24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Elsy Grazia, Bloody Rose, dan Kemiskinan Menstruasi

Jaswanto by Jaswanto
September 20, 2023
in Khas
Elsy Grazia, Bloody Rose, dan Kemiskinan Menstruasi

Elsy Grazia

TONI, ALVIAN, DAN ROSE, sedang asyik bermain lompat tali di halaman kelas selepas pulang sekolah. Ketiga anak SD itu tampaknya memang sudah akrab, semacam ada jalinan persahabatan di antara mereka. Meski tetap bermain, dari raut muka dan perkataannya, Toni sebenarnya tidak senang bermain bersama Rose—yang seorang perempuan, katanya. Namun, berbeda dengan Toni, Alvian justru senang bahkan sampai membujuk si Toni untuk tetap bermain.

Sesaat setelah Rose melompati tali karet, segerombolan siswa laki-laki menghampiri mereka bertiga. Dari tampilan dan gayanya—baju tak dikancingkan dan tak dimasukkan dan topi dibalik kebelakang—atau bagaimana caranya bertutur, segerombolan murid laki-laki itu jelas termasuk siswa yang duduk di bangku bagian belakang: suka usil dan nakal.

Benar. Mereka datang bukan untuk ikut bermain, tapi jelas untuk meledek si Toni dan Alvian karena mereka berdua, alih-alih ikut gerombolan tersebut, justru malah memilih bermain bersama seorang perempuan: Rose, anak SD penyandang disabilitas tuna wicara dan rungu sekaligus.

Mendapat ledekan tersebut, Toni membujuk Alvian untuk berhenti bermain dan lekas pulang. Tapi karena si Rose masih mau bermain, kebalikannya, Alvian membujuk Toni untuk lanjut bermain. Dan sesaat setelah guru mereka menyapa, Rose tiba-tiba memegangi perutnya, ia seperti menahan sakit yang sangat.

Hal itu membuat kedua teman laki-lakinya kaget, bertanya-tanya, dan segera menghentikan permainan. Mereka istirahat, duduk di tangga depan kelas dan Rose tiba-tiba ambruk ke depan. Toni dan Alvian kaget bukan kepalang, kedua anak ingusan itu berusaha membantu Rose berdiri dan mereka tambah kaget, keder, melihat darah mengucur dari dalam rok merahnya si Rose.

Narasi di atas adalah fragmen dalam film pendek Bloody Rose (2022) karya Emilya Grasiana Dede atau yang lebih dikenal dengan nama Elsy Grazia, seorang sutradara muda sekaligus penulis naskah dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Bloody Rose adalah filmnya yang pertama.

Film pendek berdurasi sebelas menit itu bercerita tentang dua anak laki-laki—Alvian dan Toni—yang berusaha mencari pembalut untuk sahabat disabilitas mereka, Rose,  yang mengalami menstruasi pertama di Sekolah Dasar.

Keterbatasan Rose sebagai difabel menjadi tantangan mereka berkomunikasi ketika ia mengalami menstruasi pertama. Tidak adanya akses pembalut di sekolah juga jarak warung yang jauh menjadi tantangan bagi mereka.

Di sisi lain, seperti yang sudah disematkan di awal, Alvian dan Toni mendapatkan tantangan dari kawan laki-lakinya yang menginginkan mereka terlihat macho, maskulin. Pilihan antara terlihat macho dan menolong sahabat mereka adalah realitas yang harus mereka tuntaskan—dengan humor-humor yang terkesan tidak dibuat-buat, tentu saja.

“Aku membuat film ini inspirasinya, selain dari pengalaman pribadi waktu SD, juga dari kegiatan komunitas yang aku ikuti—salah satu komunitas yang intens memfasilitasi soal masalah seksualitas dan reproduksi, termasuk menstruasi,” ujar perempuan muda sarjana  Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Udayana, kepada tatkala.co sesaat setelah selesai screening film di MASH Denpasar, Selasa (19/9/2023) malam.

