3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pancasila di Tanah Dewata dan Bali yang Tak Akan ke Mana-mana…

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

BAGI masyarakat adat atau pakraman di Bali, tanah (baca: pertiwi atau wewidangan) itu “berjiwa”. Karena “berjiwa”, maka tanah diyakini memiliki “energi”. Tentu saja energi yang dapat menjiwai dan membentuk karakter bagi kehidupan semua mahluk yang hidup di atasnya. Orang Bali menyebutnya “iksa”.

Energi tanah atau wewidangan secara sosial membentuk nilai-nilai atau pengetahuan bagi semua mahluk, khususnya umat manusia. Pengetahuan atau nilai-nilai dasar yang dibentuk oleh energi alam di suatu tempat inilah disebut dengan “sakti” atau pengetahuan lokal atau kearifan lokal (baca: taksu). “Sakti” itu sesuatu yang diyakini memiliki kemampuan lebih atau kemapuan khusus sehingga dihormati dan disucikan.

Dengan kesadaran, pengetahuan dan keyakinan itulah kenapa sejak berabad-abad para leluhur dan orang suci yang datang ke Bali banyak menemukan dan menentukan tempat-tempat atau “titik khusus”, sekaligus mengingatkan semua umat manusia bahwa pada titik-titik khusus itu terkandung energi maha suci (baca: energi sekala), sehingga tempat itu patut dijadikan “hulu” atau “pedoman” dalam menata tanah Bali secara nyata (sekala).

Titik-titik hulu itulah kemudian disebut “tempat suci”. Sebagai bentuk penghormatan dan keyakinan manusia Bali, kini banyak “tempat suci” ditandai dengan bangunan pelinggih atau Pura (Parahyangan/Kayangan). Karena energi dan fungsi tempat suci itu jangkauannya sangat luas, maka kini disebut “Kayangan Jagat”.

Namun tidak semua “tempat suci” ditandai dengan bangunan. Misalnya danau, sungai, laut, hutan, karang suwung dan sebagainya. Walau tidak ada bangunan fisik, tempat/kawasan tetap diyakini sebagai “tempat suci”, karena diyakini bagian dari “satu tubuh” energi makro dan mikro kosmos jagat Bali.

Dalam perkembangan peradaban manusia Bali, energi kesucian dari “tempat suci” itu kemudian dijadikan pedoman, sumber atau hulu dalam penataan wilayah. Secara otomatis tempat suci tersebut adalah “hukum” atau “awig-awig” sekala-niskala dalam penataan wilayah. Wilayah yang ditata oleh manusia berdasarkan spirit kesucian (baca: pengetahuan alam/Weda), lama kelamaan membentuk kelembagaan dan sistem sosial yang disebut “desa”.

“Desa” berasal dari bahasa Sansekerta.  “Dis” artinya petunjuk kerohanian. Kata “Dis” mengalami proses gramatologi kemudian disebut Des atau Desa. Dari kata ini timbul istilah “Upadesa” yang berarti petunjuk-petunjuk rohani. “Hita Upadesa” artinya petunjuk untuk mendapatkan kebahagian rohani.

Desa di Bali kemudian disebut “Pakraman” yang berasal dari bahasa Sansekerta “grama” atau dalam Bahasa Inggris disebut village. Kata “village” inilah diartikan “desa” dalam bahasa Indonesia. Dalam praktek bahasa Indonesia memang banyak ada gramatikal dan/atau proses gramatisasi (pergeseran makna bahasa sesuai konteks).

Jadi “Desa” berarti petunjuk-petunjuk kerohanian yang berlaku dalam satu “grama desa”. Kata grama lama-lama menjadi “krama”, artinya suatu petunjuk kerohanian yang berlaku dalam suatu grama. Sehingga Desa Pakraman adalah suatu peguyuban hidup dalam suatu wilayah tertentu dimana kehidupan bersama itu diatur oleh suatu batasan-batasan berdasarkan ajaran agama yang selaras dengan pengetahuan alam (Weda).

Desa membangun Human Spirit di Bali dikenal dengan istilah Tri Hita Karana. “Desa Adat” dewasa ini sesungguhnya adalah Desa Pakraman berdasarkan pengertian di atas.

Jadi suara desa” (baca: aspirasi desa adat/pakraman) sesungguhnya adalah  suara “Dis” atau suara tentang petunjuk-petunjuk tatanan kehidupan yang berlaku dalam suatu grama-desa. Suara desa atau aspirasi desa juga merupakan tatanan sebagai sinar pengetahuan yang dijadikan penerang dalam menciptakan keteraturan-keseimbangan dan kesejahteraan. Kesadaran inilah yang kemudian menjadi falsafah “Tri Hita Karana” di tanah Bali.

