3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Pancasila dalam “Megibung” – Asyik Jika Zaskia Gotik jadi “Duta Megibung” juga

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Esai

Foto-foto: google images

AKHIR-AKHIR ini sosial media banyak dipenuhi oleh poster ajakan untuk ikut seleksi kegiataan kepemudaan. Seleksi ini biasanya mengajak anak muda untuk ikut menjadi duta. Mulai dari duta bahasa, duta pemuda, duta budaya sampai duta nasi goreng.

Untuk menjadi seorang duta, biasanya orang-orang akan ikut seleksi, memahami fokus kedutaannya dan memberanikan diri untuk menunjukkan bahwa dialah duta sesungguhnya. Ada proses belajar dan memahami, di luar proses gaya-gayaan.

Tapi yang paling aneh dari sekian banyak duta adalah duta Pancasila. Sebagian dari kita mungkin masih ingat kasus Zaskia Gotik yang menjadi duta Pancasila. Sangat aneh, dia dinobatkan menjadi duta Pancasila hanya karena untuk memberikan efek jera kepadanya karena dianggap sudah menghina Pancasila. Cobak saja ada yang menghina UUD 1945 bukan tidak mungkin, setelah ramai diberitakan di media, yang dianggap menghina dijadikan duta UUD.

Biasanya anak muda jika ingin menjadi duta dia harus berjuang gigih ikut seleksi dan membuat program pengabdian agar juri tahu kalau dialah duta sesungguhnya. Tapi bagaimana dengan si cantik Zaskia Gotik?

Nah, mumpung jadi duta Pancasila, mungkin sekalian Zaskia Gotik bisa menjadi duta megibung. Apa itu megibung atau megibung?

Mengibung merupakan kegiatan makan bersama orang Bali yang sudah menjadi tradisi. Biasanya dilakukan saat hari-hari tertentu. Megibung atau biasa juga disebut megibungan bisa dilakukan dalam lingkaran kecil dan besar. Lingkaran kecil biasanya terdiri atas 4 atau 5 orang. Lingkaran besar lebih dari 5 orang bahkan sampai puluhan orang.

Makan bersama di sini adalah makan dengan satu alas atau wadah, biasanya alasnya daun pisang. Nasi ditaruh dalam satu wadah bersama lauk-pauknya. Orang lalu mengililinginya, dan makan bersama-sama.

Tradisi Megibung sudah dilakukan secara turun temurun di Bali

Lalu apa hubungannya duta Pancasila dengan duta Megibungan? Wah ini nih. Ternyata memiliki nilai-nilai yang hampir sama dengan nilai-nilai dalam Pancasila.

Sila satu: Ketuhanan Yang Maha Esa

Sebelum warga megibungan ini, mereka akan ngejot atau menghaturkan sesajen sebagai simbol rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Asyik karena sudah diberikan rejeki sehingga telah dapat melakukan kegiatan megibungan pada hari itu, dan berharap kegiatan megibungan ini lancer, tidak ada halanganmasalah seperti adonan lawar kurang lalah atau hambar, jukut ares sing nyak lemuh atau tersendak saat makan.

Sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab

Tidak ada perbedaan strata sosial dalam megibung. Kaya raya, melarat, miskin, tua, muda, kulit putih, kulit hitam, tamat dengan IPK 2,5 dan tamat kuliah dengan predikat cumlaude semua duduk bersama. Adil.

Sila ketiga: Persatuan Indonesia

Bukan tidak mungkin mempersatukan Indonesia dengan cara megibung. Mungkin dulu sebelum diculik ke Rengas Dengklok, Soekarno berniat mempersatukan Indonesia dengan cara megibungan. Karena keburu diculik jadi Soekarno belum sempat membagi tugas, siapa yang membeli bungkak, siapa yang mencari gedebong atau siapa yang membeli lakar base. Mungkin saja he he he.

Tapi jika dilihat dalam megibung, persatuan itu pasti ada. Orang-orang akan membuat makanan, menghidangkan makanan bersama dan menikmatinya bersama. Persatuan sudah pasti terlihat. Coba jika tidak ada persatuan, tukang yang sebenarnya mendapat tugas ngadonang lawar memilih tidak bersatu dan walkout meninggalkan balai banjar, bisa parah. Lawar tak selesai dan semua tidak jadi makan. Ah tidak, persatuan itu harus ada.

