24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia Dalam Lingkar Bencana | Renungan Dari Penyerahan Bantuan KMHDI ke Cianjur

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
December 13, 2022
in Khas
Indonesia Dalam Lingkar Bencana | Renungan Dari Penyerahan Bantuan KMHDI ke Cianjur

Dapur sementara untuk warga pengungsi korban gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat

Jika mendengar angka 12.12, maka yang pertama kali muncul pada benak adalah pesta potongan harga dari berbagai platform belanja digital. Tapi berbeda dengan saya.

Pada 12 Desember 2022 atau tepat saat momen 12.12, saya bersama teman-teman yang tergabung dalam Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) menyalurkan bantuan kepada korban gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat. Bantuan itu adalah hasil dari gotong royong dengan umat Hindu se-Indonesia.

Gempa bumi tersebut terjadi pada 21 November 2022 dengan magnito 5,6. Gemba bumi yang diakibatkan oleh pergerakan Sesar Cimandiri ini menelan ratusan korban jiwa, dan puluhan ribu warga harus mengungsi karena kehilangan tempat tinggal.

Warga Masih Trauma

Hilangnya ratusan jiwa dan rusaknya ribuan rumah warga benar-benar meninggalkan duka mendalam pada warga Cianjur khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Sepanjang perjalanan saya di Kabupaten Cianjur, ratusan tenda pengungsian berdiri. Banyak dapur umum juga didirikan untuk memenuhi kebutuhan dari para pengungsi.

Tenda pengungsian hingga dapur umum itu didirikan atas solidaritas warga dan berbagai kelompok masyarakat. Saya bersama teman-teman menyalurkan bantuan di dua desa, yakni: Desa Bangbayang dan Desa Kebon Peuteuy.

Sebelum menyerahkan bantuan ke Kantor Desa, kami menyempatkan untuk memberi bantuan di salah satu posko pengungsian yang merupakan salah satu posko binaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Posko tersebut memiliki fokus untuk melakukan pemulihan trauma psikologis pada anak-anak.

Tenda-tenda pengungsian korban gempa di Cianjur

Saya sempat berbincang dengan salah satu staf (saya lupa namanya), ia menyebutkan bahwa dari pihak kementerian membuat jadwal piket yang secara bergiliran bertugas di posko yang ada di Desa Bangbayang. Ia juga menyebutkan saat itu sedang ada tim yang melakukan identifikasi terhadap anak-anak, sebelum tim psikolog datang ke sana dan membantu meredakan trauma yang anak-anak alami.

Saya tiba di Kantor Desa Kebon Peuteuy sudah agak malam. Di desa itu kami sempat menunggu sejenak sebelum dua orang dari pihak desa datang dan menerima kami.

Saya sempat berbincang dengan salah satunya (sayangnya saya lupa lagi namanya). Saya cukup terkejut saat mengetahui jumlah rumah yang mengalami kerusakan di sana sebanyak 960 rumah.

Tapi ada satu hal yang dapat disyukuri, di desa ini tidak ada satu pun korban jiwa. Hal ini dikarenakan pada saat gempa bumi terjadi, kebanyakan warganya sedang berada di kebun dan sawah.

Pada kesempatan itu, kami membawa beberapa jenis bantuan dan bantuan tersebut berfokus pada anak-anak, misalnya: susu anak, bola sepak, raket, dan biskuit.

Bersyukur Saja Tidak Cukup

Bencana alam semacam ini bukanlah menjadi yang pertama dialami oleh warga Indonesia. Sepanjang tahun 2022, terdapat 3.318 peristiwa bencana alam yang terjadi. Mulai dari banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran hutan, gelombang pasang, hingga erupsi gunung berapi kerap kali terjadi di Indonesia.

Meski bencana kerap kali melanda Indonesia, warga-warganya tak pernah berhenti untuk saling membantu. Semangat gotong royong yang diajarkan lewat Pancasila telah meresap ke dalam diri warga negara Indonesia. Semangat kerelawanan selalu saja tinggi. Bahkan dalam salah satu riset, Indonesia memiliki jumlah relawan terbesar di dunia.

Bantuan terus mengalir tatkala bencana alam terjadi di belahan Indonesia mana pun. Bahkan tanpa diminta pun, warga-warga Indonesia akan mengambil inisiatif untuk memulai penggalangan bantuan, baik secara konvensional atau digital. Itulah salah satu kelebihan Indonesia.

Tapi pertanyaan selanjutnya, sampai kapan hanya mengandalkan semangat kerelawanan warga negara untuk mengatasi bencana alam yang kita tidak ketahui ujungnya?

KMHDI menyerahkan bantuan kepada korban gempa di Cianjur

Kapten Tsubasa pernah berseru “bola adalah sahabat!” yang kemudian ia tunjukkan dengan berlatih setiap hari agar mahir memainkan bola di kakinya.

