2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Ibu dan Menjadikan “Theater of Society” sebagai “Society of Theater”

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 22, 2021
in Esai
Menjadi Ibu dan Menjadikan “Theater of Society” sebagai “Society of Theater”

11 Ibu pemaian teater di Singaraja sedang melakukan refleksi peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2021

Ibu adalah subjek teater yang tak akan pernah ada habisnya. Dia adalah subjek yang menggerakkan semua energi di rumah. Pagi tadi saya singgah ke rumah Ibu saya, yang sedang berada di dapur, meramu masakan. Saya kadang bertanya, dari empat puluh tahun lalu dia memasak menu buat keluarga, hingga detik ini.

Apakah dia tak bosan? Mengapa selalu bisa dia pertahankan passion memasak itu dengan kualitas yang sama pada rasa masakannya. Mengapa dia tak pernah menunjukkan rasa bosan.

Pasca kehilangan bapak, ibu saya bahkan lebih suntuk di dapur. Dia merasa, itu salah satu hiburan baginya, agar tidak terlalu sedih lagi mengingat Bapak. Tapi tentu, tidak sesederhana itu. Memasak apapun, ingatan soal Bapak pasti tetap ada. Tapi setidaknya memasak adalah cara menunjukkan bahwa dia tetap produktif membuat rasa di dalam keluarga tetap terjaga.

Di hari ibu ini, saya singgah untuk menengok ibu di rumah, tepatnya di dapur, untuk memastikan dia baik-baik saja. Saya selalu tak bisa bersikap sok romantic dengan memberi ibu bunga. Saya bukan tipe itu. Tapi saya hanya hadir, bercerita, menunjukkan sikap ceria dan cerewet seperti biasanya, akrab dan tak berjarak. Tak ada audiens kecuali kami berdua. Seperti teater yang mengalir sederhana saja. Dengan atau tanpa audiens, seorang ibu tetap bekerja. Mengalir saja.

Teater dalam konteks kehidupan seorang ibu saya alami nyata sejak saya menjadi ibu. Tak ada lagi single mind of the self, atau myself yang benar-benar tunggal.  Semua self terhubung, myself, yourself, dan ourselves. Hidup menjadi teknis dan chaotic kadang-kadang. Agenda jadi kompleks, dalam konteks saya sendiri, yang saya pikirkan adalah struktur kerja ibu dalam irisan-irisan kompleksitas diri saya sebagai subjek dalam beberapa hal.

Saya dan suami memiliki peran untuk menghidupkan visi hidup kami sebagai pasangan, sembari menjaga stabilitas pusat-pusat energi lain yang kami kembangkan seperti di Mahima dan Tatkala. Sebagai individupun kami tidak lepas dari keinginan-keinginan sebagai individu yang kadang harus beradaptasi atau berevolusi bahkan kadang berkonfrontasi dengan keinginan keinginan yang lain.

Intinya, sebagai ibu saya berkompromi dengan keadaan, konteks, dan isu yang mempengaruhi saya dan keluarga. Satu mempengaruhi semuanya. Oleh karena itu seorang ibu, secara ideal harus sehat secara fisik dan mental. Kuat dan tangguh di segala cuaca. Diusahakan. Karena di bahunya bertengger beragam tanggung jawab, beragam isu, beragam peristiwa yang harus bijak ia respon.

Teater adalah gerak dengan tujuan. Dengan perspektif itu, para ibu selalu menciptakan teater-teater kecil di rumahnya, teater di dapur, teater di kamar tidur, teater di halaman rumah, teater di kamar mandi, dan bagian rumah lainnya. Jika semua dinding di dalam rumah mampu menyimpan semua kisah para ibu, dan dinding itu kita bisa peras ingatannya dan kita bukukan, maka akan lahir ribuan buku, yang memiliki narasi-narasi personal yang mungkin tidak laku dalam buku-buku sejarah.

Tak ada kemenangan besar dan penaklukan wilayah dan hal-hal yang bersifat pahlawan lainnya, yang ada mungkin omelan-omelan kecil, tagihan yang belum dibayar, pipa bocor, gas yang tiba-tiba habis saat masak, atau garam yang tiba-tiba naik harganya. Tapi itulah teater. Teater off stage adalah teater realitas, teater kenyataan. Inilah yang membuatnya menjadi khusus dan berbeda. Ibu yang selalu menjadi subjek dalam teater off stage atau realitas menjadi merasa tidak perlu tampil dalam teater on stage atau teater panggung yang palsu, karena buat apa. Mereka bukan aktor, mereka bukan penampil. Kisah merekapun mereka anggap tidak ada bagus-bagusnya. Cukup disimpan sendiri saja.

