3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bubur Ayam Pak Karya, Legenda Kuliner dari Kota Singaraja

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
October 3, 2021
in Khas
Bubur Ayam Pak Karya, Legenda Kuliner dari Kota Singaraja

Pak Karya dan bubur ayamnya

Bubur ayam Pak Karya, mungkin saja sudah tidak asing terdengar di telinga para penikmat kuliner bubur ayam di Kota Singaraja. Bubur Ayam hasil racikan Pak Karya ini tidak hanya enak, tapi juga bisa menghipnotis pikiran para orang tua masa kini untuk mengenang kembali masa muda mereka di tahun 1970-an, misalnya mengenang kembali nostalgia menikmati jalanan malam di Kota Singaraja ketika dunia berlum dipenuhi internet.

Kamis, 1 Oktober 2021, sepulang dari kantor, sekira pukul 5 sore, saya melintas di Jalan Ahmad Yani Singaraja. Tiba-tiba di pikiran terlintas keinginan untuk menikmati bubur ayam Pak Karya, lalu kendaraan saya arahkan ke Jalan Parkit, di Kawasan Dewi Sartika Utara. Di sudut Jalan Parkit itulah Pak Karya berjualan.   

Keinginan untuk menikmati bubur ayam Pak Karya sudah terbersit sejak beberapa hari lalu, dan hari itu baru kesampaian. Maklum saja, beberapa kali saya selalu gagal menikmati nikmatnya bubur ayam ini, gara-gara Pak Karya sempat tutup beberapa waktu lalu karena harus mengikuti upacara adat di kampungnya.

Dari kejauhan saya melihat beberapa sepeda motor terparkir, mereka antre dengan rapi hanya untuk bisa mencicipi bubur ayam legenda ini. Pak Karya saat itu ditemani oleh anak nomor enamnya, yang bernama Kadek Alit, pria yang berusia 29 tahun.

Terlihat Kadek Alit sangat telaten melayani para pengunjung yang dating. Pria ini sebelumnya pernah bekerja di beberapa distro di Bali Utara, tapi kemudian memutuskan untuk ikut membantu bapaknya, karena kedepannya dia ingin melanjutkan usaha keluarga yang sudah dirintis sejak era tahun 70-an itu.

Pak Karya nampaknya saat itu sedang sibuk melayani beberapa pelanggan, salah satunya adalah Wayan Pasek, warga Desa Gitgit, yang rela menempuh jarak berkilo-kilo hanya untuk menikmati bubur ayam di warung milik Pak Karya.

 “Saya dari Gitgit, turun hanya untuk bisa menikmati bubur ayam ini. Dari sekian warung bubur ayam, hanya di sini yang pas dengan selera saya,” kata Wayan Pasek.

Setelah melayani beberapa pembeli sebelumnya, giliran saya dihampiri Pak Karya.  Saya  sudah duduk menunggu di kursi panjangnya beberapa menit sebelumnya.

“Bapak, buburnya makan di sini atau dibungkus?” Tanya Pak Karya.

 “Makan di sini, Pak,” sahut saya.

Kadek Alit, anak Pak Karya, menyela, “Minumnnya apa, Bli?”

“Nggih, tiang sudah bawa air,” jawab saya sambil menunjukkan satu botol air mineral, bekal saya selama di kantor.

Pak Karya kemudian menyiapkan bubur untuk saya. Diambilnya beberapa sendok bubur dari dalam panci besar yang ada di rombong putihnya. Kepulan asap hangat membumbung dari dalam panci.

 “Diisi kacang kedelai, Pak,” tanyanya sambil tangannya memegang mangkon berisi bubur.

 “Silahkan, Pak, pokoknya yang terbaik!” jawab saya.

Pak Karya menyiapkan bubur untuk pelanggan

Pak Karya nampak meracik bubur itu dengan cekatan, di atas semangkuk bubur itu, ditaburkannya kacang kedelai goreng, dilanjutkan dengan taburan bawang goreng ditambah lagi dengan potongan daun seledri serta diakhiri oleh taburan daging ayam yang sudah di-sitsit atau disuir.

Setelah selesai meracik, Pak Karya menghampiri saya. Hidung saya langsung mencium aroma bubur ayam yang sangat menggugah selera.

Pak Karya lantas mempersilahkan saya untuk menikmatinya, tak lupa dia memberikan saya sambal dan kecap dengan merk legendaris di Bali, Cap Meliwis. Orang menyebutkan kecap meliwis.

Saya bertanya, “Kenapa memakai kecap meliwis, Pak?”

Pak Karya menjawab, “Pernah saya coba ganti ke kecap yang lain, karena saat itu habis, ada pelanggan yang mengeluh, cita rasa buburnya berubah, makanya saya ganti lagi ke kecap meliwis. Sudah dari awal buka warung saya menggunakan kecap ini, rasa bubur ini sudah menyatu dengan rasa kecapnya!”

Cerita Lengkap Pak Karya

Saya menikmati sendok demi sendok bubur hangat itu, perlahan saya rasakan, rasa bubur ini memang khas, rasanya yang lembut, dan juga teksturnya medium, tidak terlalu encer, tidak terlalu kental. Ini membuat saya sangat menikmatinya. Terlebih menikmati bubur ini dengan bakso goreng, menjadikannya lebih mantap, belum lagi rasa sambalnya, nendang dan maknyos, keringat saya mengucur dibuatnya.

