “Mufi” tapi aku tidak respons. Akhirnya mereka curiga, dan aku dibawa ke RS. Ternyata ketahuan sama dokter bahwa aku Tuli sejak lahir,” ujar Mufi.

Mufi mengaku, sejak kecil dirinya sudah mulai tertarik dengan dunia seni, khususnya tarian. Mufi belajar menari saat di Sekolah Dasar. Tapi saat itu ia belum begitu dalam mempelajarinya. Dan saat kuliah; saat hendak melanjutkan kesenangannya menari, ia tidak tahu harus ke mana—bahkan nyaris berhenti menyukai tari sebab tidak tahu arah dan bagaimana cara mengaksesnya. “Waktu itu aku tidak tahu harus ke mana dan harus bekerja sama dengan siapa. Belum lagi masalah komunikasi,” terangnya.

Namun, setelah ia lulus kuliah tahun 2017, pintu gerbang kesenian itu mulai terbuka untuknya. Mufi mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan tari inklusif dari British Council—organisasi kebudayaan dari Inggris yang bergerak di bidang pendidikan—yang akhirnya mengubah hidupnya. “Karena, kata mereka, orang Tuli juga bisa ikut, jadi aku mulai mendaftar dan mengikuti programnya. Dan itu membuka pikiran dan hatiku terhadap kesenian,” katanya.

Sejak saat itulah, Mufi terus berproses dan akhirnya bisa bekerja sama dengan banyak pihak, mulai dari penyanyi, pembuat lagu, dan perfoming arts lainnya. Hingga pada 2019, ia bekerja sama dengan Pamungkas dalam pagelaran musik We The Fest—dan itu yang pertama kalinya, katanya.

“Jadi tantangannya adalah, pertama lagunya berbahasa Inggris, sedangkan aku pakai bahasa Indonesia. Belum lagi pakai bahasa isyarat Indonesia. Jadi kan ada tiga kali penerjemahan: Inggris ke Indonesia dan Indonesia ke isyarat. Meski lagunya ada yang bahasa Indonesia, tapi maknanya terlalu dalam. Contoh, “sudah terlambat”, itu maksudnya apa? Sudah terlambat datang atau terlambat waktu? Ternyata maknanya adalah mengenai orang yang mencintai tapi sudah diambil orang lain dan itu katanya sudah terlambat,” jelas Mufi, sembari tertawa, yang tentu membuat kami semua ikut tertawa.

Dalam dunia musik, selain Pamungkas, beberapa musisi dunia juga pernah menghadirkan juru bahasa isyarat dalam konser mereka, seperti Lamb of God, Eminem, Red Hot Chili Peppers, Kendrick Lamar, dan Snoop Dogg. Dan selain Mufi, orang-orang seperti Lindsay Rothschild-Cross, Laura M. Schwengber, Amber Galloway Gallego, dan Holly Maniatty, juga pernah menjadi juru bahasa isyarat dalam konser musik.

Tapi Mufi tetap lebih istimewa. Sebab, dari nama-nama yang disebut, hanya dia yang seorang Tuli dan penampilannya di We The Fest tak kalah dengan Lindsay Rothschild-Cross—yang normal dan tumbuh dengan mendengarkan Guns N ‘Roses, Alice in Chains, dan Iron Maiden—saat tampil bersama Lamb of God di Austin, Texas, pada 20 Juni 2018 silam.

Kini, sebagaimana telah disampaikan dalam laman In-Docs, Mufi benar-benar bekerja sebagai seorang seniman. Selain itu, ia mendirikan komunitas Fantasi Tuli yang memiliki visi mendorong teman Tuli untuk bergerak mewujudkan ide kreatif, mengembangkan passion, keterampilan seniman atau karya kesenian Tuli.

Selama kariernya menjadi seniman, selain bekerja sama dengan Pamungkas, sebelumnya ia pernah terlibat sebagai produser dan penulis film Silent on Sound yang diputar di Shanghai Deaf Film Festival 2018 dan menjadi sutradara film Kereta Kita yang memenangkan Festival Film Pendek Jakarta 2019. Dan seperti yang ditampilkan di akhir film Senandung Senyap, Mufi juga menciptakan lagu berjudul Power, yang berkisah tentang kesetaraan untuk orang Tuli.

Perlakuan Terhadap Teman Tuli

Di negara ini, orang Tuli kerap diharuskan berkomunikasi secara lisan daripada menggunakan bahasa isyarat. Padahal, menurut Mufi dalam Senandung Senyap, “Bahasa oral (lisan) bukan bahasa asli orang Tuli. Bahasa orang Tuli adalah bahasa isyarat.”

Mufi, misalnya, hidup sebagai satu-satunya seorang Tuli dalam keluarga, ia merasa tersisih dalam banyak percakapan keluarga karena kesulitan memahami percakapan cepat. Baru setelah dewasa, Mufi mulai bisa menggunakan bahasa isyarat sehari-hari dengan teman-teman terdekatnya. Begitulah umumnya orang dengar memperlakukan orang Tuli.

Selama ini, seperti yang telah disampaikan Aditya Widya Putri dalam artikelnya di Tirto.id, disabilitas—termasuk teman Tuli—masih menjadi kelompok yang dipandang hanya sekadar angka. Bahkan untuk “sekadar angka” pun datanya tidak pernah mutakhir. Keberadaan mereka baru dianggap menjelang musim pemilu untuk menambah jumlah suara.

Data paling anyar, menurut Putri, soal disabilitas anak contohnya, hanya tersedia pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jumlah anak dengan disabilitas berumur 5-17 tahun di Indonesia mencapai 265.470 anak.

