4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Salah Kaprah Membangun City Brand

Gede Suardana by Gede Suardana
February 19, 2022
in Opini
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Setiap daerah membangun brand untuk membentuk persepsi dan image yang positif di benak publik bagi sebuah kota atau destinasi wisata. Brand untuk sebuah daerah biasa disebut City Brand.

Brand city adalah bagian dari istilah brand. Seperti product brand, personal brand, dan cooporate brand. Tujuannya semua sama, membangun persepsi dan makna di benak publik.

Banyak negara atau kota membangun city brand. Lihat saja negara di dunia, semua berlomba membangun brand negaranya. Korea membangun brand dengan taglinenya “Korean Wave”, atau Malaysia dengan “Truly of Asia”,.

City brand menjadi penting bagi daerah agar menjadi tujuan utama wisata. Lebih penting lagi, daerah wisata itu diharapkan menjadi “top of mind” di benak wisatawan. Jika wisatawan berlibur ke sebuah pulau maka city/daerah, maka tempat itulah yang pertama kali diingat dan dituju.

Salah satu tujuan akhirnya adalah industri pariwisatanya berkembang dan memberikan dampak yang baik bagi kesejahteraan rakyatnya.

Bedah Brand Bangli

Bupati Bangli baru saja meluncurkan city brand, “Bangli The Origin of Bali”. Memperkenalkan brand Bangli bersamaan dengan kebijakan penerapan e-tikecting (17/2).

Begitu brand Bangli diluncurkan riuh kembali terjadi di media sosial. Pro kontra saling bersahutan. Kenapa bisa terjadi pro kontra, ayo kita bedah city brand Bangli, dengan santai.

Peluncuran brand apapun, selalu akan diikuti dengan beberapa brand inventory, seperti logo, tagline, dan jingle. Namun, bukan berarti dengan membuat logo dan tagline maka sudah dianggap membangun city brand. Salah kaprah pertama.

Dari perspektif ilmu branding, logo itu bukan brand. Tagline juga bukan brand. Jingle bukan brand. Itu konsep yang bukan salah tapi pemahaman yang tersesat. Jadi, tagline “Bangli The Origin of Bali” bukan brand. Atau belum bisa menjadi/disebut brand. Baru masih sebatas tagline. Salah kaprah kedua.

Brand adalah makna dan persepsi. Membangun brand adalah membangun makna dan persepsi di benak publik.

Membangun city brand bertujuan agar daerah/kota itu memiliki persepsi yang baik di benak publik. Memiliki makna yang positif di benak publik.

Jika kepala daerah membangun city brand, setelah launching kemudian muncul persepsi negatif terhadap daerahnya maka bisa disebut gagal membangun brand. Salah kaprah ketiga.

Terlebih lagi setelah peluncuran muncul reaksi yang sangat kontras dengan tujuan membangun brand. Peluncuran tagline Bangli (belum bisa disebut brand), muncul reaksi kontras. Peluncuran city brand Bangli diikuti dengan penerapan kebijakan e-ticketing bisa disebut sebagai plan dan strategy brand yang keliru.

Menerapkan aturan memasuki Kintamani dengan restribusi Rp 25 ribu dan Rp 50 ribu ustru memunculkan sentimen daerah lain. Sehingga nantinya akan berpotensi setiap daerah wisata akan berlomba menerapkan aturan yang sama. Hasilnya akan buruk, muncul persaingan antar destinasi wisata. Akhirnya, brand Bangli akan buruk. Brand Bali pun akan menjadi negatif di benak wisatawan domestik dan mancanegara.

DNA City Brand

Selanjutnya, Brand itu harus memiliki value (DNA dan core value) sebuah daerah. Setiap kota/daerah jika ingin membangun brand maka harus menggali DNA agar menjadi city brand yang unik. Satu-satunya.

Menggali value bisa dilakukan dengan riset yang mendalam, mengobservasi untuk memahami perilaku wisatawan apa alasan mereka datang ke sebuah objek wisata. Jadi value itu harus digali kemudian direncanakan dengan baik. Jangan justru terjadi sebaliknya, membuat value seperti mengarang tulisan.

