2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gagal Paham Pancasila

Ricky Satriawan by Ricky Satriawan
June 22, 2023
in Opini
Gagal Paham Pancasila

Ilustrasi tatkala.co

TANGGAL 1 Juni diperingati Sebagai Hari lahir Pancasila. Penetapan Hari besar lahirnya dasar negara Itu berdasarkan Keppres No. 24 Tahun 2016. 71 Tahun setelah kemerdekaan Indonesia.

Bukan sembarangan Presiden Joko Widodo, semua karena pertimbangan dan berdasarkan tanggal pertama kalinya Pancasila sebagai dasar negara diperkenalkan oleh Soekarno dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. 

Bersyukur akhirnya bangsa Indonesia kini bisa memiliki kepastian hari lahir ideologi bangsa yang ditandai di kalender sebagai tanggal merah tiap 1 Juni itu. Semua berkat Presiden Jokowi.

Namun, Pancasila sebagai rule of the law menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia sendiri hingga kini masih menjadi perdebatan.

Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul adalah “Pancasila masih relevan-kah dengan perkembangan zaman?” Ada juga pertanyaan yang lebih mendasar seperti, “Sudahkah masyarakat Indonesia menerapkan Pancasila dalam kehidupannya?” Atau yang paling menggelitik adalah pertanyaan tentang, “Masyarakat Indonesia paham gak sih apa itu Pancasila?”

Ya, sebelum kita mempertanyakan sebuah relevansi konsep, alurnya memang kita harus mengujinya dulu dengan praktik-praktik. Dan eloknya sebelum menguji dengan praktik, kita perlu memahami dulu konsep itu.

Sama dengan Pancasila, sebelum mempertanyakan relevansi, kita harus mempraktikkannya dulu dengan kesadaran dan pemahaman yang utuh.

Sialnya, saat ini masih banyak masyarakat yang GAGAL PAHAM dengan Pancasila.

Saya tidak akan bicara yang benar dan salah. Saya juga tidak akan menuding kelompok tertentu. Tidak juga skeptis dengan pemahaman masyarakat.

Saya ingin menceritakan tentang seorang kawan, lulusan sarjana yang tak hafal dengan semua lima sila Pancasila. Apalagi ketika diminta untuk menjelaskan pemahamannya tentang ‘Apa itu Pancasila?’, tanpa basi-basi dia langsung ‘angkat tangan’. 

Ya, pasti banyak yang berfikir meskipun tidak paham, tapi perilakunya bisa saja sudah mencerminkan kalau dia ber-Pancasila. Ya, itu benar. 

Menurutku dia adalah orang yang taat dalam beragama, pekerja keras, ramah kepada setiap orang, bahkan yang beda suku. Tak jarang dia menawarkan rokoknya juga padaku. Dia juga ‘mencoblos’ di TPS pas waktu pemilu 2019. 

Saya pikir perilakunya sudah mencerminkan bahwa dia telah menjalankan prinsip-prinsip berbangsa dan bernegara berlandaskan Pancasila. Itu menurut ku.

Namun nyatanya dia tidak paham apa itu Pancasila atau sekedar hafal kelima sila dengan runut. 

Lalu perilaku dia itu dasarnya apa? Ideologinya apa? Atau jangan-jangan punya ideologi sendiri? 

Ternyata, dia sebelum mengenal kata ‘Pancasila’ di sekolah, dia sudah diajarkan nilai-nilai moral dan etika di keluarga dan lingkungan masyarakat. 

Mungkin ini yang disebut Soekarno bahwa dia bukan menciptakan Pancasila, tapi dia menggali dari setiap lini kehidpuan masyarakat Indonesia.

Hal sama ditemukan oleh survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis 1 Juni 2022. Menyebutkan Hanya 64,6 persen publik yang mengetahui semua sila Pancasila. 

Tahun sebelumnya, ada juga temuan survei Median pada 30 Mei-3 Juni 2021 mengemukakan sebanyak 49 persen publik berpandangan Pancasila belum dilaksanakan dengan baik dan benar.

Artinya, belum semua masyarakat Indonesia menerapkan Pancasila dengan benar, memahami dengan utuh bahkan hafal kelima sila Pancasila.

