28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia Dalam Lingkar Bencana | Renungan Dari Penyerahan Bantuan KMHDI ke Cianjur

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
December 13, 2022
in Khas
Indonesia Dalam Lingkar Bencana | Renungan Dari Penyerahan Bantuan KMHDI ke Cianjur

Dapur sementara untuk warga pengungsi korban gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat

Jika mendengar angka 12.12, maka yang pertama kali muncul pada benak adalah pesta potongan harga dari berbagai platform belanja digital. Tapi berbeda dengan saya.

Pada 12 Desember 2022 atau tepat saat momen 12.12, saya bersama teman-teman yang tergabung dalam Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) menyalurkan bantuan kepada korban gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat. Bantuan itu adalah hasil dari gotong royong dengan umat Hindu se-Indonesia.

Gempa bumi tersebut terjadi pada 21 November 2022 dengan magnito 5,6. Gemba bumi yang diakibatkan oleh pergerakan Sesar Cimandiri ini menelan ratusan korban jiwa, dan puluhan ribu warga harus mengungsi karena kehilangan tempat tinggal.

Warga Masih Trauma

Hilangnya ratusan jiwa dan rusaknya ribuan rumah warga benar-benar meninggalkan duka mendalam pada warga Cianjur khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Sepanjang perjalanan saya di Kabupaten Cianjur, ratusan tenda pengungsian berdiri. Banyak dapur umum juga didirikan untuk memenuhi kebutuhan dari para pengungsi.

Tenda pengungsian hingga dapur umum itu didirikan atas solidaritas warga dan berbagai kelompok masyarakat. Saya bersama teman-teman menyalurkan bantuan di dua desa, yakni: Desa Bangbayang dan Desa Kebon Peuteuy.

Sebelum menyerahkan bantuan ke Kantor Desa, kami menyempatkan untuk memberi bantuan di salah satu posko pengungsian yang merupakan salah satu posko binaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Posko tersebut memiliki fokus untuk melakukan pemulihan trauma psikologis pada anak-anak.

Tenda-tenda pengungsian korban gempa di Cianjur

Saya sempat berbincang dengan salah satu staf (saya lupa namanya), ia menyebutkan bahwa dari pihak kementerian membuat jadwal piket yang secara bergiliran bertugas di posko yang ada di Desa Bangbayang. Ia juga menyebutkan saat itu sedang ada tim yang melakukan identifikasi terhadap anak-anak, sebelum tim psikolog datang ke sana dan membantu meredakan trauma yang anak-anak alami.

Saya tiba di Kantor Desa Kebon Peuteuy sudah agak malam. Di desa itu kami sempat menunggu sejenak sebelum dua orang dari pihak desa datang dan menerima kami.

Saya sempat berbincang dengan salah satunya (sayangnya saya lupa lagi namanya). Saya cukup terkejut saat mengetahui jumlah rumah yang mengalami kerusakan di sana sebanyak 960 rumah.

Tapi ada satu hal yang dapat disyukuri, di desa ini tidak ada satu pun korban jiwa. Hal ini dikarenakan pada saat gempa bumi terjadi, kebanyakan warganya sedang berada di kebun dan sawah.

Pada kesempatan itu, kami membawa beberapa jenis bantuan dan bantuan tersebut berfokus pada anak-anak, misalnya: susu anak, bola sepak, raket, dan biskuit.

Bersyukur Saja Tidak Cukup

Bencana alam semacam ini bukanlah menjadi yang pertama dialami oleh warga Indonesia. Sepanjang tahun 2022, terdapat 3.318 peristiwa bencana alam yang terjadi. Mulai dari banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran hutan, gelombang pasang, hingga erupsi gunung berapi kerap kali terjadi di Indonesia.

Meski bencana kerap kali melanda Indonesia, warga-warganya tak pernah berhenti untuk saling membantu. Semangat gotong royong yang diajarkan lewat Pancasila telah meresap ke dalam diri warga negara Indonesia. Semangat kerelawanan selalu saja tinggi. Bahkan dalam salah satu riset, Indonesia memiliki jumlah relawan terbesar di dunia.

Bantuan terus mengalir tatkala bencana alam terjadi di belahan Indonesia mana pun. Bahkan tanpa diminta pun, warga-warga Indonesia akan mengambil inisiatif untuk memulai penggalangan bantuan, baik secara konvensional atau digital. Itulah salah satu kelebihan Indonesia.

Tapi pertanyaan selanjutnya, sampai kapan hanya mengandalkan semangat kerelawanan warga negara untuk mengatasi bencana alam yang kita tidak ketahui ujungnya?

KMHDI menyerahkan bantuan kepada korban gempa di Cianjur

Kapten Tsubasa pernah berseru “bola adalah sahabat!” yang kemudian ia tunjukkan dengan berlatih setiap hari agar mahir memainkan bola di kakinya.

