2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Elsy Grazia, Bloody Rose, dan Kemiskinan Menstruasi

Jaswanto by Jaswanto
September 20, 2023
in Khas
Elsy Grazia, Bloody Rose, dan Kemiskinan Menstruasi

Elsy Grazia

TONI, ALVIAN, DAN ROSE, sedang asyik bermain lompat tali di halaman kelas selepas pulang sekolah. Ketiga anak SD itu tampaknya memang sudah akrab, semacam ada jalinan persahabatan di antara mereka. Meski tetap bermain, dari raut muka dan perkataannya, Toni sebenarnya tidak senang bermain bersama Rose—yang seorang perempuan, katanya. Namun, berbeda dengan Toni, Alvian justru senang bahkan sampai membujuk si Toni untuk tetap bermain.

Sesaat setelah Rose melompati tali karet, segerombolan siswa laki-laki menghampiri mereka bertiga. Dari tampilan dan gayanya—baju tak dikancingkan dan tak dimasukkan dan topi dibalik kebelakang—atau bagaimana caranya bertutur, segerombolan murid laki-laki itu jelas termasuk siswa yang duduk di bangku bagian belakang: suka usil dan nakal.

Benar. Mereka datang bukan untuk ikut bermain, tapi jelas untuk meledek si Toni dan Alvian karena mereka berdua, alih-alih ikut gerombolan tersebut, justru malah memilih bermain bersama seorang perempuan: Rose, anak SD penyandang disabilitas tuna wicara dan rungu sekaligus.

Mendapat ledekan tersebut, Toni membujuk Alvian untuk berhenti bermain dan lekas pulang. Tapi karena si Rose masih mau bermain, kebalikannya, Alvian membujuk Toni untuk lanjut bermain. Dan sesaat setelah guru mereka menyapa, Rose tiba-tiba memegangi perutnya, ia seperti menahan sakit yang sangat.

Hal itu membuat kedua teman laki-lakinya kaget, bertanya-tanya, dan segera menghentikan permainan. Mereka istirahat, duduk di tangga depan kelas dan Rose tiba-tiba ambruk ke depan. Toni dan Alvian kaget bukan kepalang, kedua anak ingusan itu berusaha membantu Rose berdiri dan mereka tambah kaget, keder, melihat darah mengucur dari dalam rok merahnya si Rose.

Narasi di atas adalah fragmen dalam film pendek Bloody Rose (2022) karya Emilya Grasiana Dede atau yang lebih dikenal dengan nama Elsy Grazia, seorang sutradara muda sekaligus penulis naskah dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Bloody Rose adalah filmnya yang pertama.

Film pendek berdurasi sebelas menit itu bercerita tentang dua anak laki-laki—Alvian dan Toni—yang berusaha mencari pembalut untuk sahabat disabilitas mereka, Rose,  yang mengalami menstruasi pertama di Sekolah Dasar.

Keterbatasan Rose sebagai difabel menjadi tantangan mereka berkomunikasi ketika ia mengalami menstruasi pertama. Tidak adanya akses pembalut di sekolah juga jarak warung yang jauh menjadi tantangan bagi mereka.

Di sisi lain, seperti yang sudah disematkan di awal, Alvian dan Toni mendapatkan tantangan dari kawan laki-lakinya yang menginginkan mereka terlihat macho, maskulin. Pilihan antara terlihat macho dan menolong sahabat mereka adalah realitas yang harus mereka tuntaskan—dengan humor-humor yang terkesan tidak dibuat-buat, tentu saja.

“Aku membuat film ini inspirasinya, selain dari pengalaman pribadi waktu SD, juga dari kegiatan komunitas yang aku ikuti—salah satu komunitas yang intens memfasilitasi soal masalah seksualitas dan reproduksi, termasuk menstruasi,” ujar perempuan muda sarjana  Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Udayana, kepada tatkala.co sesaat setelah selesai screening film di MASH Denpasar, Selasa (19/9/2023) malam.

