14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PRASASTI-PRASASTI BESAR ADITYAWARMAN DARI TANAH MINANGKABAU

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 16, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

Melihat Kedekatan Leluhur Aksara dan Keluarga Bangsawan Pelembang, Dharmasraya-Pagarruyung-Minangkabau (Sumatera Barat) dan Arya Damar/Kenceng (Bali)

_____

— Catatan Harian, Sugi Lanus, Feb 13, 2022

1. Dari muda saya mendengar sebuah kisah lisan tentang hubungan Bali dan Pelambang-Pagarruyung-Dharmasraya-Minangkabau. Bahwa: Keluarga besar Arya Damar/Kenceng Tabanan dan Badung di Bali memiliki hubungan kekerabatan dengan Adipati/Raja Adityawarman di Plembang/Plimbang/Palembang dan Dharmasraya-Pagarruyung, disebut juga Minangkabau. Kisah ini tentu membangkitkan penasaran saya.

2. Ketika berkunjung ke salah satu rumah pertenunan songket, dan keluarga kolektor kain songket tua Palembang, yang letaknya di tepian Sungai Musi di Palembang, keluarga itu mengaku sebagai keturunan Arya Damar, yang juga konon dikenal sebagai Adipati Aditiyawarman. Kami bercerita panjang lebar, dan setelah saya ceritakan kisah-kisah keluarga di Bali, spontan Nyimas sang tuan rumah berkata: “Kita saudara”. Ia mengeluarkan silsilah leluhurnya. Suasana jadi cair dan menjadi obrolan yang saling kenal, kami mengenal kisah tentang Arya Damar dengan familiar, dan juga kisah-kisah perjalanan Adipati Adityawarman (gelar Arya Damar). Hal serupa juga saya alami ketika berkunjung ke keluarga keturunan Pagarruyung, Sumatera Barat. Suasana kembali menjadi sangat akrab dan penuh persaudaraan ketika kami membahas Adipati Adityawarman, terasa dekat hubungan Bali dan Minangkabau dalam obrolan kami. Intinya, keluarga Minangkabau dan Palembang, yang masih punya hubungan dengan kebangsawanan masa lalu, mirip dengan keluarga bangsawan di Bali yang punya hubungan kebangsawanan Arya Damar-Kenceng, sama-sama merasa (percaya sungguh) berleluhur Adipati Adityawarman.

3. Sebenarnya, seiring waktu, yang menjadi perhatian saya bukan pokok sejarah lisan itu. Mulai saya baca naskah-naskah Minangkabau. Kalau berkunjung ke Padang, Bukit Tinggi, dll, saya berburu buku-buku Tambo, dll. Berlanjut membaca prasasti-prasasti Adityawarman yang ditemukan di Sumatera Barat.

Yang paling mengejutkan adalah: Saya tidak memiki kendala besar membaca tulisan-tulisan dalam prasasti-prasasti batu yang ditemukan di Sumatera Barat.

Kenapa? Saya merasa aksara atau type huruf yang dipakai dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di Sumatera Barat dekat dengan aksara-aksara tua yang dipakai dalam tulisan tangan di lontar-lontar  kuno yang kami warisi di Bali. Kalaupun berbeda itu tidak begitu jauh, masih bisa saya “eras-eras” (cocok-cocokan). Bentukan hurufnya sangat dekat. Kemudahan membaca ini membuat saya bertualang membaca-baca prasasti-prasasti dari Tanah Minangkabau tersebut. Saya perhatikan foto-fotonya, dan saya besuk ke Museum Nasional untuk melihat dan membaca aslinya.

[Daftar prasasti-prasasti dan sedikit informasinya ada di bagian akhir tulisan ini. Sebagian besar sekarang disimpan di Museum Nasional].

4. Bentuk aksara prasasti-prasasti besar temuan dari Minangkabau, saya rasa dekat dengan “tipe aksara” di Bali, baik aksara dalam lontar-lontar kuno, dan beberapa prasasti di Bali yang keluarkan sejaman dengan Adipati Adityawarman.

