23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayo Kolaborasi Untuk Layanan Kesehatan Mental yang Lebih Baik

dr. I Ketut Arya Santosa by dr. I Ketut Arya Santosa
December 19, 2021
in Esai
Ayo Kolaborasi Untuk Layanan Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Suatu hari di sebuah pedesaan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, ada seorang warga yang tetiba mengalami kejadian yang aneh. Tanpa sebab yang diketahui, seorang pria paruh baya berteriak-teriak, mengatakan dirinya bukanlah dirinya, menari-nari penuh ekspresi. Di satu sisi ini adalah pemandangan yang membuat takjub, di sisi lain, ini adalah hal yang diluar konteks, karena tidak ada suatu ritual spiritual tertentu yang sedang berlangsung.

Menurut Anda, kemana keluarganya akan mencari jawaban atas fenomena ini? Siapa yang mereka pikir dapat memberikan jawaban? Kenapa mereka berpikir bahwa orang ini dapat memberikan jawaban?

Dalam sebuah kegiatan “Orientasi Pencegahan dan Pengendalian Depresi” yang dilakukan di Denpasar, saya berkesempatan bertemu dengan pemegang program Kesehatan Jiwa dari berbagai Puskesmas seantero Bali.

Dalam satu sesi diskusi kami, terungkap pengalaman di lapangan bahwa kebanyakan warga lebih cenderung akan mencari jawaban atas fenomena seperti diatas ke “orang pintar” atau paranormal atau Balian atau tokoh spiritual, termasuk pemuka agama. Tokoh-tokoh tersebut dianggap mampu memberikan jawaban atas penyebab fenomena yang terjadi dan kemudian memberikan solusi yang dapat dilakukan. Mereka adalah tokoh-tokoh yang dipandang memiliki integritas, sehingga sugesti yang diberikan dapat menumbuhkan harapan.

Kenyataan senada juga terungkap dalam kegiatan Summer Course yang diadakan oleh Central of Public Mental Health Universitas Gajah Mada dalam sebuah sesi pemutaran film dokumenter yang dibuat di Nusa Tenggara Timur, Bali dan Jogjakarta. Kenyataan ini dibahas juga dalam satu sesi diskusi dengan perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota di Bali dalam rangkaian kegiatan yang sama. Pada akhir sesi diskusi, kami sepakat bahwa kolaborasi dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan jangkauan, keterbatasan dana dan kekurangan sumber daya manusia.

Alih-alih mencari jawaban apakah suatu gangguan pikiran, perasaan dan/atau perilaku disebabkan oleh faktor medis ataukah non-medis, kita bisa melakukan integrasi. Premis ini dapat ditarik dari pengakuan bahwa manusia dan pengalaman hidupnya adalah kompleks. Ada faktor biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang melekat. Untuk memberikan jawaban atas penyebab satu fenomena, kita boleh merujuk pada konsep ini. Jawaban dari satu faktor spiritual misalnya, tidak menghilangkan perhatian kita terhadap faktor biologis, psikologis, budaya, sosial yang tentunya berperan juga.

Gangguan jiwa atau gangguan mental adalah suatu terminologi yang juga kompleks, ditunjukkan dengan luasnya rentang gangguan jiwa yang tertera dalam berbagai pedoman diagnosis. Ada gangguan jiwa yang ringan, sedang dan berat. Ada gangguan jiwa yang menyebabkan gangguan penilaian terhadap realita, ada yang tidak. Ilmu kedokteran jiwa juga mempelajari tentang pencegahan agar orang dengan masalah kesehatan jiwa tidak menjadi orang dengan gangguan jiwa. Penangan orang dengan gangguan jiwa juga tidak melulu dengan obat (biologis), melibatkan juga berbagai modalitas psikologis, sosial, budaya dan juga spiritual. Hal ini sudah tercantum dalam berbagai buku teks medis, dan menjadi subjek penelitian ilmiah terkini.

Jawaban yang disampaikan oleh pemuka agama, tokoh spiritual atau balian (penyembuh tradisional Bali) menyentuh area spiritual, budaya, sosial dan psikologis meskipun sangat jarang menyentuh area biologis dari gangguan jiwa. Di Bali, jawaban ini tidak lepas dari Tri Hita Karana, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan dan leluhur, dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya. Dalam proses mendapatkan solusi, keluarga dan bahkan masyarakat akan dilibatkan, komunikasi lebih intensif dilakukan dan orang dengan gangguan pikiran/perasaan/perilaku lebih diperhatikan.

