12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Keluarga Dalam Kumpulan Cerpen “Politik Kasur, Dengkur dan Kubur” Karya I Made Suarbawa

Narenthy Satya Dewi. by Narenthy Satya Dewi.
December 27, 2022
in Ulas Buku
Refleksi Keluarga Dalam Kumpulan Cerpen “Politik Kasur, Dengkur dan Kubur” Karya I Made Suarbawa

Buku kumpulan cerpen Politik Kasur Dengkur dan Kubur

KUMPULAN CERPEN “Politik Kasur, Dengkur dan Kubur” merupakan buku yang ditulis oleh I Made Suarbawa. Sebuah buku kumpulan cerpen yang sebagian besar mengangkat cerita mengenai  keluarga.

Cerpen ini mengajak pembaca untuk  merasa lebih dekat dengan kehidupan pengarang. Dilihat dari apa yang menjadi landasan pengarang lebih memilih untuk mengangkat tema keluarga pada cerpen tersebut, mungkin bagi pengarang cerita-cerita buku cerpen “Politik Kasur,Dengkur dan Kubur” adalah refleksi dari gambaran keluarga yang pernah pengarang temui ataupun pengarang sendiri yang mengalami cerita tersebut.

Berbagai konflik yang dialami tokoh dalam cerpen di buku ini sangat beragam, mulai dari pertengkaran suami istri di dalam cerpen “Secangkir Kopi Pagi” yang terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata. Bahkan beberapa cerpen yang mengandung humor seperti cerpen “Langkah Besar Suri“ yang membuat pembaca merasa terhibur dan juga heran dengan tokoh Suri yang mencoba menjadi pahlawan bagi keluarganya namun lupa akan apa yang sudah dimilikinya.

Cerita  di dalam kumpulan cerpen karya Made Suarbawa ini tidak hanya sekedar fantasi semata, namun juga mengandung kisah-kisah nyata yang sering terjadi  di dalam kehidupan dan juga masyarakat. 

Dalam buku  “Politik Kasur,Dengkur, dan Kubur” ini terdapat sebelas cerpen dengan jumlah halaman 114 lembar. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh tokoh dalam cerpen-cerpen di dalamnya  pun juga banyak mengambil dari kehidupan sehari-hari.

Dalam buku ini pengarang banyak mengangkat tema keluarga serta permasalahan yang sering dihadapi oleh suami- istri. Hal yang paling menonjol adalah buku cerpen ini banyak sekali menggunakan tokoh laki-laki sebagai tokoh utamanya. Namun tidak sedikit juga Made Suarbawa menggunakan tokoh utama perempuan di beberapa cerpennya seperti cerpen yang berjudul “Langkah Besar Suri dan Kawan Tiba (Suatu) Senja” yang ceritanya sangat menarik untuk dibaca.

Cerpen dalam buku “Politik Kasur,Dengkur, dan Kubur” karya Made Suarbawa ini sangat menguras emosi pembaca, seperti halnya roller coaster yang membuat emosi pembaca menjadi naik turun. Yang pada awalnya pembaca disuguhi oleh cerita yang sedih kemudian cerpen selanjutnya dibuat lebih lucu sehingga pembaca merasa terhibur.

Bahkan ada pula cerpen yang mengajak pembaca untuk serius dan tetap fokus agar dapat memahami isi buku cerpen ini, seperti cerpen yang berjudul “Menanti Senyum Pelangi” yang membuat kita harus fokus memahami isi ceritanya.

Cerpen-cerpen dalam buku ini membuat pembaca menjadi sadar, konflik harus dibuat senyata mungkin agar bisa menggelitik pikiran serta merenungkan pesan yang ingin disampaikan oleh pembaca. Begitupun juga yang bisa membangunkan pembaca / penulisnya dari rasa nyaman itu sendiri. Di dalam buku cerpen ini, pengarang sering menggambarkan cerita yang banyak ditemui di kehidupan sehari-hari.

Penggambaran pasangan suami istri di dalam cerpen sangat romantis seolah-olah tokoh di dalam cerpen dihadiri sosok penulis, karena sebagian besar cerpen yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen ini menceritakan tentang keluarga yang tidak jauh dari cerita-cerita di masyarakat yang sering kita temui.

Seperti halnya cerpen “Secangkir Kopi Pagi” yang mengisahkan seorang laki-laki bertengkar dengan istrinya hanya karena persoalan kopi. Permasalahannya pun dibuat semakin besar dan serius hingga tokoh dibuat sangat frustasi. Sebenarnya masalahnya hanya sepele namun malah dibuat rumit oleh tokoh itu sendiri. Namun di akhir cerita istrinya menjelaskan penyebab timbulnya permasalahan tersebut seperti dalam kutipan berikut:

“Jangankan kata sayang bahkan secangkir kopi pun mulutmu tidak pernah sudi memintanya dariku.”

Permasalahan diakhiri dengan penjelasan Reni kepada suaminya Kayan yang membuat cerita makin mengharukan.