Film Bloody Rose menjadi salah satu film pendek yang masuk dalam program Growing Pains Minikino Film Week Bali International Short Film Festival 2023 bersama enam film lainnya, yakni Zidane Roulette, Color-Ido (Color-Less), Princes (Les Princes), Man (Homen), Sandstrorm (Mulaqat), dan The End of Originality. Sebagai film debut, Bloody Rose termasuk film yang berhasil. Selain diputar di Minikino Film Week, film yang diproduksi Komunitas Film Kupang itu juga diputar di Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2022.

“Kami syuting selama empat hari. Dan sampai jadi itu sekitar enam bulanan. Nah, sebulan sebelum syuting itu, kami mengadakan semacam latihan dulu—karena aktornya kebanyakan anak-anak, kan. Jadi, cukup memusingkan sebenarnya. Untungnya aku punya tim,” jelasnya sambil tertawa.

Elsy Grazia, sebagai sutradara, mengaku belajar banyak hal tentang film sejak bertemu dan berkenalan dengan Komunitas Film Kupang (KFK) tahun 2018 dan mulai terlibat aktif sebagai volunteer dalam setiap kegiatannya. Di tahun yang sama, ia memulai debut sebagai penulis skenario film Tiga Batu karya sutradara Emilianus U.K Patar.

“Sebelum bergabung dengan Komunitas Film Kupang, film yang aku tonton hanya film-film mainstream industrial. Tapi setelah bergabung, aku baru tahu kalau jenis film itu banyak. Nah, dari situlah aku mulai belajar tentang film,” terangnya.

Bagi Elsy—dan mungkin bagi kebanyakan orang yang tahu film di Kupang—KFK menjadi salah satu ruang penting dalam ekosistem perfilman di wilayah Indonesia timur, khususnya di Kupang, NTT. Komunitas film yang dibentuk sejak tahun 2013 itu—sebagaimana laman Filmmaker Indonesia mengabarkan—tidak hanya bergerak dan memikirkan aspek kreasi dan produksi saja, lebih dari itu, juga memikirkan aspek distribusi, konsumsi, dan apresiasi film-film pendek hasil produksi sendiri maupun pihak lain.

Selain mengadakan program workshop seputar produksi film, menurut informasi dari Elsy, KFK juga memiliki program bioskop alternatif yang dinamakan “Jumat di Garasi” (JDG). JDG bertujuan untuk, selain apresiasi terhadap karya film, juga strategi dalam mendistribusikan atau mengenalkan atau mendekatkan film anti-mainstream kepada publik yang lebih luas.

(Dalam sebuah artikel yang terbit di Jurnal Communio: Jurnal Ilmu Komunikasi menyatakan bahwa di Kota Kupang, budaya apresiasi film mulai muncul sejak lahirnya Komunitas Film Kupang atau yang lebih sering dikenal dengan nama KFK itu.)

Dari KFK kemudian lahir orang-orang seperti Elsy Grazia dengan Bloody Rose-nya. “Bloody Rose lahir juga atas campur tangan teman-teman di KFK,” ujar Elsy.

Kemiskinan Menstruasi

Seperti yang sudah disampaikan di awal, bahwa film Bloody Rose memang berangkat dari isu yang krusial bagi perempuan: kurangnya pengetahuan tentang menstruasi dan akases terhadap barang yang dibutuhkannya.

Hal itu memantik kesadaran sang sutradara, Elsy Grazia, untuk membuat film yang menggambarkan bagaimana 1) menstruasi itu masih dianggap tabu, bahkan aib; 2) kurangnya pengetahuan anak terhadap menstruasi; dan 3) bagi beberapa orang di pelosok pedesaan, pembalut masih sulit diakses, bukan saja persediaannya, tapi juga biaya untuk membayarnya. Dan dari ketiga hal tersebut dapat diringkas menjadi dua kata: kemiskinan menstruasi—atau dalam bahasa kerennya disebut period poverty.

