3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Representasi Laut dalam Kumpulan Puisi “Upacara Terakhir” Karya GM Sukawidana

Ni Rai Ayu Chandra Wangi by Ni Rai Ayu Chandra Wangi
December 26, 2022
in Ulas Buku
Representasi Laut dalam Kumpulan Puisi “Upacara Terakhir” Karya GM Sukawidana

Buku puisi Upacara Terakhir karya GM Sukawidana

SECARA SEDERHANA puisi dapat diartikan sebagai bentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan sebuah aspek bunyi-bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang dibentuk dari kehidupan individual dan sosialnya, yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi tersebut mampu membangkitkan pengalaman tertentu, dalam diri pembaca ataupun pendengar.

 Kumpulan puisi Upacara Terakhir merupakan sebuah buku yang ditulis oleh GM Sukawidana pada tahun 2019. GM Sukawidana merupakan salah satu penyair yang merasa dirinya bangga disebut sebagai gelandangan. Selain itu ia sangat peduli terhadap tanah kelahirannya. Dalam kumpulan puisi “Upacara Terakhir” GM Sukawidana tampak merasa gelisah dan prihatin terhadap tanah kelahirannya. Puisi-puisinya banyak dimuat di Bali Post, Berita Buana, Republika dan masih banyak lagi.

Terdapat 40 puisi yang ditulis oleh GM Sukawidana dalam kumpulan puisi ini. Hal yang paling menonjol adalah bagaimana pengarang banyak menghadirkan diksi seperti kata pesisir laut, sampan, payau, bakau, peladang garam yang sangat “logis” kehadirannya bagi penyair yang hidup di negeri kepulauan yang lautannya lebih luas dari daratan.

Total dari 40 puisi, kecenderungan terdapat 7 puisi yang menggunakan kata “pesisir”. Puisi-puisi tersebut antara lain: Upacara Bersampan di Teluk Benoa, Upacara Terakhir, Upacara Si Anak Lanang, Upacara Tanah Pesisir, Peladang Garam Pesisir Kusamba, Di Pesisir Serangan Aku Mengail Bulan dan Perempuan Penabur Cahaya.

Untuk membahas kumpulan puisi “Upacara Terakhir” ini saya menggunakan metode semiotika. Dengan menggunakan metode semiotika pada kumpulan puisi “Upacara Terakhir”, diharapkan para pembaca mampu memahami makna yang tersirat dalam puisi, agar pesan pengarang untuk pembaca dapat dipahami dengan baik.

Dalam semiotika dijelaskan juga tentang cara-cara memahami penanda dan pertanda sebuah puisi yang ditelaah dari segi tataran atau maknanya. Puisi yang indah selalu menyelipkan makna yang tersirat pada setiap kata, kalimat, atau baitnya. Tanda-tanda tersebutlah yang mengarahkan pembaca menafsirkan sendiri pemahaman mengenai puisi yang dibacanya.

Selain itu puisi GM Sukawidana banyak menggunakan kata “identitas Bali” atau kata yang berciri khusus, mengidentifikasikan pemakainya dalam kultur Bali. Beberapa jenis kata, seperti  bapa, tembuni, lanang, rajah, pakembar brumbun, sangkur, tajian temberang, bale agung, dan lain sebagainya. Itu semua merupakan pilihan kata yang diambil dari kultur muasalnya yaitu Bali. Puisi-puisinya juga banyak melontarkan protes serta kritik terhadap persoalan sosial, budaya, serta ekologi yang terjadi di Bali.

Menurut pandangan saya, ada 3 puisi yang makna tersiratnya menarik untuk dibahas, diantaranya  Upacara Pesisir Teluk Benoa, Upacara Bersampan di Teluk Benoa dan Upacara Terakhir.

Di setiap bait-bait sajak puisi “Upacara Terakhir” ini penyair seakan-akan merepresentasikan makna yang terkadung dalam setiap puisinya. Rasa kegelisahan GM Sukawidana pun terlihat, seperti yang terdapat pada sajak “Upacara Pesisir Teluk Benoa”, yang bertajuk bawah “(di mana penyair wayan jengki malam ini?)” yang terdapat pada bait kedua baris 4-8. Pada teks sajak dialog imajiner (bukan hal yang sebenarnya) GM Sukawidana mengekspresikan dukanya yang mendalam manakala melihat warisan nenek moyangnya yang acak-acakan.

Bisa dilihat pada kata “kemarilah! / suling air mata moyang / tampung dalam cawan-cawan tembaga”. Walaupun demikian, terdapat gairah naluri sebuah perlawanan darinya lewat sebuah kata yang ia simbolkan gelombang : “jadikan gelombang pesisir penuh gairah / bersulanglah!”.

Pada puisi tersebut terbetik ajakan GM Sukawidana kepada Wayan Jengki Sunarta agar ia bersedia menghayati dan menghadapi persoalan kesedihan dan kepedihan masyarakat sekitar pesisir yang mesti berhadapan dengan “rahwana pembangunan”. Itu semua terdapat di “cawan-cawan realita” yang berisikan air mata nenek moyang.

