14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lombok Disrupsi Bali?

Gede Suardana by Gede Suardana
February 13, 2022
in Opini
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

LOMBOK. Pulau putri Mandalika yang kecil nan indah, yang berdampingan dengan Bali tiba-tiba menjadi perbincangan dunia. Bali seolah menghilang.

Sejak kedatangan para pembalap MotoGP, seperti juara dunia delapan kali asal Spanyol Marc Marquez bersama adiknya Alex dan kawan-kawan, Lombok mendapatkan perhatian besar dari masyarakat dunia.

Mereka pun seolah tersihir dengan keindahan alam Lombok. Sirkuit sepanjang 4,31 km yang terbentang luas di tepi pantai dikelilingi bukti nan indah di Mandalika seolah melupakan tugasnya sebagai pembalap. Seolah bingung apakah ia sedang balapan atau berlibur di Mandalika, Lombok.

Simak saja kekhawatiran legenda motoGP asal Australia Mick Doohan. Juara dunia lima kali bersama Honda ketika menengok pembangunan sirkuit Mandalika pernah berseloroh bahwa Ia takut pembalap MotoGP tidak bisa membedakan balapan dengan liburan. “Saya takut pembalap tidak bisa membedakan mana balap, mana liburan. Karena konsep sirkuit ini bisa dibilang wisata balapan”.

Ketakutan jawara MotopGP ini pun menjadi kenyataan. Para juniornya asik menikmati keindahan Lombok. Berlibur menikmati pantai berpasir putih. Menikmati kelapa muda. “Selfie” di atas bukit. Aktivitas berlibur itu dilakukan di sela-sela tugasnya menguji motor balap untuk persiapan kompetisi balapan 2022.

“In love with this pleace Indonesia,” celoteh Marquez di akunnya.

Seketika aktivitas Marc Marquez bersama kompetitornya berlibur sambil balapan pun mewabah ke seluruh dunia dalam sekejap. Lombok mendadak menjadi perbincangan hangat dunia.

Pada saat Lombok menjadi percakapan di seluruh dunia di media sosial, Bali menghilang. Keindahan alam, keunikan tradisi dan budaya, tak cukup kuat bagi Bali untuk menjadi percakapan. Itu semua karena pandemi Covid-19.

Agility Bali

Perubahan itu kekal. Siapa yang tidak lincah, lentur, adaptif akan tergilas oleh perubahan. Era disrupsi pandemi bersamaan dengan disrupsi digital dan milenial mempercepat proses perubahan itu.

Disrupsi pandemi dalam waktu dua tahun dengan sekejap menggilas hampir semua aspek kehidupan. Bagi kita yang tidak memiliki kelincahan (agility) akan menjadi kenangan.

Bali memang telah memiliki daya tahan yang kuat untuk tetap bertahan dari berbagai bencana. Bom Bali I dan II (2002-2005) yang memakan ratusan korban jiwa warga Bali, wisatawan domestik dan mancanegara tidak menggoyahkan pulau dewata.

Sebaliknya, rasa solidaritas bergema di seluruh dunia. Dunia semakin sayang Bali, cinta Bali. “We love Bali,” begitu kata dunia pasca tragedi kemanusiaan yang meluluhlantakkan pusat sekaligus denyut nadi pariwisata Bali, Kuta.

Hanya saja situasi saat ini beda. Hantaman terhadap pariwisata Bali di era pandemi  berbeda dengan aksi serangan teroris ketika itu.

Era pandemi tidak hanya menuntut daya tahan tinggi tapi kelincahan (agility) yang luar biasa. Gerak yang lentur dan serta adaptasi yang tinggi.

Bagi yang postrunya kaku akan susah bergerak jika terlambat melakukan perubahan (pivot) maka seketika menghilang. Lihat saja nasib perusahaan brand besar di era pandemi banyak yang bertumbangan. Itu karena ia tidak memiliki agility.  Susah melakukan pivot karena strukturnya yang terlanjur sangat besar, kokoh, dan kaku.

Bali pun begitu. Ancaman itu nyata di depan mata. Struktur dan pondasi pariwisata Bali yang besar dan kokoh bisa berbalik menjadi kelemahan. Infrastruktur pariwisata Bali sudah mapan, baik hotel serta daya dukungnya jika tidak digerakkan bersama maka akan menjadi bumerang. Jika tidak dapat  beradaptasi dengan era disrupsi pandemi, Bali (masyarakat dan pemerintah) tidak memiliki kelincahan dan adaptasi yang tinggi (agility) maka akan bisa bernasib sama dengan brand besar di dunia. Terlupakan oleh dunia  kemudian lenyap.  

“Brand Positioning” Bali dan Lombok

Harapan itu masih ada. Lombok dan Bali berdampingan. Satu sama lain saling bergantungan dan memberi manfaat.

Bali sejatinya jangan berkecil hati. Masyarakat Bali tidak boleh cemburu. Atau menyesali telah mengabaikan kesempatan memiliki sirkuit balapan bertaraf kelas dunia, formula one (F1) atau motoGP.

