12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-Anak Reformasi: Manusia Baru Indonesia

Jaswanto by Jaswanto
August 4, 2023
in Opini
Anak-Anak Reformasi: Manusia Baru Indonesia

Ilustrasi Tatkala.co

“Mungkin kita kurang menyadari, bahwa setelah tahun 1945 (atau setelah tahun 1942) di tanah air kita tumbuh pula generasi yang kini telah menjadi manusia-manusia baru Indonesia. Mereka yang berumur 22-23-24 tahun (sampai 30 tahun).”—Soe Hok Gie, Generasi yang Lahir Setelah Tahun Empat Lima.

MANUSIA BARU INDONESIA bagi Soe Hok Gie adalah mereka yang lahir setelah tahun ’45, bukan mereka (Pujangga Baru) yang takjub seperti kanak-kanak ketika melihat horizon baru dan kemudian bertengkar sesama mereka—apakah mereka mau ke Barat atau ke Timur?

Generasi baru itu juga bukan mereka para “pemuda bambu runcing” yang percaya bahwa dengan vitalitas dan semangat empat-lima, semua soal dapat diselesaikan. Tetapi, generasi baru itu ialah mereka yang dididik dalam optimisme-optimisme setelah penyerahan kedaulatan, mitos-mitos tentang kemerdekaan dan harapan-harapan besar tentang “kejayaan Indonesia di masa depan”. Mereka juga yang dibius oleh semangat “progresif revolusioner” dari periode Sukarno.

Tetapi generasi ini juga yang mengalami kehancuran daripada cita-cita itu. Pendidikan yang merosot dengan cepat, kehancuran struktur politik, kebangkrutan ekonomi dan demoralisasi masyarakat dalam segala bidang. Semua ini membekas dalam dada mereka masing-masing, dan akan mewarnai Indonesia selama dua-tiga puluh tahun yang akan datang. Dan ya, mereka inilah yang kemudian menjadi antek-antek Orde Baru—beberapa masih hidup sampai sekarang.

Sejak Indonesia mengalami hyperinflasi pada 1967, saat Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita hanya senilai $53; saat negara ini begitu melarat dan menjadi negara paling miskin di Asia; saat itulah, MPRS mencabut mandat Sukarno (Orde Lama) sebagai presiden dan menunjuk Soeharto (Orde Baru) sebagai pejabat presiden.

Pada tahun setelah goro-goro G30S-PKI itu, menurut data yang dirilis oleh World Bank, pada 1967 Indonesia berada di peringkat ke-3 sebagai negara termiskin di dunia (peringkat 1 di Asia), tepat satu tingkat di bawah Mali dan sejajar dengan negara-negara Afrika. Kita lebih miskin dari India, Vietnam, bahkan negeri konflik macam Afghanistan. Gejolak politik dan ekonomi yang berujung pada kemiskinan membuat rezim Orde Lama dipaksa mundur dan diganti dengan rezim Orde Baru.

Dan pada Juli 1997, setahun setelah saya dilahirkan, krisis keuangan melanda hampir seluruh Asia Timur. Hal ini mengakibatkan negara-negara ASEAN mengalami kekacauan dan kepanikan, termasuk Indonesia.

Nilai rupiah anjlok terhadap dolar Amerika yang berfluktuasi Rp. 12.000 – Rp. 18.000 dari Rp 2.200 pada awal tahun. Pada 1998 pertumbuhan ekonomi RI terkoreksi -13,1%. PDB per kapita ikut terjun ke angka $572, nominal tersebut seolah membawa perekonomian RI kembali ke tahun 1980 ($673) atau mundur hingga 18 tahun.

Di tengah situasi yang genting itu, pemerintah Orde Baru justru menaikkan tarif listrik dan bahan bakar minyak. Ekonomi rakyat semakin terpuruk. Soeharto menyiasati situasi rawan pangan dengan kampanye makan tiwul—yang disampaikannya melalui televisi. Kekacauan di mana-mana. Hingga 21 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya—“Ora dadi presiden ora pateken,” kata Soeharto. Sejak saat itulah, B.J. Habibie—yang notabene sebagai Wakil Presiden Soeharto—kemudian mengambil alih kursi kepresidenan.

