15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 27, 2022
in Cerpen
Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Satia Guna

Di hadapan cermin besar di kamarnya, seusai mandi, Dayu Inten melepas handuk yang meliliti tubuhnya. Dan, ia seperti kagum sendiri, tiba-tiba sepasang payudara subur menguasai bayangan di cermin.

Memang banyak orang mengagumi ukuran payudaranya yang mencolok dengan bentuk sangat indah, dan menggugah siapa saja yang melihatnya. Bukan saja menggugah bagi para lelaki, bahkan ia sendiri mengakui keindahan miliknya itu.

Ia menatap sepasang payudara itu beberapa saat.

 “Memang indah!” batinnya. “Tapi untuk siapa?” Hatinya resah.

Matanya menyusuri tubuhnya pada cermin, ke bawah, dan tampaklah perutnya yang tak berlemak. Keresahannya semakin menjadi-jadi saat memandangi organ bagian bawah perutnya. Bagian yang suci.

“Dayu, jangan lupa sarapan ya!” suara ibunya, Ratu Biang, terdengar nyaring dari ruang belakang. Meski sudah berusia hampir 35 tahun, Dayu Inten tetap diperlakukan seperti anak-anak. Penuh rasa sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya.

“Nggih, Biang,” jawabnya dingin.

Ia mulai memahami, perhatian yang lekat dari kedua orang tuanya telah memisahkan ia dari kebebasan. Padahal ia seorang guru sekolah dasar yang pernah kuliah di kota, dan telah mendapatkan banyak pelajaran dari begitu banyak pandangan-pandangan hidup modern dan egaliter yang diperolehnya dari pergaulan maupun buku-buku yang dibacanya.

Usaha Menulis Pandemi | Cerpen Komang Adnyana

Ia buru-buru membaluti tubuh indahnya dengan setelan endek lasem. Ia kemuidan memandangi wajah cantiknya dengan make up sekadarnya. Endek lasem merah marun yang terkesan berwarna suram justru menegaskan kulitnya yang halus kuning langsat. Sementara bedak dan gincu tak lebih dari sebuah formalitas. Wajah dan tubuhnya terlampau sempurna. Yang terjaga masih asli dibayangi gundah yang menggelantung kian berat.

Ia melahap sarapannya dengan terburu-buru, masakan ibunya yang selalu menggugah selera. Ia tak sabar bertemu Dayu Mirah, rekan sekerjanya sesama guru di sekolah.

“Biang, Dayu berangkat nggih!” Ia berlalu begitu saja tanpa merasa perlu beradu pandang dengan ibunya. Ratu Biang sedikit pun tak mereken sikap anaknya yang setiap hari seperti itu. Ia dan suaminya, Ratu Aji, tak hirau dengan sikap seperti itu,karena yang penting mereka sudah merasa bahagia dan terhormat dengan sepenuhnya menyayangi anak semata wayangnya dan tak nyerod diperistri orang biasa atau orang jaba. Namun sampai kapan, mereka akan bersabar?

***

“Mirah, kamu beruntung sekali mendapat suami semeton ida bagus!” kata Dayu Inten ketika ia bertemu Dayu Mirah.  Ketimbang sebuah ucapan selamat, kata-katanya lebih terasa sebagai penyesalan.

Dayu Mirah memicingkan matanya dan tersenyum ke arah Dayu Inten. Mereka duduk berhadapan di kantin sekolah, sama-sama menyeruput kopi. Mereka sengaja tak ngopi di rumah, agar bisa ngobrol di kantin sekolah, sejak satu jam sebelum jam kelas dimulai. Satu jam bagi mereka seakan cuma 10 menit. Keduanya berteman sejak kanak-kanak, sama-sama kuliah pendidikan guru SD dan kini berjodoh mengajar di sekolah yang sama. Tidak seperti Dayu Inten yang cantik feminim, Dayu Mirah lebih tomboy dan cuek.

“Inten!” seru Dayu Mirah. “Kamu sudah pikun ya? Berapa kali aku sudah curhat sama kamu, pacarku yang orang jaba itu selingkuh sama perempuan lain!” kata Dayu Mirah dengan raut muka yang kini menjadi sedih.  

Sinar Bulan di Jalan Tantular | Cerpen Jong Santiasa Putra

Dayu Inten kini yang justru tersenyum nakal. Suskes mengusili si tomboy. Jika saja tak berkhianat, laki-laki itu pasti sudah menjadi suami Dayu Mirah. Tentu saja Dayu Mirah akan nyerod atau jatuh menjadi seorang jaba karena dipersunting oleh lelaki tak berkasta.

