17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi I Made Suantha | Pada Bahagian Lain (Suatu Ketika) Tanpa Hari di Musim Kupukupu

I Made Suantha by I Made Suantha
February 27, 2021
in Puisi
Puisi I Made Suantha | Pada Bahagian Lain (Suatu Ketika) Tanpa Hari di Musim Kupukupu

Foto ilustrasi: pameran seni rupa di Undiksha Singaraja, Juni 2018. [Foto: Mursal Buyung]

PADA BAHAGIAN LAIN (SUATU KETIKA) TANPA HARI DI MUSIM KUPUKUPU


I


Pohon dan bumi tumbuhkan bungabunga

Bagi jiwa yang kelana

“Cecaplah dan mabuklah dalam aroma madu

Yang akan mewartakanmu airmata”


Kupukupu yang bermata teduh

Menandai gerimis yang mengental dalam dingin embun

Hingga sampai padamu

Mencair seperti muaian panas fajar


Taman seribu musim. Dan waktu mengalir

Tanpa jeda: Engkau akan terjebak

Dalam cuaca dimana angin selalu merubah arah datangnya

    Menjemput cintamu

Taman seribu musim. Memuati sedih itu!


Kupukupu yang lahir dari peraman panas madu bunga


II


Berkelebat burung itu ke dalam sunyi

Dari derak ranting yang memperjelas petang


Matahari sempurna dalam rumah kaca

Membagi bayang. Menera cahaya

Dan melunturkan jarak serta detak jam

Selama perjalanan

Sinar lampu jalan temaram karena hujan

Dan gerak jerajak kaki mengantarkan

      Hingga sampai jalan pulang

Mercusuar tak selalu memberi tanda untuk tidak tersesat!


Kupukupu dalam partitur bungabunga

Menandaimu musim kawin. Persilangan dan

        Penyerbukan akan abadi

Pada taman yang lukis dalam tulisan ini!


Berkelebat burung. Liukan kupukupu

Sempurnalah olehmu, penata kebun

  Yang menanam bungabunga

Dan memanen dalam hatiku!


III


Lalu kutulis padamu: Bungabunga taman yang senyap

Terjaga seperti kemarau

Menghalau terik di retak telapak tanganmu

:”Tulis pula padaku tentang burungburung yang berkelana

Dalam denyut jantungku!”


Dan tiba juga pada petang

Angin menyelinap pada celah jarimu

Mewartakan dingin. Mimpi akan cahaya

Yang memuaikan. Terurai

Menjadi airmata yang biru


Jalan yang nampak setelah hujan

Genangan air akan mengalirkanmu

Ke hulu yang jauh

Pada jukung yang mengarung akan membawamu

Ke rantau. Airmata akan beku

Setelah pasang air laut. Menandai purnama

   Dan akan berkisah tentang arus

Yang engkau larung ke relung hidupku!


Lalu kutulis padamu: Kupukupu yang ngungun

Memandang kemarau dan bungabunga

Yang terpesona dihatimu!


IV


Kujaga dirimu seperti hening. Serupa pohon

Tumbuhkan tunas dengan senyap

Tanpa bisikan mesti derit angin menjuntai

   Dalam hijau daun

Lalu siapa menanbat luka takikan

Pada purnama yang pecah

Di halaman rumahmu. Rembesannya mengental

Di setiap jarak rantauan. Rindu sanakkadang

Dan cintamu yang tulus


   Serupa kupukupu. Cairkan madu

Di setiap putik. Jadilah mabukmu

Buah larangan yang ranum pada perjamuan

   Di meja segi 9

   Lalu siapa menuangkan janji pertemuan

Pada perpisahan ini. Detak jam atau

Arah tanda panah yang menunjuk ke dalam

Diri sendiri


Terjaga dirimu seperti penantian ini

Senyap serupa pohon menumbuhkan tunas diri

Memaknai wingit pertiwi: Ada kupukupu

   Yang rindu mencecap lembut

Lukaluka yang tak berdarah!


V


Burung yang terbang rendah dengan kepak sayap memjangkau

Langit: Siapa memuaikan warna biru

    Pada lengkung pelangi itu

Memudar seperti lelehan cahaya sehabis hujan

Dan angin memempiaskannya ke bahagia daun

Yang setia memeram panas matahari

   -Penyerbukan ini di mulai. Dan Engkau masih

Menancapkan tiang pancang itu di setiap jalanan

Menurun untuk menandai betapa tinggi tanjakan

    Yang akan kita tempuh

   Jalan paling rahsia. Jejakjejak wingit

Adalah kesenyapan tanah memberi warna pada setiap bungabunga


Dan Engkau masih menumbuhkan pohonpohon di kepalaku

Dikerdilkan dengam sempurna. Kupukupu

   Menandur musim di situ: Hingga akhir angin

Menyisir taman dan detak jam berguguran

Seperti embun. Siapa yang akan menamai

Bunga itu

       Kupukupu/lalat yang menebar wangi


Dan Engkau masih menernak diriku seperti lepasan

Burungburung menerbangkan diri

Di biru langit!


