3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saraswati, Krisna-Arjuna, dan Guru Tercinta – Renungan Kritis Pendidikan Kita

I Wayan Artika by I Wayan Artika
February 2, 2018
in Opini

MASKOT sekolah di Bali Dewi Saraswati. Patung megah dewi ilmu-pengetahuan  dibangun di hampir setiap sekolah. Warga sekolah memuja dewi ilmu. Ironisnya, Saraswati seakan dibuat mati, tidak diaktualisasi dalam belajar dan mencintai ilmu.

Kecantikanya sepertinya tidak mampu menarik minat cinta siswa terhadap ilmu dan belajar. Belajar sebagai paksaan dan bukan cinta penuh gairah setiap insan sekolah. Ilmu, pengetahuan, dipahami sebatas teori dan hafalan. Berkah ilmu bagi harkat dan martabat kemanusiaan sebagaimana termaktub dalam surat pendek Albert Einstein (1938) dan kebijaksanaan yang ditawarkan karena menjadi api bagi kehidupan manusia, tidak pernah tercapai.

Ilmu dan pengetahuan tidak bertuah sebagaimana ungkapan Foulcault, pengetahuan itu kekuasaan. Siswa mengetahui plastik terurai setelah ratusan tahun namun tetap membuang plastik sembarangan. Pelajaran di sekolah tidak mampu membentuk tindakan siswa sejalan dengan pesan aksiologi ilmu apalagi cara kerja ilmu (epestemologi). Hubungan segitiga logika, sikap, dan tindakan-nyata terhenti pada ingatan dangkal atau hafalan tes pilihan ganda.

Sekolah tidak sepenuhnya lembaga ilmu memang, lebih cocok sebagai lembaga belajar formal administrasi belajar. Di sekolah, belajar diformalkan, sistematis, dan politis. Hakikat belajar otentik dalam kehidupan  hilang sama sekali. Peran guru mengalami dekadensi dan stagnasi. Para guru menderita berbagai persoalan jiwa, seperti merosotnya dedikasi yang tampak dalam ketidakberdayaan menjalin hubungan humanis dengan para murid.

Dewi Saraswati kurang tepat sebagai maskot belajar. Yang lebih cocok, Krisna dan Arjuna ketika berdialog panjang dalam Bhagavad-gita. Krisna guru dan Arjuna murid. Krisna menuntun Arjuna pemberani (bertindak) namun bertolak belakang dengan tindakan guru dewasa ini, mendidik siswa jadi penakut dan patuh.

Guru merasa profesional setelah menginformasikan hal teknis dan teoretis, minus tindakan nyata. Karena kegelapan jiwa para guru, tidak terjangkau olehnya mengembangkan kesadaran diri siswa atas hidup otentik. Seluruh pertanyaan guru kepada siswa, hafalan, ingatan dangkal, tingkat terendah aktivitas berpikir manusia menurut taksonomi Bloom, disampaikan dengan retorika intimidasi. Jangan harap siswa menerima tawaran berpendapat mengenai filosofi eksistensi dalam Bhagavad-gita, “Tidak pernah ada suatu waktu dimana Aku tidak ada […] (seloka II.12) atau “Apa yang tidak ada tidak pernah akan ada. Apa yang ada tidak pernah tidak ada […]” (seloka II.16].

Guru berceramah sepanjang hayat dan siswa pasif tetapi Krisna menyampaikan pengetahuan suci, lewat percakapaan. Memang segala alasan dimiliki para guru bergeming pada ceramah. Segi politik pendidikan, administrasi rumit, dan jumlah siswa terlalu banyak, membenarkan hal itu. Dalam ceramah otoriter, ilmu dan pengetahuan mengalami instanisasi.

Pengetahuan instan tidak mampu mengubah apapun sehingga sekolah menerima “gugatan” sosial, para tamatan tetap saja “bodoh”. Untuk membuat Arjuna bangkit atau bertindak, perintah tidak diperlukan oleh Krisna. Namun sebaliknya bagi sekolah. Guru seakan tukang perintah.

