3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival ke Uma IV: Anak-anak Bermain Lumpur di Subak Pamo, Cau, Marga-Tabanan

Amrita Dharma Darsanam by Amrita Dharma Darsanam
September 12, 2023
in Khas
Festival ke Uma IV: Anak-anak Bermain Lumpur di Subak Pamo, Cau, Marga-Tabanan

Anak-anak bermain lumpur pada Festival ke Uma IV di Tabanan | Foto: Amrita

LIHATLAH, betapa senang anak-anak bermain lumpur di tengah sawah, berlarian di pematang dan berlomba dengan tawa riang.

Di Subak Pamo, Tempek Nangka, di wilayah Banjar Cau, Desa Tua, Kecamatan Marga, Tabanan, anak-anak itu mengikuti Festival ke Uma IV yang diinisiasi Sanggar Burat Wangi, Tabanan, Minggu 10 September 2023.

Anak-anak yang bermain di tengah sawah yang sejuk dan asri itu berasal dari sejumlah sekolah dan sanggar anak-anak. Antara lain, anak-anak Sanggar Buratwangi, Wintang Rare dan Sanggar Abhinaya Candrakanti selaku penyelengara. Juga melibatkan anak-anak TK Widya Bhakti Desa Tua dan siswa SDN 1 Tua.

Ada juga remaja dari SMK 3 Marga serta ibu-ibu dari Paiketan Krama Istri (Pakis) Desa Cau dan Desa Tua.

Program-program acara dalam festival ini memang dimaksudkan untuk mendekatkan anak-anak pada alam di sekitarnya, yakni alam pedesaan, kebun dan persawahan.

Pagi-pagi mereka jalan “Lintas Pedusuanan” dengan rute Subak Kedokan, Subak Pamo, Subak Klaci, Subak Nangka, hingga sampai di Objek Wisata Kayu Putih di Banjar Bayan, Desa Tua.

Setelah menempuh waktu selama satu jam, peserta kemudian beristirahat lalu disuguhkan makanan ringan berupa bubur kacang hijau. Sambil mendengarkan suara Gender Wayang yang dimainkan penabuh wanita Sangar Buratwangi, para peserta tampak menikmati suasana alam persawahan.

Anak-anak bermain lumpur pada Festival ke Uma IV | Foto: Amrita

Sekretaris Desa (Sekdes) Tua, Ni Nyoman Sri Artini, kemudian membuka Festival Ke Uma ke-4 ini dengan penuh semangat.

“Saya memberikan apresiasi atas terselenggaranya Festival Ke Uma ini. Ajang ini dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi generasi muda terhadap sawah,” kata Sri Artini.

Sri Artinia mengatakan, festival ini sangat penting sebagai untuk melestarikan budaya agraris di Pulau Dewata. Apalagi, perkembangan jaman yang beitu cepat, anak-anak selalu bermain HP hingga melupakan  permainan tradisional.

“Festival Ke Uma ini adalah cara untuk memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Permainan tradisional dapat meningkatkan rasa persaudaraan, membangun rasa kerjasama, dan solideritas. Semoga ini bisa berlanjut dan dapat menghibur,” ucapnya

Acara dilanjutkan dengan “Mabalap Megandong” atau lomba menggendong teman sembari berlari untuk anak-anak TK dan SD di areal sawah.

Lomba paid upih di tengah sawah | Foto: Amrita

Lomba ini mengundang gelak tawa pengunjung festival ketika ada anak yang menggendong temannya yang lebih besar, sehingga tak kuat menggendong, apalagi berlari.

Demikian pula ketika lomba “Negul Saang Aji Tali Kupas” (mengikat kayu bakar dengan pelepah pidsang kering). Disamping dituntut mengetahui simpul, para peserta juga dituntut bisa “Nyuun Saang” (menjunjung kayu bakar) sambil berlari.

Ketika diputar musik, para peserta wajib goyang, namun tetap menjaga kayu bakar agar tidak jatuh. Menjaga kesimbangan menjadi kunci dari lomba ini.

Lomba yang menjadi perhatian pengunjung adalah “Paid Upih” (menarik pelepah pinang yang di atasnya duduk seorang anak). Paid upih merupakan lomba berpasangan yang dilakukan pada sawah yang berisi air dan penuh lumpur.

Walau demikian, permainan ini banyak peminatnya, sehingga panitia membagi menjadi dua kategori, yakni anak SD dan anak SMP, untuk putra dan putri. Para peserta wajib menarik upih mulai dari pematang timur hingga ke pematang barat, lalu kembali ke pematang timur.

Namun, saat kembali ke pematang timur penarik dan yang ditarik harus bertukar, sehingga sama-sama merasakan antara menarik dan ditarik untuk menumbuhkan rasa solideritas dam toleransi. 

Lomba “Paid Upih” bahkan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung festival. Anak-anak yang sebelumnya menolak ikut lomba “Pai Ubih”, setelah melihat teman-temannya asyik bermain lumpur, mereka akhirnya ingin menjadi peserta.

Karena terbatasnya alat dan waktu, hanya sebagian anak yang bisa ikut sebagai peserta. Walau demikian, tak menyurutkan niat mereka untuk terjun ke sawah bermain lumpur. Mereka tampak senang ketika berada di lumpur.

Mereka lari, berteriak, berguling sambil menyanyi hingga tubuhnya berwarna coklat kehitam-hitaman karena berlumuran lumpur.

