4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bubur Ayam Pak Karya, Legenda Kuliner dari Kota Singaraja

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
October 3, 2021
in Khas
Bubur Ayam Pak Karya, Legenda Kuliner dari Kota Singaraja

Pak Karya dan bubur ayamnya

Bubur ayam Pak Karya, mungkin saja sudah tidak asing terdengar di telinga para penikmat kuliner bubur ayam di Kota Singaraja. Bubur Ayam hasil racikan Pak Karya ini tidak hanya enak, tapi juga bisa menghipnotis pikiran para orang tua masa kini untuk mengenang kembali masa muda mereka di tahun 1970-an, misalnya mengenang kembali nostalgia menikmati jalanan malam di Kota Singaraja ketika dunia berlum dipenuhi internet.

Kamis, 1 Oktober 2021, sepulang dari kantor, sekira pukul 5 sore, saya melintas di Jalan Ahmad Yani Singaraja. Tiba-tiba di pikiran terlintas keinginan untuk menikmati bubur ayam Pak Karya, lalu kendaraan saya arahkan ke Jalan Parkit, di Kawasan Dewi Sartika Utara. Di sudut Jalan Parkit itulah Pak Karya berjualan.   

Keinginan untuk menikmati bubur ayam Pak Karya sudah terbersit sejak beberapa hari lalu, dan hari itu baru kesampaian. Maklum saja, beberapa kali saya selalu gagal menikmati nikmatnya bubur ayam ini, gara-gara Pak Karya sempat tutup beberapa waktu lalu karena harus mengikuti upacara adat di kampungnya.

Dari kejauhan saya melihat beberapa sepeda motor terparkir, mereka antre dengan rapi hanya untuk bisa mencicipi bubur ayam legenda ini. Pak Karya saat itu ditemani oleh anak nomor enamnya, yang bernama Kadek Alit, pria yang berusia 29 tahun.

Terlihat Kadek Alit sangat telaten melayani para pengunjung yang dating. Pria ini sebelumnya pernah bekerja di beberapa distro di Bali Utara, tapi kemudian memutuskan untuk ikut membantu bapaknya, karena kedepannya dia ingin melanjutkan usaha keluarga yang sudah dirintis sejak era tahun 70-an itu.

Pak Karya nampaknya saat itu sedang sibuk melayani beberapa pelanggan, salah satunya adalah Wayan Pasek, warga Desa Gitgit, yang rela menempuh jarak berkilo-kilo hanya untuk menikmati bubur ayam di warung milik Pak Karya.

 “Saya dari Gitgit, turun hanya untuk bisa menikmati bubur ayam ini. Dari sekian warung bubur ayam, hanya di sini yang pas dengan selera saya,” kata Wayan Pasek.

Setelah melayani beberapa pembeli sebelumnya, giliran saya dihampiri Pak Karya.  Saya  sudah duduk menunggu di kursi panjangnya beberapa menit sebelumnya.

“Bapak, buburnya makan di sini atau dibungkus?” Tanya Pak Karya.

 “Makan di sini, Pak,” sahut saya.

Kadek Alit, anak Pak Karya, menyela, “Minumnnya apa, Bli?”

“Nggih, tiang sudah bawa air,” jawab saya sambil menunjukkan satu botol air mineral, bekal saya selama di kantor.

Pak Karya kemudian menyiapkan bubur untuk saya. Diambilnya beberapa sendok bubur dari dalam panci besar yang ada di rombong putihnya. Kepulan asap hangat membumbung dari dalam panci.

 “Diisi kacang kedelai, Pak,” tanyanya sambil tangannya memegang mangkon berisi bubur.

 “Silahkan, Pak, pokoknya yang terbaik!” jawab saya.

Pak Karya menyiapkan bubur untuk pelanggan

Pak Karya nampak meracik bubur itu dengan cekatan, di atas semangkuk bubur itu, ditaburkannya kacang kedelai goreng, dilanjutkan dengan taburan bawang goreng ditambah lagi dengan potongan daun seledri serta diakhiri oleh taburan daging ayam yang sudah di-sitsit atau disuir.

Setelah selesai meracik, Pak Karya menghampiri saya. Hidung saya langsung mencium aroma bubur ayam yang sangat menggugah selera.

Pak Karya lantas mempersilahkan saya untuk menikmatinya, tak lupa dia memberikan saya sambal dan kecap dengan merk legendaris di Bali, Cap Meliwis. Orang menyebutkan kecap meliwis.

Saya bertanya, “Kenapa memakai kecap meliwis, Pak?”

Pak Karya menjawab, “Pernah saya coba ganti ke kecap yang lain, karena saat itu habis, ada pelanggan yang mengeluh, cita rasa buburnya berubah, makanya saya ganti lagi ke kecap meliwis. Sudah dari awal buka warung saya menggunakan kecap ini, rasa bubur ini sudah menyatu dengan rasa kecapnya!”

Cerita Lengkap Pak Karya

Saya menikmati sendok demi sendok bubur hangat itu, perlahan saya rasakan, rasa bubur ini memang khas, rasanya yang lembut, dan juga teksturnya medium, tidak terlalu encer, tidak terlalu kental. Ini membuat saya sangat menikmatinya. Terlebih menikmati bubur ini dengan bakso goreng, menjadikannya lebih mantap, belum lagi rasa sambalnya, nendang dan maknyos, keringat saya mengucur dibuatnya.

