6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HUT Kota Denpasar | Dari Mana Dapat Angka 27 Februari?

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 27, 2021
in Esai
HUT Kota Denpasar | Dari Mana Dapat Angka 27 Februari?

Ilustrasi tatkala.co [Iamnik]

Perayaan ulang tahun sebuah kota tak bisa dilepaskan dari sejarah yang hadir di baliknya. Demikian pula dengan perayaan ulang tahun kota Denpasar. Dalam Perda Kota Denpasar Nomor 10 Tahun 2012, disebutkan hari jadi kota Denpasar ditetapkan pada tanggal 27 Februari 1788. Itu berarti, pada 27 Februari 2021, Kota Denpasar berusia 233 tahun. Dalam rentang waktu dua abad lebih ini, apa saja perubahan yang terjadi pada Kota Denpasar? Bagaimana kelahirannya? Mengapa tanggal 27 Februari yang ditetapkan sebagai tanggal kelahirannya kota Denpasar? Apa sebenarnya yang terjadi pada tanggal tersebut?

Jika bisa pergi ke masa lalu, tepat pada 27 Februari 1788, tentu kita akan menemukan kebenaran di baliknya. Sayangnya, manusia tak bisa memutar waktu. Ia hanya bisa mengira-ngira lewat arsip dan catatan sejarah. Sementara jika merujuk pada arsip dan catatan sejarah tahun 1788, tak ada keterangan yang menyebutkan 27 Februari sebagai kelahiran Kota Denpasar. Logikanya, bagaimana Denpasar bisa disebut kota apabila pada tahun tersebut, Pulau Bali masih berbentuk kerajaan?

Dalam konteks ini, perlu kiranya memulai pembacaan Denpasar dari sejarah perang kerajaan Badung tahun 1779, yang mana pada tahun tersebut wilayah kekuasaan Puri Satria berhasil diambil alih oleh I Gusti Ngurah Made. Menurut tulisan ‘Menelusuri Sejarah Kota Denpasar’ oleh sejarawan A.A Bagus Wirawan, sejak tahun itu pula I Gusti Ngurah Made diakui oleh rakyat Badung sebagai seorang raja. Karena Puri Satria sebagai pusat pemerintahan telah rusak dan hancur akibat perang yang terjadi, I Gusti Ngurah Made sebagai Raja Badung kemudian memutuskan untuk mendirikan keraton baru. Adapun lokasi keraton baru ini, terletak di sebelah selatan Puri Satria. Di sana terdapat sebuah taman bernama Taman Denpasar karena berada di sebelah utara pasar (lerpasar; denpasar).

Keraton inilah yang kemudian diberi nama Puri Denpasar. Keraton yang selesai dibangun pada tahun 1788 ini terbentang kokoh menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Badung selama 118 tahun. Hingga pada 1906, terjadi perang Puputan Badung. Raja dan pengikut Puri Denpasar serta segenap puri lainnya bersatu melawan Belanda melakukan puputan. Pasca Puputan Badung, Belanda pun berhasil menguasai wilayah Kerajaan Badung. Denpasar yang semula sebagai keraton tradisional ibukota Kerajaan Badung, ditata ulang oleh Belanda, dijadikan sebagai sebuah ibukota modern. Ibukota Denpasar kala itu menjadi tempat pusat pemerintahan daerah afdeling (setingkat kabupaten pada masa itu) Bali Selatan. Adapun Afdeling Bali Selatan tercatat membawahi lima onderafdeling (setingkat kawedanan—di bawah kabupaten, di atas kecamatan), yakni Karangasem, Klungkung, Gianyar, Tabanan, dan Badung.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Bali masuk dalam bagian Provinsi Sunda Kecil dengan wilayah meliputi, Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, Pulau  Flores, Pulau  Alor, Pulau Sumba, dan Pulau Timor. Provinsi Sunda Kecil beribu kota di Singaraja. Sementara Denpasar menjadi pusat pemerintahan Wilayah Daerah Bali. Hal ini berlangsung sampai 1958. Pada tahun 1958 pemerintah kemudian memberlakukan Undang-undang  Nomor  64 tahun  1958  yang membuat Nusa Tenggara terbagi jadi tiga daerah Swatantra Tingkat I, yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Singaraja  secara  resmi menjadi ibu kota Provinsi Daerah Tingkat I Bali. Provinsi Daerah Tingkat I Bali sendiri dibagi lagi menjadi delapan Daerah Swatantra Tingkat II, yaitu Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli, Klungkung, Karangasem, dan Buleleng. Denpasar pada masa ini menjadi ibukota Daerah Swatantra II Badung.

