23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Ibu dan Menjadikan “Theater of Society” sebagai “Society of Theater”

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 22, 2021
in Esai
Menjadi Ibu dan Menjadikan “Theater of Society” sebagai “Society of Theater”

11 Ibu pemaian teater di Singaraja sedang melakukan refleksi peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2021

Ibu adalah subjek teater yang tak akan pernah ada habisnya. Dia adalah subjek yang menggerakkan semua energi di rumah. Pagi tadi saya singgah ke rumah Ibu saya, yang sedang berada di dapur, meramu masakan. Saya kadang bertanya, dari empat puluh tahun lalu dia memasak menu buat keluarga, hingga detik ini.

Apakah dia tak bosan? Mengapa selalu bisa dia pertahankan passion memasak itu dengan kualitas yang sama pada rasa masakannya. Mengapa dia tak pernah menunjukkan rasa bosan.

Pasca kehilangan bapak, ibu saya bahkan lebih suntuk di dapur. Dia merasa, itu salah satu hiburan baginya, agar tidak terlalu sedih lagi mengingat Bapak. Tapi tentu, tidak sesederhana itu. Memasak apapun, ingatan soal Bapak pasti tetap ada. Tapi setidaknya memasak adalah cara menunjukkan bahwa dia tetap produktif membuat rasa di dalam keluarga tetap terjaga.

Di hari ibu ini, saya singgah untuk menengok ibu di rumah, tepatnya di dapur, untuk memastikan dia baik-baik saja. Saya selalu tak bisa bersikap sok romantic dengan memberi ibu bunga. Saya bukan tipe itu. Tapi saya hanya hadir, bercerita, menunjukkan sikap ceria dan cerewet seperti biasanya, akrab dan tak berjarak. Tak ada audiens kecuali kami berdua. Seperti teater yang mengalir sederhana saja. Dengan atau tanpa audiens, seorang ibu tetap bekerja. Mengalir saja.

Teater dalam konteks kehidupan seorang ibu saya alami nyata sejak saya menjadi ibu. Tak ada lagi single mind of the self, atau myself yang benar-benar tunggal.  Semua self terhubung, myself, yourself, dan ourselves. Hidup menjadi teknis dan chaotic kadang-kadang. Agenda jadi kompleks, dalam konteks saya sendiri, yang saya pikirkan adalah struktur kerja ibu dalam irisan-irisan kompleksitas diri saya sebagai subjek dalam beberapa hal.

Saya dan suami memiliki peran untuk menghidupkan visi hidup kami sebagai pasangan, sembari menjaga stabilitas pusat-pusat energi lain yang kami kembangkan seperti di Mahima dan Tatkala. Sebagai individupun kami tidak lepas dari keinginan-keinginan sebagai individu yang kadang harus beradaptasi atau berevolusi bahkan kadang berkonfrontasi dengan keinginan keinginan yang lain.

Intinya, sebagai ibu saya berkompromi dengan keadaan, konteks, dan isu yang mempengaruhi saya dan keluarga. Satu mempengaruhi semuanya. Oleh karena itu seorang ibu, secara ideal harus sehat secara fisik dan mental. Kuat dan tangguh di segala cuaca. Diusahakan. Karena di bahunya bertengger beragam tanggung jawab, beragam isu, beragam peristiwa yang harus bijak ia respon.

Teater adalah gerak dengan tujuan. Dengan perspektif itu, para ibu selalu menciptakan teater-teater kecil di rumahnya, teater di dapur, teater di kamar tidur, teater di halaman rumah, teater di kamar mandi, dan bagian rumah lainnya. Jika semua dinding di dalam rumah mampu menyimpan semua kisah para ibu, dan dinding itu kita bisa peras ingatannya dan kita bukukan, maka akan lahir ribuan buku, yang memiliki narasi-narasi personal yang mungkin tidak laku dalam buku-buku sejarah.

Tak ada kemenangan besar dan penaklukan wilayah dan hal-hal yang bersifat pahlawan lainnya, yang ada mungkin omelan-omelan kecil, tagihan yang belum dibayar, pipa bocor, gas yang tiba-tiba habis saat masak, atau garam yang tiba-tiba naik harganya. Tapi itulah teater. Teater off stage adalah teater realitas, teater kenyataan. Inilah yang membuatnya menjadi khusus dan berbeda. Ibu yang selalu menjadi subjek dalam teater off stage atau realitas menjadi merasa tidak perlu tampil dalam teater on stage atau teater panggung yang palsu, karena buat apa. Mereka bukan aktor, mereka bukan penampil. Kisah merekapun mereka anggap tidak ada bagus-bagusnya. Cukup disimpan sendiri saja.

