23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Menyepi Tak Cuma Denpasar, di Bali juga, Jong! Tapi Tunggu Dulu…

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 2, 2018
in Opini

Foto: Dok Komunitas Mahima

MENELISIK apa yang  telah disampaikan oleh kawan saya, Santiasa Putu Putra dalam tulisannya di tatkala.co, 3 Januari 2017 dengan judul “Teater di Denpasar – Lagi Hibernasi, Lagi Menyunyi, Jangan Diganggu”, ingin pula rasanya menyampaikan pendapat, walau inipun juga sebatas omong doang.

Sebab, “apa yang kau sampaikan itu, Jong… Ughh.. Nusuk beud! Hati jadi cenat-cenut, kuping terasa panas, jari begitu gatalnya ingin mengetik membalas tulisanmu, Ini sih bukan terjadi di Denpasar saja, Jong… melainkan sebagian besar wilayah Bali… Gini lo, Jong… yang sebenarnya terjadi… Gini lo, Jong… yang semestinya dilakukan…”

Sayangnya, apa yang saya ungkapkan inipun juga hanya sebatas pandangan saja. Diakui, dirasakan atau tidak, memang itulah yang terjadi pada teater Bali pada umumnya tahun-tahun belakangan ini. Teater di Bali terasa sedang menyepi. Namun, bukan lantaran karena tak ada teater yang berkembang. Jika konteksnya adalah perkembangan teater, bisa saya pastikan semua tetap punya perkembangannya masing-masing. Semua memiliki capaiannya sendiri-sendiri.

Teater Orok Universitas Udayana misalnya, yang beberapa waktu lalu sempat mementaskan pentas tunggalnya, sebenarnya telah mengalami perkembangan yang cukup memuaskan. Apabila kita mengacu pada masa-masa vakum Teater Orok, ini adalah kali pertama Teater Orok muncul kembali di hadapan publik dengan pentas tunggalnya. Sebelumnya, Teater Orok memang jarang muncul dalam jagat perteateran khususnya di Bali, namun jangan salah.

Di luar, kawan-kawan kita telah membuktikan prestasinya, menghidupkan kembali nama Teater Kampus Bali dalam event berskala nasional. Iin Velentine, ketua Teater Orok saat ini, pernah meraih Juara III dalam Festival Monolog Mahasiswa Nasional (STIGMA) di Palembang, salah satu ajang bergengsi diantara festival tingkat mahasiswa saat ini.

Hal serupa juga terjadi pada UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha yang pada tahun 2014 menggegerkan kawan-kawan di Bali Utara khususnya dengan Pentas Mega-Mega karya Arifin C. Noer. Bisa dikataka, pentas yang disutradarai oleh Wulan Dewi Saraswati ini merupakan yang terbaik diantara pentas yang selama ini telah diselenggarakan.

Sementara di luar kampus, kita dapat melihat militansi teater lainnya dalam menyelenggarakan kegiatan serupa semisal Komunitas Senja yang digawangi oleh Heri Windi Anggara dkk yang sudah 2 tahun berturut-turut mengadakan Parade Monolog se-Bali, kawan-kawan Forum Teater Muda Bali Utara dengan acara Parade Teater Muda Bali Utaranya, Denpasar Highschool Project yang juga 2 tahun belakangan ini mengadakan lomba Theatrical Show, pula beberapa pertunjukan yang luput dari pandangan mata.

O ya, satu lagi, yang paling anyar adalah pentas Komunitas Mahima dalam “Perempuan Tanpa Nama” karya Kadek Sonia Piscayanti yang disutradarai oleh Desi Nurani.

Jika dihitung, mungkin puluhan kegiatan teater entah dalam bentuk lomba, parade, atau pentas tunggal telah diselenggarakan setiap tahunnya. Semuanya, dari pentas satu ke pentas selanjutnya punya sesuatu yang menarik untuk diperhatikan sekaligus dipelihara sebagai bagian dari proses perkembangan sebuah teater yang lebih baik.

