25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arwah Monster

Arya Lawa Manuaba by Arya Lawa Manuaba
February 9, 2019
in Cerpen
Arwah Monster

Lukisan Komang Astiari (croping)

Adikku Nohan tak pernah berhenti mematuk-matukkan jemarinya ke layar ponsel. Bocah empat belas tahun itu sesekali menggoyang-goyangkan ponsel putihnya, lalu memiring-miringkannya. Dia pergi ke halaman, menjulurkan lengannya sambil menggenggam ponsel, berlagak seolah sedang mengintip sesuatu yang menyelinap di balik tanaman pagar.

Itu adalah hari ketiga setelah dia mulai kerasukan jin ponsel. Dia berceloteh sendirian dengan ponselnya, lalu marah-marah. Sudah ratusan kali aku mendengar suara ting tong,—atau jenis suara apalah namanya—keluar dari ponsel itu, dan tatkala itu terdengar, Nohan akan menelantarkan makan siangnya.

“Ibu berjanji. Sekali lagi kau menyisakan makan siangmu, kami akan mengirimmu ke Zimbabwe!” omel ibu suatu hari saat ia memergoki bekas gigitan bocah kelas 9 itu di separuh potongan kentang di piring makannya, terselip di antara tumpukan nasi.

Namun aku yakin walaupun dia dikirim ke Afrika, Nohan akan terbiasa hidup bersama hewan-hewan liar karena setiap hari kerjanya hanya mengendap-endap, menodongkan ponselnya ke arah pohon cemara, membuntuti mobil tetangga, menaiki tembok rumah dan mengejutkan kucing Bu Monez yang sedang bermalas-malasan di singgasana sofa-nya.

“Untuk naik level, aku harus menemukannya di tempat lain!” celetuk adikku. “Chloromon adalah monster langka berbintang lima!”

Aku menghela napas dan melenguh bagaikan seekor kuda nil yang bosan. “Anggap saja aku seekor monster dan tangkap aku dengan ponselmu. Aku monster bintang sepuluh.”

“Kak, ini seru!” Nohan mengalihkan pembicaraan.

“Semua orang tidak suka dengan tingkahmu yang seperti orang gila,” letupku. “Tak bisakah kau hidup normal dan menghabiskan sisa kentangmu?”

Nohan memiringkan telinganya dan mengangkat alisnya. “Hidup normal tanpa game GPS?” baliknya. “Bukankah jauh lebih tidak normal bahwa ada manusia di abad 21 yang sibuk dengan buku-buku tetapi tidak tahu yang namanya GPS?”

Dia menyindirku. Aku tahu. Suatu hari aku bertanya apa itu GPS kepadanya. Aku jurusan antropologi, jadi aku lebih hapal daftar nama prasasti daripada teknologi.

Dan setelah pertengkaran kami yang singkat itu, aku tidak pernah lagi melihat Nohan. Saat itu Rabu sore. Dia menyambar sepeda motornya sepulang sekolah dan pergi tanpa pamitan. Ayah meneleponnya berkali-kali namun tak pernah diangkat. Kami semua sudah bisa memastikan bahwa dia sedang menangkap monster-monster nyentrik di jalanan dan mengurungnya dalam ponsel. Jadi, saluran telepon sedang sibuk karena dipenuhi raungan monster-monster ganas.

“Jika dia pulang nanti, ponselnya akan kukunci dalam brankas selama-lamanya!” ayahku geram. Tadi siang ia menerima telepon dari sekolah bahwa game berbasis GPS dilarang di lingkungan sekolah sehingga orang tua wajib mengingatkan anak-anak mereka. Betapa tidak, sudah banyak kecelakaan dan musibah yang terjadi karena orang-orang sibuk menangkap monster yang bersembunyi di berbagai pelosok kota. Menurut berbagai komentar, monster-monster virtual itu bisa menyeberang jalan, mengintip dari rak baju, bergelayutan di pepohonan, bahkan berenang di air.

Sumpah. Aku tak pernah melihat satu pun batang hidung monster itu di mana pun dengan mataku sendiri.

“Ibu akan memanggang ponsel itu besok,” ibu berseru dari balik pintu. “Nohan sudah keterlaluan.”

Kemarin sepulang kerja, aku melihat seorang lelaki berjalan di pematang sawah sambil menodongkan ponselnya. Dia menginjak-injak beberapa rumpun padi lalu tiba-tiba berteriak kegirangan. Monster itu telah tertangkap dan masuk ke ponselnya.

