27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bermainlah ke Mandul di Panji | Ada Jahe Merah Hangat dan Mariani yang Petani

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
August 10, 2021
in Khas
Bermainlah ke Mandul di Panji | Ada Jahe Merah Hangat dan Mariani yang Petani

Penulis bersama Ibu Mariani [Foto koleksi Tobing]

Bentang alam begitu indah, hamparan sawah amat luas, memanjakan mata siapa saja yang memasuki kawasan Banjar Mandul, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali. Ini benar-benar tempat yang menarik, masih asri, dan terawatt.

Untuk mencapai tempat ini, hanya diperlukan waktu tidak lebih dari 15 menit dari Kota Singaraja. Saya ke tempat itu, bersama Arik, sahabat saya, akhir pekan lalu, sekadar melepaskan penat dari hiruk-pikuk kehidupan, untuk belajar, mendengarkan dan mencatat cerita-cerita inspiratif dari orang-orang yang jauh dari keramaian.

Gede Ganesha, sahabat saya yang kebetulan menjadi rekan kerja di Koperasi Pangan Bali Utara, menuntun saya menuju ke sebuah rumah di pinggir jalan Dusun Mandul. Kami memarkirkan kendaraan, dan dari luar kami melihat beberapa tanaman buah dan sayur menjuntai dari dalam polibag kecil, berjejer di sisi sebelah utara rumah. Dapat kami lihat ada tomat, cabai hingga terong.

“Om Swastiastu”, suara Gede Ganesha mohon ijin kepada sang pemilik rumah, dan dari dalam muncul sosok perempuan paruh baya dengan menggunakan pakaian biru tua. Ya benar, perempuan itu adalah Nyoman Mariani, seorang ibu rumah tangga yang juga mengabdikan diri sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Tulus Bakti, Desa Panji.

Jahe Merah Hangat-hangat

Ibu Mariani, begitu saya memanggilnya, dia sangat ramah, tekun dan memiliki dedikasi tinggi untuk memajukan kehidupan perempuan di desanya. Salah satunya mengembangkan potensi pertanian di desanya.

Awalnya, tahun 2007, dia bersama beberapa ibu rumah tangga, berniat mengembangkan diri sembari berusaha memaksimalkan potensi pertanian yang ada di desanya. Apalagi, Desa Panji memang memiliki potensi pertanian yang cukup besar dengan wilayah yang luas.

Dia mempersilahkan kami duduk, kami ngobrol-ngobrol santai, selang beberapa lama, dari dalam muncul anak perempuannya Komang Trisna Wahyuni. Dia masih SMP namun sudah terlihat telaten dalam melayani para tamu yang berkunjung ke rumahnya.

Komang membawa nampan yang berisi tiga gelas minuman hangat, dari aromanya sudah dapat dibayangkan kalau minuman itu adalah Sari Jahe Merah yang Ibu Mariani produksi di rumahnya sendiri.

Ibu Marianbi menyiram tanaman. Itu kegiatan rutin

Kami dipersilakan minum, seruput pertama saya bisa merasakan sensasi pedas, namun perlahan rasa itu melebur dengan rasa manis gula batu yang mengikuti. Kehangatan, tidak hanya sampai di mulut, hal itu terasa sampai ke kerongkongan, hingga akhirnya keringat tiba-tiba mengucur dari badan.

Saya tanya ke Arik dan Ganesha, apakah mereka merasakan hal yang sama dan mereka kompak menjawab “iya, saya juga sama”. Benar-benar menyehatkan minuman ini.

Ibu Mariani berusia 47 tahun, suaminya bernama Made Tirta yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai hotel bintang lima di Bali, yang memilih pensiun untuk membantu mengembangkan usaha rumah tangga mereka.

