15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Jani Nugraha 2022 | Sthiraprana Duarsa, Dokter dan Kesetiaan Pada Puisi

tatkala by tatkala
November 29, 2022
in Persona
Bali Jani Nugraha 2022 | Sthiraprana Duarsa, Dokter dan Kesetiaan Pada Puisi

Sthiraprana Duarsa | Sumber foto: IG Sthiraprana Duarsa

Nama panjangnya Arya Warsaba Sthiraprana Duarsa. Di kalangan sastrawan di Bali ia dikenal dengan nama Sthiraprana Duarsa, akrab dipanggil Ary. Di kalangan dokter ia dipanggil Dokter Ary.

Ia memang seorang dokter, Tapi namanya sebagai penyair tetap kukuh, sejajar dengan penyair-penyair lain di Bali, juga di Indonesia. Ia menulis sejak SMP, dan ketika menjadi dokter, yang kini bertugas di RSUP Sanglah, ia tetap menulis puisi, juga cerpen, dan menerbitkan buku-buku puisi dan cerpen.

Ia bahkan masih memiliki waktu untuk bermain teater, seperti saat muda dulu. Bahkan, di usianya yang tergolong senior itu, ia mantap bermain teater. Ia sempat bermain monolog di halaman parkir RSUP Sanglah ketika Festival Monolog 100 Putu Wijaya tahun 2018.

Puisi seakan tak bisa lepas dari dalam dirinya hingga menjadi Kepala Humas dan Hukum Rumah Sakit Sanglah.

Pria kelahiran, Denpasar, 9 Februari 1964 ini memiliki pengalaman panjang dalam dunia sastra. Ia lahir dari seorang ibu rumah tangga, dan ayah seorang Guru Sekolah Pendidikjan Guru (SPG) yang memiliki kebiasaan membaca dan menulis.

Kebiasaan ayahnya itu barangkali menurun padanya, sehingga ketika duduk di bangku SMP Negeri 1 Denpasar, ia dipercaya mengurus Majalah Dinding. Ia memilih karya-karya teman-teman yang pantas masuk dalam Majalah Dinding sekolah.

“Mulai saat itu, saya kemudian tertarik dengan sastra. Walau saat itu, menulis sedikit-sedikit,” kata Ary.

Kegiatan sastra kemudian berlanjut kejenjang pendidikan SMA. Ketika menjadi siswa SMA Negeri 1 Denpasar, ia dipercaya mengurus majalah sekolah. Ia memasukan puisi-puisi hasil karya teman-temannya, juga karyanya sendiri.

Puisi-puisi itu, bukan hanya menghiasi majalah dinding SMA Negeri 1 Denpasar, tetapi juga dimuat di Bali Post.

“Saat itu ada teman yang mengajak untuk mengirim puisi ke Bali Post. Saya sesungguhnya tidak mengerti, tetapi ikut saja. Ternyata puisi saya dimuat dalam rubric “Pawai Sekolah”. Wah, senang sekali rasanya saat puisi bisa dimuat,” kenangnya.

Sejak itu, ayah dari tiga putra ini menjadi lebih semangat menulis puisi. Apalagi, Alm. Umbu Landu Paranggi, pengasuh rubrik tersebut begitu lihai mencambuk semangat anak-anak muda dalam menulis puisi.

Ia kemudian terus mengirim puisi ke Bali Post, sehingga awalnya dimuat dalam rubrik Pawai Sekolah, lalu masuk dalam kompetisi, selanjutnya masuk kompetisi promosi yang akhirnya masuk rubrik budaya yang keterusan sampai saat ini. Ary yang kreatif juga memiliki komunitas sesama penulis, sehingga setelah tamat SMA tahun 1982, ia selalu menjaga kebersamaan itu.

Kebersamaan itu, ditandai dengan kegiatan gradag-grudug di SPG Denpasar sekitar 1985. Ia mendengar ada lomba drama modern se Bali, sehingga sepakat untuk ikut. Hanya saja, teater sudah terbentuk itu belum memiliki nama. Karena mendesak, ia bersama teman-temannya sepakat memberi nama “Sanggar Minum Kopi” karena sering ngopi-ngopi.

