24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Menyepi Tak Cuma Denpasar, di Bali juga, Jong! Tapi Tunggu Dulu…

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 2, 2018
in Opini

Foto: Dok Komunitas Mahima

MENELISIK apa yang  telah disampaikan oleh kawan saya, Santiasa Putu Putra dalam tulisannya di tatkala.co, 3 Januari 2017 dengan judul “Teater di Denpasar – Lagi Hibernasi, Lagi Menyunyi, Jangan Diganggu”, ingin pula rasanya menyampaikan pendapat, walau inipun juga sebatas omong doang.

Sebab, “apa yang kau sampaikan itu, Jong… Ughh.. Nusuk beud! Hati jadi cenat-cenut, kuping terasa panas, jari begitu gatalnya ingin mengetik membalas tulisanmu, Ini sih bukan terjadi di Denpasar saja, Jong… melainkan sebagian besar wilayah Bali… Gini lo, Jong… yang sebenarnya terjadi… Gini lo, Jong… yang semestinya dilakukan…”

Sayangnya, apa yang saya ungkapkan inipun juga hanya sebatas pandangan saja. Diakui, dirasakan atau tidak, memang itulah yang terjadi pada teater Bali pada umumnya tahun-tahun belakangan ini. Teater di Bali terasa sedang menyepi. Namun, bukan lantaran karena tak ada teater yang berkembang. Jika konteksnya adalah perkembangan teater, bisa saya pastikan semua tetap punya perkembangannya masing-masing. Semua memiliki capaiannya sendiri-sendiri.

Teater Orok Universitas Udayana misalnya, yang beberapa waktu lalu sempat mementaskan pentas tunggalnya, sebenarnya telah mengalami perkembangan yang cukup memuaskan. Apabila kita mengacu pada masa-masa vakum Teater Orok, ini adalah kali pertama Teater Orok muncul kembali di hadapan publik dengan pentas tunggalnya. Sebelumnya, Teater Orok memang jarang muncul dalam jagat perteateran khususnya di Bali, namun jangan salah.

Di luar, kawan-kawan kita telah membuktikan prestasinya, menghidupkan kembali nama Teater Kampus Bali dalam event berskala nasional. Iin Velentine, ketua Teater Orok saat ini, pernah meraih Juara III dalam Festival Monolog Mahasiswa Nasional (STIGMA) di Palembang, salah satu ajang bergengsi diantara festival tingkat mahasiswa saat ini.

Hal serupa juga terjadi pada UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha yang pada tahun 2014 menggegerkan kawan-kawan di Bali Utara khususnya dengan Pentas Mega-Mega karya Arifin C. Noer. Bisa dikataka, pentas yang disutradarai oleh Wulan Dewi Saraswati ini merupakan yang terbaik diantara pentas yang selama ini telah diselenggarakan.

Sementara di luar kampus, kita dapat melihat militansi teater lainnya dalam menyelenggarakan kegiatan serupa semisal Komunitas Senja yang digawangi oleh Heri Windi Anggara dkk yang sudah 2 tahun berturut-turut mengadakan Parade Monolog se-Bali, kawan-kawan Forum Teater Muda Bali Utara dengan acara Parade Teater Muda Bali Utaranya, Denpasar Highschool Project yang juga 2 tahun belakangan ini mengadakan lomba Theatrical Show, pula beberapa pertunjukan yang luput dari pandangan mata.

O ya, satu lagi, yang paling anyar adalah pentas Komunitas Mahima dalam “Perempuan Tanpa Nama” karya Kadek Sonia Piscayanti yang disutradarai oleh Desi Nurani.

Jika dihitung, mungkin puluhan kegiatan teater entah dalam bentuk lomba, parade, atau pentas tunggal telah diselenggarakan setiap tahunnya. Semuanya, dari pentas satu ke pentas selanjutnya punya sesuatu yang menarik untuk diperhatikan sekaligus dipelihara sebagai bagian dari proses perkembangan sebuah teater yang lebih baik.