Dahulu sebelum turis datang, Bali telah memiliki value yang kuat. Tradisi dan budaya manusianya, alamnya yang unik dan indah adalah value Bali, yang satu-satunya ada di dunia.

Value (DNA dan core value) Bali dibangun menjadi semakin kuat oleh cerita dari novel serta lukisan para seniman semacam Walter Spies (bersama I Wayan Limbak membuat tari kecaknya), Antonio Blanco, Le Mayeur. Dan hasil-hasil riset arkeolog dan anteopolog yang dibukukan, misalnya oleh David J Stuart-Fox (melalui bukunya berjudul Pura Besakih), Roelof Goris, dan lainnya.

Bali kemudian dikenal dengan beragam sebutan. Bali pulau surga. Pulau seribu pura. Pulau dewata. Value (DNA dan core value) itulah yang menjadi “brand positioning” Bali.

Bali pun menjadi satu-satunya dunia. Tidak ada yang bisa menandingi. Menjadi “The one and the only”.

Turis pun yang pertama kali menjejakkan kaki di Bali akan merasakan gairah/ikatan emosi yang kuat seolah ia berada di surga dunia. Terpatri kuat di dalam benaknya. Bali berada pada posisi paling atas dalam kategori destinasi wisata dunia. Bali telah menjadi top of mind wisatawan seluruh dunia. Itu dulu.

DNA Balap Lombok

Lombok dari dulu berusaha membangun industri pariwisata. Namun belum dapat didorong secara maksimal.

Kini, dengan keberadaan sirkuit balap Mandalika, Lombok telah memiliki value (DNA dan core value) yang unik dan kuat. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk membangun Brand Lombok sebagai destinasi wisata yang unik dan satu-satunya di dunia.

Lombok saat ini tengah menjadi perbincangan dunia. Para pembalap MotoGP Marc Marquez dan lainnya telah menyebarkan Lombok ke seantero dunia. Penyebarannya melalui media sosial. Dalam sekejap dan masif, aksi mereka menikmati keindahan dan keunikan Lombok sekaligus adrenalin balapan ditonton jutaan kepala masyarakat dunia melalui unggahan status dan insta story di media sosial.

Pemerintah Lombok mesti segera dengan cepat menangkap peluang kehadiran para pembalap MotoGP. Ciutan soal aktivitas mereka di media sosial yang kagum dengan keunikan dan keindahan alam Lombok berbarengan dengan aktivitas menguji dan mencari setingan motor terbaik untuk kompetisi 2022 telah membentuk value Lombok menjadi unik.

Lombok kini telah memiliki DNA sebagai pulau yang membangkitkan adrenalin balap di dunia. Core value-nya berupa keindahan alam dan keunikan aktivitas manusianya.

Pembalap dunia langsung merasakan sensasi yang berbeda ketika membalap di Lombok dibandingan dengan sirkuit di belahan dunia lainnya.

Marc Marquez seolah telah memiliki gairah dan adrenalin yang berbeda ketika membalap di Lombok. Ia telah memiliki ikatan emosi yang kuat terhadap Lombok.

Screenshoot instagram.com

Evoke List

Virus gairah/ikatan emosi juara dunia delapan kali itu bersama pembalap lainnya akan menjalar bak virus ke seluruh penggemarnya (baca followers) di seluruh dunia. Orang-orang di dunia, yang tak suka balap pun sekarang tahu Lombok. Secara perlahan, juta pengikutnya akan memiliki gairah/ikatan emosi yang sama terhadap Lombok seperti idolanya.

Ini pertanda, branding Lombok telah masuk ke dalam evoke list. Evoke list adalah daftar “imagery” yang ada dalam benak calon konsumen terhadap sebuah market category. Sementara invoke adalah menciptakan gairah/ikatan emosi ke dalam benak. Invoke the evoke list adalah aktivitas menimbulkan gairah/ikatan emosi ke dalam daftar “imagery” yang ada dalam benak calon konsumen dalam market category.

Simak saja kata pembalap tentang sirkuit di Mandalika, Lombok. “Primer dia de test en el Mandalika Circuit (First day of test at the Mandalika Circuit!),” celoteh @marcmarquez93 “@sirkuitmandalika on fire, i enjoy so much out there,” sambut @maverick12official.

Singkatnya, Marc Marquez dan pembalap telah menciptakan sebuah gairah/ikatan emosi bahwa Lombok sebagai pulau balapan nan indah. Dengan authority Marc Marquez yang kuat, gairah/ikatan emosi inilah yang akan masuk ke dalam benak wisatawan seluruh dunia dalam “market category” destinasi wisata dunia.

  • BACA JUGA: Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Virus dan gairah/ikatan emosi tersebut harus ditangkap dengan cepat oleh pemerintah (pusat dan daerah serta masyarakat Lombok). Pemerintah secepatnya membangun Branding Lombok. Melakukan strategi agar branding Lombok masuk ke dalam “evoke list”. Gairah/ikatan emosinya dengan Lombok masuk ke dalam benak wisatawan.

Seperti kata praktisi brand Subiakto, membangun brand tidak sekadar memasukkan logo dan merek ke dalam benak konsumen, tetapi memasukkan gairah/ikatan emosi ke dalam evoke list yang ada dalam benak calon konsumen.

