16 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gadis yang Lahir dari Rembulan

Arya Lawa Manuaba by Arya Lawa Manuaba
December 6, 2020
in Cerpen
Gadis yang Lahir dari Rembulan

Sebuah karya dalam Pameran Mandiri Mahasiswa Seni Rupa Undiksha Singaraja Bali ,2 Mei 2017 || Foto: Mursal Buyung

Cerpen: Arya Lawa Manuaba

___

Sejak aku kanak-kanak, setiap pemuda yang lalu-lalang di pasar malam akan mengajukan pertanyaan yang sama.

“Wahai gadis mungil yang manis, siapakah ayah dan ibumu?”

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri.”

Jawabanku begitu lancar, sebab nenek mengajarkannya kepadaku setiap hari. Harus kuhapalkan tanpa salah. Apabila nyonya-nyonya di pojok pasar itu bertanya lagi tentang ayah dan ibuku, maka begitulah jawabanku. Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri. Jika kukatakan terbalik—ibuku rembulan dan ayahku peri,—maka nenek akan marah besar.

Tak hanya pemuda-pemuda anyir di pasar malam yang terpikat pada wajahku. Orang-orang di terminal juga, para pemungut sampah plastik, dan orang-orang kaya yang mengantri di loket untuk memesan makanan siap saji tanpa keluar dari mobil. Katanya wajahku begitu jelita. Entah apa yang menyebabkannya demikian. Alisku yang tebal dan lentik barangkali? Atau mungkin bentuk mukaku yang bulat berseri. Mungkin pula rambut keritingku yang terjuntai dihela angin malam.

Orang-orang itu tentunya ingin tahu paduan sepasang manusia mana yang mampu menciptakan wajah anak sesempurna itu? Pasti ibunya adalah seorang ningrat, dan bapaknya adalah pemuda terpilih dari keluarga kerajaan yang darahnya tak pernah tercampur dengan orang-orang lusuh.

Tetapi bahkan tatkala aku bertanya kepada nenek, dia selalu berkata hal yang sama.

“Malini cucuku. Ayahmu adalah rembulan dan engkau lahir dari seorang peri.”

Sudah lebih dari tujuh belas tahun jawaban itu kuhapalkan, dan ajaibnya, aku percaya. Tiap kali aku bertanya siapakah ayah dan ibuku, nenek akan menatap rembulan dan mulai berkisah tentang seorang peri yang duduk di atas batu, menunggu cahaya rembulan menjamahnya kala tengah malam. Lama ia menyanyi hingga kurus dan layu, hingga malam menebal dan memekat. Kemudian, rembulan muncul dan membelai peri dengan cahayanya yang dingin. Tatkala aku dilahirkan, peri itu pergi, dipanggil lonceng surga sebab pintu surga akan tertutup di kala fajar. Selesai sudah. Inilah aku kini.

Melihat peri itu pergi, rembulan menjadi pucat dan sedih. Semakin kuat cahaya matahari, semakin rembulan jadi pucat, lalu lenyap di cakrawala barat. Begitu kisah nenek tentang riwayat kelahiranku.

“Benarkah ayahku adalah rembulan dan ibuku seorang peri?” aku bertanya begitu sungguh-sungguh.

Nenek mengangguk dengan mantap, mengimbangi seriusnya nada tanyaku. Jawabannya tak pernah berubah. Samasekali tak ada keragu-raguan.

“Lalu mengapa mereka meninggalkanku di sini?”

“Mereka tidak pernah meninggalkanmu,” nenek menyentuh dadaku yang kala itu mulai merekah remaja. “Mereka selalu ada di dalam sini.”

Dan dengan bekal jawaban sederhana itu aku pergi ke sekolah setiap pagi, berseragam rapi, memikul tas oranye penuh buku, dan mematri segaris senyum lebar di bibirku yang jadi pujian tiap guru. Sedikit tidaknya senyum itu bakal bertahan hingga tengah hari, sampai kata-kata ini mulai lagi menghujam telingaku.

