17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gadis yang Lahir dari Rembulan

Arya Lawa Manuaba by Arya Lawa Manuaba
December 6, 2020
in Cerpen
Gadis yang Lahir dari Rembulan

Sebuah karya dalam Pameran Mandiri Mahasiswa Seni Rupa Undiksha Singaraja Bali ,2 Mei 2017 || Foto: Mursal Buyung

Cerpen: Arya Lawa Manuaba

___

Sejak aku kanak-kanak, setiap pemuda yang lalu-lalang di pasar malam akan mengajukan pertanyaan yang sama.

“Wahai gadis mungil yang manis, siapakah ayah dan ibumu?”

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri.”

Jawabanku begitu lancar, sebab nenek mengajarkannya kepadaku setiap hari. Harus kuhapalkan tanpa salah. Apabila nyonya-nyonya di pojok pasar itu bertanya lagi tentang ayah dan ibuku, maka begitulah jawabanku. Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri. Jika kukatakan terbalik—ibuku rembulan dan ayahku peri,—maka nenek akan marah besar.

Tak hanya pemuda-pemuda anyir di pasar malam yang terpikat pada wajahku. Orang-orang di terminal juga, para pemungut sampah plastik, dan orang-orang kaya yang mengantri di loket untuk memesan makanan siap saji tanpa keluar dari mobil. Katanya wajahku begitu jelita. Entah apa yang menyebabkannya demikian. Alisku yang tebal dan lentik barangkali? Atau mungkin bentuk mukaku yang bulat berseri. Mungkin pula rambut keritingku yang terjuntai dihela angin malam.

Orang-orang itu tentunya ingin tahu paduan sepasang manusia mana yang mampu menciptakan wajah anak sesempurna itu? Pasti ibunya adalah seorang ningrat, dan bapaknya adalah pemuda terpilih dari keluarga kerajaan yang darahnya tak pernah tercampur dengan orang-orang lusuh.

Tetapi bahkan tatkala aku bertanya kepada nenek, dia selalu berkata hal yang sama.

“Malini cucuku. Ayahmu adalah rembulan dan engkau lahir dari seorang peri.”

Sudah lebih dari tujuh belas tahun jawaban itu kuhapalkan, dan ajaibnya, aku percaya. Tiap kali aku bertanya siapakah ayah dan ibuku, nenek akan menatap rembulan dan mulai berkisah tentang seorang peri yang duduk di atas batu, menunggu cahaya rembulan menjamahnya kala tengah malam. Lama ia menyanyi hingga kurus dan layu, hingga malam menebal dan memekat. Kemudian, rembulan muncul dan membelai peri dengan cahayanya yang dingin. Tatkala aku dilahirkan, peri itu pergi, dipanggil lonceng surga sebab pintu surga akan tertutup di kala fajar. Selesai sudah. Inilah aku kini.

Melihat peri itu pergi, rembulan menjadi pucat dan sedih. Semakin kuat cahaya matahari, semakin rembulan jadi pucat, lalu lenyap di cakrawala barat. Begitu kisah nenek tentang riwayat kelahiranku.

“Benarkah ayahku adalah rembulan dan ibuku seorang peri?” aku bertanya begitu sungguh-sungguh.

Nenek mengangguk dengan mantap, mengimbangi seriusnya nada tanyaku. Jawabannya tak pernah berubah. Samasekali tak ada keragu-raguan.

“Lalu mengapa mereka meninggalkanku di sini?”

“Mereka tidak pernah meninggalkanmu,” nenek menyentuh dadaku yang kala itu mulai merekah remaja. “Mereka selalu ada di dalam sini.”

Dan dengan bekal jawaban sederhana itu aku pergi ke sekolah setiap pagi, berseragam rapi, memikul tas oranye penuh buku, dan mematri segaris senyum lebar di bibirku yang jadi pujian tiap guru. Sedikit tidaknya senyum itu bakal bertahan hingga tengah hari, sampai kata-kata ini mulai lagi menghujam telingaku.

