4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PRASASTI-PRASASTI BESAR ADITYAWARMAN DARI TANAH MINANGKABAU

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 16, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

Melihat Kedekatan Leluhur Aksara dan Keluarga Bangsawan Pelembang, Dharmasraya-Pagarruyung-Minangkabau (Sumatera Barat) dan Arya Damar/Kenceng (Bali)

_____

— Catatan Harian, Sugi Lanus, Feb 13, 2022

1. Dari muda saya mendengar sebuah kisah lisan tentang hubungan Bali dan Pelambang-Pagarruyung-Dharmasraya-Minangkabau. Bahwa: Keluarga besar Arya Damar/Kenceng Tabanan dan Badung di Bali memiliki hubungan kekerabatan dengan Adipati/Raja Adityawarman di Plembang/Plimbang/Palembang dan Dharmasraya-Pagarruyung, disebut juga Minangkabau. Kisah ini tentu membangkitkan penasaran saya.

2. Ketika berkunjung ke salah satu rumah pertenunan songket, dan keluarga kolektor kain songket tua Palembang, yang letaknya di tepian Sungai Musi di Palembang, keluarga itu mengaku sebagai keturunan Arya Damar, yang juga konon dikenal sebagai Adipati Aditiyawarman. Kami bercerita panjang lebar, dan setelah saya ceritakan kisah-kisah keluarga di Bali, spontan Nyimas sang tuan rumah berkata: “Kita saudara”. Ia mengeluarkan silsilah leluhurnya. Suasana jadi cair dan menjadi obrolan yang saling kenal, kami mengenal kisah tentang Arya Damar dengan familiar, dan juga kisah-kisah perjalanan Adipati Adityawarman (gelar Arya Damar). Hal serupa juga saya alami ketika berkunjung ke keluarga keturunan Pagarruyung, Sumatera Barat. Suasana kembali menjadi sangat akrab dan penuh persaudaraan ketika kami membahas Adipati Adityawarman, terasa dekat hubungan Bali dan Minangkabau dalam obrolan kami. Intinya, keluarga Minangkabau dan Palembang, yang masih punya hubungan dengan kebangsawanan masa lalu, mirip dengan keluarga bangsawan di Bali yang punya hubungan kebangsawanan Arya Damar-Kenceng, sama-sama merasa (percaya sungguh) berleluhur Adipati Adityawarman.

3. Sebenarnya, seiring waktu, yang menjadi perhatian saya bukan pokok sejarah lisan itu. Mulai saya baca naskah-naskah Minangkabau. Kalau berkunjung ke Padang, Bukit Tinggi, dll, saya berburu buku-buku Tambo, dll. Berlanjut membaca prasasti-prasasti Adityawarman yang ditemukan di Sumatera Barat.

Yang paling mengejutkan adalah: Saya tidak memiki kendala besar membaca tulisan-tulisan dalam prasasti-prasasti batu yang ditemukan di Sumatera Barat.

Kenapa? Saya merasa aksara atau type huruf yang dipakai dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di Sumatera Barat dekat dengan aksara-aksara tua yang dipakai dalam tulisan tangan di lontar-lontar  kuno yang kami warisi di Bali. Kalaupun berbeda itu tidak begitu jauh, masih bisa saya “eras-eras” (cocok-cocokan). Bentukan hurufnya sangat dekat. Kemudahan membaca ini membuat saya bertualang membaca-baca prasasti-prasasti dari Tanah Minangkabau tersebut. Saya perhatikan foto-fotonya, dan saya besuk ke Museum Nasional untuk melihat dan membaca aslinya.

[Daftar prasasti-prasasti dan sedikit informasinya ada di bagian akhir tulisan ini. Sebagian besar sekarang disimpan di Museum Nasional].

4. Bentuk aksara prasasti-prasasti besar temuan dari Minangkabau, saya rasa dekat dengan “tipe aksara” di Bali, baik aksara dalam lontar-lontar kuno, dan beberapa prasasti di Bali yang keluarkan sejaman dengan Adipati Adityawarman.

