2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasang Surut Hati Dalam Bacaan Kisah 11 Ibu

Dian Suryantini by Dian Suryantini
March 26, 2022
in Esai
Pasang Surut Hati Dalam Bacaan Kisah 11 Ibu

11 ibu | Foto tatkala.co

Pentas 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung bagi sebagian orang mungkin hanya pentas biasa. Menyihir ibu-ibu yang biasa berkutat sebagai ibu rumah tangga atau wanita karir ke dalam dunia seni peran.

Saya mengikuti beberapa pementasannya, tidak semua. Kemudian saya mengikuti semua kisahnya lewat buku. Sebelum menjadi sebuah buku, kisah-kisah ini dipentaskan secara maraton. Project ini adalah project inspirasi. Project ini lolos kurasi dan dibiayai oleh Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi pada tanggal 21 Apri 2018. Begitu dinyatakan lolos, eksekusi dimulai dengan sutradara Kadek Sonia Piscayanti.

11 kisah yang dibukukan itu merupakan sebuah perjuangan panjang yang dialami seorang perempuan dari masa mudanya hingga berumah tangga. Sedih, haru, bahagia, marah, sangat marah, kebencian dan dendam berkecamuk. Muncul bersamaan di benak saya ketika membaca buku itu. Saya ikut merasakan beratnya jalan hidup mereka.

Menu Hidup Ikhlas Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A – Catatan 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Kemelut dalam kehidupan tak pernah luput menghampiri. Selalu ada celah untuk masuk pada kehidupan mereka. Ajaibnya mereka bisa bertahan. Bisa bergerak maju. Bisa menghadapi dengan santai, dengan senyum. Dan saya tebak dibalik keluwesan itu ada hati yang teriris.

Ada air mata yang harus ditahan agar tak menerobos pertahanan. Berlagak santai tapi gontai. Berlagak manis tapi miris. Ahh, pelik sekali. Saya sebagai penonton dan pembaca turut merasakan yang mereka rasakan. Menonton dan membaca bagi saya adalah dua hal yang berbeda.

Saat saya membaca buku ini, rasanya lebih lengkap, tertata dan terukur. Imajinasi menjadi sangat liar. Membayangkan adegan satu ke adegan lainnya. Serasa menjadi tokoh di setiap ceritanya. Ada 11 kisah, ada pula 11 peran berbeda yang saya “perankan” saat membaca.

Rasa sesak yang dituliskan dengan rangkaian kata juga bisa saya rasakan. Tapi ketika saya menonton pementasan itu, perasaan saya tidak begitu menghayati. Mungkin karena anyak orang. Dan saat membaca saya hanya sendiri. Dalam kamar. Mungkin itu sebabnya saya bebas berimajinasi, berekspresi. Emosi pun terkuras.

Halaman demi halaman saya buka. Sampailah pada kisah Wati. Seorang perempuan yang berprofesi sebagai tukang batu. Entah tukang batu bagaimana yang dia maksud. Yang jelas ia menyebut dirinya perempuan batu. Segala pekerjaan rendah ia kerjakan. Asal bisa hidup dan memenuhi kebutuhan. Mengambil pekerjaan rendah bukan tanpa alasan. Sebab ia dari golongn kurang mampu dan pendidikannya tidak tinggi. Kehidupannya sangat sulit. Terlebih ia hidup sebagai seorang single mom dengan anak-anak. Yang membuat saya miris dan sesak saat membaca kisahnya ketika ia sama sekali tak memiliki sepeser uang. Beras untuk ia dan anak-anaknya makan tak ada.

Kemudian anak Wati yang paling bontot berinisiatif membuat layang-layang sendiri. Lalu layangan itu ia jual. Entah kepada siapa. Namun layangan itu laku. Uangnya ia belikan beras. Ia bawa pulang dan diberikan kepada ibunya, Wati. Anak sekecil itu dengan usia dibawah 10 tahun memiliki inisiatif untuk membeli beras. Bayangkan betapa nestapanya kehidupan mereka. Saya membayangkan jadi Wati. Sedih sekali. Begitu perjuangan Wati bersama anak-anaknya. Berusaha tumbuh tanpa suami. Namun setiap detik yang berlalu dijalani Wati dengan sepenuh hati hingga ia bangkit lagi. Menjadi sosok perempuan kokoh, sekokoh batu yang tak mudah terpecahkan.

