23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Ibu dan Menjadikan “Theater of Society” sebagai “Society of Theater”

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 22, 2021
in Esai
Menjadi Ibu dan Menjadikan “Theater of Society” sebagai “Society of Theater”

11 Ibu pemaian teater di Singaraja sedang melakukan refleksi peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2021

Ibu adalah subjek teater yang tak akan pernah ada habisnya. Dia adalah subjek yang menggerakkan semua energi di rumah. Pagi tadi saya singgah ke rumah Ibu saya, yang sedang berada di dapur, meramu masakan. Saya kadang bertanya, dari empat puluh tahun lalu dia memasak menu buat keluarga, hingga detik ini.

Apakah dia tak bosan? Mengapa selalu bisa dia pertahankan passion memasak itu dengan kualitas yang sama pada rasa masakannya. Mengapa dia tak pernah menunjukkan rasa bosan.

Pasca kehilangan bapak, ibu saya bahkan lebih suntuk di dapur. Dia merasa, itu salah satu hiburan baginya, agar tidak terlalu sedih lagi mengingat Bapak. Tapi tentu, tidak sesederhana itu. Memasak apapun, ingatan soal Bapak pasti tetap ada. Tapi setidaknya memasak adalah cara menunjukkan bahwa dia tetap produktif membuat rasa di dalam keluarga tetap terjaga.

Di hari ibu ini, saya singgah untuk menengok ibu di rumah, tepatnya di dapur, untuk memastikan dia baik-baik saja. Saya selalu tak bisa bersikap sok romantic dengan memberi ibu bunga. Saya bukan tipe itu. Tapi saya hanya hadir, bercerita, menunjukkan sikap ceria dan cerewet seperti biasanya, akrab dan tak berjarak. Tak ada audiens kecuali kami berdua. Seperti teater yang mengalir sederhana saja. Dengan atau tanpa audiens, seorang ibu tetap bekerja. Mengalir saja.

Teater dalam konteks kehidupan seorang ibu saya alami nyata sejak saya menjadi ibu. Tak ada lagi single mind of the self, atau myself yang benar-benar tunggal.  Semua self terhubung, myself, yourself, dan ourselves. Hidup menjadi teknis dan chaotic kadang-kadang. Agenda jadi kompleks, dalam konteks saya sendiri, yang saya pikirkan adalah struktur kerja ibu dalam irisan-irisan kompleksitas diri saya sebagai subjek dalam beberapa hal.

Saya dan suami memiliki peran untuk menghidupkan visi hidup kami sebagai pasangan, sembari menjaga stabilitas pusat-pusat energi lain yang kami kembangkan seperti di Mahima dan Tatkala. Sebagai individupun kami tidak lepas dari keinginan-keinginan sebagai individu yang kadang harus beradaptasi atau berevolusi bahkan kadang berkonfrontasi dengan keinginan keinginan yang lain.

Intinya, sebagai ibu saya berkompromi dengan keadaan, konteks, dan isu yang mempengaruhi saya dan keluarga. Satu mempengaruhi semuanya. Oleh karena itu seorang ibu, secara ideal harus sehat secara fisik dan mental. Kuat dan tangguh di segala cuaca. Diusahakan. Karena di bahunya bertengger beragam tanggung jawab, beragam isu, beragam peristiwa yang harus bijak ia respon.

Teater adalah gerak dengan tujuan. Dengan perspektif itu, para ibu selalu menciptakan teater-teater kecil di rumahnya, teater di dapur, teater di kamar tidur, teater di halaman rumah, teater di kamar mandi, dan bagian rumah lainnya. Jika semua dinding di dalam rumah mampu menyimpan semua kisah para ibu, dan dinding itu kita bisa peras ingatannya dan kita bukukan, maka akan lahir ribuan buku, yang memiliki narasi-narasi personal yang mungkin tidak laku dalam buku-buku sejarah.

Tak ada kemenangan besar dan penaklukan wilayah dan hal-hal yang bersifat pahlawan lainnya, yang ada mungkin omelan-omelan kecil, tagihan yang belum dibayar, pipa bocor, gas yang tiba-tiba habis saat masak, atau garam yang tiba-tiba naik harganya. Tapi itulah teater. Teater off stage adalah teater realitas, teater kenyataan. Inilah yang membuatnya menjadi khusus dan berbeda. Ibu yang selalu menjadi subjek dalam teater off stage atau realitas menjadi merasa tidak perlu tampil dalam teater on stage atau teater panggung yang palsu, karena buat apa. Mereka bukan aktor, mereka bukan penampil. Kisah merekapun mereka anggap tidak ada bagus-bagusnya. Cukup disimpan sendiri saja.