Ini hanya pikiran saya: “Mungkin saja era itu penting sekali dalam persebaran aksara di Bali dan Minangkabau, dalam periode yang sama, dan jenis aksara era itulah yang berkembang menjadi aksara Bali modern sekarang? Karena, aksara Bali modern sekarang, sekalipun tidak jauh-jauh amat dengan aksara di prasasti Bali Kuno, tapi motif atau tarikan garis, style-nya, saya rasa lebih dekat ke prasasti-prasasti temuan di Sumatera Barat (?)”

Itu barangkali pendapat subyektif saya saja. Tapi silahkan diperiksa. Siapa tahu punya perasaan sama?

Kedekatan aksara Bali dan aksara dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di Tanah Minang, sekali lagi, menurut hemat saya “terasa memang dekat”.

5. Tentang Adipati Adityawarman dalam versi lontar-lontar di Bali, yang juga menjadi pengetahuan umum, saya kutip dari sumber umum yang dibagikan di keluarga besar Arya Tabanan, yang terkait dengan Adipati Adityawarman (aka Arya Damar), sbb:

— Adityawarman telah bertugas di Palembang yang kekuasaannya sampai Dharmasraya, diminta memimpin pasukan dalam ekspedisi Majapahit ke Bali pada tahun 1343. Dikisahkan bahwa ekspedisi yang masuk lewat pesisir Bali Utara dipimpin oleh Arya Damar (Adityawarman), rombongan yang masuk lewat pesisir Bali Selatan dipimpin oleh Gajah Mada.

— Gajah Mada dikisahkan sempat dimarahi oleh Arya Damar (Adityawarman) karena mobilisasi pasukannya mencapai daratan Bali Selatan sangat lambat. Dalam kisah Babad dan Usana Bali, Arya Damar (Adityawarman) memarahi dengan menunding dan berkata keras pada Gajah Mada. Dipercaya posisi Adityawarman lebih tinggi, ia adalah saudara Maharaja Majapahit. Apakah saudara atau sepupu, tidak pasti. Dalam versi lisan, seingat saya ia disebutkan sebagai cucu dari Ibu Suri. Disebutkan sebagai cucu yang sangat disayangi dan dilantik sebagai Adipati Palembang-Darmasraya atas penunjukan langsung dari neneknya (Ibu Suri Kerajaan Majapahit).

— Arya Damar (Adityawarman) menundukkan Pasung Gerigis dan pasukannya yang markas di benteng pertahanan Bali Utara, dikenal sebagai wilayah Ularan, dengan pimpin para Arya Ularan. Sementara, Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit untuk menguasai Bali Selatan: Pejeng, Gianyar, yang merupakan pusat Kerajaan Bedahulu, dari berbagai penjuru. Dalam Usana Bali disebutkan Arya Damar memimpin pasukan lebih besar dibandingkan jumlah pasukan Gajah Mada.

— Usai memimpin eksedisi Majapahit ke Bali, Arya Damar kembali ke Majapahit, dan ke Palembang-Darmasraya. Di sana dilantik sebagai penguasa penuh wilayah Pulau Sumatera.

— Disebutkan, sebagian saudara-saudara Arya Damar (dan beberapa catatan menyebutkan putra-putranya) menetap dan membantu pembentukan Kerajaan Samprangan Bali, dan memimpin restorasi Pura Besakih. Keturunannya mendapat jabatan di wilayah yang kini dikenal sebagai wilayah Kabupaten Tabanan, dan sebagian mendirikan kerajaan Badung (kini dikenal sebagai wilayah Kabupaten Badung) dan pusat pemerintahannya berpusat di Denpasar.

— Ada kisah lisan menyebutkan bahwa Adityawarman (Arya Damar) berpulang di Darmasraya. Sampai hari ini, kerabat keluarga di Bali yang merasa leluhurnya terkait Adipati Adityawarman masih menjejak sisilahnya dengan menyebutkan kekerabatannya terkait dengan bangsawan Palembang, Darmasraya dan Pagarruyung, Minangkabau.