Komunitas Budang Bading Badung pentas di kubu kandang sapi | Foto: Amrita

Panitia kemudian memaksa mereka untuk beristirahat, dan membersihkan badannya dengan air yang mengalir di subak itu. Para peserta juga pengunjung yang hadir di festival itu kemudian disuguhkan bubur Bali sebagai pengganti makan siang.

Suasana saat itu sungguh menarik. Ada yang makan bubur di pematang sawah, di kubu, dibawah pohon kelapa, di tegalan dekat tanman ketela ada pula yang makan bubuir di Bale Subak, seperti yang dilakukan oleh para petani tempo dulu ketika usai membajak sawah, menanam padi, panen padi atau aktivitas di sawah lainnya.

Festival kemudian jeda, para peserta dan pengunjung lalu pulang.

Festival Ke Uma kembali berlanjut pada pukul 15.00 Wita dengan kegiatan workshop Menulis Cerita yang menghadirkan Santi Dewi, seorang penulis sebagai narasumber.

Workshop ini diikuti oleh peserta para remaja dengan menusli cerita singkat untuk di Instagram ataupun Facebook. Bersamaan dengan itu pula, anak-anak setingkat SD mengikuti permainan tradisional Megandu yang dipandu oleh I Wayan Weda. Penggali dan pelestari permainan Megandu ini mengawali dengan sejarah dan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tersebut, lalu mempraktekan sebara langsung.

Anak-anak yang terlibat begitu banyak, sehingga dari awal sampai akhir taka da anak yang bisa digandu. Tokoh seni ini lalu membagi anak-anak menjadi dua, sesuai dengan jumlah bola gandu yang ada.

Permainan menjadi seru, karena anak yang bertugas sebagai pencari digandu (dilempari bola gandu) berkali-kali. Bahkan, setelah permainan usai masih ada yang megandu, walau mereka lari ke luar arena.

Permainan megandu | Foto: Amrita

Pemandangan itu ternyata menarik perhatian para Sekaa Teruna yang hadir. Mereka kemudian kompak ikut sebagai peserta Megandu. I Wayan Weda pun memberikan kesempatan, sehingga permainan Megandu dengan peserta para remaja itu berlangsung seru.

Hari semakin sore, pengunjung festival khususnya anak-anak lalu diajak mengikuti workshop membuat mainan dengan kayu bekas.

Workshop ini diberikan oleh seniman Jong Santiasa Putra bersama teman-temannya di Kacak Kicak Puppet Theatre. Para peserta diperkenalkan membuat mainan berupa ikan dengan berbagai jenis.

Bahannya, berupa kayu bekas dan tumbuhan yang ada disekitar sawah. Setelah ikan-ikan itu terbentuk, semua peserta kemudian dilibatkan dalam pementasan teater yang menarik dan menghibur.

Anak-anak mengikuti workshop membuat boneka dari kayu alam | Foto: Amrita

Para peserta tak hanya diajak kreatif untuk menciptakan sebuah karya seni, tetapi dituntut unruk mengenal lingkungannya sendiri.  

Komunitas Budang Bading Badung yang menampilkan musikalisasi puisi sebagai sajian pamungkas dalam festival itu.

Sajian seni modern ini dikemas unik yang meminjak tempat di sebuah “Kubu” (bangunan mirip rumah sederhana, bangunan khas di subak di Bali).

Penonton yang hadir digiring ke “Kubu” munggil itu untuk bisa menyaksikan sajian seni yang penuh makna itu. Walau hari semakin gelap, namun penonton tetap setiap menyaksikan sajian seni ini hingga yang terkashir.

Saat itu, komunitas yang berdomisili di Kabupaten Badung ini menampilkan delapan musikalisasi pusisi secara beruntun.

Sekretaris Panitia Pelaksana Festival Ke Uma ke-4, I Gede Gita Wiastra mengatakan, Festival Ke Uma ini merupakan program nonprofit yang dikelola secara swadaya, serta melibatkan partisipasi warga.

Jong Santiasa Putra mengajar anak-anak membuat boneka dari kayu | Foto: Amrita

 “Ada begitu banyak permainan yang kemudian mejadi seni pertunjukan tercetus di Uma. Permainan ini dilakukan tatkala rehat usai menanam padi di sawah. Mereka memainkan hal-hal yang ada di Uma untuk melepas lelah agar bisa bekerja kembali,” katanya.

Festival Ke Uma ini sebagai cara untuk mengenang itu kembali, sekaligus memberikan pengalaman kegiatan di sawah yang belakangan ini semakin ditinggalkan oleh anak-anak.

Meski mereka tidak menjadi petani, tetapi memiliki pengetahuan dan pengalaman di sawah akan menjadi bekal mereka ke depan.

“Karena itu, Festival Ke Uma mengingatkan kembali, bahwa Uma (sawah), selain sebagai tempat bekerja, juga jadi tempat berkumpul dan bermain,” katanya. [T]

Reporter: Amrita Dharma
Penulis: Amrita Dharma
Editor: Made Adnyana

Tags: anak-anakfestivalFestival ke Umapertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gede Rimbawa: Petinju, Pelatih, dan Orang Tua

Next Post

Komunikasi dan Kekuasaan yang Tak Pernah Senyum

Amrita Dharma Darsanam

Amrita Dharma Darsanam

Mahasiswa ISI Denpasar

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Komunikasi dan Kekuasaan yang Tak Pernah Senyum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co