24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
May 2, 2022
in Tualang
Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa

Foto-foto: Teddy C Putra

Pada akhirnya pengalaman singkat saya di Palembang—kota tertua di Indonesia memang harus saya tuliskan. Tujuh hari yang mengesankan berada di tempat berjayanya kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi—kini Palembang pun dikenal dengan sebutan “Bumi Sriwijaya”, dengan klub bola kebanggaannya Sriwijaya FC yang berada di Liga 2.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa saya bisa menginjakkan kaki di sana? Apa kepentingan saya di sana? Singkatnya, saya di sana menjalankan tugas organisasi yang sudah saya ikuti sejak tahun 2016 lalu. Hal yang menyenangkan bukan? Bukan! Hahaha.

Tempat pertama yang saya datangi di Palembang adalah Pura Agung Sriwijaya. Pura ini dianggap Pura Agung oleh umat Hindu se-Sumatera Selatan. Kebetulan saya tiba di sana bertepatan dengan piodalan Pura Agung Sriwijaya (Purnama Kadasa).

Saya menyaksikan ratusan umat Hindu dari berbagai di daerah Sumatera Selatan berkumpul dan memanjatkan puji syukur di Pura Agung Sriwijaya ini. Kalau kata teman saya begini “ini belum seberapa, Ted. Kalau tidak ada pandemi, umat itu sudah jalan kaki dari jalan utama di depan itu. Jadi kendaraan sudah tidak masuk lagi.”

Foto: Pura Agung Sriwijaya

Mendengar hal itu, saya hanya berdecak kagum. Bukan soal jumlah, karena kalau bicara jumlah tentu saya sudah sering saksikan ketika memasuki sasih kadasa di Pura Besakih dan Batur. Tetapi ini berbeda, yang saya kagumi lebih kepada semangat umat yang berkendara dari jauh dan juga semangat kekeluargaannya—bahkan banyak dari mereka yang menginap di Pura. Mengagumkan bukan?

Palembang Itu Kota Tertua di Indonesia

Siapa yang tidak mengenal Palembang? Sebuah kota yang di dalamnya memiliki Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) dan sungai terpanjang di pulau Sumatera—Sungai Musi. Benarkah Palembang kota tertua di Indonesia? Ya, setidaknya itulah yang tercantum dalam prasasti Sriwijaya atau yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit.

Prasasti tersebut berangka tahun 16 Juni 682—sekaligus menjadikan tanggal tersebut sebagai hari jadi Kota Palembang. Sehingga kalau dihitung dari angka prasasti Kedudukan Bukit, usia Kota Palembang kini, yakni: 1340 tahun. Palembang juga diakui sebagai kota tertua di dunia.

Kali pertama menjejakkan kaki di Palembang, saya langsung mengangguk-angguk. Saya teringat keluhan sahabat saya yang lahir dan besar di Bumi Sriwijaya. “Jalanan di Bali kecil, jadinya susah menghafal jalan di sini,” katanya. Setelah melihat langsung, jalanan di Palembang memang sangat lebar, bahkan jalanannya dua kali lebih lebar dari jalan Gatot Subroto di Kota Denpasar—itu pun hanya untuk satu jalur saja. Agak berlebihan memang, tapi itulah kenyataannya.

Hal menarik lainnya, kota Palembang adalah kota yang dibagi menjadi dua daerah, yakni: seberang ulu dan seberang ilir. Kini masing-masing daerah tersebut telah dihubungkan oleh jembatan Ampera yang diresmikan oleh Ir. Soekarno (Presiden RI ke-1) pada 10 November 1965.

Dulunya, jembatan Ampera adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara dengan panjang 1.177 meter, lebar 22 meter, tinggi 63 meter, dan jarak antara menara 75 meter. Mulanya, jembatan ini diberi nama jembatan Bung Karno. Namun pada tahun 1966 terjadi pergolakan dan gerakan anti-Soekarno, sehingga jembatan ini berubah nama menjadi jembatan Ampera hingga kini.

