3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
May 2, 2022
in Tualang
Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa

Foto-foto: Teddy C Putra

Pada akhirnya pengalaman singkat saya di Palembang—kota tertua di Indonesia memang harus saya tuliskan. Tujuh hari yang mengesankan berada di tempat berjayanya kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi—kini Palembang pun dikenal dengan sebutan “Bumi Sriwijaya”, dengan klub bola kebanggaannya Sriwijaya FC yang berada di Liga 2.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa saya bisa menginjakkan kaki di sana? Apa kepentingan saya di sana? Singkatnya, saya di sana menjalankan tugas organisasi yang sudah saya ikuti sejak tahun 2016 lalu. Hal yang menyenangkan bukan? Bukan! Hahaha.

Tempat pertama yang saya datangi di Palembang adalah Pura Agung Sriwijaya. Pura ini dianggap Pura Agung oleh umat Hindu se-Sumatera Selatan. Kebetulan saya tiba di sana bertepatan dengan piodalan Pura Agung Sriwijaya (Purnama Kadasa).

Saya menyaksikan ratusan umat Hindu dari berbagai di daerah Sumatera Selatan berkumpul dan memanjatkan puji syukur di Pura Agung Sriwijaya ini. Kalau kata teman saya begini “ini belum seberapa, Ted. Kalau tidak ada pandemi, umat itu sudah jalan kaki dari jalan utama di depan itu. Jadi kendaraan sudah tidak masuk lagi.”

Foto: Pura Agung Sriwijaya

Mendengar hal itu, saya hanya berdecak kagum. Bukan soal jumlah, karena kalau bicara jumlah tentu saya sudah sering saksikan ketika memasuki sasih kadasa di Pura Besakih dan Batur. Tetapi ini berbeda, yang saya kagumi lebih kepada semangat umat yang berkendara dari jauh dan juga semangat kekeluargaannya—bahkan banyak dari mereka yang menginap di Pura. Mengagumkan bukan?

Palembang Itu Kota Tertua di Indonesia

Siapa yang tidak mengenal Palembang? Sebuah kota yang di dalamnya memiliki Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) dan sungai terpanjang di pulau Sumatera—Sungai Musi. Benarkah Palembang kota tertua di Indonesia? Ya, setidaknya itulah yang tercantum dalam prasasti Sriwijaya atau yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit.

Prasasti tersebut berangka tahun 16 Juni 682—sekaligus menjadikan tanggal tersebut sebagai hari jadi Kota Palembang. Sehingga kalau dihitung dari angka prasasti Kedudukan Bukit, usia Kota Palembang kini, yakni: 1340 tahun. Palembang juga diakui sebagai kota tertua di dunia.

Kali pertama menjejakkan kaki di Palembang, saya langsung mengangguk-angguk. Saya teringat keluhan sahabat saya yang lahir dan besar di Bumi Sriwijaya. “Jalanan di Bali kecil, jadinya susah menghafal jalan di sini,” katanya. Setelah melihat langsung, jalanan di Palembang memang sangat lebar, bahkan jalanannya dua kali lebih lebar dari jalan Gatot Subroto di Kota Denpasar—itu pun hanya untuk satu jalur saja. Agak berlebihan memang, tapi itulah kenyataannya.

Hal menarik lainnya, kota Palembang adalah kota yang dibagi menjadi dua daerah, yakni: seberang ulu dan seberang ilir. Kini masing-masing daerah tersebut telah dihubungkan oleh jembatan Ampera yang diresmikan oleh Ir. Soekarno (Presiden RI ke-1) pada 10 November 1965.

Dulunya, jembatan Ampera adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara dengan panjang 1.177 meter, lebar 22 meter, tinggi 63 meter, dan jarak antara menara 75 meter. Mulanya, jembatan ini diberi nama jembatan Bung Karno. Namun pada tahun 1966 terjadi pergolakan dan gerakan anti-Soekarno, sehingga jembatan ini berubah nama menjadi jembatan Ampera hingga kini.

