23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasang Surut Hati Dalam Bacaan Kisah 11 Ibu

Dian Suryantini by Dian Suryantini
March 26, 2022
in Esai
Pasang Surut Hati Dalam Bacaan Kisah 11 Ibu

11 ibu | Foto tatkala.co

Pentas 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung bagi sebagian orang mungkin hanya pentas biasa. Menyihir ibu-ibu yang biasa berkutat sebagai ibu rumah tangga atau wanita karir ke dalam dunia seni peran.

Saya mengikuti beberapa pementasannya, tidak semua. Kemudian saya mengikuti semua kisahnya lewat buku. Sebelum menjadi sebuah buku, kisah-kisah ini dipentaskan secara maraton. Project ini adalah project inspirasi. Project ini lolos kurasi dan dibiayai oleh Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi pada tanggal 21 Apri 2018. Begitu dinyatakan lolos, eksekusi dimulai dengan sutradara Kadek Sonia Piscayanti.

11 kisah yang dibukukan itu merupakan sebuah perjuangan panjang yang dialami seorang perempuan dari masa mudanya hingga berumah tangga. Sedih, haru, bahagia, marah, sangat marah, kebencian dan dendam berkecamuk. Muncul bersamaan di benak saya ketika membaca buku itu. Saya ikut merasakan beratnya jalan hidup mereka.

Menu Hidup Ikhlas Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A – Catatan 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Kemelut dalam kehidupan tak pernah luput menghampiri. Selalu ada celah untuk masuk pada kehidupan mereka. Ajaibnya mereka bisa bertahan. Bisa bergerak maju. Bisa menghadapi dengan santai, dengan senyum. Dan saya tebak dibalik keluwesan itu ada hati yang teriris.

Ada air mata yang harus ditahan agar tak menerobos pertahanan. Berlagak santai tapi gontai. Berlagak manis tapi miris. Ahh, pelik sekali. Saya sebagai penonton dan pembaca turut merasakan yang mereka rasakan. Menonton dan membaca bagi saya adalah dua hal yang berbeda.

Saat saya membaca buku ini, rasanya lebih lengkap, tertata dan terukur. Imajinasi menjadi sangat liar. Membayangkan adegan satu ke adegan lainnya. Serasa menjadi tokoh di setiap ceritanya. Ada 11 kisah, ada pula 11 peran berbeda yang saya “perankan” saat membaca.

Rasa sesak yang dituliskan dengan rangkaian kata juga bisa saya rasakan. Tapi ketika saya menonton pementasan itu, perasaan saya tidak begitu menghayati. Mungkin karena anyak orang. Dan saat membaca saya hanya sendiri. Dalam kamar. Mungkin itu sebabnya saya bebas berimajinasi, berekspresi. Emosi pun terkuras.

Halaman demi halaman saya buka. Sampailah pada kisah Wati. Seorang perempuan yang berprofesi sebagai tukang batu. Entah tukang batu bagaimana yang dia maksud. Yang jelas ia menyebut dirinya perempuan batu. Segala pekerjaan rendah ia kerjakan. Asal bisa hidup dan memenuhi kebutuhan. Mengambil pekerjaan rendah bukan tanpa alasan. Sebab ia dari golongn kurang mampu dan pendidikannya tidak tinggi. Kehidupannya sangat sulit. Terlebih ia hidup sebagai seorang single mom dengan anak-anak. Yang membuat saya miris dan sesak saat membaca kisahnya ketika ia sama sekali tak memiliki sepeser uang. Beras untuk ia dan anak-anaknya makan tak ada.

Kemudian anak Wati yang paling bontot berinisiatif membuat layang-layang sendiri. Lalu layangan itu ia jual. Entah kepada siapa. Namun layangan itu laku. Uangnya ia belikan beras. Ia bawa pulang dan diberikan kepada ibunya, Wati. Anak sekecil itu dengan usia dibawah 10 tahun memiliki inisiatif untuk membeli beras. Bayangkan betapa nestapanya kehidupan mereka. Saya membayangkan jadi Wati. Sedih sekali. Begitu perjuangan Wati bersama anak-anaknya. Berusaha tumbuh tanpa suami. Namun setiap detik yang berlalu dijalani Wati dengan sepenuh hati hingga ia bangkit lagi. Menjadi sosok perempuan kokoh, sekokoh batu yang tak mudah terpecahkan.

