4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Salah Kaprah Membangun City Brand

Gede Suardana by Gede Suardana
February 19, 2022
in Opini
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Setiap daerah membangun brand untuk membentuk persepsi dan image yang positif di benak publik bagi sebuah kota atau destinasi wisata. Brand untuk sebuah daerah biasa disebut City Brand.

Brand city adalah bagian dari istilah brand. Seperti product brand, personal brand, dan cooporate brand. Tujuannya semua sama, membangun persepsi dan makna di benak publik.

Banyak negara atau kota membangun city brand. Lihat saja negara di dunia, semua berlomba membangun brand negaranya. Korea membangun brand dengan taglinenya “Korean Wave”, atau Malaysia dengan “Truly of Asia”,.

City brand menjadi penting bagi daerah agar menjadi tujuan utama wisata. Lebih penting lagi, daerah wisata itu diharapkan menjadi “top of mind” di benak wisatawan. Jika wisatawan berlibur ke sebuah pulau maka city/daerah, maka tempat itulah yang pertama kali diingat dan dituju.

Salah satu tujuan akhirnya adalah industri pariwisatanya berkembang dan memberikan dampak yang baik bagi kesejahteraan rakyatnya.

Bedah Brand Bangli

Bupati Bangli baru saja meluncurkan city brand, “Bangli The Origin of Bali”. Memperkenalkan brand Bangli bersamaan dengan kebijakan penerapan e-tikecting (17/2).

Begitu brand Bangli diluncurkan riuh kembali terjadi di media sosial. Pro kontra saling bersahutan. Kenapa bisa terjadi pro kontra, ayo kita bedah city brand Bangli, dengan santai.

Peluncuran brand apapun, selalu akan diikuti dengan beberapa brand inventory, seperti logo, tagline, dan jingle. Namun, bukan berarti dengan membuat logo dan tagline maka sudah dianggap membangun city brand. Salah kaprah pertama.

Dari perspektif ilmu branding, logo itu bukan brand. Tagline juga bukan brand. Jingle bukan brand. Itu konsep yang bukan salah tapi pemahaman yang tersesat. Jadi, tagline “Bangli The Origin of Bali” bukan brand. Atau belum bisa menjadi/disebut brand. Baru masih sebatas tagline. Salah kaprah kedua.

Brand adalah makna dan persepsi. Membangun brand adalah membangun makna dan persepsi di benak publik.

Membangun city brand bertujuan agar daerah/kota itu memiliki persepsi yang baik di benak publik. Memiliki makna yang positif di benak publik.

Jika kepala daerah membangun city brand, setelah launching kemudian muncul persepsi negatif terhadap daerahnya maka bisa disebut gagal membangun brand. Salah kaprah ketiga.

Terlebih lagi setelah peluncuran muncul reaksi yang sangat kontras dengan tujuan membangun brand. Peluncuran tagline Bangli (belum bisa disebut brand), muncul reaksi kontras. Peluncuran city brand Bangli diikuti dengan penerapan kebijakan e-ticketing bisa disebut sebagai plan dan strategy brand yang keliru.

Menerapkan aturan memasuki Kintamani dengan restribusi Rp 25 ribu dan Rp 50 ribu ustru memunculkan sentimen daerah lain. Sehingga nantinya akan berpotensi setiap daerah wisata akan berlomba menerapkan aturan yang sama. Hasilnya akan buruk, muncul persaingan antar destinasi wisata. Akhirnya, brand Bangli akan buruk. Brand Bali pun akan menjadi negatif di benak wisatawan domestik dan mancanegara.

DNA City Brand

Selanjutnya, Brand itu harus memiliki value (DNA dan core value) sebuah daerah. Setiap kota/daerah jika ingin membangun brand maka harus menggali DNA agar menjadi city brand yang unik. Satu-satunya.

Menggali value bisa dilakukan dengan riset yang mendalam, mengobservasi untuk memahami perilaku wisatawan apa alasan mereka datang ke sebuah objek wisata. Jadi value itu harus digali kemudian direncanakan dengan baik. Jangan justru terjadi sebaliknya, membuat value seperti mengarang tulisan.

