2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayo Kolaborasi Untuk Layanan Kesehatan Mental yang Lebih Baik

dr. I Ketut Arya Santosa by dr. I Ketut Arya Santosa
December 19, 2021
in Esai
Ayo Kolaborasi Untuk Layanan Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Suatu hari di sebuah pedesaan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, ada seorang warga yang tetiba mengalami kejadian yang aneh. Tanpa sebab yang diketahui, seorang pria paruh baya berteriak-teriak, mengatakan dirinya bukanlah dirinya, menari-nari penuh ekspresi. Di satu sisi ini adalah pemandangan yang membuat takjub, di sisi lain, ini adalah hal yang diluar konteks, karena tidak ada suatu ritual spiritual tertentu yang sedang berlangsung.

Menurut Anda, kemana keluarganya akan mencari jawaban atas fenomena ini? Siapa yang mereka pikir dapat memberikan jawaban? Kenapa mereka berpikir bahwa orang ini dapat memberikan jawaban?

Dalam sebuah kegiatan “Orientasi Pencegahan dan Pengendalian Depresi” yang dilakukan di Denpasar, saya berkesempatan bertemu dengan pemegang program Kesehatan Jiwa dari berbagai Puskesmas seantero Bali.

Dalam satu sesi diskusi kami, terungkap pengalaman di lapangan bahwa kebanyakan warga lebih cenderung akan mencari jawaban atas fenomena seperti diatas ke “orang pintar” atau paranormal atau Balian atau tokoh spiritual, termasuk pemuka agama. Tokoh-tokoh tersebut dianggap mampu memberikan jawaban atas penyebab fenomena yang terjadi dan kemudian memberikan solusi yang dapat dilakukan. Mereka adalah tokoh-tokoh yang dipandang memiliki integritas, sehingga sugesti yang diberikan dapat menumbuhkan harapan.

Kenyataan senada juga terungkap dalam kegiatan Summer Course yang diadakan oleh Central of Public Mental Health Universitas Gajah Mada dalam sebuah sesi pemutaran film dokumenter yang dibuat di Nusa Tenggara Timur, Bali dan Jogjakarta. Kenyataan ini dibahas juga dalam satu sesi diskusi dengan perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota di Bali dalam rangkaian kegiatan yang sama. Pada akhir sesi diskusi, kami sepakat bahwa kolaborasi dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan jangkauan, keterbatasan dana dan kekurangan sumber daya manusia.

Alih-alih mencari jawaban apakah suatu gangguan pikiran, perasaan dan/atau perilaku disebabkan oleh faktor medis ataukah non-medis, kita bisa melakukan integrasi. Premis ini dapat ditarik dari pengakuan bahwa manusia dan pengalaman hidupnya adalah kompleks. Ada faktor biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang melekat. Untuk memberikan jawaban atas penyebab satu fenomena, kita boleh merujuk pada konsep ini. Jawaban dari satu faktor spiritual misalnya, tidak menghilangkan perhatian kita terhadap faktor biologis, psikologis, budaya, sosial yang tentunya berperan juga.

Gangguan jiwa atau gangguan mental adalah suatu terminologi yang juga kompleks, ditunjukkan dengan luasnya rentang gangguan jiwa yang tertera dalam berbagai pedoman diagnosis. Ada gangguan jiwa yang ringan, sedang dan berat. Ada gangguan jiwa yang menyebabkan gangguan penilaian terhadap realita, ada yang tidak. Ilmu kedokteran jiwa juga mempelajari tentang pencegahan agar orang dengan masalah kesehatan jiwa tidak menjadi orang dengan gangguan jiwa. Penangan orang dengan gangguan jiwa juga tidak melulu dengan obat (biologis), melibatkan juga berbagai modalitas psikologis, sosial, budaya dan juga spiritual. Hal ini sudah tercantum dalam berbagai buku teks medis, dan menjadi subjek penelitian ilmiah terkini.

Jawaban yang disampaikan oleh pemuka agama, tokoh spiritual atau balian (penyembuh tradisional Bali) menyentuh area spiritual, budaya, sosial dan psikologis meskipun sangat jarang menyentuh area biologis dari gangguan jiwa. Di Bali, jawaban ini tidak lepas dari Tri Hita Karana, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan dan leluhur, dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya. Dalam proses mendapatkan solusi, keluarga dan bahkan masyarakat akan dilibatkan, komunikasi lebih intensif dilakukan dan orang dengan gangguan pikiran/perasaan/perilaku lebih diperhatikan.

