24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta Pohon Kepada Ibu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
November 5, 2022
in Cerpen
Cinta Pohon Kepada Ibu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Senja itu terlihat begitu pekat dan gelap. Sepi. Pohon tua di Pura desa kami seperti bertapa di punjak keheningan. Guruh, petir, kilat menggodanya. Pertahanannya mulai goyah. Angin guruh, petir, kilat bersepakat menerjang keheningan pohon tertua di desa kami.

“Braaaaaaaaaaaaaaaaaaaak! Duaaaaaaaaaaaaaar!”

Lambung pohon tua diserangnya. Ia menahan perih. Jantung kehidupannya satu demi satu digerogoti. Tetes-tetes getahnya yang kulihat bagai darah itu tak mau terhenti. Aku merasakan betapa perihnya saat seperti itu.

Pohon tua yang tumbuh di Pura kami tak bisa menghindarkan dirinya dari gempuran petir. Daun-daunnya mulai layu dan segera akan luruh. Pohon itu seusia dengan perjalanan desa kami. Ia ditanam tetua kami sebagai pengingat awal membuka tempat suci. Sedari kecil sudah diupacarai semakin lama semakin indah kelihatannya.

Kami bersepakat untuk memberi saput poleng, kain putih hitam sebagai pertanda bahwa pohon itu patut dijaga. Menjaga pohon sama dengan menjaga kehidupan di desa kami. Satupun warga di desa kami tak berani mengusiknya. Kami percaya bahwa pohon yang sudah diberi selendang putih hitam ada yang penjaganya.

Sebelum kejadian, beberapa tetua memimpikan ada api besar yang menyala-nyala di pohon itu. Katanya itu banaspatiraja sebagai penunggu pohon tua itu. Aku sendiri bertanya-tanya apa hubungannya antara mimpi dengan kejadian itu. Apa itu hanya kebetulan saja? Ah, itu tak perlu bagiku. Yang kuhadapi sekarang adalah pohon tua di Pura kami mulai meranggas daunnya.

Sangkepan segera digelar. Kami bersepakat untuk melakukan upacara pembersihan. Pohon itu akan segera diganti. Penggantinya ini yang susah diperoleh. Pohon sejenis itu sudah tak ada lagi. Beragam tafsir bermunculan. Ada yang mengatakan karena desa kami ada masalah dengan keuangan yang pelaporannya tidak jelas. Ada yang mengatakan bahwa tokoh-tokoh yang dipercayai sudah menyimpang kesuciannya. Namanya tafsir boleh-boleh saja. Tapi, aku hanya yakin, pohon itu mati disambar petir.

Kusampaikan kepada teman-teman bahwa pohon tertua  di desa kami tersambar petir dan perlu pohon yang sejenis. Satupun tak ada yang tahu nama pohonnya. Aku share di FB maupun instagram agar dapat informasi mengenai pohon itu.

Hasilnya nihil. Aku tak mau menyerah. Bukan sifatku menyerah sebelum berusaha. Usaha niskala kulakukan. Kucoba mencari paranormal. Ceritanya semakin tak jelas. Ia katakan bahwa ada leteh di Pura hingga terjadi kejadian pohon tua berumur ratusan tahun tersambar petir. Ah, aku tak percaya dengan alur bicaranya. Bukannya jalan keluar kudapatkan justru masalah baru yang bisa memperkeruh keadaan.

Malam itu, aku sendirian ke Pura. aku membawa canang sekar. Semua pelinggih kusembahkan canang sekar. Bau dupa menyengat di hidungku. Aku khusuk memuja kebesaran-Nya. Tak ada tempat yang lebih mulia sebagai tempat bertanya selain kepada-Nya. Puja-puja dalam hatiku mengiringi persembahanku yang sederhana ini. Alam kulihat semakin terang. Secercah kebeningan menghampiri rasa hatiku. Ia sepertinya mengatakan sesuatu.