Suasana nampak sudah sedikit lengang, Pak Karya duduk di sebelah rombongnya, sambil menikmati suara radio kecil yang dia gantung di sisi warungnya. Memang sejak dulu, dia selalu berjualan dengan ditemani radio transistor.

Suasana lengang ini kesempatan yang baik untuk bisa mengulik lebih dalam lagi cerita menarik di balik perjalanan pria berusia 70 tahun ini.

Bubur Pak Karya yang khas

Sebelumnya saya memperkenalkan diri kepada Pak Karya, dan menyampaikan niatan untuk mencatatkan kisah perjalanan Pak Karya dalam membangun usahanya. Pak Karya sangat senang. Bahkan dia berujar bahwa saya satu-satunya orang yang mendapatan cerita lengkap dari kisah perjalannya. Walaupun dulu pernah usahanya diliput oleh stasiun TV swasta ternama di Bali, namun kisahnya saat itu tidak lengkap.

Tentu kesediaan Pak Karya ini adalah kehormatan bagi saya, sebagai seorang penulis amatir.

Awalnya Tukang masak di Toko Reflek

Pak Karya merupakan pria kelahiran Tirta Gangga, Karangasem. Awalnya tidak pernah terbesit niat untuk jualan bubur ayam, namun jalan hidup seakan mengarahkan dia untuk jadi penjual bubur.

Suatu hari dia mendapatkan kesempatan untuk bekerja menjadi tukang masak di Toko Reflek, sebuah toko perlengkapan kamera dan segala produk turunannya, yang sangat nge-hits di era 60 sampai 70-an di Singaraja. Karena tugasnya selalu di dapur, Pak Karya mendapatkan kesempatan untuk mengetahui beraneka resep yang diberikan oleh sang pemilik toko, yang kebetulan juga berasal dari keluarga keturunan Tionghoa.

Kerja sebagai tukang masak sangat dia syukuri karena selain mendapatkan pengetahun memasak, dia juga bisa mendapatkan nilai etos kerja dari orang keturunan Tionghoa yang terkenal sangat ulet dan tekun dalam menjalankan usaha.

Dengan keterampilan dan pengalamannya, akhhirnya di awal tahun 1970-an, Pak Karya memberanikan  diri untuk membuka usaha Warung Bubur Ayam. Dia menceritakan, dalam perjalannya dari tahun 70-an sampai sekarang, sudah beberapa kali pindah-pindah tempat.

Pernah jualan Jalan Diponogoro, sempat juga depan Pasar Mumbul, lalu di depan Hotel Sentral, kemudian depan Radio RKPD, hingga terakhir di Jalan Parkit. Sudah tak terhitung, berapa kali dia mengganti rombongnya.

Tempat jualan Pak Karya di Jalan Parkit, Singaraja

Saya berusaha terus mendorong Pak Karya untuk merajut kembali memori-memori indah masa lalunya, dan dia terus bercerita dengan sangat antusias.

Cerita pun berlanjut. Pada era 1970-an, banyak anak muda dari berbagai penjuru kota menjadikan warung Pak Karya sebagai tempat nongkrong, tidak hanya pemuda dari sekitaran kota, namun juga pemuda yang berasal dari desa, salah satunya Desa Banyuatis.

“Bahkan karena saking cintanya dengan rasa bubur Pak Karya, anak-anak muda itu rela harus mencuci sendiri mangkoknya untuk bisa dilayani oleh Pak Karya,” kata Pak Karya.. Wajah Pak Karya sangat berbinar mengingat kisah itu, dengan senyumnya yang sangat khas.

Sehari Pak Karya memproduksi dan menghabiskan sekitar 40 mangkok bubur atau satu panci besar. Pada saat sedang laris-larisnya, tidak sedikit pelanggan yang harus gigit jari karena terlambat dating dan tak mendapatkan bubur. Namun dia tetap konsisten, tidak pernah membuat bubur lebih dari satu panci.

“Rejeki sudah ada yang atur, kualitas lebih penting dari kuantitas,” katanya.

Setiap hari dia buka dari jam setengah lima sore sampai habis, maksimal buka sampai jam 10 malam. Harga satu mangkuk bubur ayam Pak Karya dibandrol dengan harga Rp.10.000. Harga yang benar-benar terjangkau.

Menjelang petang, satu persatu pelanggan kembali berdatangan. Saya memesan kembali bubur untuk saya berikan kepada keluarga yang sedang menunggu di rumah. Jam sudah menunjukan pukul 18.30 Wita, saya akhirnya pamit pulang kepada Pak Karya. Pak Karya, lantas meminta saya untuk berkunjung lagi, dan sejak saat itu saya langsung menawarkan diri sebagai pelanggan setianya, Pak Karya’pun tersenyum.[T]

Tags: buburkulinerSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satu Keluarga Telah Lengkap | Cerpen Bulan Nurguna

Next Post

Olah Kulit Kopi Demi Industri Kopi yang Zero Waste

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Olah Kulit Kopi Demi Industri Kopi yang Zero Waste

Olah Kulit Kopi Demi Industri Kopi yang Zero Waste

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co