3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Satu Keluarga Telah Lengkap | Cerpen Bulan Nurguna

Bulan Nurguna by Bulan Nurguna
October 2, 2021
in Cerpen
Satu Keluarga Telah Lengkap | Cerpen Bulan Nurguna

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Saya sudah bilang kepadanya bahwa Ganis tak ada di rumah, tapi dia tetap memaksa masuk. Dia bilang ingin menunggu di dalam. Tempat tinggalnya jauh dan dia merasa  tidak masuk akal kalau harus kembali, dan nanti kembali lagi ketika orang yang dicarinya itu sudah datang.

Dengan sedikit berat hati saya izinkan dia masuk. Saya tawari dia teh atau kopi selayaknya tuan rumah kepada tamunya, tapi dia bilang dia tidak minum minuman yang berwarna. Lalu diambilnya botol berwarna hitam dari dalam tas; botol yang sewarna dengan kaos bergambar Che Guevara yang dikenakannya. Diteguknya air itu seperti bintang iklan minuman di televisi. Sungguh berlebihan gayanya, dan saya bayangkan kalau saya lebih ramah lagi padanya, misalnya menawarkan kue sarang semut—spesial dari toko roti saya—yang ada di dapur, mungkin dia akan merasa bahwa rumah ini benar-benar miliknya.

Tetapi setelah dia mereguk hampir setengah botol minumannya, dia bertanya, “Ada asbak?” Sungguh mengesalkan. Pernahkah Ganis memberitahu bahwa di rumah ini bebas asap rokok dan bukan bebas berasap rokok?

“Ada, tapi tolong merokoknya di teras ya.” Dia spontan melihat ke luar. Rumah yang menghadap ke timur ini jelas maksimal menangkap cahaya dan panas matahari, sehingga jam dua belas siang bukanlah waktu yang baik untuk bersantai-santai di teras.

Saya duduk di ruang tamu bersamanya; tidak enak membiarkan tamu seorang diri. Tetapi itu bukan berarti saya bisa ramah padanya. Dia pun seperti tak ambil pusing, dan sesekali bersiul-siul seperti burung jinak, sambil memerhatikan sekeliling ruang tamu, “Tumben ke sini lagi,” ujar saya membuka pembicaraan setelah jeda yang agak lama.

“Ada bisnis dengan Ganis,” jawabnya. Jawaban itu mengantar saya pada bayangan seseorang yang mengenakan jas resmi, serta berdasi, yang kerjanya keliling kampung menawarkan mainan edukasi anak. Saya mau tertawa terpingkal-pingkal, tapi tawa itu hanya naik sebatas tenggorokan, dan saya telan kembali. Tidak enak menertawakan tamu, apa lagi tamu berwajah sedih. Ya, dia orang paling berwajah sedih yang pernah saya temui. Matanya lebih sering merah, sayu, dan tua, seperti korban dari suatu pergaulan, atau mungkin justru pelaku? Mata-mata yang kerap ada di tempat party. Mata dini hari yang seolah bisa lebih terang melihat pada saat temaram. Kulitnya, lalu bibirnya, alisnya, pipinya, dan tulang pipi itu…aih, mengingatkan saya pada punuk unta. Dan tubuh itu, kurus, kering, yang bisa kita perkirakan disebabkan karena jarang berada atau bahkan tidak pernah sama sekali berada di lahan basah. Apakah saya menjelaskan ciri-cirinya seperti hendak mengejeknya? Begini, saya tak hendak membela diri, tapi sungguh, siapa pun yang bertemu dengannya tidak akan bisa menjelaskan ciri-cirinya tanpa nada ejekan.

“Bisnis apa? Berdagang maksudnya?” Cara saya bertanya mungkin akan terlihat datar sekali seperti bagian HRD yang menyeleksi calon office boy.

“Ha ha ha,” tiba-tiba dia yang tertawa. Sungguh saya merasa terhina, sudah capek-capek saya mengedepankan sopan-santun ketimuran tapi dia malah menyemburnya dengan muntahan tawa.

Saya diam. Dia ikut diam. Kami saling diam, dan suara motor yang melintas di luar seperti mengejek kami. Mungkin motor itu hendak berkata, “Ha ha ha…bukan perkara siapa yang lebih pintar di antara kalian berdua, melainkan siapa yang paling tidak bodoh!”

Diam saya adalah diam yang menunggu, dan dia sadar itu. “Bisnis itu bukan berarti jualan, berdagang, atau ingin mendapatkan uang.” Kata “uang” yang ditekan membuat saya agak tersinggung, tapi sebagai orang yang lebih tua saya redam perasaan itu, saya tekan, meski hati saya lah yang harus menanggung sakit.

“Lalu?” Saya berusaha bijaksana.

Tiba-tiba hujan deras. Udara menjadi lebih panas di dalam. Sepertinya hawa panas di luar mencari jalan agar tak punah sama sekali. Mungkin juga hawa panas itu masuk ke sarang-sarang binatang. Tetapi adakah binatang yang saling membenci? Bukan sekadar marah, tetapi benci; perasaan awet tanpa kadaluwarsa, walau peristiwa yang memantiknya telah berlalu lama dan tak menyisakan bekas pada tubuh.

“Apapun yang kamu bisniskan dengan Ganis, semoga sukses.”

