13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Menyepi Tak Cuma Denpasar, di Bali juga, Jong! Tapi Tunggu Dulu…

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 2, 2018
in Opini

Foto: Dok Komunitas Mahima

MENELISIK apa yang  telah disampaikan oleh kawan saya, Santiasa Putu Putra dalam tulisannya di tatkala.co, 3 Januari 2017 dengan judul “Teater di Denpasar – Lagi Hibernasi, Lagi Menyunyi, Jangan Diganggu”, ingin pula rasanya menyampaikan pendapat, walau inipun juga sebatas omong doang.

Sebab, “apa yang kau sampaikan itu, Jong… Ughh.. Nusuk beud! Hati jadi cenat-cenut, kuping terasa panas, jari begitu gatalnya ingin mengetik membalas tulisanmu, Ini sih bukan terjadi di Denpasar saja, Jong… melainkan sebagian besar wilayah Bali… Gini lo, Jong… yang sebenarnya terjadi… Gini lo, Jong… yang semestinya dilakukan…”

Sayangnya, apa yang saya ungkapkan inipun juga hanya sebatas pandangan saja. Diakui, dirasakan atau tidak, memang itulah yang terjadi pada teater Bali pada umumnya tahun-tahun belakangan ini. Teater di Bali terasa sedang menyepi. Namun, bukan lantaran karena tak ada teater yang berkembang. Jika konteksnya adalah perkembangan teater, bisa saya pastikan semua tetap punya perkembangannya masing-masing. Semua memiliki capaiannya sendiri-sendiri.

Teater Orok Universitas Udayana misalnya, yang beberapa waktu lalu sempat mementaskan pentas tunggalnya, sebenarnya telah mengalami perkembangan yang cukup memuaskan. Apabila kita mengacu pada masa-masa vakum Teater Orok, ini adalah kali pertama Teater Orok muncul kembali di hadapan publik dengan pentas tunggalnya. Sebelumnya, Teater Orok memang jarang muncul dalam jagat perteateran khususnya di Bali, namun jangan salah.

Di luar, kawan-kawan kita telah membuktikan prestasinya, menghidupkan kembali nama Teater Kampus Bali dalam event berskala nasional. Iin Velentine, ketua Teater Orok saat ini, pernah meraih Juara III dalam Festival Monolog Mahasiswa Nasional (STIGMA) di Palembang, salah satu ajang bergengsi diantara festival tingkat mahasiswa saat ini.

Hal serupa juga terjadi pada UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha yang pada tahun 2014 menggegerkan kawan-kawan di Bali Utara khususnya dengan Pentas Mega-Mega karya Arifin C. Noer. Bisa dikataka, pentas yang disutradarai oleh Wulan Dewi Saraswati ini merupakan yang terbaik diantara pentas yang selama ini telah diselenggarakan.

Sementara di luar kampus, kita dapat melihat militansi teater lainnya dalam menyelenggarakan kegiatan serupa semisal Komunitas Senja yang digawangi oleh Heri Windi Anggara dkk yang sudah 2 tahun berturut-turut mengadakan Parade Monolog se-Bali, kawan-kawan Forum Teater Muda Bali Utara dengan acara Parade Teater Muda Bali Utaranya, Denpasar Highschool Project yang juga 2 tahun belakangan ini mengadakan lomba Theatrical Show, pula beberapa pertunjukan yang luput dari pandangan mata.

O ya, satu lagi, yang paling anyar adalah pentas Komunitas Mahima dalam “Perempuan Tanpa Nama” karya Kadek Sonia Piscayanti yang disutradarai oleh Desi Nurani.

Jika dihitung, mungkin puluhan kegiatan teater entah dalam bentuk lomba, parade, atau pentas tunggal telah diselenggarakan setiap tahunnya. Semuanya, dari pentas satu ke pentas selanjutnya punya sesuatu yang menarik untuk diperhatikan sekaligus dipelihara sebagai bagian dari proses perkembangan sebuah teater yang lebih baik.