Sekadar contoh cara menggali value. Kintamani lebih dikenal dari pada Bangli. Kintamani dikenal dengan gunung batur yang eksotik. Menyimpan sejarah berkuasanya raja Bali, yaitu Raja Jayapangus. Dan terkenal dengan mitologi kisah cinta antara Jayapangus dengan putri Cina Kang Cing Wei. Kisah cinta itu bisa menjadi value-nya Bangli. Karena cerita itu sangat orisinil. Unik. Satu-satunya di Bali dan Indonesia. Bagaimana value itu dibangkitkan sehingga wisatawan berkunjung ke Kintamani atau Bangli merasakan ikatan emosi/gairah yang sama dengan kisan cinta/romanstime Jayapangus-Kang Cing Wei.

Brand New Mind

Membangun city brand dengan cara-cara old mind sudah tidak relevan lagi di masa era milenial dan digital. Logika brand pun berubah di era new mind.

Jika pada era dulu (baca old mind), ibarat raja, apapun titahnya akan diikuti oleh rakyat. Rakyat loyal pada titah raja.

Namun sekarang kita sudah ada di era milenial dan zilenial. Kebenaran bukan milik sang raja (penguasa) melainkan kaum milenial.

“Daerah saya paling bagus,” kata raja. “Daulat tuanku,” kata milenial di depan sang raja.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kaum milenial tidak akan loyal. Mereka tidak akan datang karena dirasa tidak membuatnya senang dan nyaman. Diam-diam beralih ke daerah wisata lain yang ekosistemnya lebih bagus. Membuatnya lebih nyaman, senang, dan puas. Ekosistem yang baik, maka wisatawan akan menjadi promotor sebuah destinasi wisata.

Bangun City Brand

Kepala daerah berpikir dengan membuat logo sudah dianggap membangun brand. Dengan membuat tagline sudah merasa membangun brand.

Sejatinya membangun brand bukan sekadar membuat logo dan tagline, atau bukan pula sekadar memasukkan logo dan tagline ke benak konsumen.

Membangun city brand lebih dari itu. Tujuan akhirnya (goal-nya) adalah membangun gairah/ikatan emosi. Kemudian mengaktivasinya agar gairah/ikatan emosi sebuah tujuan wisata ke dalam benak wisatawan. Pola pikir, perilaku, dan aktivitas masyarakat dan pemerintah daerah tersebut mewakili value yang disampaikan ke publik. 

BACA JUGA:

  • Taktik Adu Narasi Valentine vs Tumpek Krulut
  • Lombok Disrupsi Bali?
  • Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!
  • “Agility” Bali untuk Lolos dari Disrupsi Pandemi

Jika salah strategi, maka city brand tidak akan membangun ikatan emosi cinta yang kuat justru akan sebaliknya, memutus ikatan emosi yang sebelumnya telah terjalin. Minimal muncul rasa kecewa dibbenak wisatawan. Bagi yang kecewanya lebih berat, wisatawan akan beralih ke daerah wisata lainnya bisa yang membuatnya lebih bahagia.

Membangun city brand yang dilakukan oleh Bangli bisa menjadi pelajaran penting buat daerah lain. Tujuan membangun city brand agar berhasil menimbulkan persepsi dan membangun/membangkikan kemudian ikatan emosi/gairah memasukkannya ke benak wisatawan.

Ini tentang pilihan. Bukan melarang untuk salah. Cuma mengingatkan dan mengkoreksi kesalahan city branding bertahun-tahun, lebih mahal ongkosnya dibandingkan dengan mengawalinya dengan benar. [T]

Singaraja, 19/2/2020

Tags: brandingcity brand
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bukan Kupu-Kupu Malam”, Film Mahasiswa ISI Denpasar, Tak Sekadar Tugas Akhir

Next Post

Bertemu Pak Jam’an dan Keindahan di Taman Sari | Cerita dari Banyuwangi

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Bertemu Pak Jam’an dan Keindahan di Taman Sari | Cerita dari Banyuwangi

Bertemu Pak Jam'an dan Keindahan di Taman Sari | Cerita dari Banyuwangi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co