Teman-teman di kantor menawariku untuk mencoba bergabung dalam tim pencari monster. Mereka membentuk tim pemburu dan berbagi hasil buruan,—begitulah. Well, jika aku diundang untuk sekadar mencicipi sepotong kue pia cokelat buatan Pak Robert di rumahnya, aku pasti akan membawa kaleng untuk membungkus hingga sepuluh potong, tetapi hari itu Pak Robert malah menawariku menjadi wakil ketua tim pemburu monster yang mencari buruan virtual di mana pun, termasuk ke tempat-tempat ekstrem seperti atap gedung, pangkalan militer dan Area 52.

“Game-nya seru banget lho, Rohan!” Pak Robert mulai lagi,—belum sebulan sejak ia berkata kepadaku, “Kue pia cokelat buatanku enak banget lho, Rohan!”

Jadi dengan kata lain, aku akan menjadi seperti Nohan. Bedanya, aku punya pangkat sebagai asisten ketua pemburu, sedangkan Nohan berstatus pemburu ilegal.

Sebuah mimpi buruk. Untung beberapa hari setelahnya kepala kantor memasang pengumuman yang mempensiunkan semua pemburu monster di kantorku dengan sedikit rasa hormat dan prihatin. Sungguh bijak.

Malam tiba. Ibu tak bisa menyentuh sebutir nasi pun, dan ayah termenung di kursi kerjanya sambil memutar-mutar ponselnya. Sudah puluhan kali ayah mencoba menghubungi Nohan, dan aku yakin tekanan darahnya mulai naik. Dia harus menenangkan diri.

Aku berpikir untuk mencarinya dan bertandang ke rumah-rumah pemburu monster lainnya yang seumuran dengannya. Namun mereka terlalu banyak dan dia bisa ada di mana saja,—termasuk di hutan belantara.

Tatkala aku mencoba bicara untuk menenangkan ayah, seseorang berseru dari arah depan rumah.

Bibi Yonita. Wanita setengah gemuk itu menyeret kakinya yang tembam ke pintu rumah kami. Ia berkata histeris dengan wajah belepotan bahwa anaknya, Rheyya, belum menunjukkan tanda-tanda pulang.

“Dia tidak pulang dari siang tadi,” bibi Yonita memasang wajah cemas bukan kepalang. “Aku takut seekor monster telah menyergapnya. Dia berpesan pada suamiku bahwa dia pergi berburu monster siang tadi. Aku samasekali tak habis pikir apa makhluk-makhluk itu benar-benar sedang menyerang kota dan memangsa anak-anak?”

Ibuku melotot menahan tawa. Gaya bicara Bibi Yonita memang tak pernah kelihatan serius. Jika seandainya dapurnya terbakar dan dia minta tolong, tak akan ada yang percaya. Semua orang bakal menganggapnya sedang melucu.

Tetapi kami semua tahu bahwa kekhawatiran kami sangat-sangat beralasan. Rheyya, Nohan, dan mungkin anak-anak lain sebayanya belum pulang hingga saat itu.

Kami memutuskan menelepon polisi pada pukul 10 malam karena hingga saat itu tak ada balasan apa pun dari Nohan atau Rheyya. Polisi datang beberapa belas menit kemudian. Dua orang polisi menyambangi rumah kami dan menanyakan identitas dan meminta foto Nohan. Bibi Yonita memberikan keterangan yang sama tentang hilangnya Rheyya.

Aku mendengar suara ting-tong dari saku salah seorang polisi. Suara ting-tong yang persis sama dengan punya Nohan. Lalu konsentrasiku buyar lagi.

Nohan tak kembali hingga pagi. Ibu tidak masuk kantor dan menangis tanpa henti. Ayah menelepon sekolah dan menanyakan apakah Nohan sudah tiba di sekolah.

Jawabannya belum. Malah, pihak sekolah melaporkan ada sampai seratus anak yang tidak masuk hari itu dan dinyatakan hilang oleh orang tua mereka.

“Gawat,” ayah menutup telepon sambil bermuram durja. “Dunia kiamat. Anak yang hilang terlalu banyak.”

Aku masuk kantor agak terlambat karena harus menenangkan ibu agar tidak berpikir konyol bahwa lusinan monster sedang menginvasi kota dan memanggang anak bungsunya untuk sarapan.

Di kantor, aku melihat kepala kantor mondar-mandir di resepsionis dengan wajah merah padam.

