14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 27, 2022
in Cerpen
Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Satia Guna

Di hadapan cermin besar di kamarnya, seusai mandi, Dayu Inten melepas handuk yang meliliti tubuhnya. Dan, ia seperti kagum sendiri, tiba-tiba sepasang payudara subur menguasai bayangan di cermin.

Memang banyak orang mengagumi ukuran payudaranya yang mencolok dengan bentuk sangat indah, dan menggugah siapa saja yang melihatnya. Bukan saja menggugah bagi para lelaki, bahkan ia sendiri mengakui keindahan miliknya itu.

Ia menatap sepasang payudara itu beberapa saat.

 “Memang indah!” batinnya. “Tapi untuk siapa?” Hatinya resah.

Matanya menyusuri tubuhnya pada cermin, ke bawah, dan tampaklah perutnya yang tak berlemak. Keresahannya semakin menjadi-jadi saat memandangi organ bagian bawah perutnya. Bagian yang suci.

“Dayu, jangan lupa sarapan ya!” suara ibunya, Ratu Biang, terdengar nyaring dari ruang belakang. Meski sudah berusia hampir 35 tahun, Dayu Inten tetap diperlakukan seperti anak-anak. Penuh rasa sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya.

“Nggih, Biang,” jawabnya dingin.

Ia mulai memahami, perhatian yang lekat dari kedua orang tuanya telah memisahkan ia dari kebebasan. Padahal ia seorang guru sekolah dasar yang pernah kuliah di kota, dan telah mendapatkan banyak pelajaran dari begitu banyak pandangan-pandangan hidup modern dan egaliter yang diperolehnya dari pergaulan maupun buku-buku yang dibacanya.

Usaha Menulis Pandemi | Cerpen Komang Adnyana

Ia buru-buru membaluti tubuh indahnya dengan setelan endek lasem. Ia kemuidan memandangi wajah cantiknya dengan make up sekadarnya. Endek lasem merah marun yang terkesan berwarna suram justru menegaskan kulitnya yang halus kuning langsat. Sementara bedak dan gincu tak lebih dari sebuah formalitas. Wajah dan tubuhnya terlampau sempurna. Yang terjaga masih asli dibayangi gundah yang menggelantung kian berat.

Ia melahap sarapannya dengan terburu-buru, masakan ibunya yang selalu menggugah selera. Ia tak sabar bertemu Dayu Mirah, rekan sekerjanya sesama guru di sekolah.

“Biang, Dayu berangkat nggih!” Ia berlalu begitu saja tanpa merasa perlu beradu pandang dengan ibunya. Ratu Biang sedikit pun tak mereken sikap anaknya yang setiap hari seperti itu. Ia dan suaminya, Ratu Aji, tak hirau dengan sikap seperti itu,karena yang penting mereka sudah merasa bahagia dan terhormat dengan sepenuhnya menyayangi anak semata wayangnya dan tak nyerod diperistri orang biasa atau orang jaba. Namun sampai kapan, mereka akan bersabar?

***

“Mirah, kamu beruntung sekali mendapat suami semeton ida bagus!” kata Dayu Inten ketika ia bertemu Dayu Mirah.  Ketimbang sebuah ucapan selamat, kata-katanya lebih terasa sebagai penyesalan.

Dayu Mirah memicingkan matanya dan tersenyum ke arah Dayu Inten. Mereka duduk berhadapan di kantin sekolah, sama-sama menyeruput kopi. Mereka sengaja tak ngopi di rumah, agar bisa ngobrol di kantin sekolah, sejak satu jam sebelum jam kelas dimulai. Satu jam bagi mereka seakan cuma 10 menit. Keduanya berteman sejak kanak-kanak, sama-sama kuliah pendidikan guru SD dan kini berjodoh mengajar di sekolah yang sama. Tidak seperti Dayu Inten yang cantik feminim, Dayu Mirah lebih tomboy dan cuek.

“Inten!” seru Dayu Mirah. “Kamu sudah pikun ya? Berapa kali aku sudah curhat sama kamu, pacarku yang orang jaba itu selingkuh sama perempuan lain!” kata Dayu Mirah dengan raut muka yang kini menjadi sedih.  

Sinar Bulan di Jalan Tantular | Cerpen Jong Santiasa Putra

Dayu Inten kini yang justru tersenyum nakal. Suskes mengusili si tomboy. Jika saja tak berkhianat, laki-laki itu pasti sudah menjadi suami Dayu Mirah. Tentu saja Dayu Mirah akan nyerod atau jatuh menjadi seorang jaba karena dipersunting oleh lelaki tak berkasta.

