14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata | Cerpen Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba by Arya Lawa Manuaba
September 16, 2023
in Cerpen
Mata | Cerpen Arya Lawa Manuaba

Ilustrasi tatkala.co

KISAH ini terjadi di dekat SMP tempatku dulu bersekolah.

Teja adalah salah satu kawan masa kecilku. Kami sebangku sejak kelas satu SD. Hal yang paling bisa kuingat tentang Teja adalah kebiasaannya meminjam pensilku dan lupa mengembalikannya. Dia selalu mengarang skenario apik bahwa pensil itu telah jatuh ke sungai dekat sekolah saat gerombolan Geng Snuckers membuntutinya sampai tepi jembatan. Yang menjadi pertanyaanku waktu itu adalah bagaimana bisa pensil yang seharusnya ada dalam tasnya jatuh ke dalam sungai. Kecuali dia menggunakan pensil itu sebagai pedang (atau untuk mengorek telinga), pensil itu tidak akan mungkin jatuh ke sungai.

Kemudian setelah tamat sekolah dasar, aku berpisah dengannya. Teja melanjutkan di SMP negeri di tepi barat kota, sementara aku meluncur ke SMP di timur. Padahal, jarak rumah kami tak begitu jauh. Namun entah mengapa sejak aku kelas delapan, aku tak berminat lagi untuk mengorek-ngorek nostalgia masa SD, tak bergairah lagi berlarian kesana-kemari di tepi sungai, memetik ilalang, membuat mahkota rumput dan bermain raja-rajaan. Sungguh memalukan jika anak kelas sembilan memainkan itu.

Jadi praktis sudah hampir tiga tahun aku tak kunjung bertegur sapa atau mengobrol dengan Teja. Dia pun begitu. Namun demikian, kami kadang berpapasan saat akan berangkat sekolah. Dia bakal mengacungkan lengannya, melambai, dan berkata ‘hai’. Cukup. Aku juga tak banyak basa-basi. Banyak pekerjaan rumah menggerayangi otakku. Dia pun pastinya mengalami sindrom yang sama dengan kepalanya. Anak SMP zaman sekarang, sibuknya seperti pegawai kantor. Aku bahkan tidak bisa lagi merasakan nikmatnya Sabtu sore. Waktu benar-benar menjadi sedemikian cepat.

Siang itu aku pulang lewat jembatan. Itu jalan yang selalu kulalui tatkala berangkat atau pulang dari sekolah. Ada sungai yang cukup besar mengalir di bawah jembatan, membawa airnya sampai ujung selatan di mana ia menyatu dengan Samudera Hindia. Itu sungai masa kecil kami. Riaknya tak pernah berubah, kecuali tepiannya yang kini dipermak dengan beton yang lebih kuat. Di tepi kiri-kanannya tumbuh banyak semak ilalang.

Beberapa puluh meter ke luar, ada deretan perumahan suburban yang cukup padat. Di malam hari, tepian sungai penuh dengan pendaran warna dari lampu rumah-rumah yang padat itu. Jembatan itu juga ramai setiap saat. Ratusan mobil dan sepeda motor melaluinya tiap jam, tanpa putus, tanpa henti. Kecepatan kendaraan yang melaju di sana pun tidak main-main.

Bapak selalu mewanti-wanti agar aku tidak sembarangan menyeberang. Harus lihat kanan-kiri, katanya. Jika tidak, aku harus kena akibatnya. Beberapa pengendara berwatak micin kadang-kadang lewat tanpa melihat situasi, lalu sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Ibu-ibu terjatuh, anak terserempet, atau malah terjadi kecelakaan tunggal. Ada-ada saja.

Tatkala aku berniat menyeberang, aku menoleh ke tepi sungai. Lalu mataku tertuju pada sosok bocah yang tengah membungkuk di padang ilalang.

“Teja!” aku berseru lantang, mengalahkan deru puluhan kendaraan yang tengah melintang. Anak itu benar-benar Teja.

Dia tidak mendengarku. Wajahnya terbenam di hamparan ilalang.

Aku mengulang panggilanku. Dia tak menoleh sedikit pun. Anak itu tampak begitu khusuk. Jemarinya menyibak-nyibak rumpun ilalang dengan tergesa-gesa. Pastinya ada sesuatu yang sangat penting yang mesti ditemukannya di sana.

Saat itu awal Januari, empat bulan menjelang ujian nasional. Dari Desember hingga Maret, hari menjadi begitu pendek, dan jantung anak-anak kelas sembilan menjadi makin tegang. Gerimis mendera hampir tiap siang hari. Suhu udara menurun, menggertak tulang-tulang dan membuatnya menggigil. Anak-anak akil balik seumurku menjadi begitu malas mandi pagi. Air yang mengucur langsung dari keran merajam tiap lubang pori-pori kami. Menjelang berangkat sekolah, ibu membekaliku dengan sehelai jas hujan hoodie berwarna biru cerah, dan ketika sekolah berakhir, aku memakainya tatkala gerimis, membuat penampilanku tampak laksana badut biru bersepeda dengan jas hujan kedodoran.