“Malini tidak punya bapak dan ibu!”

“Malini anak pungut!”

Begitu kata mereka tiap hari. Meleleh tangisku mendengar itu. Semua senyum yang dibekali nenek tatkala aku berangkat habis sudah, melebur jadi air mata.

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri!” selalu kalimat hapalan itu yang kupakai sebagai jawaban.

Kawan-kawanku tertawa makin kencang.

“Mana mungkin peri dan bulan bisa beranak manusia? Kamu penipu! Pembohong! Besar mulut!”

Namun tak pernah batinku berkhianat. Aku selalu percaya bahwa ibuku adalah seorang peri yang suatu hari bercengkerama bersama rembulan. Jika tidak demikian, bagaimana mungkin aku punya wajah yang begitu cantik? Kawan-kawan hanya iri kepadaku, sebab mereka tak punya mata biru yang cemerlang, kulit keemasan yang selembut kelopak lotus, dan rambut keriting yang hitam kebiruan. Apalagi jika mereka melihat pinggangku yang berlekuk gemulai. Mereka tentunya iri. Ibu guru pun berkata aku bagaikan bidadari mungil, laksana boneka terbaik yang hidup dan berjalan-jalan.

Malam itu, aku bangkit dari kasur, berjinjit pelan menuruni tangga kayu yang kadang-kadang berkeriut berisik. Aku pergi ke halaman, berlutut, menunggu rembulan muncul. Malam itu harus kupastikan sebuah jawaban. Jika tak ada seorang pun yang percaya padaku, maka biarlah aku sendiri yang melihatnya. Bila tak ada seorang pun yang pernah melihat ayah dan ibuku, maka biarlah aku sendiri yang melihat mereka.

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri.”

Terus kurapalkan kata-kata itu, bagaikan sebuah untaian doa yang khusuk nan dalam.

Rembulan baru saja terbit di cakrawala. Malam itu mesti aku bertanya padadanya. Jika rembulan memang benar ayahku, maka dia akan memberitahu di mana ibuku. Bila ibuku seorang peri, mengapa tak dibawanya aku bersamanya, hengkang dari hiruk pikuk terminal yang penuh begal, titik-titik gelap yang mesum di pasar malam, dan pemuda-pemuda pedagang asongan yang liurnya menetes menatapku.

Lama sudah aku berlutut, namun kuputuskan tak akan bergerak hingga rembulan memberiku jawaban.

Embun jatuh tertabur di rerumputan. Malam melebarkan sayap, memelukkku erat, membuaiku agar kembali dan meringkuk di balik selimut. Tetapi tidak. Aku harus bertanya pada rembulan malam itu juga.

Tatkala rembulan meninggi, menunjukkan betapa tampannya ia di atas cakrawala, sepasang tangan memeluk dadaku.

“Nenek?”

Hanya tawa yang kudapat sebagai jawaban.

“Biarkan saya di sini, Nenek,” pintaku. “Saya ingin bertanya kepada rembulan.”

“Tak perlu kamu bertanya lagi pada rembulan,” nenek mengangkat bahuku, membujukku bangkit. “Rembulan tak akan pernah memberi jawaban. Dia punya misterinya sendiri. Kamulah yang mesti mencari dan menemukannya.”

“Bagaimana saya bisa mencarinya sendiri?”

“Dia tak bisa menjawab pertanyaanmu, tapi barangkali dia bisa menunjukkannya padamu.”