Kemiskinan menstruasi adalah masalah yang timbul karena kurangnya akses perempuan ke produk menstruasi. United Nations Population Fund mendefinisikan period poverty sebagai kondisi di mana perempuan berpenghasilan rendah berjuang membeli produk menstruasi. Akses terhadap produk menstruasi yang dimaksud adalah kesulitan mendapatkan atau membeli pembalut, tampon, menstrual cup, akses toilet, serta penanganan limbah produk menstruasi—dan itu terjadi karena satu hal yang klise: kemiskinan.

“Ada banyak perempuan yang masih sulit membeli pembalut. Memang ada yang harganya murah, sekitar empat ribuan, tapi kan tidak semua perempuan cocok menggunakan produk tersebut. Dan pembalut paling bagus itu rata-rata harganya di atas dua puluh ribuan. Jadi, bagi mereka yang pendapatannya menengah ke bawah, masih sulit mendapatkannya,” terang Elsy.

Berdasarkan data dari poling UNICEF Indonesia menunjukkan bahwa 1 dari 5 anak perempuan di Indonesia mengalami kesulitan dalam mengakses maupun membeli pembalut, dan 1 dari 10 merasa malu dan kekurangan privasi dalam mengakses sarana sanitasi menstruasi. Hal ini juga terjadi di lingkungan sekolah yang dialami oleh sebagian besar remaja perempuan di Indonesia.

Pada tahun 2020, dari data yang disampaikan dalam laman Nona Woman, hanya sekitar 20,5% individu yang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk mendapatkan akses Hak Menstruasi Sehat dan Kesehatan Reproduksinya. Artinya, ada sekitar 80% individu di Indonesia yang rentan mengalami period poverty.

(Yang dimaksud dengan Hak Menstruasi Sehat itu termasuk akses kepada edukasi tentang menstruasi, apa yang harus disiapkan saat anak perempuan masuk fase menarche (menstruasi pertama) hingga perempuan dewasa memasuki fase menopause; dan bekal informasi dan pengetahuan dasar tentang ketubuhan perempuan serta cara mitigasi jika mengalami kesakitan atau kesulitan saat menstruasi.)

Sedangkan, menurut data yang dihimpun BBC Indonesia, di Indonesia, perempuan mengeluarkan 1,7% penghasilan bulanan mereka untuk mengendalikan menstruasi, ini sekitar 20% lebih tinggi daripada rata-rata perempuan di negara-negara lain yang dianalisa. Dalam masa hidupnya, perempuan di Indonesia menghabiskan Rp16,9 juta untuk mengendalikan menstruasi.

Sementara itu, perempuan di Pakistan menghabiskan sekitar 6% pendapatan bulanan mereka untuk produk menstruasi, seperti pembalut, krim, dan obat penghilang rasa sakit. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat proporsi rata-rata yang dihabiskan satu rumah tangga di Pakistan untuk biaya kesehatan dan pendidikan.

Selain kemiskinan, dilansir dari laman Narasi, stigma masyarakat juga turut andil dalam masalah period poverty. Masyarakat masih menganggap menstruasi adalah topik yang tabu dibicarakan. Hal tersebut tentu membuat mitos soal menstruasi banyak berkembang sehingga membatasi perempuan untuk mengakses hal yang sangat krusial baginya.

“Saya dulu punya teman saat SD, dan dia dibully karena menstruasi,” kata Elsy.

Kode-kode seperti “roti jepang” untuk menyebut pembalut adalah satu dari banyaknya mitos menstruasi. Belum lagi stigma bahwa perempuan yang menstruasi adalah “kotor” sehingga membuatnya harus diasingkan.