Krisna memadukan konsep (pengetahuan tertinggi), sikap (keyakinan), dan tindakan otentik untuk membangkitkan Arjuna. Jika akhirnya Arjuna bertindak dalam perang besar di antara para sanak saudara, bukan karena perintah tetapi tuah pengajaran yang diterimanya dari Krisna. Kiranya tujuan akhir pendidikan: menyiapkan siswa hidup di dunia nyata di atas landasan integrasi pikiran, hati, dan tangan/kaki. Keadaan ini disebut inkulturasi oleh Romo Driyarkara.

Proyek perbaikan mutu pendidikan, dari sertifikasi guru berbagai perubahan kurikulum hingga Kurikulum 2013, belum mampu memotong lingkaran setan: tujuan belajar naik kelas dan lulus, ditentukan oleh kemampuan siswa menjawab soal tes objektif.

Terhadap hal ini, kata Krisna kepada Arjuna, “Hanya pada pelaksanaan engkau mempunyai hak dan tidak sama sekali pada hasilnya” (Bhagavad-gita, seloka II.47), bisa dijadikan dasar. Guru mengambil peran besar pada proses belajar dan sekaligus menjadi bagian dari proses itu.

Bukan sebaliknya, guru menggiring siswa mengabaikan proses, mencapai hasil belajar daftar angka (nilai), wujud nyata orientasi pembelajaran pada hasil. Pernyataan Krisna bertentangan dengan landasan belajar berkiblat pada tujuan dangkal. Seharusnya, tujuan belajar berkiblat pada  pengalaman otentik unggul.

Otoritas dan kegelapan jiwa guru  juga sangat buruk bagi pendidikan. Guru mengintimidasi siswa atas nama disiplin visi hampa, mengambil seluruh waktu untuk berceramah, memberi rasa bosan dan muak siswa sehingga siswa bisu, apatis.

Namun Krisna Guru Agung menjadikan Arjuna kritis terhadap dirinya, “Jika Engkau menganggap bahwa jalan pengetahuan lebih mulia dari jalan perbuatan, mengapa Engkau mendesak aku untuk melakukan perbuatan yang biadab ini, O, Krisna?” tanya Arjuna (Bhagacad-gita, seloka III.1).

Sedikit dari mutiara pendidikan yang berkilauan dalam Bhagavad-gita yang diacu esai ini, untuk menunjukkan, pemilihan Dewi Saraswati sebagai maskot pendidikan (di Bali) kurang relevan jika dibandingkan dengan hubungan Krisna dan Arjuna dalam Bhagavad-gita. Krisna dan Arjuna, hubungan guru dan murid yang dinamis. Seperti itulah sedikitnya guru mengajar di kelas. Ketika guru merasa sudah bekerja keras dengan “ngomong” satu kali namun ternyata murid bergeming, sehingga tidak perlu lagi “ngomong” kedua, ketiga, dan seterusnya.

Guru sekaliber Krisna membutuhkan 700 seloka, untuk membuat Arjuna bertindak. Semua siswa tahu kebenaran ilmu namun menjadikan siswa meyakini kebenaran ilmu, membutuhkan kerja keras guru sehingga pengetahuan dan keyakinan atas kebenarannya berubah menjadi energi bagi siswa dalam bertindak. Di situlah peran guru, membangun keyakinan sehingga siswa memetik berkah pengajaran: senyawa teori, sikap, dan tindakan pada dirinya. (T)

 

Tags: bhagawad gitaguruPendidikansekolah
Share880TweetSendShareSend
Previous Post

Teater Menyepi Tak Cuma Denpasar, di Bali juga, Jong! Tapi Tunggu Dulu…

Next Post

Masa Depan Kekuasaan Preman di Negeri Kita

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Masa Depan Kekuasaan Preman di Negeri Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co