19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bermainlah ke Mandul di Panji | Ada Jahe Merah Hangat dan Mariani yang Petani

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
August 10, 2021
in Khas
Bermainlah ke Mandul di Panji | Ada Jahe Merah Hangat dan Mariani yang Petani

Penulis bersama Ibu Mariani [Foto koleksi Tobing]

Bentang alam begitu indah, hamparan sawah amat luas, memanjakan mata siapa saja yang memasuki kawasan Banjar Mandul, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali. Ini benar-benar tempat yang menarik, masih asri, dan terawatt.

Untuk mencapai tempat ini, hanya diperlukan waktu tidak lebih dari 15 menit dari Kota Singaraja. Saya ke tempat itu, bersama Arik, sahabat saya, akhir pekan lalu, sekadar melepaskan penat dari hiruk-pikuk kehidupan, untuk belajar, mendengarkan dan mencatat cerita-cerita inspiratif dari orang-orang yang jauh dari keramaian.

Gede Ganesha, sahabat saya yang kebetulan menjadi rekan kerja di Koperasi Pangan Bali Utara, menuntun saya menuju ke sebuah rumah di pinggir jalan Dusun Mandul. Kami memarkirkan kendaraan, dan dari luar kami melihat beberapa tanaman buah dan sayur menjuntai dari dalam polibag kecil, berjejer di sisi sebelah utara rumah. Dapat kami lihat ada tomat, cabai hingga terong.

“Om Swastiastu”, suara Gede Ganesha mohon ijin kepada sang pemilik rumah, dan dari dalam muncul sosok perempuan paruh baya dengan menggunakan pakaian biru tua. Ya benar, perempuan itu adalah Nyoman Mariani, seorang ibu rumah tangga yang juga mengabdikan diri sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Tulus Bakti, Desa Panji.

Jahe Merah Hangat-hangat

Ibu Mariani, begitu saya memanggilnya, dia sangat ramah, tekun dan memiliki dedikasi tinggi untuk memajukan kehidupan perempuan di desanya. Salah satunya mengembangkan potensi pertanian di desanya.

Awalnya, tahun 2007, dia bersama beberapa ibu rumah tangga, berniat mengembangkan diri sembari berusaha memaksimalkan potensi pertanian yang ada di desanya. Apalagi, Desa Panji memang memiliki potensi pertanian yang cukup besar dengan wilayah yang luas.

Dia mempersilahkan kami duduk, kami ngobrol-ngobrol santai, selang beberapa lama, dari dalam muncul anak perempuannya Komang Trisna Wahyuni. Dia masih SMP namun sudah terlihat telaten dalam melayani para tamu yang berkunjung ke rumahnya.

Komang membawa nampan yang berisi tiga gelas minuman hangat, dari aromanya sudah dapat dibayangkan kalau minuman itu adalah Sari Jahe Merah yang Ibu Mariani produksi di rumahnya sendiri.

Ibu Marianbi menyiram tanaman. Itu kegiatan rutin

Kami dipersilakan minum, seruput pertama saya bisa merasakan sensasi pedas, namun perlahan rasa itu melebur dengan rasa manis gula batu yang mengikuti. Kehangatan, tidak hanya sampai di mulut, hal itu terasa sampai ke kerongkongan, hingga akhirnya keringat tiba-tiba mengucur dari badan.

Saya tanya ke Arik dan Ganesha, apakah mereka merasakan hal yang sama dan mereka kompak menjawab “iya, saya juga sama”. Benar-benar menyehatkan minuman ini.

Ibu Mariani berusia 47 tahun, suaminya bernama Made Tirta yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai hotel bintang lima di Bali, yang memilih pensiun untuk membantu mengembangkan usaha rumah tangga mereka.

Cara Membuat Serbuk Jahe Merah

Pasangan ini memiliki empat orang anak, mereka semua masih sekolah, dan ada satu yang baru tamat sekolah kapal pesiar. Anaknya ini juga sedang fokus juga mengembangkan kelompok usaha ternak lele di desanya. Untuk cerita ternak lele ini nanti saya akan ulas lagi di tulisan selanjutnya.

Tidak hanya mendapatkan minuman penghangat sari jahe merah, kami pun mendapatkan cerita tahapan-tahapan bagaimana dia membuat produk jahe merah ini. Dimulai dari proses pencucian jahe di air mengalir, hingga akhirnya dibersihkan kulitnya untuk kemudian diparut.

Parutan jahe merah ini diperas, diambil airnya saja. Air itu kemudian direbus dan dicampurkan beberapa bahan lain seperti gula batu dan rempah seperti sereh, pandan dan kayu manis. Rebusan ini dilakukan sampai bahan benar-benar mengkristal, setelah itu seluruh bahan akan didinginkan untuk kemudian dihaluskan kembali sehingga terbentuklah serbuk bubuk.

Satu kilogram serbuk bubuk jahe merah dihasilkan dari 1,5 kilogram jahe merah dan bahan lainnya. Dalam satu bulan dia bisa memproduksi sampai 60 Kg. Rata-rata harga jual perkilo serbuk jahe merah ini dibandrol dengan harga Rp. 150.000. Tapi untuk eceran, Ibu Mariani membuat kemasan 200 gram dengan harga Rp. 35.000 perbungkus.

“Jahe merah niki sudah dipasarkan ke dinas-dinas, Sekolah Polisi Negeri Singaraja, hingga ke Kabupaten Klungkung, Negara dan Denpasar. Kami memasarkan via online dan dibantu juga oleh teman-teman,” katanya.