Tak berniat mengganggu, aku menyudahi panggilanku. Mungkin pensilnya terjatuh di sana, atau catatan observasi IPA-nya tersangkut di salah satu rumpun ilalang dan dia sedang mencari-carinya sebelum guru IPA murka padanya dan menyuruhnya berdiri di depan kelas.

Akan tetapi pemandangan itu mengganjal di benakku sampai aku tiba di rumah.

Sembari menjambal seonggok sayuran hijau, aku mengisahkan semua hal aneh itu kepada ibu.

“Teja?” ibu memastikan bahwa apa yang didengarnya benar. “Anak pedagang beras di RT tujuh itu?”

Aku mengiyakan. Ingatan ibu masih tajam rupanya. Teja sering menginap di rumah kami tatkala SD. Keesokan harinya, bapaknya bakal datang dengan wajah menahan malu sambil berkata, “Maaf Bu Kadek, anak saya merepotkan.”

Ibu tak langsung menyambung kalimatnya. Dia mendekatiku, duduk di kursi, dan meletakkan piringnya yang penuh nasi, sayur dan lauk makan siang. Yang menjadi fokusku bukan seberapa banyak porsi makan siang ibu di tengah jadwal dietnya, tetapi paras wajahnya yang tiba-tiba masam.

“Kamu tidak salah lihat?” nada suara ibu terdengar seperti menuntut. Dia seolah-olah ingin memaksaku agar mengatakan bahwa ternyata mataku salah lihat.

“Tidak, Bu; itu benar-benar Teja,” aku bersikeras. Aku melihatnya hanya dari jarak sekitar sepuluh hingga lima belas meter. Tak mungkin aku salah. Aku belum rabun.

Sekonyong-konyong, ibu mendekatkan wajahnya ke mataku.

“Teja si anak pedagang beras itu,” desir kalimat ibu begitu parau. “Dia ‘kan ditabrak mobil boks tadi malam. Persis di samping jembatan. Badannya terpelanting, tewas di tempat. Ngeri amat.”

Leherku tercekik tiba-tiba. Rasa makan siangku buyar entah ke mana. Akan tetapi otakku tetap bertahan pada logikanya. Aku benar-benar melihat Teja dengan kedua mataku.

“Ibu salah dengar barangkali,” ujarku kemudian, menawarkan satu kemungkinan lain. “Di kelurahan ini ada banyak yang namanya Teja.”

Begitulah akhirnya peperangan antara logika dan berita berseteru dalam benakku sampai keesokan harinya. Saat itu Sabtu, dan kami pulang sekolah agak awal. Seperti biasa, aku pulang lewat jembatan, bersepeda santai menikmati akhir minggu.

Lagi,—aku melihat Teja yang sama sedang membungkuk serius di tepi sungai. Kedua tangannya lagas menyibak rumpun demi rumpun ilalang yang tingginya sepinggang. Sepertinya catatan yang dicarinya belum juga ketemu. Dasar anak ceroboh. Apa sih, yang ditelitinya di tepi sungai?

“Teja!” aku memanggilnya. Kali itu, aku menghempaskan sepedaku di tepi jalan, berlari-lari kecil menuruni tepi sungai yang lebat oleh semak ilalang.

Mungkin Teja mengalami penurunan daya dengar, aku berpikir. Anak itu sama sekali tidak menoleh. Dia masih membungkuk.

“Hei, Teja!” aku makin dekat.

Kuraih pundaknya.

“Teja!”

Anak itu tiba-tiba tersentak. Tangannya berhenti menyibak-nyibak rumpun ilalang.

“Apa yang kaulakukan di sini sendirian?” aku menajamkan intonasi suaraku.

Seketika Teja memutar badannya. Disinari pendar cahaya sore yang temaram, aku bisa melihat separuh wajahnya berlumuran darah segar. Aku benar-benar dibuatnya tidak bisa bernapas. Mulutku ternganga dengan terkaman rasa ngeri luar biasa.

“Mata kananku hilang, Dek,” Teja berkata lirih dan serak. “Kau mau membantuku mencarinya?”

Terbujur kaku, aku dengan jelas melihat rongga mata kanannya yang bolong dan penuh ceceran darah. Bibirnya menyeringai lebar. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gadis yang Lahir dari Rembulan
Arwah Monster
Buah Lango
Mbah
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Komunitas Maha Rupa Batukaru: “Pesan Apa Gerangan dari Barat?”

Next Post

Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba

Pendidik, penulis dan peneliti bidang etnopedagogi dan etnoliterasi. Dia menyukai hutan, gunung dan langit malam. Ia bisa disapa di akun Facebook (Arya Lawa Manuaba) atau Instagram @arya_lawa_manuaba.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co