2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata | Cerpen Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba by Arya Lawa Manuaba
September 16, 2023
in Cerpen
Mata | Cerpen Arya Lawa Manuaba

Ilustrasi tatkala.co

KISAH ini terjadi di dekat SMP tempatku dulu bersekolah.

Teja adalah salah satu kawan masa kecilku. Kami sebangku sejak kelas satu SD. Hal yang paling bisa kuingat tentang Teja adalah kebiasaannya meminjam pensilku dan lupa mengembalikannya. Dia selalu mengarang skenario apik bahwa pensil itu telah jatuh ke sungai dekat sekolah saat gerombolan Geng Snuckers membuntutinya sampai tepi jembatan. Yang menjadi pertanyaanku waktu itu adalah bagaimana bisa pensil yang seharusnya ada dalam tasnya jatuh ke dalam sungai. Kecuali dia menggunakan pensil itu sebagai pedang (atau untuk mengorek telinga), pensil itu tidak akan mungkin jatuh ke sungai.

Kemudian setelah tamat sekolah dasar, aku berpisah dengannya. Teja melanjutkan di SMP negeri di tepi barat kota, sementara aku meluncur ke SMP di timur. Padahal, jarak rumah kami tak begitu jauh. Namun entah mengapa sejak aku kelas delapan, aku tak berminat lagi untuk mengorek-ngorek nostalgia masa SD, tak bergairah lagi berlarian kesana-kemari di tepi sungai, memetik ilalang, membuat mahkota rumput dan bermain raja-rajaan. Sungguh memalukan jika anak kelas sembilan memainkan itu.

Jadi praktis sudah hampir tiga tahun aku tak kunjung bertegur sapa atau mengobrol dengan Teja. Dia pun begitu. Namun demikian, kami kadang berpapasan saat akan berangkat sekolah. Dia bakal mengacungkan lengannya, melambai, dan berkata ‘hai’. Cukup. Aku juga tak banyak basa-basi. Banyak pekerjaan rumah menggerayangi otakku. Dia pun pastinya mengalami sindrom yang sama dengan kepalanya. Anak SMP zaman sekarang, sibuknya seperti pegawai kantor. Aku bahkan tidak bisa lagi merasakan nikmatnya Sabtu sore. Waktu benar-benar menjadi sedemikian cepat.

Siang itu aku pulang lewat jembatan. Itu jalan yang selalu kulalui tatkala berangkat atau pulang dari sekolah. Ada sungai yang cukup besar mengalir di bawah jembatan, membawa airnya sampai ujung selatan di mana ia menyatu dengan Samudera Hindia. Itu sungai masa kecil kami. Riaknya tak pernah berubah, kecuali tepiannya yang kini dipermak dengan beton yang lebih kuat. Di tepi kiri-kanannya tumbuh banyak semak ilalang.

Beberapa puluh meter ke luar, ada deretan perumahan suburban yang cukup padat. Di malam hari, tepian sungai penuh dengan pendaran warna dari lampu rumah-rumah yang padat itu. Jembatan itu juga ramai setiap saat. Ratusan mobil dan sepeda motor melaluinya tiap jam, tanpa putus, tanpa henti. Kecepatan kendaraan yang melaju di sana pun tidak main-main.

Bapak selalu mewanti-wanti agar aku tidak sembarangan menyeberang. Harus lihat kanan-kiri, katanya. Jika tidak, aku harus kena akibatnya. Beberapa pengendara berwatak micin kadang-kadang lewat tanpa melihat situasi, lalu sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Ibu-ibu terjatuh, anak terserempet, atau malah terjadi kecelakaan tunggal. Ada-ada saja.

Tatkala aku berniat menyeberang, aku menoleh ke tepi sungai. Lalu mataku tertuju pada sosok bocah yang tengah membungkuk di padang ilalang.

“Teja!” aku berseru lantang, mengalahkan deru puluhan kendaraan yang tengah melintang. Anak itu benar-benar Teja.

Dia tidak mendengarku. Wajahnya terbenam di hamparan ilalang.

Aku mengulang panggilanku. Dia tak menoleh sedikit pun. Anak itu tampak begitu khusuk. Jemarinya menyibak-nyibak rumpun ilalang dengan tergesa-gesa. Pastinya ada sesuatu yang sangat penting yang mesti ditemukannya di sana.

Saat itu awal Januari, empat bulan menjelang ujian nasional. Dari Desember hingga Maret, hari menjadi begitu pendek, dan jantung anak-anak kelas sembilan menjadi makin tegang. Gerimis mendera hampir tiap siang hari. Suhu udara menurun, menggertak tulang-tulang dan membuatnya menggigil. Anak-anak akil balik seumurku menjadi begitu malas mandi pagi. Air yang mengucur langsung dari keran merajam tiap lubang pori-pori kami. Menjelang berangkat sekolah, ibu membekaliku dengan sehelai jas hujan hoodie berwarna biru cerah, dan ketika sekolah berakhir, aku memakainya tatkala gerimis, membuat penampilanku tampak laksana badut biru bersepeda dengan jas hujan kedodoran.

