21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Jani Nugraha 2022 | I Wayan Dibia dan Tiga Hal Penting dalam Seni Kontemporer

tatkala by tatkala
November 29, 2022
in Persona
Bali Jani Nugraha 2022 | I Wayan Dibia dan Tiga Hal Penting dalam Seni Kontemporer

Prof. Dr. I Wayan Dibia

ADA TIGA hal penting yang harus diperhatikan jika bicara soal kesenian kontemporer. Itu kata Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST.,MA. Apa saja tiga hal itu?

Pertama, kita harus belajar dulu soal kesenian tradisional dan hal itu dijadikan bekal untuk menghasilkan karya-karya seni pertunjukan kontemporer

Dibia yang merupakan suami dari Dr. Ni Made Wiratini, SST., MA,  ini memang masuk ke seni kontemporer sejak tahun 1971. Seni kontemporer ia masuki setelah memiliki bekal kesenian tradisi yang cukup.

Sebelumnya Dibia  sudah mempelajari berbagai jenis seni pertunjukan tradisi Bali dari belajar dengan guru-guru di desa dan di Kokar Bali.  Dengan bekal yang cukup ia  merasa tidak pernah kekurangan bahan yang bisa diolah untuk menghasilkan karya-karya seni pertunjukan kontemporer.

Kedua, banyak yang menganggap bahwa jika ingin terjun ke seni kontemporer seseorang harus melepaskan diri dari seni tradisi.  Pandangan seperti ini, kata Dibia, bisa menyesatkan.

“Jika seseorang tidak punya bekal seni tradisi yang memadai, maka orang itu hanya mampu menghasilkan karya-karya seni kontemporer yang tak punya identitas budaya dan identitas diri yang kuat,” kata dia. 

Yang benar, kata Dibia, ketika seseorang terjun ke bidang seni kontemporer, ia harus mampu melepaskan diri dari ikatan dan aturan-aturan kaku dari seni tradisi sehingga ia akan memiliki ruang bebas untuk mereinterpretasi, mempresentasi, dan mengkrekreasi hal-hal baru dalam karya kontemporernya sesuai kebutuhan dan tuntunan ekpresi estetik masa kini. 

Ketiga, kehadiran seni kontemporer sering dianggap dapat merusak eksistensi seni tradisi.  Menurut Prof. Dibia, pandangan seperti ini hanya mencerminkan rasa ketakutan yang berlebihan. Kehadiran seni kontemporer justru akan memberi imbas positif terhadap kehidupan seni tradisi. 

Jika karya seni ciptaan baru yang diciptakan zaman sekarang kelak masih diterima oleh masyarakat, maka karya seni kontemporer itu akan menjadi seni tradisi yang baru.  Ini berarti kehadirannya bisa memperkaya kehidupan seni tradisi.

“Yang perlu diwaspadai adalah munculnya karya-karya seni kontemporer yang mengeksploitasi unsur-unsur seni tradisi, lebih-lebih yang bernilai sakral.  Contohnya Sanghyang Jaran yang kini sudah dikomersialkan dalam perstunjukan wisata.  Cara-cara seperti ini bisa mempercepat proses sekularisasi terhadap bentuk-bentuk kesenian tradisi yang bersifat sakral,” katanya.

[][][]

Prof. Dibia mengatakan, sejak 1971 ia terlibat mempelajari kesenian -kesenian modern setelah mememiliki bekal kesenian tradisi yang cukup.  Pria asal Singapadu, kelahiran 12 April 1948, ini adalah sosok guru besar yang telah malang melintang membawa sekaligus memperkenalkan kesenian tradisi Bali di berbagai negara, tidak saja kesenian tradisi melainkan seni-seni modern yang diciptakanya.

Dibia pernah menggagas Festival Seni Masa Kini di Sekolah Tinggi Seni Indonesia pada tahun 1992 yang menghadirkan para seniman kontemporer dan modern Bali. Selanjutnya ia mendirikan pusat kreativitas seni, Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS) di Singapadu-Gianyar untuk mempromosikan karya-karya seni kontemporer di Bali.

Di tingkat nasional, Wayan Dibia memperkenalkan kecak sebagai wahana terapi dalam pertemuan dokter-dokter di Jakarta. Ia juga menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan seni pertunjukan di beberapa kota besar di Indonesia.