Tapi bagi saya tidak demikian. Justru, teater menjadi dokumentasi bagi kisah-kisah ibu yang terpendam itu. Teater adalah upaya menziarahi kuburan-kuburan ingatan yang ingin dilupakan namun jejaknya tak dapat dihapuskan dari ingatan.

Untuk itulah dalam teater dokumenter yang saya buat di tahun 2018 dan lolos hibah Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi, saya menekankan pentingnya teater sebagai proses mendengar dan membangkitkan empati di antara sesama ibu. Kita kadang tak menyadari bahwa racun-racun emosi terpendam bisa menjadi kontraproduktif jika tidak disalurkan, atau dibicarakan, dibagikan atau bahkan dalam konteks project 11 ibu yang saya usulkan, dipanggungkan.

Beberapa berita tentang pemanggungan sebelas ibu, refleksi dan review jurnalis soal pemanggungan ini ini dapat dibaca di link berikut.

  • https://kumparan.com/kanalbali/11-ibu-11-panggung-dan-11-kisah-dari-singaraja-27431110790553323
  • https://www.nusabali.com/berita/37041/11-ibu-11-panggung-11-kisah-pentas-di-makam-keluarga
Semasih Diberi Waktu – Refleksi Aktor 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah
  • https://baliexpress.jawapos.com/features/18/11/2018/pentas-11-ibu-11-panggung-11-kisah-jadi-hujan-air-mata
Perayaan Hidup Perempuan di Teater 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung

Tujuan pemanggungan ini tidaklah muluk-muluk. Bahkan dia bukanlah tujuan, hanya proses untuk menjadikan perjalanan ibu menjadi bermakna, bukan hanya baginya, namun bagi orang lain. Bagaimana cerita yang biasa-biasa saja baginya menjadi luar biasa bagi orang lain. Itulah tujuan berbagi. Dan kemudian ketika pemanggungan telah usai di tahun 2018, tahun 2019 saya menyusun dokumentasinya. Lalu hadirlah pandemic hampir dua tahun. Baru di ujung tahun ini, saya memberanikan diri meluncurkan buku ini, itupun dengan harapan sederhana saja, agar perjalanan ini tercatat.

Theater of Society dalam konteks tulisan ini soal dokumentasi 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah adalah refleksi masyarakat dalam narasi-narasi kecil di dalamnya yang sesungguhnya narasi kecil itulah yang membentuk narasi besar dalam masyarakat. Di dalam kisah 11 ibu ini ada ibu single parent puluhan tahun, ada ibu profesor yang menjadi penjaga dan penyembuh keluarga, ada tukang batu yang banting tulang untuk anak cucu, ada ibu yang tuli dan bisu yang menjadi pahlawan ekonomi, ada juga seniman yang meninggalkan profesi dokter untuk memilih menjadi manusia seutuhnya, termasuk ada pensiunan bidan, dan banyak ibu lainnya yang tak kalah mengharukan kisahnya.

Dengan dicatatnya perjalanan ini, sebuah narasi lahir, bahwa seorang ibu tak pernah selesai menjadi dirinya, memperbaiki dirinya, menjadi makhluk yang terbaharui dengan pelajaran dan pengalaman baru. Teater adalah sebuah pembelajaran yang memungkinkan mereka belajar dan tak merasa digurui, karena semua adalah guru sekaligus murid bagi yang lainnya.

Dengan terbentuknya theater of society sebagai refleksi masyarakat ia akan menjadi bekal bagi kerja-kerja berikutnya, karya-karya berikutnya, gagasan demi gagasan yang melengkapinya dan yang terhubung dengannya. Jika theater of society ini menjadi sebuah etalase berpikir para ibu, tentunya masyarakat akan terdampak, minimal bagi keluarga dekat mereka. Society of theater atau masyarakat teater akan menjadi sebuah kesadaran bahwa narasi kecil akan terus mendapatkan tempatnya, terus mengukuhkan tempatnya sebagai sumber belajar tanpa henti. Dan itu telah lama bermula, lahir dan tumbuh dari para ibu.

Selamat hari ibu bagi semua ibu. Semoga selalu sehat dan berbahagia. [T]

Tags: Hari IbuTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021

Next Post

Refleksi Politik Akhir Tahun | Kemerosotan Demokrasi

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

Refleksi Politik Akhir Tahun | Kemerosotan Demokrasi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co