3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
May 2, 2022
in Tualang
Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa

Foto-foto: Teddy C Putra

Pada akhirnya pengalaman singkat saya di Palembang—kota tertua di Indonesia memang harus saya tuliskan. Tujuh hari yang mengesankan berada di tempat berjayanya kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi—kini Palembang pun dikenal dengan sebutan “Bumi Sriwijaya”, dengan klub bola kebanggaannya Sriwijaya FC yang berada di Liga 2.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa saya bisa menginjakkan kaki di sana? Apa kepentingan saya di sana? Singkatnya, saya di sana menjalankan tugas organisasi yang sudah saya ikuti sejak tahun 2016 lalu. Hal yang menyenangkan bukan? Bukan! Hahaha.

Tempat pertama yang saya datangi di Palembang adalah Pura Agung Sriwijaya. Pura ini dianggap Pura Agung oleh umat Hindu se-Sumatera Selatan. Kebetulan saya tiba di sana bertepatan dengan piodalan Pura Agung Sriwijaya (Purnama Kadasa).

Saya menyaksikan ratusan umat Hindu dari berbagai di daerah Sumatera Selatan berkumpul dan memanjatkan puji syukur di Pura Agung Sriwijaya ini. Kalau kata teman saya begini “ini belum seberapa, Ted. Kalau tidak ada pandemi, umat itu sudah jalan kaki dari jalan utama di depan itu. Jadi kendaraan sudah tidak masuk lagi.”

Foto: Pura Agung Sriwijaya

Mendengar hal itu, saya hanya berdecak kagum. Bukan soal jumlah, karena kalau bicara jumlah tentu saya sudah sering saksikan ketika memasuki sasih kadasa di Pura Besakih dan Batur. Tetapi ini berbeda, yang saya kagumi lebih kepada semangat umat yang berkendara dari jauh dan juga semangat kekeluargaannya—bahkan banyak dari mereka yang menginap di Pura. Mengagumkan bukan?

Palembang Itu Kota Tertua di Indonesia

Siapa yang tidak mengenal Palembang? Sebuah kota yang di dalamnya memiliki Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) dan sungai terpanjang di pulau Sumatera—Sungai Musi. Benarkah Palembang kota tertua di Indonesia? Ya, setidaknya itulah yang tercantum dalam prasasti Sriwijaya atau yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit.

Prasasti tersebut berangka tahun 16 Juni 682—sekaligus menjadikan tanggal tersebut sebagai hari jadi Kota Palembang. Sehingga kalau dihitung dari angka prasasti Kedudukan Bukit, usia Kota Palembang kini, yakni: 1340 tahun. Palembang juga diakui sebagai kota tertua di dunia.

Kali pertama menjejakkan kaki di Palembang, saya langsung mengangguk-angguk. Saya teringat keluhan sahabat saya yang lahir dan besar di Bumi Sriwijaya. “Jalanan di Bali kecil, jadinya susah menghafal jalan di sini,” katanya. Setelah melihat langsung, jalanan di Palembang memang sangat lebar, bahkan jalanannya dua kali lebih lebar dari jalan Gatot Subroto di Kota Denpasar—itu pun hanya untuk satu jalur saja. Agak berlebihan memang, tapi itulah kenyataannya.

Hal menarik lainnya, kota Palembang adalah kota yang dibagi menjadi dua daerah, yakni: seberang ulu dan seberang ilir. Kini masing-masing daerah tersebut telah dihubungkan oleh jembatan Ampera yang diresmikan oleh Ir. Soekarno (Presiden RI ke-1) pada 10 November 1965.

Dulunya, jembatan Ampera adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara dengan panjang 1.177 meter, lebar 22 meter, tinggi 63 meter, dan jarak antara menara 75 meter. Mulanya, jembatan ini diberi nama jembatan Bung Karno. Namun pada tahun 1966 terjadi pergolakan dan gerakan anti-Soekarno, sehingga jembatan ini berubah nama menjadi jembatan Ampera hingga kini.