Saat lomba itu, Ary sendiri bertugas sebagai sutradara yang memainkan naskah yang sudah disiapkan panitia. Saat itu, Ary terpilih sebagai sutradara terbaik III. Semenjak itu, Sanggar Minum Kopi semakin namanya besar dan mengema ke seluruh Indonesia. Itu karena setiap tahunnya melaksanakan lomba baca puisi, dan penulissan puisi.

“Sayangnya, pada 1995 Sanggar Minum Kopi fakum secara permanen karena kesibukan masing-masing,” katanya.

Sanggar Minum Kopi yang didirikannya bersama teman-temannya itu ibarat sebagai kompor yang memantik bangkitnya kelompok-kelopok sastra lainnya. Sanggar Minum Kopi tak hanya local, tetapi terdengar di Indonesia.

“Ketika menggelar lomba penulisan puisi, pesertanya selalu membludak yang datang langsung ke Bali,” sebutnya.

Sanggar Minum Kopi juga membuat Bulletin Sastra, sebagai sarana untuk menampilkan karya-karya sastra. Sayangnya, baru 3 atau 4 pernerbitan, bulletin itu kemudaian macet. Saat itu susah, karena semua biaya mencari sendiri. Namun, semangat itu terus berlanjut, maka lahir “Cak” yang juga memuat karya sastra. Penerbitan buletan ini dalam bentuk yang lebih mewah.

Saat itu, Ary hanya mengisi saja, karena setelah tamat Kedokteran Universitas Udayana 1989, ia mendapat penempatan pertama di Sulawesi Utara. “Saya yang berangkat ke Sulawesi Utara pada Agustus 1990 itu, lalu teman-tema yang lain melanjutkan,” imbuhnya.

Walau sedang bertugas di Puskesmas Momalia, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, namun kegiatan menulis puisi tak pernah putus. Bahkan, kegiatan itu semakin aktif sebagai pengisi waktu disaat santai. Ia bahkan sempat mengikuti lomba menulis puisi yang diselenggarakan Yayasan Taraju Sumatera Barat, dan berhasil masuk 10 besar.

Pengalaman batin menghadapi sistuasi yang berbeda itu akhirnya banyak melahirkan karya-karya puisi. Ary bahkan menerbitkan buku kumpulan puisi “Bagian dari Dunia” pertama di Sulawesi pada 1994. Selanjutnya, Ary pulang ke Bali pada 1995 dan bertugas di Rumah Sakit Sanglah.

Buku kumpulan puisi kedua, kemudian terbit pada 2007, judulnya “Pulang Kampung”. Buku itu lahir setelah ia mengalami kefakuman menusli puisi yang begitu lama. Disana ada kerinduan untuk menulis puisi, maka ia pulang kampung puisi.

Ketika sudah berada di kampung, ia lalu membuat buku kumpulan cerpen pada 2014. Membuat cerpen bukan hal aneh baginya, sebab Ary sebelumnya beberapa kali telah memenangkan lomba cerpen. Karya-karya cerpennya juga sering dimuat di Bali Post. Berselang lima tahun kemudian, tepatnya pada 2019 lalu Ary menulis buku kumpulan puisi tunggal ke-3 berjudul “Otobiografi Kejahatan”.

Bukan hanya urusan menulis, diusianya yang semakin senja itu, alumnus Magister Manajemen Undiknas Denpasar ini juga aktif bermain teater. Ia tampil memeriahkan 1100 pentas monolog yang digagas Putu Satria. Ia sempat tampil bermain teater di Lapangan Parkir Rumah Sakit Sanglah, dan kedua bermain teater di SMP 1 Denpasar bertajuk Monolog 3 Dokter bersama dr Sahadewa dan Eka Kusmawan.

“Dokter menekuni sastra, itu tidak aneh, dan profesi dokter dan sebagai penyair itu bukan berlamawanan arah,” ujarnya.

Dokter itu, penting memilik art and science (seni dan ilmu). Dalam dunia kedokteran juga ada seni. Dokter yang melakukan pendekatan dan berkomunikasi dengan pasien itu dilakukan dengan seni. Seorang dokter tidak melakukan science secara full.

