15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lombok Disrupsi Bali?

Gede Suardana by Gede Suardana
February 13, 2022
in Opini
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

LOMBOK. Pulau putri Mandalika yang kecil nan indah, yang berdampingan dengan Bali tiba-tiba menjadi perbincangan dunia. Bali seolah menghilang.

Sejak kedatangan para pembalap MotoGP, seperti juara dunia delapan kali asal Spanyol Marc Marquez bersama adiknya Alex dan kawan-kawan, Lombok mendapatkan perhatian besar dari masyarakat dunia.

Mereka pun seolah tersihir dengan keindahan alam Lombok. Sirkuit sepanjang 4,31 km yang terbentang luas di tepi pantai dikelilingi bukti nan indah di Mandalika seolah melupakan tugasnya sebagai pembalap. Seolah bingung apakah ia sedang balapan atau berlibur di Mandalika, Lombok.

Simak saja kekhawatiran legenda motoGP asal Australia Mick Doohan. Juara dunia lima kali bersama Honda ketika menengok pembangunan sirkuit Mandalika pernah berseloroh bahwa Ia takut pembalap MotoGP tidak bisa membedakan balapan dengan liburan. “Saya takut pembalap tidak bisa membedakan mana balap, mana liburan. Karena konsep sirkuit ini bisa dibilang wisata balapan”.

Ketakutan jawara MotopGP ini pun menjadi kenyataan. Para juniornya asik menikmati keindahan Lombok. Berlibur menikmati pantai berpasir putih. Menikmati kelapa muda. “Selfie” di atas bukit. Aktivitas berlibur itu dilakukan di sela-sela tugasnya menguji motor balap untuk persiapan kompetisi balapan 2022.

“In love with this pleace Indonesia,” celoteh Marquez di akunnya.

Seketika aktivitas Marc Marquez bersama kompetitornya berlibur sambil balapan pun mewabah ke seluruh dunia dalam sekejap. Lombok mendadak menjadi perbincangan hangat dunia.

Pada saat Lombok menjadi percakapan di seluruh dunia di media sosial, Bali menghilang. Keindahan alam, keunikan tradisi dan budaya, tak cukup kuat bagi Bali untuk menjadi percakapan. Itu semua karena pandemi Covid-19.

Agility Bali

Perubahan itu kekal. Siapa yang tidak lincah, lentur, adaptif akan tergilas oleh perubahan. Era disrupsi pandemi bersamaan dengan disrupsi digital dan milenial mempercepat proses perubahan itu.

Disrupsi pandemi dalam waktu dua tahun dengan sekejap menggilas hampir semua aspek kehidupan. Bagi kita yang tidak memiliki kelincahan (agility) akan menjadi kenangan.

Bali memang telah memiliki daya tahan yang kuat untuk tetap bertahan dari berbagai bencana. Bom Bali I dan II (2002-2005) yang memakan ratusan korban jiwa warga Bali, wisatawan domestik dan mancanegara tidak menggoyahkan pulau dewata.

Sebaliknya, rasa solidaritas bergema di seluruh dunia. Dunia semakin sayang Bali, cinta Bali. “We love Bali,” begitu kata dunia pasca tragedi kemanusiaan yang meluluhlantakkan pusat sekaligus denyut nadi pariwisata Bali, Kuta.

Hanya saja situasi saat ini beda. Hantaman terhadap pariwisata Bali di era pandemi  berbeda dengan aksi serangan teroris ketika itu.

Era pandemi tidak hanya menuntut daya tahan tinggi tapi kelincahan (agility) yang luar biasa. Gerak yang lentur dan serta adaptasi yang tinggi.

Bagi yang postrunya kaku akan susah bergerak jika terlambat melakukan perubahan (pivot) maka seketika menghilang. Lihat saja nasib perusahaan brand besar di era pandemi banyak yang bertumbangan. Itu karena ia tidak memiliki agility.  Susah melakukan pivot karena strukturnya yang terlanjur sangat besar, kokoh, dan kaku.

Bali pun begitu. Ancaman itu nyata di depan mata. Struktur dan pondasi pariwisata Bali yang besar dan kokoh bisa berbalik menjadi kelemahan. Infrastruktur pariwisata Bali sudah mapan, baik hotel serta daya dukungnya jika tidak digerakkan bersama maka akan menjadi bumerang. Jika tidak dapat  beradaptasi dengan era disrupsi pandemi, Bali (masyarakat dan pemerintah) tidak memiliki kelincahan dan adaptasi yang tinggi (agility) maka akan bisa bernasib sama dengan brand besar di dunia. Terlupakan oleh dunia  kemudian lenyap.  

“Brand Positioning” Bali dan Lombok

Harapan itu masih ada. Lombok dan Bali berdampingan. Satu sama lain saling bergantungan dan memberi manfaat.

Bali sejatinya jangan berkecil hati. Masyarakat Bali tidak boleh cemburu. Atau menyesali telah mengabaikan kesempatan memiliki sirkuit balapan bertaraf kelas dunia, formula one (F1) atau motoGP.

