24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sagara Kreti dan Geliat Cipta Seni Hari Ini

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
July 16, 2023
in Opini
Sagara Kreti dan Geliat Cipta Seni Hari Ini

Jero Penyarikan Duuran batur/IK Eriadi Ariana | Foto: Dok

Catatan: Artikel ini adalah juara kedua dalam Wimbara (Lomba) Penulisan Opini pada Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2023

PADA suatu momentum di pinggiran barat Kota Denpasar, seorang pemikir Bali bergumam pada saya. Katanya, “Jika seorang sarjana kedokteran bisa menjadi dokter yang mengobati pasien, seorang sarjana arsitektur berperan sebagai aktor pembangunan gedung, dan sarjana pertanian lahir menjadi agen-agen pemajuan dunia pertanian, lalu apa peran seorang sarjana sastra?”

Kala itu saya berpikir keras untuk memilih kata yang tepat sebagai jawaban. Saya curiga pertanyaan itu diajukaan bukan sekadar pertanyaan, tetapi juga sebagai jebakan. Kebetulan saya seorang sarjana sastra yang sungguh tidak memiliki pengetahuan luas pada dunia sastra. Selain itu, sang penanya juga dikenal sebagai seorang kritis dan kadang “sinis” pada berbagai hal. Mungkin memang demikian seorang pemikir. Atas alasan-alasan itulah saya merasa harus memilih kata yang tepat agar tidak terjebak dan terjerat.

Lantaran saya tak kunjung menjawab, ia lantas menjawab sendiri pertanyaan itu. “Tugas sarjana sastra adalah merawat kemanusiaan! Sastra dan segala ilmu humaniora tugasnya adalah merawat humanity itu,” tegasnya. Saya mengangkat bahu yang awalnya tersandarkan pada kursi plastik di ruang kerjanya. Sembari merogoh sebuah salak yang jadi sajian pertemuan kami, saya merenungkan pertanyaan dan jawabannya. Pernyataan itu pula yang patut kita renungkan dalam konteks berkesenian di Bali hari ini.

Barangkali publik telah lama sepakat bahwa seni dan sastra ditempatkan pada posisi terhormat sebagai pijar peradaban manusia. Dua bidang yang sesungguhnya tunggal ini disebut-sebut sebagai media penghalus budi. Sastra diyakini mampu menjadi pelita yang dapat menerangi hidup manusia yang temaram. Setidaknya demikian dikatakan nun jauh beberapa ratus tahun silam oleh penggurat Kakawin Nītiśāstra yang mempersembahkan karyanya secara penuh untuk publik. Pujangga yang penuh kerendahan hati dengan mengalpakan nama pada karyanya itu menulis bernas, “Widyā śāstra sudharma dipa nikang tribhuwana suměnӧ prabhāswara (pengetahuan sastra, serta ajaran-ajaran kebenaran adalah pelita yang menerangi ketiga dunia ini)—Kakawin Nītiśāstra, IV.1”.

Lalu, apa hubungan menyatakan entitas sastra dan seni sebagai penerang hidup terhadap penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-45 tahun 2023?

Sebagaimana telah diketahui, PKB ke-45 tahun ini mengetengahkan tema “Segara Kreti: Prabhaneka Sandhi (Samudera Cipta Peradaban)”. Jika ditimang dan ditimbang, tema ini memiliki tanggung jawab moral yang jauh dari kata sederhana. Kearifan nilai sagara kerthi [kreti] ‘memuliakan lautan’ yang diwariskan leluhur Bali dari masa silam digunakan oleh panitia untuk memantik dan menghidupi proses penciptaan, pelestarian, dan pengembangan seni di Bali. Jika asumsi saya benar, maka tema ini sesungguhnya adalah agenda besar nan kompleks dalam membuka ruang pengembangan seni dan kebudayaan Bali menyongsong berbagai dinamika dan perkembangan zaman saat ini.