Sekadar contoh cara menggali value. Kintamani lebih dikenal dari pada Bangli. Kintamani dikenal dengan gunung batur yang eksotik. Menyimpan sejarah berkuasanya raja Bali, yaitu Raja Jayapangus. Dan terkenal dengan mitologi kisah cinta antara Jayapangus dengan putri Cina Kang Cing Wei. Kisah cinta itu bisa menjadi value-nya Bangli. Karena cerita itu sangat orisinil. Unik. Satu-satunya di Bali dan Indonesia. Bagaimana value itu dibangkitkan sehingga wisatawan berkunjung ke Kintamani atau Bangli merasakan ikatan emosi/gairah yang sama dengan kisan cinta/romanstime Jayapangus-Kang Cing Wei.

Brand New Mind

Membangun city brand dengan cara-cara old mind sudah tidak relevan lagi di masa era milenial dan digital. Logika brand pun berubah di era new mind.

Jika pada era dulu (baca old mind), ibarat raja, apapun titahnya akan diikuti oleh rakyat. Rakyat loyal pada titah raja.

Namun sekarang kita sudah ada di era milenial dan zilenial. Kebenaran bukan milik sang raja (penguasa) melainkan kaum milenial.

“Daerah saya paling bagus,” kata raja. “Daulat tuanku,” kata milenial di depan sang raja.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kaum milenial tidak akan loyal. Mereka tidak akan datang karena dirasa tidak membuatnya senang dan nyaman. Diam-diam beralih ke daerah wisata lain yang ekosistemnya lebih bagus. Membuatnya lebih nyaman, senang, dan puas. Ekosistem yang baik, maka wisatawan akan menjadi promotor sebuah destinasi wisata.

Bangun City Brand

Kepala daerah berpikir dengan membuat logo sudah dianggap membangun brand. Dengan membuat tagline sudah merasa membangun brand.

Sejatinya membangun brand bukan sekadar membuat logo dan tagline, atau bukan pula sekadar memasukkan logo dan tagline ke benak konsumen.

Membangun city brand lebih dari itu. Tujuan akhirnya (goal-nya) adalah membangun gairah/ikatan emosi. Kemudian mengaktivasinya agar gairah/ikatan emosi sebuah tujuan wisata ke dalam benak wisatawan. Pola pikir, perilaku, dan aktivitas masyarakat dan pemerintah daerah tersebut mewakili value yang disampaikan ke publik. 

BACA JUGA:

  • Taktik Adu Narasi Valentine vs Tumpek Krulut
  • Lombok Disrupsi Bali?
  • Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!
  • “Agility” Bali untuk Lolos dari Disrupsi Pandemi

Jika salah strategi, maka city brand tidak akan membangun ikatan emosi cinta yang kuat justru akan sebaliknya, memutus ikatan emosi yang sebelumnya telah terjalin. Minimal muncul rasa kecewa dibbenak wisatawan. Bagi yang kecewanya lebih berat, wisatawan akan beralih ke daerah wisata lainnya bisa yang membuatnya lebih bahagia.

Membangun city brand yang dilakukan oleh Bangli bisa menjadi pelajaran penting buat daerah lain. Tujuan membangun city brand agar berhasil menimbulkan persepsi dan membangun/membangkikan kemudian ikatan emosi/gairah memasukkannya ke benak wisatawan.

Ini tentang pilihan. Bukan melarang untuk salah. Cuma mengingatkan dan mengkoreksi kesalahan city branding bertahun-tahun, lebih mahal ongkosnya dibandingkan dengan mengawalinya dengan benar. [T]

Singaraja, 19/2/2020

Tags: brandingcity brand
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bukan Kupu-Kupu Malam”, Film Mahasiswa ISI Denpasar, Tak Sekadar Tugas Akhir

Next Post

Bertemu Pak Jam’an dan Keindahan di Taman Sari | Cerita dari Banyuwangi

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails
Next Post
Bertemu Pak Jam’an dan Keindahan di Taman Sari | Cerita dari Banyuwangi

Bertemu Pak Jam'an dan Keindahan di Taman Sari | Cerita dari Banyuwangi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co