14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sinar Bulan di Jalan Tantular | Cerpen Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 27, 2021
in Cerpen
Sinar Bulan di Jalan Tantular | Cerpen Jong Santiasa Putra

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Jalan Tantular, Renon Denpasar malam itu tampak sepi, sesekali pengendara roda dua melintas. Hanya beberapa bagian jalan diterangi lampu merkuri, bagian lainnya gelap, tapi tidak terlalu pekat, masihlah mata manusia menangkap suatu benda dalam samar-samar. Di sanalah Fitri menunggu pelanggan, mengenakan cut-out dress berwarna merah, memamerkan sudut bahunya yang seksi, bagian atas payudaranya terlihat indah menyembul, tas kecil berwarna emas menggelantung dipundak kirinya, jam tangan putih mencolok di pergelangan tangan kanan, wajahnya tirus-make up sederhana, bibirnya tipis menggoda, rambutnya ia gerai sebahu, kakinya ramping bergerak seperlunya dan sesekali menoleh ke kanan ke kiri, barangkali ada pelanggan dari kejauhan. Sementara motor Vario warna merah nangkring dekat pohon, dalam kondisi siaga, berstandar dua.

Tidak hanya Fitri, sejumlah kawan Fitri yang lain menyebar di sepanjang jalan Tantular. Ada yang menunggu di bawah lampu, ada yang duduk di sepeda motor, ada yang santai di gubuk kecil dekat sawah, ada yang berdiri di bawah pohon, ada pula yang bersembunyi di semak-semak. Jika pengendara motor melintas, mereka biasanya memberi kode dengan mengedipkan cahaya senter berulang kali atau memanggil dengan suara “ssssstt..sssst..sssst…sssst’ 

Jika pelanggan datang hanya ada dua pilihannya ke indekos atau di gedung kosong. Kebanyakan pelanggan dewasa memilih indekos sementara pelanggan remaja memilih gedung kosong. Bagi pelanggan dewasa kenyamanan adalah hal penting, sementara bagi usia remaja mereka hanya coba-coba untuk mencari sensasi baru.

“Seratus di kos, kalau lima puluh di gedung tua,” kata Fitri tersenyum kepada De Pales

“Gedung tuanya jauh?” tanya De Pales

“Tidak jauh, jalan kaki sampai, kamu mabuk yah?”

“Hanya beberapa teguk arak saja, agar berani ke sini!”

“Oooo, lalu maunya di mana?”

“Kalau ke kos, ke mana?”

“Dekat, kamu bonceng aku, motorku biar di sini saja, nanti dipinjam sama yang lain!”

Fitri dan De Pales menyusur jalan malam, menuju indekos di daerah pemukiman Renon. Dalam perjalanan mereka bertukar nama serta berbincang renyah lainnya. Dari Fitri, De Pales tahu jika ingin membesarkan payudara cukup mengkonsumsi pil KB teratur dalam kurun waktu tertentu. Dari De Pales, Fitri tahu daerah Renon ini dulunya adalah sawah dan rawa-rawa yang sangat luas, dulu De Pales kecil suka bermain di Renon bahkan jika ke pantai Sanur ia dan teman-temannya bermain di sawah terlebih dahulu.  

“Aku takut mendekati perempuan, Fit,” kata De Pales di atas motor kesayangan, Grand Astrea warisan ayahnya

“Lalu, kenapa kamu berani sama aku, kan aku perempuan?”

“Kalau kamu kan beda, setidaknya dulu kamu seperti aku,” ujar De Pales sambil tertawa.

De Pales terkejut sesampainya di indekos Fitri. Indekos kelas elite, lantai tiga, ada fasilitas kolam berenangnya. Ia seperti terhipnotis ketika menaiki anak tangga menuju kamar Fitri, itu pertama kali dia menaiki tangga yang bagus, kinclong dan berlantai marmer.

Biasanya tangga tempatnya bekerja di Pasar Kumbasari, kumal, kotor, tak terurus. Sementara tangga indekos Fitri bak istana raja-raja,  pun pegangannya di cat berwana emas, beberapa lukisan di dinding berbingkai kayu, ada lukisan petani sedang merawat petakan sawahnya, ada pula lukisan gedung-gedung megah menjulang langit, lukisan matahari tenggelam berwarna jingga  disaksikan oleh seorang perempuan yang duduk di dermaga.

