6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gadis yang Lahir dari Rembulan

Arya Lawa Manuaba by Arya Lawa Manuaba
December 6, 2020
in Cerpen
Gadis yang Lahir dari Rembulan

Sebuah karya dalam Pameran Mandiri Mahasiswa Seni Rupa Undiksha Singaraja Bali ,2 Mei 2017 || Foto: Mursal Buyung

Cerpen: Arya Lawa Manuaba

___

Sejak aku kanak-kanak, setiap pemuda yang lalu-lalang di pasar malam akan mengajukan pertanyaan yang sama.

“Wahai gadis mungil yang manis, siapakah ayah dan ibumu?”

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri.”

Jawabanku begitu lancar, sebab nenek mengajarkannya kepadaku setiap hari. Harus kuhapalkan tanpa salah. Apabila nyonya-nyonya di pojok pasar itu bertanya lagi tentang ayah dan ibuku, maka begitulah jawabanku. Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri. Jika kukatakan terbalik—ibuku rembulan dan ayahku peri,—maka nenek akan marah besar.

Tak hanya pemuda-pemuda anyir di pasar malam yang terpikat pada wajahku. Orang-orang di terminal juga, para pemungut sampah plastik, dan orang-orang kaya yang mengantri di loket untuk memesan makanan siap saji tanpa keluar dari mobil. Katanya wajahku begitu jelita. Entah apa yang menyebabkannya demikian. Alisku yang tebal dan lentik barangkali? Atau mungkin bentuk mukaku yang bulat berseri. Mungkin pula rambut keritingku yang terjuntai dihela angin malam.

Orang-orang itu tentunya ingin tahu paduan sepasang manusia mana yang mampu menciptakan wajah anak sesempurna itu? Pasti ibunya adalah seorang ningrat, dan bapaknya adalah pemuda terpilih dari keluarga kerajaan yang darahnya tak pernah tercampur dengan orang-orang lusuh.

Tetapi bahkan tatkala aku bertanya kepada nenek, dia selalu berkata hal yang sama.

“Malini cucuku. Ayahmu adalah rembulan dan engkau lahir dari seorang peri.”

Sudah lebih dari tujuh belas tahun jawaban itu kuhapalkan, dan ajaibnya, aku percaya. Tiap kali aku bertanya siapakah ayah dan ibuku, nenek akan menatap rembulan dan mulai berkisah tentang seorang peri yang duduk di atas batu, menunggu cahaya rembulan menjamahnya kala tengah malam. Lama ia menyanyi hingga kurus dan layu, hingga malam menebal dan memekat. Kemudian, rembulan muncul dan membelai peri dengan cahayanya yang dingin. Tatkala aku dilahirkan, peri itu pergi, dipanggil lonceng surga sebab pintu surga akan tertutup di kala fajar. Selesai sudah. Inilah aku kini.

Melihat peri itu pergi, rembulan menjadi pucat dan sedih. Semakin kuat cahaya matahari, semakin rembulan jadi pucat, lalu lenyap di cakrawala barat. Begitu kisah nenek tentang riwayat kelahiranku.

“Benarkah ayahku adalah rembulan dan ibuku seorang peri?” aku bertanya begitu sungguh-sungguh.

Nenek mengangguk dengan mantap, mengimbangi seriusnya nada tanyaku. Jawabannya tak pernah berubah. Samasekali tak ada keragu-raguan.

“Lalu mengapa mereka meninggalkanku di sini?”

“Mereka tidak pernah meninggalkanmu,” nenek menyentuh dadaku yang kala itu mulai merekah remaja. “Mereka selalu ada di dalam sini.”

Dan dengan bekal jawaban sederhana itu aku pergi ke sekolah setiap pagi, berseragam rapi, memikul tas oranye penuh buku, dan mematri segaris senyum lebar di bibirku yang jadi pujian tiap guru. Sedikit tidaknya senyum itu bakal bertahan hingga tengah hari, sampai kata-kata ini mulai lagi menghujam telingaku.