Setelah 1998 (runtuhnya Orde Baru), Indonesia memulai masa yang baru; masa reformasi; masa kebebasan demokrasi yang didamba-dambakan setelah 32 tahun diperintah rezim Soeharto—yang otoriter dan menyeramkan. Masa kami (anak-anak reformasi) tumbuh dan berkembang menjadi manusia-manusia baru Indonesia—manusia harapan masa depan Indonesia.

Tumbuh-berkembang dan manusia yang diharapkan

Berbeda dengan generasi yang lahir setelah tahun ’45 yang tumbuh dan berkembang oleh semangat “progresif revolusioner” dari periode Sukarno (Orde Lama) dan kemudian menciptakan periode baru bernama Orde Baru dengan segala peristiwanya, kami tumbuh dan berkembang di era teknologi digital dengan sebebas-bebasnya. Oleh karena itulah kami dijuluki Generasi Milenial (mereka yang lahir -1996) dan Generasi Z (mereka yang lahir 1997-2012).

Jika generasi yang lahir setelah ‘45 tumbuh dan berkembang bersama pendidikan yang merosot dengan cepat, kehancuran struktur politik, kebangkrutan ekonomi dan demoralisasi masyarakat dalam segala bidang, kami yang lahir setelah 1998 (atau dua tahun sebelumnya) tumbuh dan berkembang lebih daripada itu.

Kami tumbuh dan berkembang bersama digdayanya imperialisme kultural Barat, perusakan lingkungan, disparitas kemakmuran, dehumanisme, lunturnya ideologi dan identias bangsa, ketimpangan pembangunan teknologi dan ilmu pengetahuan, ledakan penduduk, polarisasi, kekakuan sistem negara-negara, ancaman perang nuklir, terorisme, apatisme, korupsi, tumpulnya hukum ketika berhadapan dengan kelompok “elit”, sempitnya dalam berpikir, lunturnya keyakinan terhadap agama, taklid buta, klaim kebenaran, pornografi, dan media sosial yang memberikan panggung bebas kepada siapa pun—panggung bebas itu mempersilakan kami untuk merayakan apa saja; dan mempertaruhkan jati diri tanpa tedeng aling-aling.

Tidak hanya itu, kami juga tumbuh dan berkembang bersama tergusurnya para ahli (kepakaran) dan problematika kebenaran (truth claim dan salvation claim). Kami tumbuh dan berkembang nyaris tanpa sosok teladan.

Dan ya, seperti ungkapan klise tentang generasi masa depan, kami, generasi reformasi, generasi baru, manusia-manusia baru Indonesia, juga digadang-gadang akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia di masa depan.

Kami diharapkan meneruskan spirit perjuangan para pendahulu di tengah-tengah problematika yang semakin kompleks. Katanya, kami punya saham politik yang besar di negeri ini. Ya, secara jumlah, kami hampir setengah populasi. Oleh karena itu, katanya, kami punya kewajiban besar untuk menggalang proyek bersama agar bangsa ini semakin hebat dan gemilang di masa depan (keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).

Tapi, untuk mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” tentu tak semudah memecahkan telur dan mendadarnya. Banyak hal harus dirubah; banyak hal harus dipersiapkan; dan banyak hal yang harus perjuangkan.

Sulit rasanya melakukan perubahan di tengah problem kebangsaan yang seambrek tanpa didukung kualitas manusia, infrastruktur, modal-material, dan dukungan moral para tokoh terdahulu—yang peduli akan kemajuan Indonesia.

Apalagi masyarat Indonesia masih banyak yang memelihara pikiran feodal warisan penjajah seperti yang dikatakan Sjahrir dalam Perjoeangan Kita (sebuah pamflet yang ditulis pada akhir Oktober 1945), “…meskipun kita telah berpuluh tahun berada di dalam lalu-lintas dunia modern, meskipun masyarakat negeri kita telah sangat dirubah dan dipengaruhi olehnya, akan tetapi di seluruh kehidupan rakyat kita terutama di desa, alam kehidupan serta pikiran orang masih feodal”.

Bukan hanya soal mental feodal yang masih bersarang dalam kepala orang Indonesia, lebih daripada itu, secara keseluruhan, kualitas manusia Indonesia memang harus segera di-upgrade.