“Memang, tak semua dokter melakukan hal itu, tergantung dari cara mereka berkomunikasi karena masing-masing memiliki cara seninya. Dalam metetapkan diagnose juga ada seninya. Missal pasien panas, nah untuk mencari penyakitnya itulah seni. Disana perlu kepekaan dan intuisi yang terasah,” papar Ary.

Dengan menggeluti puisi itu, akan dapat melatih kepekaan. Ketika melihat kejadian, fakta dan pengalaman itu yang kemudian dituangkan ke dalam tulisan. Kalau tidak peka melihat sesuatu kejadian, maka tidak akan bisa menulis. Walau Ary sering bergelut dan memiliki segudang pengalaman dalam dunia medis, namun puisi-piusi yang ia lahirkan cukup beragam. Pengalaman hidup sehari-hari yang bisa ia tulis.

“Apapun bisa ditulis. Puisi tentang rumah sakit, pada saat pandemik Covid-19 juga bisa ditulis,” imbuh penulis puisi “Menginggalnya Seorang Dokter” ini.

Karena itu, pertimbangan Ary Duarsa memilih kuliah kedokteran. Profesi sebagai dokter tidak menghambat kesenian, justru menambah wawasan. Selain itu, kuliah kedokteran memang harpan orang tua. Kebetulan juga saudara-saudaranya juga banyak yang menjadi dokter. Semua puisi-puisinya berkesan karena yang ditulis merupakan repleksi dari perasaannya.

“Saya merasakan sesuatu yang berkesan, kalau tak berkesan maka tak mungkin menuangkan ke dalam tulisan,” katanya.

Dalam menggeluti sastra, Ary Duarsa telah menerbitkan buku Bagian Dari Dunia, Antologi Puisi tunggal (1994), Pulang Kampung, Antologi Puisi tunggal (2007), Rumah Kenangan, Kumpulan Cerita Pendek tunggal (2014), Autobiografi Kejahatan, Kumpulan Puisi tunggal (2019), Sajak-Sajak Refleksi Setengah Abad Indonesia, Antologi puisi bersama (1995), Menegeria 4, Antologi puisi bersama (2000), Bali, The Morning After, Antologi puisi bersama (2000), Antologi Puisi Bali, Antologi puisi bersama (2006), Cinta Disucikan Kehidupan Dirayakan, Antologi puisi bersama (2007), Dendang Denpasar Nyiur Sanur, Antologi puisi bersama (2012), When The Days Were Raining, Antologi puisi bersama (2019) dan Blengbong, Antologi puisi bersama (2021).

Ary Duarsa juga sempat meraih penghargaan Taraju Award (1994) dan Widya Pataka (2014).

Atas pengabdian, kegigihan dan keteguhan dr.Arya Warsaba Sthiraprana Duarsa dalam membina, melestarikan, dan mengembangkan seni sastra dan budaya Bali tanpa mengenal lelah dan putus asa , Pemerintah Provinsi Bali mengapresiasi dengan memberikan penghargaan Bali Jani Nugraha Tahun 2022. [T][Ole/*]

Bali Jani Nugraha 2022 | Putu Wijaya dan Spirit Tradisi Bali
Bali Jani Nugraha 2022 | Dhenok Kristianti dan Hembusan Napas Bali dalam Puisi-puisinya
Bali Jani Nugraha 2022 | Mas Ruscitadewi Dalam Dunia Cerita Anak-anak
Tags: Festival Seni Bali Jani 2022kesenian baliPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Jani Nugraha 2022 | Putu Wijaya dan Spirit Tradisi Bali

Next Post

Bali Jani Nugraha 2022 | I Wayan Dibia dan Tiga Hal Penting dalam Seni Kontemporer

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Bali Jani Nugraha 2022 | I Wayan Dibia dan Tiga Hal Penting dalam Seni Kontemporer

Bali Jani Nugraha 2022 | I Wayan Dibia dan Tiga Hal Penting dalam Seni Kontemporer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co