Lalu, jika sudah ada begitu banyak pentas, begitu banyak capaian yang berhasil dilakukan, mengapa masih saja jagat perteateran Bali terasa sepi? Dari perspektif penonton, boleh jadi jawaban Santiasa Putu Putra, terutama yang menyoal pada manajemen teater Bali patut kita renungkan.

Bener ga, ini cuma hanya soal publikasi? Bener ga, ini cuma soal pentas dalam rangka? Bener ga, ini terkait masalah kawan-kawan yang kini sudah sangat sibuk menjadi pembina di sekolah-sekolah? Luar daripada itu, yang pula mesti kita pertanyaan  adalah bagaimana umumnya peristiwa teater dilakukan, diselami, dan dikritisi oleh kawan-kawan pegiat teater di Bali sendiri.

  1. CARA PANDANG

Barangkali, ini adalah satu hal yang paling mengganjal dalam jagat perhelatan teater Bali. Ketika diadakan diskusi teater, tak pernah ada titik terang membicarakan hal-hal seputar pertunjukan. Kalau tak ada titik terang karena debat sih, itu hal yang biasa. Tapi tak ketemunya ini karena yang diajak ngomong sama-sama ga nyambung, Bro!

Coba dipikir lagi, saat ngomong tentang operet, yang dibicarakan adalah  teater sebagai sebagai gerakan seni yang berada dalam ruang-ruang kontemplatif. Ngomong teater realis,  komennya cuma, “realis gitu-gitu aja, pola mainnya. Ga ada tawaran baru. Bosen.” Ngomong teater eksperimental, sambutannya cuma “apa itu! Ga ngerti aku!”. Lha? Lalu maunya yang gimana sih, Bro?

Permasalahan cara pandang ini bukan saja terjadi pada gaya permainan teater saja, melainkan juga dalam perspektif mengulas pentas kelompok teater sekolah, kampus, dan professional. Seolah, ketiga jenjang ini dipukul rata seluruhnya. Tak ada batas teater sekolah, kampus, dan professional. Jika ingin bicara jujur, sebenarnya sejauh mana sih, tingkat pemahaman anak-anak terhadap teater?

Etis ga sih jika kita samakan mereka dengan orang dewasa yang sudah bertahun main teater? Saya yakin, jawabannya pasti tidak.

Tapi anehnya, ketika anak-anak SMA ini, yang masih unyu-unyu, belum bisa cebok sendiri, notabene baru pertama kali bermain teater, tak mampu memenuhi harapan, gampang sekali kita mencacinya seolah semua hal yang mereka lakukan sia-sia. Sedang ketika para senior bermain dengan pola yang itu-itu saja, tafsir yang seadanya, atau bahkan diada-adakan, kita hanya diam seribu bahasa. Piye iki?

Yang ingin hambamu tanyakan pada kawan-kawan teater dalam konteks ini sesungguhnya adalah, apakah teater kita selama ini benar-benar sudah melakukan kegiatan belajar? Seberapa banyak kita tahu tentang Stanislavsky, Brecht, Grotowski, Peter Brook, Barba dan lain-lain, dan lain-lain.

Bagaimana perkembangan teater di Indonesia atau dunia saat ini? Siapa sih Rendra? Seberapa banyak kita kenal karya teaternya hingga selalu saja kita pinjam namanya untuk mendefinisikan, membandingkan bahwa karya yang kita punya tak lebih baik dari dirinya?

Diskusi ini diperparah lagi ketika tak ada kritik, tak ada ulasan setelahnya. Apalagi tulisan menguraikan dari pegiat teater, wartawan, atau penulis lainnya terhadap peristiwa teater yang tengah terjadi. Semua sepi. Setelah pentas, diskusi ngarol ngidul, pulang, dan bubar.