Menarilah!
Kau berenang dari satu cawan ke cawan lain
Berbuih madu hutan
Mencari pesisir yang disengketakan
Sambil sesekali berteriak
“Tak ada lagi yang tersisa untuk anak cucu!”

Pada sajak ini terlihat sangat jelas ekspresi pesimisme (kecendrungan untuk berfikir negatif) Gm. Sukawidana pada suatu hal yang tidak mungkin ia lawan sendirian, terkecuali menebar kesadaran pada generasi berikutnya. Memang benar nyatanya, pesisir bagi sebagian masyarakat khususnya yang beragama hindu bukan hanya sekedar tepian pantai. Banyak sekali makna yang terdapat di dalamnya, termasuk hubungan spiritual masyarakat Bali dan pesisir. Melasti (upacara pesucian) merupakan salah satunya. Maka tak heran GM Sukawidana merasa sangat gelisah akan masa depan Bali, akibat “perebutan” pesisir Bali oleh “kuasa modal”. Hal ini bisa kita simak pada bait ketiga yakni :

Mari!
Cobalah apa yang kusadap
Bertahun silam
Dari degup jantung moyang

Pada baris ke 7-11 sangat terlihat kemarahan yang sudah dipendam sekian lamanya. Kemarahan melihat ruang-ruang nenek moyang kacau balau oleh kepentingan “kuasa”. Hal itu, bisa dirasakan dari sebuah ungkapan kata-kata yang ekspresif : (mengambil) “arak api dari tungku-tungku matahari / yang membakar dendam purba / orang-orang pesisir”.

Rasa amarah semakin muncul pada baris ke 14-18 :

Marilah
Coba apa yang kusadap ini
Kau akan merasakan
Bagaimana tangis anak cucu kelak
Kehilangan tanah pesisir moyangnya!

Beda halnya pada puisi yang berjudul “Upacara Bersampan di Teluk benoa” dalam puisi ini terdapat bait “pesisir teluk benoa menjadi senyap” penyair seakan-akan merepresentasikan bagaimana keadaan pesisir jika sepi, tidak ada bunyi sedikit pun. Selain itu terdapat juga kalimat “di mana pesisir untuk melasti saat nyepi” pada kutipan puisi tersebut mengartikan penyair yang sedang merasa kegelisahan dalam hatinya karena tempat tersebut akan digunakan untuk melasti pada saat hari raya nyepi.

Dalam puisi Upacara Terakhir tersirat makna kata pesisir yang memiliki arti tentang pertemuan sesaat, artinya perpisahan selalu diawali dengan pertemuan, tapi dalam pertemuan dan perpisahan memiliki perbedaan dimana pertemuan tersebut hanya bersifat sementara. Tidak ada yang abadi dalam pertemuan karena sewaktu-waktu orang yang kita sayang akan diambil dari kita lewat sebuah perpisahan.

Rasa perpisahan terdapat pada baris berikut ini :

Di wajah tuaku
Tergugat kegetiran hidup anak cucu
Tanpa tanah moyangnya

Dalam karya puisi karya GM Sukawidana ini banyak mendominasi dengan gaya bahasa bersifat lokal. Itu merupakan ciri khas dari kumpulan puisi “Upacara Terakhir”. Menurut pendapat saya pribadi, sajak-sajaknya mencirikhaskan tentang budaya mistis yang terdapat di Bali. Tak hanya itu saja, GM Sukawidana juga menggambarkan pergeseran peradaban yang tengah terjadi, selain itu kombinasi kata-kata yang terdapat dalam kumpulan puisi “ Upacara Terakhir” ini memberi sudut pandang yang luas untuk memahami budaya nenek moyang.

Dalam puisi ini pesan yang ingin disampaikan oleh GM Sukawidana adalah tentang kultur sosial yang sering terjadi pada masyarakat Bali, dimana kultur sosial tersebut terbentur dengan adanya arus pariwisata dan budaya asing yang tidak sesuai dengan adat istiadat. [T]

Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana
Misteri Cinta dan Kematian Dalam Kumpulan Cerpen “Kisah Cinta dan Dongeng Yang Dimakamkan” Karya I Putu Agus Phebi Rosadi
Cerminan Sejarah Bali Pada Novel “Kota Kabut Walli Jing-Kang” Karya Manik Sukadana
Tags: Bukubuku puisisastraUniversitas PGRI Mahadewa Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Penjahit Baju dan Hari Raya Natal di Buleleng

Next Post

Nasi Bayam, Makanan Legendaris yang Sederhana dari Desa Bungkulan

Ni Rai Ayu Chandra Wangi

Ni Rai Ayu Chandra Wangi

Lahir di Denpasar, 30 Juni 2003. Ia merupakan seorang mahasiswa di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Nasi Bayam, Makanan Legendaris yang Sederhana dari Desa Bungkulan

Nasi Bayam, Makanan Legendaris yang Sederhana dari Desa Bungkulan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co