Pengalaman pribadi ku bisa menjadi contoh, penerapan Pancasila kurang baik karena tanpa kesadaran pemahaman. Itu dia kawan ku yang sudah di kota dan mengenal pendidikan tinggi. 

Bagaimana untuk masyarakat yang tidak berpendidikan tinggi? Bagaiamna yang di pedesaan? Bagaimana yang di perkampungan kumuh? Pasti hasilnya berbeda. Bisa jadi tidak lebih baik.

Uniknya, Survei yang dirilis Jumat, 9 April 2021 oleh Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Indonesian Presidensial Studies (IPS) menyebut ada sebanyak 90,6 responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan bahwa Pancasila adalah ideologi NKRI untuk menentukan identitas bangsa Indonesia. 

Juga survei SMRC yang dirilis Jumat, 1 Oktober 2021 menyajikan keyakinan masyarakat yang tinggi kepada Pancasila. Ada 82 persen publik percaya Pancasila merupakan dasar negara yang ideal dan tidak perlu dirubah dengan alasan apapun.

Kalau saya lihat kasat mata dari data-data di atas, artinya meski publik tidak memahami Pancasila dan belum menerapkannya dengan baik, tapi ‘meyakini’ bahwa Pancasila adalah yang ideal dan sangat tabu bila dirubah. 

Posisi ini menurut ku Pancasila sudah menjadi dogma. Mengarah pada Destructive cult (pengkultusan) tanpa ada pemasyarakatan pemahaman yang utuh sehingga menjadi kesadaran dalam praktik.

Pancasila menjadi monumen suci. Tidak boleh diotak-atik. Hampir mirip pajangan yang hanya bisa dinikmati kemegahannya saja.

Sudut pandang ini tak berlaku bagi kelompok tertentu. Kelompok yang jualan atas nama Pancasila. Kelompok yang untung dengan ‘dangkalnya’ pemahaman Pancasila. Kelompok yang pakai Pancasila jadi senjata ‘pemukul’ kelompok lain.

Sialnya lagi, Pancasila dipahami menurut kepentingan golongan dan kelompok masing-masing.

Kelompok rentan menuntut keadilan bicara Pancasila. Kelompok borjuis mengokohkan usaha bicara Pancasila. Oligarki melanggengkan kekuasaan bicara Pancasila. 

Kelompok agamawan, Pemerintah, Penegak Hukum, LSM, ormas-ormas, semua juga bicara Pancasila. Berdasarkan versi pemahamannya dan kadang versi kepentingannya.

Tidak ada yang salah dengan itu, Pancasila mengakui perbedaan. Yang salah adalah ketika pemahaman mereka dipaksakan kepada orang lain, merugikan kelompok lain dan perbedaan pemahaman menimbulkan pertikaian.

Namun, kita semua butuh kepastian. Hari kelahiran Pancasila sudah ditetapkan 1 Juni. Sudah pasti.

Tinggal kedepan harapannya ada kepastian pemerataan pemahaman dan implementasi Pancasila bagi segenap masyarakat. Tentu digalakkan oleh semua pihak.

Supaya tidak lagi ada GAGAL PAHAM dan implementasi Pancasila tanpa kesadaran. [T]

Tahun 1951 di Desa Kedis Pernah Tercipta Tari Pancasila, Kini Dihidupkan Lagi
Jika Ada Pelajar Pancasila, Harusnya Ada Juga Pejabat Pancasilais
Peringatan Hari Lahir Pancasila | Tantangan Menjaga Kemuliaan Demokrasi Pancasila
Pancasila dan Kebudayaan Bali –Sebuah Refleksi Sosio-Historis dan Filosofis
Ada Pancasila dalam “Megibung” – Asyik Jika Zaskia Gotik jadi “Duta Megibung” juga
Pancasila di Tanah Dewata dan Bali yang Tak Akan ke Mana-mana…
Tags: Demokrasi PancasilaHaluan Ideologi PancasilaHari Lahir Pancasilapancasilapendidikan pancasila
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Obati Kerinduan akan Bali dengan 3 Film Terbaik yang Berlatar di Bali

Next Post

Banyuning: Gudang Seni dan Youtuber di Bali Utara

Ricky Satriawan

Ricky Satriawan

Editor media daring Gema Pos, Jakarta.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Banyuning: Gudang Seni dan Youtuber di Bali Utara

Banyuning: Gudang Seni dan Youtuber di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co