24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata | Cerpen Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba by Arya Lawa Manuaba
September 16, 2023
in Cerpen
Mata | Cerpen Arya Lawa Manuaba

Ilustrasi tatkala.co

KISAH ini terjadi di dekat SMP tempatku dulu bersekolah.

Teja adalah salah satu kawan masa kecilku. Kami sebangku sejak kelas satu SD. Hal yang paling bisa kuingat tentang Teja adalah kebiasaannya meminjam pensilku dan lupa mengembalikannya. Dia selalu mengarang skenario apik bahwa pensil itu telah jatuh ke sungai dekat sekolah saat gerombolan Geng Snuckers membuntutinya sampai tepi jembatan. Yang menjadi pertanyaanku waktu itu adalah bagaimana bisa pensil yang seharusnya ada dalam tasnya jatuh ke dalam sungai. Kecuali dia menggunakan pensil itu sebagai pedang (atau untuk mengorek telinga), pensil itu tidak akan mungkin jatuh ke sungai.

Kemudian setelah tamat sekolah dasar, aku berpisah dengannya. Teja melanjutkan di SMP negeri di tepi barat kota, sementara aku meluncur ke SMP di timur. Padahal, jarak rumah kami tak begitu jauh. Namun entah mengapa sejak aku kelas delapan, aku tak berminat lagi untuk mengorek-ngorek nostalgia masa SD, tak bergairah lagi berlarian kesana-kemari di tepi sungai, memetik ilalang, membuat mahkota rumput dan bermain raja-rajaan. Sungguh memalukan jika anak kelas sembilan memainkan itu.

Jadi praktis sudah hampir tiga tahun aku tak kunjung bertegur sapa atau mengobrol dengan Teja. Dia pun begitu. Namun demikian, kami kadang berpapasan saat akan berangkat sekolah. Dia bakal mengacungkan lengannya, melambai, dan berkata ‘hai’. Cukup. Aku juga tak banyak basa-basi. Banyak pekerjaan rumah menggerayangi otakku. Dia pun pastinya mengalami sindrom yang sama dengan kepalanya. Anak SMP zaman sekarang, sibuknya seperti pegawai kantor. Aku bahkan tidak bisa lagi merasakan nikmatnya Sabtu sore. Waktu benar-benar menjadi sedemikian cepat.

Siang itu aku pulang lewat jembatan. Itu jalan yang selalu kulalui tatkala berangkat atau pulang dari sekolah. Ada sungai yang cukup besar mengalir di bawah jembatan, membawa airnya sampai ujung selatan di mana ia menyatu dengan Samudera Hindia. Itu sungai masa kecil kami. Riaknya tak pernah berubah, kecuali tepiannya yang kini dipermak dengan beton yang lebih kuat. Di tepi kiri-kanannya tumbuh banyak semak ilalang.

Beberapa puluh meter ke luar, ada deretan perumahan suburban yang cukup padat. Di malam hari, tepian sungai penuh dengan pendaran warna dari lampu rumah-rumah yang padat itu. Jembatan itu juga ramai setiap saat. Ratusan mobil dan sepeda motor melaluinya tiap jam, tanpa putus, tanpa henti. Kecepatan kendaraan yang melaju di sana pun tidak main-main.

Bapak selalu mewanti-wanti agar aku tidak sembarangan menyeberang. Harus lihat kanan-kiri, katanya. Jika tidak, aku harus kena akibatnya. Beberapa pengendara berwatak micin kadang-kadang lewat tanpa melihat situasi, lalu sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Ibu-ibu terjatuh, anak terserempet, atau malah terjadi kecelakaan tunggal. Ada-ada saja.

Tatkala aku berniat menyeberang, aku menoleh ke tepi sungai. Lalu mataku tertuju pada sosok bocah yang tengah membungkuk di padang ilalang.

“Teja!” aku berseru lantang, mengalahkan deru puluhan kendaraan yang tengah melintang. Anak itu benar-benar Teja.

Dia tidak mendengarku. Wajahnya terbenam di hamparan ilalang.

Aku mengulang panggilanku. Dia tak menoleh sedikit pun. Anak itu tampak begitu khusuk. Jemarinya menyibak-nyibak rumpun ilalang dengan tergesa-gesa. Pastinya ada sesuatu yang sangat penting yang mesti ditemukannya di sana.

Saat itu awal Januari, empat bulan menjelang ujian nasional. Dari Desember hingga Maret, hari menjadi begitu pendek, dan jantung anak-anak kelas sembilan menjadi makin tegang. Gerimis mendera hampir tiap siang hari. Suhu udara menurun, menggertak tulang-tulang dan membuatnya menggigil. Anak-anak akil balik seumurku menjadi begitu malas mandi pagi. Air yang mengucur langsung dari keran merajam tiap lubang pori-pori kami. Menjelang berangkat sekolah, ibu membekaliku dengan sehelai jas hujan hoodie berwarna biru cerah, dan ketika sekolah berakhir, aku memakainya tatkala gerimis, membuat penampilanku tampak laksana badut biru bersepeda dengan jas hujan kedodoran.