Sudah lumrah kita dengar kalau melanggar batas atau aturan, kita akan kena “dis” (diskualifikasi).  “Desa” mirib dengan gramafoon atau alat pengeras suara dari piringan hitam dengan alun lagu yang merdu. Zaman sekarang di desa adat sering dipraktekkan dengan alun suara gamelan, gegitaan, wirama, kekawin, puja dan sebagainya.

Pengetahuan manusia (pawongan) di atas tanah Bali kemudian mengantarkan pada kesadaran dan pengetahuan bahwa sumber atau energi lain sebagai sumber hidup adalah “matahari”.

Matahari adalah adalah sumber kehidupan di muka bumi. Bentuk-bentuk penghormatan terhadap matahari sebagai sumber hidup hingga kini banyak menjadi landasan keyakinan budaya dan agama di Bali dan juga tempat lain di dunia.

Matahari menciptakan “hari” (siang-malam), yang kemudian membentuk pengetahuan tentang “waktu” atau “kala” yang secara langsung mempengaruhi kehidupan di muka bumi. Kesadaran inilah kemudian menjadikan perhitungan waktu atau “kala” di Bali (juga di dunia) yang diyakini sebagai salah satu yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter kehidupan.

Penghormatan waktu di Bali kemudian diwujudkan dalam kesadaran dan pengetahuan “Rerahinan” atau “Mererahinan”. Pepatah mengatakan “di mana bumi dipijak disana langit dijungjung” adalah benar adanya.

Rangkuman kesadaran, pengetahuan dan keyakinan terhadap “energi alam” (baca hukum alam/Rta/Weda) di atas kemudian dirangkum dalam bait-bait “sastra suci” yang kita kenal dengan “tattwa”.  Jadi Tattwa ada karena adanya kesadaran, pengetahuan dan keyakinan terhadap “iksa”, “sakti”, “desa” dan “kala” di atas. Kesadaran tersebut terus diyakini dan dipraktekkan sehingga membudaya. Karena membudaya maka bisa disebut sebagai cara atau pola hidup yang benar orang Bali. Cara hidup itu kemudian disebut “Gama” kemudian menjadi “Agama”.

Cara hidup yang benar (Gama) itu diyakini bersumber dari pengetahuan alam (Weda/Hukum Alam//Rta) yang diwahyukan (sruti dan semerti) melalui proses pembelajaran panjang baik melalui Praktiasa Pramana (Praktek langsung), Anumana Pramana (merasakan dengan panca indra) maupun Agama Pramana (sastra suci).

Jadi agama Hindu di Bali yang berlandaskan pada keyakinan “Weda” adalah Ideologi atau nilai-nilai dasar bagi orang Bali Hindu. Karena meyakini ideologi maka lahir orang yang memiliki “idealisme” (baca: paham yang beridiologi dasar Weda), selanjutnya orang yang teguh melaksanakan idealismenya disebut orang yang “idealis”, bisa disebut idealis jika orang tersebut mampu mewujudkan hal-hal yang “ideal” berdasarkan ajaran suci (Weda)- sehingga bisa berjalan seimbang yang kemudian dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.

Jadi “Tri Hita Karana” di Bali bisa ada karena diyakininya beragam unsur pengetahuan suci yang bersumber dari Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa atas tuntunan Dewata, Batara, Bathara Leluhur, Pitara dan Prasti sentana manusia Bali. Dengan demikian Bali pun disebut “Pulau Dewata”.

Jadi penggunaan istilah “Tri Hita Karana” dengan sembarang tanpa dilandasi oleh spirit kesadaran, pengetahuan dan kesucian tanah Bali bisa dikatakan cara-cara yang keliru (hukum sebab akibat). Tri Hita Karana adalah buah atau hasil dari keyakinan dan praktek-praktek positif terhadap alam (Baca: Sad Kertih).

Bukti adanya kasadaran dan keyakinan tersebut wajib terus “dilaporkan” kepada Sang Pencipta melalui beragam “bentuk” baik pisik (simbul-simbul) atau berupa keyakinan atau rasa (sastra/pengetahuan). Kesadaran itu di Bali hingga kini diwujudkan dalam beragam upacara yadnya (baca; Panca yadnya). Upacara berupa “persembahan” baik dalam bentuk pisik berupa Banten/sesajen dan sejenisnya atau dalam  bentuk non pisik berupa Puja dan Doa.

