2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senandung Senyap (2022): Kisah Perjuangan Mufi dan Bagaimana Seharusnya Kita Memperlakukan Teman Tuli

Jaswanto by Jaswanto
September 22, 2023
in Khas
Senandung Senyap (2022): Kisah Perjuangan Mufi dan Bagaimana Seharusnya Kita Memperlakukan Teman Tuli

Mufi saat tampil di panggung We The Fest 2019 | Foto: Dok. @hasnna_

HASNA MUFIDAH atau yang lebih akrab dipanggil Mufi, berdiri tepat di samping Pamungkas. Di atas panggung musik We The Fest 2019 itu, ia dan Pamungkas akan tampil bersama membawakan lagu Intro I dan beberapa lagu dalam album Walk The Talk (2018). Malam itu, dengan mengenakan busana hitam yang elegan, Mufi tampil begitu energik.

Ia tak hanya menerjemahkan lirik lagu ke dalam bahasa isyarat untuk dimengerti para penonton yang Tuli, tapi juga menarikannya. Tak jarang ia bergerak lincah seolah sedang berada di kamarnya sendiri.

Mufi adalah seniman Tuli berbakat yang tuli sejak lahir. Dan meski terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, tapi saat ia didapuk sebagai salah seorang penyanyi dan penari—semacam juru bahasa isyarat—pada konser We The Fest, ia tak bisa menyembunyikan kegugupannya.

Di atas adalah fragmen awal dalam film Senandung Senyap (A Sonorous Melody) (2022) karya Riani Singgih yang diputar Minikino Film Week Bali International Short Film Festival 2023 di MASH Denpasar. Film dokumenter berdurasi 24 menit itu menampilkan kisah Mufi dalam memperjuangkan kariernya di bidang seni, khsusnya musik. Meski bagi sebagian orang ia dianggap memiliki keterbatasan, tapi itu tidak menjadi hambatannya dalam meraih mimpi.

“Mulai pembuatan film ini sebenarnya sudah sejak tahun 2019. Dan karena pendemi, tahun 2022 baru selesai,” ujar Riani Singgih, kepada tatkala.co, Kamis (21/9/2023).

Riani Singgih sendiri, sebagaimana yang tertulis dalam In-Docs, seorang sutradara muda film dokumenter dan sinematografer berbasis di Asia Tenggara. Ia terdorong untuk bercerita tentang masyarakat Asia Tenggara, khususnya dalam isu kesehatan mental, disabilitas, dan LGBTQ+.

Film-film dokumenter pendeknya telah ditayangkan di lebih dari 50 festival film di seluruh dunia, serta ditayangkan di Vice Media, Discovery Channel, dan PBS Network. Ia juga berpartner dengan NGO di seluruh dunia yang bertujuan untuk bercerita tentang kisah yang berdampak panjang.

Melalui Senandung Senyap, kata Riani, ia ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan teman Tuli di dunia seni itu seperti apa. Dari situlah, bersama timnya ia mulai mengikuti kehidupan Mufi, yang kebetulan ia kenal saat mengerjakan film VR bersama Mohammad Ismail—seorang Tuli yang bekerja di SIGAB Indonesia—dan Annisa Adjam, produser film dan pendiri komunitas Inteamates.

“Selama kami bekerja bersama Mufi dalam dunia seni, kami melihat secara langsung bagaimana orang dengar itu merendahkan teman Tuli. Jadi, perjuangan teman Tuli di dunia seni itu tidak mudah, penuh tekanan,” tukas Riani, serius.

Selain hanya sekadar mengetahui teman Tuli dalam berkesenian, lebih dari itu, Senandung Senyap hendak menyampaikan pesan bahwa teman Tuli juga bisa berkarya. Mereka tidak selemah yang selama ini banyak orang pikirkan. Seperti Mufi, misalnya, ia mengukir karier musiknya; dan karyanya mampu menginspirasi orang lain untuk mengekspresikan diri melalui bahasa isyarat.

Dalam film Senandung Senyap, sebagai sutradara, Riani benar-benar menempatkan Mufi sebagai subjek. Ia memberikan ruang yang leluasa untuk Mufi berbahasa isyarat. Dengan begitu, Mufi tampil dengan apa adanya. Seniman Tuli yang juga seorang sutradara film Kereta Kita—yang memenangkan Festival Film Pendek Jakarta 2019—itu, begitu luwes dalam menuturkan kisah hidupnya.

Bahkan, mengulang kembali apa yang telah disampaikan Putu Bayuwestra, “Melalui selera humornya, Mufi bahkan sempat memparodikan suatu situasi, ketika bel rumahnya ditekan, dan dirinya berjoget.”