Tak berniat mengganggu, aku menyudahi panggilanku. Mungkin pensilnya terjatuh di sana, atau catatan observasi IPA-nya tersangkut di salah satu rumpun ilalang dan dia sedang mencari-carinya sebelum guru IPA murka padanya dan menyuruhnya berdiri di depan kelas.

Akan tetapi pemandangan itu mengganjal di benakku sampai aku tiba di rumah.

Sembari menjambal seonggok sayuran hijau, aku mengisahkan semua hal aneh itu kepada ibu.

“Teja?” ibu memastikan bahwa apa yang didengarnya benar. “Anak pedagang beras di RT tujuh itu?”

Aku mengiyakan. Ingatan ibu masih tajam rupanya. Teja sering menginap di rumah kami tatkala SD. Keesokan harinya, bapaknya bakal datang dengan wajah menahan malu sambil berkata, “Maaf Bu Kadek, anak saya merepotkan.”

Ibu tak langsung menyambung kalimatnya. Dia mendekatiku, duduk di kursi, dan meletakkan piringnya yang penuh nasi, sayur dan lauk makan siang. Yang menjadi fokusku bukan seberapa banyak porsi makan siang ibu di tengah jadwal dietnya, tetapi paras wajahnya yang tiba-tiba masam.

“Kamu tidak salah lihat?” nada suara ibu terdengar seperti menuntut. Dia seolah-olah ingin memaksaku agar mengatakan bahwa ternyata mataku salah lihat.

“Tidak, Bu; itu benar-benar Teja,” aku bersikeras. Aku melihatnya hanya dari jarak sekitar sepuluh hingga lima belas meter. Tak mungkin aku salah. Aku belum rabun.

Sekonyong-konyong, ibu mendekatkan wajahnya ke mataku.

“Teja si anak pedagang beras itu,” desir kalimat ibu begitu parau. “Dia ‘kan ditabrak mobil boks tadi malam. Persis di samping jembatan. Badannya terpelanting, tewas di tempat. Ngeri amat.”

Leherku tercekik tiba-tiba. Rasa makan siangku buyar entah ke mana. Akan tetapi otakku tetap bertahan pada logikanya. Aku benar-benar melihat Teja dengan kedua mataku.

“Ibu salah dengar barangkali,” ujarku kemudian, menawarkan satu kemungkinan lain. “Di kelurahan ini ada banyak yang namanya Teja.”

Begitulah akhirnya peperangan antara logika dan berita berseteru dalam benakku sampai keesokan harinya. Saat itu Sabtu, dan kami pulang sekolah agak awal. Seperti biasa, aku pulang lewat jembatan, bersepeda santai menikmati akhir minggu.

Lagi,—aku melihat Teja yang sama sedang membungkuk serius di tepi sungai. Kedua tangannya lagas menyibak rumpun demi rumpun ilalang yang tingginya sepinggang. Sepertinya catatan yang dicarinya belum juga ketemu. Dasar anak ceroboh. Apa sih, yang ditelitinya di tepi sungai?

“Teja!” aku memanggilnya. Kali itu, aku menghempaskan sepedaku di tepi jalan, berlari-lari kecil menuruni tepi sungai yang lebat oleh semak ilalang.

Mungkin Teja mengalami penurunan daya dengar, aku berpikir. Anak itu sama sekali tidak menoleh. Dia masih membungkuk.

“Hei, Teja!” aku makin dekat.

Kuraih pundaknya.

“Teja!”

Anak itu tiba-tiba tersentak. Tangannya berhenti menyibak-nyibak rumpun ilalang.

“Apa yang kaulakukan di sini sendirian?” aku menajamkan intonasi suaraku.

Seketika Teja memutar badannya. Disinari pendar cahaya sore yang temaram, aku bisa melihat separuh wajahnya berlumuran darah segar. Aku benar-benar dibuatnya tidak bisa bernapas. Mulutku ternganga dengan terkaman rasa ngeri luar biasa.

“Mata kananku hilang, Dek,” Teja berkata lirih dan serak. “Kau mau membantuku mencarinya?”

Terbujur kaku, aku dengan jelas melihat rongga mata kanannya yang bolong dan penuh ceceran darah. Bibirnya menyeringai lebar. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gadis yang Lahir dari Rembulan
Arwah Monster
Buah Lango
Mbah
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Komunitas Maha Rupa Batukaru: “Pesan Apa Gerangan dari Barat?”

Next Post

Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba

Pendidik, penulis dan peneliti bidang etnopedagogi dan etnoliterasi. Dia menyukai hutan, gunung dan langit malam. Ia bisa disapa di akun Facebook (Arya Lawa Manuaba) atau Instagram @arya_lawa_manuaba.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co