15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Salah Kaprah Membangun City Brand

Gede Suardana by Gede Suardana
February 19, 2022
in Opini
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Setiap daerah membangun brand untuk membentuk persepsi dan image yang positif di benak publik bagi sebuah kota atau destinasi wisata. Brand untuk sebuah daerah biasa disebut City Brand.

Brand city adalah bagian dari istilah brand. Seperti product brand, personal brand, dan cooporate brand. Tujuannya semua sama, membangun persepsi dan makna di benak publik.

Banyak negara atau kota membangun city brand. Lihat saja negara di dunia, semua berlomba membangun brand negaranya. Korea membangun brand dengan taglinenya “Korean Wave”, atau Malaysia dengan “Truly of Asia”,.

City brand menjadi penting bagi daerah agar menjadi tujuan utama wisata. Lebih penting lagi, daerah wisata itu diharapkan menjadi “top of mind” di benak wisatawan. Jika wisatawan berlibur ke sebuah pulau maka city/daerah, maka tempat itulah yang pertama kali diingat dan dituju.

Salah satu tujuan akhirnya adalah industri pariwisatanya berkembang dan memberikan dampak yang baik bagi kesejahteraan rakyatnya.

Bedah Brand Bangli

Bupati Bangli baru saja meluncurkan city brand, “Bangli The Origin of Bali”. Memperkenalkan brand Bangli bersamaan dengan kebijakan penerapan e-tikecting (17/2).

Begitu brand Bangli diluncurkan riuh kembali terjadi di media sosial. Pro kontra saling bersahutan. Kenapa bisa terjadi pro kontra, ayo kita bedah city brand Bangli, dengan santai.

Peluncuran brand apapun, selalu akan diikuti dengan beberapa brand inventory, seperti logo, tagline, dan jingle. Namun, bukan berarti dengan membuat logo dan tagline maka sudah dianggap membangun city brand. Salah kaprah pertama.

Dari perspektif ilmu branding, logo itu bukan brand. Tagline juga bukan brand. Jingle bukan brand. Itu konsep yang bukan salah tapi pemahaman yang tersesat. Jadi, tagline “Bangli The Origin of Bali” bukan brand. Atau belum bisa menjadi/disebut brand. Baru masih sebatas tagline. Salah kaprah kedua.

Brand adalah makna dan persepsi. Membangun brand adalah membangun makna dan persepsi di benak publik.

Membangun city brand bertujuan agar daerah/kota itu memiliki persepsi yang baik di benak publik. Memiliki makna yang positif di benak publik.

Jika kepala daerah membangun city brand, setelah launching kemudian muncul persepsi negatif terhadap daerahnya maka bisa disebut gagal membangun brand. Salah kaprah ketiga.

Terlebih lagi setelah peluncuran muncul reaksi yang sangat kontras dengan tujuan membangun brand. Peluncuran tagline Bangli (belum bisa disebut brand), muncul reaksi kontras. Peluncuran city brand Bangli diikuti dengan penerapan kebijakan e-ticketing bisa disebut sebagai plan dan strategy brand yang keliru.

Menerapkan aturan memasuki Kintamani dengan restribusi Rp 25 ribu dan Rp 50 ribu ustru memunculkan sentimen daerah lain. Sehingga nantinya akan berpotensi setiap daerah wisata akan berlomba menerapkan aturan yang sama. Hasilnya akan buruk, muncul persaingan antar destinasi wisata. Akhirnya, brand Bangli akan buruk. Brand Bali pun akan menjadi negatif di benak wisatawan domestik dan mancanegara.

DNA City Brand

Selanjutnya, Brand itu harus memiliki value (DNA dan core value) sebuah daerah. Setiap kota/daerah jika ingin membangun brand maka harus menggali DNA agar menjadi city brand yang unik. Satu-satunya.

Menggali value bisa dilakukan dengan riset yang mendalam, mengobservasi untuk memahami perilaku wisatawan apa alasan mereka datang ke sebuah objek wisata. Jadi value itu harus digali kemudian direncanakan dengan baik. Jangan justru terjadi sebaliknya, membuat value seperti mengarang tulisan.

