23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata | Cerpen Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba by Arya Lawa Manuaba
September 16, 2023
in Cerpen
Mata | Cerpen Arya Lawa Manuaba

Ilustrasi tatkala.co

KISAH ini terjadi di dekat SMP tempatku dulu bersekolah.

Teja adalah salah satu kawan masa kecilku. Kami sebangku sejak kelas satu SD. Hal yang paling bisa kuingat tentang Teja adalah kebiasaannya meminjam pensilku dan lupa mengembalikannya. Dia selalu mengarang skenario apik bahwa pensil itu telah jatuh ke sungai dekat sekolah saat gerombolan Geng Snuckers membuntutinya sampai tepi jembatan. Yang menjadi pertanyaanku waktu itu adalah bagaimana bisa pensil yang seharusnya ada dalam tasnya jatuh ke dalam sungai. Kecuali dia menggunakan pensil itu sebagai pedang (atau untuk mengorek telinga), pensil itu tidak akan mungkin jatuh ke sungai.

Kemudian setelah tamat sekolah dasar, aku berpisah dengannya. Teja melanjutkan di SMP negeri di tepi barat kota, sementara aku meluncur ke SMP di timur. Padahal, jarak rumah kami tak begitu jauh. Namun entah mengapa sejak aku kelas delapan, aku tak berminat lagi untuk mengorek-ngorek nostalgia masa SD, tak bergairah lagi berlarian kesana-kemari di tepi sungai, memetik ilalang, membuat mahkota rumput dan bermain raja-rajaan. Sungguh memalukan jika anak kelas sembilan memainkan itu.

Jadi praktis sudah hampir tiga tahun aku tak kunjung bertegur sapa atau mengobrol dengan Teja. Dia pun begitu. Namun demikian, kami kadang berpapasan saat akan berangkat sekolah. Dia bakal mengacungkan lengannya, melambai, dan berkata ‘hai’. Cukup. Aku juga tak banyak basa-basi. Banyak pekerjaan rumah menggerayangi otakku. Dia pun pastinya mengalami sindrom yang sama dengan kepalanya. Anak SMP zaman sekarang, sibuknya seperti pegawai kantor. Aku bahkan tidak bisa lagi merasakan nikmatnya Sabtu sore. Waktu benar-benar menjadi sedemikian cepat.

Siang itu aku pulang lewat jembatan. Itu jalan yang selalu kulalui tatkala berangkat atau pulang dari sekolah. Ada sungai yang cukup besar mengalir di bawah jembatan, membawa airnya sampai ujung selatan di mana ia menyatu dengan Samudera Hindia. Itu sungai masa kecil kami. Riaknya tak pernah berubah, kecuali tepiannya yang kini dipermak dengan beton yang lebih kuat. Di tepi kiri-kanannya tumbuh banyak semak ilalang.

Beberapa puluh meter ke luar, ada deretan perumahan suburban yang cukup padat. Di malam hari, tepian sungai penuh dengan pendaran warna dari lampu rumah-rumah yang padat itu. Jembatan itu juga ramai setiap saat. Ratusan mobil dan sepeda motor melaluinya tiap jam, tanpa putus, tanpa henti. Kecepatan kendaraan yang melaju di sana pun tidak main-main.

Bapak selalu mewanti-wanti agar aku tidak sembarangan menyeberang. Harus lihat kanan-kiri, katanya. Jika tidak, aku harus kena akibatnya. Beberapa pengendara berwatak micin kadang-kadang lewat tanpa melihat situasi, lalu sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Ibu-ibu terjatuh, anak terserempet, atau malah terjadi kecelakaan tunggal. Ada-ada saja.

Tatkala aku berniat menyeberang, aku menoleh ke tepi sungai. Lalu mataku tertuju pada sosok bocah yang tengah membungkuk di padang ilalang.

“Teja!” aku berseru lantang, mengalahkan deru puluhan kendaraan yang tengah melintang. Anak itu benar-benar Teja.

Dia tidak mendengarku. Wajahnya terbenam di hamparan ilalang.

Aku mengulang panggilanku. Dia tak menoleh sedikit pun. Anak itu tampak begitu khusuk. Jemarinya menyibak-nyibak rumpun ilalang dengan tergesa-gesa. Pastinya ada sesuatu yang sangat penting yang mesti ditemukannya di sana.

Saat itu awal Januari, empat bulan menjelang ujian nasional. Dari Desember hingga Maret, hari menjadi begitu pendek, dan jantung anak-anak kelas sembilan menjadi makin tegang. Gerimis mendera hampir tiap siang hari. Suhu udara menurun, menggertak tulang-tulang dan membuatnya menggigil. Anak-anak akil balik seumurku menjadi begitu malas mandi pagi. Air yang mengucur langsung dari keran merajam tiap lubang pori-pori kami. Menjelang berangkat sekolah, ibu membekaliku dengan sehelai jas hujan hoodie berwarna biru cerah, dan ketika sekolah berakhir, aku memakainya tatkala gerimis, membuat penampilanku tampak laksana badut biru bersepeda dengan jas hujan kedodoran.

