1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merefleksikan Etika Melalui Kebajikan Universal Bali

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
November 1, 2021
in Ulasan
Merefleksikan Etika Melalui Kebajikan Universal Bali

Teddy C. Putra (Penulis) dan buku yang diulasnya

“Bli Ted, kira-kira mau jadi pembedah buku Kebajikan Universal Bali yang diterbitin Media Hindu?”

“Iya, boleh.”

Sebagai orang yang selalu antusias dengan pengalaman baru, saya menerima tawaran tersebut. Buku berjudul “Kebajikan Universal Bali” yang ditulis oleh Ngakan Putu Putra ini merupakan esai-esai yang dikumpulkan dari rubrik “Etika Sehari-Hari” di Media Hindu. Rubrik yang terbit dari April 2016 sampai dengan Juni 2019, atau bisa dikatakan esai ini merupakan sekumpulan kontemplasi penulis selama kurang lebih tiga tahun.

Don’t Judge Book by The Cover

Tentu istilah yang saya jadikan sub judul tidak asing, bahkan sangat sering kita dengar. Istilah tersebut sering digunakan untuk menegaskan bahwa hal yang lebih penting dari penampilan adalah isi/substansi. Namun jika bicara soal buku, tentu perwajahan sampul sangatlah penting diperhitungkan—khususnya soal pemasaran buku. Oleh karenanya istilah “don’t judge book by the cover” tidak relevan karena alasan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dari segi penampilan, buku ini memiliki daya tarik tersendiri, apalagi sebagai buku yang membahas tentang Hindu. Penggunaan warna merah muda dan hijau dalam sampul memberi kesan bahwa buku ini ditujukan untuk generasi muda—ditambah ilustrasi gadis Bali lengkap dengan hiasannya memberi penegasan bahwa buku ini akan membahas hal-hal yang lekat kaitannya dengan Bali.

Tidak hanya bagian depan, bagian belakang sampul pun sekiranya perlu diperhatikan. Bagian belakang buku ini berisi blurb yang terdiri dari 5 paragraf. Masing-masing paragraf menyuguhkan pokok bahasan yang padat dan cukup jelas, seperti: 1) berisi inti sari tentang slokantara, 2) menjelaskan secara ringkas apa yang akan dibahas dalam buku, 3) berisi definisi dari universal, 4) berisi penjelasan mengapa buku ini mengambil segmentasi anak muda, dan 5) menjelaskan relevansi slokantara dengan kehidupan sehari-hari.

Tentang Penulis

Setelah menerima buku ini, saya langsung beranjak ke halaman akhir. Ya, biasanya halaman terakhir buku memberikan ruang kepada pembaca untuk mengenal penulis secara singkat. Sayangnya, buku ini tidak demikian. Mengetahui riwayat hidup sekiranya penting untuk mengetahui seperti apa caranya berpikir, dan kita bisa menerka ke arah mana pembahasan akan dibawa oleh penulis. Karena tidak ada, akhirnya saya mencoba mencari di mesin pencarian google, hasilnya: Ngakan Putu Putra adalah seorang penulis yang sudah melahirkan beberapa karya bernafaskan Hindu di Media Hindu. Adapun buku yang sudah dituliskannya, antara lain: Tuhan Upanisad: Menyelamatkan Masa Depan Manusia (2008), Himpunan Doa Agama Hindu (Mantra Samhita) (2011), Kebijaksanaan Weda untuk Hidup Bahagia (2015), dan Membangun Karakter dengan Keutamaan Bhagawad Gita (2016).

Tidak hanya aktif menulis, Ngakan Putu Putra juga aktif dalam organisasi. Ngakan Putu Putra kini tercatat menjadi Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI) dan menjadi Dewan Pertimbangan Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia).

