24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jatuh dan Berharap Kembali ke Titik Lebih Tinggi | Ulasan Buku “Bali Berlayar di Tengah Badai Covid-19”

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
September 29, 2022
in Ulas Buku
Jatuh dan Berharap Kembali ke Titik Lebih Tinggi | Ulasan Buku “Bali Berlayar di Tengah Badai Covid-19”

Buku Bali Berlayar di Tengah Badai Covid-19: Strategic Foresight untuk Masa Depan”.

Teddy : Selamat atas karyanya, Bli. Kalau bisa buat saya satu, Bli.
Bli Anom : Terima kasih, Teddy. Nanti cari saja ke kantor ya.

Sebuah buku karya salah seorang senior di satu organisasi kampus akhirnya tiba di Jakarta. Buku tersebut berjudul “Bali Berlayar di Tengah Badai Covid-19: Strategic Foresight untuk Masa Depan”. Ditulis oleh tiga orang, yakni: I Putu Astawa, IDPG Rai Anom, I Putu Wira Utama dan yang berperan sebagai penyunting Made Iwan Darmawan dan Nanang Sutrisno.

Buku ini diterbitkan oleh Phoenix Publisher, Yogyakarta. Buku setebal 95 halaman ini pertama kali dicetak pada Juni 2022.

Pertanyaan kemudian muncul di kepala saya, mengapa buku ini tidak diterbitkan oleh penerbit Bali? Mengapa harus luar Bali? Ah, sudah lupakan!

Fenomena Sosial Akibat Covid-19

Bagai tsunami informasi di era digital yang begitu besar jumlahnya, begitu pula laju Covid-19 di muka bumi ini. Sejak terkonfirmasi pertama kali pada 10 Maret 2020 di Bali, kasus serupa kemudian merebak tanpa bisa dihentikan.

Merespon hadirnya Covid-19 di ruang-ruang masyarakat Bali, Pemerintah Daerah pada 23 Maret 2020 mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 45/SatgasCovid19/III/2020 memberikan imbauan physical distancing, memberlakukan work from home (WFH) bagi para ASN, penutupan sekolah, pusat perbelanjaan, tempat wisata, serta pembentukan Satuan Tugas Gotong Royong hingga pada lingkup desa adat.

Namun angka kasus Covid-19 kian meninggi dan mencapai puncaknya pada 23 Agustus 2021 dengan jumlah kasus sebanyak 1.910 terkonfirmasi positif. Klaster ritual keagamaan jadi salah satu penyumbang angka terbesar pada masa-masa awal Covid-19.

“Penularan Covid-19 mayoritas terjadi di beberapa klaster utama, seperti klaster ritual adat dan keagamaan yang menimbulkan kerumunan dan sulit menjaga jarak. Hal ini dikarenakan areal upacara adat dan keagamaan yang terlalu sempit untuk menerapkan prokes jaga jarak, walau pemakaian masker cukup relatif dan menyeluruh.” (hal. 15).

Bicara Bali tidak bisa lepas dari budaya, tradisi dan adat. Belum lagi di setiap tempat memiliki ciri dan tata cara pelaksanaan yang berbeda. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah di Bali.

Sayangnya, persoalan budaya, tradisi dan adat tidak hanya memunculkan persoalan di sisi kesehatan, tapi juga memunculkan persoalan di sisi sosial dan hukum. Masih segar dalam ingatan prosesi ngaben massal yang dilakukan oleh Dadia Pasek Kubayan di Desa Sudaji, Buleleng.

Dalam kasus tersebut, Gede Suwardana (salah seorang warga) dijadikan tersangka karena dianggap paling bertanggung jawab atas berlangsungnya ngaben massal yang mengabaikan prinsip social dan phyisical distancing.

Meski pada akhirnya Gede Suwardana dinyatakan bebas, tetap saja ini menjadi preseden buruk bagi pemerintah daerah Bali dalam penanganan pandemi, utamanya yang berkaitan dengan budaya, tradisi dan adat.

Hal ini ditambah pernyataan Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali yang mengancam akan tidak memberi rekomendasi terkait bantuan anggaran sebesar Rp 300 juta dari APBD. Pernyataan tersebut justru memperkeruh suasana dan menyimpang dari tugas majelis yang harusnya menyelesaikan masalah secara musyawarah, bukan dengan cara intimidasi/ancaman.

Tidak berhenti sampai di sana. Pandemi Covid-19 memaksa belasan ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali yang bekerja di luar negeri, baik pekerja kapal pesiar maupun di darat untuk pulang ke Bali secara hampir bersamaan, dan mengejutkan keluarga karena biaya yang dikeluarkan belum sepenuhnya kembali.

Kepulangan mereka pun kemudian mendapatkan stigma dari masyarakat bahwa mereka adalah “pembawa penyakit”. Berbagai spanduk di berbagai daerah terbentang untuk menolak karantina PMI di wilayahnya.

Masalah sosial yang ditimbulkan akibat Covid-19 tentu menjadi hal yang tidak terduga, mengingat masyarakat Bali memiliki filosofi hidup seperti “Tri Hita Karana”, “Tat Twam Asi”, hingga “Vasudhaiva Kutumbakam”. Tentu pertanyaan kembali muncul. Apakah pandemi Covid-19 membuat masyarakat Bali lupa dengan filosofi hidup yang diwariskan oleh leluhur? Ahh, semoga tidak!