6. Catatan dari ahli efigrafi, filolog dan peneliti sejarah, atau masyarakat akademisi, terkait ketokohan Adityawarman dapat dirangkum sebagai berikut:

— Adityawarman disebut sebagai raja Malayapura-Suvarnabhumi, melihat gelar yang dipakai dipercaya merupakan penerus dinasti Mauli yang berbasis di Sumatera bagian tengah. Dinasti Mauli adalah sebuah dinasti raja-raja yang memerintah kerajaan Bhumi Malayu atau Dharmasraya, berpusat di sungai Batanghari (sekarang provinsi Jambi dan Sumatera Barat, Sumatera ), dari abad ke-11 hingga abad ke-14, umumnya dipercaya penganut paham Buddha Mahayana. Ada yang menyebut berpaham Bhairava, mengingat patung Bhairava temuan di wilayah ini dipercaya sebagai perwujudan Adityawarman.

— Adityawarman adalah sepupu Jayanegara, raja Majapahit dari tahun 1309–1328, dan cucu dari Tribhuwanaraja, raja Kerajaan Melayu.

— Adityawarman adalah “wreddamantri” (Menteri Senior, Patih Agung) yang diberikan tugas memimpin wilayah pantai timur di Sumatera, berpusat di Palembang, dan Adityawarman kemudian mendirikan kerajaan Minangkabau di Pagaruyung, menguasai wilayah Sumatera bagian tengah. Wilayah ini menjadi pusat perdagangan emas antara tahun 1347 dan 1375.

7. Naskah-naskah yang memuat Adityawarman:

— Diperkirakan Adityawarman lahir sekitar tahun 1294. Menurut kitab Pararaton ia lahir di Trowulan, Jawa Timur, ibu kota kerajaan Majapahit.

— Menurut Prasasti Kuburajo yang ditemukan di Limo Kaum, Sumatera Barat, ayah Adityawarman adalah bangsawan Majapahit bernama Adwayawarman.

— Menurut teks Jawa Timur abad ke-15, berjudul Pararaton, ibunya adalah Dara Jingga, seorang putri Melayu dari Dharmasraya.

— Adityawarman mungkin telah mengunjungi China untuk ekspedisi diplomatik pada tahun 1325 jika, seperti yang diyakini beberapa sejarawan, sebagaimana dicatat dalam sumber Cina, sebagai utasan Sengk’ia-lie-yu-lan.

— Nama Adityawarman di Jawa tercatat pada awal 1343 dałam perwujudan Bodhisattva Manjusri yang ditemukan di Candi Jago, Jawa Timur. Candi Jago dikenal sebagai tempat suci yang dibangun oleh Kertanegara untuk ayahnya Visnuvardhana.

— Dalam prasasti tentang Adityawarman secara eksplisit menyebut dirinya Penguasa Bumi Emas (Kanakamedinindra).

— Sebuah prasasti dalam bahasa Sansekerta Melayu lokal ditemukan di bagian belakang patung Amoghapasa ditemukan di Rambahan, Sumatera Barat, tertanggal 1347, dipercaya dikeluarkan oleh Adityawarman. Prasasti ini merupakan memperingati perannya sebagai pelindung dan sumber kesejahteraan bagi rakyat ibukota Malaya (Malayapura) dan kekuasaannya sebagai perwujudan Amoghapasa, menyandang gelar: “Udayadityavarman “Adityavarmodaya Pratapaparakramarajendra Maulimalivarmadewa” atau “Adityavarmodaya Pratapaparakramarajendra Maulimalivarmadewa”.

— Ia digambarkan sebagai “Penguasa Suravasa”. Nama Suruaso sendiri masih digunakan untuk menyebut daerah dekat Pagarruyung, Kerajaan Minangkabau.

— Sebuah pendapat mengatakan kerajaannya sebagai cika-bakal sistem pewarisan matrilineal Minangkabau sampai saat ini.

— Pelanjutnya yang di Sumatera bernama Ananggawarman.

— Adityawarman memerintah setidaknya sampai 1375, yang merupakan tahun prasasti terakhir yang diketahui. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lombok Disrupsi Bali?

Next Post

Drama Sidha Sidhi Yoga Krama Sanggar Mahasaba | Siasat-siasat untuk Mencari Bentuk

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Drama Sidha Sidhi Yoga Krama Sanggar Mahasaba | Siasat-siasat untuk Mencari Bentuk

Drama Sidha Sidhi Yoga Krama Sanggar Mahasaba | Siasat-siasat untuk Mencari Bentuk

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co