3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
May 2, 2022
in Tualang
Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa

Foto-foto: Teddy C Putra

Pada akhirnya pengalaman singkat saya di Palembang—kota tertua di Indonesia memang harus saya tuliskan. Tujuh hari yang mengesankan berada di tempat berjayanya kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi—kini Palembang pun dikenal dengan sebutan “Bumi Sriwijaya”, dengan klub bola kebanggaannya Sriwijaya FC yang berada di Liga 2.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa saya bisa menginjakkan kaki di sana? Apa kepentingan saya di sana? Singkatnya, saya di sana menjalankan tugas organisasi yang sudah saya ikuti sejak tahun 2016 lalu. Hal yang menyenangkan bukan? Bukan! Hahaha.

Tempat pertama yang saya datangi di Palembang adalah Pura Agung Sriwijaya. Pura ini dianggap Pura Agung oleh umat Hindu se-Sumatera Selatan. Kebetulan saya tiba di sana bertepatan dengan piodalan Pura Agung Sriwijaya (Purnama Kadasa).

Saya menyaksikan ratusan umat Hindu dari berbagai di daerah Sumatera Selatan berkumpul dan memanjatkan puji syukur di Pura Agung Sriwijaya ini. Kalau kata teman saya begini “ini belum seberapa, Ted. Kalau tidak ada pandemi, umat itu sudah jalan kaki dari jalan utama di depan itu. Jadi kendaraan sudah tidak masuk lagi.”

Foto: Pura Agung Sriwijaya

Mendengar hal itu, saya hanya berdecak kagum. Bukan soal jumlah, karena kalau bicara jumlah tentu saya sudah sering saksikan ketika memasuki sasih kadasa di Pura Besakih dan Batur. Tetapi ini berbeda, yang saya kagumi lebih kepada semangat umat yang berkendara dari jauh dan juga semangat kekeluargaannya—bahkan banyak dari mereka yang menginap di Pura. Mengagumkan bukan?

Palembang Itu Kota Tertua di Indonesia

Siapa yang tidak mengenal Palembang? Sebuah kota yang di dalamnya memiliki Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) dan sungai terpanjang di pulau Sumatera—Sungai Musi. Benarkah Palembang kota tertua di Indonesia? Ya, setidaknya itulah yang tercantum dalam prasasti Sriwijaya atau yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit.

Prasasti tersebut berangka tahun 16 Juni 682—sekaligus menjadikan tanggal tersebut sebagai hari jadi Kota Palembang. Sehingga kalau dihitung dari angka prasasti Kedudukan Bukit, usia Kota Palembang kini, yakni: 1340 tahun. Palembang juga diakui sebagai kota tertua di dunia.

Kali pertama menjejakkan kaki di Palembang, saya langsung mengangguk-angguk. Saya teringat keluhan sahabat saya yang lahir dan besar di Bumi Sriwijaya. “Jalanan di Bali kecil, jadinya susah menghafal jalan di sini,” katanya. Setelah melihat langsung, jalanan di Palembang memang sangat lebar, bahkan jalanannya dua kali lebih lebar dari jalan Gatot Subroto di Kota Denpasar—itu pun hanya untuk satu jalur saja. Agak berlebihan memang, tapi itulah kenyataannya.

Hal menarik lainnya, kota Palembang adalah kota yang dibagi menjadi dua daerah, yakni: seberang ulu dan seberang ilir. Kini masing-masing daerah tersebut telah dihubungkan oleh jembatan Ampera yang diresmikan oleh Ir. Soekarno (Presiden RI ke-1) pada 10 November 1965.

Dulunya, jembatan Ampera adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara dengan panjang 1.177 meter, lebar 22 meter, tinggi 63 meter, dan jarak antara menara 75 meter. Mulanya, jembatan ini diberi nama jembatan Bung Karno. Namun pada tahun 1966 terjadi pergolakan dan gerakan anti-Soekarno, sehingga jembatan ini berubah nama menjadi jembatan Ampera hingga kini.