Bahkan diskusi yang menyoal bagaimana sebuah pentas mampu mencapai efek katarsispun, hanya bisa dituturkan sebatas ekspresi aktor, setting, gesture dan yang paling sering perihal rasa, raga, sukma yang sifatnya sangat subjektif. Kita tak pernah digiring pada ranah teater sebagai usaha ‘melemparkan’ sebuah wacana atau teks yang bersifat ilmiah dengan pencarian, metode, dan riset yang sejatinya ditawarkan secara sadar oleh kelompok teater itu sendiri.

  1. STANDARISASI KELOMPOK TEATER

Persoalan standarisasi juga merupakan hal yang tak kalah penting dalam perkembangan teater di Bali. Pengukuhan kelompok teater masih saja berlandaskan seberapa banyak mereka memenangkan perlombaan. Inilah yang bagi saya,  menjadi biang kerok mental-mental teater kita masih ‘dalam rangka’. Salah satunya adalah Lomba Drama Modern Pekan Seni Remaja (PSR) Denpasar.

Saya tidak akan menampik bahwa lomba ini pulalah yang menghidupkan kegiatan teater SMP dan SMA. Namun, lomba drama modern PSR ini jugalah merupakan salah satu tradisi paling sepuh yang menjadikan kelompok teater kita berjiwa ‘dalam rangka’.

Setelah PSR tamat, dunia seolah runtuh. Teater Angin SMA N 1 Denpasar yang kala itu menjadi patron pergerakan teater SMA di Denpasar adalah yang paling merasakan dampaknya. Sementara teater-teater lainnya saling unjuk gigi dalam lomba yang diselenggarakan instansi-instansi, seolah belum bisa move on, nama Teater Angin perlahan samar usai ditiadakannya PSR.

Hal yang sama dialami oleh Teater Ilalang SMA Lab Undiksha Singaraja. Di tahun 2010-an mereka adalah salah satu teater yang paling gencar mengikuti lomba teater. Namanya juga cukup banyak dikenal publik kala itu. Namun di tahun 2015, mereka seolah hilang dari peredaran. Apakah mereka mati? Saya berani katakan, “tidak!”

Mereka hanya tak pernah ikut lomba, bro. Pada tahun-tahun terakhir ini, Teater Ilalang adalah yang paling gencar mengadakan pentas tunggal dengan jumlah penonton yang kian hari kian bertambah! Konsistensinya boleh dikata mampu melebih kegiatan kelompok teater kampus yang bergiat di Bali Utara.

Gerakan pentas tunggal ini sesungguhnya bukan hal yang baru. Sebab di beberapa tempat selalu aja kegiatan serupa. Teater Tiga SMA N 3 Denpasar punya MAKRAMAT, Teater La’Jose SMAK Santo Yoseph punya GATEL, Teater Limas SMA 5 Denpasar punya acara Api Kecil Guru Jiwa yang beberapa lalu sempat dipentaskan. Hampir seluruh teater punya acara serupa tentu dengan masa yang tak tanggung-tanggung jumlahnya.

Dari hal ini, apa yang salah sesungguhnya? Soal publikasikah? Atau kitanya saja yang memang sibuk dengan urusan teater masing-masing, tak pernah mau tahu kabar teater saat ini?

Satu-satunya orang yang sampai saat ini saya tahu rela bolak-balik Denpasar, Negara, Singaraja menonton pentas teater hanyalah Heri Windi Anggara dari Kelompok Sekali Pentas. Ia tetap mempertahankan tradisi ‘silahturahmi’ yang sejatinya telah lama hilang diantara kelompok teater Bali saat ini. Tradisi ini pulalah yang sesungguhnya menghidupkan kegiatan teater di Bali. Kalau sekarang? Jangankan menonton pentas di daerah lain, nonton pentas peserta lainpun alasannya bisa macam-macam, dari harus evaluasilah, harus balik duluanlah harus ginilah, harus gitu lah.. Hmmmm…