Meski bukan orang berkasta atau menak, keluarga Dayu Mirah  menerima dengan baik hubungan mereka. Berbeda dengan keluarga Dayu Inten yang masih sangat fanatik terhadap silsilah keturunan, keluarga Dayu Mirah jauh lebih terbuka.

Ibu Dayu Mirah sendiri dipanggil Jro Biang, sebutan untuk wanita biasa yang diperistri oleh orang berkasta atau menak. Karena ia memang berasal dari keluarga tak berkasta.

“Tapi kamu tetap saja beruntung. Beruntung tunanganmu yang jaba itu berselingkuh, sekarang kamu dapat semeton!” Dayu Inten terus membahas kehidupan rekannya seakan ia sendiri tak punya kehidupan.

“Tapi aku mencintainya, Inten! Kalau saja ia tak berselingkuh,” bisik Dayu Mirah. Kopi latte kegemarannya sekarang terasa pahit saat disesap.

“Betul juga ya, setiap orang punya masalah.” Dayu Inten mengangguk pelan, kini keduanya sedih.

“Eh, cowok itu bagaimana? Yang kamu sering ceritakan itu?” Si tomboy diam-diam telah memindahkan peran. 

“Segalanya sempurna. Ajik dan Biang juga bilang demikian. Masalahnya cuma satu, namun fatal. Ia orang jaba!” kalimatnya lirih.

“Kamu takut? Pilih saja jalanmu, mereka pasti mengerti pada akhirnya. Memangnya mereka mau jika mereka sudah meninggal, kamu menjadi  da tua?” kata Dayu Mirah. Nadanya tajam memicu tekad.

Namun Dayu Inten tak membalas, tak berdaya, hanya ada desah nafas dan genangan air mata di kedua kelopak matanya.

Bel sekolah tiba-tiba berbunyi menyadarkan mereka dari pagi yang hangat namun kaku.

***

Ketegangan malam itu tak terelakkan. Dayu Inten dan kedua orang tuanya duduk kaku, melingkar mengelilingi meja makan yang terbuat dari kayu jati.

“Biang sama Ajik sudah sangat bersabar lho dengan sikapmu itu!” kata ibunya, Ratu Biang. Nada bicara ibunya tegas, khas konservatif, cenderung mengatur. Wajah ayahnya datar berwibawa. Sesungguhnya, kelebihan fisik Dayu Inten, tak bisa dipungkiri telah diwarisi dari kedua orang tuanya itu.

“Bukannya Biang dan Ajik sudah cukup senang dengan tiang tidak nyerod?” kata Dayu Inten. Ada perlawanan dari jawaban yang dikemukakan dalam bentuk pertanyaan itu. Sebuah retorik.

“Kamu kuliah tinggi-tinggi untuk apa? Agar kamu paham dan menjaga tradisi keluarga ini. Bukannya sok modern yang bikin keluarga kehilangan muka!” Ratu Biang tetap memimpin situasi. Ratu Aji sejauh ini merasa cukup mendukung istrinya dari dalam hatinya saja.

“Jika kamu mau lebih sabar, Dayu bisa dapat semeton seperti biang. Itu buktinya, Mirah dapat juga suami yang sesuai, sesama brahmana!” Kali ini nada bicara Ratu Biang lebih lembut, rasa sayangnya memang tak pernah bisa dipungkiri kepada anak satu-satunya itu.

“Biang, Mirah putus sama pacarnya yang jaba itu karena pacarnya itu selingkuh, bukan karena ajik biang-nya yang gak setuju!” kata Dayu Inten dengan suara agak keras.

Kali ini ajiknya memotong, “Nah itu, kamu tahu sendiri, kelakuan lelaki yang gak tahu diri. Sudah diterima oleh keluarga berkasta, malah kurang ajar!”

Dokter Gila | Cerpen Putu Arya Nugraha

“Maaf ya, Ajik, Biang, harus diketahui Mirah itu bersaudara empat. Semuanya sudah menikah. Kakaknya yang kedua menikah dengan wanita biasa. Suami adiknya yang bungsu juga orang jaba. Bahkan ia sudah melepas nama ida ayu-nya. Mereka semua baik-baik saja kok!” Dayu Inten melawan, seakan menangkap maksud kata-kata ayahnya. 