Lalu, jika sudah ada begitu banyak pentas, begitu banyak capaian yang berhasil dilakukan, mengapa masih saja jagat perteateran Bali terasa sepi? Dari perspektif penonton, boleh jadi jawaban Santiasa Putu Putra, terutama yang menyoal pada manajemen teater Bali patut kita renungkan.

Bener ga, ini cuma hanya soal publikasi? Bener ga, ini cuma soal pentas dalam rangka? Bener ga, ini terkait masalah kawan-kawan yang kini sudah sangat sibuk menjadi pembina di sekolah-sekolah? Luar daripada itu, yang pula mesti kita pertanyaan  adalah bagaimana umumnya peristiwa teater dilakukan, diselami, dan dikritisi oleh kawan-kawan pegiat teater di Bali sendiri.

  1. CARA PANDANG

Barangkali, ini adalah satu hal yang paling mengganjal dalam jagat perhelatan teater Bali. Ketika diadakan diskusi teater, tak pernah ada titik terang membicarakan hal-hal seputar pertunjukan. Kalau tak ada titik terang karena debat sih, itu hal yang biasa. Tapi tak ketemunya ini karena yang diajak ngomong sama-sama ga nyambung, Bro!

Coba dipikir lagi, saat ngomong tentang operet, yang dibicarakan adalah  teater sebagai sebagai gerakan seni yang berada dalam ruang-ruang kontemplatif. Ngomong teater realis,  komennya cuma, “realis gitu-gitu aja, pola mainnya. Ga ada tawaran baru. Bosen.” Ngomong teater eksperimental, sambutannya cuma “apa itu! Ga ngerti aku!”. Lha? Lalu maunya yang gimana sih, Bro?

Permasalahan cara pandang ini bukan saja terjadi pada gaya permainan teater saja, melainkan juga dalam perspektif mengulas pentas kelompok teater sekolah, kampus, dan professional. Seolah, ketiga jenjang ini dipukul rata seluruhnya. Tak ada batas teater sekolah, kampus, dan professional. Jika ingin bicara jujur, sebenarnya sejauh mana sih, tingkat pemahaman anak-anak terhadap teater?

Etis ga sih jika kita samakan mereka dengan orang dewasa yang sudah bertahun main teater? Saya yakin, jawabannya pasti tidak.

Tapi anehnya, ketika anak-anak SMA ini, yang masih unyu-unyu, belum bisa cebok sendiri, notabene baru pertama kali bermain teater, tak mampu memenuhi harapan, gampang sekali kita mencacinya seolah semua hal yang mereka lakukan sia-sia. Sedang ketika para senior bermain dengan pola yang itu-itu saja, tafsir yang seadanya, atau bahkan diada-adakan, kita hanya diam seribu bahasa. Piye iki?

Yang ingin hambamu tanyakan pada kawan-kawan teater dalam konteks ini sesungguhnya adalah, apakah teater kita selama ini benar-benar sudah melakukan kegiatan belajar? Seberapa banyak kita tahu tentang Stanislavsky, Brecht, Grotowski, Peter Brook, Barba dan lain-lain, dan lain-lain.

Bagaimana perkembangan teater di Indonesia atau dunia saat ini? Siapa sih Rendra? Seberapa banyak kita kenal karya teaternya hingga selalu saja kita pinjam namanya untuk mendefinisikan, membandingkan bahwa karya yang kita punya tak lebih baik dari dirinya?

Diskusi ini diperparah lagi ketika tak ada kritik, tak ada ulasan setelahnya. Apalagi tulisan menguraikan dari pegiat teater, wartawan, atau penulis lainnya terhadap peristiwa teater yang tengah terjadi. Semua sepi. Setelah pentas, diskusi ngarol ngidul, pulang, dan bubar.