Dahulu sebelum turis datang, Bali telah memiliki value yang kuat. Tradisi dan budaya manusianya, alamnya yang unik dan indah adalah value Bali, yang satu-satunya ada di dunia.

Value (DNA dan core value) Bali dibangun menjadi semakin kuat oleh cerita dari novel serta lukisan para seniman semacam Walter Spies (bersama I Wayan Limbak membuat tari kecaknya), Antonio Blanco, Le Mayeur. Dan hasil-hasil riset arkeolog dan anteopolog yang dibukukan, misalnya oleh David J Stuart-Fox (melalui bukunya berjudul Pura Besakih), Roelof Goris, dan lainnya.

Bali kemudian dikenal dengan beragam sebutan. Bali pulau surga. Pulau seribu pura. Pulau dewata. Value (DNA dan core value) itulah yang menjadi “brand positioning” Bali.

Bali pun menjadi satu-satunya dunia. Tidak ada yang bisa menandingi. Menjadi “The one and the only”.

Turis pun yang pertama kali menjejakkan kaki di Bali akan merasakan gairah/ikatan emosi yang kuat seolah ia berada di surga dunia. Terpatri kuat di dalam benaknya. Bali berada pada posisi paling atas dalam kategori destinasi wisata dunia. Bali telah menjadi top of mind wisatawan seluruh dunia. Itu dulu.

DNA Balap Lombok

Lombok dari dulu berusaha membangun industri pariwisata. Namun belum dapat didorong secara maksimal.

Kini, dengan keberadaan sirkuit balap Mandalika, Lombok telah memiliki value (DNA dan core value) yang unik dan kuat. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk membangun Brand Lombok sebagai destinasi wisata yang unik dan satu-satunya di dunia.

Lombok saat ini tengah menjadi perbincangan dunia. Para pembalap MotoGP Marc Marquez dan lainnya telah menyebarkan Lombok ke seantero dunia. Penyebarannya melalui media sosial. Dalam sekejap dan masif, aksi mereka menikmati keindahan dan keunikan Lombok sekaligus adrenalin balapan ditonton jutaan kepala masyarakat dunia melalui unggahan status dan insta story di media sosial.

Pemerintah Lombok mesti segera dengan cepat menangkap peluang kehadiran para pembalap MotoGP. Ciutan soal aktivitas mereka di media sosial yang kagum dengan keunikan dan keindahan alam Lombok berbarengan dengan aktivitas menguji dan mencari setingan motor terbaik untuk kompetisi 2022 telah membentuk value Lombok menjadi unik.

Lombok kini telah memiliki DNA sebagai pulau yang membangkitkan adrenalin balap di dunia. Core value-nya berupa keindahan alam dan keunikan aktivitas manusianya.

Pembalap dunia langsung merasakan sensasi yang berbeda ketika membalap di Lombok dibandingan dengan sirkuit di belahan dunia lainnya.

Marc Marquez seolah telah memiliki gairah dan adrenalin yang berbeda ketika membalap di Lombok. Ia telah memiliki ikatan emosi yang kuat terhadap Lombok.

Screenshoot instagram.com

Evoke List

Virus gairah/ikatan emosi juara dunia delapan kali itu bersama pembalap lainnya akan menjalar bak virus ke seluruh penggemarnya (baca followers) di seluruh dunia. Orang-orang di dunia, yang tak suka balap pun sekarang tahu Lombok. Secara perlahan, juta pengikutnya akan memiliki gairah/ikatan emosi yang sama terhadap Lombok seperti idolanya.

Ini pertanda, branding Lombok telah masuk ke dalam evoke list. Evoke list adalah daftar “imagery” yang ada dalam benak calon konsumen terhadap sebuah market category. Sementara invoke adalah menciptakan gairah/ikatan emosi ke dalam benak. Invoke the evoke list adalah aktivitas menimbulkan gairah/ikatan emosi ke dalam daftar “imagery” yang ada dalam benak calon konsumen dalam market category.

Simak saja kata pembalap tentang sirkuit di Mandalika, Lombok. “Primer dia de test en el Mandalika Circuit (First day of test at the Mandalika Circuit!),” celoteh @marcmarquez93 “@sirkuitmandalika on fire, i enjoy so much out there,” sambut @maverick12official.

Singkatnya, Marc Marquez dan pembalap telah menciptakan sebuah gairah/ikatan emosi bahwa Lombok sebagai pulau balapan nan indah. Dengan authority Marc Marquez yang kuat, gairah/ikatan emosi inilah yang akan masuk ke dalam benak wisatawan seluruh dunia dalam “market category” destinasi wisata dunia.

  • BACA JUGA: Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Virus dan gairah/ikatan emosi tersebut harus ditangkap dengan cepat oleh pemerintah (pusat dan daerah serta masyarakat Lombok). Pemerintah secepatnya membangun Branding Lombok. Melakukan strategi agar branding Lombok masuk ke dalam “evoke list”. Gairah/ikatan emosinya dengan Lombok masuk ke dalam benak wisatawan.

Seperti kata praktisi brand Subiakto, membangun brand tidak sekadar memasukkan logo dan merek ke dalam benak konsumen, tetapi memasukkan gairah/ikatan emosi ke dalam evoke list yang ada dalam benak calon konsumen.

