24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saraswati, Krisna-Arjuna, dan Guru Tercinta – Renungan Kritis Pendidikan Kita

I Wayan Artika by I Wayan Artika
February 2, 2018
in Opini

MASKOT sekolah di Bali Dewi Saraswati. Patung megah dewi ilmu-pengetahuan  dibangun di hampir setiap sekolah. Warga sekolah memuja dewi ilmu. Ironisnya, Saraswati seakan dibuat mati, tidak diaktualisasi dalam belajar dan mencintai ilmu.

Kecantikanya sepertinya tidak mampu menarik minat cinta siswa terhadap ilmu dan belajar. Belajar sebagai paksaan dan bukan cinta penuh gairah setiap insan sekolah. Ilmu, pengetahuan, dipahami sebatas teori dan hafalan. Berkah ilmu bagi harkat dan martabat kemanusiaan sebagaimana termaktub dalam surat pendek Albert Einstein (1938) dan kebijaksanaan yang ditawarkan karena menjadi api bagi kehidupan manusia, tidak pernah tercapai.

Ilmu dan pengetahuan tidak bertuah sebagaimana ungkapan Foulcault, pengetahuan itu kekuasaan. Siswa mengetahui plastik terurai setelah ratusan tahun namun tetap membuang plastik sembarangan. Pelajaran di sekolah tidak mampu membentuk tindakan siswa sejalan dengan pesan aksiologi ilmu apalagi cara kerja ilmu (epestemologi). Hubungan segitiga logika, sikap, dan tindakan-nyata terhenti pada ingatan dangkal atau hafalan tes pilihan ganda.

Sekolah tidak sepenuhnya lembaga ilmu memang, lebih cocok sebagai lembaga belajar formal administrasi belajar. Di sekolah, belajar diformalkan, sistematis, dan politis. Hakikat belajar otentik dalam kehidupan  hilang sama sekali. Peran guru mengalami dekadensi dan stagnasi. Para guru menderita berbagai persoalan jiwa, seperti merosotnya dedikasi yang tampak dalam ketidakberdayaan menjalin hubungan humanis dengan para murid.

Dewi Saraswati kurang tepat sebagai maskot belajar. Yang lebih cocok, Krisna dan Arjuna ketika berdialog panjang dalam Bhagavad-gita. Krisna guru dan Arjuna murid. Krisna menuntun Arjuna pemberani (bertindak) namun bertolak belakang dengan tindakan guru dewasa ini, mendidik siswa jadi penakut dan patuh.

Guru merasa profesional setelah menginformasikan hal teknis dan teoretis, minus tindakan nyata. Karena kegelapan jiwa para guru, tidak terjangkau olehnya mengembangkan kesadaran diri siswa atas hidup otentik. Seluruh pertanyaan guru kepada siswa, hafalan, ingatan dangkal, tingkat terendah aktivitas berpikir manusia menurut taksonomi Bloom, disampaikan dengan retorika intimidasi. Jangan harap siswa menerima tawaran berpendapat mengenai filosofi eksistensi dalam Bhagavad-gita, “Tidak pernah ada suatu waktu dimana Aku tidak ada […] (seloka II.12) atau “Apa yang tidak ada tidak pernah akan ada. Apa yang ada tidak pernah tidak ada […]” (seloka II.16].

Guru berceramah sepanjang hayat dan siswa pasif tetapi Krisna menyampaikan pengetahuan suci, lewat percakapaan. Memang segala alasan dimiliki para guru bergeming pada ceramah. Segi politik pendidikan, administrasi rumit, dan jumlah siswa terlalu banyak, membenarkan hal itu. Dalam ceramah otoriter, ilmu dan pengetahuan mengalami instanisasi.

Pengetahuan instan tidak mampu mengubah apapun sehingga sekolah menerima “gugatan” sosial, para tamatan tetap saja “bodoh”. Untuk membuat Arjuna bangkit atau bertindak, perintah tidak diperlukan oleh Krisna. Namun sebaliknya bagi sekolah. Guru seakan tukang perintah.