VI


Bisikanku menyelinap ke dalam kelam telapak

   Tanganmu, seperti purnama timbul tenggelam

Sinarnya menembus sunyi dirimu

Di beranda masih ada keinginan untuk

   Mempercakapkan rahsia malam

   Dan aku menghantarkan padamu

   Dingin yang mencairkan temaram lampu jalan

:Oi, laron laron itu merebutnya

Dan melepaskan sayapsayapnya untuk kemudian

   Menenggelamkan diri pada hawa tanah

Yang lembab. Pada hujan yang baru usai

Melatalah kembali. Bergelinjang seperti mabuk

      Cahaya. Dan detakan jam

Menandainya untuk selesai acara pesta!


Engkau. Atau burung penjaga malam

Purnama yang meluntur di jelaga langit

    Kesiur jangkrik mengentalkan dingin

Engkau dan angin kemudian memburaikannya

Pada sela ilalang:”Mengapa Engkau memukatkan

   Getah damar dan jaring labalaba

   Yang kembali kukenali sebagai

Kampung halaman. Tua di makan usia

Dan kita mengasahnya agar berkilau

    Dengan gesekan panas telapak tangan”

    Api unggun menunggui malam ini pada perkemahan sunyi


VII


Dari jendela udara bertukar aroma

    Bunga di kebun dengan angin yang berdesis

Di dalam dahan. Dan kupukupu memeramnya

Pada kentalan madu:”Mabuklah!”


   Di luar masih ada yang mengeja namamu

Dengan senyum yang purba. Hurufhuruf yang disusun

Seperti relief. Partitur anacaraka

Hurufhuruf yang direkatkan dengan sumsum airmata

Seperti menara. Mercusuar yang melengangkan

        Malam di tengah laut.


“Suaramu yang sayup. Tanpa gurulagu

Menembangkan rintik hujan yang menempias

Di telempap tanganku. Aku rindu padamu

Uluhati yang tertikam karena pertemuan ini”,

               Suaramu teduh

Dan menyempurnakan juga salam perpisahan


Engkau. Atau bungabungs yang mekar karena malam

Hingga aroma sunyi ini mencair

Siapa menyuling madu dan mabuklah

     Kita disitu

     Aku rindu padamu dan tulis namamu seperti airmata kalbu.


VIII


Menera hujan yang jatuh. Halamam membilang

Tetes ke tetes. Bayangan pun hanyut

Kedalamnya. Menjadi dingin

   Dan sunyi. Engkau,    masihkah menadahnya

Dengan cakupan tangan. Sinar bulan memudar

Di jelaga mendung


   Menggambar hujan dengan wajah pohon kuyub

Warna itu muncul kelabu. Siapa membenamkan

Diri dalam liukan bayangan itu

Engkau. Atau kilau halilintar yang menikam malam

   Anakanak mewarnainya dengan warna

Dadu. Sejuk. Dan angin yang menebalkan

Di gigil malam menjadi embun dan menetes

Sebelum fajar

       Anakanak mengumpulkannya menjadi

Ulakan untuk melayarkan dirinya menuju

Lautan dalam tubuhmu!


Menera hujan. Tetes ke tetes.

Takmampu kuterka tujuan ini. Tanda arah tak menunjuk

    Tempat berkemah. Engkau berkaca

           Dalam hening!


IX


Masih sempat memandang bulan sebelum gerimis

Menguburnya. Serupa sebuah karangan bunga

       Pemakaman ini di mulai

Berangkat tanpa kelam dan sunyi terbunuh

Sendiri. Engkau menyilaukan sekali

Dalam kesendirian ini.


Memandang bulan dan bayang pepohonan

Yang kadang memyembunyikannya dari angin

Dingin yang memuaikan segalanya

Engkau. Atau burungburung yang melengkapi

Rantingranting dengan senyap kembali

Dalam rantauan: Tampak dalam sangkarku

    Jiwaku terkurung pada tulus cintamu


Melukis bulan dan memandangnya dengan takjub

   Hujan yang turun tak membasahi sinarnya

Serta membiarkan laronlaron merebutnya

Pada hablur lampu halaman

Jalan pulang selalu tertulis dalam sajakku

       Jalan rantauan kuterakan dalam peta jiwaku

Engkau. Atau jerajak yang suram menjaga

Jarak dan kabar terakhir itu

Engkau tandai dengan arsitektur fajar.


X


Kunukilkan padamu tentang bunga yang menjadi buah

Penyerbukan. Musim tumbuh. Pergantian musim.

