23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanah Peraduan Hari Tua | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti by Ni Wayan Wijayanti
November 12, 2022
in Cerpen
Tanah Peraduan Hari Tua | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Kakek Merdi mengusap peluh di kening, sembari tetap menyelesaikan pekerjaan membajak sepetak sawah. Sawah itu peninggalan leluhur turun temurun yang entah sudah dibagi-bagi ke banyak generasi. Yang ditinggalkan untuknya hanyalah sepetak kecil ini saja.

Dua ekor sapi bali dengan kulit coklat terang tetap semangat membantunya menyelesaikan pekerjaan itu. Entah sudah berapa lama kedua sapi itu menemani Kakek Merdi bekerja. Kakek Merdi begitu menyayangi mereka, pun kedua sapi itu jugamenyayangi Kakek Merdi.

Kadang pada saat istirahat dari pekerjaan bertani, Kakek Merdi mengobrol dengan kedua sapi itu sebagaimana mengobrol dengan sahabat. Meski si sapi hanya bisa menyahut dengan melenguh, entah mengerti entah tidak apa yang Kakek Merdi katakan. Tetapi sang kakek selalu merasa kedua hewan itu cukup cerdas untuk mengartikan ceritanya.

Bukankah menurut kepercayaan leluhur, sapi termasuk salah satu dari tujuh ibu yang patut dihormati? Merekalah yang membantu pekerjaan petani membajak sawah hingga menghasilkan padi yang begitu bernilai. Mereka juga yang memberikan susu sebagaimana kasih seorang ibu yang memberikan air susu kepada anak-anaknya.

Kakek Merdi menepikan sapi-sapinya dan melepas alat pembajak dari punggung mereka. Matanya seakan mengucapkan terimakasih kepada sapi-sapi itu. Selanjutnya tangan renta itu menuntun sapi-sapi menuju sebuah gubuk kecil di pinggir sawah. Gubuk itu berada tepat di bawah pohon kelengkeng yang cukup teduh.

Diberinya masing-masing sapi sekeranjang rerumputan yang dia dapat dengan susah payah. Memang sangat susah mendapatkan rumput segar zaman sekarang, tidak seperti ketika dia muda dulu. Pada waktu itu sangat banyak terdapat lahan-lahan kosong yang ditumbuhi rumput liar. Saat itu, mencari dua keranjang rumput segar tentu rasanya tidak begitu sulit.

Lain hal dengan sekarang. Tanah-tanah itu sudah tak lagi kosong dan hijau. Hamparan padang rumput dan sawah telah tergantikan bangunan villa-villa pribadi dengan tembok tinggi yang terlihat sumpek. Di sekeliling villa sudah terbangun supermarket megah dan restoran.

Kakek Merdi duduk melepas lelah di gubuk. Sesekali dia memegang dada kiri yang terasa nyeri. Namun sakit itu segera dia tepis. Dia bahkan tidak punya cukup uang untuk mengantarkan dirinya sendiri ke rumah sakit.

Lagi pula jarak rumah sakit yang cukup jauh membuat dia semakin enggan. Sementara ia sungkan merepotkan anaknya yang sudah berkeluarga. Anak laki-laki satu-satunya itu bekerja di sebuah hotel dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar.

Kakek meneguk sebotol air yang tidak sama sejuknya dengan beberapa tahun silam. Pria tua itu ingat, dulu selepas membantu orang tua membajak sawah, ia akan menceburkan diri ke sungai yang terletak tak jauh dari sawahnya.

Air sungai yang jernih melarutkan seluruh kotoran badan, menghapus segala pikiran yang gundah. Tenggelam dalam riak kecil yang bertemu bebatuan. Alunan sungai itu seakan sebuah melodi, abadi dalam ingatan usangnya.

Tapi sekarang aliran air sungai telah mengecil dan keruh. Sebuah river club mewah dibangun di tepiannya. Musik yang bising dari club itu seakan tidak memberikan kesempatan sang sungai untuk kembali berkidung seperti dulu.