Di Bali, megibungan bukan hanya dilakukan warga Hindu, melainkan juga warga Muslim dalam acara-acara tertentu. Tak jarang juga warga Muslim dan Hindu megibung secara bersama-sama. Mereka tak diragukan lagi toleransi dan persatuannya.

Seperti yang dilakukan warga Muslim di Kampung Singaraja, Buleleng. Dalam setiap Hari Idul Fitri mereka merayakan dengan menggelar tradisi megibung atau makan bersama-sama secara ramai. Tradisi Megibung ini tradisi leluhur warga setempat dan telah dilaksanakan secara turun-temurun. Warga setempat mempercayai tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang mereka untuk memupuk rasa silaturahmi dan mempererat persaudaraan antar sesama tanpa membedakan status sosial.

Sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Di dalam megibung semua warga dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan. Dalam hal megibungan ini ada yang dituakan oleh mereka menurut umurnya yang dihormati lebih oleh para peserta megibungan. Biasanya setelah makan/megibungan itu orang yang paling muda akan mengambil daun dan membereskannya.

Sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kata adil, beradab dan sejahtera biasa kita lihat di baliho baliho saat pemilu dan kegiatan coblas coblos pemimpin lainnya. Dengan kata “adil” itu biasanya para calon pemimpin pemerintahan berharap kalau orang-orang akan memilihnya.

Tapi bagaimana dengan megibungan? Di sini adil tak perlu diucapkan, apalagi dibuatkan tulisan baliho berukuran 4×6 meter, tidak perlu. Megibungan sudah adil dari dulu. Bahkan seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “adil sejak dalam pikiran”. Dalam megibung, keadilan itu sudah pasti ada.

Dalam megibungan semua adil, jumlah makananya juga sama. Jika tiap kelompok mendapat 4 jenis lawar, 3 mangkuk kuah ares misi balung, dan 12 tusuk sate, maka kelompok lain akan mendapat jatah yang sama. Adil.

Warga Muslim di Singaraja, Bali, megibungan saat Idul Fitri. /Foto: koranbuleleng

Nah, itulah dia, ternyata makna megibungan ada dalam setiap sila kita. Jadi, dengan begitu, Zaskia Gotik bisa juga menjadi duta megibungan?

Coba kita bayangkan jika Pemerintah, Penggiat Megibungan, pemuda yang mempunyai fokus dengan kajian megibungan, hingga mahasiswa yang setiap hari harus megibungan karena uang bulanan habis, bersatu padu meminta si cantik Zaskia Gotik jadi dutanya. Pastilah asyik.

Setiap ada banjaran yang megibungan, duta megibungan diundang untuk mencicipi lawar, bukan tidak mungkin komentar seperti “mantap”, “maknyos”, top pool” dan sejenisnya, akan muncul, bukan hanya di TV dengan gambar restoran-restoran besar, tapi juga dib alai banjar.

Setelah itu duta megibungan bisa membuat channel youtube dan mengunggah VLOG-nya saat megibungan. Dengan cara itu anak-anak muda yang sudah subscribed akan mulai mengenal megibungan dengan baik, dan selanjutnya ikut melestraikan tradisi dan budaya megibungan. Semakin banyak anak muda yang tertarik dan semua jadi ikut, maka semua akan bersatu.

Karena sudah bersatu, Indonesia bisa menangkal isu-isu rasis, hoax, perang agama dan politik adu domba. Wah akan keren sekali, negara Indonesia yang mulai dirasa intoleran dengan isu agama ini dapat disatukan kembali oleh duta megibung. Maju terus duta megibung! (T)

Tags: balikulinermegibunganpancasilaTradisi
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Mau Konsultasi Lontar? Masuklah ke Stand Penyuluh Bahasa Bali di Pameran HUT Gianyar

Next Post

Deru Angin Dini Hari di Puncak Gunung Abang

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Deru Angin Dini Hari di Puncak Gunung Abang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co