Kebun jasmani rokhani. Maka, Benih biji yang menumbuhkanmu kembali


1

Aku menanti cahaya bulan

Di sebelah daunan basah

Terpeleset dalam getaran jiwa


2

Menuntun diri melewati malam

Cahaya yang tersibak karena senyap tualang

Diternakkan sunyi


3

Di sela dingin masih juga malam

      Memuati angin

Meliuk ke dalam bayangan

Yang tertunda menebalkan tetesan sayong


4

Maka berdianglah sendiri di hangat musim ini

Bungabunga memperjelas warna dengan wangi

Bagi mabuk kupukupu


5

Bulan menanam sinarnya di sela ilalang yang basah

Gigilpun tumbuh di situ

Serambi membisu dalam percakapan ini


6

Maka Engkau akan mengenaliku lagi

        Bila kembali

Menanam benih air dalan airmata itu

Bertahuntahun dan mengering dalam gelora lautan jiwa


7

Tubuh akan kaku membujur seperti waktu

Dan detakan itu menandaiku dengan tanda api

Jalan tanpa tepi serupa lingkaran tak bersisi


8

Siapakah Engkau mengajakku meluku

Menanami diri dengan benih jejak

       Yang tak berluka

Perjalanan yang kadang khilaf kuakhiri


9

Seekor burung tertawan di geriat angin

Dan sehelai bulu itu melambai

      Seperti udara

Menukiklah dan akan Engkau temui

    Aku tertuntun cintamu yang tulus

Dan kusandarkan sekaligus kutancapkan dalam hidupku


10

Menari dan liukan angin dalam gerakan itu

Akan membawamu memasuki ruang yang paling rahsia

Untuk melafadzkan setiap bahasa

Yang terkadang menyerupai kebun bunga

Di tubuh kupukupu


11

Burung ataukah kupukupu yang berganti rupa dalan warna bungabunga

Menandai cuaca yang baik ini

Engkau menangkapku dan menyamarkannya

    Ke relung sunyi

Seperti perapian yang senyap menyempurnakan gelap malam


12

Maka dingin meneteskan embun satu satu

Seperti Engkau mengaburkan sinar bulan itu dengan kilau bintang

Dan takjuga kutangkap sunyimu yang mengalir menuju hulu

Serta menambatkan jukungku dalam labuhan rindu

Gelora yang mendedah setiap getaran jam yang mencair di udara


13

Engkau tersenyum laksana pagi yang ditandai kicauan ini

Setiap musim bertukar dengan musim yang lain

Siapa menyela di situ antara liukan angin

Dab tertambat dalam katakata yang kejam


14

Seekor ikan dan seperti yang lain

Menyembul ke permukaan air

Serupa sebuah telaga

Dan menenggelamkan diri aku di situ


15

Malam yang datang bersama burungburung yang kembali

Menggenapi ranting dengan kesunyian

Masing masing untuk beranakpinak

Dan angin berlalu tanpa desau

Menebal dengan dingin


16

Angin mendesir menghalau

Hujan yang mulai akan turun

Dan takjuga tebal mendung

Mampu menutup pantulan cahaya matahari

Hingga suram di lembab halaman

Desiran angin yamg terdampar di celah ranting

Tak cukup memudarkan

Semburat yang menjelaga di pekat mendung


17

Malam telah menuntaskan purnama

Dan kini bersama angin

Menyempurnakan dingin serta melelapkan mimpi dalam tidurmu

Masih terjagakah Engkau, maka

Mainkanlah dawai dari partitur lagumu

Memainkan alunan merdu

Mengantarkan aku melengkapi

Nadanada yang berkabung dalam luruhan airmatamu


18

Mata kupukupu yang dingjn

Menangkap fajar di warna bunga

Kilau yang senyap dari cahaya matahari

Dan memuaikan diri aku pada lelehan embun

Dalan rebahan halimun


19

Engkau menahanku dalam takikan sunyimu

Sempurna seperti kayuhan jukungmu

Melayari bidupku

Aku menjagamu selalu dalam rindu

Tempuhan tanpa ukuran jarak


Sipta Umadika, Celuk Sukawati, Gianyar, 30.01.2021 -07.02.2021

____

BACA PUISI-PUISI LAIN

Ilustrasi foto Danau Batur || Foto oleh IK Eriadi Ariana
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HUT Kota Denpasar | Dari Mana Dapat Angka 27 Februari?

Next Post

Sinar Bulan di Jalan Tantular | Cerpen Jong Santiasa Putra

I Made Suantha

I Made Suantha

Penyair, lahir di Sanur, kini tinggal di Celuk, Gianyar. Menulis puisi sejak SMP di tahun 1984. Mengikuti Forum Penyair Indonesia yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1987.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Sinar Bulan di Jalan Tantular | Cerpen Jong Santiasa Putra

Sinar Bulan di Jalan Tantular | Cerpen Jong Santiasa Putra

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co