Sebuah pertanyaan di kepala saya kemudian muncul, apakah masyarakat Indonesia bisa “bersahabat” dengan bencana alam? Tentu saja bisa! Lewat pola yang dilakukan oleh Kapten Tsubasa, semestinya masyarakat Indonesia dapat “bersahabat” dengan bencana alam.

“Bersahabat” yang saya maksudkan dalam hal ini adalah bagaimana masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan di saat terjadi bencana di tempat tinggal. Jika pengetahuan dan keterampilan itu sudah dikuasai, bukankah hal itu dapat meminimalisir jumlah korban? Saya adalah orang yang meyakini itu.

Mitigasi Bencana Adalah Kunci

Dalam lirik lagunya yang berjudul “Laskar Pelangi”, Nidji mengatakan “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia,” lewat penggalan lirik yang sama, saya coba membuatnya jadi lebih spesifik menjadi “mitigasi adalah kunci untuk kita hadapi bencana,” bagaimana? Cocok bukan?

Saya dan Anda tahu bahwa Indonesia berada dalam zona ring of fire. Bencana alam sewaktu-waktu akan terjadi tanpa mengenal permisi. Oleh karena itu, kesiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana alam sangatlah penting. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam mitigasi bencana jadi salah satu kunci penting keberlanjutan bangsa Indonesia.

Tapi bagaimana caranya agar masyarakat ngeh soal mitigasi bencana? Menurut saya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dan diterapkan.

Pertama, mitigasi bencana harus masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Pentingnya mitigasi bencana harus ditanamkan mulai sejak dini kepada generasi muda. Bencana alam tidak mengenal siapa yang akan menjadi korban atas keganasannya, tapi saya dan anda tahu bahwa semua orang harus selamat apabila terjadi bencana alam di tempat tinggal kita.

Pengetahuan soal apa itu bencana alam, jenis-jenis bencana alam, bagaimana cara untuk melindungi diri apabila terjadi bencana alam, hingga mengenal berbagai gejala alam yang bisa diidentifikasi sebagai tanda-tanda akan terjadinya bencana alam. Tidak hanya lewat sarana pengetahuan, mitigasi bencana juga harus dipraktekkan.

Harus ada simulasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini bisa diinisiasi langsung oleh institusi yang memiliki tugas dan wewenang di ranah ini, misalnya BNPB dan jajarannya di masing-masing daerah.

Kedua, menyiapkan sistem penerimaan bantuan terhadap korban bencana alam. Korban pasti akan selalu timbul tatkala bencana alam terjadi. Sehingga tenda pengungsian, dapur umum, hingga berbagai logistik harus dipersiapkan untuk memastikan kelangsungan hidup para korban. Melalui sistem yang baik oleh pemerintah, maka pemerintah setempat dapat menerima donasi dari para relawan melalui satu pintu.

Tidak hanya soal birokrasi saja yang mesti satu pintu, soal penerimaan bantuan pun penting diarahkan untuk satu pintu. Hal ini menurut saya penting untuk menjamin pemerataan distribusi bantuan. Lewat identifikasi dan pemetaan yang dilakukan oleh pemerintah setempat, maka tingkat pendistribusian yang tepat sasaran dan tepat jumlah akan semakin mudah diwujudkan.

Pemahaman mitigasi bencana yang kurang adalah salah satu penyebab terus tingginya korban jiwa di setiap bencana alam yang terjadi—bahkan pada bencana alam yang serupa. Tidak jarang juga kita melihat di layar kaca beberapa orang yang bahkan tidak mau dievakuasi, padahal wilayah yang didiaminya menjadi zona merah bencana.

Saya yakin dan percaya, dengan pemahaman mitigasi bencana baik dari sisi pengetahuan dan keterampilan, maka korban jiwa pasti dapat diminimalisir. Melalui pemahaman terhadap mitigasi bencana dan kesiapan sistem kebencanaan oleh pemerintah, maka saya rasa “bersahabat” dengan bencana alam bukanlah hal yang mustahil. [T]

Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa
Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan
Ngelapak di Youth Park | Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar
Tags: bencana alamCianjurgempa bumiGempa CianjurKMHDI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Gegeni di Desa Ngadiwono di Lereng Bromo

Next Post

Balon DPD RI dari Buleleng; Arsa Linggih dan Gede Suardana, Mangku Pastika Tak Lagi

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Balon DPD RI dari Buleleng; Arsa Linggih dan Gede Suardana, Mangku Pastika Tak Lagi

Balon DPD RI dari Buleleng; Arsa Linggih dan Gede Suardana, Mangku Pastika Tak Lagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co