“Maaf saya terlambat, Pak,” sambutku.

Kepala kantor bergegas mendekatiku, mencekal lenganku dan menatapku dengan wajah ngeri. “Saya pikir kau juga bolos, Rohan!” bentaknya lirih. “Ini benar-benar tidak masuk akal. Tidak ada yang masuk kantor hari ini. Semuanya lenyap tak berbekas.”

Aku menghela napas dengan sangat berat sambil memandang sekeliling. Semuanya sepi. Tidak ada Pak Robert, tidak ada pegawai yang berjaga di resepsionis, dan tidak ada orang-orang berlalu-lalang. Aku menyambar sebuah remote televisi di meja tamu dan menyalakan televisi.

Seluruh dunia sedang gempar. Ribuan orang menghilang tanpa bekas setelah memainkan game monster virtual itu. Polisi tidak dapat menemukan jejak apa pun mengenai siapa penculik ribuan orang itu dan apa motif mereka.

Setelah mengusulkan agar kantor benar-benar ditutup walaupun tanpa arahan dari pemerintah, saya dan kepala kantor bergegas pulang untuk menyelamatkan keluarga masing-masing dari serbuan monster-monster yang tak kasat mata tetapi berkeliaran. Tampaknya serbuan itu benar-benar nyata. Buktinya, orang-orang dewasa juga turut hilang. Kepala kantor punya tiga anak, dan ia tak mau terlambat menyelamatkan mereka. Ia mengatakan kepadaku bahwa ia akan meremukkan ponsel-ponsel itu dengan sepatunya sebelum anak-anaknya lenyap disantap monster-monster.

Ayah meneleponku di jalan. Ia berkata bahwa aku harus segera berbalik arah dan menemuinya di tempat praktik Tuan Hualachi, seorang paranormal terkenal di kota kami.

“Mengapa harus ke paranormal?!” desisku. “Ini tidak ada sangkut pautnya,—“

Sambungan terputus. Itu pertanda bahwa ayah tak mau kompromi.

***

Di kediaman paranormal itu, aku beringsut di antara kerumunan orang-orang yang antri untuk mengkonsultasikan masalah yang sama,—anggota keluarga mereka menghilang tanpa jejak. Ada sekitar lima puluh orang dari keluarga-keluarga yang berbeda-beda dan dari kota-kota yang berjauhan menunggu giliran untuk menanyakan di mana lokasi sanak kerabat mereka yang menghilang. Tatkala aku tiba di baris terdepan, beberapa orang malah baru saja datang dan mengantri di barisan paling belakang.

Sambil menunggu antrian, aku memperhatikan gerak-gerik paranormal itu dan apa petunjuknya kepada orang-orang yang mendapat giliran lebih dulu.

“Aku adalah arwah Onyx!” paranormal itu mulai kerasukan dan meliuk-liuk seperti ular. Dia kelihatan begitu menghayati gerak-geriknya. Begitu natural. Begitu nyata dan mistis.

Aku sedikit terpana.

Kemudian, pada giliran berikutnya, arwah bernama Poison Ivy merasuki paranormal itu, lalu berturut-turut arwah bernama Lalamon, Ogress, Golemn, dan Shell yang membuat tubuh Tuan Hualachi menggeliat-geliat bebas tanpa derajat kewarasan. Semua orang menjadi semakin ketakutan saat paranormal itu menunjukkan gerak-gerik yang berbeda-beda saat arwah-arwah yang berbeda merasukinya. Kadang ia menjilat-jilat tangannya seperti kucing, mengepak-ngepakkan lengannya seperti merpati, dan beringkrak-jingkrak seperti kera.

Walau bagaimana pun, semua nama arwah itu kedengaran asing. Aku berpikir tampaknya mereka bukan arwah-arwah lokal. Tidak ada kuntilanak centil, wewe gombel berjerawat, atau leak bali berjanggut. Aku sempat khawatir jangan-jangan Nohan benar-benar telah diculik arwah luar negeri dan dibawa ke Zimbabwe.

“Sekarang giliran kita,” bisik ayah. Aku menarik napas. Kami maju ke depan si paranormal. Paranormal itu berpakaian hitam legam, memegang sebuah cermin, dan konon dari cermin itu dia bisa melihat di mana orang yang hilang berada. Sebuah pedupaan dengan asap berbau menyan yang menyengat menjejal hidungku. Paranormal itu membubuhi cerminnya dengan bunga-bunga, mencelupkannya ke dalam air yang telah dikomat-kamitkan, lalu merajangnya di atas bara kemenyan.

