19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dokter Gila | Cerpen Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 5, 2022
in Cerpen
Dokter Gila | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Rumah sakit di kabupaten kecil itu heboh. Seorang dokter, suatu malam, tidur dan bermalam di ruang pasien. Ia bercerita bersama penunggu pasien, dan sesekali ngobrol bersama pasien. Ia tidur di bangsal.  Dan besoknya, ia bangun pagi seperti biasa, sarapan nasi bungkus bersama staf rumah sakit, seperti penunggu pasien, lalu ngopi.

“Itu dokter gila!” kata seorang perawat, bukan dengan nada mengejek, justru ada kesan takjub di sela-sela suaranya,

***

“Dokter tidak perlu sampai harus tidur di ruang pasien!” kata Direktur Rumah Sakit pada malam sebelumnya.

Saat itu dokter gila itu minta izin secara baik-baik untuk tidur dan menginap di ruang pasien.

“Silakan langsung saja sampaikan apa masukan Dokter untuk manajemen?” sambung sang direktur.

Dibandingkan sebagai sebuah pertanyaan, suara Direktur Rumah Sakit itu lebih terdengar seperti memberi perintah atau larangan kepada dokter gila. 

“Masukan saya sudah sangat jelas sejak dulu. Tidak manusiawi satu ruangan bangsal dihuni oleh 16 orang pasien. Meskipun obat yang kita berikan sudah sesuai standar, secara psikologis situasi tersebut akan menghambat penyembuhan pasien. Saya yakin Pak Direktur pasti paham soal ini!” kata si dokter.

“Saya paham sekali!” Nada suara Direktur semakin tinggi dan emosional.

Seorang kepala ruangan dan wakil direktur yang berada dalam ruangan saat itu hanya diam seperti patung.

“Kita tidak bisa seideal seperti yang Anda pikirkan. Kita pun tak melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh kementrian kesehatan!”

Kali ini kedua patung mulai mengangguk-angguk, meski jelas sekali itu sekadar basi-basi dan tampak ragu-ragu, entah bagaimana sikap mereka yang sebenarnya. Si dokter gila bergeming, mungkin tersenyum geli dalam hatinya.

Pertemuan dokter gila dan sang direktur itu jelas tidak menghasilkan apa-apa. Namun sikap si dokter sudah jelas. Ia ingin tidur di ruang pasien. Untuk itu, ia tak memerlukan diskusi lagi. Ia meninggalkan ruangan yang masih diliputi suasana tegang itu.

“Terimakasih, saya sudah minta izin!” kata dokter gila itu.

Malam pada hari setelah pertemuan di ruang direktur itu ia, diizinkan atau tidak, tetap tidur di salah satu bangsal perawatan. Ia di situ hingga pagi. Dan hingga pagi ia bersama pasien yang menjalani rawat inap saat itu.

Sebelumnya, kepala ruangan menawarkan si dokter untuk tidur di salah satu ruangan kelas dua yang kebetulan kosong.

“Maaf,  Dokter. Apakah tidak lebih baik malam ini dokter tidur di ruang Lily yang kebetulan kosong?”

“Oh nggak apa-apa, Pak Yoga, izinkan saya semalam saja tidur di bangsal,” sahut si dokter. Seperti biasa suaranya datar, dan Pak Yoga, kepala bangsal itu, tidak bisa berbuat apa-apa.

Keesokan harinya ia meminjam toilet untuk mandi dan berganti pakaian. Entah bagaimana, pagi itu, suasana di ruang perawat justru menjadi cair, jauh dari ketegangan.

“Saya boleh minta tolong ya? Belikan nasi bungkus duabelas bungkus dan air mineral. Oh ya, saya biasa ngopi setelah sarapan, jadi tambah satu kopi krim ya!”

Dokter itu menyerahkan sejumlah uang kepada salah seorang staf, lalu duduk di salah satu kursi di depan meja lebar. Meja itu biasa digunakan untuk rapat perawat, dan di situ si dokter bersiap untuk sarapan sambil merapikan tas ransel setelah mandi dan berganti pakaian.

Beberapa perawat yang bertugas pagi mengikuti si dokter. Mereka duduk mengelilingi meja. Pak Yoga yang baru datang, duduk pada posisi paling dekat dengan si dokter. Beberapa di antaranya terkesima, dokter itu tepat menghitung jumlah staf duabelas orang sehingga meminta beli nasi duabelas bungkus.  Dari mana dokter gila tahu persis jumlah staf yang bertugas pagi itu?

Hidangan nasi bungkus telah tersedia di atas meja, uap kopi panas pun masih mengepul, aroma kopi krim memang sangat menggugah.