Tak berniat mengganggu, aku menyudahi panggilanku. Mungkin pensilnya terjatuh di sana, atau catatan observasi IPA-nya tersangkut di salah satu rumpun ilalang dan dia sedang mencari-carinya sebelum guru IPA murka padanya dan menyuruhnya berdiri di depan kelas.

Akan tetapi pemandangan itu mengganjal di benakku sampai aku tiba di rumah.

Sembari menjambal seonggok sayuran hijau, aku mengisahkan semua hal aneh itu kepada ibu.

“Teja?” ibu memastikan bahwa apa yang didengarnya benar. “Anak pedagang beras di RT tujuh itu?”

Aku mengiyakan. Ingatan ibu masih tajam rupanya. Teja sering menginap di rumah kami tatkala SD. Keesokan harinya, bapaknya bakal datang dengan wajah menahan malu sambil berkata, “Maaf Bu Kadek, anak saya merepotkan.”

Ibu tak langsung menyambung kalimatnya. Dia mendekatiku, duduk di kursi, dan meletakkan piringnya yang penuh nasi, sayur dan lauk makan siang. Yang menjadi fokusku bukan seberapa banyak porsi makan siang ibu di tengah jadwal dietnya, tetapi paras wajahnya yang tiba-tiba masam.

“Kamu tidak salah lihat?” nada suara ibu terdengar seperti menuntut. Dia seolah-olah ingin memaksaku agar mengatakan bahwa ternyata mataku salah lihat.

“Tidak, Bu; itu benar-benar Teja,” aku bersikeras. Aku melihatnya hanya dari jarak sekitar sepuluh hingga lima belas meter. Tak mungkin aku salah. Aku belum rabun.

Sekonyong-konyong, ibu mendekatkan wajahnya ke mataku.

“Teja si anak pedagang beras itu,” desir kalimat ibu begitu parau. “Dia ‘kan ditabrak mobil boks tadi malam. Persis di samping jembatan. Badannya terpelanting, tewas di tempat. Ngeri amat.”

Leherku tercekik tiba-tiba. Rasa makan siangku buyar entah ke mana. Akan tetapi otakku tetap bertahan pada logikanya. Aku benar-benar melihat Teja dengan kedua mataku.

“Ibu salah dengar barangkali,” ujarku kemudian, menawarkan satu kemungkinan lain. “Di kelurahan ini ada banyak yang namanya Teja.”

Begitulah akhirnya peperangan antara logika dan berita berseteru dalam benakku sampai keesokan harinya. Saat itu Sabtu, dan kami pulang sekolah agak awal. Seperti biasa, aku pulang lewat jembatan, bersepeda santai menikmati akhir minggu.

Lagi,—aku melihat Teja yang sama sedang membungkuk serius di tepi sungai. Kedua tangannya lagas menyibak rumpun demi rumpun ilalang yang tingginya sepinggang. Sepertinya catatan yang dicarinya belum juga ketemu. Dasar anak ceroboh. Apa sih, yang ditelitinya di tepi sungai?

“Teja!” aku memanggilnya. Kali itu, aku menghempaskan sepedaku di tepi jalan, berlari-lari kecil menuruni tepi sungai yang lebat oleh semak ilalang.

Mungkin Teja mengalami penurunan daya dengar, aku berpikir. Anak itu sama sekali tidak menoleh. Dia masih membungkuk.

“Hei, Teja!” aku makin dekat.

Kuraih pundaknya.

“Teja!”

Anak itu tiba-tiba tersentak. Tangannya berhenti menyibak-nyibak rumpun ilalang.

“Apa yang kaulakukan di sini sendirian?” aku menajamkan intonasi suaraku.

Seketika Teja memutar badannya. Disinari pendar cahaya sore yang temaram, aku bisa melihat separuh wajahnya berlumuran darah segar. Aku benar-benar dibuatnya tidak bisa bernapas. Mulutku ternganga dengan terkaman rasa ngeri luar biasa.

“Mata kananku hilang, Dek,” Teja berkata lirih dan serak. “Kau mau membantuku mencarinya?”

Terbujur kaku, aku dengan jelas melihat rongga mata kanannya yang bolong dan penuh ceceran darah. Bibirnya menyeringai lebar. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Pranalaya | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gadis yang Lahir dari Rembulan
Arwah Monster
Buah Lango
Mbah
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Komunitas Maha Rupa Batukaru: “Pesan Apa Gerangan dari Barat?”

Next Post

Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba

Pendidik, penulis dan peneliti bidang etnopedagogi dan etnoliterasi. Dia menyukai hutan, gunung dan langit malam. Ia bisa disapa di akun Facebook (Arya Lawa Manuaba) atau Instagram @arya_lawa_manuaba.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co