Hembusan angin pun terasa panas, kehilangan kesejukannya. Tak terdengar suara kincir yang mengiringi anak-anak bermain layang-layang.

Asap dupa dari Pura kecil yang berdiri terlupakan di seberang sawah, seakan juga tidak kuasa membendung hiruk-pikuk tempat itu.

Seolah terseok terseret-seret dan kumuh. Orang-orang tak lagi terlalu peduli. Mungkin mereka sudah tidak ada waktu, untuk sesekali sekedar mendamaikan diri mendengar dentingan genta.

“Pak, tanah sawah kita akan saya jual. Saya tidak mau bertani.”

Begitu ucapan terakhir yang Kakek Merdi ingat, saat putranya hendak pergi bekerja. Tekad putranya sudah bulat sehingga dia tidak bisa berkata apapun meski hatinya sangat tidak rela.

Dia tidak rela kehilangan sepetak kecil tanah garapan. Tanah yang mengisi hari-harinya dalam kesendirian, semenjak ditinggal mendiang istri. Tanah tempat dia bercerita banyak hal kepada dua sapi kesayangan. Tanah peraduan hari tuanya.

“Mmmoooo…!”  

“Mmmoooo…!”  

Suara sapi yang bersahutan seperti mengerti kesedihan hati Kakek Merdi. Dia berusaha agar air mata tidak jatuh dari mata senjanya yang sudah rabun termakan usia.

Pikirannya gundah sekali. Ke mana dia harus bawa kedua sapinya jika tanah sawah dan gubuk ini dijual? Tidaklah mungkin dia bawa sapi-sapi itu pulang ke rumah. Para tetangga pasti akan protes karena bau kotoran sapi yang menyengat disertai lalat-lalat hijau yang beterbangan di pekarangan rumahnya yang sempit.

“Haruskah kalian aku jual juga?”

Kakek Merdi mengelus kedua sapinya dengan sayang. Sapi bali itu sangat dihormati leluhurnya. Leluhurnya melarang untuk menyembelih dan makan daging sapi itu. Sapi yang dihormati bagaikan seorang ibu.

Suara deru bus-bus pariwisata tampak mulai memadati jalanan di depan sawah kecil itu. Bus itu menuju ke sebuah lokasi pusat oleh-oleh besar. Barulah kakek tua itu menyadari, ternyata hanya tanah ini sajalah satu-satunya sawah di area itu.

Sawah yang kehijauannya berusaha bertahan memberikan oksigen, walau tampak sia-sia belaka. Sawah itu kalah melawan kepulan karbon dari kendaraan-kendaraan bermotor yang lewat.

Tempat itu telah sesak, bahkan tak nampak kepakan sayap burung bangau yang dulu sering datang bergerombol ke sawah untuk mencari makan. Burung bangau yang suka menggigiti kutu di tubuh para sapi yang duduk merumput karena kelelahan usai membajak. Jangankan dirinya, kedua sapi ini pun pasti juga merasa kesepian.

Ular sawah juga sudah lama tidak nampak. Mungkin sudah tidak ada tikus yang bisa dia makan. Kalaupun ular itu nekat masuk villa, pastilah berakhir dengan meregang nyawa di dalam villa itu.

Kakek Merdi menatap kosong tumpukan pupuk yang terlanjur dia beli. Dia yakin sebelum pupuk itu sempat dia habiskan, tanah ini sudah pasti telah terjual. Sangat cepat menemukan orang luar yang mau membeli tanah ini, karena lokasinya sangat strategis di pinggir jalan raya.

Dulu jalan raya itu hanya terbuat dari tanah. Tanpa semen tanpa aspal. Di pinggir jalan masih berjejer pohon-pohon kelapa dan semak belukar liar yang bunganya indah berwarna-warni.

Dulu saat belum banyak kendaraan berlalu-lalang, Kakek Merdi sering bermain bola dengan teman-temannya di sepanjang jalanan itu. Namun kini dia harus berteman dengan kebisingan yang sesekali menyusupkan rasa sepi. Memang, mengenang masa muda tidak akan pernah habis.

Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Kira-kira waktu menunjuk pukul enam sore. Entah sudah berapa lama dia duduk melamun. Setelah puas hanyut dengan berbagai kenangan indah dalam hidup, Kakek Merdi menuju sungai yang keruh. Membasuh tangan dan kaki keriput yang malah menjadi semakin kotor karena sungai kini berlumpur.

Kakek Merdi kemudian menuju Pura kecil di seberang sawah. Dia hendak mengadu kepada Sang Maha Sunyi.

Tangan keriput itu bergetar. Mencakupkan tangan dengan sekuntum kembang kuning yang dia petik sembarang. Sang Maha Sunyi tidak terlalu peduli persembahan apa yang terhaturkan kepada-Nya.

Meski hanya sekuntum bunga, seteguk air, sehelai daun, sebiji buah-buahan pun, akan Dia terima dengan senang hati dari seorang bhakta yang tulus ikhlas.

Lelaki tua itu berpasrah, larut dalam doa. Sesaat kemudian dalam doa itu, dia menyadari bahwa waktu hidup yang sudah dirasa sangat lama ini, tidak ada satu apapun yang bisa dia bawa saat menghadap.

Hanya sekuntum kembang ini, tiada yang lain lagi. Semua hanya sekadar titipan. Sehingga jika sesuatu itu pergi pun, sesungguhnya dia hanya harus mengikhlaskan.

Maka lepaslah! Lagi pula umurnya sudah cukup senja dan berat jika dia terlalu banyak memiliki, atau memikirkan untuk tetap memiliki.

Dia harus merelakan tanah peraduannya itu, bukanlah sesuatu hal kekal yang harus ditangisi jika sudah tidak bisa dia genggam.

“Hyang Maha Sunyi… Hamba ini papa*, perbuatan hamba papa, kelahiran hamba papa. Mohon ampunilah segala dosa hamba…”

Dalam pengaduannya itu, tiba-tiba tampak dia tersentak. Dadanya sakit sekali. Seketika detak jantungnyaterhenti. Dia tersungkur, menelungkup sendirian. Napas itu tiada, bersamaan dengan sekuntum kembang kuning yang terjatuh dari tangan.

Dari kejauhan terdengar suara dua sapi bersahut-sahutan. Suara itu lemah terbawa angin. Beradu dengan bisingnya kendaraan di jalan dan dentum musik river club.

Suara-suara itu kini terasa bagai kidung, yang menghantar pergi sehela napas jiwa renta yang lelah mengadu dalam kesendiriannya, mengantar dengan damai doa itu, tepat di hadapan Sang Maha Sunyi. [T]

Bali, 16 Oktober 2022

Note: Papa* : Hina penuh dosa

[][][]

BACA cerpen-cerpen lain

Cinta Pohon Kepada Ibu | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Iprik Pucuk Merah | Cerpen Arnata Pakangraras
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bimtek Garam di Desa Les: Pembimbing Datang, Petani Belajar di Tempat Mereka Bekerja

Next Post

“Wayang Wahya, Kelir Tanpa Batas”, Keluasan Ekspresi Jero Dalang I Ketut Sudiana

Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti

lahir di kota seni Gianyar-Bali pada 30 April. Menulis cerpen adalah hobinya sejak masih anak-anak. Cerpen karya-karyanya telah beberapa kali dimuat di berbagai media seperti Kompas, Ceritanet, Indonesiana.Id, Cerano, dan lain-lain. Saat ini aktif sebagai seorang SEO Content Writer untuk beberapa media dan sales marketing di salah satu penginapan wilayah Ubud.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
“Wayang Wahya, Kelir Tanpa Batas”, Keluasan Ekspresi Jero Dalang I Ketut Sudiana

“Wayang Wahya, Kelir Tanpa Batas”, Keluasan Ekspresi Jero Dalang I Ketut Sudiana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co