“Ayo, teman-teman, sarapan dulu. Siapkan diri dulu dengan baik sebelum melayani pasien!”

Ajakan hangat dokter gila itu mengundang lebih banyak perawat untuk ikut duduk sarapan sebelum pergantian tugas. Salah seorang dari mereka tak bisa menahan diri untuk menyampaikan sesuatu yang sangat sentimentil dan emosional.

“Dokter, terimakasih telah mengajari kami banyak hal dengan cara-cara yang bagi kami tak masuk akal. Namun kami semakin meyakini, itu semua ada benarnya.”

Salah satu perawat perempuan muda yang tampak lebih gaul dan selama ini suka ceplas-ceplos ikut nimbrung.

“Tahu gak, Dok? Selama ini dokter dijuluki dokter gila, lho!”

Perawat muda itu mengucapkan kata-katanya sambil menutupi wajahnya yang bulat dengan kedua telapak tangan. Tawa seisi ruangan pecah. Ruangan jadi riuh.

“Ha ha… Mungkin tetap lebih baik menjadi dokter gila ketimbang pasien waras!” kata dokter gila itu santai.

***

Dokter itu kemudian makin terkenal dengan sebutan dokter gila. Sebutan, bukan panggilan tentu saja. Mungkin saja ia sudah tahu dirinya disebut sebagai dokter gila, namun tak akan ada yang berani memanggil atau menyapanya saat bertemu misalnya dengan sapaan, “Selamat pagi, dokter gila. Apa kabar?”

Orang gila, atau sekarang disebut dengan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), mungkin saja tidak suka disebut gila. Apalagi orang normal. Lebih-lebih, ini seorang dokter yang bekerja, salah satunya, justru untuk mengobati ODGJ.

Tetapi, meski ia mungkin tahu telah disebut dokter gila oleh orang-orang di sekitar tempatnya bekerja, di rumah sakit, sepertinya ia tak peduli. Jangan-jangan, ia memang sudah tahu, tapi hanya menanggapi dengan tersenyum dalam hati.

Jika saja ia tak terima, sekali waktu pastilah salah seorang perawat atau petugas lain di rumah sakit itu telah dipanggil ke ruangannya, untuk diajak bicara, atau dimarahi, atau untuk sekadar menanyakan hal-ikhwal sebut gila itu. Namun kenyataannya ia tak pernah memanggil siapa pun untuk urusan itu.

Seperti biasa ia datang pagi-pagi sekali. Ia melakukan tugas biasa, mengunjungi pasien di ruang perawatan. Dan seperti biasa juga, ia tak pernah menggunakan jas dokter saat bertugas. Sehari-hari ia datang ke rumah sakit memakai kemeja lengan pendek, kaos berkerah bahkan kadang hanya T-shirt dengan bawahan lebih sering celana jeans ketimbang celana kain biasa.

Sepatunya, sejak datang pertama kali ke rumah sakit tetap itu-itu saja. Belum pernah diganti. Warna sepatu yang coklat buram, lecet di sana-sini. Semua hapal merknya: Rockport.  Soal pakaian ini ia pernah ditegur pihak manajemen rumah sakit. Namun dengan enteng ia menjawab dengan pertanyaan balik, khas orang gila yang susah diatur.

“Saya ke rumah sakit untuk memeriksa dan mengobati pasien. Bukan untuk fashion show. Coba tanya, ada nggak pasien saya yang keberatan dengan penampilan saya?”

Pihak manajemen buru-buru angkat tangan dan tak mau memperpanjang perkara ini.  

Pagi itu si dokter gila memasuki bangsal pasien penyakit infeksi didampingi seorang suster senior. Kepala ruangan sebelumnya sudah wanti-wanti, jika dokter gila yang visite, maka ia harus didampingi perawat-perawat senior. Maksudnya tentu saja agar perawat itu bisa mengimbangi kemauan dokter gila yang sulit diprediksi arahnya bicara dan tindakannya.

Dan betul saja, pagi itu, ketika masuk ruangan pasien, alih-alih memeriksa pasien, ia justru menyeret suster memeriksa kamar mandi pasien terlebih dahulu.

“Ayo, Suster, kita cek kamar mandi dulu!” ajaknya tegas.

Berpasang-pasang mata di ruangan itu pun kebingungan. Ada empat tempat tidur pasien yang  terisi penuh dengan masing-masing pasien ditunggu satu atau dua orang penunggu.

Suster senior hanya bisa menuruti namun refleks bertanya, “Maaf, Dokter ke toilet untuk apa?”