Membangun strategi branding untuk dapat memasukan gairah/ikatan emosi (yang dirasakan Marc Marques dkk) ke dalam benak calon wisatawan dunia. Sehingga mereka bisa merasakan sensasi, gairah/ikatan emosi yang sama dengan Marc Marquez dkk.

Jika berhasil membangun Brand Lombok sebagai The Speed of Island kemudian ada di posisi pertama (dalam benak calon wisatawan) maka Lombok akan menjadi Top of mind di benak wisatawan. Hanya satu-satunya di dunia (the one dan the only).

Daily Influencer/Voluntourism

Bali yang berdampingan dengan Lombok memiliki potensi terdisrupsi paling cepat. Namun jika Bali memiliki “agility” maka akan selamat dari disrupsi.

Sembari menunggu pandemi berlalu dan menanti kebijakan pemerintah, Saya tawarkan beberapa langkah sederhana untuk membangun brand Bali dengan value (DNA dan core value) pulau surga.

Bali tidak bisa hanya mengandalkan momentum G-20 untuk membangkitkan pariwisata Bali. Itu pola pikir taktikal. Pola pikir lama atau disebut old mind. Sudah tidak lagi relevan di era disrupsi pandemi, digital, dan milenial saat ini. Tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Bali masih minus 2,47 persen. Bali masih menderita akibat pariwisata dihantam pandemi. Pemerintah Bali cepat berpikir yang strategik membangun pariwisata Bali  dalam jangka panjang.

Bermodalkan “brand positioning” yang kuat, masyarakat Bali mesti mulai segera membangun authority-nya sendiri dengan memanfaatkan media sosial. Menjadikan diri sendiri sebagai media untuk mempromosikan Bali. Meminjam istilah Darma Putra dalam akun @idarmaputra, masyarakat Bali secara serempak menjadi sukarelawan (volunteer tourism disingkat voluntourism) untuk melakukan volunteer promotion (volunpromotion).

“Posting foto diri menikmati produk di sebuah ameniti adalah salah satu contoh volunpromotion,” ciut @idarmaputra.

Nah, segera dan mulai sekarang, semua masyarakat Bali  berlomba membuat konten yang “Heavenly” tentang Bali. Menggugah kemudian melakukan “repost” dan “coment” saling bersahutan.

Cara inilah yang disebut dengan membangun “authority” dengan menjadi “daily influencer”. “Authority akan timbul ketika kita dipercaya oleh para pengikut (follower). Sehingga apapun yang kita lakukan, akan “digugu” dan “ditiru” oleh follower,” kata pakar brand indonesia Subiakto dalam akun @Subiakto.

Caranya, buatlah konten yang mengandung unsur “Heavenly” tentang Bali. Bali sudah istagramable. Tentunya dengan kreativitas yang tinggi mudah untuk membuatnya.

Jangan lupa juga menjaga taksu Bali. Membersihkan, memperbaiki lingkungan yang rusak. Mengubah perilaku yang tidak relevan dengan spirit “heavenly”. Jangan membuat taksu Bali ternoda. Pura jangan dinodai. Tari sakral jangan dipertontonkan hanya untuk mengeruk dolar. Filosofi Tri Hita Karana lakukan dengan nyata. Tak cuma menjadi kata indah.

Kemudian unggahlah aktivitas itu setiap hari, konsisten, penuhi jejak digital kita dengan keindahan alam dan budaya Bali. Bayangkan jika tiga juta penduduk Bali mengunggah aktivitasnya berlatar keindahan alam, budaya, tradisi, objek wisata, hotel, restoran, dan kuliner setiap hari kemudian diberi “like” dan “coment” oleh “follower” maka akan menjadi percakapan yang luar biasa di media sosial. Dibaca dan ditonton seantero negara di dunia.

Langkah ini sebenarnya telah banyak disumbangkan oleh wisatawan yang berlibur ke Bali. Lihat saja postingan wisatawan yang pernah berlibur ke Bali. Sekarang dengan tidak adanya mereka di Bali, maka menjadi tanggungjawab sendiri masyarakat Bali.

Dengan “brand positioning” yang kuat, menjadi voluntourism akan membantu menyelamatkan Bali dari disrupsi dalam kategori destinasi wisata dunia.

Lakukan langkah kecil segera agar Bali tetap menjadi percakapan masyarakat dunia. Tetap diingat dalam benak “top of mind” wisatawan dunia. Jika enggan berbuat, maka pelan tapi pasti, niscaya brand Bali akan terdisrupsi oleh brand Lombok. Lombok menjadi Top of Mind di benak wisatawan. Lombok menjadi “The One and The Only”. Sementara, Bali akan menjadi pilihan berikutnya.

Jangan sampai menyesal! [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Pranita Dewi | Episode, Melingkar, Ding

Next Post

PRASASTI-PRASASTI BESAR ADITYAWARMAN DARI TANAH MINANGKABAU

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

PRASASTI-PRASASTI BESAR ADITYAWARMAN DARI TANAH MINANGKABAU

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co