Ujung Tombak Hindu Adalah Generasi Mudanya

Dalam pengantar setebal 11 halaman ini, penulis memaparkan alasan mengapa ia berfokus pada pembahasan slokantara, juga menyebutkan beberapa sloka yang tidak relevan terhadap perkembangan zaman serta asas yang diterapkan hari ini. Penulis juga menegaskan bahwa slokantara hanya membicarakan pada tataran etika, hubungan manusia dengan manusia. Hal tersebut disampaikan secara jelas oleh penulis, seperti:

“Ada sloka yang merendahkan dan membenci perempuan (misogini) seperti sloka 23, yang mengatakan perempuan memang tidak ada yang lurus, dan “jika ada perempuan menjadi setia, bunga seroja akan tumbuh di batu padas.”” (hal. iv, v).

“Atau sloka 29 yang menghina beberapa jenis pekerjaan seperti “Orang yang membuat kapur, membuat arak dan minuman keras lainnya, tukang celup (pakaian), tukang cuci, pembuat periuk, jagal, tukang emas, tukang celup benang, ini termasuk golongan delapan chandala.”” (hal. v).

“Hampir tidak ada sloka yang bicara tentang metafisika, hubungan dengan Tuhan. Saya tidak menemukan satu teks atau kata yang menyebut yoga atau moksa. Ada kata sorga dan neraka tetapi dalam kaitan kelahiran seseorang dengan kondisinya yang berbeda, bahagia atau menderita.” (hal. v).

Penulis juga menyampaikan kritik terhadap gaya hidup yang dijalani oleh generasi muda Hindu secara umum. Menurutnya, generasi muda Hindu terkesan berfoya-foya tanpa memiliki kesadaran untuk meningkatkan kualitas diri sebagai penerus Hindu di masa mendatang.

“Anak-anak muda Hindu di Bali tidak diasah kepekaan sosialnya, atau bela rasanya, sebaliknya mereka cenderung beraktivitas untuk hiburan, kadang-kadang hura-hura yang melampiaskan emosi. Misalnya yang paling terkenal adalah membuat ogoh-ogoh dengan biaya puluhan milyar rupiah yang dibakar hangus sehabis upakara Tawur Kesanga.” (hal. vii).

Dalam artikelnya yang berjudul “Eksistensi Pariwisata Budaya Bali Dalam Konsep Tri Hita Karana”, I Gusti Agung Made Gede Mudana menyampaikan bahwa pariwisata budaya adalah jenis kepariwisataan yang dikembangkan di Bali dan dijiwai oleh agama Hindu. Konsep ini mengedepankan eksistensi masyarakat lokal dengan mengembangkan kearifan lokal yang sudah menjadi warisan leluhur. Hal tersebut dapat memberikan manfaat dari segi ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan.

Budaya adalah hal yang berbeda dengan agama. Namun, di Bali dua hal tersebut saling mendukung satu sama lain sehingga melahirkan keunikan tersendiri, termasuk Ogoh-Ogoh di dalamnya. Perlu disadari bahwa konsep pariwisata budaya telah menjadi panglima dalam pemenuhan hajat masyarakat Bali hingga kini. Eksistensinya pun sudah mendunia, sehingga untuk menghakimi bahwa aktivitas budaya adalah bentuk hura-hura atau pelampiasan emosi perlu dipikirkan kembali.

Slokantara: Etika dan Kebajikan

Dalam buku ini, slokantara menjadi objek utama dalam tulisan yang kemudian dikorelasikan dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana nilai-nilai adiluhung leluhur yang masih relevan hingga kini, seolah mampu meneropong kehidupan yang jauh berada di depannya. Membicarakan soal etika, hukum, hingga kebajikan yang baiknya diterapkan oleh generasi muda Hindu. Tidak hanya penting untuk peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, tetapi juga penting guna meningkatkan kualitas Hindu Dharma di Indonesia.

Esai-esai yang berjumlah 37 ini dituliskan dengan bahasa yang sederhana. Menjadikan pengalaman maupun peristiwa sebagai ilustrasi yang memudahkan pembaca dalam memahami maksud penulis.

“Pelajaran yang saya ambil dari hal ini adalah bahwa bila kita ingin mendidik anak kita disiplin kita harus belajar dan menerapkan disiplin pada diri sendiri terlebih dahulu. Kalau kita ingin anak kita bangun pagi-pagi, kita harus bangun lebih pagi.” (hal. 92).