“Sudah. Ikut saja saya sebentar!” Suaranya diikuti gerakan kepala ke arah kamar mandi.

Suster pun bergerak mengikuti langkah si dokter.

“Nah, itu, coba Suster lihat, ada genangan di washtafel. Itu, apa lagi di bawah, pasti bekas muntahan. Tolong panggil dulu bagian sarana dan petugas cleaning service untuk membereskan. Setelah itu baru saya mau memeriksa pasien!” kata si dokter.  

Intonasi kata-kata dokter gila itu datar. Pandang matanya terus menyisir dengan teliti seluruh keadaan di kamar mandi. Kejadian itu terasa begitu cepat dan singkat, namun dirasakan begitu berbobot oleh suster senior yang mendampinginya. Seakan-akan keadaan kamar mandi yang demikian itu sudah diketahui oleh dokter gila sejak dari rumahnya.

Pada dasarnya, dokter gila tidak pernah marah. Namun hal-hal tak biasa yang dilakukannya memang mudah ditafsirkan sebagai kemarahan.

“Oh ya, baik, Dokter, akan saya hubungi bagian sarana dan petugas kebersihannya sekarang!” Suster senior mengalah. 

Dalam perjalanan ke nurse station, dokter gila itu menjelaskan teori penyakit infeksi yang ditentukan oleh faktor kuman, tubuh pasien dan lingkungan. Kamar mandi pasien adalah salah satu aspek lingkungan yang sangat penting.

Ia menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi di ruang perawat untuk lalu meneruskan ceritanya. “Jika keadaannya buruk seperti itu, mana mungkin pasien bisa cepat sembuh. Jangan-jangan, antara pasien nanti dapat saling menulari penyakit atau kepada para penunggunya. Syukur-syukur Anda nggak ikut tertular. Muntahan atau sisa air kencing maupun feses merupakan media penularan kuman penyakit. Genangan air sudah tentu bisa menjadi sarang jentik nyamuk demam berdarah!”                

Beberapa perawat dan petugas yang kebetulan ada di ruangan itu terpaksa ikut menyimak kuliah pagi yang tak dijadwalkan itu. Tentu saja para perawat dan petugas lain mendengar sembari tetap mengerjakan tugas mereka masing-masing. Suara pesawat televisi yang sedari tadi membahana menyampaikan berita gosip seakan tenggelam oleh suara dokter gila yang padat dan tak putus-putus.

Ada yang buru-buru menutup kembali nasi bungkusnya, padahal baru dimakan setengahnya. Untunglah suster senior tiba-tiba muncul dengan berita baik. Kamar mandi pasien sudah beres dan pasien sudah menunggu untuk diperiksa. Sang dokter gila pun beranjak menuju ruangan pasien.

***

Cerita itu belum seberapa. Dokter gila pernah datang pagi-pagi ke bagian dapur rumah sakit atau instalasi gizi. Ia minta seporsi makan yang biasa diberikan kepada pasien.

“Maaf, Dok. Kalau Dokter belum sarapan pagi, biar saya minta CS-nya untuk membelikan nasi bungkus!?”

Kepala dapur memohon dalam keadaan bingung.

“Oh, nggak usah repot, Bu Lisa, izinkan saya minta seporsi makanan yang pagi ini akan dibagikan kepada pasien untuk sarapan pagi. Boleh, ya, Bu?” balas dokter gila itu sembari tersenyum.

Tanpa berani berdebat lebih panjang, Bu Lisa langsung mengambilkan satu paket sarapan pagi yang biasa ia berikan untuj pasien. Paket sarapan itu diberikan kepada dokter gila. Si dokter menolak makan di ruang kepala dapur, maka Bu Lisa mengantarkannya ke ruang administrasi.

Setelah mengucapkan terimakasih, ia duduk santai, bersandar di salah satu kursi di ruang administrasi instalasi gizi. Ia menikmati hidangan makan yang sebetulnya disiapkan untuk pasien-pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Tentu saja ini membuat semua staf dapur yang bertugas saat itu menjadi kikuk dengan tingkah laku dokter gila itu.

Bahkan ada juru masak yang tak mau beranjak dari dapur dan masih menunggu panci di atas kompor, padahal air dalam panci sudah mendidih sejak tadi.  Ini lantaran juru masak itu enggan bertatap muka dengan si dokter gila yang lagi asyik melahap makanan pasien.

Belum habis keheranan Bu Lisa dan juru masak, dokter gila tiba-tiba membagikan nasi bungkus kepada Bu Lisa dan semua juru masak yang bertugas saat itu. Maka terjadilah peristiwa unik. Dokter gila makan nasi pasien, sementara juru masak makan nasi bungkus pemberian si dokter. Juru masak makan, sementara hatinya terus bertanya-tanya. Apa maksud si dokter gila itu?