Yang tak kalah penting dari itu semua adalah, seberapa banyak panggung yang memberikan kesempatan kelompok-kelompok yang konsisten berteater ini mempertunjukan karyanya? Satu-satunya yang saya ketahui hanyalah acara “Parade Teater Bali 2011” oleh Arti Foundation. Dalam acara tersebut, dapat dilihat betapa mereka mengutamakan kelompok-kelompok dari seluruh Bali yang benar-benar konsisten berteater selama ini. Sayangnya, kegiatan ini pun tak diberlangsungkan pada tahun-tahun setelahnya.

Dalam konteks pentas tunggal, salah satu kelompok yang benar-benar konsisten secara karya dan pembinaan penonton sendiri, adalah Kini Berseri yang mampu membuktikan kehadirannya dengan pentas tunggal, bahkan berhasil menjadi barometer teater saat ini. Apa rahasianya?

Saya jadi ingat percakapan dengan Indra Parusha, pentolan Kini Berseri beberapa tahun silam saat diadakan diskusi teater se-Bali di Buleleng. “Kita milih operet, ya karena temen-temen memang suka operet. Kalau Tekiber dibilang teater sih, sebenarnya ga juga. Kalau ada yang bilang bukan teater juga, silahkan. Besok Tekiber bubar pun aku ga sih apa-apa. Toh dunia ga akan berubah juga, kan?”

Yap. Itulah Kini Berseri. Yang tak pernah punya tendensi memperjuangkan apapun, berbicara apapun, membuktikan apapun. Mereka berteater, ya memang karena suka. Itu aja. Titik.

  1. PEMBINAAN DAN PENCAPAIAN

Sebagaimana yang diungkapkan dalam tulisan Santiasa Putu Putra, bahwa kawan-kawan teater Bali begitu disibukkan dalam urusan bina membina teater sehingga jarang mengurusi dirinya sendiri, memang benar adanya. Salahkah itu? Saya kira tidak. Pembinaan diperlukan dalam upaya menyerahkan tongkat estafet yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita.

Pertanyaan selanjutnya, maukah puan dan tuan dengan rendah hati menyerahkan tongkat estafet tersebut?

Persoalan ini bisa kita tarik dari zaman Wayan Silur, Anom Ranuara, Abu Bakar, Putu Wijaya yang katakanlah sezaman. Lalu ada Samargantang, Putu Satria Kusuma, Cok Sawitri, Nanoq da Kansas, Mas Ruscitadewi, Gus Martin, Agung Eksa, Syahruwardi Abbas, dan lain-lain.

Dilanjutkan dengan Hendra Utay, Moch Satrio Welang, Giri Ratomo, Dedi Dwiyanto, Curex Iwan, Kadek Sonia Piscayanti, Pandet Brewok, Muda Wijaya, Dadi Reza Pujiadi, Yuanita Ramadhani.

Dan kini angkatan terbaru Indra Parusa, Heri Windi Anggara, Wulan Dewi Saraswati, dan Desi Nurani. Apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh di atas? Bagaimana cara mereka berkembang? Bagaimana proses pembinaan yang dilakukan pada mereka dari generasi ke generasi?

Pertanyaan ini tentunya berada di luar jangkauan saya. Jadi saya tak akan banyak mendeskripsikan perihal ini. Terkait masalah pembinaan dan pencapaian ini, pendapat Putu Wijaya mungkin ada benarnya. “Jangan saya yang disuruh turun ke bawah, kalianlah yang semestinya mengejar bahkan melampaui saya”.

Ya. Ialah Putu Wijaya salah satu seniman Bali yang berhasil menaiki menara Teater Indonesia bahkan di Dunia. Ia membina dengan berkarya. Sedang hal sebaliknya dilakukan oleh Umbu Landu Paranggi dalam dunia kesusastraan Bali. Ia berkarya dengan membina. Alhasil, kini begitu banyaknya ‘anak-anak Umbu’ yang memegang peranan penting dalam dunia kesusastraan Bali.