“Ting-tong!”

Suara yang tidak asing. Telingakuku langsung jadi tajam. Suara itu keluar dari ponsel milik si paranormal. Lelaki setengah tua dengan janggut tanggung itu menghentikan ritualnya, menaruh cermin ajaibnya, dan memeriksa ponselnya.

Aku mengamati setiap mikrosekon gerakannya, seperti sebuah kamera HD perekam film.

“Hm…,” gumamnya sambil mengangguk-anggukkan kepala sambil menatap tajam ke arah ponselnya. “Sore ini aku harus memeriksa hutan di belakang rumah.”

Beberapa saat kemudian, badan paranormal itu tiba-tiba gemetar. Matanya kelayapan dan tangannya mencakar-cakar tikar tempatnya duduk. Ibuku sampai ketakutan dibuatnya.

“Dia sedang trance,” bisik ayah ke telinga kananku.

Aku memutar mata dengan bosan. Mengapa semua paranormal harus melakukan gerak-gerik stereotype seperti itu sejak zaman dahulu kala?

Kemudian paranormal itu kembali terdiam. Kali itu matanya menatap lurus ke depan. Gigi-gigi bagian atasnya terlihat menyembul dari mulutnya. Ia tampak seperti kelinci. Aku menduga bahwa yang merasukinya adalah sejenis arwah kelinci hutan, armadilo, cerpelai atau bajing yang tahu di mana adikku dan ribuan orang lainnya tersesat.

“Namaku Pikacho!” pekik paranormal itu tiba-tiba, masih dalam keadaan trance. Suaranya berubah jadi melengking tinggi seperti decit tikus. “Apa yang kalian ingin tanyakan?”

Aku membuka mulutku. Terbelalak. Pikacho?

“A… anu—,” ayah gelagapan. “Anak kami hilang dari kemarin.”

Paranormal yang kerasukan makhluk bernama Pikacho itu mengendus-endus layaknya marmut. Sejurus kemudian, ia berkata, “Anakmu diculik oleh Taugemon. Dia sangat tangguh.”

“Apa yang bisa kami lakukan?” ayah mendesak.

Aku mencubit lengan ayah. “Yah,”desisku curiga. “Ini sinting.“

“Diam kamu!” ayah memotong kata-kataku dengan sangar. “Nanti proses trance-nya terganggu!”

Lalu arwah Pikacho memberikan petunjuk bahwa ayah harus mempersembahkan beberapa buah pir manis dan beberapa batang white chocolate untuk santapan arwah-arwah itu agar tenang dan mau mengembalikan orang-orang yang hilang.

Aku menepuk kepalaku. Apabila bapak kepala kantor saat itu ada di sana, aku pasti langsung menariknya keluar dan mengajaknya makan white chocholate dan buah pir sungguhandi warung nongkrong bersama ketiga anaknya.

Dengan semakin kuat, aku menggoyang-goyang badan ayah. Beliau sudah terlampau khusuk mendengarkan celoteh arwah Pikacho.

Detik berikutnya, aku bangkit sambil mengingat-ingat. Semua nama arwah itu pernah kudengar sebelumnya. Otakku langsung berputar, namun satu-satunya tempat yang bisa kuingat di mana semua arwah itu pernah muncul adalah di televisi, kala aku kanak-kanak.

Aku yakin, besok paranormal itu juga akan lenyap menyusul mereka yang sudah menghilang, menjadi korban arwah Pikacho.

Dan masalah Nohan—ah, mungkin aku hanya perlu datang ke game center terdekat, tempat semua monster itu berkumpul dan memakan korban mereka satu per satu. Hanya saja aku perlu bergegas agar mereka tak keburu memakan otak adikku Nohan hingga tak tersisa.

Mangupura, 28 Juli 2016.

Tags: Cerpen
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

“Jaje Cerorot”: Dorong Pantatnya, Menyembul Ujungnya, Kulum lalu Kunyah

Next Post

Belajar dari Guru Asing Mengajar

Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba

Pendidik, penulis dan peneliti bidang etnopedagogi dan etnoliterasi. Dia menyukai hutan, gunung dan langit malam. Ia bisa disapa di akun Facebook (Arya Lawa Manuaba) atau Instagram @arya_lawa_manuaba.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Guru Asing Mengajar

Belajar dari Guru Asing Mengajar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co