Film Bloody Rose menjadi salah satu film pendek yang masuk dalam program Growing Pains Minikino Film Week Bali International Short Film Festival 2023 bersama enam film lainnya, yakni Zidane Roulette, Color-Ido (Color-Less), Princes (Les Princes), Man (Homen), Sandstrorm (Mulaqat), dan The End of Originality. Sebagai film debut, Bloody Rose termasuk film yang berhasil. Selain diputar di Minikino Film Week, film yang diproduksi Komunitas Film Kupang itu juga diputar di Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2022.

“Kami syuting selama empat hari. Dan sampai jadi itu sekitar enam bulanan. Nah, sebulan sebelum syuting itu, kami mengadakan semacam latihan dulu—karena aktornya kebanyakan anak-anak, kan. Jadi, cukup memusingkan sebenarnya. Untungnya aku punya tim,” jelasnya sambil tertawa.

Elsy Grazia, sebagai sutradara, mengaku belajar banyak hal tentang film sejak bertemu dan berkenalan dengan Komunitas Film Kupang (KFK) tahun 2018 dan mulai terlibat aktif sebagai volunteer dalam setiap kegiatannya. Di tahun yang sama, ia memulai debut sebagai penulis skenario film Tiga Batu karya sutradara Emilianus U.K Patar.

“Sebelum bergabung dengan Komunitas Film Kupang, film yang aku tonton hanya film-film mainstream industrial. Tapi setelah bergabung, aku baru tahu kalau jenis film itu banyak. Nah, dari situlah aku mulai belajar tentang film,” terangnya.

Bagi Elsy—dan mungkin bagi kebanyakan orang yang tahu film di Kupang—KFK menjadi salah satu ruang penting dalam ekosistem perfilman di wilayah Indonesia timur, khususnya di Kupang, NTT. Komunitas film yang dibentuk sejak tahun 2013 itu—sebagaimana laman Filmmaker Indonesia mengabarkan—tidak hanya bergerak dan memikirkan aspek kreasi dan produksi saja, lebih dari itu, juga memikirkan aspek distribusi, konsumsi, dan apresiasi film-film pendek hasil produksi sendiri maupun pihak lain.

Selain mengadakan program workshop seputar produksi film, menurut informasi dari Elsy, KFK juga memiliki program bioskop alternatif yang dinamakan “Jumat di Garasi” (JDG). JDG bertujuan untuk, selain apresiasi terhadap karya film, juga strategi dalam mendistribusikan atau mengenalkan atau mendekatkan film anti-mainstream kepada publik yang lebih luas.

(Dalam sebuah artikel yang terbit di Jurnal Communio: Jurnal Ilmu Komunikasi menyatakan bahwa di Kota Kupang, budaya apresiasi film mulai muncul sejak lahirnya Komunitas Film Kupang atau yang lebih sering dikenal dengan nama KFK itu.)

Dari KFK kemudian lahir orang-orang seperti Elsy Grazia dengan Bloody Rose-nya. “Bloody Rose lahir juga atas campur tangan teman-teman di KFK,” ujar Elsy.

Kemiskinan Menstruasi

Seperti yang sudah disampaikan di awal, bahwa film Bloody Rose memang berangkat dari isu yang krusial bagi perempuan: kurangnya pengetahuan tentang menstruasi dan akases terhadap barang yang dibutuhkannya.

Hal itu memantik kesadaran sang sutradara, Elsy Grazia, untuk membuat film yang menggambarkan bagaimana 1) menstruasi itu masih dianggap tabu, bahkan aib; 2) kurangnya pengetahuan anak terhadap menstruasi; dan 3) bagi beberapa orang di pelosok pedesaan, pembalut masih sulit diakses, bukan saja persediaannya, tapi juga biaya untuk membayarnya. Dan dari ketiga hal tersebut dapat diringkas menjadi dua kata: kemiskinan menstruasi—atau dalam bahasa kerennya disebut period poverty.

