14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bicara Kesehatan Mental Lewat Buku “Introvert”

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
March 19, 2023
in Ulas Buku
Bicara Kesehatan Mental Lewat Buku “Introvert”

Buku "Introvert" | Dok. Teddy

GURU BAHASA BALI, menulis buku berbahasa Bali. Kiranya hal itu menjadi capaian ideal bagi seorang guru bahasa Bali. Memang tidak banyak guru dapat meraihnya. Tapi, seorang I Nyoman Sutarjana, guru bahasa Bali di SMAN Bali Mandara ini berhasil meraih capaian tersebut.

Lewat pupulan satua cutet “Introvert” ia menunjukkan bahwa guru memang harus dekat dengan aktivitas menulis, dan tentu saja, mempublikasikannya. Namun, sebelum jauh berbicara soal isinya, saya mau sedikit menceritakan perkenalan saya dengan penulis buku ini.

I Nyoman Sutarjana adalah guru bahasa Bali yang pernah mengajar di SMKN 1 Denpasar, sekolah tempat saya menempuh pendidikan sekitar tahun 2010 s.d 2013. Sudah cukup lama memang, tapi tentu kenangannya tidak mudah dilupakan. Hahaha.

Seingat saya, bapak satu ini lebih akrab disapa dengan “Pak Bintang Laut”—sapaan itu datang dari nama akun Facebooknya pada masa itu. Tidak hanya sebagai guru bahasa Bali, ia juga sempat dipercaya menjadi Pembina Pramuka, dan kebetulan, saya pun aktif di Pramuka. Meski berada dalam ruang lingkup serupa, tidak jamak komunikasi yang terbangun antara saya dan Pak Bintang Laut. Sekadar tahu saja, tidak lebih.

Setelah sekian lama, saya kembali bertemu Pak Bintang Laut di Universitas Udayana. Tepatnya pada saat saya menjadi panitia di salah satu kegiatan lomba cerdas cermat, dan saat itu Pak Bintang Laut mendampingi siswanya yang berlomba—saat itu ia sudah menjadi guru di SMAN Bali Mandara, mungkin sekitar tahun 2015.

Sejak saat itu, komunikasi pun mulai terjalin kembali, meski hanya lewat sosial media.

“Introvert” Karya Berbahasa Bali yang Ngepop

Lama tak berjumpa, pada akhirnya saya kembali berjumpa dengan Pak Bintang Laut melalui karyanya. Kumpulan cerita pendek berbahasa Bali berjudul “Introvert” menjadi karya pertamanya. Tentu ini menjadi sebuah kabar yang menggembirakan.

Dalam bagian pengantarnya, penulis sudah mengatakan bahwa buku ini mengambil genre komedi dan banyak mengadaptasi gaya tulisan dari Raditya Dika. Sketsa-sketsa komedi banyak ditampilkan oleh penulis di setiap ceritanya. Hal tersebut bisa dilihat di bagian ini:

“Kopi ané ngingetang titian sareng bapa. Bapa ané ngajahin tiang ngaé kopi. Gulané duang séndok, kopiné a séndok apang manisan dik idupé.” (Introvert, hlm. 4)

“Suba léwat tahun baru né Man. Dingeh-dingeh tahunné ené gubernuré ngelah program baru. Nyén ané umur sasur tiban kéwala enu jomblo lakar kasuntik mati,” (Truna Wayah, hlm. 7)

“Cara nebag lampu sign ibuk-ibuk negakin motor. Sign kanan bisa ia méngkol kiri. Woman is always right. Anak luh selalu benar.” (Tresnané Nutur (Tusing) Sadarana di Pasih Purnama, hlm. 13)

Lelucon-lelucon semacam itu kerap kali kita dengar, bahkan kita gunakan dalam percakapan sehari-hari atau menggambarkan situasi hidup yang sedang dihadapi. Tentu lelucon tersebut bertujuan untuk mencairkan suasana dalam percakapan—atau mungkin untuk sekadar menghibur diri saja.

Saya pikir, memberikan bumbu-bumbu komedi dalam sebuah tulisan adalah upaya untuk memudahkan pembaca dalam menerima pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Selain itu komedi juga bermanfaat untuk memangkas jarak antara karya dan pembaca.