“Malini tidak punya bapak dan ibu!”

“Malini anak pungut!”

Begitu kata mereka tiap hari. Meleleh tangisku mendengar itu. Semua senyum yang dibekali nenek tatkala aku berangkat habis sudah, melebur jadi air mata.

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri!” selalu kalimat hapalan itu yang kupakai sebagai jawaban.

Kawan-kawanku tertawa makin kencang.

“Mana mungkin peri dan bulan bisa beranak manusia? Kamu penipu! Pembohong! Besar mulut!”

Namun tak pernah batinku berkhianat. Aku selalu percaya bahwa ibuku adalah seorang peri yang suatu hari bercengkerama bersama rembulan. Jika tidak demikian, bagaimana mungkin aku punya wajah yang begitu cantik? Kawan-kawan hanya iri kepadaku, sebab mereka tak punya mata biru yang cemerlang, kulit keemasan yang selembut kelopak lotus, dan rambut keriting yang hitam kebiruan. Apalagi jika mereka melihat pinggangku yang berlekuk gemulai. Mereka tentunya iri. Ibu guru pun berkata aku bagaikan bidadari mungil, laksana boneka terbaik yang hidup dan berjalan-jalan.

Malam itu, aku bangkit dari kasur, berjinjit pelan menuruni tangga kayu yang kadang-kadang berkeriut berisik. Aku pergi ke halaman, berlutut, menunggu rembulan muncul. Malam itu harus kupastikan sebuah jawaban. Jika tak ada seorang pun yang percaya padaku, maka biarlah aku sendiri yang melihatnya. Bila tak ada seorang pun yang pernah melihat ayah dan ibuku, maka biarlah aku sendiri yang melihat mereka.

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri.”

Terus kurapalkan kata-kata itu, bagaikan sebuah untaian doa yang khusuk nan dalam.

Rembulan baru saja terbit di cakrawala. Malam itu mesti aku bertanya padadanya. Jika rembulan memang benar ayahku, maka dia akan memberitahu di mana ibuku. Bila ibuku seorang peri, mengapa tak dibawanya aku bersamanya, hengkang dari hiruk pikuk terminal yang penuh begal, titik-titik gelap yang mesum di pasar malam, dan pemuda-pemuda pedagang asongan yang liurnya menetes menatapku.

Lama sudah aku berlutut, namun kuputuskan tak akan bergerak hingga rembulan memberiku jawaban.

Embun jatuh tertabur di rerumputan. Malam melebarkan sayap, memelukkku erat, membuaiku agar kembali dan meringkuk di balik selimut. Tetapi tidak. Aku harus bertanya pada rembulan malam itu juga.

Tatkala rembulan meninggi, menunjukkan betapa tampannya ia di atas cakrawala, sepasang tangan memeluk dadaku.

“Nenek?”

Hanya tawa yang kudapat sebagai jawaban.

“Biarkan saya di sini, Nenek,” pintaku. “Saya ingin bertanya kepada rembulan.”

“Tak perlu kamu bertanya lagi pada rembulan,” nenek mengangkat bahuku, membujukku bangkit. “Rembulan tak akan pernah memberi jawaban. Dia punya misterinya sendiri. Kamulah yang mesti mencari dan menemukannya.”

“Bagaimana saya bisa mencarinya sendiri?”

“Dia tak bisa menjawab pertanyaanmu, tapi barangkali dia bisa menunjukkannya padamu.”