Krisna memadukan konsep (pengetahuan tertinggi), sikap (keyakinan), dan tindakan otentik untuk membangkitkan Arjuna. Jika akhirnya Arjuna bertindak dalam perang besar di antara para sanak saudara, bukan karena perintah tetapi tuah pengajaran yang diterimanya dari Krisna. Kiranya tujuan akhir pendidikan: menyiapkan siswa hidup di dunia nyata di atas landasan integrasi pikiran, hati, dan tangan/kaki. Keadaan ini disebut inkulturasi oleh Romo Driyarkara.

Proyek perbaikan mutu pendidikan, dari sertifikasi guru berbagai perubahan kurikulum hingga Kurikulum 2013, belum mampu memotong lingkaran setan: tujuan belajar naik kelas dan lulus, ditentukan oleh kemampuan siswa menjawab soal tes objektif.

Terhadap hal ini, kata Krisna kepada Arjuna, “Hanya pada pelaksanaan engkau mempunyai hak dan tidak sama sekali pada hasilnya” (Bhagavad-gita, seloka II.47), bisa dijadikan dasar. Guru mengambil peran besar pada proses belajar dan sekaligus menjadi bagian dari proses itu.

Bukan sebaliknya, guru menggiring siswa mengabaikan proses, mencapai hasil belajar daftar angka (nilai), wujud nyata orientasi pembelajaran pada hasil. Pernyataan Krisna bertentangan dengan landasan belajar berkiblat pada tujuan dangkal. Seharusnya, tujuan belajar berkiblat pada  pengalaman otentik unggul.

Otoritas dan kegelapan jiwa guru  juga sangat buruk bagi pendidikan. Guru mengintimidasi siswa atas nama disiplin visi hampa, mengambil seluruh waktu untuk berceramah, memberi rasa bosan dan muak siswa sehingga siswa bisu, apatis.

Namun Krisna Guru Agung menjadikan Arjuna kritis terhadap dirinya, “Jika Engkau menganggap bahwa jalan pengetahuan lebih mulia dari jalan perbuatan, mengapa Engkau mendesak aku untuk melakukan perbuatan yang biadab ini, O, Krisna?” tanya Arjuna (Bhagacad-gita, seloka III.1).

Sedikit dari mutiara pendidikan yang berkilauan dalam Bhagavad-gita yang diacu esai ini, untuk menunjukkan, pemilihan Dewi Saraswati sebagai maskot pendidikan (di Bali) kurang relevan jika dibandingkan dengan hubungan Krisna dan Arjuna dalam Bhagavad-gita. Krisna dan Arjuna, hubungan guru dan murid yang dinamis. Seperti itulah sedikitnya guru mengajar di kelas. Ketika guru merasa sudah bekerja keras dengan “ngomong” satu kali namun ternyata murid bergeming, sehingga tidak perlu lagi “ngomong” kedua, ketiga, dan seterusnya.

Guru sekaliber Krisna membutuhkan 700 seloka, untuk membuat Arjuna bertindak. Semua siswa tahu kebenaran ilmu namun menjadikan siswa meyakini kebenaran ilmu, membutuhkan kerja keras guru sehingga pengetahuan dan keyakinan atas kebenarannya berubah menjadi energi bagi siswa dalam bertindak. Di situlah peran guru, membangun keyakinan sehingga siswa memetik berkah pengajaran: senyawa teori, sikap, dan tindakan pada dirinya. (T)

 

Tags: bhagawad gitaguruPendidikansekolah
Share880TweetSendShareSend
Previous Post

Teater Menyepi Tak Cuma Denpasar, di Bali juga, Jong! Tapi Tunggu Dulu…

Next Post

Masa Depan Kekuasaan Preman di Negeri Kita

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Masa Depan Kekuasaan Preman di Negeri Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co