23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gagal Paham Pancasila

Ricky Satriawan by Ricky Satriawan
June 22, 2023
in Opini
Gagal Paham Pancasila

Ilustrasi tatkala.co

TANGGAL 1 Juni diperingati Sebagai Hari lahir Pancasila. Penetapan Hari besar lahirnya dasar negara Itu berdasarkan Keppres No. 24 Tahun 2016. 71 Tahun setelah kemerdekaan Indonesia.

Bukan sembarangan Presiden Joko Widodo, semua karena pertimbangan dan berdasarkan tanggal pertama kalinya Pancasila sebagai dasar negara diperkenalkan oleh Soekarno dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. 

Bersyukur akhirnya bangsa Indonesia kini bisa memiliki kepastian hari lahir ideologi bangsa yang ditandai di kalender sebagai tanggal merah tiap 1 Juni itu. Semua berkat Presiden Jokowi.

Namun, Pancasila sebagai rule of the law menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia sendiri hingga kini masih menjadi perdebatan.

Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul adalah “Pancasila masih relevan-kah dengan perkembangan zaman?” Ada juga pertanyaan yang lebih mendasar seperti, “Sudahkah masyarakat Indonesia menerapkan Pancasila dalam kehidupannya?” Atau yang paling menggelitik adalah pertanyaan tentang, “Masyarakat Indonesia paham gak sih apa itu Pancasila?”

Ya, sebelum kita mempertanyakan sebuah relevansi konsep, alurnya memang kita harus mengujinya dulu dengan praktik-praktik. Dan eloknya sebelum menguji dengan praktik, kita perlu memahami dulu konsep itu.

Sama dengan Pancasila, sebelum mempertanyakan relevansi, kita harus mempraktikkannya dulu dengan kesadaran dan pemahaman yang utuh.

Sialnya, saat ini masih banyak masyarakat yang GAGAL PAHAM dengan Pancasila.

Saya tidak akan bicara yang benar dan salah. Saya juga tidak akan menuding kelompok tertentu. Tidak juga skeptis dengan pemahaman masyarakat.

Saya ingin menceritakan tentang seorang kawan, lulusan sarjana yang tak hafal dengan semua lima sila Pancasila. Apalagi ketika diminta untuk menjelaskan pemahamannya tentang ‘Apa itu Pancasila?’, tanpa basi-basi dia langsung ‘angkat tangan’. 

Ya, pasti banyak yang berfikir meskipun tidak paham, tapi perilakunya bisa saja sudah mencerminkan kalau dia ber-Pancasila. Ya, itu benar. 

Menurutku dia adalah orang yang taat dalam beragama, pekerja keras, ramah kepada setiap orang, bahkan yang beda suku. Tak jarang dia menawarkan rokoknya juga padaku. Dia juga ‘mencoblos’ di TPS pas waktu pemilu 2019. 

Saya pikir perilakunya sudah mencerminkan bahwa dia telah menjalankan prinsip-prinsip berbangsa dan bernegara berlandaskan Pancasila. Itu menurut ku.

Namun nyatanya dia tidak paham apa itu Pancasila atau sekedar hafal kelima sila dengan runut. 

Lalu perilaku dia itu dasarnya apa? Ideologinya apa? Atau jangan-jangan punya ideologi sendiri? 

Ternyata, dia sebelum mengenal kata ‘Pancasila’ di sekolah, dia sudah diajarkan nilai-nilai moral dan etika di keluarga dan lingkungan masyarakat. 

Mungkin ini yang disebut Soekarno bahwa dia bukan menciptakan Pancasila, tapi dia menggali dari setiap lini kehidpuan masyarakat Indonesia.

Hal sama ditemukan oleh survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis 1 Juni 2022. Menyebutkan Hanya 64,6 persen publik yang mengetahui semua sila Pancasila. 

Tahun sebelumnya, ada juga temuan survei Median pada 30 Mei-3 Juni 2021 mengemukakan sebanyak 49 persen publik berpandangan Pancasila belum dilaksanakan dengan baik dan benar.

Artinya, belum semua masyarakat Indonesia menerapkan Pancasila dengan benar, memahami dengan utuh bahkan hafal kelima sila Pancasila.