Kemudian kuikuti nenek. Dia berjalan terseok, berbelok di tikungan, melewati rumah-rumah temaram yang lelap di pelukan malam. Masuk di lorong kecil, keluar di ujung pasar, berpapasan dengan orang-orang lusuh, pemuda-pemuda yang liurnya menetes, dan lelaki tirus berambut panjang penjaga pasar. Aku terus mengikuti ke mana nenek melangkah. Dibuntutinya cahaya rembulan, menembus suramnya titik-titik mesum di pojok pasar malam, tempat lelaki dan perempuan beradu napas. Diterobosnya peminum tuak yang mengigau, anjing-anjing kacang tanpa kalung, dan penjaja rokok yang terjaga hingga subuh. Pemungut sampah plastik yang batuk-batuk digerayangi TBC dilewatinya begitu saja. Nenek berjalan hingga jauh. Jauh dari suara terminal dan pasar malam. Jauh dari tapal batas peradaban. Jauh dari segala bebauan manusia.

Di bukit batu itu, nenek lalu berhenti. Dia memeluk pundakku erat, melindungiku dari terpaan angin malam yang tajam.

“Kita sudah sampai, Malini,” begitu nenek berkata.”Di tengah malam, saat bulan purnama berlaga di atas cakrawala.”

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri,” kembali kuingat kalimat hapalan itu. Satu-satunya doa yang bisa kuucapkan hanya itu. Tak ada yang lain. Kalimat itu adalah muara dari segala kenyataan dan imajinasi yang bisa kubayangkan. Entah rasa takjub atau takut, amarah atau lelana, gempita atau lara, maka aku hanya akan mengingat bahwa aku anak rembulan dan peri yang bertemu di bukit batu malam itu.

Lalu nenek menunjuk ke satu arah. Mataku mengikutinya, tepat di bawah cahaya bulan. Ada rumah-rumah gelap gulita, remang-remang mesum di pojok pasar malam, gang-gang sempit dengan tali jemuran yang berseliweran. Di tepian lain kulihat pemuda-pemuda dengan liur menetes, pasangan lelaki dan perempuan, pria tirus berambut panjang dan penjual rokok yang terjaga sampai subuh. Semuanya ada di bawah cahaya rembulan.

“Di sana ibumu melahirkanmu, Malini,” desau nenek. “Di pojok remang pasar malam, di bawah cahaya rembulan. Lalu aku membawamu pulang, sebab malam begitu laknat.”

“Akankah ibu dan ayah menjemputku suatu hari?” aku bertanya.

“Tentu saja,” nenek mengusap kepalaku, membelai rambutku yang keriting berombak. “Sebab kamu adalah anak seorang peri, itulah sebabnya hatimu adalah hati seorang peri, wajahmu yang jelita adalah wajah seorang peri.”

Balas kupeluk nenek. “Aku ingin menjadi peri seperti ibuku.”

“Pastilah kamu bisa,” nenek berujar mantap. “Selama kamu mengikuti cahaya rembulan, sebab gelapnya malam begitu laknat.”

Dan begitulah rasa banggaku kembali. Biarlah mereka berkata apa pun tentang diriku, tentang ayah dan ibuku yang tak pernah mereka kenal. Biarlah orang-orang itu lega dengan semua ejekannya. Pemuda-pemuda itu sibuk mengeringkan liurnya, dan nyonya-nyonya penjaga pojok remang giat menghitung setoran. Aku, Malini, tak hirau lagi pada bujuk rayu atau bualan mereka. Mereka tak mengenal siapa aku, ayah dan ibuku.

Wajar saja. Sebab ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri. [T]


Di suatu malam purnama

di padang ilalang

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Legenda Dusun Batu Megaang di Busungbiu

Next Post

Oki Bujana dan Nuansa Tradisi dalam Electronic Dance Music

Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba

Pendidik, penulis dan peneliti bidang etnopedagogi dan etnoliterasi. Dia menyukai hutan, gunung dan langit malam. Ia bisa disapa di akun Facebook (Arya Lawa Manuaba) atau Instagram @arya_lawa_manuaba.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Oki Bujana dan Nuansa Tradisi dalam Electronic Dance Music

Oki Bujana dan Nuansa Tradisi dalam Electronic Dance Music

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co