Apakah ada kendala selama ini dalam proses produksi? Ibu Mariani menyampaikan kalau kendalanya hanya di kemasan. Kemasannya agak mahal dan dan biaya kemasan dan sticek saja hampir Rp 2.500.  Sementara untuk bahan baku tidak masalah, karena masyarakat petani di Desa Panji dan sekitarnya sudah ada yang mengembangkan pertanian jahe merah dari setengah hektar sampai 1,5 hektar.

“Kami masih urus BPOM, sementara PIRT sudah dibantu oleh Pemerintah Desa melalui Bumdes Panji,” katanya.

Perjalanan Merintis KWT

Ibu Mariani juga menceritakan getir perjalanannya merintis KWT, bagaimana saat itu dia mesti harus meyakinkan diri bahwa perempuan haruslah menjadi bagian dari proses pembangunan sebuah desa. Dia dan teman-temannya sepakat bahwa perempuan harus produktif, tidak terjebak dalam rutinitas yang hanya fokus pada urusan dapur, sumur dan kasur. Sangatlah berat merintis, meyakinkan suami dan keluarga mereka di awal-awal, bahwa apa yang dilakukan para perempuan ini adalah bagian dari usaha untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Kebun KWT Tulus Bakti

Tahun 2019, kelompok ini berhasil membuktikan kepada keluarga dan masyarakat di sekitarnya, bahwa kerja keras mereka berbuah manis dengan disabetnya juara dua kategori KWT, dalam lomba inovasi desa yang diadakan Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng.

“Tiang bersyukur, Pak, ternyata wenten masi perhatian dari Pemerintah, tentang napi sane dibuat oleh KWT,” ujarnya. Ia bersyukur karena adanya perhatian pemerintah tentang apa yang mereka telah perbuat di KWT mereka.

Kebun yang Luas

Waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 siang, Ibu Mariani mengajak kami untuk berkunjung ke kebun yang dikelola oleh KWT mereka, namun sebelum ke sana saya diberikannya oleh-oleh bibit jahe merah dan serbuk jahe merah.

Jarak antara rumah dan kebun hanya beberapa meter saja. Luas kebun itu sekitar 4 are, kebun ini merupakan milik dari anggota KWT yang disewa oleh KWT sebagai kebun percontohan. Disana mereka melakukan aktivitas mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan, hingga proses panen.

Saya melihat banyak sayuran mulai dari pare, cabai, tomat, terong panjang, sayur hijau hingga kangkung. Sementara pagar hidup yang mengelilingi kebun itu ditanam tanaman kelongkang, kelor dan ketela pohon. Ibu Mariani berkilah kalau semua bagian dari kebun ini haruslah produktif, pagarnya kami tanam juga dengan tanaman pangan agar bisa kami petik bersama kelompok.

Kebun ini dikelola oleh 20 anggota KWT, mereka secara bergilir bergotong royong setiap hari Minggu, setiap hari ada 2 orang yang bertugas. Sementara setiap seminggu sekali mereka turun bersama melakukan perawatan sembari memetik hasil kebun untuk bisa mereka bagi bersama kelompoknya. Kebun ini dikelola dengan pola pertanian organik, tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia.

Saat itu, kami juga ditemani oleh anak ketiga dari Ibu Mariani, Komang Trisna Wahyuni. Menurut Komang, dia sangat senang ikut kegiatan berkebun ini. Dia bisa belajar bertani, sembari mendapatkan upah harian sekitar Rp. 60.000 untuk melakukan pembibitan tanaman.

“Lumayan untuk menutupi biaya kuota sekolah daring,” katanya.

Beberapa waktu berselang, datang pelanggan seorang pria, seorang pensiunan dosen salah satu universitas terbesar di Bali Utara, dia bernama Gede Artawan. Dia datang bersama temannya, dia hendak memesan bibit dari KWT ini. Dia menuturkan sangat senang dengan usaha KWT ini, bagaimana mereka berpikir tentang keberdampakan secara ekonomi dan sosial. “Dan sudah mampu memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat. Kalau disini ketersediaan bibit lengkap dan harganya juga terjangkau,” katanya.

Salah seorang anggota KWT Tulus Bakti, Kadek Dian Arianti menyampaikan dia sangat senang bisa menjadi bagian dari kelompok ini. Dia bisa belajar mengenal tanaman, dapat berinteraksi positif dengan anggota lainnya, hingga bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dalam hal pangan. “Tiang jadi senang berkebun, di rumah juga tiang ada beberapa tanaman pangan, dapat bibit dari KWT dan lumayan bisa meringankan pengeluaran sehari-hari.” katanya.

Kesuksesan KWT ini ditandai juga dengan kesuksesannya membeli sebuah lahan di pinggir jalan di Desa Panji. Rencananya, lahan itu akan dikembangkan sebagai sekretariat sekaligus tempat untuk memasarkan produk-produk yang dihasilkan oleh KWT.

Hebat sekali Ibu Mariani, begitu juga dengan semangat perempuan di KWT Tulus Bakti. [T]

___

Baca artikel TOBING CRYSNANJAYA lain

Tok, Tok, Tok…! Sudang Lepet Made Suarti pun Pipih dan Gurih

Tok, Tok, Tok…! Sudang Lepet Made Suarti pun Pipih dan Gurih

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Tags: bulelengDesa PanjiherbalKelompok Wanita Taniobat herbalpertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

Next Post

Kidung, Coki dan Lana | Ekspedisi Garis Langit Melewati Nusantara dan Asia Tenggara

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Kidung, Coki dan Lana | Ekspedisi Garis Langit Melewati Nusantara dan Asia Tenggara

Kidung, Coki dan Lana | Ekspedisi Garis Langit Melewati Nusantara dan Asia Tenggara

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co