Ketika melintasi semua lukisan itu Fitri melihat wajah De Pales begitu terpesona, seperti orang desa masuk kota, ling lung. Fitri mengatakan semua lukisan tangga itu penuh kepalsuan, mana ada petani zaman sekarang yang berbahagia hidupnya, sawah-sawah was-was diburu untuk bangunan rumah, mana ada pantai yang bisa dikunjungi untuk menikmati matahari tenggelam, pantai sudah milik hotel.

Kamar Fitri di pojok-lantai tiga, De Pales berdiri di depan pintu lalu menengok ke bawah, melihat kolam renang lengkap dengan tatanan kebun yang rapi. Di kolam ada 3 laki-laki dewasa bermain air, satu di antaranya meloncat ke air hingga menimbulkan bunyi kecipak yang riuh, yang lain menimpali dengan tawa dan penuh ejekan. Dari dialeknya mereka orang luar Bali. De Pales  berfikir ketiga lelaki tersebut tidak menghiraukan kehadirannya bersama Fitri, ia baru menyadari mereka tidak ada menyapa, begitu pun sebaliknya. Beda dengan di pasar, setiap orang ia kenal dan saling menyapa jika bertemu, malah pedagang-pedagang seperti keluarganya sendiri. De Pales teringat dengan Niang Tu pedagang nasi campur Be Tutu di dekat jembatan pura Melanting, yang selalu memberinya sarapan atau makan siang gratis. Kadang De Pales membantu Niang Tu menyiapkan bahan makanan atau mencuci piring jika warungnya ramai.

 “Kenapa mereka tidak menyapa kita Fit?” tanya De Pales lugu

“Di sini sangat individu orang-orangnya, pulang kerja, tidur, sampai besok, lalu kerja lagi, tidak ada istilah gosip-gosip ria, makanya aku suka di sini, seperti tidak di Bali,” jawab  Fitri sembari membuka pintu dan melepas sepatu high hillnya di depan pintu. 

Kamar tidur Fitri rapi, kesetnya dari bulu-bulu hitam yang lembut, sejumlah foto diri dan foto keluarga berdiri di atas kulkas. Di pintu kulkas berbagai pernak-pernik dari kaca menempel dengan sejajar dan simetris, Di meja ada beberapa buku cerita pendek berbahasa Inggris berjejer sesuai ejaan judulnya, beberapa pot pohon kaktus di bawah lampu tidur, selebihnya tembok berwana ungu kelabu dan lampu temaram berwarna kuning di beberapa sudut ruang. De Pales jadi ingat sebuah cafe dekat rumahnya, remang-remang dan penuh umpatan jika malam telah larut. Ada pagawai yang ia kenal, Luh Nadi, wanita beranak satu yang ditinggal suaminya karena mengetahui pekerjaan Luh Nadi sebagai wanita penghibur. Padahal niat Luh Nadi untuk membantu perekonomian suaminya sebagai supir taksi yang tengah goyah saat pariwisata sepi tamu.

“Kamarmu rapi sekali, seperti iklan hotel-hotel yang sering aku temukan di majalah bekas di pasar,” ujar De Pales saat melihat-lihat pohon kaktus dengan hati-hati

“Awas itu beracun!”

“Apa? Beracun? Hampir saja!”

“Aku bercanda!”

Malam itu De Pales berbincang hangat bersama Fitri. Itu pertama kali De Pales berbincang dengan seorang perempuan, Bagi Fitri De Pales adalah lelaki kesepian yang sedang membutuhkan teman untuk mengobrol dan baru kali itu dia mendapatkan pelanggan hanya untuk mengobrol, bukan menikmati tubuhnya dengan nafsu menggebu.

De Pales menceritakan kehidupannya di Pasar Kumbasari yang penuh sesak dengan pekerjaan. Di waktu subuh dia menjadi petugas kebersihan di lantai bawah, menyapu sisa-sisa barang jualan yang tidak bagus kualitasnya, sayur mayur yang busuk, plastik-plastik bekas, bungkus tempe, bungkus kacang dan lain sebagainya, kemudian lantai disemprot dengan selang, airnya disedot dari Tukad Badung. Siang hari dia jadi tukang parkir di sisi utara, menjaga keamanan motor dan barang belanjaan para pengunjung. Sore hari ia biasa membantu mengangkat meja untuk pasar malam, satu kali angkat upahnya tak seberapa, maka dari itu ia harus mengangkat sekian kali agar upahnya lumayan. Jika malam ia biasanya jadi petugas pengumpul iuran yang akan diserahkan kepada aparatur pasar.

