4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masa Depan Kekuasaan Preman di Negeri Kita

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
February 2, 2018
in Opini

Sumber foto: google

DALAM sejarah budaya kita, kadang-kadang semangat cinta tanah air dibangun dengan imajinasi premanisme. Artinya masyarakat memproduksi tokoh-tokoh fiktif berlatar belakang preman (orang tahanan, jawara, centeng) untuk melakukan propaganda anti penjajah.

Tokoh-tokoh fiktif itu, biasanya juga bertindak dengan cara-cara preman, seperti membunuh polisi, membongkar tangsi, atau menciptakan kegiatan-kegiatan huru-hara yang prinsipnya berlawanan dengan hukum-hukum resmi.

Inilah yang kita lihat pada fenomena cerita si Pitung dan Sakerah misalnya. Yang meminjam unsur heroisme lokal untuk menciptakan tokoh-tokoh fiktif yang berani menentang kemapanan hukum kolonial.

Dua cerita itu, sangat populer, (khususnya Jawa dan Betawi) sejak dari akhir abad 19 di masa pemerintahan Hindia Belanda. Pak Sakerah sendiri pernah sangat populer dalam kesenian ludruk Jawa Timur pada kisaran akhir abad 19 hingga awal-awal republik. Bahkan menurut budayawan Madura, D Zawawi Imron, Pak Sakerah masih digemari sampai era 1950-an dan masih menyertai streotipe negatif yang ditimpakan kepada orang Madura hingga hari ini.

Sungguh menarik mengamati, karena ternyata pada zaman republik, cerita-cerita itu kembali direproduksi dan diselebrasi lewat media filem. Pak Sakerah misalnya, pertama difilemkan pada tahun 1988 oleh perusahaan film PT Merdeka Jaya Putra, diskenario dan disutradarai oleh B. Z. Kadaryono.

Sedang si Pitung jauh hari sebelumnya, yakni pada 1931 telah difilmkan menurut versi kolonial. Kemudian  pada tahun 1970 muncul pula film Si Pitung versi baru yang skenarionya ditulis seniman Betawi S.M Ardan dan disutradarai Nawi Ismail.

Terlepas dari upaya sejumlah peneliti sosial budaya yang mengatakan bahwa tokoh-tokoh tersebut hanya fiksi, toh, kenangan terhadap mereka masih hidup pada angan masyarakat. Malahan, di Jakarta Utara rumah Si Pitung dijadikan cagar budaya, serta pernah dijadikan tempat deklarasi Capres pada 2014 lalu.

Ini menandakan bahwa ikon-ikon budaya bernuansa jawara, selalu potensial untuk berkorelasi dengan kegiatan politik kekuasaan.

Masa Depan

Belum ada referensi yang meyakinkan apakah budaya jawara memang mempunyai akar yang kuat dalam budaya tradisi masyarakat kita. Meskipun kita mendapati sejumlah cerita rakyat mengenai kependekaran dan kejawaraan mulai tumbuh semenjak adanya kolonialisme sebagai latar belakang baru.

Lagi pula, bahan-bahan tertulis mengenai cerita jawara itu, yang dapat digunakan sebagai referensi otentik untuk mengukur kebenaran realitasnya, jarang sekali. Tidak semudah memperolehnya dari cerita-cerita lisan yang kebanyakan muncul pada abad 19. Umpamanya melalui roman sejenis “roman pergaoelan” atau setipe komik yang menampilkan semangat percentengan itu.

Satu hal yang bisa dipastikan, munculnya figur-figur mitos para jawara ini – yang menonjolkan kesaktian fisik dan memuja aspek kriminalnya –  pada dasarnya bertentangan dengan bahan-bahan budaya tradisional mengenai “orang yang layak dihormati”.

Sebagai misal, dalam kebudayaan Jawa umumnya, tokoh-tokoh idola yang dijadikan teladan adalah mereka yang alim seperti pemimpin agama, ulama dan raja-raja yang adil. Hal ini berlangsung semenjak dari masa Hindu-Budha dan Islam. Malahan, tokoh-tokoh sejarah yang kental dengan unsur keragaan kebanyakan diproduksi oleh babad yang tidak jelas sumbernya.

Contoh yang kuat untuk mengemukakan pendapat ini adalah dengan memperhatikan kisah-kisah pewayangan yang tokoh-tokoh ceritanya melambangkan berbagai karakter manusia. Meskipun tokoh-tokoh pewayangan mempunyai ilmu kesaktian beragam rupa, bahkan ada yang sampai bisa memindahkan gunung, tidak ditonjolkan aspek fisiknya itu. Melainkan yang ditonjolkan nasehat di balik kisah-kisah tersebut.

Berdasarkan itu, sementara pengkaji lebih melihat fenomena budaya preman atau jawara ini, dalam sejarahnya merupakan dampak dari kegagalan pemerintah kolonial menegakan hukum. Pada tahap berikutnya, yakni pada fase republik, para preman ini muncul berbarengan dengan upaya pengorganisasian massa di zaman revolusi kemerdekaan, yang berlanjut pada pengorganisasi massa ketika republik sudah terbentuk untuk kepentingan politik golongan.

Fase ketiga, pada Zaman Pembangunan, munculnya kota-kota megapolitan pada awal 1980-an tampaknya disertai dengan menggejalanya kecenderungan untuk mengidentifikasi sebuah kota sebagai daerah preman dalam imajinasi masyarakat. Ini bisa dilihat misalnya, dari semboyan-semboyan yang melekat pada sebuah kota para kurun 80-an itu. “Awas, ini Medan Bung”, dan serupanya.

Fase yang paling buruk tampaknya terjadi pasca reformasi, ketika budaya preman menjadi gejala umum dalam politik. Hal inilah yang kerap dikritik pengamat telah terwujud dalam fenomena satgas partai, laskar dan milisi-milisi yang mempunyai kontak serius dengan partai politik. Belakangan nama-nama dan simbol organisasi itu malahan banyak menggunakan simbol-simbol dan atribut budaya lokal.

Apakah masyarakat takut? Tentu saja takut, karena nyatanya  organisasi-organisasi massa seperti itu sering terlibat bentrok satu sama lain. Namun yang lebih menakutkan adalah ketika para pemimpin mereka muncul sebagai orator politik, ketua badan pemenangan pemilu dari partai yang didukungnya, menjadi bupati, dan mempunyai posisi atau pengaruh yang signifikan dalam kekuasaan. Realitas ini, tak terpungkiri, makin meyakinkan kita, bahwa preman selalu punya masa depan di negeri kita. (T)

Tags: Indonesiakekuasaanpreman
Share3TweetSendShareSend
Previous Post

Saraswati, Krisna-Arjuna, dan Guru Tercinta – Renungan Kritis Pendidikan Kita

Next Post

“Ngidu di Bungut Paon”: Dialog Masa Lalu dan Nikmat “Sambel Matah”

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

“Ngidu di Bungut Paon”: Dialog Masa Lalu dan Nikmat “Sambel Matah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co