Pengalaman pribadi ku bisa menjadi contoh, penerapan Pancasila kurang baik karena tanpa kesadaran pemahaman. Itu dia kawan ku yang sudah di kota dan mengenal pendidikan tinggi. 

Bagaimana untuk masyarakat yang tidak berpendidikan tinggi? Bagaiamna yang di pedesaan? Bagaimana yang di perkampungan kumuh? Pasti hasilnya berbeda. Bisa jadi tidak lebih baik.

Uniknya, Survei yang dirilis Jumat, 9 April 2021 oleh Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Indonesian Presidensial Studies (IPS) menyebut ada sebanyak 90,6 responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan bahwa Pancasila adalah ideologi NKRI untuk menentukan identitas bangsa Indonesia. 

Juga survei SMRC yang dirilis Jumat, 1 Oktober 2021 menyajikan keyakinan masyarakat yang tinggi kepada Pancasila. Ada 82 persen publik percaya Pancasila merupakan dasar negara yang ideal dan tidak perlu dirubah dengan alasan apapun.

Kalau saya lihat kasat mata dari data-data di atas, artinya meski publik tidak memahami Pancasila dan belum menerapkannya dengan baik, tapi ‘meyakini’ bahwa Pancasila adalah yang ideal dan sangat tabu bila dirubah. 

Posisi ini menurut ku Pancasila sudah menjadi dogma. Mengarah pada Destructive cult (pengkultusan) tanpa ada pemasyarakatan pemahaman yang utuh sehingga menjadi kesadaran dalam praktik.

Pancasila menjadi monumen suci. Tidak boleh diotak-atik. Hampir mirip pajangan yang hanya bisa dinikmati kemegahannya saja.

Sudut pandang ini tak berlaku bagi kelompok tertentu. Kelompok yang jualan atas nama Pancasila. Kelompok yang untung dengan ‘dangkalnya’ pemahaman Pancasila. Kelompok yang pakai Pancasila jadi senjata ‘pemukul’ kelompok lain.

Sialnya lagi, Pancasila dipahami menurut kepentingan golongan dan kelompok masing-masing.

Kelompok rentan menuntut keadilan bicara Pancasila. Kelompok borjuis mengokohkan usaha bicara Pancasila. Oligarki melanggengkan kekuasaan bicara Pancasila. 

Kelompok agamawan, Pemerintah, Penegak Hukum, LSM, ormas-ormas, semua juga bicara Pancasila. Berdasarkan versi pemahamannya dan kadang versi kepentingannya.

Tidak ada yang salah dengan itu, Pancasila mengakui perbedaan. Yang salah adalah ketika pemahaman mereka dipaksakan kepada orang lain, merugikan kelompok lain dan perbedaan pemahaman menimbulkan pertikaian.

Namun, kita semua butuh kepastian. Hari kelahiran Pancasila sudah ditetapkan 1 Juni. Sudah pasti.

Tinggal kedepan harapannya ada kepastian pemerataan pemahaman dan implementasi Pancasila bagi segenap masyarakat. Tentu digalakkan oleh semua pihak.

Supaya tidak lagi ada GAGAL PAHAM dan implementasi Pancasila tanpa kesadaran. [T]

Tahun 1951 di Desa Kedis Pernah Tercipta Tari Pancasila, Kini Dihidupkan Lagi
Jika Ada Pelajar Pancasila, Harusnya Ada Juga Pejabat Pancasilais
Peringatan Hari Lahir Pancasila | Tantangan Menjaga Kemuliaan Demokrasi Pancasila
Pancasila dan Kebudayaan Bali –Sebuah Refleksi Sosio-Historis dan Filosofis
Ada Pancasila dalam “Megibung” – Asyik Jika Zaskia Gotik jadi “Duta Megibung” juga
Pancasila di Tanah Dewata dan Bali yang Tak Akan ke Mana-mana…
Tags: Demokrasi PancasilaHaluan Ideologi PancasilaHari Lahir Pancasilapancasilapendidikan pancasila
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Obati Kerinduan akan Bali dengan 3 Film Terbaik yang Berlatar di Bali

Next Post

Banyuning: Gudang Seni dan Youtuber di Bali Utara

Ricky Satriawan

Ricky Satriawan

Editor media daring Gema Pos, Jakarta.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Banyuning: Gudang Seni dan Youtuber di Bali Utara

Banyuning: Gudang Seni dan Youtuber di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co