Meski bukan orang berkasta atau menak, keluarga Dayu Mirah  menerima dengan baik hubungan mereka. Berbeda dengan keluarga Dayu Inten yang masih sangat fanatik terhadap silsilah keturunan, keluarga Dayu Mirah jauh lebih terbuka.

Ibu Dayu Mirah sendiri dipanggil Jro Biang, sebutan untuk wanita biasa yang diperistri oleh orang berkasta atau menak. Karena ia memang berasal dari keluarga tak berkasta.

“Tapi kamu tetap saja beruntung. Beruntung tunanganmu yang jaba itu berselingkuh, sekarang kamu dapat semeton!” Dayu Inten terus membahas kehidupan rekannya seakan ia sendiri tak punya kehidupan.

“Tapi aku mencintainya, Inten! Kalau saja ia tak berselingkuh,” bisik Dayu Mirah. Kopi latte kegemarannya sekarang terasa pahit saat disesap.

“Betul juga ya, setiap orang punya masalah.” Dayu Inten mengangguk pelan, kini keduanya sedih.

“Eh, cowok itu bagaimana? Yang kamu sering ceritakan itu?” Si tomboy diam-diam telah memindahkan peran. 

“Segalanya sempurna. Ajik dan Biang juga bilang demikian. Masalahnya cuma satu, namun fatal. Ia orang jaba!” kalimatnya lirih.

“Kamu takut? Pilih saja jalanmu, mereka pasti mengerti pada akhirnya. Memangnya mereka mau jika mereka sudah meninggal, kamu menjadi  da tua?” kata Dayu Mirah. Nadanya tajam memicu tekad.

Namun Dayu Inten tak membalas, tak berdaya, hanya ada desah nafas dan genangan air mata di kedua kelopak matanya.

Bel sekolah tiba-tiba berbunyi menyadarkan mereka dari pagi yang hangat namun kaku.

***

Ketegangan malam itu tak terelakkan. Dayu Inten dan kedua orang tuanya duduk kaku, melingkar mengelilingi meja makan yang terbuat dari kayu jati.

“Biang sama Ajik sudah sangat bersabar lho dengan sikapmu itu!” kata ibunya, Ratu Biang. Nada bicara ibunya tegas, khas konservatif, cenderung mengatur. Wajah ayahnya datar berwibawa. Sesungguhnya, kelebihan fisik Dayu Inten, tak bisa dipungkiri telah diwarisi dari kedua orang tuanya itu.

“Bukannya Biang dan Ajik sudah cukup senang dengan tiang tidak nyerod?” kata Dayu Inten. Ada perlawanan dari jawaban yang dikemukakan dalam bentuk pertanyaan itu. Sebuah retorik.

“Kamu kuliah tinggi-tinggi untuk apa? Agar kamu paham dan menjaga tradisi keluarga ini. Bukannya sok modern yang bikin keluarga kehilangan muka!” Ratu Biang tetap memimpin situasi. Ratu Aji sejauh ini merasa cukup mendukung istrinya dari dalam hatinya saja.

“Jika kamu mau lebih sabar, Dayu bisa dapat semeton seperti biang. Itu buktinya, Mirah dapat juga suami yang sesuai, sesama brahmana!” Kali ini nada bicara Ratu Biang lebih lembut, rasa sayangnya memang tak pernah bisa dipungkiri kepada anak satu-satunya itu.

“Biang, Mirah putus sama pacarnya yang jaba itu karena pacarnya itu selingkuh, bukan karena ajik biang-nya yang gak setuju!” kata Dayu Inten dengan suara agak keras.

Kali ini ajiknya memotong, “Nah itu, kamu tahu sendiri, kelakuan lelaki yang gak tahu diri. Sudah diterima oleh keluarga berkasta, malah kurang ajar!”

Dokter Gila | Cerpen Putu Arya Nugraha

“Maaf ya, Ajik, Biang, harus diketahui Mirah itu bersaudara empat. Semuanya sudah menikah. Kakaknya yang kedua menikah dengan wanita biasa. Suami adiknya yang bungsu juga orang jaba. Bahkan ia sudah melepas nama ida ayu-nya. Mereka semua baik-baik saja kok!” Dayu Inten melawan, seakan menangkap maksud kata-kata ayahnya. 