Sekadar contoh cara menggali value. Kintamani lebih dikenal dari pada Bangli. Kintamani dikenal dengan gunung batur yang eksotik. Menyimpan sejarah berkuasanya raja Bali, yaitu Raja Jayapangus. Dan terkenal dengan mitologi kisah cinta antara Jayapangus dengan putri Cina Kang Cing Wei. Kisah cinta itu bisa menjadi value-nya Bangli. Karena cerita itu sangat orisinil. Unik. Satu-satunya di Bali dan Indonesia. Bagaimana value itu dibangkitkan sehingga wisatawan berkunjung ke Kintamani atau Bangli merasakan ikatan emosi/gairah yang sama dengan kisan cinta/romanstime Jayapangus-Kang Cing Wei.

Brand New Mind

Membangun city brand dengan cara-cara old mind sudah tidak relevan lagi di masa era milenial dan digital. Logika brand pun berubah di era new mind.

Jika pada era dulu (baca old mind), ibarat raja, apapun titahnya akan diikuti oleh rakyat. Rakyat loyal pada titah raja.

Namun sekarang kita sudah ada di era milenial dan zilenial. Kebenaran bukan milik sang raja (penguasa) melainkan kaum milenial.

“Daerah saya paling bagus,” kata raja. “Daulat tuanku,” kata milenial di depan sang raja.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kaum milenial tidak akan loyal. Mereka tidak akan datang karena dirasa tidak membuatnya senang dan nyaman. Diam-diam beralih ke daerah wisata lain yang ekosistemnya lebih bagus. Membuatnya lebih nyaman, senang, dan puas. Ekosistem yang baik, maka wisatawan akan menjadi promotor sebuah destinasi wisata.

Bangun City Brand

Kepala daerah berpikir dengan membuat logo sudah dianggap membangun brand. Dengan membuat tagline sudah merasa membangun brand.

Sejatinya membangun brand bukan sekadar membuat logo dan tagline, atau bukan pula sekadar memasukkan logo dan tagline ke benak konsumen.

Membangun city brand lebih dari itu. Tujuan akhirnya (goal-nya) adalah membangun gairah/ikatan emosi. Kemudian mengaktivasinya agar gairah/ikatan emosi sebuah tujuan wisata ke dalam benak wisatawan. Pola pikir, perilaku, dan aktivitas masyarakat dan pemerintah daerah tersebut mewakili value yang disampaikan ke publik. 

BACA JUGA:

  • Taktik Adu Narasi Valentine vs Tumpek Krulut
  • Lombok Disrupsi Bali?
  • Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!
  • “Agility” Bali untuk Lolos dari Disrupsi Pandemi

Jika salah strategi, maka city brand tidak akan membangun ikatan emosi cinta yang kuat justru akan sebaliknya, memutus ikatan emosi yang sebelumnya telah terjalin. Minimal muncul rasa kecewa dibbenak wisatawan. Bagi yang kecewanya lebih berat, wisatawan akan beralih ke daerah wisata lainnya bisa yang membuatnya lebih bahagia.

Membangun city brand yang dilakukan oleh Bangli bisa menjadi pelajaran penting buat daerah lain. Tujuan membangun city brand agar berhasil menimbulkan persepsi dan membangun/membangkikan kemudian ikatan emosi/gairah memasukkannya ke benak wisatawan.

Ini tentang pilihan. Bukan melarang untuk salah. Cuma mengingatkan dan mengkoreksi kesalahan city branding bertahun-tahun, lebih mahal ongkosnya dibandingkan dengan mengawalinya dengan benar. [T]

Singaraja, 19/2/2020

Tags: brandingcity brand
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bukan Kupu-Kupu Malam”, Film Mahasiswa ISI Denpasar, Tak Sekadar Tugas Akhir

Next Post

Bertemu Pak Jam’an dan Keindahan di Taman Sari | Cerita dari Banyuwangi

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post
Bertemu Pak Jam’an dan Keindahan di Taman Sari | Cerita dari Banyuwangi

Bertemu Pak Jam'an dan Keindahan di Taman Sari | Cerita dari Banyuwangi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co