Revolusi Seorang INTJ di Panggung Teater — Catatan Jelang Pentas Tini Wahyuni di 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Beranjak lagi saya ke bagian berikutnya. Peran dan kisah yang berbeda. Tetu dengan kemunculan emosi yang berbeda. Tini Wahyuni. Seorang dokter yang gemar melukis. Kisah ini membuat saya tergelitik, sedih dan juga haru. Mengajarkan saya bahwa kedamaian itu indah.

Tapi saya bukanlah seorang Tini Wahyuni yang bisa melakukan itu. Saya akui seorang Tini Wahyuni memiliki hati yang sangat lapang. Bukan memuji. Tapi ini yang saya rasakan setelah membaca kisahnya. Melakukan perceraian dengan damai. Mengakhiri semuanya dengan baik-baik saja. Meski dalam hatinya ada gejolak.

Mungkin bagi sebagian orang ketika akan bercerai, datang ke pengadilan sendiri-sendiri. Tapi tidak berlaku baginya. Mereka datang berdua, berboncengan layaknya suami istri yang harmonis. Pengadilan mengabulkan permohonan cerai mereka. Bagi mereka perpisahan bukanlah akhir tapi awal untuk memulai hal baru.

Dan Tini Wahyuni melakukannya. Ibarat bayi Koala yang digendong induk. Memeluk erat di belakang. Dan ketika ia mulai bertumbuh dan matang maka akan memilih dan memiliki jalannya masing-masing.

Profil 11 Pahlawan dalam 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Yang paling membekas ketika saya baca adalah kisah dari Ibu Simpen. Entah kisah itu nyata atau hanya kiasan tapi jujur saya marah. Emosi saya terkuras saat membaca bagian tertentu. Ketika sampai pada kalimat itu, tak sadar saya berucap kasar dan kotor. Suasana hati tak menentu. Seperti gelombang pasang yang menghempas segala yang teronggok di pesisir.

Sosok laki-laki manipulatif. Sifat yang begitu mejijikkan bagi saya. Jika saya mampu, ingin rasanya langsung mengirimkannya ke Titi Ugal-Agil. Menarik ulur dirinya agar melintasi titi itu lalu melepaskannya dan terjatuh dalam kawah dengan panasnya api neraka. Tersiksalah kau di sana. Tapi saya bukan Tuhan.

Kemarahan saya benar-benar memuncak saat membaca kisah itu. Buku itu saya tutup. Mencoba menenangkan diri dengan meneguk air putih. Sembari megenang apa yang saya baca beberapa menit lalu, saya membayangkan alurnya. Saya menempatkan diri sendiri dalam situasi itu. Saya berkhayal. Kemudian saya ingat meski diperlakukan tidak adil beliau tetap diam. Tidak mengambil tindakan keji. Menunjukkan bahwa diri benar dan bermartabat dengan diam.

Menjadi Ibu dan Menjadikan “Theater of Society” sebagai “Society of Theater”

Begitulah perempuan. Terkadang ia harus diam untuk bertahan. Terkadang ia juga harus bersuara untuk bertahan. Ini hanya soal pilihan. Perempuan juga harus pandai bagaimana meracik sebuah rasa agar keharmonisan dalam keluarga terjaga. Buku ini saya rekomendasikan bagi anda kaum perempuan. Baik yang sudah berumah tangga atau belum. Buku ini pantas dibaca sebagai benteng pertahanan hati menghadapi badai kehidupan. [T]

  • Tulisan ini didedikasikan untuk acara Book Discussion 11 Mothers 11 Souls with Kadek Sonia Piscayanti, Tini Wahyuni dalam acara Mahima March March March di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Sabtu 26 Maret 2022
Tags: ibuKomunitas MahimaMahima March March March 2022PerempuanTeatertetaer perempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Pahlawan Super: Bukan Perkara “Bisakah?”, Tapi “Maukah?”

Next Post

Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha

Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co