Lalu, jika sudah ada begitu banyak pentas, begitu banyak capaian yang berhasil dilakukan, mengapa masih saja jagat perteateran Bali terasa sepi? Dari perspektif penonton, boleh jadi jawaban Santiasa Putu Putra, terutama yang menyoal pada manajemen teater Bali patut kita renungkan.

Bener ga, ini cuma hanya soal publikasi? Bener ga, ini cuma soal pentas dalam rangka? Bener ga, ini terkait masalah kawan-kawan yang kini sudah sangat sibuk menjadi pembina di sekolah-sekolah? Luar daripada itu, yang pula mesti kita pertanyaan  adalah bagaimana umumnya peristiwa teater dilakukan, diselami, dan dikritisi oleh kawan-kawan pegiat teater di Bali sendiri.

  1. CARA PANDANG

Barangkali, ini adalah satu hal yang paling mengganjal dalam jagat perhelatan teater Bali. Ketika diadakan diskusi teater, tak pernah ada titik terang membicarakan hal-hal seputar pertunjukan. Kalau tak ada titik terang karena debat sih, itu hal yang biasa. Tapi tak ketemunya ini karena yang diajak ngomong sama-sama ga nyambung, Bro!

Coba dipikir lagi, saat ngomong tentang operet, yang dibicarakan adalah  teater sebagai sebagai gerakan seni yang berada dalam ruang-ruang kontemplatif. Ngomong teater realis,  komennya cuma, “realis gitu-gitu aja, pola mainnya. Ga ada tawaran baru. Bosen.” Ngomong teater eksperimental, sambutannya cuma “apa itu! Ga ngerti aku!”. Lha? Lalu maunya yang gimana sih, Bro?

Permasalahan cara pandang ini bukan saja terjadi pada gaya permainan teater saja, melainkan juga dalam perspektif mengulas pentas kelompok teater sekolah, kampus, dan professional. Seolah, ketiga jenjang ini dipukul rata seluruhnya. Tak ada batas teater sekolah, kampus, dan professional. Jika ingin bicara jujur, sebenarnya sejauh mana sih, tingkat pemahaman anak-anak terhadap teater?

Etis ga sih jika kita samakan mereka dengan orang dewasa yang sudah bertahun main teater? Saya yakin, jawabannya pasti tidak.

Tapi anehnya, ketika anak-anak SMA ini, yang masih unyu-unyu, belum bisa cebok sendiri, notabene baru pertama kali bermain teater, tak mampu memenuhi harapan, gampang sekali kita mencacinya seolah semua hal yang mereka lakukan sia-sia. Sedang ketika para senior bermain dengan pola yang itu-itu saja, tafsir yang seadanya, atau bahkan diada-adakan, kita hanya diam seribu bahasa. Piye iki?

Yang ingin hambamu tanyakan pada kawan-kawan teater dalam konteks ini sesungguhnya adalah, apakah teater kita selama ini benar-benar sudah melakukan kegiatan belajar? Seberapa banyak kita tahu tentang Stanislavsky, Brecht, Grotowski, Peter Brook, Barba dan lain-lain, dan lain-lain.

Bagaimana perkembangan teater di Indonesia atau dunia saat ini? Siapa sih Rendra? Seberapa banyak kita kenal karya teaternya hingga selalu saja kita pinjam namanya untuk mendefinisikan, membandingkan bahwa karya yang kita punya tak lebih baik dari dirinya?

Diskusi ini diperparah lagi ketika tak ada kritik, tak ada ulasan setelahnya. Apalagi tulisan menguraikan dari pegiat teater, wartawan, atau penulis lainnya terhadap peristiwa teater yang tengah terjadi. Semua sepi. Setelah pentas, diskusi ngarol ngidul, pulang, dan bubar.