Bahkan diskusi yang menyoal bagaimana sebuah pentas mampu mencapai efek katarsispun, hanya bisa dituturkan sebatas ekspresi aktor, setting, gesture dan yang paling sering perihal rasa, raga, sukma yang sifatnya sangat subjektif. Kita tak pernah digiring pada ranah teater sebagai usaha ‘melemparkan’ sebuah wacana atau teks yang bersifat ilmiah dengan pencarian, metode, dan riset yang sejatinya ditawarkan secara sadar oleh kelompok teater itu sendiri.

  1. STANDARISASI KELOMPOK TEATER

Persoalan standarisasi juga merupakan hal yang tak kalah penting dalam perkembangan teater di Bali. Pengukuhan kelompok teater masih saja berlandaskan seberapa banyak mereka memenangkan perlombaan. Inilah yang bagi saya,  menjadi biang kerok mental-mental teater kita masih ‘dalam rangka’. Salah satunya adalah Lomba Drama Modern Pekan Seni Remaja (PSR) Denpasar.

Saya tidak akan menampik bahwa lomba ini pulalah yang menghidupkan kegiatan teater SMP dan SMA. Namun, lomba drama modern PSR ini jugalah merupakan salah satu tradisi paling sepuh yang menjadikan kelompok teater kita berjiwa ‘dalam rangka’.

Setelah PSR tamat, dunia seolah runtuh. Teater Angin SMA N 1 Denpasar yang kala itu menjadi patron pergerakan teater SMA di Denpasar adalah yang paling merasakan dampaknya. Sementara teater-teater lainnya saling unjuk gigi dalam lomba yang diselenggarakan instansi-instansi, seolah belum bisa move on, nama Teater Angin perlahan samar usai ditiadakannya PSR.

Hal yang sama dialami oleh Teater Ilalang SMA Lab Undiksha Singaraja. Di tahun 2010-an mereka adalah salah satu teater yang paling gencar mengikuti lomba teater. Namanya juga cukup banyak dikenal publik kala itu. Namun di tahun 2015, mereka seolah hilang dari peredaran. Apakah mereka mati? Saya berani katakan, “tidak!”

Mereka hanya tak pernah ikut lomba, bro. Pada tahun-tahun terakhir ini, Teater Ilalang adalah yang paling gencar mengadakan pentas tunggal dengan jumlah penonton yang kian hari kian bertambah! Konsistensinya boleh dikata mampu melebih kegiatan kelompok teater kampus yang bergiat di Bali Utara.

Gerakan pentas tunggal ini sesungguhnya bukan hal yang baru. Sebab di beberapa tempat selalu aja kegiatan serupa. Teater Tiga SMA N 3 Denpasar punya MAKRAMAT, Teater La’Jose SMAK Santo Yoseph punya GATEL, Teater Limas SMA 5 Denpasar punya acara Api Kecil Guru Jiwa yang beberapa lalu sempat dipentaskan. Hampir seluruh teater punya acara serupa tentu dengan masa yang tak tanggung-tanggung jumlahnya.

Dari hal ini, apa yang salah sesungguhnya? Soal publikasikah? Atau kitanya saja yang memang sibuk dengan urusan teater masing-masing, tak pernah mau tahu kabar teater saat ini?

Satu-satunya orang yang sampai saat ini saya tahu rela bolak-balik Denpasar, Negara, Singaraja menonton pentas teater hanyalah Heri Windi Anggara dari Kelompok Sekali Pentas. Ia tetap mempertahankan tradisi ‘silahturahmi’ yang sejatinya telah lama hilang diantara kelompok teater Bali saat ini. Tradisi ini pulalah yang sesungguhnya menghidupkan kegiatan teater di Bali. Kalau sekarang? Jangankan menonton pentas di daerah lain, nonton pentas peserta lainpun alasannya bisa macam-macam, dari harus evaluasilah, harus balik duluanlah harus ginilah, harus gitu lah.. Hmmmm…