“Film ini melibatkan partisipasi teman Tuli juga. Selain Mufi sebagai protagonisnya, ada juga Mas Mail [maksudnya Mohammad Ismail, seorang Tuli yang bekerja di SIGAB Indonesia] mentor kami di bidang disabilitas dan Sinta Nainggolan—seorang Juru Bahasa Isyarat (JBI). Dari sini kami membentuk tim namanya Tim Dampak,” ujar Annisa Adjam, produser film Senandung Senyap, menyebut dua nama yang kebetulan juga ada di sana saat ia diwawancarai.

Dalam proses produksi film Senandung Senyap, selain kendala bahasa, Annisa menuturkan bahwa pendanaan dan pendemi juga cukup menjadi hambatan. Dan sebelum film tersebut benar-benar didistribusikan ke masyarakat luas, Riani dkk meminta teman Tuli untuk menontonnya terlebih dahulu. Hal itu dilakukan untuk mengetahui bagaimana respon mereka setelah menonton film dokumenter pendek yang masuk nominasi The RWI Asia Pacific Award at MFW9 itu.

Projek film ini tidak hanya sampai di sini, lanjut Annisa, tapi akan berlanjut dengan program-program lain yang akan melibatkan teman-teman komunitas Tuli di berbagai kota di Indonesia. “Jadi, mimpinya itu lebih panjang lagi,” katanya. Film Senandung Senyap dianggap sebagai pemantik untuk gerakan-gerakan berdampak selanjutnya.

Sesaat setelah Annisa mengatakan hal tersebut, Mufi meresponnya dengan bahasa isyarat. Melalui  Sinta Nainggolan, interpreternya saat itu, Mufi mengatakan, “Ini akan terus berlanjut sampai seterusnya. Kita akan menunjukkan tentang Tuli ini ke seluruh Indonesia.”

Menurut Annisa,  program jangka panjang dari projek film ini adalah menumbuhkan kepercayaan diri, baik teman Tuli maupun teman dengar, untuk bersosialisasi melalui interaksi seni. “Ke depan akan ada edukasi kesenian, kolaborasi dengan teman Tuli, dan juga akan ada penyuluhan atau edukasi basic tentang bahasa isyarat,” kata Annisa, menjelaskan.

Senandung Senyap telah tayang di berbagai festival film di belahan dunia seperti Bengaluru International Shorts Film Festival (India), Show Me Shorts New Zealand Indonesia Innovation Focus (Selandia Baru), dan lain-lain.

Mufi dan Seni

Hasna Mufidah—atau Mufi—bercerita dengan bahasa isyarat. Kedua tangan dan mulutnya tak berhenti bergerak. Kedua tangan itu kadang bergerak cepat, membentuk pola-pola, dan kadang melambat saat mencoba membentuk huruf supaya bisa dieja interpreternya.

Sinta Nainggolan, interpreternya—yang sekaligus seorang Juru Bahasa Isyarat (JBI) profesional—menerjemahkan gerakan tangan dan mulut Mufi secara tepat dan cermat. Mereka berdua seolah memiliki chemistry yang telah terjalin bertahun-tahun yang lalu. Sinta, begitu ia akrab dipanggil, belajar bahasa isyarat sejak tahun 2017.

Mufi tuli sejak lahir. Hal tersebut diketahui orang tuanya saat umurnya masih enam bulan. “Ketika papa mama mau foto-foto aku, mereka manggil “Mufi” tapi aku tidak respons. Akhirnya mereka curiga, dan aku dibawa ke RS. Ternyata ketahuan sama dokter bahwa aku Tuli sejak lahir,” ujar Mufi.

Mufi mengaku, sejak kecil dirinya sudah mulai tertarik dengan dunia seni, khususnya tarian. Mufi belajar menari saat di Sekolah Dasar. Tapi saat itu ia belum begitu dalam mempelajarinya. Dan saat kuliah; saat hendak melanjutkan kesenangannya menari, ia tidak tahu harus ke mana—bahkan nyaris berhenti menyukai tari sebab tidak tahu arah dan bagaimana cara mengaksesnya. “Waktu itu aku tidak tahu harus ke mana dan harus bekerja sama dengan siapa. Belum lagi masalah komunikasi,” terangnya.

Namun, setelah ia lulus kuliah tahun 2017, pintu gerbang kesenian itu mulai terbuka untuknya. Mufi mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan tari inklusif dari British Council—organisasi kebudayaan dari Inggris yang bergerak di bidang pendidikan—yang akhirnya mengubah hidupnya. “Karena, kata mereka, orang Tuli juga bisa ikut, jadi aku mulai mendaftar dan mengikuti programnya. Dan itu membuka pikiran dan hatiku terhadap kesenian,” katanya.

Sejak saat itulah, Mufi terus berproses dan akhirnya bisa bekerja sama dengan banyak pihak, mulai dari penyanyi, pembuat lagu, dan perfoming arts lainnya. Hingga pada 2019, ia bekerja sama dengan Pamungkas dalam pagelaran musik We The Fest—dan itu yang pertama kalinya, katanya.