Sagara Kreti: Penciptaan dan Peleburan

Segara kerthi [sagara kreti] secara harfiah dapat diartikan sebagai ‘pemuliaan lautan’. Ini merupakan satu konsep dari enam bagian sad kreti ‘enam upaya pemuliaan’. Konsep pemuliaan yang sarat nilai kearifan ekologi ini secara konsepsi tidak perlu disangsikan untuk dijadikan kompas mengelola lingkungan Bali sejak dahulu, hari ini, dan masa depan.

Rujukan untuk konsep sagara kreti dan sad kreti dapat ditemui pada teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul. Naskahnya dapat disapa dalam bentuk lontar di perpustakaan Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar serta dalam bentuk naskah alih aksara di Gedong Kirtya Singaraja. Pusat Kebudayaan Bali di Denpasar konon juga mengkoleksi naskah ini—dibuktikan dengan teregistrasi di dalam katalog. Sayangnya, ketika ingin ditemui, naskah tersebut tidak ada.

Menurut teks tersebut, secara khusus aspek sagara kreti dimuliakan di Pura Sakenan yang merupakan istana dari entitas dewa bergelar Hyang Sandijaya. Beliau merupakan satu dari enam Dewata Sad Kreti Loka Bangsul yang lahir dari yoga mahasempurna Bhatara Pasupati di Gunung Mahameru. Dewata Sad Kreti Loka Bangsul disamakan dengan Dewata Sad Winayaka yang beristana di surga. Di Nusa Bangsul (Pulau Bali), mereka bertugas menjaga elemen-elemen alam semesta yakni gunung (giri), hutan (wana), danau (ranu), laut (sagara), sawah (swi), dan dunia (jagat)agar lestari dan menghidupi seluruh rakyat.

Secara fungsional, menurut teks ini sagara kreti adalah konsep memuliakan lautan sebagai objek keseimbangan dunia, meruwat segala bentuk kekotoran, serta menetralisir wabah penyakit (pagêh mangrakṣa sāgara pakrêtti, pangayu jagat, mwang pamrayaścitta sarwwa kāla bhūta mānuṣa. Humilangakên sarwwa manighra sarāt, mwang sarwwa jara maraṇa [konsisten menjaga sāgara pakrêti, memuliakan bumi dan meruwat segala sifat negatif pada manusia. Melebur kotoran semesta dengan cepat serta memusnahkan segala jenis wabah]).

Konsep laut sebagai media peleburan segala dosa dan kekotoran sebagaimana dinyatakan dalam Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul masih terawat terang dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali hingga hari ini. Ritual-ritual umat Hindu Bali yang terkait dengan peruwatan banyak di antaranya melibatkan elemen lautan. Sebagian besar desa adat di Bali akan melakukan ritual melasti menjelang perayaan Nyepi. Pada musim-musim yang dianggap rawan, misalnya pada sasih Kanem hingga Kasanga, sejumlah komunitas adat akan melakukan upacara pamarisuddha atau tawur di pantai. Secara pribadi, orang Bali juga memanfaatkan laut untuk ritual malukat, mabayuh, maupun istilah lainnya yang beririsan dengan pembersihan diri. Banyak individu juga sangat percaya jika air laut merupakan media penetralisir ilmu hitam yang efektif, sehingga memanfaatkannya untuk melindungi atau meruwat pekarangan rumah atau sekadar sebagai panyengker ‘penjaga’ ritual yang sedang mereka bangun.

Pada dimensi lainnya, laut juga diwacanakan sebagai ruang penciptaan dan pusat kehidupan. Teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul pada bagian awal telah menarasikan laut sebagai ibu dari semesta ini. Dahulu kala, telur semesta (andabhuwana) pertama kali menetas di lautan luas. Telur inilah yang meledak dan menciptakan gugusan benua dan pulau-pulau. Satu di antaranya adalah Nusa Bali yang dituturkan terletak di bagian selatan dunia itu. Mulai dari laut pulalah kemudian muncul makhluk-makhluk ciptaan Bhatara untuk memenuhi dunia ini.