Sebuah pertanyaan di kepala saya kemudian muncul, apakah masyarakat Indonesia bisa “bersahabat” dengan bencana alam? Tentu saja bisa! Lewat pola yang dilakukan oleh Kapten Tsubasa, semestinya masyarakat Indonesia dapat “bersahabat” dengan bencana alam.

“Bersahabat” yang saya maksudkan dalam hal ini adalah bagaimana masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan di saat terjadi bencana di tempat tinggal. Jika pengetahuan dan keterampilan itu sudah dikuasai, bukankah hal itu dapat meminimalisir jumlah korban? Saya adalah orang yang meyakini itu.

Mitigasi Bencana Adalah Kunci

Dalam lirik lagunya yang berjudul “Laskar Pelangi”, Nidji mengatakan “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia,” lewat penggalan lirik yang sama, saya coba membuatnya jadi lebih spesifik menjadi “mitigasi adalah kunci untuk kita hadapi bencana,” bagaimana? Cocok bukan?

Saya dan Anda tahu bahwa Indonesia berada dalam zona ring of fire. Bencana alam sewaktu-waktu akan terjadi tanpa mengenal permisi. Oleh karena itu, kesiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana alam sangatlah penting. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam mitigasi bencana jadi salah satu kunci penting keberlanjutan bangsa Indonesia.

Tapi bagaimana caranya agar masyarakat ngeh soal mitigasi bencana? Menurut saya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dan diterapkan.

Pertama, mitigasi bencana harus masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Pentingnya mitigasi bencana harus ditanamkan mulai sejak dini kepada generasi muda. Bencana alam tidak mengenal siapa yang akan menjadi korban atas keganasannya, tapi saya dan anda tahu bahwa semua orang harus selamat apabila terjadi bencana alam di tempat tinggal kita.

Pengetahuan soal apa itu bencana alam, jenis-jenis bencana alam, bagaimana cara untuk melindungi diri apabila terjadi bencana alam, hingga mengenal berbagai gejala alam yang bisa diidentifikasi sebagai tanda-tanda akan terjadinya bencana alam. Tidak hanya lewat sarana pengetahuan, mitigasi bencana juga harus dipraktekkan.

Harus ada simulasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini bisa diinisiasi langsung oleh institusi yang memiliki tugas dan wewenang di ranah ini, misalnya BNPB dan jajarannya di masing-masing daerah.

Kedua, menyiapkan sistem penerimaan bantuan terhadap korban bencana alam. Korban pasti akan selalu timbul tatkala bencana alam terjadi. Sehingga tenda pengungsian, dapur umum, hingga berbagai logistik harus dipersiapkan untuk memastikan kelangsungan hidup para korban. Melalui sistem yang baik oleh pemerintah, maka pemerintah setempat dapat menerima donasi dari para relawan melalui satu pintu.

Tidak hanya soal birokrasi saja yang mesti satu pintu, soal penerimaan bantuan pun penting diarahkan untuk satu pintu. Hal ini menurut saya penting untuk menjamin pemerataan distribusi bantuan. Lewat identifikasi dan pemetaan yang dilakukan oleh pemerintah setempat, maka tingkat pendistribusian yang tepat sasaran dan tepat jumlah akan semakin mudah diwujudkan.

Pemahaman mitigasi bencana yang kurang adalah salah satu penyebab terus tingginya korban jiwa di setiap bencana alam yang terjadi—bahkan pada bencana alam yang serupa. Tidak jarang juga kita melihat di layar kaca beberapa orang yang bahkan tidak mau dievakuasi, padahal wilayah yang didiaminya menjadi zona merah bencana.

Saya yakin dan percaya, dengan pemahaman mitigasi bencana baik dari sisi pengetahuan dan keterampilan, maka korban jiwa pasti dapat diminimalisir. Melalui pemahaman terhadap mitigasi bencana dan kesiapan sistem kebencanaan oleh pemerintah, maka saya rasa “bersahabat” dengan bencana alam bukanlah hal yang mustahil. [T]

Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa
Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan
Ngelapak di Youth Park | Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar
Tags: bencana alamCianjurgempa bumiGempa CianjurKMHDI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Gegeni di Desa Ngadiwono di Lereng Bromo

Next Post

Balon DPD RI dari Buleleng; Arsa Linggih dan Gede Suardana, Mangku Pastika Tak Lagi

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails
Next Post
Balon DPD RI dari Buleleng; Arsa Linggih dan Gede Suardana, Mangku Pastika Tak Lagi

Balon DPD RI dari Buleleng; Arsa Linggih dan Gede Suardana, Mangku Pastika Tak Lagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co