“Setiap hari aku di pasar, bekerja. Kadang aku juga tidur di pasar, daripada pulang ke rumah!”

“Rumahmu adalah pasar yah De, bisa bisa kamu jadi kepala pasar lo suatu saat nanti,” ujar Fitri sembari beranjak ke kulkas mengambil dua botol biir ukuran besar

“Bagaimana caraku membayarnya, uangku hanya seratus ribu?”

“Tidak usah, lagipula tidak afdol mengobrol tanpa minum!”

Sementara Fitri menceritakan tentang bagaimana ia tumbuh dalam keluarga yang hangat dan berkecukupan, sewaktu kecil ia selalu menjadi bulan-bulanan kakak-kakak perempuannya dari berdandan menor, memakai rok, baju, miniset, bikini, anting-anting, kalung, bando dan lain sebagainya. Namun ia selalu suka melihat senyum kakak-kakaknya ketika tertawa.

“Mungkin karena sering memakai baju perempuan aku ketularan juga, jadi kayak sekarang,” katanya sambil tertawa kecil.

Kemudian ia melanjutkan, cerita di balik beberapa tato yang menghiasi beberapa bagian tubuhnya. Tato kupu-kupu merah dipergelangan tangan fitri mengingatkannya pada ibu yang sakit hati ketika Fitri memilih jalan menyimpang dari apa seharusnya. Anak laki-laki semestinya meneruskan tradisi keluarga dan menjadi simbol keagungan.

“Kamu tahu sendiri bagaimana orang Bali mengistimewakan anak laki-laki, ibuku sangat kecewa ketika pilihanku seperti ini. Ibu suka kupu-kupu, beberapa ia awetkan untuk menghiasi tembok rumah!”

Ia melanjutkan cerita tentang tato sebatang rokok yang menyala di lengan kirinya. Rokok itu kecil tidak seperti ukuran batang rokok biasanya. Tato itu mengingatkan tentang ayahnya yang saban hari merokok di beranda rumah, sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula kesukaannya. Tidak ada pekerjaan yang ia kerjakan, karena memang tidak perlu, keluarga Fitri tidak kekurangan apapun, pembagian tanah dari keluarga puri sudah mencukupi kebutuhan hidup, Kalaupun terpaksa bekerja ayahnya hanya datang ke perusahaan keluarga untuk suatu hal penting yang tidak dapat ditangani oleh pegawai. Semua perusahaan telah diatur dalam sistem modern.  Jadi ayahnya tidak perlu repot-repot.

“Kita tidak perlu bekerja, nikmati hidup saja seperti ini. Kamu tidak perlu khawatir gung, hidupmu bersama anak istrimu keluarga yang menanggung,” kata Fitri mengucapkan kalimat ayahnya

“Jadi kamu keluarga puri?”

“Tidak usah dibicarakan, lagian aku sudah keluar dari kartu keluarga, mereka mengadopsi anak laki-laki dari pamanku, untuk menggantikanku!”

Tidak terasa satu jam berlalu, mereka hanya bercakap di atas kasur putih tulang, bergambar bunga mawar merah yang kelopaknya gugur – terbang.  

***

“Hari ini purnama yah De ? Pantas bulannya penuh dan bercahaya,” kata Fitri ketika De Pales mengantarnya ke jalan Tantular.

“Minggu depan aku datang, kita mengobrol lagi yah, aku akan bekerja lebih keras, agar dapat uang lebih, dua ratus ribu, dua jam kan?” [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co || Satia Guna

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi I Made Suantha | Pada Bahagian Lain (Suatu Ketika) Tanpa Hari di Musim Kupukupu

Next Post

Makepung, Penguasa dan Semangat Kegembiraan

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Melawan Kuasa Kapital Pada Jegog

Makepung, Penguasa dan Semangat Kegembiraan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co