“Jadi tantangannya adalah, pertama lagunya berbahasa Inggris, sedangkan aku pakai bahasa Indonesia. Belum lagi pakai bahasa isyarat Indonesia. Jadi kan ada tiga kali penerjemahan: Inggris ke Indonesia dan Indonesia ke isyarat. Meski lagunya ada yang bahasa Indonesia, tapi maknanya terlalu dalam. Contoh, “sudah terlambat”, itu maksudnya apa? Sudah terlambat datang atau terlambat waktu? Ternyata maknanya adalah mengenai orang yang mencintai tapi sudah diambil orang lain dan itu katanya sudah terlambat,” jelas Mufi, sembari tertawa, yang tentu membuat kami semua ikut tertawa.

Dalam dunia musik, selain Pamungkas, beberapa musisi dunia juga pernah menghadirkan juru bahasa isyarat dalam konser mereka, seperti Lamb of God, Eminem, Red Hot Chili Peppers, Kendrick Lamar, dan Snoop Dogg. Dan selain Mufi, orang-orang seperti Lindsay Rothschild-Cross, Laura M. Schwengber, Amber Galloway Gallego, dan Holly Maniatty, juga pernah menjadi juru bahasa isyarat dalam konser musik.

Tapi Mufi tetap lebih istimewa. Sebab, dari nama-nama yang disebut, hanya dia yang seorang Tuli dan penampilannya di We The Fest tak kalah dengan Lindsay Rothschild-Cross—yang normal dan tumbuh dengan mendengarkan Guns N ‘Roses, Alice in Chains, dan Iron Maiden—saat tampil bersama Lamb of God di Austin, Texas, pada 20 Juni 2018 silam.

Kini, sebagaimana telah disampaikan dalam laman In-Docs, Mufi benar-benar bekerja sebagai seorang seniman. Selain itu, ia mendirikan komunitas Fantasi Tuli yang memiliki visi mendorong teman Tuli untuk bergerak mewujudkan ide kreatif, mengembangkan passion, keterampilan seniman atau karya kesenian Tuli.

Selama kariernya menjadi seniman, selain bekerja sama dengan Pamungkas, sebelumnya ia pernah terlibat sebagai produser dan penulis film Silent on Sound yang diputar di Shanghai Deaf Film Festival 2018 dan menjadi sutradara film Kereta Kita yang memenangkan Festival Film Pendek Jakarta 2019. Dan seperti yang ditampilkan di akhir film Senandung Senyap, Mufi juga menciptakan lagu berjudul Power, yang berkisah tentang kesetaraan untuk orang Tuli.

Perlakuan Terhadap Teman Tuli

Di negara ini, orang Tuli kerap diharuskan berkomunikasi secara lisan daripada menggunakan bahasa isyarat. Padahal, menurut Mufi dalam Senandung Senyap, “Bahasa oral (lisan) bukan bahasa asli orang Tuli. Bahasa orang Tuli adalah bahasa isyarat.”

Mufi, misalnya, hidup sebagai satu-satunya seorang Tuli dalam keluarga, ia merasa tersisih dalam banyak percakapan keluarga karena kesulitan memahami percakapan cepat. Baru setelah dewasa, Mufi mulai bisa menggunakan bahasa isyarat sehari-hari dengan teman-teman terdekatnya. Begitulah umumnya orang dengar memperlakukan orang Tuli.

Selama ini, seperti yang telah disampaikan Aditya Widya Putri dalam artikelnya di Tirto.id, disabilitas—termasuk teman Tuli—masih menjadi kelompok yang dipandang hanya sekadar angka. Bahkan untuk “sekadar angka” pun datanya tidak pernah mutakhir. Keberadaan mereka baru dianggap menjelang musim pemilu untuk menambah jumlah suara.

Data paling anyar, menurut Putri, soal disabilitas anak contohnya, hanya tersedia pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jumlah anak dengan disabilitas berumur 5-17 tahun di Indonesia mencapai 265.470 anak.

Sedangkan, menurut data dari Kemdikbud jumlahnya lebih banyak, mencapai 2,2 juta anak disabilitas pada rentang umur 5-19 tahun, di tahun yang sama. Jika dianalisis berdasar Riskesdas, proporsi disabilitas anak paling banyak berada di Pulau Jawa (139.542), kemudian Sumatera (63.325), Sulawesi (20.977), Kalimantan (16.910), Nusa Tenggara dan Bali (16.211), dan terakhir Papua (8.505).

Lalu, dengan jumlah yang banyak itu, khususnya anak-anak, bagaimana dengan hak pendidikan mereka, misalnya? Mudah dijawab: itu bak jauh panggang dari api.