Membangun strategi branding untuk dapat memasukan gairah/ikatan emosi (yang dirasakan Marc Marques dkk) ke dalam benak calon wisatawan dunia. Sehingga mereka bisa merasakan sensasi, gairah/ikatan emosi yang sama dengan Marc Marquez dkk.

Jika berhasil membangun Brand Lombok sebagai The Speed of Island kemudian ada di posisi pertama (dalam benak calon wisatawan) maka Lombok akan menjadi Top of mind di benak wisatawan. Hanya satu-satunya di dunia (the one dan the only).

Daily Influencer/Voluntourism

Bali yang berdampingan dengan Lombok memiliki potensi terdisrupsi paling cepat. Namun jika Bali memiliki “agility” maka akan selamat dari disrupsi.

Sembari menunggu pandemi berlalu dan menanti kebijakan pemerintah, Saya tawarkan beberapa langkah sederhana untuk membangun brand Bali dengan value (DNA dan core value) pulau surga.

Bali tidak bisa hanya mengandalkan momentum G-20 untuk membangkitkan pariwisata Bali. Itu pola pikir taktikal. Pola pikir lama atau disebut old mind. Sudah tidak lagi relevan di era disrupsi pandemi, digital, dan milenial saat ini. Tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Bali masih minus 2,47 persen. Bali masih menderita akibat pariwisata dihantam pandemi. Pemerintah Bali cepat berpikir yang strategik membangun pariwisata Bali  dalam jangka panjang.

Bermodalkan “brand positioning” yang kuat, masyarakat Bali mesti mulai segera membangun authority-nya sendiri dengan memanfaatkan media sosial. Menjadikan diri sendiri sebagai media untuk mempromosikan Bali. Meminjam istilah Darma Putra dalam akun @idarmaputra, masyarakat Bali secara serempak menjadi sukarelawan (volunteer tourism disingkat voluntourism) untuk melakukan volunteer promotion (volunpromotion).

“Posting foto diri menikmati produk di sebuah ameniti adalah salah satu contoh volunpromotion,” ciut @idarmaputra.

Nah, segera dan mulai sekarang, semua masyarakat Bali  berlomba membuat konten yang “Heavenly” tentang Bali. Menggugah kemudian melakukan “repost” dan “coment” saling bersahutan.

Cara inilah yang disebut dengan membangun “authority” dengan menjadi “daily influencer”. “Authority akan timbul ketika kita dipercaya oleh para pengikut (follower). Sehingga apapun yang kita lakukan, akan “digugu” dan “ditiru” oleh follower,” kata pakar brand indonesia Subiakto dalam akun @Subiakto.

Caranya, buatlah konten yang mengandung unsur “Heavenly” tentang Bali. Bali sudah istagramable. Tentunya dengan kreativitas yang tinggi mudah untuk membuatnya.

Jangan lupa juga menjaga taksu Bali. Membersihkan, memperbaiki lingkungan yang rusak. Mengubah perilaku yang tidak relevan dengan spirit “heavenly”. Jangan membuat taksu Bali ternoda. Pura jangan dinodai. Tari sakral jangan dipertontonkan hanya untuk mengeruk dolar. Filosofi Tri Hita Karana lakukan dengan nyata. Tak cuma menjadi kata indah.

Kemudian unggahlah aktivitas itu setiap hari, konsisten, penuhi jejak digital kita dengan keindahan alam dan budaya Bali. Bayangkan jika tiga juta penduduk Bali mengunggah aktivitasnya berlatar keindahan alam, budaya, tradisi, objek wisata, hotel, restoran, dan kuliner setiap hari kemudian diberi “like” dan “coment” oleh “follower” maka akan menjadi percakapan yang luar biasa di media sosial. Dibaca dan ditonton seantero negara di dunia.

Langkah ini sebenarnya telah banyak disumbangkan oleh wisatawan yang berlibur ke Bali. Lihat saja postingan wisatawan yang pernah berlibur ke Bali. Sekarang dengan tidak adanya mereka di Bali, maka menjadi tanggungjawab sendiri masyarakat Bali.

Dengan “brand positioning” yang kuat, menjadi voluntourism akan membantu menyelamatkan Bali dari disrupsi dalam kategori destinasi wisata dunia.

Lakukan langkah kecil segera agar Bali tetap menjadi percakapan masyarakat dunia. Tetap diingat dalam benak “top of mind” wisatawan dunia. Jika enggan berbuat, maka pelan tapi pasti, niscaya brand Bali akan terdisrupsi oleh brand Lombok. Lombok menjadi Top of Mind di benak wisatawan. Lombok menjadi “The One and The Only”. Sementara, Bali akan menjadi pilihan berikutnya.

Jangan sampai menyesal! [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Pranita Dewi | Episode, Melingkar, Ding

Next Post

PRASASTI-PRASASTI BESAR ADITYAWARMAN DARI TANAH MINANGKABAU

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails
Next Post
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

PRASASTI-PRASASTI BESAR ADITYAWARMAN DARI TANAH MINANGKABAU

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co