Ini hanya pikiran saya: “Mungkin saja era itu penting sekali dalam persebaran aksara di Bali dan Minangkabau, dalam periode yang sama, dan jenis aksara era itulah yang berkembang menjadi aksara Bali modern sekarang? Karena, aksara Bali modern sekarang, sekalipun tidak jauh-jauh amat dengan aksara di prasasti Bali Kuno, tapi motif atau tarikan garis, style-nya, saya rasa lebih dekat ke prasasti-prasasti temuan di Sumatera Barat (?)”

Itu barangkali pendapat subyektif saya saja. Tapi silahkan diperiksa. Siapa tahu punya perasaan sama?

Kedekatan aksara Bali dan aksara dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di Tanah Minang, sekali lagi, menurut hemat saya “terasa memang dekat”.

5. Tentang Adipati Adityawarman dalam versi lontar-lontar di Bali, yang juga menjadi pengetahuan umum, saya kutip dari sumber umum yang dibagikan di keluarga besar Arya Tabanan, yang terkait dengan Adipati Adityawarman (aka Arya Damar), sbb:

— Adityawarman telah bertugas di Palembang yang kekuasaannya sampai Dharmasraya, diminta memimpin pasukan dalam ekspedisi Majapahit ke Bali pada tahun 1343. Dikisahkan bahwa ekspedisi yang masuk lewat pesisir Bali Utara dipimpin oleh Arya Damar (Adityawarman), rombongan yang masuk lewat pesisir Bali Selatan dipimpin oleh Gajah Mada.

— Gajah Mada dikisahkan sempat dimarahi oleh Arya Damar (Adityawarman) karena mobilisasi pasukannya mencapai daratan Bali Selatan sangat lambat. Dalam kisah Babad dan Usana Bali, Arya Damar (Adityawarman) memarahi dengan menunding dan berkata keras pada Gajah Mada. Dipercaya posisi Adityawarman lebih tinggi, ia adalah saudara Maharaja Majapahit. Apakah saudara atau sepupu, tidak pasti. Dalam versi lisan, seingat saya ia disebutkan sebagai cucu dari Ibu Suri. Disebutkan sebagai cucu yang sangat disayangi dan dilantik sebagai Adipati Palembang-Darmasraya atas penunjukan langsung dari neneknya (Ibu Suri Kerajaan Majapahit).

— Arya Damar (Adityawarman) menundukkan Pasung Gerigis dan pasukannya yang markas di benteng pertahanan Bali Utara, dikenal sebagai wilayah Ularan, dengan pimpin para Arya Ularan. Sementara, Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit untuk menguasai Bali Selatan: Pejeng, Gianyar, yang merupakan pusat Kerajaan Bedahulu, dari berbagai penjuru. Dalam Usana Bali disebutkan Arya Damar memimpin pasukan lebih besar dibandingkan jumlah pasukan Gajah Mada.

— Usai memimpin eksedisi Majapahit ke Bali, Arya Damar kembali ke Majapahit, dan ke Palembang-Darmasraya. Di sana dilantik sebagai penguasa penuh wilayah Pulau Sumatera.

— Disebutkan, sebagian saudara-saudara Arya Damar (dan beberapa catatan menyebutkan putra-putranya) menetap dan membantu pembentukan Kerajaan Samprangan Bali, dan memimpin restorasi Pura Besakih. Keturunannya mendapat jabatan di wilayah yang kini dikenal sebagai wilayah Kabupaten Tabanan, dan sebagian mendirikan kerajaan Badung (kini dikenal sebagai wilayah Kabupaten Badung) dan pusat pemerintahannya berpusat di Denpasar.

— Ada kisah lisan menyebutkan bahwa Adityawarman (Arya Damar) berpulang di Darmasraya. Sampai hari ini, kerabat keluarga di Bali yang merasa leluhurnya terkait Adipati Adityawarman masih menjejak sisilahnya dengan menyebutkan kekerabatannya terkait dengan bangsawan Palembang, Darmasraya dan Pagarruyung, Minangkabau.