Kemudian kuikuti nenek. Dia berjalan terseok, berbelok di tikungan, melewati rumah-rumah temaram yang lelap di pelukan malam. Masuk di lorong kecil, keluar di ujung pasar, berpapasan dengan orang-orang lusuh, pemuda-pemuda yang liurnya menetes, dan lelaki tirus berambut panjang penjaga pasar. Aku terus mengikuti ke mana nenek melangkah. Dibuntutinya cahaya rembulan, menembus suramnya titik-titik mesum di pojok pasar malam, tempat lelaki dan perempuan beradu napas. Diterobosnya peminum tuak yang mengigau, anjing-anjing kacang tanpa kalung, dan penjaja rokok yang terjaga hingga subuh. Pemungut sampah plastik yang batuk-batuk digerayangi TBC dilewatinya begitu saja. Nenek berjalan hingga jauh. Jauh dari suara terminal dan pasar malam. Jauh dari tapal batas peradaban. Jauh dari segala bebauan manusia.

Di bukit batu itu, nenek lalu berhenti. Dia memeluk pundakku erat, melindungiku dari terpaan angin malam yang tajam.

“Kita sudah sampai, Malini,” begitu nenek berkata.”Di tengah malam, saat bulan purnama berlaga di atas cakrawala.”

“Ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri,” kembali kuingat kalimat hapalan itu. Satu-satunya doa yang bisa kuucapkan hanya itu. Tak ada yang lain. Kalimat itu adalah muara dari segala kenyataan dan imajinasi yang bisa kubayangkan. Entah rasa takjub atau takut, amarah atau lelana, gempita atau lara, maka aku hanya akan mengingat bahwa aku anak rembulan dan peri yang bertemu di bukit batu malam itu.

Lalu nenek menunjuk ke satu arah. Mataku mengikutinya, tepat di bawah cahaya bulan. Ada rumah-rumah gelap gulita, remang-remang mesum di pojok pasar malam, gang-gang sempit dengan tali jemuran yang berseliweran. Di tepian lain kulihat pemuda-pemuda dengan liur menetes, pasangan lelaki dan perempuan, pria tirus berambut panjang dan penjual rokok yang terjaga sampai subuh. Semuanya ada di bawah cahaya rembulan.

“Di sana ibumu melahirkanmu, Malini,” desau nenek. “Di pojok remang pasar malam, di bawah cahaya rembulan. Lalu aku membawamu pulang, sebab malam begitu laknat.”

“Akankah ibu dan ayah menjemputku suatu hari?” aku bertanya.

“Tentu saja,” nenek mengusap kepalaku, membelai rambutku yang keriting berombak. “Sebab kamu adalah anak seorang peri, itulah sebabnya hatimu adalah hati seorang peri, wajahmu yang jelita adalah wajah seorang peri.”

Balas kupeluk nenek. “Aku ingin menjadi peri seperti ibuku.”

“Pastilah kamu bisa,” nenek berujar mantap. “Selama kamu mengikuti cahaya rembulan, sebab gelapnya malam begitu laknat.”

Dan begitulah rasa banggaku kembali. Biarlah mereka berkata apa pun tentang diriku, tentang ayah dan ibuku yang tak pernah mereka kenal. Biarlah orang-orang itu lega dengan semua ejekannya. Pemuda-pemuda itu sibuk mengeringkan liurnya, dan nyonya-nyonya penjaga pojok remang giat menghitung setoran. Aku, Malini, tak hirau lagi pada bujuk rayu atau bualan mereka. Mereka tak mengenal siapa aku, ayah dan ibuku.

Wajar saja. Sebab ayahku adalah rembulan dan aku lahir dari rahim seorang peri. [T]


Di suatu malam purnama

di padang ilalang

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Legenda Dusun Batu Megaang di Busungbiu

Next Post

Oki Bujana dan Nuansa Tradisi dalam Electronic Dance Music

Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba

Pendidik, penulis dan peneliti bidang etnopedagogi dan etnoliterasi. Dia menyukai hutan, gunung dan langit malam. Ia bisa disapa di akun Facebook (Arya Lawa Manuaba) atau Instagram @arya_lawa_manuaba.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Oki Bujana dan Nuansa Tradisi dalam Electronic Dance Music

Oki Bujana dan Nuansa Tradisi dalam Electronic Dance Music

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co