2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta Pohon Kepada Ibu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
November 5, 2022
in Cerpen
Cinta Pohon Kepada Ibu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Senja itu terlihat begitu pekat dan gelap. Sepi. Pohon tua di Pura desa kami seperti bertapa di punjak keheningan. Guruh, petir, kilat menggodanya. Pertahanannya mulai goyah. Angin guruh, petir, kilat bersepakat menerjang keheningan pohon tertua di desa kami.

“Braaaaaaaaaaaaaaaaaaaak! Duaaaaaaaaaaaaaar!”

Lambung pohon tua diserangnya. Ia menahan perih. Jantung kehidupannya satu demi satu digerogoti. Tetes-tetes getahnya yang kulihat bagai darah itu tak mau terhenti. Aku merasakan betapa perihnya saat seperti itu.

Pohon tua yang tumbuh di Pura kami tak bisa menghindarkan dirinya dari gempuran petir. Daun-daunnya mulai layu dan segera akan luruh. Pohon itu seusia dengan perjalanan desa kami. Ia ditanam tetua kami sebagai pengingat awal membuka tempat suci. Sedari kecil sudah diupacarai semakin lama semakin indah kelihatannya.

Kami bersepakat untuk memberi saput poleng, kain putih hitam sebagai pertanda bahwa pohon itu patut dijaga. Menjaga pohon sama dengan menjaga kehidupan di desa kami. Satupun warga di desa kami tak berani mengusiknya. Kami percaya bahwa pohon yang sudah diberi selendang putih hitam ada yang penjaganya.

Sebelum kejadian, beberapa tetua memimpikan ada api besar yang menyala-nyala di pohon itu. Katanya itu banaspatiraja sebagai penunggu pohon tua itu. Aku sendiri bertanya-tanya apa hubungannya antara mimpi dengan kejadian itu. Apa itu hanya kebetulan saja? Ah, itu tak perlu bagiku. Yang kuhadapi sekarang adalah pohon tua di Pura kami mulai meranggas daunnya.

Sangkepan segera digelar. Kami bersepakat untuk melakukan upacara pembersihan. Pohon itu akan segera diganti. Penggantinya ini yang susah diperoleh. Pohon sejenis itu sudah tak ada lagi. Beragam tafsir bermunculan. Ada yang mengatakan karena desa kami ada masalah dengan keuangan yang pelaporannya tidak jelas. Ada yang mengatakan bahwa tokoh-tokoh yang dipercayai sudah menyimpang kesuciannya. Namanya tafsir boleh-boleh saja. Tapi, aku hanya yakin, pohon itu mati disambar petir.

Kusampaikan kepada teman-teman bahwa pohon tertua  di desa kami tersambar petir dan perlu pohon yang sejenis. Satupun tak ada yang tahu nama pohonnya. Aku share di FB maupun instagram agar dapat informasi mengenai pohon itu.

Hasilnya nihil. Aku tak mau menyerah. Bukan sifatku menyerah sebelum berusaha. Usaha niskala kulakukan. Kucoba mencari paranormal. Ceritanya semakin tak jelas. Ia katakan bahwa ada leteh di Pura hingga terjadi kejadian pohon tua berumur ratusan tahun tersambar petir. Ah, aku tak percaya dengan alur bicaranya. Bukannya jalan keluar kudapatkan justru masalah baru yang bisa memperkeruh keadaan.

Malam itu, aku sendirian ke Pura. aku membawa canang sekar. Semua pelinggih kusembahkan canang sekar. Bau dupa menyengat di hidungku. Aku khusuk memuja kebesaran-Nya. Tak ada tempat yang lebih mulia sebagai tempat bertanya selain kepada-Nya. Puja-puja dalam hatiku mengiringi persembahanku yang sederhana ini. Alam kulihat semakin terang. Secercah kebeningan menghampiri rasa hatiku. Ia sepertinya mengatakan sesuatu.