6. Catatan dari ahli efigrafi, filolog dan peneliti sejarah, atau masyarakat akademisi, terkait ketokohan Adityawarman dapat dirangkum sebagai berikut:

— Adityawarman disebut sebagai raja Malayapura-Suvarnabhumi, melihat gelar yang dipakai dipercaya merupakan penerus dinasti Mauli yang berbasis di Sumatera bagian tengah. Dinasti Mauli adalah sebuah dinasti raja-raja yang memerintah kerajaan Bhumi Malayu atau Dharmasraya, berpusat di sungai Batanghari (sekarang provinsi Jambi dan Sumatera Barat, Sumatera ), dari abad ke-11 hingga abad ke-14, umumnya dipercaya penganut paham Buddha Mahayana. Ada yang menyebut berpaham Bhairava, mengingat patung Bhairava temuan di wilayah ini dipercaya sebagai perwujudan Adityawarman.

— Adityawarman adalah sepupu Jayanegara, raja Majapahit dari tahun 1309–1328, dan cucu dari Tribhuwanaraja, raja Kerajaan Melayu.

— Adityawarman adalah “wreddamantri” (Menteri Senior, Patih Agung) yang diberikan tugas memimpin wilayah pantai timur di Sumatera, berpusat di Palembang, dan Adityawarman kemudian mendirikan kerajaan Minangkabau di Pagaruyung, menguasai wilayah Sumatera bagian tengah. Wilayah ini menjadi pusat perdagangan emas antara tahun 1347 dan 1375.

7. Naskah-naskah yang memuat Adityawarman:

— Diperkirakan Adityawarman lahir sekitar tahun 1294. Menurut kitab Pararaton ia lahir di Trowulan, Jawa Timur, ibu kota kerajaan Majapahit.

— Menurut Prasasti Kuburajo yang ditemukan di Limo Kaum, Sumatera Barat, ayah Adityawarman adalah bangsawan Majapahit bernama Adwayawarman.

— Menurut teks Jawa Timur abad ke-15, berjudul Pararaton, ibunya adalah Dara Jingga, seorang putri Melayu dari Dharmasraya.

— Adityawarman mungkin telah mengunjungi China untuk ekspedisi diplomatik pada tahun 1325 jika, seperti yang diyakini beberapa sejarawan, sebagaimana dicatat dalam sumber Cina, sebagai utasan Sengk’ia-lie-yu-lan.

— Nama Adityawarman di Jawa tercatat pada awal 1343 dałam perwujudan Bodhisattva Manjusri yang ditemukan di Candi Jago, Jawa Timur. Candi Jago dikenal sebagai tempat suci yang dibangun oleh Kertanegara untuk ayahnya Visnuvardhana.

— Dalam prasasti tentang Adityawarman secara eksplisit menyebut dirinya Penguasa Bumi Emas (Kanakamedinindra).

— Sebuah prasasti dalam bahasa Sansekerta Melayu lokal ditemukan di bagian belakang patung Amoghapasa ditemukan di Rambahan, Sumatera Barat, tertanggal 1347, dipercaya dikeluarkan oleh Adityawarman. Prasasti ini merupakan memperingati perannya sebagai pelindung dan sumber kesejahteraan bagi rakyat ibukota Malaya (Malayapura) dan kekuasaannya sebagai perwujudan Amoghapasa, menyandang gelar: “Udayadityavarman “Adityavarmodaya Pratapaparakramarajendra Maulimalivarmadewa” atau “Adityavarmodaya Pratapaparakramarajendra Maulimalivarmadewa”.

— Ia digambarkan sebagai “Penguasa Suravasa”. Nama Suruaso sendiri masih digunakan untuk menyebut daerah dekat Pagarruyung, Kerajaan Minangkabau.

— Sebuah pendapat mengatakan kerajaannya sebagai cika-bakal sistem pewarisan matrilineal Minangkabau sampai saat ini.

— Pelanjutnya yang di Sumatera bernama Ananggawarman.

— Adityawarman memerintah setidaknya sampai 1375, yang merupakan tahun prasasti terakhir yang diketahui. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lombok Disrupsi Bali?

Next Post

Drama Sidha Sidhi Yoga Krama Sanggar Mahasaba | Siasat-siasat untuk Mencari Bentuk

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Drama Sidha Sidhi Yoga Krama Sanggar Mahasaba | Siasat-siasat untuk Mencari Bentuk

Drama Sidha Sidhi Yoga Krama Sanggar Mahasaba | Siasat-siasat untuk Mencari Bentuk

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co