Nasi bungkus yang dibawa dokter gila adalah salah satu nasi bungkus terkenal yang selalu menjadi pilihan sehari-hari warga kota  sejak dulu. Tentu karena harganya sangat terjangkau dan  rasanya sangat enak dengan porsi yang pas. Siapapun menikmatinya, dijamin tak akan pernah menyisakannya. Dengan begitu, staf dan juru masak di bagian dapur rumah sakit diharapkan paham apa yang ingin disampaikan dokter gila itu. Ia memang tak bicara secara langsung, namun maksudnya begitu jelas dan gamblang.

Raciklah makanan yang lebih enak untuk dinikmati oleh orang-orang sakit. Itu tak selalu memerlukan biaya yang besar. Yang penting adalah kepekaan sebagai pelayan masyarakat. Orang sakit butuh nutrisi yang baik, artinya ia perlu hidangan yang menggugah selera dan rasanya nikmat, sehingga makanan dilahap habis dan tidak tersisa dengan sia-sia.

***

Rumah sakit heboh lagi. Dokter gila menghilang.

Dokter gila itu bernama lengkap dr Satyagraha SpPD. Ia seorang ahli penyakit dalam atau internist. Orang-orang di rumah sakit tak banyak mengetahui kehidupan pribadinya. Sepertinya orang sudah cukup mengenalnya sebabagai dokter gila meskipun ia bukan seorang dokter ahli jiwa atau psikiater. Kini rumah sakit tempatnya bekerja menjadi rumah sakit favorit di masyarakat. Alasannya bukan karena ada dokter gila di situ, namun karena sikap kegilaan si dokter itu terjadilah banyak perubahan di rumah sakit, salah satunya kebijakan yang lebih mementingkan pasien. Ruangan yang lebih layak, makanan pasien yang lebih enak, kebersihan ruangan dan lingkungan yang lebih baik seta asri. Banyak lagi alasan kenapa rumah sakit itu menjadi pilihan warga untuk berobat. Manajemen rumah sakit pun telah menambah berbagai sarana medis yang lebih canggih, yang dibutuhkan pasien.

Tapi, sejak sebulan ini dokter gila menghilang. Ia tak pernah kelihatan di rumah sakit. Perawat, petugas kebersihan, petugas medis lain, tukang taman, kehilangan dan kebingungan. Apalagi banyak pasien meminta agar mereka dirawat oleh dokter gila.

“Dokter Satya, sudah minta izin kepada direktur untuk tidak memperpanjang kontrak kerjanya di RS kita.” Itu berita yang dibawa Pak Yoga.

Pak Yoga duduk di sisi meja yang biasa digunakan untuk rapat dan makan nasi bungkus bersama dokter gila. Ia  di kelilingi oleh rekan-rekan dan beberapa orang dokter.

Ia bercerita dengan nasa sedih. Suaranya lirih dan semua yang hadir menahan napas mendengarkannya dengan khidmat.

“Bukan karena beliau tidak betah di sini. Itu karena anak semata wayangnya harus menjalani pengobatan ke luar negeri!”

Suasana hening. Tak ada yang bertanya.

“Anak beliau harus mendapatkan tindakan medis canggih yang kita belum miliki di Indonesia. Karena dirasa pengobatannya akan memakan waktu yang cukup lama, beliau merasa lebih baik sementara waktu memutuskan kontraknya agar beliau bisa fokus mendampingi anandanya. Dokter Satya menitipkan salam untuk kita semua, mohon didoakan untuk kesembuhan anandanya!” kata Pak Yoga. Suaranya makin parau.

Semua yang mendengar, tanpa sadar, meneteskan air mata. Air mata doa. Air mata rindu. [T]

______

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Sepuluh Tahun Setelah Si Kerudung Merah Membunuh Seekor Serigala | Cerpen Surya Gemilang
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mas Ruscitadewi | Hari Itu Kau Habiskan Cerita

Next Post

Kuliah Kritik SBM Prof. Darma Putra; Gagallah Seorang Kritikus Sastra Jika Tak Mampu Seperti Peniup Seruling

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Kuliah Kritik SBM Prof. Darma Putra; Gagallah Seorang Kritikus Sastra Jika Tak Mampu Seperti Peniup Seruling

Kuliah Kritik SBM Prof. Darma Putra; Gagallah Seorang Kritikus Sastra Jika Tak Mampu Seperti Peniup Seruling

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co