“Pohon itu sudah waktunya meninggalkan semesta ini. Ia telah ratusan tahun menghidupi desa ini. Berikan ia menyatu bersama semesta. Tak ada yang abadi di bumi ini. Kau juga tak akan hidup selamanya. Ada waktu untuk kembali pada-Nya. Belajarlah dari pohon itu. Ia pergi setelah memberikan energi kehidupan. Hidupnya tak sia-sia.”

Aku bertanya-tanya dalam hati. Ini artinya. Aku selama ini telah menyia-nyiakan hidup. Ini artinya yang selama ini kulakukan belum seirama dengan alam. Ah, ternyata pohon itu masih mengajari kami tentang kemanfaatan hidup. Aku menjadi malu pada pohon.

“Tak perlu risau dengan kematiannya. Di sisa kematiannya akan ada kehidupan baru. Ambillah rantingnya yang berada di timur laut itu. Tanam kembali dan rawatlah ia dengan cinta. Semesta pasti mendengar harapan-harapan pemujanya. Ada menyatu bersama semesta ada juga yang kembali lagi pada kehidupan.”

Mataku tersentak saat kilat berkelebat di sampingku. Mataku tertuju pada arah yang kurasakan tadi. Kulihat ranting pohon itu masih menyisakan kehidupannya, ia belum layu. Aku cepat-cepat memotongnya. Aku tanam kembali di samping pohon tua itu. “Tuhan berikan kami kesempatan menjaga pohon ini,” doaku saat menancapkannya.

Aku pulang. Orang tuaku tak banyak bertanya. Ia sudah tahu kebiasaanku yang terkadang sampai beberapa hari tak pulang. Hanya ibu yang sedikit khawatir. “Kau ke mana saja selama ini. Sepertinya kau gelisah setelah pohon tua di Pura tersambar petir?”

Aku tak segera menjawabnya. Aku ambil sisa buah yang dipersembahkan waktu odalan. Buah mangga kesukaanku kukupas. Satu demi satu kulitnya kubuang. Pohon memberikan buah. Bunga memberikan sari wangi, sedangkan aku memberikan apa pada semesta? Duh, kenapa pikiranku aneh-aneh begini sekarang. Aku telah banyak meminta, tapi lupa memberi pada alam.

“Nak, yang ada akan tetap ada, yang tidak ada akan selamanya tidak ada. Hidupmu masih panjang. Gunakan waktumu jangan sia-siakan hanya memikirkan satu masalah.”

“Sudahlah Bu. Aku mau mandi dulu.”

“Ckckckckck! Kau tetap tak menerima nasihat dari ibumu. Ibu ini yang memberimu ar susu dulu, Nak. Hidupmu mulai dari puting ini.”

Aku menghela napas. Aku merasa bersalah. Mulut ini kurang terkontrol. Aku peluk tubuh ibuku yang semakin ringkih. Ia tersenyum. “Gimana dengan pohon tua di Pura kita?”

Aku terkaget. Ibuku tahu segalanya yang kulakukan. “Pohon itu sudah waktunya mengakhiri pengabdiannya pada semesta. Ia sudah terlalu tua. Begitu juga dengan kami, sudah terlalu tua. Kaulah yang menggantikan kami.”

“Tidak boleh, Bu. Ibu tetap bersamaku. Pohon itu sudah kuganti dengan rantingnya, Bu.”

“Terus apa bedanya dengan kami?”

Aku tak bisa menjawab. Hanya satu permintaanku pada-Nya. Tolong jangan ambil orang tuaku, Tuhan. Berikan kami merawatnya di sisa usianya. Ibu memelukku erat sekali. Ia merasakan kegundahanku. Aku seperti dalam balutan ibu bumi.[T]

[][][]

BACA cerpen-cerpen lain

Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Iprik Pucuk Merah | Cerpen Arnata Pakangraras
Menua Bersama Ayah | Cerpen Devy Gita
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Santi Dewi | Di Bawah Pohon Hujan

Next Post

Pendidikan Inklusif: Berkebinekaan Global dan Akhlak kepada Manusia

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Inklusif:  Berkebinekaan Global dan Akhlak kepada Manusia

Pendidikan Inklusif: Berkebinekaan Global dan Akhlak kepada Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co