Foto: Berpose dengan latar Jembatan Ampera

Menurut saya, jembatan Ampera semakin indah dinikmati ketika malam hari dari halaman Benteng Kuto Besak Palembang. Ya, pada malam hari saya bersama tiga teman saya lancong ke Benteng Kuto Besak yang akan menampilkan indahnya jembatan Ampera di malam hari. Di sini banyak pedagang yang menjajakan makanan dan hiburan anak-anak. Kalau di Denpasar bisa kita bandingkan dengan Pasar Angsoka atau yang lebih dikenal dengan Pasar Kreneng.

Namun keindahan jembatan Ampera sedikit terganggu dengan sampah plastik yang berserakan di mana-mana. Saya pun melihat tidak banyak tempat sampah yang disiapkan di areal tersebut. Jadi sebelum foto-foto, saya dan ketiga teman saya harus membersihkan beberapa sampah yang masuk ke frame kamera.

Saya hampir lupa! Kalian belum benar-benar ke Palembang kalau belum merasakan nikmatnya makanan khas di sana, yakni Pempek. Baru beberapa jam saya menginjakkan kaki di Palembang, saya langsung diboyong oleh senior saya ke salah satu rumah makan yang menyediakan Pempek terbaik di kota Palembang—Pempek “Cek Tasya” namanya.

Rumah makan ini tempatnya tidak jauh dari Pura Agung Sriwijaya—cukup 5 menit perjalanan saja. Seingat saya, ini bukan kali pertama saya merasakan enaknya Pempek. Beberapa kali saya makan Pempek bersama teman-teman saat salah seorang teman saya datang dari Palembang ke Bali.

Foto: Empek-empek Palembang di Palembang

Tapi tentu ini adalah kali pertama saya makan Pempek langsung di Palembang. Benar saja, rasanya berbeda dengan Pempek yang sering menjadi oleh-oleh sebelumnya. Menu favorit saya adalah Pempek Kapal Selam—cukup aneh namanya.

Saya pun lupa menanyakan kenapa namanya kapal selam. Saya menduga disebut demikian, karena makanan ini harus dinikmati dengan genangan “cuko” yang menenggelamkan setengah Pempek ini. Tapi setelah Pempek Kapal Selam habis saya makan, satu kalimat keluar dari mulut saya: “Lemak Nian!” alias “Enak Banget!”.

Palembang dan Genangan Air

Sudah saya ceritakan bahwa Palembang adalah kota tertua di Indonesia. Ada hal yang perlu saya ceritakan lagi soal kota ini. Selama beberapa kali saya diajak berkeliling kota ini, saya melontarkan satu pertanyaan “Kenapa banyak sekali rawa di sini?”, kira-kira itu pertanyaan saya.

Teman-teman saya pun menjelaskan. Kota Palembang adalah kota yang dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Dilansir melalui Palembang.go.id masih terdapat sekitar 52,24% tanah yang tergenang oleh air. Kondisi alam seperti ini bagi nenek moyang masyarakat Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi.

Lantas apakah hari ini di Palembang masih mengandalkan moda transportasi air dalam berbagai aspek? Jawabannya adalah Ya. Transportasi air masih menjadi tulang punggung untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya.

Teman saya mengatakan untuk sampai di Kabupaten Banyuasin, ia harus menggunakan transportasi air untuk menjangkau kampung halamannya. Tentu karena jalur darat masih sulit diakses dan waktu tempuhnya pun lebih lama. Jadi hingga kini kota Palembang masih lekat dengan air.

Lalu apa yang paling saya ingat dari pengalaman saya? Hal yang paling saya ingat adalah harga tiket pesawat dari Bali ke Palembang yang sangat mahal! Sakit kepala dibuatnya. Untungnya perjalanan kemarin saya sudah ditanggung organisasi. Siapa yang sudah pernah ke Palembang, acungkan tangan! [T]

Tags: empek-empek palembangkuliner lokalPalembangperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepotong Catatan untuk Pendidikan Indonesia | Sebuah Refleksi Hari Pendidikan, 2 Mei 2022

Next Post

Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co