15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia Dalam Lingkar Bencana | Renungan Dari Penyerahan Bantuan KMHDI ke Cianjur

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
December 13, 2022
in Khas
Indonesia Dalam Lingkar Bencana | Renungan Dari Penyerahan Bantuan KMHDI ke Cianjur

Dapur sementara untuk warga pengungsi korban gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat

Jika mendengar angka 12.12, maka yang pertama kali muncul pada benak adalah pesta potongan harga dari berbagai platform belanja digital. Tapi berbeda dengan saya.

Pada 12 Desember 2022 atau tepat saat momen 12.12, saya bersama teman-teman yang tergabung dalam Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) menyalurkan bantuan kepada korban gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat. Bantuan itu adalah hasil dari gotong royong dengan umat Hindu se-Indonesia.

Gempa bumi tersebut terjadi pada 21 November 2022 dengan magnito 5,6. Gemba bumi yang diakibatkan oleh pergerakan Sesar Cimandiri ini menelan ratusan korban jiwa, dan puluhan ribu warga harus mengungsi karena kehilangan tempat tinggal.

Warga Masih Trauma

Hilangnya ratusan jiwa dan rusaknya ribuan rumah warga benar-benar meninggalkan duka mendalam pada warga Cianjur khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Sepanjang perjalanan saya di Kabupaten Cianjur, ratusan tenda pengungsian berdiri. Banyak dapur umum juga didirikan untuk memenuhi kebutuhan dari para pengungsi.

Tenda pengungsian hingga dapur umum itu didirikan atas solidaritas warga dan berbagai kelompok masyarakat. Saya bersama teman-teman menyalurkan bantuan di dua desa, yakni: Desa Bangbayang dan Desa Kebon Peuteuy.

Sebelum menyerahkan bantuan ke Kantor Desa, kami menyempatkan untuk memberi bantuan di salah satu posko pengungsian yang merupakan salah satu posko binaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Posko tersebut memiliki fokus untuk melakukan pemulihan trauma psikologis pada anak-anak.

Tenda-tenda pengungsian korban gempa di Cianjur

Saya sempat berbincang dengan salah satu staf (saya lupa namanya), ia menyebutkan bahwa dari pihak kementerian membuat jadwal piket yang secara bergiliran bertugas di posko yang ada di Desa Bangbayang. Ia juga menyebutkan saat itu sedang ada tim yang melakukan identifikasi terhadap anak-anak, sebelum tim psikolog datang ke sana dan membantu meredakan trauma yang anak-anak alami.

Saya tiba di Kantor Desa Kebon Peuteuy sudah agak malam. Di desa itu kami sempat menunggu sejenak sebelum dua orang dari pihak desa datang dan menerima kami.

Saya sempat berbincang dengan salah satunya (sayangnya saya lupa lagi namanya). Saya cukup terkejut saat mengetahui jumlah rumah yang mengalami kerusakan di sana sebanyak 960 rumah.

Tapi ada satu hal yang dapat disyukuri, di desa ini tidak ada satu pun korban jiwa. Hal ini dikarenakan pada saat gempa bumi terjadi, kebanyakan warganya sedang berada di kebun dan sawah.

Pada kesempatan itu, kami membawa beberapa jenis bantuan dan bantuan tersebut berfokus pada anak-anak, misalnya: susu anak, bola sepak, raket, dan biskuit.

Bersyukur Saja Tidak Cukup

Bencana alam semacam ini bukanlah menjadi yang pertama dialami oleh warga Indonesia. Sepanjang tahun 2022, terdapat 3.318 peristiwa bencana alam yang terjadi. Mulai dari banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran hutan, gelombang pasang, hingga erupsi gunung berapi kerap kali terjadi di Indonesia.

Meski bencana kerap kali melanda Indonesia, warga-warganya tak pernah berhenti untuk saling membantu. Semangat gotong royong yang diajarkan lewat Pancasila telah meresap ke dalam diri warga negara Indonesia. Semangat kerelawanan selalu saja tinggi. Bahkan dalam salah satu riset, Indonesia memiliki jumlah relawan terbesar di dunia.

Bantuan terus mengalir tatkala bencana alam terjadi di belahan Indonesia mana pun. Bahkan tanpa diminta pun, warga-warga Indonesia akan mengambil inisiatif untuk memulai penggalangan bantuan, baik secara konvensional atau digital. Itulah salah satu kelebihan Indonesia.

Tapi pertanyaan selanjutnya, sampai kapan hanya mengandalkan semangat kerelawanan warga negara untuk mengatasi bencana alam yang kita tidak ketahui ujungnya?

KMHDI menyerahkan bantuan kepada korban gempa di Cianjur

Kapten Tsubasa pernah berseru “bola adalah sahabat!” yang kemudian ia tunjukkan dengan berlatih setiap hari agar mahir memainkan bola di kakinya.