Revolusi Seorang INTJ di Panggung Teater — Catatan Jelang Pentas Tini Wahyuni di 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Beranjak lagi saya ke bagian berikutnya. Peran dan kisah yang berbeda. Tetu dengan kemunculan emosi yang berbeda. Tini Wahyuni. Seorang dokter yang gemar melukis. Kisah ini membuat saya tergelitik, sedih dan juga haru. Mengajarkan saya bahwa kedamaian itu indah.

Tapi saya bukanlah seorang Tini Wahyuni yang bisa melakukan itu. Saya akui seorang Tini Wahyuni memiliki hati yang sangat lapang. Bukan memuji. Tapi ini yang saya rasakan setelah membaca kisahnya. Melakukan perceraian dengan damai. Mengakhiri semuanya dengan baik-baik saja. Meski dalam hatinya ada gejolak.

Mungkin bagi sebagian orang ketika akan bercerai, datang ke pengadilan sendiri-sendiri. Tapi tidak berlaku baginya. Mereka datang berdua, berboncengan layaknya suami istri yang harmonis. Pengadilan mengabulkan permohonan cerai mereka. Bagi mereka perpisahan bukanlah akhir tapi awal untuk memulai hal baru.

Dan Tini Wahyuni melakukannya. Ibarat bayi Koala yang digendong induk. Memeluk erat di belakang. Dan ketika ia mulai bertumbuh dan matang maka akan memilih dan memiliki jalannya masing-masing.

Profil 11 Pahlawan dalam 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Yang paling membekas ketika saya baca adalah kisah dari Ibu Simpen. Entah kisah itu nyata atau hanya kiasan tapi jujur saya marah. Emosi saya terkuras saat membaca bagian tertentu. Ketika sampai pada kalimat itu, tak sadar saya berucap kasar dan kotor. Suasana hati tak menentu. Seperti gelombang pasang yang menghempas segala yang teronggok di pesisir.

Sosok laki-laki manipulatif. Sifat yang begitu mejijikkan bagi saya. Jika saya mampu, ingin rasanya langsung mengirimkannya ke Titi Ugal-Agil. Menarik ulur dirinya agar melintasi titi itu lalu melepaskannya dan terjatuh dalam kawah dengan panasnya api neraka. Tersiksalah kau di sana. Tapi saya bukan Tuhan.

Kemarahan saya benar-benar memuncak saat membaca kisah itu. Buku itu saya tutup. Mencoba menenangkan diri dengan meneguk air putih. Sembari megenang apa yang saya baca beberapa menit lalu, saya membayangkan alurnya. Saya menempatkan diri sendiri dalam situasi itu. Saya berkhayal. Kemudian saya ingat meski diperlakukan tidak adil beliau tetap diam. Tidak mengambil tindakan keji. Menunjukkan bahwa diri benar dan bermartabat dengan diam.

Menjadi Ibu dan Menjadikan “Theater of Society” sebagai “Society of Theater”

Begitulah perempuan. Terkadang ia harus diam untuk bertahan. Terkadang ia juga harus bersuara untuk bertahan. Ini hanya soal pilihan. Perempuan juga harus pandai bagaimana meracik sebuah rasa agar keharmonisan dalam keluarga terjaga. Buku ini saya rekomendasikan bagi anda kaum perempuan. Baik yang sudah berumah tangga atau belum. Buku ini pantas dibaca sebagai benteng pertahanan hati menghadapi badai kehidupan. [T]

  • Tulisan ini didedikasikan untuk acara Book Discussion 11 Mothers 11 Souls with Kadek Sonia Piscayanti, Tini Wahyuni dalam acara Mahima March March March di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Sabtu 26 Maret 2022
Tags: ibuKomunitas MahimaMahima March March March 2022PerempuanTeatertetaer perempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Pahlawan Super: Bukan Perkara “Bisakah?”, Tapi “Maukah?”

Next Post

Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha

Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co