“Malini tidak punya bapak dan ibu!”

“Malini anak pungut!”

Begitu kata mereka tiap hari. Meleleh tangisku mendengar itu. Semua senyum yang dibekali nenek tatkala aku berangkat habis sudah, melebur jadi air mata.

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri!” selalu kalimat hapalan itu yang kupakai sebagai jawaban.

Kawan-kawanku tertawa makin kencang.

“Mana mungkin peri dan bulan bisa beranak manusia? Kamu penipu! Pembohong! Besar mulut!”

Namun tak pernah batinku berkhianat. Aku selalu percaya bahwa ibuku adalah seorang peri yang suatu hari bercengkerama bersama rembulan. Jika tidak demikian, bagaimana mungkin aku punya wajah yang begitu cantik? Kawan-kawan hanya iri kepadaku, sebab mereka tak punya mata biru yang cemerlang, kulit keemasan yang selembut kelopak lotus, dan rambut keriting yang hitam kebiruan. Apalagi jika mereka melihat pinggangku yang berlekuk gemulai. Mereka tentunya iri. Ibu guru pun berkata aku bagaikan bidadari mungil, laksana boneka terbaik yang hidup dan berjalan-jalan.

Malam itu, aku bangkit dari kasur, berjinjit pelan menuruni tangga kayu yang kadang-kadang berkeriut berisik. Aku pergi ke halaman, berlutut, menunggu rembulan muncul. Malam itu harus kupastikan sebuah jawaban. Jika tak ada seorang pun yang percaya padaku, maka biarlah aku sendiri yang melihatnya. Bila tak ada seorang pun yang pernah melihat ayah dan ibuku, maka biarlah aku sendiri yang melihat mereka.

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri.”

Terus kurapalkan kata-kata itu, bagaikan sebuah untaian doa yang khusuk nan dalam.

Rembulan baru saja terbit di cakrawala. Malam itu mesti aku bertanya padadanya. Jika rembulan memang benar ayahku, maka dia akan memberitahu di mana ibuku. Bila ibuku seorang peri, mengapa tak dibawanya aku bersamanya, hengkang dari hiruk pikuk terminal yang penuh begal, titik-titik gelap yang mesum di pasar malam, dan pemuda-pemuda pedagang asongan yang liurnya menetes menatapku.

Lama sudah aku berlutut, namun kuputuskan tak akan bergerak hingga rembulan memberiku jawaban.

Embun jatuh tertabur di rerumputan. Malam melebarkan sayap, memelukkku erat, membuaiku agar kembali dan meringkuk di balik selimut. Tetapi tidak. Aku harus bertanya pada rembulan malam itu juga.

Tatkala rembulan meninggi, menunjukkan betapa tampannya ia di atas cakrawala, sepasang tangan memeluk dadaku.

“Nenek?”

Hanya tawa yang kudapat sebagai jawaban.

“Biarkan saya di sini, Nenek,” pintaku. “Saya ingin bertanya kepada rembulan.”

“Tak perlu kamu bertanya lagi pada rembulan,” nenek mengangkat bahuku, membujukku bangkit. “Rembulan tak akan pernah memberi jawaban. Dia punya misterinya sendiri. Kamulah yang mesti mencari dan menemukannya.”

“Bagaimana saya bisa mencarinya sendiri?”

“Dia tak bisa menjawab pertanyaanmu, tapi barangkali dia bisa menunjukkannya padamu.”