Mari melihat contoh ketimpangan akses pendidikan bagi disabilitas. Tak perlulah jauh-jauh ke wilayah timur Indonesia, kata Putri, di Provinsi Jakarta saja—yang sampai sekarang masih jadi ibukota negara—jumlah SLB belum juga merata.

Lanjutnya, akses SLB paling banyak berada di Jakarta Selatan (28), Jakarta Timur (25), dan Jakarta Barat (21). Sementara Jakarta Utara hanya 9 SLB, dan Jakarta Pusat hanya 6 SLB. Kepulauan Seribu malah tidak punya SLB sama sekali. Kalau Jakarta saja kondisinya demikian, bagaimana dengan daerah-daerah di pelosok?

Dalam konteks orang Tuli, bahasa isyarat adalah hak komunitas mereka. Itu sangat penting. Bahkan, saking pentingnya, setiap 23 September diperingati sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pentingnya bahasa isyarat dalam mewujudkan hak asasi manusia bagi semua kalangan, khususnya bagi kalangan teman tuli atau penyandang disabilitas rungu.

Komnas Perempuan melalui rilisnya menyampaikan, sebagaimana dikutip Yulaika Ramadhani dalam Tirto.id, perayaan Hari Bahasa Isyarat Internasional memupuk harapan terhadap meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mendukung identitas linguistik dan keragaman budaya bagi komunitas tuli maupun pengguna bahasa isyarat lainnya secara global.

Pada tahun 2021, Federasi Tuli Sedunia mencatat, terdapat sekitar 70 juta penduduk mengalami tuli di seluruh dunia. Lebih dari 80% tinggal di negara berkembang dan menggunakan bahasa isyarat beragam. Menurut PBB, di seluruh dunia dewasa ini terdapat sekitar 300 bahasa isyarat.

Di Indonesia terdapat dua jenis bahasa isyarat yang sering digunakan dalam berkomunikasi di kalangan teman Tuli, yaitu Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Penerapan SIBI ini diresmikan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 1989 dan dibakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 30 Juni 1994. Hingga sekarang, SIBI masih digunakan sebagai bahasa pengantar komunikasi dalam kurikulum Sekolah Luar Biasa (SLB) (Tirto.id, 2021).

Namun, meski sudah diatur dalam UU, masih banyak orang yang enggan untuk berkompromi dengan teman Tuli—untuk menggunakan bahasa isyarat. Pada kenyataannya, lebih banyak orang dengar yang menginginkan orang Tuli berinteraksi dengan bahasa oral.

Tetapi, ada yang lebih mengerikan daripada itu, pemantauan Komnas Perempuan mencatat, perempuan tuli termasuk kelompok yang paling rentan terhadap kekerasan seksual.

Dalam artikelnya Pentingnya Ketersediaan Bahasa Isyarat sebagai Hak Komunitas Tuli (Tirto.id, 2021) Yulaika menguraikan, Catatan Tahunan (CATAHU) 2021 Komnas Perempuan mencatat 8 perempuan tuli menjadi korban kekerasan seksual. Pada analisa CATAHU tersebut ditemukan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan mereka mengalami kekerasan adalah keterbatasan akses informasi terhadap seksualitas dan pencegahan kekerasan.

Kondisi ini diperburuk dengan ketidakpekaan Aparat Penegak Hukum terhadap cara komunikasi perempuan tuli korban kekerasan. Sementara itu, hak bahasa isyarat tidak selalu dipenuhi dalam berbagai kegiatan webinar. Di masa pandemi COVID-19, informasi terkait kesehatan maupun kebijakan pencegahan penularan COVID-19 lainnya, belum tersedia dalam bahasa isyarat.

Terlepas dari bagaimana negara—atau kita—memperlakukan orang Tuli, melalui film Senandung Senyap, kita belajar menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Kehadiran orang-orang seperti Mufi ke dunia, adalah pelajaran nyata bahwa siapa pun bisa menjadi diri sendiri dan berhak menjadi apapun yang kita impikan—termasuk berkolaborasi dengan Pamungkas dan Tulus, misalnya, atau seperti kata Putu Bayuwestra, “Menyanyi lewat isyarat.”[T]

Baca juga artikel terkait FILM atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Elsy Grazia, Bloody Rose, dan Kemiskinan Menstruasi
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Warung Azkiya Adalah Bagian “Penting” dari Minikino Film Week Bali International Short Film Festival
Minikino Film Week 2023 dan Hidupnya Ruang Kolaboratif di Singaraja
Tags: festival filmfilm pendekMinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pencapaian SDGs Stagnan Ancaman Bagi Kemanusiaan di Seluruh Dunia

Next Post

Faisal Oddang: “Saya pikir saya tidak muda.”

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Faisal Oddang: “Saya pikir saya tidak muda.”

Faisal Oddang: “Saya pikir saya tidak muda.”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co