“Inten, kamu harus menjaga darah keturunanmu tetap terhormat. Itu demi nama baikmu sendiri dan keluarga kita!” Ratu Biang kembali memberi perintah.

“Biang tahu, berapa banyak dayu di desa kita yang menjadi da tua karena tradisi kolot seperti ini? Coba sekali-sekali biang hitung. Tak semua nasibnya seberuntung Biang, lho! Jika orang tuanya telah meninggal, di mana mereka bersandar?” pekik Dayu Inten kemudian meninggalkan kedua orang tuanya. Ia melenggang ke kamar, meratapi ironi kasih sayang orang tuanya yang telah mengekang kehidupannya.

***

Sebuah kejutan yang tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Ratu Aji dan Ratu Biang menerima dengan baik kekasihnya yang memang baru pertama kali berkunjung ke griya. Lebih mengherankan lagi, karena Dayu Inten pun tak pernah diberitahu oleh pacarnya itu kalau pacarnya itu akan datang. Selama ini mereka hanya berhubungan melalui telepon atau sesekali bertemu di tempat umum dalam waktu yang sangat singkat. Semacam cinta platonik.

Benar-benar sulit percaya dengan apa yang  telah ia saksikan. Apakah ini semua karena perdebatan malam itu? Apakah sejak kejadian itu, kedua orang tuanya kemudian berusaha memahami perasaan anaknya dan menerima cara pandang hidup yang lebih modern? Yang jelas, mereka bercakap-cakap hangat, menikmati teh dan kue-kue buatan ibunya yang sangat pintar memasak.

Lelaki pujaannya menyerahkan sebuah bingkisan untuk kedua orang tuanya sebagai bentuk rasa hormat dan setangkai bunga mawar merah muda, masih sangat segar dan wangi untuknya. Peristiwa hangat itu berlangsung begitu cair dan cepat.

Satu Keluarga Telah Lengkap | Cerpen Bulan Nurguna

Tiba-tiba sepasang kekasih yang dimabuk asmara itu telah berada di dalam kamar Dayu Inten yang temaram. Kini, telah ada yang memilikinya, memeluk tubuhnya yang indah, menciumi bibirnya yang merekah tanpa gincu. Terasa belaian lembut dan membangkitkan hasrat pada kedua payudara yang selama ini dikagumi orang namun tak ada yang memilikinya.

Lalu, usapan tangan kekasihnya terasa lama diatas rahimnya. Usapan yang sedemikian membuatnya tegang. Tiba-tiba, pikirannya melayang kepada rahim-rahim kelu dari begitu banyak wanita yang senasib dengannya, terhalang tradisi untuk memperoleh pasangan yang dicintai. Ia ingin berteriak bahagia, saat pintu kamarnya diketuk cukup keras dan membangunkan tidurnya dari mimpi yang dalam.

“Dayu, bangun! Sudah siang, nanti kamu terlambat ke sekolah. Sarapan sudah dari tadi biang siapkan.”

“Nggih, Biang!”Sekuat tenaga ia melompat ke kamar mandi.

***

            Dayu Inten melepas handuk yang meliliti tubuhnya. Di depan cermin besar, sepasang payudaranya kian ranum mendamba. [T]

Keterangan:

  • Dayu atau Ida Ayu: sebutan atau panggilan untuk gadis/perempuan dari kalangan Brahmana
  • Ratu Biang: sebutan/panggilan untuk ibu dari kalangan Brahmana
  • Ratu Aji: sebutan/panggilan untuk ayah dari kalangan Brahmana
  • Biang: Ibu
  • Ajik: Ayah
  • Nyerod: istilah untuk perempuan Brahmana yang menikah dengan lelaki dari kalangan sudra  
  • Jaba: sudra
  • Da tua: perawan tua
  • menak : sebuatan untuk orang berkasta (di luar sudra/jaba)

_____

KLIK GAMBAR UNTUK BACA CERPEN LAIN

Perang Malam | Cerpen Supartika
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasang Surut Hati Dalam Bacaan Kisah 11 Ibu

Next Post

The Art of Listening | Black Box Installation (Artwork, Sculpture, Sound) Jimat dan Aghumi

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
The Art of Listening | Black Box Installation (Artwork, Sculpture, Sound) Jimat dan Aghumi

The Art of Listening | Black Box Installation (Artwork, Sculpture, Sound) Jimat dan Aghumi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co