Ia juga sempat menjadi Pengurus Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) dari tahun 1999-2003.  Menjadi Tim Kurator Indonesia Dance Festival (IDF) pada tahun 2006. Dan di tingkat internasional, Dibia mengajar kecak ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Hong Kong, Singapore, Taiwan, dan Australia.

Dibia juga pernah mengadakan pertemuan Koreografer dan Komposer Muda se Asia Tenggara, Forum For Young Choreografer  and Composer at GEOKS Singapadu-Bali, Under The Support of  Arts Network Asia, Asian Cultural Council (ACC) New York, and Wayan Geria Foundation  (2007). 

Wayan Dibia menceritakan, kreativitas dan inovasi kekaryaan bidang seni modern, kontemporer, dan seni inovasi lainnya yang sudah dilakukan tercatat cukup banyak. Antara lain sejak 1975 telah menciptakan sejumlah tari dan dramatari kreasi baru kreasi yang berbasis  kecak, kekebyaran, legong, topeng, dan arja untuk dipentaskan dalam Pesta  Kesenian Bali.

Tahun 2004 menciptakan dramatari Arja Katemu Ring Tampaksiring, berdasarkan cerita pendek Katemu Ring Tampaksiring karya I Made Sanggra, produksi Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS) Singapadu, Gianyar. 2014 menciptakan dramatari Romentara Yulianti, sebuah kisah yang diadopsi dari cerita Romeo and Juliet karya William Shakespeare, produksi Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS) Singapadu, Gianyar.

Sedangkan tingkat nasional, tahun 1979 menciptakan Kecak kolosal bersama warga masyarakat Bali di Jakarta yang di tampilkan dalam pembukaan Jakarta Fair.   Tahun 1982 mementaskan tari kreasi baru Manuk Rawa dengan 17 orang penari di  Istana  Negara – Jakarta dala rangka perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun 2012 menciptakan dramatari topeng modern Tuan Tepis Produksi Geoks Singapadu. Internasional, menciptakan Body Tjak di California, USA (1990, 1999, dan 2002). Dan menciptakan Kecak “Cupu Manik Asta Gina” di Taipei University of The Arts – Taiwan (2016)

Selain menghasilkan puluhan garapan seni tari, sejak 1978, Prof. Dibia aktif menulis buku dan mengoleksi 51 buku yang tersebar luas di kampus maupun masyarakat. Beberapa buku terbaru adalah: Geguritan Dharmaning Pragina (2020), Ngunda Bayu; Teknik Pengolahan Tenaga Dalam Seni  Pertunjukan Bali (2020), Puitika Tari Bali  (2021) yang terdiri dari lima jilid, yakni  Ungkap Kata Tari Bali;  Nawa Natya; Sembilan Tari Bali Pilihan; Pengakuan dan Kesaksian Hanuman;  Gurat Garis  Tari Baris;   Nyanyian Penari Senja;Kali Sengara Pupulan Puisi Basa Bali (2022); Guna Gina Pragina Pupulan Puisi Basa Bali (2022); Panca Wi: Lima Pedoman Dasar Tari Bali (2022).

Sementara untuk tingkat nasional, tahun 2003 menulis buku Bergerak Menurut Kata Hati, terjemahan dari Moving  From Within oleh Alma M. Hawkins (1991) diterbitkan oleh Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.  Sedangkan untuk tingkat Internasional , tahun 1995 menulis buku Kecak; Balinese Vocal Chanting of Bali diterbitkan oleh   Bali Hartanto Art Books Studio. Tahun 2004 menulis buku Balinese Dance, Drama, and Music bersama Rucina Ballinger yang diterbitkan oleh Peri Plus Singapore.  Tahun 2012 menulis buku Taksu in and Beyond Arts diterbitkan Wayan Geria  Foundation Singapadu Gianyar.

Di masa Pandemi  belum lama ini, Prof, Dibia menyajikan lima  buku seni sekaligus.   Buku yang ditulis secara khusus tersebut mengangkat puisi, berjudul Puitika Tari, sebuah  terminologi yang mengandung makna pelukisan atau penggambaran tari berbahasa puitis. 

 “Sejak  Februari sampai bulan Juni 2021, saya mulai tertarik untuk menulis “puisi” dan telah melahirkan lima buah buku Puitika Tari dengan judul yang berbeda-beda,”  katanya.