Bahkan diskusi yang menyoal bagaimana sebuah pentas mampu mencapai efek katarsispun, hanya bisa dituturkan sebatas ekspresi aktor, setting, gesture dan yang paling sering perihal rasa, raga, sukma yang sifatnya sangat subjektif. Kita tak pernah digiring pada ranah teater sebagai usaha ‘melemparkan’ sebuah wacana atau teks yang bersifat ilmiah dengan pencarian, metode, dan riset yang sejatinya ditawarkan secara sadar oleh kelompok teater itu sendiri.

  1. STANDARISASI KELOMPOK TEATER

Persoalan standarisasi juga merupakan hal yang tak kalah penting dalam perkembangan teater di Bali. Pengukuhan kelompok teater masih saja berlandaskan seberapa banyak mereka memenangkan perlombaan. Inilah yang bagi saya,  menjadi biang kerok mental-mental teater kita masih ‘dalam rangka’. Salah satunya adalah Lomba Drama Modern Pekan Seni Remaja (PSR) Denpasar.

Saya tidak akan menampik bahwa lomba ini pulalah yang menghidupkan kegiatan teater SMP dan SMA. Namun, lomba drama modern PSR ini jugalah merupakan salah satu tradisi paling sepuh yang menjadikan kelompok teater kita berjiwa ‘dalam rangka’.

Setelah PSR tamat, dunia seolah runtuh. Teater Angin SMA N 1 Denpasar yang kala itu menjadi patron pergerakan teater SMA di Denpasar adalah yang paling merasakan dampaknya. Sementara teater-teater lainnya saling unjuk gigi dalam lomba yang diselenggarakan instansi-instansi, seolah belum bisa move on, nama Teater Angin perlahan samar usai ditiadakannya PSR.

Hal yang sama dialami oleh Teater Ilalang SMA Lab Undiksha Singaraja. Di tahun 2010-an mereka adalah salah satu teater yang paling gencar mengikuti lomba teater. Namanya juga cukup banyak dikenal publik kala itu. Namun di tahun 2015, mereka seolah hilang dari peredaran. Apakah mereka mati? Saya berani katakan, “tidak!”

Mereka hanya tak pernah ikut lomba, bro. Pada tahun-tahun terakhir ini, Teater Ilalang adalah yang paling gencar mengadakan pentas tunggal dengan jumlah penonton yang kian hari kian bertambah! Konsistensinya boleh dikata mampu melebih kegiatan kelompok teater kampus yang bergiat di Bali Utara.

Gerakan pentas tunggal ini sesungguhnya bukan hal yang baru. Sebab di beberapa tempat selalu aja kegiatan serupa. Teater Tiga SMA N 3 Denpasar punya MAKRAMAT, Teater La’Jose SMAK Santo Yoseph punya GATEL, Teater Limas SMA 5 Denpasar punya acara Api Kecil Guru Jiwa yang beberapa lalu sempat dipentaskan. Hampir seluruh teater punya acara serupa tentu dengan masa yang tak tanggung-tanggung jumlahnya.

Dari hal ini, apa yang salah sesungguhnya? Soal publikasikah? Atau kitanya saja yang memang sibuk dengan urusan teater masing-masing, tak pernah mau tahu kabar teater saat ini?

Satu-satunya orang yang sampai saat ini saya tahu rela bolak-balik Denpasar, Negara, Singaraja menonton pentas teater hanyalah Heri Windi Anggara dari Kelompok Sekali Pentas. Ia tetap mempertahankan tradisi ‘silahturahmi’ yang sejatinya telah lama hilang diantara kelompok teater Bali saat ini. Tradisi ini pulalah yang sesungguhnya menghidupkan kegiatan teater di Bali. Kalau sekarang? Jangankan menonton pentas di daerah lain, nonton pentas peserta lainpun alasannya bisa macam-macam, dari harus evaluasilah, harus balik duluanlah harus ginilah, harus gitu lah.. Hmmmm…