Integritas tokoh-tokoh masyarakat ini didapatkan karena seringkali mereka memang menawarkan solusi yang dapat dilakukan dan cukup berhasil. Gangguan mental dan emosional yang ada dalam taraf ringan, sedang dan kondisi-kondisi akut tertentu mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan. Bahkan gangguan-gangguan yang bersifat kronis juga dapat dijelaskan dengan rujukan lontar usadha (kitab warisan local genius yang membahas gangguan kesehatan) dan penjelasan yang sesuai budaya dan religi setempat. Rasa nyaman juga didapatkan oleh keluarga bahwa anggota keluarganya tidaklah “gila”, tetapi mengalami gangguan yang disebabkan oleh faktor diluar dirinya (dan keluarga).

Sesungguhnya terdapat persamaan dari praktik-praktik non-medis ini dengan apa yang dilakukan oleh medis. Gangguan mental dan emosional yang ada dalam taraf ringan, sedang dan kondisi-kondisi akut tertentu, memang dapat ditangani tanpa mengedepankan pemberian obat (biologis). Contohnya adalah penanganan gangguan depresi ringan dan sedang, reaksi stress akut yang tercantum pada berbagai panduan penanganan medis. Penanganan gangguan ini akan melibatkan proses psikoedukasi, psikoterapi, konseling, perbaikan komunikasi, aktivitas fisik, aktivasi jejaring keluarga, sosial serta spiritual.

Teman-teman pemegang program kesehatan jiwa di Puskesmas seantero Bali sesungguhnya sudah sangat tidak diragukan lagi integritas dan pengabdiannya. Ketika ada seorang warga di wilayah cakupan Puskesmas-nya, seringkali mereka dihubungi dan datang ke lokasi kejadian. Mereka diminta bantuannya dalam hal penanganan bahkan diluar jam kerja, saat mereka seharusnya beristirahat di rumah. Namun seringkali mereka juga mendapat tantangan dan penolakan atas penjelasan medis yang mereka berikan. Tantangan ini tidak lepas dari unsur stigma, yaitu ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh keluarga dan penderita jika dinyatakan mengalami gangguan mental.

Dua orang teman pemegang program jiwa di Puskesmas menyampaikan pengalamannya terkait kolaborasi yang sudah mereka lakukan. Teman pertama bersikap asertif kepada keluarga penderita dengan kegigihan memberikan edukasi dan penanganan yang sesuai, termasuk pemberian obat. Teman kedua membantu keluarga untuk mendapatkan penanganan medis pada fase akut terlebih dahulu, kemudian ketika penderita sudah ada dalam kondisi cukup tenang, memberikan kesempatan luas untuk penanganan non-medis. Dalam dua contoh kasus ini, penderita gangguan mental mendapatkan pelayanan yang lebih lengkap dan meliputi berbagai aspek biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual.

Kolaborasi seperti ini sudah terbukti dapat dijalankan dan memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan hanya berjalan sendiri. Tentunya proses yang selama ini sudah berjalan, perlu lebih dioptimalkan lagi melalui komunikasi dan dialog berbagai pemangku kepentingan. Hal ini juga digaungkan dalam bagian akhir film dokumenter yang telah disebutkan diatas.

Jadi fokusnya bukanlah memilih jawaban dari sudut pandang dua kutub yang berlawanan apakah gangguan ini bersifat medis ataukah non-medis. Fokusnya adalah melakukan kolaborasi medis dan non-medis dalam berbagai masalah kesehatan jiwa. Seperti telah disebutkan diatas, ada berbagai faktor penyebab, maka ada berbagai faktor penanganan. Orang-orang yang berperan dalam pelayanan medis dan non-medis dapat berkolaborasi bersama dalam mencari jawaban dan memberikan solusi.

Faktor-faktor lain, tentunya juga masih banyak, termasuk peran masyarakat dan lembaga/yayasan swadaya. Tentu saja faktor ketersediaan anggaran menjadi salah satu kunci untuk menggerakkan semua proses yang akan direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi. Harapannya, kolaborasi dapat menumbuhkan optimisme dan luaran yang lebih baik. [T]

Tags: kesehatankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Exploring Society of Mind and Mind of Society in Colors of Bali

Next Post

Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021

dr. I Ketut Arya Santosa

dr. I Ketut Arya Santosa

Lahir di Ulakan, Karangasem, 9 September 1983. Psikiater RS Jiwa Provinsi Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021

Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co