Kemiskinan menstruasi adalah masalah yang timbul karena kurangnya akses perempuan ke produk menstruasi. United Nations Population Fund mendefinisikan period poverty sebagai kondisi di mana perempuan berpenghasilan rendah berjuang membeli produk menstruasi. Akses terhadap produk menstruasi yang dimaksud adalah kesulitan mendapatkan atau membeli pembalut, tampon, menstrual cup, akses toilet, serta penanganan limbah produk menstruasi—dan itu terjadi karena satu hal yang klise: kemiskinan.

“Ada banyak perempuan yang masih sulit membeli pembalut. Memang ada yang harganya murah, sekitar empat ribuan, tapi kan tidak semua perempuan cocok menggunakan produk tersebut. Dan pembalut paling bagus itu rata-rata harganya di atas dua puluh ribuan. Jadi, bagi mereka yang pendapatannya menengah ke bawah, masih sulit mendapatkannya,” terang Elsy.

Berdasarkan data dari poling UNICEF Indonesia menunjukkan bahwa 1 dari 5 anak perempuan di Indonesia mengalami kesulitan dalam mengakses maupun membeli pembalut, dan 1 dari 10 merasa malu dan kekurangan privasi dalam mengakses sarana sanitasi menstruasi. Hal ini juga terjadi di lingkungan sekolah yang dialami oleh sebagian besar remaja perempuan di Indonesia.

Pada tahun 2020, dari data yang disampaikan dalam laman Nona Woman, hanya sekitar 20,5% individu yang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk mendapatkan akses Hak Menstruasi Sehat dan Kesehatan Reproduksinya. Artinya, ada sekitar 80% individu di Indonesia yang rentan mengalami period poverty.

(Yang dimaksud dengan Hak Menstruasi Sehat itu termasuk akses kepada edukasi tentang menstruasi, apa yang harus disiapkan saat anak perempuan masuk fase menarche (menstruasi pertama) hingga perempuan dewasa memasuki fase menopause; dan bekal informasi dan pengetahuan dasar tentang ketubuhan perempuan serta cara mitigasi jika mengalami kesakitan atau kesulitan saat menstruasi.)

Sedangkan, menurut data yang dihimpun BBC Indonesia, di Indonesia, perempuan mengeluarkan 1,7% penghasilan bulanan mereka untuk mengendalikan menstruasi, ini sekitar 20% lebih tinggi daripada rata-rata perempuan di negara-negara lain yang dianalisa. Dalam masa hidupnya, perempuan di Indonesia menghabiskan Rp16,9 juta untuk mengendalikan menstruasi.

Sementara itu, perempuan di Pakistan menghabiskan sekitar 6% pendapatan bulanan mereka untuk produk menstruasi, seperti pembalut, krim, dan obat penghilang rasa sakit. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat proporsi rata-rata yang dihabiskan satu rumah tangga di Pakistan untuk biaya kesehatan dan pendidikan.

Selain kemiskinan, dilansir dari laman Narasi, stigma masyarakat juga turut andil dalam masalah period poverty. Masyarakat masih menganggap menstruasi adalah topik yang tabu dibicarakan. Hal tersebut tentu membuat mitos soal menstruasi banyak berkembang sehingga membatasi perempuan untuk mengakses hal yang sangat krusial baginya.

“Saya dulu punya teman saat SD, dan dia dibully karena menstruasi,” kata Elsy.

Kode-kode seperti “roti jepang” untuk menyebut pembalut adalah satu dari banyaknya mitos menstruasi. Belum lagi stigma bahwa perempuan yang menstruasi adalah “kotor” sehingga membuatnya harus diasingkan.