Lalu, bagaimana dengan teater di Bali? Seberapa banyakkah yang mampu mengikuti Putu Wijaya? Siapa saja yang mampu seperti Umbu? Maka berterima kasihlah kita pada kawan-kawan yang senantiasa membina teater dari dulu sampai sekarang. Sebab sejatinya, membina dan berkarya adalah dua hal yang saling bertentangan bahkan saling membunuh satu sama lain. Ada hal yang telah dikorbankan oleh para pembina buat mendidik murid-muridnya. Mereka mesti memilih salah satu diantaranya. Tak bisa menjadi keduanya.

Coba bayangkan, bagaimana kita bisa mengatakan teater yang kita buat sebagai sebuah ‘karya’ jika pemainnya adalah anak-anak SD, SMP, SMA, dan Kuliah yang baru menyelami teater? Apa yang mesti dibanggakan dari ‘karya’ tersebut? Bagaimana bisa kita mengatakan ‘membina’ apabila segala sesuatunya demi kepuasaan estetis pribadi sendiri? Bagaimana bisa membina jika kita saja tak selesai dengan ‘kesenimanan’ sendiri? Generasi apa yang sekiranya lahir dengan cara-cara seperti ini?

Tak semua orang bisa membina. Tak semua orang bisa berkarya. Beberapa kawan sedang menapaki jalan yang sama dengan Umbu dalam jagat perteateran di Bali. Adakah yang ingin menjadi Putu Wijaya? Yang berani menanggalkan singgasana seniman Bali dan terjun dalam kancah nasional. Semakin banyak membaca buku, semakin banyak menonton pentas, semakin banyak memandang dunia di luar Bali, membuat diri semakin kerdil, semakin muak, semakin tenggelam dalam pertanyaan, “Ngudiang gen gaen cang uli pidan sebenarne?”.

Sebab dunia teater begitu berat, Bro! Jadi jangan salahkan kawan-kawan teater yang dulunya dielukan sebagai aktor masa depan, kini tak lagi kelihatan batang hidungnya. Sebab ia sadar, bahwa teater yang katanya panggung kehidupan, yang menjadikan kita lebih baik dari orang lain itu cuma klise, retorika, lips service, kabar burung! Teater itu sebenarnya, ya cuma pentas di panggung 8×10 meter saja. Tak lebih!

Persoalan-persoalan ini saya rasa tak cukup diselesaikan dengan sebuah dua buah tulisan. Kalau diteruskan bisa-bisa jadi curhatan berkepanjangan. Jadi, dengan berat hati saya cukupkan saja sampai di sini. Sebagai penutup, perkenankanlah saya menyapa dan memberi salam pada generasi teater muda di Bali saat ini (nyen nawang ada ane nyautin biin tulisane).

“Hallo, Santiasa Putu Putra, Indra Parusha, Heri Windi Anggara, Wulan Dewi Saraswati, Desi Nurani, Iin Valentine, Benny Dipo, A.A Anggara Surya, Gede Gita Wiastra, Manik Sukadana, Bulan Wijayanti, kawan-kawan Kini Berseri, Kelompok Sekali Pentas, Teater Sepiring Berdua, Teater Senja, Rumah Lima, Teater Sahadewa, dan lain-lain, dan lain-lain yang luput dari ingatan dan pandangan mata… Kengken Kabare Brow?” (T)

Singaraja, 2017

Tags: balidenpasarseni pertunjukanSingarajaTeater
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Pancasila di Tanah Dewata dan Bali yang Tak Akan ke Mana-mana…

Next Post

Saraswati, Krisna-Arjuna, dan Guru Tercinta – Renungan Kritis Pendidikan Kita

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post

Saraswati, Krisna-Arjuna, dan Guru Tercinta – Renungan Kritis Pendidikan Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co