Persembahan itulah yang kemudian disebut dengan istilah “Wali” (Bali). Walau beragam cara tetapi semua itu dimaksudkan sebagai “sastra suci”. Praktek-praktek itulah disebut dalam bahasa populer dengan “budaya bali”, yang banyak digunakan sebagai “roh” dari dunia kepariwisataan saat ini.

Dari pemaparan di atas, betapa beragamnya unsur pengetahuan yang harus disadari, dipahami dan diyakini oleh orang Bali. Keragaman itulah memiliki makna “Bhinneka” yang berasal dari satu sumber (tunggal) yaitu Tuhan. Pemahaman falsafah ini sejalan dengan motto “Bhinneka Tunggal Ika”. Oleh pendiri bangsa ini kemudian dijadikan rujukan (baca: bahan dasar) untuk membentuk Idilogi Bangsa dan Negara Indonesia yaitu; Pancasila.

Jadi makna keragaman oleh orang Bali Hindu bukan sekedar beda Agama dan Suku saja seperti narasi dalam pelajaran SD jaman dulu. Keragaman jangkauannya sangat luas, makro dan mikro kosmos. Parktek-praktek budaya terhadap pemahaman ini masih mudah kita lihat dan pelajari dalam budaya subak dan desa pakraman.  Dari paktek budaya tersebut kita akan bisa lihat atau ukur tingkat atau derajat kebeneraan dan pengetahuannya.

Singkat kata, Subak dan Desa Pakraman di Bali bisa disebut sebagai wilayah “basis” untuk menjalankan Bhinneka Tunggal Ika dan Idiologi Pancasila. Merusak tanah Bali sama saja merusak pengetahuan orang Bali tentang “Bali”. Merusak tanah Bali sama saja tidak meyakini ajaran suci Weda. Merusak Tanah Bali sama saja sedang merusak Ideologi Negara Pancasila. Merusak Pancasila sama saja merusak sumber hukum dari segala hukum negara. Merusak Pancasila sama saja merusak  konsensus terbentuknya NKRI.

Berikut adalah praktek Pancasila di Desa Pakraman :

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa (adanya kehidupan Agama Hindu)
  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (adanya penghormatan terhadap semua mahluk ciptaan-NYA).
  3. Persatuan Indonesia ( dipraktekan dalam tatanan dan kearifan kelembagaan Desa Pakraman)
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat, Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan (adanya musyawarah/paruman sebagai media pengambilan keputusan).
  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (adanya kesadaran dan keyakinan Tri Hita Karana).

Sesunggunya praktek dan kesadaran itu ada diseluruh komunitas di muka bumi. Tetapi manusia Bali Hindu melakoninya dengan cara dan bentuk (baca: budaya) yang berbeda. Kata orang budaya Bali sangat unik dan khas sehingga Bali menarik untuk dikunjungi. Budaya mengunjungi tempat yang satu ke tempat yang lahir kemudian berkembang menjadi “produk wisata budaya”.

Dunia pariwisata memberikan uang (dana) kepada masyarakat Bali. Tetapi uang ada karena berangkat dari adanya kesadaran spiritual (punia). Disinilah perbedaan cara padang orang Bali terhadap pembangunan pariwisata demi pertubuhan ekonomi. Makna “Pertumbuhan ekonomi” bukan hanya meningkatkan pendapatan (dana), tetapi juga harus bisa meningkatkan kesadaran suci/spiritual (punia) orang Bali di tanah Bali. Tanah Bali mengandung unsur iksa, sakti, desa, kala dan tattwa sebagai pedoman hidup termasuk pembangunan sumber-sumber ekonomi.

Ada yang boleh ada, ada yang tidak boleh ada. Semua akan disadari dan dipahami jika orang Bali dan orang yang datang ke Bali terus belajar dan meyakininya. Walau banyak menggunakan istilah lokal, tetapi spiritnya sangat Global/Universal. Bali benar-benar “lestari” karena keyakinan budayanya.

Yah, “Sesungguhnya Bali tidak kemana-mana, Orang Bali-lah yang kemana-mana”. Salam Rahayu. (T).

Tags: balidesa pakramanpancasilaupacara
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Bupati dan Puisinya – Kisah Kecil dari Flores Timur

Next Post

Teater Menyepi Tak Cuma Denpasar, di Bali juga, Jong! Tapi Tunggu Dulu…

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Teater Menyepi Tak Cuma Denpasar, di Bali juga, Jong! Tapi Tunggu Dulu…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co