Selain ditulis dengan gaya yang ngepop, penulis juga mengangkat tema yang sedang hangat diperbincangkan oleh generasi muda hari ini, yaitu kesehatan mental. Pelbagai istilah kesehatan mental, seperti skizofrenia, bipolar, introvert, dan lainnya. Ungkapan-ungkapan tersebut dapat dilihat pada bagian:

“Kurenan tiang suba bisa nérima kawéntenan tiang, diastun di kénkéné taén tiang orina pindah ka Koréa Utara di gumi ané terkenal ulian introvert ento.” (Introvert, hlm. 5)

“Luh Puji kocap kena gangguan kepribadian sané mawasta gangguan Bipolar. Gangguan punika makada Luh Puji tusing bisa ngundukang kenehné ané sriat-sriut buka ayunané.” (Luh Puji, hlm. 25)

“Buduhné kasambat és tabia, nyem lalah. Di ngentah pesu buduhné mamunyi uli semeng ngantos sanja. Yén sing ada ajake ngorta, ia mamunyi ajak didiané. Kemak-kemik nuturang keadaan ékonominé jani. Yén istilah médis gelemné kasambat Skizofrenia.” (Skizofrenia, hlm. 49)

Mengikuti perkembangan informasi. Itulah yang tercermin dari setiap tulisan yang hadir dalam buku ini. Setiap fenomena yang dihadirkan terasa begitu nyata. Fenomena Luh Puji, misalnya, tentu jamak kita melihat orang-orang semacam Luh Puji ini.

Luh Panji adalah individu yang memiliki kepribadian ganda—sehingga menyebabkan orang sekitar begitu sulit mengidentifikasi suasana hati seseorang yang menderita bipolar tersebut.

Begitu pula dengan lainnya. Jamak pula kita melihat bagaimana lingkungan sosial si penderita kesehatan mental ini abai. Alih-alih memberi perhatian dan perlakuan khusus, lingkungan sosialnya justru menganggap apa yang diderita hanyalah hal remeh—kemudian berdampak pada semakin buruknya kondisi si penderita.

Luh Puji adalah penggambaran sempurna dari buruknya situasi lingkungan di sekitarnya.

“Introvert” Adalah Potret Fenomena Hari Ini

Saat pertama kali melihat poster buku ini, saya berpikir, “Kenapa penulis memilih untuk menggunakan istilah introvert sebagai judul cerpen sekaligus judul bukunya?” Pikiran tersebut sempat terlintas dan berkelindan cukup lama di kepala saya, karena saya rasa penulis dapat memilih diksi yang kesan “Bali”-nya bisa dirasakan.

Hal ini terbukti, ketika saya mengunggah foto buku ini sebagai cerita di sosial media Instagram, sebagian besar tidak menyangka bahwa buku ini adalah kumpulan cerita berbahasa Bali. Sebagian mengira bahwa buku ini adalah buku bergenre pengembangan diri (self improvement).

Pemilihan diksi apalagi judul menurut saya penting, mengingat judul menjadi pintu gerbang awal dalam memberi kesan awal kepada calon pembaca.

Bagi saya, karya sastra sedikit banyak berangkat dari fenomena masyarakat yang berlangsung. Karya sastra sendiri memiliki fungsi untuk mendokumentasikan laku hidup manusia pada zamannya.

Apabila banyak karya sastra yang menyuguhkan laku manusia Bali seperti yang disampaikan dalam buku Introvert, maka hal ini dapat menjadi refleksi bagi manusia hari ini. Merefleksikan dan mengelola diri, karena hal utama yang harus dilakukan oleh manusia di zaman ini adalah berdamai dengan diri sendiri.[T]

Kesehatan Mental, Pandemi, Bunuh Diri
Ayo Kolaborasi Untuk Layanan Kesehatan Mental yang Lebih Baik
Mendengar “Haunted Psycho Notes” dari Kanekuro | Dari Kesehatan Mental ke Kesehatan yang Lain
Alasan Mengapa Sampai Detik Ini Indonesia Masih Begini-Begini Saja
Jatuh dan Berharap Kembali ke Titik Lebih Tinggi | Ulasan Buku “Bali Berlayar di Tengah Badai Covid-19”
Tags: Bahasa BaliBukubuku kumpulan cerpenkesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dian Dharmaningsih, Gadis Muda di Dunia Pemilu | Dulu Berseragam KPU, Kini Bawaslu

Next Post

GELUNG

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Nglanyig

GELUNG

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co