Foto: Berpose dengan latar Jembatan Ampera

Menurut saya, jembatan Ampera semakin indah dinikmati ketika malam hari dari halaman Benteng Kuto Besak Palembang. Ya, pada malam hari saya bersama tiga teman saya lancong ke Benteng Kuto Besak yang akan menampilkan indahnya jembatan Ampera di malam hari. Di sini banyak pedagang yang menjajakan makanan dan hiburan anak-anak. Kalau di Denpasar bisa kita bandingkan dengan Pasar Angsoka atau yang lebih dikenal dengan Pasar Kreneng.

Namun keindahan jembatan Ampera sedikit terganggu dengan sampah plastik yang berserakan di mana-mana. Saya pun melihat tidak banyak tempat sampah yang disiapkan di areal tersebut. Jadi sebelum foto-foto, saya dan ketiga teman saya harus membersihkan beberapa sampah yang masuk ke frame kamera.

Saya hampir lupa! Kalian belum benar-benar ke Palembang kalau belum merasakan nikmatnya makanan khas di sana, yakni Pempek. Baru beberapa jam saya menginjakkan kaki di Palembang, saya langsung diboyong oleh senior saya ke salah satu rumah makan yang menyediakan Pempek terbaik di kota Palembang—Pempek “Cek Tasya” namanya.

Rumah makan ini tempatnya tidak jauh dari Pura Agung Sriwijaya—cukup 5 menit perjalanan saja. Seingat saya, ini bukan kali pertama saya merasakan enaknya Pempek. Beberapa kali saya makan Pempek bersama teman-teman saat salah seorang teman saya datang dari Palembang ke Bali.

Foto: Empek-empek Palembang di Palembang

Tapi tentu ini adalah kali pertama saya makan Pempek langsung di Palembang. Benar saja, rasanya berbeda dengan Pempek yang sering menjadi oleh-oleh sebelumnya. Menu favorit saya adalah Pempek Kapal Selam—cukup aneh namanya.

Saya pun lupa menanyakan kenapa namanya kapal selam. Saya menduga disebut demikian, karena makanan ini harus dinikmati dengan genangan “cuko” yang menenggelamkan setengah Pempek ini. Tapi setelah Pempek Kapal Selam habis saya makan, satu kalimat keluar dari mulut saya: “Lemak Nian!” alias “Enak Banget!”.

Palembang dan Genangan Air

Sudah saya ceritakan bahwa Palembang adalah kota tertua di Indonesia. Ada hal yang perlu saya ceritakan lagi soal kota ini. Selama beberapa kali saya diajak berkeliling kota ini, saya melontarkan satu pertanyaan “Kenapa banyak sekali rawa di sini?”, kira-kira itu pertanyaan saya.

Teman-teman saya pun menjelaskan. Kota Palembang adalah kota yang dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Dilansir melalui Palembang.go.id masih terdapat sekitar 52,24% tanah yang tergenang oleh air. Kondisi alam seperti ini bagi nenek moyang masyarakat Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi.

Lantas apakah hari ini di Palembang masih mengandalkan moda transportasi air dalam berbagai aspek? Jawabannya adalah Ya. Transportasi air masih menjadi tulang punggung untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya.

Teman saya mengatakan untuk sampai di Kabupaten Banyuasin, ia harus menggunakan transportasi air untuk menjangkau kampung halamannya. Tentu karena jalur darat masih sulit diakses dan waktu tempuhnya pun lebih lama. Jadi hingga kini kota Palembang masih lekat dengan air.

Lalu apa yang paling saya ingat dari pengalaman saya? Hal yang paling saya ingat adalah harga tiket pesawat dari Bali ke Palembang yang sangat mahal! Sakit kepala dibuatnya. Untungnya perjalanan kemarin saya sudah ditanggung organisasi. Siapa yang sudah pernah ke Palembang, acungkan tangan! [T]

Tags: empek-empek palembangkuliner lokalPalembangperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepotong Catatan untuk Pendidikan Indonesia | Sebuah Refleksi Hari Pendidikan, 2 Mei 2022

Next Post

Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Takbir Keliling Umat Muslim Buleleng, Toleransi, Silaturahmi dan Kegembiraan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co