Foto: Berpose dengan latar Jembatan Ampera

Menurut saya, jembatan Ampera semakin indah dinikmati ketika malam hari dari halaman Benteng Kuto Besak Palembang. Ya, pada malam hari saya bersama tiga teman saya lancong ke Benteng Kuto Besak yang akan menampilkan indahnya jembatan Ampera di malam hari. Di sini banyak pedagang yang menjajakan makanan dan hiburan anak-anak. Kalau di Denpasar bisa kita bandingkan dengan Pasar Angsoka atau yang lebih dikenal dengan Pasar Kreneng.

Namun keindahan jembatan Ampera sedikit terganggu dengan sampah plastik yang berserakan di mana-mana. Saya pun melihat tidak banyak tempat sampah yang disiapkan di areal tersebut. Jadi sebelum foto-foto, saya dan ketiga teman saya harus membersihkan beberapa sampah yang masuk ke frame kamera.

Saya hampir lupa! Kalian belum benar-benar ke Palembang kalau belum merasakan nikmatnya makanan khas di sana, yakni Pempek. Baru beberapa jam saya menginjakkan kaki di Palembang, saya langsung diboyong oleh senior saya ke salah satu rumah makan yang menyediakan Pempek terbaik di kota Palembang—Pempek “Cek Tasya” namanya.

Rumah makan ini tempatnya tidak jauh dari Pura Agung Sriwijaya—cukup 5 menit perjalanan saja. Seingat saya, ini bukan kali pertama saya merasakan enaknya Pempek. Beberapa kali saya makan Pempek bersama teman-teman saat salah seorang teman saya datang dari Palembang ke Bali.

Foto: Empek-empek Palembang di Palembang

Tapi tentu ini adalah kali pertama saya makan Pempek langsung di Palembang. Benar saja, rasanya berbeda dengan Pempek yang sering menjadi oleh-oleh sebelumnya. Menu favorit saya adalah Pempek Kapal Selam—cukup aneh namanya.

Saya pun lupa menanyakan kenapa namanya kapal selam. Saya menduga disebut demikian, karena makanan ini harus dinikmati dengan genangan “cuko” yang menenggelamkan setengah Pempek ini. Tapi setelah Pempek Kapal Selam habis saya makan, satu kalimat keluar dari mulut saya: “Lemak Nian!” alias “Enak Banget!”.

Palembang dan Genangan Air

Sudah saya ceritakan bahwa Palembang adalah kota tertua di Indonesia. Ada hal yang perlu saya ceritakan lagi soal kota ini. Selama beberapa kali saya diajak berkeliling kota ini, saya melontarkan satu pertanyaan “Kenapa banyak sekali rawa di sini?”, kira-kira itu pertanyaan saya.

Teman-teman saya pun menjelaskan. Kota Palembang adalah kota yang dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Dilansir melalui Palembang.go.id masih terdapat sekitar 52,24% tanah yang tergenang oleh air. Kondisi alam seperti ini bagi nenek moyang masyarakat Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi.

Lantas apakah hari ini di Palembang masih mengandalkan moda transportasi air dalam berbagai aspek? Jawabannya adalah Ya. Transportasi air masih menjadi tulang punggung untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya.

Teman saya mengatakan untuk sampai di Kabupaten Banyuasin, ia harus menggunakan transportasi air untuk menjangkau kampung halamannya. Tentu karena jalur darat masih sulit diakses dan waktu tempuhnya pun lebih lama. Jadi hingga kini kota Palembang masih lekat dengan air.

Lalu apa yang paling saya ingat dari pengalaman saya? Hal yang paling saya ingat adalah harga tiket pesawat dari Bali ke Palembang yang sangat mahal! Sakit kepala dibuatnya. Untungnya perjalanan kemarin saya sudah ditanggung organisasi. Siapa yang sudah pernah ke Palembang, acungkan tangan! [T]

Tags: empek-empek palembangkuliner lokalPalembangperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepotong Catatan untuk Pendidikan Indonesia | Sebuah Refleksi Hari Pendidikan, 2 Mei 2022

Next Post

Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co