Yang tak kalah penting dari itu semua adalah, seberapa banyak panggung yang memberikan kesempatan kelompok-kelompok yang konsisten berteater ini mempertunjukan karyanya? Satu-satunya yang saya ketahui hanyalah acara “Parade Teater Bali 2011” oleh Arti Foundation. Dalam acara tersebut, dapat dilihat betapa mereka mengutamakan kelompok-kelompok dari seluruh Bali yang benar-benar konsisten berteater selama ini. Sayangnya, kegiatan ini pun tak diberlangsungkan pada tahun-tahun setelahnya.

Dalam konteks pentas tunggal, salah satu kelompok yang benar-benar konsisten secara karya dan pembinaan penonton sendiri, adalah Kini Berseri yang mampu membuktikan kehadirannya dengan pentas tunggal, bahkan berhasil menjadi barometer teater saat ini. Apa rahasianya?

Saya jadi ingat percakapan dengan Indra Parusha, pentolan Kini Berseri beberapa tahun silam saat diadakan diskusi teater se-Bali di Buleleng. “Kita milih operet, ya karena temen-temen memang suka operet. Kalau Tekiber dibilang teater sih, sebenarnya ga juga. Kalau ada yang bilang bukan teater juga, silahkan. Besok Tekiber bubar pun aku ga sih apa-apa. Toh dunia ga akan berubah juga, kan?”

Yap. Itulah Kini Berseri. Yang tak pernah punya tendensi memperjuangkan apapun, berbicara apapun, membuktikan apapun. Mereka berteater, ya memang karena suka. Itu aja. Titik.

  1. PEMBINAAN DAN PENCAPAIAN

Sebagaimana yang diungkapkan dalam tulisan Santiasa Putu Putra, bahwa kawan-kawan teater Bali begitu disibukkan dalam urusan bina membina teater sehingga jarang mengurusi dirinya sendiri, memang benar adanya. Salahkah itu? Saya kira tidak. Pembinaan diperlukan dalam upaya menyerahkan tongkat estafet yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita.

Pertanyaan selanjutnya, maukah puan dan tuan dengan rendah hati menyerahkan tongkat estafet tersebut?

Persoalan ini bisa kita tarik dari zaman Wayan Silur, Anom Ranuara, Abu Bakar, Putu Wijaya yang katakanlah sezaman. Lalu ada Samargantang, Putu Satria Kusuma, Cok Sawitri, Nanoq da Kansas, Mas Ruscitadewi, Gus Martin, Agung Eksa, Syahruwardi Abbas, dan lain-lain.

Dilanjutkan dengan Hendra Utay, Moch Satrio Welang, Giri Ratomo, Dedi Dwiyanto, Curex Iwan, Kadek Sonia Piscayanti, Pandet Brewok, Muda Wijaya, Dadi Reza Pujiadi, Yuanita Ramadhani.

Dan kini angkatan terbaru Indra Parusa, Heri Windi Anggara, Wulan Dewi Saraswati, dan Desi Nurani. Apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh di atas? Bagaimana cara mereka berkembang? Bagaimana proses pembinaan yang dilakukan pada mereka dari generasi ke generasi?

Pertanyaan ini tentunya berada di luar jangkauan saya. Jadi saya tak akan banyak mendeskripsikan perihal ini. Terkait masalah pembinaan dan pencapaian ini, pendapat Putu Wijaya mungkin ada benarnya. “Jangan saya yang disuruh turun ke bawah, kalianlah yang semestinya mengejar bahkan melampaui saya”.

Ya. Ialah Putu Wijaya salah satu seniman Bali yang berhasil menaiki menara Teater Indonesia bahkan di Dunia. Ia membina dengan berkarya. Sedang hal sebaliknya dilakukan oleh Umbu Landu Paranggi dalam dunia kesusastraan Bali. Ia berkarya dengan membina. Alhasil, kini begitu banyaknya ‘anak-anak Umbu’ yang memegang peranan penting dalam dunia kesusastraan Bali.