Pada awalnya, saat melihat judul buku ini pembaca mungkin akan merasa kurang minat untuk membaca cerpen ini. Sebab pengarang memilih menggunakan judul “Politik” yang membuat cerpen kurang diminati terutama pada zaman sekarang ini.

Namun, Made Suarbawa sangat berani memakai judul tersebut yang dibumbui dengan kata kasur,dengkur dan kubur yang membuat pembaca bertanya-tanya apa hubungan hal tersebut dengan politik, yang membuat pembaca menjadi penasaran.

Bahkan setelah dibaca pun, ceritanya ternyata sangat menarik seperti cerpen yang berjudul “Kisah Peniup Seruling” misalnya, pembaca seolah-olah seperti menonton orang yang sedang mendongeng. Hal itu karena cara pengarang yang menyampaikan cerpen seperti tanya- jawab hingga cerpen itu selesai.

Cerita yang sesungguhnya sederhana ini diramu dengan dialog tanya-jawab yang terkesan monoton, tetapi penulis cukup lihai menyusunnya sehingga pembaca menjadi penasaran dan membaca hingga usai. 

Dalam buku cerpen ini pengarang banyak menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Bali namun pengarang membuat kata-kata itu tersusun rapi dan menarik sehingga pembaca tidak merasa bosan untuk membacanya. Bahasa yang digunakan mudah dipahami oleh pembaca meskipun ada kata sulit dari bahasa Bali seperti pada cerpen yang berjudul “Politik Kasur dan Dengkur” namun pengarang telah menambahkan kata kunci di bawahnya sehingga makna yang ingin disampaikan oleh pengarang dapat diserap oleh pembaca.

Meski beberapa cerita memiliki tema yang sederhana, bahkan terkadang terlihat  klise, misalnya pada cerpen yang berjudul “Anak Pertama Kita” yang menceritakan soal diskriminasi anak perempuan dalam keluarga di Bali, namun pengarang memiliki teknik penyelesaian sendiri yang sangat bagus dan tidak bisa ditebak.

Saat sepasang suami istri yang bahagia atas kelahiran anak pertama mereka, namun di sisi lain anak perempuan tidak membuat keluarga besar mereka bahagia karena penerus keluarga hanya berhak kepada anak laki-laki saja.

Seperti halnya sekarang, anak perempuan masih dianggap remeh yang terpenting adalah kelahiran anak laki-laki bahkan hal ini masih sering terjadi di masyarakat. Pengarang juga dapat menyelesaikan cerpen tersebut dengan santai namun juga menimbulkan keharuan dan pesan terselubung yang cukup mendalam kepada pembaca.

Secara keseluruhan buku kumpulan cerpen berjudul “Politik Kasur,Dengkur dan Kubur” karya Made Suarbawa yang diterbitkan Mahima Institute Indonesia ini sangat bagus, baik dari segi jalan ceritanya maupun penulisan dan visualisasi yang digambarkan di dalamnya.

Ceritanya sangat ringkas dan juga tidak bertele-tele dengan alur yang sederhana. Karakter tokoh yang digambarkan sudah cukup kuat disampaikan oleh penulis. Seperti cerpen yang berjudul “Langkah Besar Suri” yang ceritanya digambarkan lucu oleh penulis, akan lebih baik apabila ditampilkan dengan humor- humor yang lebih berwarna dan mendominasi.

Atau seperti cerita cerpen “Anak Kita Selamat” yang mampu menguras emosi pembaca akan lebih baik lagi bila ditambahkan dengan hal-hal yang menyimbolkan kesedihan serta kecemasan yang tidak hanya monoton itu saja. Ada beberapa cerpen juga yang diceritakan cukup panjang seperti cerpen “Balada Lumpur dan Seorang Petani” yang membuat pembaca kurang memahami isi ceritanya, sehingga para pembaca harus membaca berulang-kali agar mampu menangkap pesan yang terkandung di dalam cerpen tersebut.

Buku cerpen ini sangat menarik untuk dibaca oleh berbagai kalangan dan begitu banyak pesan yang dapat kita petik dari cerpen tersebut. Keluarga adalah orang-orang yang paling dekat dengan kita tentu saja cerita dalam kumpulan cerpen ini memiliki daya tarik sendiri bagi pembaca.[T]

Representasi Laut dalam Kumpulan Puisi “Upacara Terakhir” Karya GM Sukawidana
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih
Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana
Tags: Bukubuku kumpulan cerpenCerpenresensi bukusastraUniversitas PGRI Mahadewa Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketegangan dan Sukacita dalam Simulasi Menjadi Anak Asrama Baru di SMA Taruna Mandara

Next Post

Prambanan Tidak Hanya Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso

Narenthy Satya Dewi.

Narenthy Satya Dewi.

Lahir di Jangu, 29 April 2002. Menempuh pendidikan di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daera. Suka mendengarkan musik dan membaca novel. Contact: narenthysatya29@gmail.com . IG: narenthysatyadewi

Related Posts

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails
Next Post
Prambanan Tidak Hanya Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso

Prambanan Tidak Hanya Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co