“Inten, kamu harus menjaga darah keturunanmu tetap terhormat. Itu demi nama baikmu sendiri dan keluarga kita!” Ratu Biang kembali memberi perintah.

“Biang tahu, berapa banyak dayu di desa kita yang menjadi da tua karena tradisi kolot seperti ini? Coba sekali-sekali biang hitung. Tak semua nasibnya seberuntung Biang, lho! Jika orang tuanya telah meninggal, di mana mereka bersandar?” pekik Dayu Inten kemudian meninggalkan kedua orang tuanya. Ia melenggang ke kamar, meratapi ironi kasih sayang orang tuanya yang telah mengekang kehidupannya.

***

Sebuah kejutan yang tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Ratu Aji dan Ratu Biang menerima dengan baik kekasihnya yang memang baru pertama kali berkunjung ke griya. Lebih mengherankan lagi, karena Dayu Inten pun tak pernah diberitahu oleh pacarnya itu kalau pacarnya itu akan datang. Selama ini mereka hanya berhubungan melalui telepon atau sesekali bertemu di tempat umum dalam waktu yang sangat singkat. Semacam cinta platonik.

Benar-benar sulit percaya dengan apa yang  telah ia saksikan. Apakah ini semua karena perdebatan malam itu? Apakah sejak kejadian itu, kedua orang tuanya kemudian berusaha memahami perasaan anaknya dan menerima cara pandang hidup yang lebih modern? Yang jelas, mereka bercakap-cakap hangat, menikmati teh dan kue-kue buatan ibunya yang sangat pintar memasak.

Lelaki pujaannya menyerahkan sebuah bingkisan untuk kedua orang tuanya sebagai bentuk rasa hormat dan setangkai bunga mawar merah muda, masih sangat segar dan wangi untuknya. Peristiwa hangat itu berlangsung begitu cair dan cepat.

Satu Keluarga Telah Lengkap | Cerpen Bulan Nurguna

Tiba-tiba sepasang kekasih yang dimabuk asmara itu telah berada di dalam kamar Dayu Inten yang temaram. Kini, telah ada yang memilikinya, memeluk tubuhnya yang indah, menciumi bibirnya yang merekah tanpa gincu. Terasa belaian lembut dan membangkitkan hasrat pada kedua payudara yang selama ini dikagumi orang namun tak ada yang memilikinya.

Lalu, usapan tangan kekasihnya terasa lama diatas rahimnya. Usapan yang sedemikian membuatnya tegang. Tiba-tiba, pikirannya melayang kepada rahim-rahim kelu dari begitu banyak wanita yang senasib dengannya, terhalang tradisi untuk memperoleh pasangan yang dicintai. Ia ingin berteriak bahagia, saat pintu kamarnya diketuk cukup keras dan membangunkan tidurnya dari mimpi yang dalam.

“Dayu, bangun! Sudah siang, nanti kamu terlambat ke sekolah. Sarapan sudah dari tadi biang siapkan.”

“Nggih, Biang!”Sekuat tenaga ia melompat ke kamar mandi.

***

            Dayu Inten melepas handuk yang meliliti tubuhnya. Di depan cermin besar, sepasang payudaranya kian ranum mendamba. [T]

Keterangan:

  • Dayu atau Ida Ayu: sebutan atau panggilan untuk gadis/perempuan dari kalangan Brahmana
  • Ratu Biang: sebutan/panggilan untuk ibu dari kalangan Brahmana
  • Ratu Aji: sebutan/panggilan untuk ayah dari kalangan Brahmana
  • Biang: Ibu
  • Ajik: Ayah
  • Nyerod: istilah untuk perempuan Brahmana yang menikah dengan lelaki dari kalangan sudra  
  • Jaba: sudra
  • Da tua: perawan tua
  • menak : sebuatan untuk orang berkasta (di luar sudra/jaba)

_____

KLIK GAMBAR UNTUK BACA CERPEN LAIN

Perang Malam | Cerpen Supartika
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasang Surut Hati Dalam Bacaan Kisah 11 Ibu

Next Post

The Art of Listening | Black Box Installation (Artwork, Sculpture, Sound) Jimat dan Aghumi

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
The Art of Listening | Black Box Installation (Artwork, Sculpture, Sound) Jimat dan Aghumi

The Art of Listening | Black Box Installation (Artwork, Sculpture, Sound) Jimat dan Aghumi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co