Laut dalam fungsinya sebagai ruang penciptaan juga beririsan dengan kemunculan air suci keabadian (tirtha amreta). Kitab Adiparwa menyebut bahwa air suci yang dapat membuat peminumnya hidup selamanya itu muncul dari upaya pemutaran Lautan Susu (Ksirarnawa) menggunakan Gunung Mandara. Kerja besar itu konon dilakukan melalui kolaborasi antara bangsa dewa dan raksasa atas nama kemaslahatan seluruh dunia. 

Seni sebagai Perawat dan Peruwat Kemanusiaan

Seperti tesis yang saya ajukan di depan, refleksi mendasar yang dapat kita ambil dari kearifan nilai sagara kreti pada PKB ke-45 ini adalah peran seni sebagai perawat dan peruwat kemanusiaan. Kita semua barangkali sepakat jika ke depan kehidupan ini akan semakin kaya dengan tantangan. Krisis lingkungan, krisis pangan, wabah, hingga peluang terjadinya perang besar antarnegara adalah ancaman nyata di pelupuk mata bagi masa depan umat manusia. Prediksi-prediksi kiamat berpeluang besar akan benar-benar terjadi jika umat manusia salah mengelola alam dan egonya.

Berpijak pada ancaman-ancaman itu, maka melalui momentum PKB ke-45, seni idealnya dapat mengambil peran sebagai tontonan dan tuntunan untuk menjadi cermin bagi manusia berlaku di dunia. Garapan-garapan yang dihadirkan dalam PKB ke-45 dapat mengetengahkan tema terkait dinamika perubahan lingkungan, khususnya laut, berikut tantangan-tantangan konservasi yang sekiranya tidak banyak disadari. Sejalan dengan laku samudera yang diyakini mampu meruwat kotoran, garapan-garapan yang ditampilkan dalam PKB ke-45 dapat mengusung tema-tema daur ulang. PKB ke-45 juga dapat membincangkan persoalan tata kelola laut kita yang saya kira belum maksimal meskipun negara telah berkoar mendeklarasikan diri sebagai pusat maritim dunia.

Tindakan terpenting dan paling nyata adalah bagaimana seniman dapat menjadi corong menyuarakan suara minor bendega di Bali. Selama ini saya mengamati popularitas bendega dan subak kalah jauh dibanding dengan perbincangan kita terkait desa adat. Padahal, desa adat, subak, dan sekaa bendega adalah tiga elemen penting dalam konstruksi sosial adat Bali. Mereka, bendega-bendega itu, tengah mengalami berbagai macam pergolakan. Suara-suara gusar mereka mungkin dapat lebih didengar oleh otoritas yang tepat jika dikemas dalam bentuk kesenian, lebih-lebih memanfaatkan panggung PKB yang telah mendunia.

Pada upaya dan tanggung jawab besar itu, kewajiban dan tugas seniman adalah melakukan eksplorasi tanpa henti. Literasi wajib dilakukan dalam menyajikan karya seni yang bermartabat. Bagi saya dan mungkin sebagian besar dari Anda, seni yang mampu merawat dan meruwat kemanusiaan adalah seni yang tidak menanggalkan kebenaran. Seni hanya sekadar jadi ekspresi seniman jika menerobos ruang-ruang kebenaran, meskipun mungkin tidak satu pun dari kita paham dan mewarisi kebenaran mutlak. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis IK Eriadi Ariana atau Jero Penyarikan Duuran Batur
Bukit Cintamani Mmal: Minoritas Wacana dan Stigmatisasi di Dalamnya
Kuasa Tanah dan Anugerah Air: Meneropong Hubungan Batur-Ubud
“Ranupura” | Wajah Bangli sebagai Hulu
Tags: kesenian baliPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2023
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Learning Ownership Siswa, Penentu Keberhasilan Pembelajaran

Next Post

“Antuk Linggih” Gus Lolec | In Memoriam Ida Bagus Sura Kusuma

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails
Next Post
“Antuk Linggih” Gus Lolec | In Memoriam Ida Bagus Sura Kusuma

“Antuk Linggih” Gus Lolec | In Memoriam Ida Bagus Sura Kusuma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co