Bali Belum Move On

Momen Bali kehilangan arah akibat collaps-nya pariwisata bukan menjadi yang pertama kali terjadi. Bom Bali 2002 dan 2005, kemudian erupsi Gunung Agung 2017 sudah memberi pelajaran yang saya pikir nilainya sama. Namun panjangnya umur pandemi Covid-19 dan berbagai kebijakan yang harus diterapkan membuat pariwisata Bali berdiri di titik terendahnya.

Melalui data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Bali bahwa pada triwulan IV tahun 2020 tercatat pertumbuhan ekonomi Bali terkontraksi hingga di angka -9,31%. Hal ini sudah pasti akibat dari ambruknya pariwisata di Bali.

Fakta di atas juga karena pada realitasnya sebagian besar masyarakat Bali bergantung pada dunia pariwisata seperti menjadi karyawan hotel, restoran, dan usaha pariwisata lainnya yang harus menerima kebijakan dirumahkan atau paling buruk di PHK. Hal ini mengakibatkan daya beli masyarakat menurun.

“Daya beli masyarakat juga semakin rendah sehingga mereka harus menunda pengeluarannya untuk berbelanja, misalnya menunda membeli kendaraan bermotor.” (hal. 21).

Hingga hari ini Bali masih bergantung dengan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) dan pajak kendaraan bermotor. Covid-19 otomatis membuat pendapatan daerah dari kedua pajak tersebut menurun drastis, sehingga wajar pemerintah daerah memberlakukan kebijakan relaksasi pajak dan juga sangat wajar pemerintah daerah mencari bantuan ke pemerintah pusat untuk menggeliatkan kembali roda ekonomi masyarakat Bali.

Babak-belurnya Bali ketika ambruknya pariwisata sudah cukup memberikan sinyal kuat bagi seluruh komponen untuk mencari alternatif ekonomi. Dan faktanya bidang pertanian berhasil menyelamatkan hidup masyarakat Bali.

Pekerja di bidang pariwisata memilih pulang dan menggarap lahan miliknya guna menyambung hidup. Tak sedikit dari mereka yang menemukan hal baru dan mendapatkan profit lebih dibanding menggantungkan hidupnya di bidang pariwisata.

Pertanian berhasil menjadi penyangga ekonomi Bali saat kondisi terparah pandemi berlangsung, sehingga penting bagi pemerintah daerah Bali menyiapkan tata kelola pertanian yang berkelanjutan sehingga bidang ini dapat bersaing dengan bidang pariwisata yang masih jadi primadona hingga kini.

Poin ini menjadi penting, mengingat Bali sebisa mungkin harus keluar dari “Jebakan Industri Pariwisata” yang menyebabkan masyarakat Bali silau dengan gemerincing dollar dan melupakan potensi lain yang dimiliki oleh Bali itu sendiri.

Bali Masa Depan

Analisa yang disajikan dalam buku ini berangkat dari buku “Pendapat (Strategic Foresight) BPK, Membangun Kembali Indonesia dari Covid-19. Skenario, Peluang dan Tantangan Pemerintah yang Tangguh”.

Dalam buku ini membagi skenario masa depan menjadi empat, yakni: 1). Kandas Terlantar Surutnya Pantai, 2). Berlayar Menaklukan Samudra, 3). Mengarung di Tengah Badai, 4). Tercerai-berai Terhempas Lautan.

Dan cukup ajaib saat Bali hari ini berada pada fase “Berlayar Menaklukan Samudra”, namun jika indikator waktu berada di satu tahun pertama, maka hasilnya pun akan berbeda, mengingat puncak kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Bali terjadi pada Agustus 2021.

Pertanyaan yang selanjutnya muncul, apa yang harus dilakukan oleh Bali di masa mendatang? Penulis memberi beberapa rekomendasi, diantaranya: reformasi kesehatan, reformasi pajak dan kesinambungan fiskal, visi dan kepemimpinan pemerintah, transformasi digital dan tata kelola data, serta kualitas sumber daya manusia.

Lima hal tersebut membutuhkan komitmen dan ketaatan setiap pemangku jabatan di Bali. Jangan sampai di setiap momentum politik dijadikan momen untuk merubah berbagai kebijakan pembangunan. Hal tersebut tentu membuat arah pembangunan Bali tak jelas juntrungannya.

Karena seperti diketahui bersama, setiap pergantian kepemimpinan di Bali, maka selalu terjadi perubahan fokus pembangunan. Melihat fakta demikian, seberapa besar kemungkinan berbagai reformasi yang direkomendasikan para penulis akan terealisasi? [T]

Ubud, Pusat Peradaban Budaya Bali Beserta Tantangan Hari Ini | Ulasan Buku Sarasastra II
Memahami Tuhan, Manusia, dan Keterikatan Dalam Tutur Damuhmukti
Merefleksikan Etika Melalui Kebajikan Universal Bali
Tags: balicovid 19resensi bukuUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“World Clean-up Day” di Desa Tembok, 800 Warga Bersih-bersih Lingkungan Desa

Next Post

Hamil Palsu dan Faktor Pikiran

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Hamil Palsu dan Faktor Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co