Lalu, bagaimana dengan teater di Bali? Seberapa banyakkah yang mampu mengikuti Putu Wijaya? Siapa saja yang mampu seperti Umbu? Maka berterima kasihlah kita pada kawan-kawan yang senantiasa membina teater dari dulu sampai sekarang. Sebab sejatinya, membina dan berkarya adalah dua hal yang saling bertentangan bahkan saling membunuh satu sama lain. Ada hal yang telah dikorbankan oleh para pembina buat mendidik murid-muridnya. Mereka mesti memilih salah satu diantaranya. Tak bisa menjadi keduanya.

Coba bayangkan, bagaimana kita bisa mengatakan teater yang kita buat sebagai sebuah ‘karya’ jika pemainnya adalah anak-anak SD, SMP, SMA, dan Kuliah yang baru menyelami teater? Apa yang mesti dibanggakan dari ‘karya’ tersebut? Bagaimana bisa kita mengatakan ‘membina’ apabila segala sesuatunya demi kepuasaan estetis pribadi sendiri? Bagaimana bisa membina jika kita saja tak selesai dengan ‘kesenimanan’ sendiri? Generasi apa yang sekiranya lahir dengan cara-cara seperti ini?

Tak semua orang bisa membina. Tak semua orang bisa berkarya. Beberapa kawan sedang menapaki jalan yang sama dengan Umbu dalam jagat perteateran di Bali. Adakah yang ingin menjadi Putu Wijaya? Yang berani menanggalkan singgasana seniman Bali dan terjun dalam kancah nasional. Semakin banyak membaca buku, semakin banyak menonton pentas, semakin banyak memandang dunia di luar Bali, membuat diri semakin kerdil, semakin muak, semakin tenggelam dalam pertanyaan, “Ngudiang gen gaen cang uli pidan sebenarne?”.

Sebab dunia teater begitu berat, Bro! Jadi jangan salahkan kawan-kawan teater yang dulunya dielukan sebagai aktor masa depan, kini tak lagi kelihatan batang hidungnya. Sebab ia sadar, bahwa teater yang katanya panggung kehidupan, yang menjadikan kita lebih baik dari orang lain itu cuma klise, retorika, lips service, kabar burung! Teater itu sebenarnya, ya cuma pentas di panggung 8×10 meter saja. Tak lebih!

Persoalan-persoalan ini saya rasa tak cukup diselesaikan dengan sebuah dua buah tulisan. Kalau diteruskan bisa-bisa jadi curhatan berkepanjangan. Jadi, dengan berat hati saya cukupkan saja sampai di sini. Sebagai penutup, perkenankanlah saya menyapa dan memberi salam pada generasi teater muda di Bali saat ini (nyen nawang ada ane nyautin biin tulisane).

“Hallo, Santiasa Putu Putra, Indra Parusha, Heri Windi Anggara, Wulan Dewi Saraswati, Desi Nurani, Iin Valentine, Benny Dipo, A.A Anggara Surya, Gede Gita Wiastra, Manik Sukadana, Bulan Wijayanti, kawan-kawan Kini Berseri, Kelompok Sekali Pentas, Teater Sepiring Berdua, Teater Senja, Rumah Lima, Teater Sahadewa, dan lain-lain, dan lain-lain yang luput dari ingatan dan pandangan mata… Kengken Kabare Brow?” (T)

Singaraja, 2017

Tags: balidenpasarseni pertunjukanSingarajaTeater
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Pancasila di Tanah Dewata dan Bali yang Tak Akan ke Mana-mana…

Next Post

Saraswati, Krisna-Arjuna, dan Guru Tercinta – Renungan Kritis Pendidikan Kita

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post

Saraswati, Krisna-Arjuna, dan Guru Tercinta – Renungan Kritis Pendidikan Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co