Suasana nampak sudah sedikit lengang, Pak Karya duduk di sebelah rombongnya, sambil menikmati suara radio kecil yang dia gantung di sisi warungnya. Memang sejak dulu, dia selalu berjualan dengan ditemani radio transistor.

Suasana lengang ini kesempatan yang baik untuk bisa mengulik lebih dalam lagi cerita menarik di balik perjalanan pria berusia 70 tahun ini.

Bubur Pak Karya yang khas

Sebelumnya saya memperkenalkan diri kepada Pak Karya, dan menyampaikan niatan untuk mencatatkan kisah perjalanan Pak Karya dalam membangun usahanya. Pak Karya sangat senang. Bahkan dia berujar bahwa saya satu-satunya orang yang mendapatan cerita lengkap dari kisah perjalannya. Walaupun dulu pernah usahanya diliput oleh stasiun TV swasta ternama di Bali, namun kisahnya saat itu tidak lengkap.

Tentu kesediaan Pak Karya ini adalah kehormatan bagi saya, sebagai seorang penulis amatir.

Awalnya Tukang masak di Toko Reflek

Pak Karya merupakan pria kelahiran Tirta Gangga, Karangasem. Awalnya tidak pernah terbesit niat untuk jualan bubur ayam, namun jalan hidup seakan mengarahkan dia untuk jadi penjual bubur.

Suatu hari dia mendapatkan kesempatan untuk bekerja menjadi tukang masak di Toko Reflek, sebuah toko perlengkapan kamera dan segala produk turunannya, yang sangat nge-hits di era 60 sampai 70-an di Singaraja. Karena tugasnya selalu di dapur, Pak Karya mendapatkan kesempatan untuk mengetahui beraneka resep yang diberikan oleh sang pemilik toko, yang kebetulan juga berasal dari keluarga keturunan Tionghoa.

Kerja sebagai tukang masak sangat dia syukuri karena selain mendapatkan pengetahun memasak, dia juga bisa mendapatkan nilai etos kerja dari orang keturunan Tionghoa yang terkenal sangat ulet dan tekun dalam menjalankan usaha.

Dengan keterampilan dan pengalamannya, akhhirnya di awal tahun 1970-an, Pak Karya memberanikan  diri untuk membuka usaha Warung Bubur Ayam. Dia menceritakan, dalam perjalannya dari tahun 70-an sampai sekarang, sudah beberapa kali pindah-pindah tempat.

Pernah jualan Jalan Diponogoro, sempat juga depan Pasar Mumbul, lalu di depan Hotel Sentral, kemudian depan Radio RKPD, hingga terakhir di Jalan Parkit. Sudah tak terhitung, berapa kali dia mengganti rombongnya.

Tempat jualan Pak Karya di Jalan Parkit, Singaraja

Saya berusaha terus mendorong Pak Karya untuk merajut kembali memori-memori indah masa lalunya, dan dia terus bercerita dengan sangat antusias.

Cerita pun berlanjut. Pada era 1970-an, banyak anak muda dari berbagai penjuru kota menjadikan warung Pak Karya sebagai tempat nongkrong, tidak hanya pemuda dari sekitaran kota, namun juga pemuda yang berasal dari desa, salah satunya Desa Banyuatis.

“Bahkan karena saking cintanya dengan rasa bubur Pak Karya, anak-anak muda itu rela harus mencuci sendiri mangkoknya untuk bisa dilayani oleh Pak Karya,” kata Pak Karya.. Wajah Pak Karya sangat berbinar mengingat kisah itu, dengan senyumnya yang sangat khas.

Sehari Pak Karya memproduksi dan menghabiskan sekitar 40 mangkok bubur atau satu panci besar. Pada saat sedang laris-larisnya, tidak sedikit pelanggan yang harus gigit jari karena terlambat dating dan tak mendapatkan bubur. Namun dia tetap konsisten, tidak pernah membuat bubur lebih dari satu panci.

“Rejeki sudah ada yang atur, kualitas lebih penting dari kuantitas,” katanya.

Setiap hari dia buka dari jam setengah lima sore sampai habis, maksimal buka sampai jam 10 malam. Harga satu mangkuk bubur ayam Pak Karya dibandrol dengan harga Rp.10.000. Harga yang benar-benar terjangkau.

Menjelang petang, satu persatu pelanggan kembali berdatangan. Saya memesan kembali bubur untuk saya berikan kepada keluarga yang sedang menunggu di rumah. Jam sudah menunjukan pukul 18.30 Wita, saya akhirnya pamit pulang kepada Pak Karya. Pak Karya, lantas meminta saya untuk berkunjung lagi, dan sejak saat itu saya langsung menawarkan diri sebagai pelanggan setianya, Pak Karya’pun tersenyum.[T]

Tags: buburkulinerSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satu Keluarga Telah Lengkap | Cerpen Bulan Nurguna

Next Post

Olah Kulit Kopi Demi Industri Kopi yang Zero Waste

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Olah Kulit Kopi Demi Industri Kopi yang Zero Waste

Olah Kulit Kopi Demi Industri Kopi yang Zero Waste

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co