Sedangkan, menurut data dari Kemdikbud jumlahnya lebih banyak, mencapai 2,2 juta anak disabilitas pada rentang umur 5-19 tahun, di tahun yang sama. Jika dianalisis berdasar Riskesdas, proporsi disabilitas anak paling banyak berada di Pulau Jawa (139.542), kemudian Sumatera (63.325), Sulawesi (20.977), Kalimantan (16.910), Nusa Tenggara dan Bali (16.211), dan terakhir Papua (8.505).

Lalu, dengan jumlah yang banyak itu, khususnya anak-anak, bagaimana dengan hak pendidikan mereka, misalnya? Mudah dijawab: itu bak jauh panggang dari api.

Mari melihat contoh ketimpangan akses pendidikan bagi disabilitas. Tak perlulah jauh-jauh ke wilayah timur Indonesia, kata Putri, di Provinsi Jakarta saja—yang sampai sekarang masih jadi ibukota negara—jumlah SLB belum juga merata.

Lanjutnya, akses SLB paling banyak berada di Jakarta Selatan (28), Jakarta Timur (25), dan Jakarta Barat (21). Sementara Jakarta Utara hanya 9 SLB, dan Jakarta Pusat hanya 6 SLB. Kepulauan Seribu malah tidak punya SLB sama sekali. Kalau Jakarta saja kondisinya demikian, bagaimana dengan daerah-daerah di pelosok?

Dalam konteks orang Tuli, bahasa isyarat adalah hak komunitas mereka. Itu sangat penting. Bahkan, saking pentingnya, setiap 23 September diperingati sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pentingnya bahasa isyarat dalam mewujudkan hak asasi manusia bagi semua kalangan, khususnya bagi kalangan teman tuli atau penyandang disabilitas rungu.

Komnas Perempuan melalui rilisnya menyampaikan, sebagaimana dikutip Yulaika Ramadhani dalam Tirto.id, perayaan Hari Bahasa Isyarat Internasional memupuk harapan terhadap meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mendukung identitas linguistik dan keragaman budaya bagi komunitas tuli maupun pengguna bahasa isyarat lainnya secara global.

Pada tahun 2021, Federasi Tuli Sedunia mencatat, terdapat sekitar 70 juta penduduk mengalami tuli di seluruh dunia. Lebih dari 80% tinggal di negara berkembang dan menggunakan bahasa isyarat beragam. Menurut PBB, di seluruh dunia dewasa ini terdapat sekitar 300 bahasa isyarat.

Di Indonesia terdapat dua jenis bahasa isyarat yang sering digunakan dalam berkomunikasi di kalangan teman Tuli, yaitu Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Penerapan SIBI ini diresmikan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 1989 dan dibakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 30 Juni 1994. Hingga sekarang, SIBI masih digunakan sebagai bahasa pengantar komunikasi dalam kurikulum Sekolah Luar Biasa (SLB) (Tirto.id, 2021).

Namun, meski sudah diatur dalam UU, masih banyak orang yang enggan untuk berkompromi dengan teman Tuli—untuk menggunakan bahasa isyarat. Pada kenyataannya, lebih banyak orang dengar yang menginginkan orang Tuli berinteraksi dengan bahasa oral.

Tetapi, ada yang lebih mengerikan daripada itu, pemantauan Komnas Perempuan mencatat, perempuan tuli termasuk kelompok yang paling rentan terhadap kekerasan seksual.

Dalam artikelnya Pentingnya Ketersediaan Bahasa Isyarat sebagai Hak Komunitas Tuli (Tirto.id, 2021) Yulaika menguraikan, Catatan Tahunan (CATAHU) 2021 Komnas Perempuan mencatat 8 perempuan tuli menjadi korban kekerasan seksual. Pada analisa CATAHU tersebut ditemukan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan mereka mengalami kekerasan adalah keterbatasan akses informasi terhadap seksualitas dan pencegahan kekerasan.

Kondisi ini diperburuk dengan ketidakpekaan Aparat Penegak Hukum terhadap cara komunikasi perempuan tuli korban kekerasan. Sementara itu, hak bahasa isyarat tidak selalu dipenuhi dalam berbagai kegiatan webinar. Di masa pandemi COVID-19, informasi terkait kesehatan maupun kebijakan pencegahan penularan COVID-19 lainnya, belum tersedia dalam bahasa isyarat.

Terlepas dari bagaimana negara—atau kita—memperlakukan orang Tuli, melalui film Senandung Senyap, kita belajar menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Kehadiran orang-orang seperti Mufi ke dunia, adalah pelajaran nyata bahwa siapa pun bisa menjadi diri sendiri dan berhak menjadi apapun yang kita impikan—termasuk berkolaborasi dengan Pamungkas dan Tulus, misalnya, atau seperti kata Putu Bayuwestra, “Menyanyi lewat isyarat.”[T]

Baca juga artikel terkait FILM atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Elsy Grazia, Bloody Rose, dan Kemiskinan Menstruasi
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Warung Azkiya Adalah Bagian “Penting” dari Minikino Film Week Bali International Short Film Festival
Minikino Film Week 2023 dan Hidupnya Ruang Kolaboratif di Singaraja
Tags: festival filmfilm pendekMinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pencapaian SDGs Stagnan Ancaman Bagi Kemanusiaan di Seluruh Dunia

Next Post

Faisal Oddang: “Saya pikir saya tidak muda.”

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Faisal Oddang: “Saya pikir saya tidak muda.”

Faisal Oddang: “Saya pikir saya tidak muda.”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co