Foto: Berpose dengan latar Jembatan Ampera

Menurut saya, jembatan Ampera semakin indah dinikmati ketika malam hari dari halaman Benteng Kuto Besak Palembang. Ya, pada malam hari saya bersama tiga teman saya lancong ke Benteng Kuto Besak yang akan menampilkan indahnya jembatan Ampera di malam hari. Di sini banyak pedagang yang menjajakan makanan dan hiburan anak-anak. Kalau di Denpasar bisa kita bandingkan dengan Pasar Angsoka atau yang lebih dikenal dengan Pasar Kreneng.

Namun keindahan jembatan Ampera sedikit terganggu dengan sampah plastik yang berserakan di mana-mana. Saya pun melihat tidak banyak tempat sampah yang disiapkan di areal tersebut. Jadi sebelum foto-foto, saya dan ketiga teman saya harus membersihkan beberapa sampah yang masuk ke frame kamera.

Saya hampir lupa! Kalian belum benar-benar ke Palembang kalau belum merasakan nikmatnya makanan khas di sana, yakni Pempek. Baru beberapa jam saya menginjakkan kaki di Palembang, saya langsung diboyong oleh senior saya ke salah satu rumah makan yang menyediakan Pempek terbaik di kota Palembang—Pempek “Cek Tasya” namanya.

Rumah makan ini tempatnya tidak jauh dari Pura Agung Sriwijaya—cukup 5 menit perjalanan saja. Seingat saya, ini bukan kali pertama saya merasakan enaknya Pempek. Beberapa kali saya makan Pempek bersama teman-teman saat salah seorang teman saya datang dari Palembang ke Bali.

Foto: Empek-empek Palembang di Palembang

Tapi tentu ini adalah kali pertama saya makan Pempek langsung di Palembang. Benar saja, rasanya berbeda dengan Pempek yang sering menjadi oleh-oleh sebelumnya. Menu favorit saya adalah Pempek Kapal Selam—cukup aneh namanya.

Saya pun lupa menanyakan kenapa namanya kapal selam. Saya menduga disebut demikian, karena makanan ini harus dinikmati dengan genangan “cuko” yang menenggelamkan setengah Pempek ini. Tapi setelah Pempek Kapal Selam habis saya makan, satu kalimat keluar dari mulut saya: “Lemak Nian!” alias “Enak Banget!”.

Palembang dan Genangan Air

Sudah saya ceritakan bahwa Palembang adalah kota tertua di Indonesia. Ada hal yang perlu saya ceritakan lagi soal kota ini. Selama beberapa kali saya diajak berkeliling kota ini, saya melontarkan satu pertanyaan “Kenapa banyak sekali rawa di sini?”, kira-kira itu pertanyaan saya.

Teman-teman saya pun menjelaskan. Kota Palembang adalah kota yang dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Dilansir melalui Palembang.go.id masih terdapat sekitar 52,24% tanah yang tergenang oleh air. Kondisi alam seperti ini bagi nenek moyang masyarakat Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi.

Lantas apakah hari ini di Palembang masih mengandalkan moda transportasi air dalam berbagai aspek? Jawabannya adalah Ya. Transportasi air masih menjadi tulang punggung untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya.

Teman saya mengatakan untuk sampai di Kabupaten Banyuasin, ia harus menggunakan transportasi air untuk menjangkau kampung halamannya. Tentu karena jalur darat masih sulit diakses dan waktu tempuhnya pun lebih lama. Jadi hingga kini kota Palembang masih lekat dengan air.

Lalu apa yang paling saya ingat dari pengalaman saya? Hal yang paling saya ingat adalah harga tiket pesawat dari Bali ke Palembang yang sangat mahal! Sakit kepala dibuatnya. Untungnya perjalanan kemarin saya sudah ditanggung organisasi. Siapa yang sudah pernah ke Palembang, acungkan tangan! [T]

Tags: empek-empek palembangkuliner lokalPalembangperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepotong Catatan untuk Pendidikan Indonesia | Sebuah Refleksi Hari Pendidikan, 2 Mei 2022

Next Post

Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails
Next Post
Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co