Kemajuan suatu bangsa tidak lagi (hanya) ditentukan oleh penguasaan sumber daya alam berlimpah. Banyak negara membuktikannya. Korea Selatan, misalnya. Negara tersebut dikenal sebagai negara yang sangat miskin sumber daya alam. Tapi, pada 2021, pendapatan per kapita negara ini mencapa 34.998 dollar AS, yang berarti meningkat 20 kali lipat dibandingkan dengan tahun 1980 yang hanya 1.715 dollar AS. Singapura juga demikian. Negara ini, di samping ukurannya kecil, juga miskin sumber daya alam. Namun, pada 2021, pendapatan per kapitanya sudah mencapai 72.794 dollar AS dan menjadikan Singapura sebagai salah satu negara termaju di dunia.

Artinya apa, kemajuan Korea Selatan, dan tentu negara maju lain, tidak lepas dari peran kualitas sumber daya manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan dan menguasai teknologi. Sebab, pengetahuan dan keahlian tidak dipunyai oleh sumber daya alam. Pengetahuan dan keahlian hanya (dapat) dimiliki oleh manusia. Lantas, bagaimana cara meng-upgrade manusia-manusia baru Indonesia ini supaya dapat berkontribusi dalam kemajuan bangsa dan benar kelahiran mereka memang diharapkan?

Dalam dokumen Rancangan Akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 tahapan pembangunan modal manusia meliputi pemenuhan pelayanan dasar, percepatan pembangunan SDM berkualitas dan inklusif, penguatan daya saing SDM, dan perwujudan manusia Indonesia yang unggul. Mengenai hal-hal besar semacam ini dan saya sulit untuk menjelaskan, lebih baik Anda baca sendiri.

Dan jika dalam Perjoeangan Kita Sjahrir berpendapat bahwa generasi yang pantas memimpin Indonesia setelah Revolusi ‘45 adalah mereka yang bersih dari noda-noda fasis Belanda dan Jepang, maka, menurut saya, pemimpin Indonesia di masa depan adalah generasi yang harus bersih dari didikan “penjajah” bernama Orde Baru.

Generasi-genari baru inilah yang bertugas untuk memberantas generasi tua (Orde Baru) yang mengacau—yang dalam bahasanya Gie, “Menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua”.

Benar, mereka memang pejuang-pejuang reformasi yang gigih. Tapi kini mereka telah mengkhianati apa yang mereka perjuangkan—sekali lagi, meminjam bahasa Gie, “mereka generasi tua yang harus ditembak di Lapangan Banteng”.

Karena generasi baru ini menjadi harapan masa depan, maka jangan sampai generasi baru ini malah menjadi seperti apa yang dikatakan oleh Ahmad Wahib dalam catatan hariannya: “… kebanyakan intelektual telah menjadi teknokrat alias sekrup-sekrup dalam roda pemerintahan… Kaum intelektual pada gilirannya dipergunakan lagi oleh pemerintah untuk membela beleidnya atau sebagai solidarity marker… Ternyatalah, pemerintah memang berusaha memagar dirinya dengan argumentasi intelektual”.

Atau “… apakah setelah lepas dari penindasan lama, kaum intelektual Indonesia tidak terjerat dalam bentuk-bentuk penindasan baru yang halus; dan apakah semuanya perlu meninggalkan profesinya sebagai profesional rebels?”

Maka “karena itu kita kaum intelektual perlu membina suatu moral movement yang radikal dinamis dan puritan di kalangan intelektual bebas (seniman, mahasiswa, dosen, para ahli yang mempunyai sasaran kontrol, pemerintah (sic), di samping kekuatan-kekuatan masayarakat sendiri).”

Dan juga jangan sampai menjadi seperti apa yang dikatakan Gie tentang generasi kemerdekaan: “Dengan beberapa kecuali, generasi kemerdekaan ini adalah generasi yang tidak siap untuk mengambil alih tanggungjawab kemasyarakatan. Guru-guru yang tidak cukup terdidik, sarjana-sarjana yang pengetahuannya sepotong-sepotong atau polisi yang tidak tahu tugasnya sebagai penegak hukum. Pada akhirnya mereka akan berpaling lagi pada segelintir yang punya kemampuan dalam bidangnya dan pola masyarakat yang separuh terdidik dengan trials and errors-nya masih akan berlangsung terus.”