Yang tak kalah penting dari itu semua adalah, seberapa banyak panggung yang memberikan kesempatan kelompok-kelompok yang konsisten berteater ini mempertunjukan karyanya? Satu-satunya yang saya ketahui hanyalah acara “Parade Teater Bali 2011” oleh Arti Foundation. Dalam acara tersebut, dapat dilihat betapa mereka mengutamakan kelompok-kelompok dari seluruh Bali yang benar-benar konsisten berteater selama ini. Sayangnya, kegiatan ini pun tak diberlangsungkan pada tahun-tahun setelahnya.

Dalam konteks pentas tunggal, salah satu kelompok yang benar-benar konsisten secara karya dan pembinaan penonton sendiri, adalah Kini Berseri yang mampu membuktikan kehadirannya dengan pentas tunggal, bahkan berhasil menjadi barometer teater saat ini. Apa rahasianya?

Saya jadi ingat percakapan dengan Indra Parusha, pentolan Kini Berseri beberapa tahun silam saat diadakan diskusi teater se-Bali di Buleleng. “Kita milih operet, ya karena temen-temen memang suka operet. Kalau Tekiber dibilang teater sih, sebenarnya ga juga. Kalau ada yang bilang bukan teater juga, silahkan. Besok Tekiber bubar pun aku ga sih apa-apa. Toh dunia ga akan berubah juga, kan?”

Yap. Itulah Kini Berseri. Yang tak pernah punya tendensi memperjuangkan apapun, berbicara apapun, membuktikan apapun. Mereka berteater, ya memang karena suka. Itu aja. Titik.

  1. PEMBINAAN DAN PENCAPAIAN

Sebagaimana yang diungkapkan dalam tulisan Santiasa Putu Putra, bahwa kawan-kawan teater Bali begitu disibukkan dalam urusan bina membina teater sehingga jarang mengurusi dirinya sendiri, memang benar adanya. Salahkah itu? Saya kira tidak. Pembinaan diperlukan dalam upaya menyerahkan tongkat estafet yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita.

Pertanyaan selanjutnya, maukah puan dan tuan dengan rendah hati menyerahkan tongkat estafet tersebut?

Persoalan ini bisa kita tarik dari zaman Wayan Silur, Anom Ranuara, Abu Bakar, Putu Wijaya yang katakanlah sezaman. Lalu ada Samargantang, Putu Satria Kusuma, Cok Sawitri, Nanoq da Kansas, Mas Ruscitadewi, Gus Martin, Agung Eksa, Syahruwardi Abbas, dan lain-lain.

Dilanjutkan dengan Hendra Utay, Moch Satrio Welang, Giri Ratomo, Dedi Dwiyanto, Curex Iwan, Kadek Sonia Piscayanti, Pandet Brewok, Muda Wijaya, Dadi Reza Pujiadi, Yuanita Ramadhani.

Dan kini angkatan terbaru Indra Parusa, Heri Windi Anggara, Wulan Dewi Saraswati, dan Desi Nurani. Apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh di atas? Bagaimana cara mereka berkembang? Bagaimana proses pembinaan yang dilakukan pada mereka dari generasi ke generasi?

Pertanyaan ini tentunya berada di luar jangkauan saya. Jadi saya tak akan banyak mendeskripsikan perihal ini. Terkait masalah pembinaan dan pencapaian ini, pendapat Putu Wijaya mungkin ada benarnya. “Jangan saya yang disuruh turun ke bawah, kalianlah yang semestinya mengejar bahkan melampaui saya”.

Ya. Ialah Putu Wijaya salah satu seniman Bali yang berhasil menaiki menara Teater Indonesia bahkan di Dunia. Ia membina dengan berkarya. Sedang hal sebaliknya dilakukan oleh Umbu Landu Paranggi dalam dunia kesusastraan Bali. Ia berkarya dengan membina. Alhasil, kini begitu banyaknya ‘anak-anak Umbu’ yang memegang peranan penting dalam dunia kesusastraan Bali.