Benar, di beberapa negara, perempuan yang menstruasi kerap mendapat perlakuan diskriminasi. Dalam tradisi yang dianut penduduk Nepal, misalnya, sebagaimana diuraikan Yantina Debora dalam artikel Tradisi Chhaupadi: Saat Perempuan Haid Dianggap Membawa Sial, seorang perempuan yang tengah menstruasi atau haid tak boleh menginjakkan kaki ke rumahnya. Jika ketentuan itu dilanggar, mereka yakin petaka akan datang. Setidaknya setiap bulan, perempuan-perempuan di Nepal akan mendekam dalam gubuk, gudang, atau kandang hewan selama tujuh hari hingga periode menstruasinya selesai.

Tradisi pengasingan perempuan saat menstruasi itu oleh penduduk Hindu di Nepal disebut Chhaupadi. Tradisi ini sudah dipraktikkan selama berabad-abad di Nepal. Tak hanya dialami perempuan yang menstruasi, tradisi kuno ini juga berlaku bagi perempuan yang baru melahirkan. Rentang waktu pengasingan setelah melahirkan lebih lama, yakni selama 11 hari.

Tradisi ini juga masih dilakukan di beberapa wilayah di India dan Bangladesh. Selain diasingkan, para perempuan ini juga tidak boleh menyentuh suami dan saudara laki-lakinya. Jika laki-laki secara tak sengaja menyentuh perempuan menstruasi, laki-laki tersebut harus segera disucikan dengan air kencing sapi yang dianggap suci oleh penduduk setempat.

Dalam konteks film, jauh sebelum Bloody Rose, kemiskinan menstruasi telah dibahas dalam film Pad Man (2018) yang terinspirasi dari kehidupan aktivis asal India, Arunachalam Muruganantham. Perjalanannya dicatat oleh Twinkle Khanna dalam cerita fiksinya The Legend of Lakshmi Prasad. Film arahan sutradara R. Balki yang melibatkan aktor besar seperti Akshay Kumar, Radhika Apte, hingga Sonam Kapoor, juga membahas tentang sulitnya akses terhadap pembalut yang higienis serta ekonomis bagi kaum wanita di India.

Atau dalam film Borat Subsequent Moviefilm (2020)—semoga Wikipedia tidak salah—menampilkan adegan yang menggunakan humor dan ironi untuk menumbangkan tabu seputar menstruasi. Dalam adegan tersebut, Borat dan putrinya Tutar melakukan “fertility dance” di debutante ball, dan penonton sangat antusias dengan tarian tersebut hingga Tutar mengangkat gaunnya untuk menunjukkan bahwa dia sedang menstruasi, yang memicu rasa jijik dan pemogokan di antara kerumunan.

Adegan tersebut dipuji oleh para kritikus film karena menyindir stigma menstruasi yang umum. Seperti yang dikatakan oleh Lindsay Wolf dari Scary Mommy, karena masyarakat telah “dikondisikan…untuk berpura-pura bahwa periode tersebut tidak ada, menempatkannya dalam sorotan seperti yang dilakukan [dalam film] akan memaksa kita untuk menghadapi bahwa 1) hal tersebut terjadi, dan 2) kita harus melupakannya dan berhenti memperlakukan gadis-gadis seperti hadiah kecil mungil yang diam-diam memilikinya.”

Pada akhirnya, representasi menstruasi di layar yang lebih realistis dan akurat telah meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah perempuan dalam peran produksi di TV dan film, dengan contoh penting termasuk film The Runaways (2010), film animasi Turning Red (2022), serial TV Broad City tahun 2018, dan masih banyak lagi.[T]

Baca juga artikel terkait FILM atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Warung Azkiya Adalah Bagian “Penting” dari Minikino Film Week Bali International Short Film Festival
Minikino Film Week 2023 dan Hidupnya Ruang Kolaboratif di Singaraja
Tags: film pendekMinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Subak Kulub Atas Tampaksiring Sudah Setahun Kekeringan Tanpa Solusi

Next Post

“Water Drop Photography”: Menangkap Pesona Tetesan Air dalam Fotografi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
“Water Drop Photography”: Menangkap Pesona Tetesan Air dalam Fotografi

“Water Drop Photography”: Menangkap Pesona Tetesan Air dalam Fotografi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co