Dalam tulisan IDG Palguna berjudul ‘Kapan Hari Jadi Kota Denpasar’, dapat dibaca kemudian perkembangan Denpasar berdasar pada Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tanggal 23 Juni 1960, No. 52/2/36-B6, yang memutuskan bahwa Kota Denpasar sebagai ibukota Provinsi Daerah Tingkat I. Artinya, pada tahun inilah Denpasar resmi menjadi ibukota Provinsi Daerah  Tingkat I (Provinsi  Bali). Adapun alasan pusat pemerintahan dari Singaraja ke Denpasar sampai saat ini masih menjadi misteri. Dalam konteks ini, yang menarik untuk dicermati pula adalah selain menjadi Dati I Bali, Denpasar juga menjadi ibukota Daswati II Badung yang kemudian menjadi Daerah Tingkat II Badung.

Infografik tatkala.co [Iamnik]

Pada tanggal 27 Juni 1974, diterbitkan SK Gubernur Kepala Dati I Bali atas usul Pemerintah Kabupaten Dati II Badung untuk menjadikan Denpasar menjadi kota administratif. Kemudian pada tanggal 5 Maret 1977, Bupati Kepala Dati II Badung mengirim usulan kepada Gubernur Kepala Dati I Bali untuk diteruskan kepada Menteri Dalam Negeri RI di Jakarta. Atas dasar usulan itulah kemudian terbit Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1978 tentang pembentukan Kota Administratif Denpasar. Setelahnya, pada tanggal 28 Agustus 1978, Menteri Dalam Negeri RI meresmikan Denpasar menjadi Kota Administratif.

Pada tahun 1992, kota Administratif Denpasar kemudian “ditingkatkan statusnya” menjadi  Kota Madya Daerah Tingkat II Denpasar berdasarkan UU No.1/1992 pada tanggal 27 Pebruari 1992. Dalam tulisannya, Palguna juga menjelaskan bahwa secara substansial-konseptual, hal ini merupakan bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pemerintahan Di Daerah yang menerapkan konsepsi otonomi menumbuhkan asas desensentraliasi (penyerahan wewenang pemerintah pusat kepada daerah) dengan dekonsentrasi (perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah).

Secara sederhananya hal ini dapat dilihat dari “status ganda” daerah otonom maupun yang memimpin daerah otonom Kota Madya Daerah Tingkat II Denpasar.  Kota Madya adalah pengejawantahan asas desentralisasi, sedangkan Daerah Tingkat II adalah pengejawantahan asas dekonsentrasi. Lalu yang memimpin disebut Walikota Kepala Daerah Tingkat II Denpasar. Walikota mengejawantahkan kepala daerah otonom (wakil daerah), sedangkan Kepala Daerah Tingkat II mengejawantahkan wakil pemerintah pusat di daerah (dekonsentrasi).

Tak sampai disana, tujuh tahun setelah diresmikannya sebagai Kota Madya Daerah Tingkat II, Denpasar kembali mengalami perubahan. Pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, Kota Madya Daerah Tingkat II Denpasar berubah lagi statusnya menjadi (daerah otonom) Kota Denpasar. Hal ini membuat Denpasar menjadi daerah otonom yang hampir dalam keseluruhan pelaksanaan fungsi pemerintahannya didasarkan pada asas desentralisasi dan secara struktural tidak merupakan “bawahan” provinsi.

Kembali pada soal hari jadi Kota Denpasar pada tanggal 27 Februari 1788, menurut A.A Bagus Wirawan, berdasar pada fakta sejarah yang ditemukan, ada dua yang bisa dijadikan bahan pertimbangan menyusun hari kelahiran Denpasar. Pertama adalah tahun 1788 yang merupakan berdirinya Puri Denpasar sebagai ibukota Kerajaan Badung yang berdaulat dan otonom. Yang kedua adalah 27 Februari 1992 sebagai tanggal diresmikannya Kota Denpasar yang berdiri secara otonom dan modern. Artinya, 27 Februari 1788 ini merupakan gabungan dari kedua momen sejarah panjang pada Kota Denpasar yang berawal mula dari kota keraton tradisional Puri Denpasar sampai diresmikan menjadi kota otonom dan modern oleh Menteri Dalam Negeri RI.

Hal ini telah diuji dan diverifikasi yang dilakukan lewat seminar pada 19 September 2012 oleh tim peneliti yang dibentuk atas kerjasama Pemerintah Kota Denpasar dengan Universitas Udayana. Hari jadi inilah yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 10 Tahun 2012 di Denpasar, 12 Desember 2012 oleh Walikota Denpasar Rai Dharmawijaya Mantra. [T]

Tags: Kota Denpasarsejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hilangnya Peran Notaris Dalam Pendirian PT UMKM

Next Post

Puisi I Made Suantha | Pada Bahagian Lain (Suatu Ketika) Tanpa Hari di Musim Kupukupu

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Puisi I Made Suantha | Pada Bahagian Lain (Suatu Ketika) Tanpa Hari di Musim Kupukupu

Puisi I Made Suantha | Pada Bahagian Lain (Suatu Ketika) Tanpa Hari di Musim Kupukupu

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co