“Pohon itu sudah waktunya meninggalkan semesta ini. Ia telah ratusan tahun menghidupi desa ini. Berikan ia menyatu bersama semesta. Tak ada yang abadi di bumi ini. Kau juga tak akan hidup selamanya. Ada waktu untuk kembali pada-Nya. Belajarlah dari pohon itu. Ia pergi setelah memberikan energi kehidupan. Hidupnya tak sia-sia.”

Aku bertanya-tanya dalam hati. Ini artinya. Aku selama ini telah menyia-nyiakan hidup. Ini artinya yang selama ini kulakukan belum seirama dengan alam. Ah, ternyata pohon itu masih mengajari kami tentang kemanfaatan hidup. Aku menjadi malu pada pohon.

“Tak perlu risau dengan kematiannya. Di sisa kematiannya akan ada kehidupan baru. Ambillah rantingnya yang berada di timur laut itu. Tanam kembali dan rawatlah ia dengan cinta. Semesta pasti mendengar harapan-harapan pemujanya. Ada menyatu bersama semesta ada juga yang kembali lagi pada kehidupan.”

Mataku tersentak saat kilat berkelebat di sampingku. Mataku tertuju pada arah yang kurasakan tadi. Kulihat ranting pohon itu masih menyisakan kehidupannya, ia belum layu. Aku cepat-cepat memotongnya. Aku tanam kembali di samping pohon tua itu. “Tuhan berikan kami kesempatan menjaga pohon ini,” doaku saat menancapkannya.

Aku pulang. Orang tuaku tak banyak bertanya. Ia sudah tahu kebiasaanku yang terkadang sampai beberapa hari tak pulang. Hanya ibu yang sedikit khawatir. “Kau ke mana saja selama ini. Sepertinya kau gelisah setelah pohon tua di Pura tersambar petir?”

Aku tak segera menjawabnya. Aku ambil sisa buah yang dipersembahkan waktu odalan. Buah mangga kesukaanku kukupas. Satu demi satu kulitnya kubuang. Pohon memberikan buah. Bunga memberikan sari wangi, sedangkan aku memberikan apa pada semesta? Duh, kenapa pikiranku aneh-aneh begini sekarang. Aku telah banyak meminta, tapi lupa memberi pada alam.

“Nak, yang ada akan tetap ada, yang tidak ada akan selamanya tidak ada. Hidupmu masih panjang. Gunakan waktumu jangan sia-siakan hanya memikirkan satu masalah.”

“Sudahlah Bu. Aku mau mandi dulu.”

“Ckckckckck! Kau tetap tak menerima nasihat dari ibumu. Ibu ini yang memberimu ar susu dulu, Nak. Hidupmu mulai dari puting ini.”

Aku menghela napas. Aku merasa bersalah. Mulut ini kurang terkontrol. Aku peluk tubuh ibuku yang semakin ringkih. Ia tersenyum. “Gimana dengan pohon tua di Pura kita?”

Aku terkaget. Ibuku tahu segalanya yang kulakukan. “Pohon itu sudah waktunya mengakhiri pengabdiannya pada semesta. Ia sudah terlalu tua. Begitu juga dengan kami, sudah terlalu tua. Kaulah yang menggantikan kami.”

“Tidak boleh, Bu. Ibu tetap bersamaku. Pohon itu sudah kuganti dengan rantingnya, Bu.”

“Terus apa bedanya dengan kami?”

Aku tak bisa menjawab. Hanya satu permintaanku pada-Nya. Tolong jangan ambil orang tuaku, Tuhan. Berikan kami merawatnya di sisa usianya. Ibu memelukku erat sekali. Ia merasakan kegundahanku. Aku seperti dalam balutan ibu bumi.[T]

[][][]

BACA cerpen-cerpen lain

Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Iprik Pucuk Merah | Cerpen Arnata Pakangraras
Menua Bersama Ayah | Cerpen Devy Gita
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Santi Dewi | Di Bawah Pohon Hujan

Next Post

Pendidikan Inklusif: Berkebinekaan Global dan Akhlak kepada Manusia

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Inklusif:  Berkebinekaan Global dan Akhlak kepada Manusia

Pendidikan Inklusif: Berkebinekaan Global dan Akhlak kepada Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co