Manusia Intelektual Modern

Generasi baru, manusia-manusia baru harus menjadi “Manusia Intelektual Modern”—manusia yang berkeyakinan atas Tuhan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan (memanusiakan manusia), sadar keberlangsungan lingkungan hidup, berbudaya, berkesenian, bersarta, bersatu, berdemokrasi, berkeadilan sosial, berdaulat atas pangan, dan juga terus berinovasi di bidang IPTEK.

Sedangkan untuk ukuran “manusia modern” itu sendiri, dalam esai Mahbub Djunaidi yang bertajuk Modern (1991), seorang guru besar sosiologi Universitas Harvard, Alex Inkeles merumuskan “9 macam potongan orang modern”. Pertama, mempunyai sifat terbuka terhadap perubahan-perubahan. Kedua, mampu mempunyai opini terhadap masalah-masalah yang timbul di luar lingkungannya.

Ketiga, orientasinya tidak ke masa lampau melainkan ke masa sekarang dan masa depan. Keempat, menganggap planning dan organisasi merupakan cara menjalankan kehidupan ini. Kelima, punya keyakinan bisa mempengaruhi, bukannya dipengaruhi oleh lingkungan sekelilingnya.

Keenam, mempunyai kepercayaan dalam diri—yang bisa diperhitungkan dan bukannya ditentukan oleh tingkah laku orang per orang ataupun nasib-nasiban. Ketujuh, orang yang menghargai dirinya dan nilai orang lain. Kedelapan, punya keyakinan akan faedah ilmu pengetahuan dan teknologi, bukannya ramalan dan angan-angan. Sembilan, punya kepercayaan terhadap apa yang disebut distributive justice.

Di samping rumusan sosiolog Harvard, ada pula rumusan lain yang disebut “generasi jaguar”. LB Moerdani menyebut 6 rumusan yang menjadi syaratnya: Pertama, punya jiwa jantan, tidak suka keroyokan. Kedua, aktif, kreatif, baik bagi diri sendiri maupun pendorong teman-temannya, cepat dan cermat mengambil keputusan. Ketiga, gembira dan tidak cengeng dan optimis. Kata Mahbub, “mereka yang senantiasa berdiri di belakang punggung orangtuanya tidak akan tergolong barisan ini.”

Keempat, unggul, pandai dan berwawasan luas. Kelima, akrab dengan lingkungan, senantiasa menghormati orang lain tanpa membeda-bedakan kedudukan sosialnya. Keenam, radikal, berakar, tidak congkak dan mentang-mentang. Mengutip Mahbub lagi, mereka yang punya potongan generasi si Emon dan si Boy, yang dibesarkan oleh fasilitas orang tuanya hanya akan melahirkan generasi acuh tak acuh, akan dengan sendirinya tersingkir oleh seleksi dan persaingan terbuka.

Boleh jadi, rumusan Alex Inkeles dan “generasi jaguar” ini jika digabungkan jadi satu akan membuahkan generasi penerus yang demokratis, berpribadi, berkiblat pada kebenaran ilmu, bukan kebenaran politik. Generasi yang tidak hanya mengenal bangsanya, tapi juga mengenal agamanya (kata Gandhi, “dengan menyebut agama, yang saya maksudkan bukan secara formal, atau secara adat, melainkan sesuatu yang mendasari semua agama, yang akan membawa kita bertemu muka dengan Sang Pencipta”) dan kenal jalur ilmunya. Dan, sebisa mungkin, harus bisa berjalan di tiga jalur ini secara bersamaan.[T]

Sagara Kreti dan Geliat Cipta Seni Hari Ini
Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére
Pemikiran Soedjatmoko tentang Pendidikan Abad ke-21 dan Masa yang akan Datang
Gagal Paham Pancasila
Benci Tapi Rindu : Kaum Reformis dan Upaya Menghidupkan Orde Baru
Tags: IndonesiaOrde BaruOrde LamaReformasiSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sebab Kekalahan Timnas Indonesia U-17 Vs Barcelona Juvenil A

Next Post

Sapi Gerumbungan: Wujud Rasa Syukur Petani Buleleng di Musim Panen

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Sapi Gerumbungan: Wujud Rasa Syukur Petani Buleleng di Musim Panen

Sapi Gerumbungan: Wujud Rasa Syukur Petani Buleleng di Musim Panen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co