Integritas tokoh-tokoh masyarakat ini didapatkan karena seringkali mereka memang menawarkan solusi yang dapat dilakukan dan cukup berhasil. Gangguan mental dan emosional yang ada dalam taraf ringan, sedang dan kondisi-kondisi akut tertentu mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan. Bahkan gangguan-gangguan yang bersifat kronis juga dapat dijelaskan dengan rujukan lontar usadha (kitab warisan local genius yang membahas gangguan kesehatan) dan penjelasan yang sesuai budaya dan religi setempat. Rasa nyaman juga didapatkan oleh keluarga bahwa anggota keluarganya tidaklah “gila”, tetapi mengalami gangguan yang disebabkan oleh faktor diluar dirinya (dan keluarga).

Sesungguhnya terdapat persamaan dari praktik-praktik non-medis ini dengan apa yang dilakukan oleh medis. Gangguan mental dan emosional yang ada dalam taraf ringan, sedang dan kondisi-kondisi akut tertentu, memang dapat ditangani tanpa mengedepankan pemberian obat (biologis). Contohnya adalah penanganan gangguan depresi ringan dan sedang, reaksi stress akut yang tercantum pada berbagai panduan penanganan medis. Penanganan gangguan ini akan melibatkan proses psikoedukasi, psikoterapi, konseling, perbaikan komunikasi, aktivitas fisik, aktivasi jejaring keluarga, sosial serta spiritual.

Teman-teman pemegang program kesehatan jiwa di Puskesmas seantero Bali sesungguhnya sudah sangat tidak diragukan lagi integritas dan pengabdiannya. Ketika ada seorang warga di wilayah cakupan Puskesmas-nya, seringkali mereka dihubungi dan datang ke lokasi kejadian. Mereka diminta bantuannya dalam hal penanganan bahkan diluar jam kerja, saat mereka seharusnya beristirahat di rumah. Namun seringkali mereka juga mendapat tantangan dan penolakan atas penjelasan medis yang mereka berikan. Tantangan ini tidak lepas dari unsur stigma, yaitu ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh keluarga dan penderita jika dinyatakan mengalami gangguan mental.

Dua orang teman pemegang program jiwa di Puskesmas menyampaikan pengalamannya terkait kolaborasi yang sudah mereka lakukan. Teman pertama bersikap asertif kepada keluarga penderita dengan kegigihan memberikan edukasi dan penanganan yang sesuai, termasuk pemberian obat. Teman kedua membantu keluarga untuk mendapatkan penanganan medis pada fase akut terlebih dahulu, kemudian ketika penderita sudah ada dalam kondisi cukup tenang, memberikan kesempatan luas untuk penanganan non-medis. Dalam dua contoh kasus ini, penderita gangguan mental mendapatkan pelayanan yang lebih lengkap dan meliputi berbagai aspek biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual.

Kolaborasi seperti ini sudah terbukti dapat dijalankan dan memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan hanya berjalan sendiri. Tentunya proses yang selama ini sudah berjalan, perlu lebih dioptimalkan lagi melalui komunikasi dan dialog berbagai pemangku kepentingan. Hal ini juga digaungkan dalam bagian akhir film dokumenter yang telah disebutkan diatas.

Jadi fokusnya bukanlah memilih jawaban dari sudut pandang dua kutub yang berlawanan apakah gangguan ini bersifat medis ataukah non-medis. Fokusnya adalah melakukan kolaborasi medis dan non-medis dalam berbagai masalah kesehatan jiwa. Seperti telah disebutkan diatas, ada berbagai faktor penyebab, maka ada berbagai faktor penanganan. Orang-orang yang berperan dalam pelayanan medis dan non-medis dapat berkolaborasi bersama dalam mencari jawaban dan memberikan solusi.

Faktor-faktor lain, tentunya juga masih banyak, termasuk peran masyarakat dan lembaga/yayasan swadaya. Tentu saja faktor ketersediaan anggaran menjadi salah satu kunci untuk menggerakkan semua proses yang akan direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi. Harapannya, kolaborasi dapat menumbuhkan optimisme dan luaran yang lebih baik. [T]

Tags: kesehatankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Exploring Society of Mind and Mind of Society in Colors of Bali

Next Post

Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021

dr. I Ketut Arya Santosa

dr. I Ketut Arya Santosa

Lahir di Ulakan, Karangasem, 9 September 1983. Psikiater RS Jiwa Provinsi Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021

Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co