Kelima buku tersebut masing- masing, berjudul, Kata Tari Bali, Nawa Natya, Sembilan Tari Bali Pilihan, Pengakuan dan Kesaksian Hanuman,Gurat Garis Tari Baris, dan Nyanyian Penari Senja. 

Terminologi Puitika Tari ini lahir dari perpaduan antara karya sastra berbentuk puisi bebas dengan deskripsi estetik tentang tari. 

“Sebagai suatu karya olah seni sastra, yang diikat irama, matra, dan rima serta disusun ke dalam larik dan bait, puitika tari berisikan  gambaran jagat tari,” ujarnya.

Cakupan kisahnya bervariasi dari prinsip estetik, gerak-gerak, ragam dan jenis, sampai dengan peristiwa pertunjukan tari, ungkapan emosi serta kehidupan senimannya.  Karya puitika tari, menyuguhkan dua hal yang saling berkaitan yaitu olah sastra dan gambaran keindahan seni tari, termasuk emosi pelakunya terhadap seni tari.

“Dengan membaca puitika tari para pembaca akan memperoleh gambaran ‘luar dalam’ dari tari dan sambil merasakan suasana emosi dari sajian tari yang digambarkan penulisnya,” ucapnya.

[][][]

Tentu saja Dibia menerima berbagai penghargaan atas ketokohannya sebagai seniman. Tahun 2000, menerima Penghargaan Wija Kusuma dari Bupati Gianyar. Tahun 2003, menerima Penghargaan Dharma Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2017, menerima Penghargaan Seni Pramana Satya Budaya (Sebagai Maestro tari Bali) dari Bupati Gianyar.  Di tingkat Nasional, Tahun 1982, terpilih sebagai dosen teladan Institut Kesenian Indonesia (IKI). Ia juga menjadi Tim mengusul Sembilan Tari Bali ke Unesco tahun 2015. Untuk tingkat nternasional, Tahun 2021, menerima Penghargaan Internasional Padma Shri untuk bidang seni dari Presiden India.

Sementara itu,  reputasi dan pengakuan yaitu diakui sebagai maestro Bidang Tari oleh Bupati Gianyar melalui penghargaan Penghargaan Seni Pramana Satya Budaya tahun 2017. Secara Nasional, tahun 1999 dikukuhkan sebagai Guru Besar Madya bidang Koreografi oleh Presiden Repu-blik Indonesia.

Ia menjadi Tim Pengarah Festival Kesenian Indonesia (FKI) di Surabaya tahun 2020. Internasional, 2005-2007 Menjadi dosen tamu, di The College of Holy Cross, Worcester-Massachusetts, USA.  2010 menjadi konsultan pameran “Bali Dancing for The Gods” di Horniman Museum, Inggris.   2016 (selama satu semester) menjadi dosen tamu di Taipei National University of The Arts (TNUA) Taiwan. 2018 sampai sekarang menjadi dosen tamu, Honorary Fellow, di Victoria College of The Arts, Melbourne University, Australia.

Atas pengabdian, kegigihan dan keteguhan Prof. I Wayan Dibia, dalam membina, melestarikan, dan mengembangkan seni budaya Bali tanpa mengenal Lelah dan putus asa , Pemerintah Provinsi Bali mengapresiasi dengan memberikan penghargaan Bali Jani Nugraha tahun 2022. [T][*]

Bali Jani Nugraha 2022 | Putu Wijaya dan Spirit Tradisi Bali
Bali Jani Nugraha 2022 | Sthiraprana Duarsa, Dokter dan Kesetiaan Pada Puisi
Bali Jani Nugraha 2022 | Prof. I Nyoman Darma Putra, Juru Kunci Sastra Indonesia di Bali
Tags: Bali Jani NugrahaFestival Seni Bali Jani 2022kesenian baliseni kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Jani Nugraha 2022 | Sthiraprana Duarsa, Dokter dan Kesetiaan Pada Puisi

Next Post

Seraya Popcorn, Usaha Kreatif Agus Tripayana Membangkitkan Jagung Desa Seraya

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails
Next Post
Seraya Popcorn, Usaha Kreatif Agus Tripayana Membangkitkan Jagung Desa Seraya

Seraya Popcorn, Usaha Kreatif Agus Tripayana Membangkitkan Jagung Desa Seraya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co