Sebuah pertanyaan di kepala saya kemudian muncul, apakah masyarakat Indonesia bisa “bersahabat” dengan bencana alam? Tentu saja bisa! Lewat pola yang dilakukan oleh Kapten Tsubasa, semestinya masyarakat Indonesia dapat “bersahabat” dengan bencana alam.

“Bersahabat” yang saya maksudkan dalam hal ini adalah bagaimana masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan di saat terjadi bencana di tempat tinggal. Jika pengetahuan dan keterampilan itu sudah dikuasai, bukankah hal itu dapat meminimalisir jumlah korban? Saya adalah orang yang meyakini itu.

Mitigasi Bencana Adalah Kunci

Dalam lirik lagunya yang berjudul “Laskar Pelangi”, Nidji mengatakan “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia,” lewat penggalan lirik yang sama, saya coba membuatnya jadi lebih spesifik menjadi “mitigasi adalah kunci untuk kita hadapi bencana,” bagaimana? Cocok bukan?

Saya dan Anda tahu bahwa Indonesia berada dalam zona ring of fire. Bencana alam sewaktu-waktu akan terjadi tanpa mengenal permisi. Oleh karena itu, kesiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana alam sangatlah penting. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam mitigasi bencana jadi salah satu kunci penting keberlanjutan bangsa Indonesia.

Tapi bagaimana caranya agar masyarakat ngeh soal mitigasi bencana? Menurut saya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dan diterapkan.

Pertama, mitigasi bencana harus masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Pentingnya mitigasi bencana harus ditanamkan mulai sejak dini kepada generasi muda. Bencana alam tidak mengenal siapa yang akan menjadi korban atas keganasannya, tapi saya dan anda tahu bahwa semua orang harus selamat apabila terjadi bencana alam di tempat tinggal kita.

Pengetahuan soal apa itu bencana alam, jenis-jenis bencana alam, bagaimana cara untuk melindungi diri apabila terjadi bencana alam, hingga mengenal berbagai gejala alam yang bisa diidentifikasi sebagai tanda-tanda akan terjadinya bencana alam. Tidak hanya lewat sarana pengetahuan, mitigasi bencana juga harus dipraktekkan.

Harus ada simulasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini bisa diinisiasi langsung oleh institusi yang memiliki tugas dan wewenang di ranah ini, misalnya BNPB dan jajarannya di masing-masing daerah.

Kedua, menyiapkan sistem penerimaan bantuan terhadap korban bencana alam. Korban pasti akan selalu timbul tatkala bencana alam terjadi. Sehingga tenda pengungsian, dapur umum, hingga berbagai logistik harus dipersiapkan untuk memastikan kelangsungan hidup para korban. Melalui sistem yang baik oleh pemerintah, maka pemerintah setempat dapat menerima donasi dari para relawan melalui satu pintu.

Tidak hanya soal birokrasi saja yang mesti satu pintu, soal penerimaan bantuan pun penting diarahkan untuk satu pintu. Hal ini menurut saya penting untuk menjamin pemerataan distribusi bantuan. Lewat identifikasi dan pemetaan yang dilakukan oleh pemerintah setempat, maka tingkat pendistribusian yang tepat sasaran dan tepat jumlah akan semakin mudah diwujudkan.

Pemahaman mitigasi bencana yang kurang adalah salah satu penyebab terus tingginya korban jiwa di setiap bencana alam yang terjadi—bahkan pada bencana alam yang serupa. Tidak jarang juga kita melihat di layar kaca beberapa orang yang bahkan tidak mau dievakuasi, padahal wilayah yang didiaminya menjadi zona merah bencana.

Saya yakin dan percaya, dengan pemahaman mitigasi bencana baik dari sisi pengetahuan dan keterampilan, maka korban jiwa pasti dapat diminimalisir. Melalui pemahaman terhadap mitigasi bencana dan kesiapan sistem kebencanaan oleh pemerintah, maka saya rasa “bersahabat” dengan bencana alam bukanlah hal yang mustahil. [T]

Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa
Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan
Ngelapak di Youth Park | Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar
Tags: bencana alamCianjurgempa bumiGempa CianjurKMHDI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Gegeni di Desa Ngadiwono di Lereng Bromo

Next Post

Balon DPD RI dari Buleleng; Arsa Linggih dan Gede Suardana, Mangku Pastika Tak Lagi

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails
Next Post
Balon DPD RI dari Buleleng; Arsa Linggih dan Gede Suardana, Mangku Pastika Tak Lagi

Balon DPD RI dari Buleleng; Arsa Linggih dan Gede Suardana, Mangku Pastika Tak Lagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co