Tapi bagi saya tidak demikian. Justru, teater menjadi dokumentasi bagi kisah-kisah ibu yang terpendam itu. Teater adalah upaya menziarahi kuburan-kuburan ingatan yang ingin dilupakan namun jejaknya tak dapat dihapuskan dari ingatan.

Untuk itulah dalam teater dokumenter yang saya buat di tahun 2018 dan lolos hibah Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi, saya menekankan pentingnya teater sebagai proses mendengar dan membangkitkan empati di antara sesama ibu. Kita kadang tak menyadari bahwa racun-racun emosi terpendam bisa menjadi kontraproduktif jika tidak disalurkan, atau dibicarakan, dibagikan atau bahkan dalam konteks project 11 ibu yang saya usulkan, dipanggungkan.

Beberapa berita tentang pemanggungan sebelas ibu, refleksi dan review jurnalis soal pemanggungan ini ini dapat dibaca di link berikut.

  • https://kumparan.com/kanalbali/11-ibu-11-panggung-dan-11-kisah-dari-singaraja-27431110790553323
  • https://www.nusabali.com/berita/37041/11-ibu-11-panggung-11-kisah-pentas-di-makam-keluarga
Semasih Diberi Waktu – Refleksi Aktor 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah
  • https://baliexpress.jawapos.com/features/18/11/2018/pentas-11-ibu-11-panggung-11-kisah-jadi-hujan-air-mata
Perayaan Hidup Perempuan di Teater 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung

Tujuan pemanggungan ini tidaklah muluk-muluk. Bahkan dia bukanlah tujuan, hanya proses untuk menjadikan perjalanan ibu menjadi bermakna, bukan hanya baginya, namun bagi orang lain. Bagaimana cerita yang biasa-biasa saja baginya menjadi luar biasa bagi orang lain. Itulah tujuan berbagi. Dan kemudian ketika pemanggungan telah usai di tahun 2018, tahun 2019 saya menyusun dokumentasinya. Lalu hadirlah pandemic hampir dua tahun. Baru di ujung tahun ini, saya memberanikan diri meluncurkan buku ini, itupun dengan harapan sederhana saja, agar perjalanan ini tercatat.

Theater of Society dalam konteks tulisan ini soal dokumentasi 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah adalah refleksi masyarakat dalam narasi-narasi kecil di dalamnya yang sesungguhnya narasi kecil itulah yang membentuk narasi besar dalam masyarakat. Di dalam kisah 11 ibu ini ada ibu single parent puluhan tahun, ada ibu profesor yang menjadi penjaga dan penyembuh keluarga, ada tukang batu yang banting tulang untuk anak cucu, ada ibu yang tuli dan bisu yang menjadi pahlawan ekonomi, ada juga seniman yang meninggalkan profesi dokter untuk memilih menjadi manusia seutuhnya, termasuk ada pensiunan bidan, dan banyak ibu lainnya yang tak kalah mengharukan kisahnya.

Dengan dicatatnya perjalanan ini, sebuah narasi lahir, bahwa seorang ibu tak pernah selesai menjadi dirinya, memperbaiki dirinya, menjadi makhluk yang terbaharui dengan pelajaran dan pengalaman baru. Teater adalah sebuah pembelajaran yang memungkinkan mereka belajar dan tak merasa digurui, karena semua adalah guru sekaligus murid bagi yang lainnya.

Dengan terbentuknya theater of society sebagai refleksi masyarakat ia akan menjadi bekal bagi kerja-kerja berikutnya, karya-karya berikutnya, gagasan demi gagasan yang melengkapinya dan yang terhubung dengannya. Jika theater of society ini menjadi sebuah etalase berpikir para ibu, tentunya masyarakat akan terdampak, minimal bagi keluarga dekat mereka. Society of theater atau masyarakat teater akan menjadi sebuah kesadaran bahwa narasi kecil akan terus mendapatkan tempatnya, terus mengukuhkan tempatnya sebagai sumber belajar tanpa henti. Dan itu telah lama bermula, lahir dan tumbuh dari para ibu.

Selamat hari ibu bagi semua ibu. Semoga selalu sehat dan berbahagia. [T]

Tags: Hari IbuTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021

Next Post

Refleksi Politik Akhir Tahun | Kemerosotan Demokrasi

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

Refleksi Politik Akhir Tahun | Kemerosotan Demokrasi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co