Tapi bagi saya tidak demikian. Justru, teater menjadi dokumentasi bagi kisah-kisah ibu yang terpendam itu. Teater adalah upaya menziarahi kuburan-kuburan ingatan yang ingin dilupakan namun jejaknya tak dapat dihapuskan dari ingatan.

Untuk itulah dalam teater dokumenter yang saya buat di tahun 2018 dan lolos hibah Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi, saya menekankan pentingnya teater sebagai proses mendengar dan membangkitkan empati di antara sesama ibu. Kita kadang tak menyadari bahwa racun-racun emosi terpendam bisa menjadi kontraproduktif jika tidak disalurkan, atau dibicarakan, dibagikan atau bahkan dalam konteks project 11 ibu yang saya usulkan, dipanggungkan.

Beberapa berita tentang pemanggungan sebelas ibu, refleksi dan review jurnalis soal pemanggungan ini ini dapat dibaca di link berikut.

  • https://kumparan.com/kanalbali/11-ibu-11-panggung-dan-11-kisah-dari-singaraja-27431110790553323
  • https://www.nusabali.com/berita/37041/11-ibu-11-panggung-11-kisah-pentas-di-makam-keluarga
Semasih Diberi Waktu – Refleksi Aktor 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah
  • https://baliexpress.jawapos.com/features/18/11/2018/pentas-11-ibu-11-panggung-11-kisah-jadi-hujan-air-mata
Perayaan Hidup Perempuan di Teater 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung

Tujuan pemanggungan ini tidaklah muluk-muluk. Bahkan dia bukanlah tujuan, hanya proses untuk menjadikan perjalanan ibu menjadi bermakna, bukan hanya baginya, namun bagi orang lain. Bagaimana cerita yang biasa-biasa saja baginya menjadi luar biasa bagi orang lain. Itulah tujuan berbagi. Dan kemudian ketika pemanggungan telah usai di tahun 2018, tahun 2019 saya menyusun dokumentasinya. Lalu hadirlah pandemic hampir dua tahun. Baru di ujung tahun ini, saya memberanikan diri meluncurkan buku ini, itupun dengan harapan sederhana saja, agar perjalanan ini tercatat.

Theater of Society dalam konteks tulisan ini soal dokumentasi 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah adalah refleksi masyarakat dalam narasi-narasi kecil di dalamnya yang sesungguhnya narasi kecil itulah yang membentuk narasi besar dalam masyarakat. Di dalam kisah 11 ibu ini ada ibu single parent puluhan tahun, ada ibu profesor yang menjadi penjaga dan penyembuh keluarga, ada tukang batu yang banting tulang untuk anak cucu, ada ibu yang tuli dan bisu yang menjadi pahlawan ekonomi, ada juga seniman yang meninggalkan profesi dokter untuk memilih menjadi manusia seutuhnya, termasuk ada pensiunan bidan, dan banyak ibu lainnya yang tak kalah mengharukan kisahnya.

Dengan dicatatnya perjalanan ini, sebuah narasi lahir, bahwa seorang ibu tak pernah selesai menjadi dirinya, memperbaiki dirinya, menjadi makhluk yang terbaharui dengan pelajaran dan pengalaman baru. Teater adalah sebuah pembelajaran yang memungkinkan mereka belajar dan tak merasa digurui, karena semua adalah guru sekaligus murid bagi yang lainnya.

Dengan terbentuknya theater of society sebagai refleksi masyarakat ia akan menjadi bekal bagi kerja-kerja berikutnya, karya-karya berikutnya, gagasan demi gagasan yang melengkapinya dan yang terhubung dengannya. Jika theater of society ini menjadi sebuah etalase berpikir para ibu, tentunya masyarakat akan terdampak, minimal bagi keluarga dekat mereka. Society of theater atau masyarakat teater akan menjadi sebuah kesadaran bahwa narasi kecil akan terus mendapatkan tempatnya, terus mengukuhkan tempatnya sebagai sumber belajar tanpa henti. Dan itu telah lama bermula, lahir dan tumbuh dari para ibu.

Selamat hari ibu bagi semua ibu. Semoga selalu sehat dan berbahagia. [T]

Tags: Hari IbuTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021

Next Post

Refleksi Politik Akhir Tahun | Kemerosotan Demokrasi

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

Refleksi Politik Akhir Tahun | Kemerosotan Demokrasi

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co