“Terima kasih,” Ia tersenyum. Senyum yang naik di kanan. Seperti menyimpan pitam pada ujungnya.

Ah, mungkin sejak tadi saya yang melebih-lebihkan. Mungkin itu memang gesturnya yang otentik, yang memang akan diperlihatkannya sekalipun pada orang yang paling dicintainya. Ada memang orang-orang yang tak berbakat secara sosial. Tetapi, buat apa saya berprasangka baik pada landasan yang tidak kuat?

“Ganis pernah bilang pada saya, kamu perlu uang untuk membayar indekos.”

“Ya, memang, tapi saya bilang padanya kalau tak ada uang tidak apa-apa.”

“Kamu tahu kan Ganis akan mengusahakannya?”

“Maksudmu? Saya yang harus tahu diri, dan tidak minta tolong padanya?”

“Tinggallah di sini, lagi pula Ibu sudah lama tidak ada.”

Hening. Hujan deras seperti turut membasuh ruangan ini, dan lama-kelamaan menenggelamkan kami dalam pikiran masing-masing. Sejak dulu saya tidak pernah tahu bagaimana jalan pikirannya.

Pernah suatu ketika saya melihat dia merokok di lantai atas rumah kami yang saat itu belum selesai dibangun. Waktu itu dia masih kelas tiga SD dan bersekolah di SD paling favorit dan bonafit. Lalu sewaktu SMP saya pernah menemukan ganja di dalam kamarnya. Apakah permainan anak-anak belum cukup untuknya? Pengalaman macam apa yang hendak ia abadikan? Pengalaman terbang ke bulan? Sehingga tidak ada sekolah di seluruh bumi yang sanggup memenuhinya?

Dia sudah dipindahkan ke lebih dari tiga SMP karena telah banyak membuat onar di sekolah. Dan kalian tahu, kan, setiap kepindahan membutuhkan biaya, dan biaya pendidikan walaupun terlampau mahal, seringkali lebih diusahakan dan dimaafkan daripada dilawan atau ditinggalkan.

“Saya heran ada orang yang mau-maunya menggantikan peran seorang ibu,” ucapnya datar.

“Anggap saja itu takdir saya,” ucap saya, seperti adu datar dengannya.

Saya lihat jam dinding, seharusnya Ganis sudah pulang. Ia akan dengan rapi menaruh sepatu pantofelnya, melepas rok dan baju, dan cuma berkeliling rumah tanpa mengambil apapun dalam lemari. Lantas menengok kolam ikan, dan melihat koi putih favoritnya di sana. Ia masih sama seperti waktu ia kecil dulu; wajahnya yang manis; ada jiwa kanak-kanak yang selalu tertinggal di wajah itu; jiwa yang sudah ada sejak kami tumbuh bersama.

Mengganti Ibu untuk selama-lamanya adalah kutukan; kita tidak bisa pergi dari rasa tanggung jawab. Sudah ribuan kali Ganis pulang-pergi setiap hari. Tetapi setiap hari selalu menggenang rasa khawatir pada diri saya; kasih sayang yang luber, tumpah ke mana-mana.

Perasaan seperti itu juga ada untuk Gendis, walau mereka sama sekali berlainan dalam segala hal, kecuali rupa dan usia. Ya, Gendis lebih mirip Bapak dalam perilaku, tapi untunglah Bapak telah lama pergi sebelum Gendis berhasil menirunya seratus persen. Dan Ganis, ia seperti Ibu, selalu menerima perlakuan Gendis terhadapnya, sebagaimana Ibu selalu menerima perlakuan Bapak, sebelum Bapak pergi begitu saja untuk selamanya.

Ketika saya menggantikan Ibu, mungkin Ganis turut menggantikan peran kakak yang sebelumnya saya jalankan, menggantikan saya untuk Gendis. Ganis pintar mengatur uang, tapi di hadapan Gendis, ia adalah wanita bodoh. Uangnya tak pernah tersisa, itu disebabkan karena ia suka berbagi dengan saudaranya. Sedangkan saya tidak mau membiayai Gendis kalau dia tidak tinggal di rumah. Siapa yang tahu uang saya akan dipakai untuk hal-hal yang tidak baik?

Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan gerbang. Saya segera mengambil kumpulan kunci di pintu dan bergegas ke gerbang yang garasinya dinaungi kanopi itu.

Ada Gendis,” ucap saya pada Ganis yang langsung tersenyum begitu keluar dari mobil. Kami masuk ke ruang tamu.

Kini, satu keluarga telah lengkap: seorang ibu, seorang kakak, dan seorang adik. Tanpa Bapak. [T]

Gang Metro-Belencong, 12 Maret-16 September 2021

___

Klik dan baca CERPEN lainnya

Selamat Malam Cinta | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Strategi Komunikasi dan Distorsi Makna Kebijakan Endek Bali

Next Post

Bubur Ayam Pak Karya, Legenda Kuliner dari Kota Singaraja

Bulan Nurguna

Bulan Nurguna

Lahir di Mataram, Lombok, 4 Juni 1990. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Kini ikut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Bubur Ayam Pak Karya, Legenda Kuliner dari Kota Singaraja

Bubur Ayam Pak Karya, Legenda Kuliner dari Kota Singaraja

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co