Benar, di beberapa negara, perempuan yang menstruasi kerap mendapat perlakuan diskriminasi. Dalam tradisi yang dianut penduduk Nepal, misalnya, sebagaimana diuraikan Yantina Debora dalam artikel Tradisi Chhaupadi: Saat Perempuan Haid Dianggap Membawa Sial, seorang perempuan yang tengah menstruasi atau haid tak boleh menginjakkan kaki ke rumahnya. Jika ketentuan itu dilanggar, mereka yakin petaka akan datang. Setidaknya setiap bulan, perempuan-perempuan di Nepal akan mendekam dalam gubuk, gudang, atau kandang hewan selama tujuh hari hingga periode menstruasinya selesai.

Tradisi pengasingan perempuan saat menstruasi itu oleh penduduk Hindu di Nepal disebut Chhaupadi. Tradisi ini sudah dipraktikkan selama berabad-abad di Nepal. Tak hanya dialami perempuan yang menstruasi, tradisi kuno ini juga berlaku bagi perempuan yang baru melahirkan. Rentang waktu pengasingan setelah melahirkan lebih lama, yakni selama 11 hari.

Tradisi ini juga masih dilakukan di beberapa wilayah di India dan Bangladesh. Selain diasingkan, para perempuan ini juga tidak boleh menyentuh suami dan saudara laki-lakinya. Jika laki-laki secara tak sengaja menyentuh perempuan menstruasi, laki-laki tersebut harus segera disucikan dengan air kencing sapi yang dianggap suci oleh penduduk setempat.

Dalam konteks film, jauh sebelum Bloody Rose, kemiskinan menstruasi telah dibahas dalam film Pad Man (2018) yang terinspirasi dari kehidupan aktivis asal India, Arunachalam Muruganantham. Perjalanannya dicatat oleh Twinkle Khanna dalam cerita fiksinya The Legend of Lakshmi Prasad. Film arahan sutradara R. Balki yang melibatkan aktor besar seperti Akshay Kumar, Radhika Apte, hingga Sonam Kapoor, juga membahas tentang sulitnya akses terhadap pembalut yang higienis serta ekonomis bagi kaum wanita di India.

Atau dalam film Borat Subsequent Moviefilm (2020)—semoga Wikipedia tidak salah—menampilkan adegan yang menggunakan humor dan ironi untuk menumbangkan tabu seputar menstruasi. Dalam adegan tersebut, Borat dan putrinya Tutar melakukan “fertility dance” di debutante ball, dan penonton sangat antusias dengan tarian tersebut hingga Tutar mengangkat gaunnya untuk menunjukkan bahwa dia sedang menstruasi, yang memicu rasa jijik dan pemogokan di antara kerumunan.

Adegan tersebut dipuji oleh para kritikus film karena menyindir stigma menstruasi yang umum. Seperti yang dikatakan oleh Lindsay Wolf dari Scary Mommy, karena masyarakat telah “dikondisikan…untuk berpura-pura bahwa periode tersebut tidak ada, menempatkannya dalam sorotan seperti yang dilakukan [dalam film] akan memaksa kita untuk menghadapi bahwa 1) hal tersebut terjadi, dan 2) kita harus melupakannya dan berhenti memperlakukan gadis-gadis seperti hadiah kecil mungil yang diam-diam memilikinya.”

Pada akhirnya, representasi menstruasi di layar yang lebih realistis dan akurat telah meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah perempuan dalam peran produksi di TV dan film, dengan contoh penting termasuk film The Runaways (2010), film animasi Turning Red (2022), serial TV Broad City tahun 2018, dan masih banyak lagi.[T]

Baca juga artikel terkait FILM atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Warung Azkiya Adalah Bagian “Penting” dari Minikino Film Week Bali International Short Film Festival
Minikino Film Week 2023 dan Hidupnya Ruang Kolaboratif di Singaraja
Tags: film pendekMinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Subak Kulub Atas Tampaksiring Sudah Setahun Kekeringan Tanpa Solusi

Next Post

“Water Drop Photography”: Menangkap Pesona Tetesan Air dalam Fotografi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
“Water Drop Photography”: Menangkap Pesona Tetesan Air dalam Fotografi

“Water Drop Photography”: Menangkap Pesona Tetesan Air dalam Fotografi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co