Kemudian kuikuti nenek. Dia berjalan terseok, berbelok di tikungan, melewati rumah-rumah temaram yang lelap di pelukan malam. Masuk di lorong kecil, keluar di ujung pasar, berpapasan dengan orang-orang lusuh, pemuda-pemuda yang liurnya menetes, dan lelaki tirus berambut panjang penjaga pasar. Aku terus mengikuti ke mana nenek melangkah. Dibuntutinya cahaya rembulan, menembus suramnya titik-titik mesum di pojok pasar malam, tempat lelaki dan perempuan beradu napas. Diterobosnya peminum tuak yang mengigau, anjing-anjing kacang tanpa kalung, dan penjaja rokok yang terjaga hingga subuh. Pemungut sampah plastik yang batuk-batuk digerayangi TBC dilewatinya begitu saja. Nenek berjalan hingga jauh. Jauh dari suara terminal dan pasar malam. Jauh dari tapal batas peradaban. Jauh dari segala bebauan manusia.

Di bukit batu itu, nenek lalu berhenti. Dia memeluk pundakku erat, melindungiku dari terpaan angin malam yang tajam.

“Kita sudah sampai, Malini,” begitu nenek berkata.”Di tengah malam, saat bulan purnama berlaga di atas cakrawala.”

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri,” kembali kuingat kalimat hapalan itu. Satu-satunya doa yang bisa kuucapkan hanya itu. Tak ada yang lain. Kalimat itu adalah muara dari segala kenyataan dan imajinasi yang bisa kubayangkan. Entah rasa takjub atau takut, amarah atau lelana, gempita atau lara, maka aku hanya akan mengingat bahwa aku anak rembulan dan peri yang bertemu di bukit batu malam itu.

Lalu nenek menunjuk ke satu arah. Mataku mengikutinya, tepat di bawah cahaya bulan. Ada rumah-rumah gelap gulita, remang-remang mesum di pojok pasar malam, gang-gang sempit dengan tali jemuran yang berseliweran. Di tepian lain kulihat pemuda-pemuda dengan liur menetes, pasangan lelaki dan perempuan, pria tirus berambut panjang dan penjual rokok yang terjaga sampai subuh. Semuanya ada di bawah cahaya rembulan.

“Di sana ibumu melahirkanmu, Malini,” desau nenek. “Di pojok remang pasar malam, di bawah cahaya rembulan. Lalu aku membawamu pulang, sebab malam begitu laknat.”

“Akankah ibu dan ayah menjemputku suatu hari?” aku bertanya.

“Tentu saja,” nenek mengusap kepalaku, membelai rambutku yang keriting berombak. “Sebab kamu adalah anak seorang peri, itulah sebabnya hatimu adalah hati seorang peri, wajahmu yang jelita adalah wajah seorang peri.”

Balas kupeluk nenek. “Aku ingin menjadi peri seperti ibuku.”

“Pastilah kamu bisa,” nenek berujar mantap. “Selama kamu mengikuti cahaya rembulan, sebab gelapnya malam begitu laknat.”

Dan begitulah rasa banggaku kembali. Biarlah mereka berkata apa pun tentang diriku, tentang ayah dan ibuku yang tak pernah mereka kenal. Biarlah orang-orang itu lega dengan semua ejekannya. Pemuda-pemuda itu sibuk mengeringkan liurnya, dan nyonya-nyonya penjaga pojok remang giat menghitung setoran. Aku, Malini, tak hirau lagi pada bujuk rayu atau bualan mereka. Mereka tak mengenal siapa aku, ayah dan ibuku.

Wajar saja. Sebab ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri. [T]


Di suatu malam purnama

di padang ilalang

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Legenda Dusun Batu Megaang di Busungbiu

Next Post

Oki Bujana dan Nuansa Tradisi dalam Electronic Dance Music

Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba

Pendidik, penulis dan peneliti bidang etnopedagogi dan etnoliterasi. Dia menyukai hutan, gunung dan langit malam. Ia bisa disapa di akun Facebook (Arya Lawa Manuaba) atau Instagram @arya_lawa_manuaba.

Related Posts

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails
Next Post
Oki Bujana dan Nuansa Tradisi dalam Electronic Dance Music

Oki Bujana dan Nuansa Tradisi dalam Electronic Dance Music

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co