“Kekayaan atau uang itu dapat membeli kebahagiaan bila diberikan kepada orang lain yang sedang membutuhkan. Misalnya seorang yang sedang sakit keras tetapi tidak punya uang untuk ke dokter atau membeli obat, bila diberi uang pasti ida akan gembira sekali, apalagi kalau dia sembuh.” (hal. 165).

Seperti halnya kata pepatah “Tiada Gading yang tak retak”, dalam kumpulan esai ini terdapat beberapa kesalahan ketik seperti:

“Kesetiaan adalah keutamaan atau kebajikan yang sangat penting bagi manusia, bila ia ingin menjadi manusia yang dipercayai adn dihormati.” (hal. 11).

“Masing-masing seperti berdiri pada kutub yang berbeda dan berlawnan.” (hal. 105).

“Yang penting mereka tidak menyalahgunakan pekerjaan mereka, misalnya tidak melakukan pungutan liar, tidak menjual izasah, skripsi, thesis atau disertasi.” (hal. 153).

Kesalahan ketik dalam proses penulisan bukanlah hal yang asing. Namun, dalam penulisan karya seperti buku tentu meminimalisir kesalahan adalah hal yang penting dilakukan. Semakin banyak kesalahan ketik dalam satu karya, semakin menurunkan animo pembaca untuk menyelesaikan pembacaan buku ini. Tidak hanya soal kesalahan ketik, dalam buku ini, hal yang saya soroti adalah penggunaan Wikipedia sebagai referensi. Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa esai seperti:

“Frasa ini diambil dari, a.l. Imamat 24:19-21 yang berbicara perihal berbagai hukuman: «Apabila seseorang membuat orang sesamanya bercacat, maka seperti yang telah dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya: patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi; seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya.» (Wikipedia)” (hal. 26).

“Para pengring Muslim itu kemudian bertindak sebagai abdi dalam Kerajaan Gelgel. (Wikipedia)” (hal. 124).

“Metode ini dinamai sesuai dengan filsuf Yunani Klasik Sokrates dan diperkenalkan oleh Plato. (Wikipedia)” (hal. 185).

Dilansir dari Tirto.id, Massachusetts Institute of Technology (MIT), dalam aturan soal kutipan karya ilmiah bagi mahasiswanya, tegas menyebut bahwa “Wikipedia bukanlah sumber yang dapat dipercaya meskipun banyak di antara kita menggunakannya untuk mencari informasi cepat […] Sebaiknya Wikipedia tidak dijadikan rujukan ilmiah.”. Tidak hanya itu, dalam “Internet Encyclopedias Go Head to Head” yang terbit pada Nature Vol 438, disebutkan bahwa cukup banyak temuan konten di Wikipedia yang keliru menghadirkan informasi.

Sebagai karya yang bisa dikatakan ilmiah (karena menampilkan data berupa kutipan-kutipan sloka dan berbagai fakta), tidak seharusnya penulis merujuk Wikipedia sebagai referensi dalam memperkuat argumentasi dalam esainya. Hal tersebut tentu dapat mendegradasi kualitas tulisan dalam buku-buku ini. Tentu ke depan, referensi-referensi yang dirujuk oleh penulis dapat lebih dipercaya kualitas dan keakuratannya. Karena, seperti yang dikatakan Syarif Hidayatullah dalam artikelnya yang berjudul “Agama dan Sains: Sebuah Kajian Tentang Relasi dan Metodologi”, bahwa agama dan sains perlu meniscayakan diri untuk sama-sama mengabdi untuk kepentingan kesejahteraan dan kemakmuran manusia.

Tags: Bukuhinduresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Seni Rupa “Megibung”: Kolaborasi dan Kesadaran Berbagi dalam Proses Berkarya

Next Post

Total 211 Juta Rupiah | Itu Bonus untuk Atlet Buleleng Peraih Medali PON XX

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Total 211 Juta Rupiah | Itu Bonus untuk Atlet Buleleng Peraih Medali PON XX

Total 211 Juta Rupiah | Itu Bonus untuk Atlet Buleleng Peraih Medali PON XX

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co