Lalu, bagaimana dengan teater di Bali? Seberapa banyakkah yang mampu mengikuti Putu Wijaya? Siapa saja yang mampu seperti Umbu? Maka berterima kasihlah kita pada kawan-kawan yang senantiasa membina teater dari dulu sampai sekarang. Sebab sejatinya, membina dan berkarya adalah dua hal yang saling bertentangan bahkan saling membunuh satu sama lain. Ada hal yang telah dikorbankan oleh para pembina buat mendidik murid-muridnya. Mereka mesti memilih salah satu diantaranya. Tak bisa menjadi keduanya.

Coba bayangkan, bagaimana kita bisa mengatakan teater yang kita buat sebagai sebuah ‘karya’ jika pemainnya adalah anak-anak SD, SMP, SMA, dan Kuliah yang baru menyelami teater? Apa yang mesti dibanggakan dari ‘karya’ tersebut? Bagaimana bisa kita mengatakan ‘membina’ apabila segala sesuatunya demi kepuasaan estetis pribadi sendiri? Bagaimana bisa membina jika kita saja tak selesai dengan ‘kesenimanan’ sendiri? Generasi apa yang sekiranya lahir dengan cara-cara seperti ini?

Tak semua orang bisa membina. Tak semua orang bisa berkarya. Beberapa kawan sedang menapaki jalan yang sama dengan Umbu dalam jagat perteateran di Bali. Adakah yang ingin menjadi Putu Wijaya? Yang berani menanggalkan singgasana seniman Bali dan terjun dalam kancah nasional. Semakin banyak membaca buku, semakin banyak menonton pentas, semakin banyak memandang dunia di luar Bali, membuat diri semakin kerdil, semakin muak, semakin tenggelam dalam pertanyaan, “Ngudiang gen gaen cang uli pidan sebenarne?”.

Sebab dunia teater begitu berat, Bro! Jadi jangan salahkan kawan-kawan teater yang dulunya dielukan sebagai aktor masa depan, kini tak lagi kelihatan batang hidungnya. Sebab ia sadar, bahwa teater yang katanya panggung kehidupan, yang menjadikan kita lebih baik dari orang lain itu cuma klise, retorika, lips service, kabar burung! Teater itu sebenarnya, ya cuma pentas di panggung 8×10 meter saja. Tak lebih!

Persoalan-persoalan ini saya rasa tak cukup diselesaikan dengan sebuah dua buah tulisan. Kalau diteruskan bisa-bisa jadi curhatan berkepanjangan. Jadi, dengan berat hati saya cukupkan saja sampai di sini. Sebagai penutup, perkenankanlah saya menyapa dan memberi salam pada generasi teater muda di Bali saat ini (nyen nawang ada ane nyautin biin tulisane).

“Hallo, Santiasa Putu Putra, Indra Parusha, Heri Windi Anggara, Wulan Dewi Saraswati, Desi Nurani, Iin Valentine, Benny Dipo, A.A Anggara Surya, Gede Gita Wiastra, Manik Sukadana, Bulan Wijayanti, kawan-kawan Kini Berseri, Kelompok Sekali Pentas, Teater Sepiring Berdua, Teater Senja, Rumah Lima, Teater Sahadewa, dan lain-lain, dan lain-lain yang luput dari ingatan dan pandangan mata… Kengken Kabare Brow?” (T)

Singaraja, 2017

Tags: balidenpasarseni pertunjukanSingarajaTeater
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Pancasila di Tanah Dewata dan Bali yang Tak Akan ke Mana-mana…

Next Post

Saraswati, Krisna-Arjuna, dan Guru Tercinta – Renungan Kritis Pendidikan Kita

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Saraswati, Krisna-Arjuna, dan Guru Tercinta – Renungan Kritis Pendidikan Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co