Tak berniat mengganggu, aku menyudahi panggilanku. Mungkin pensilnya terjatuh di sana, atau catatan observasi IPA-nya tersangkut di salah satu rumpun ilalang dan dia sedang mencari-carinya sebelum guru IPA murka padanya dan menyuruhnya berdiri di depan kelas.

Akan tetapi pemandangan itu mengganjal di benakku sampai aku tiba di rumah.

Sembari menjambal seonggok sayuran hijau, aku mengisahkan semua hal aneh itu kepada ibu.

“Teja?” ibu memastikan bahwa apa yang didengarnya benar. “Anak pedagang beras di RT tujuh itu?”

Aku mengiyakan. Ingatan ibu masih tajam rupanya. Teja sering menginap di rumah kami tatkala SD. Keesokan harinya, bapaknya bakal datang dengan wajah menahan malu sambil berkata, “Maaf Bu Kadek, anak saya merepotkan.”

Ibu tak langsung menyambung kalimatnya. Dia mendekatiku, duduk di kursi, dan meletakkan piringnya yang penuh nasi, sayur dan lauk makan siang. Yang menjadi fokusku bukan seberapa banyak porsi makan siang ibu di tengah jadwal dietnya, tetapi paras wajahnya yang tiba-tiba masam.

“Kamu tidak salah lihat?” nada suara ibu terdengar seperti menuntut. Dia seolah-olah ingin memaksaku agar mengatakan bahwa ternyata mataku salah lihat.

“Tidak, Bu; itu benar-benar Teja,” aku bersikeras. Aku melihatnya hanya dari jarak sekitar sepuluh hingga lima belas meter. Tak mungkin aku salah. Aku belum rabun.

Sekonyong-konyong, ibu mendekatkan wajahnya ke mataku.

“Teja si anak pedagang beras itu,” desir kalimat ibu begitu parau. “Dia ‘kan ditabrak mobil boks tadi malam. Persis di samping jembatan. Badannya terpelanting, tewas di tempat. Ngeri amat.”

Leherku tercekik tiba-tiba. Rasa makan siangku buyar entah ke mana. Akan tetapi otakku tetap bertahan pada logikanya. Aku benar-benar melihat Teja dengan kedua mataku.

“Ibu salah dengar barangkali,” ujarku kemudian, menawarkan satu kemungkinan lain. “Di kelurahan ini ada banyak yang namanya Teja.”

Begitulah akhirnya peperangan antara logika dan berita berseteru dalam benakku sampai keesokan harinya. Saat itu Sabtu, dan kami pulang sekolah agak awal. Seperti biasa, aku pulang lewat jembatan, bersepeda santai menikmati akhir minggu.

Lagi,—aku melihat Teja yang sama sedang membungkuk serius di tepi sungai. Kedua tangannya lagas menyibak rumpun demi rumpun ilalang yang tingginya sepinggang. Sepertinya catatan yang dicarinya belum juga ketemu. Dasar anak ceroboh. Apa sih, yang ditelitinya di tepi sungai?

“Teja!” aku memanggilnya. Kali itu, aku menghempaskan sepedaku di tepi jalan, berlari-lari kecil menuruni tepi sungai yang lebat oleh semak ilalang.

Mungkin Teja mengalami penurunan daya dengar, aku berpikir. Anak itu sama sekali tidak menoleh. Dia masih membungkuk.

“Hei, Teja!” aku makin dekat.

Kuraih pundaknya.

“Teja!”

Anak itu tiba-tiba tersentak. Tangannya berhenti menyibak-nyibak rumpun ilalang.

“Apa yang kaulakukan di sini sendirian?” aku menajamkan intonasi suaraku.

Seketika Teja memutar badannya. Disinari pendar cahaya sore yang temaram, aku bisa melihat separuh wajahnya berlumuran darah segar. Aku benar-benar dibuatnya tidak bisa bernapas. Mulutku ternganga dengan terkaman rasa ngeri luar biasa.

“Mata kananku hilang, Dek,” Teja berkata lirih dan serak. “Kau mau membantuku mencarinya?”

Terbujur kaku, aku dengan jelas melihat rongga mata kanannya yang bolong dan penuh ceceran darah. Bibirnya menyeringai lebar. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gadis yang Lahir dari Rembulan
Arwah Monster
Buah Lango
Mbah
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Komunitas Maha Rupa Batukaru: “Pesan Apa Gerangan dari Barat?”

Next Post

Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba

Pendidik, penulis dan peneliti bidang etnopedagogi dan etnoliterasi. Dia menyukai hutan, gunung dan langit malam. Ia bisa disapa di akun Facebook (Arya Lawa Manuaba) atau Instagram @arya_lawa_manuaba.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co