Cara Membuat Serbuk Jahe Merah

Pasangan ini memiliki empat orang anak, mereka semua masih sekolah, dan ada satu yang baru tamat sekolah kapal pesiar. Anaknya ini juga sedang fokus juga mengembangkan kelompok usaha ternak lele di desanya. Untuk cerita ternak lele ini nanti saya akan ulas lagi di tulisan selanjutnya.

Tidak hanya mendapatkan minuman penghangat sari jahe merah, kami pun mendapatkan cerita tahapan-tahapan bagaimana dia membuat produk jahe merah ini. Dimulai dari proses pencucian jahe di air mengalir, hingga akhirnya dibersihkan kulitnya untuk kemudian diparut.

Parutan jahe merah ini diperas, diambil airnya saja. Air itu kemudian direbus dan dicampurkan beberapa bahan lain seperti gula batu dan rempah seperti sereh, pandan dan kayu manis. Rebusan ini dilakukan sampai bahan benar-benar mengkristal, setelah itu seluruh bahan akan didinginkan untuk kemudian dihaluskan kembali sehingga terbentuklah serbuk bubuk.

Satu kilogram serbuk bubuk jahe merah dihasilkan dari 1,5 kilogram jahe merah dan bahan lainnya. Dalam satu bulan dia bisa memproduksi sampai 60 Kg. Rata-rata harga jual perkilo serbuk jahe merah ini dibandrol dengan harga Rp. 150.000. Tapi untuk eceran, Ibu Mariani membuat kemasan 200 gram dengan harga Rp. 35.000 perbungkus.

“Jahe merah niki sudah dipasarkan ke dinas-dinas, Sekolah Polisi Negeri Singaraja, hingga ke Kabupaten Klungkung, Negara dan Denpasar. Kami memasarkan via online dan dibantu juga oleh teman-teman,” katanya.

Apakah ada kendala selama ini dalam proses produksi? Ibu Mariani menyampaikan kalau kendalanya hanya di kemasan. Kemasannya agak mahal dan dan biaya kemasan dan sticek saja hampir Rp 2.500.  Sementara untuk bahan baku tidak masalah, karena masyarakat petani di Desa Panji dan sekitarnya sudah ada yang mengembangkan pertanian jahe merah dari setengah hektar sampai 1,5 hektar.

“Kami masih urus BPOM, sementara PIRT sudah dibantu oleh Pemerintah Desa melalui Bumdes Panji,” katanya.

Perjalanan Merintis KWT

Ibu Mariani juga menceritakan getir perjalanannya merintis KWT, bagaimana saat itu dia mesti harus meyakinkan diri bahwa perempuan haruslah menjadi bagian dari proses pembangunan sebuah desa. Dia dan teman-temannya sepakat bahwa perempuan harus produktif, tidak terjebak dalam rutinitas yang hanya fokus pada urusan dapur, sumur dan kasur. Sangatlah berat merintis, meyakinkan suami dan keluarga mereka di awal-awal, bahwa apa yang dilakukan para perempuan ini adalah bagian dari usaha untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Kebun KWT Tulus Bakti

Tahun 2019, kelompok ini berhasil membuktikan kepada keluarga dan masyarakat di sekitarnya, bahwa kerja keras mereka berbuah manis dengan disabetnya juara dua kategori KWT, dalam lomba inovasi desa yang diadakan Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng.

“Tiang bersyukur, Pak, ternyata wenten masi perhatian dari Pemerintah, tentang napi sane dibuat oleh KWT,” ujarnya. Ia bersyukur karena adanya perhatian pemerintah tentang apa yang mereka telah perbuat di KWT mereka.

Kebun yang Luas

Waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 siang, Ibu Mariani mengajak kami untuk berkunjung ke kebun yang dikelola oleh KWT mereka, namun sebelum ke sana saya diberikannya oleh-oleh bibit jahe merah dan serbuk jahe merah.

Jarak antara rumah dan kebun hanya beberapa meter saja. Luas kebun itu sekitar 4 are, kebun ini merupakan milik dari anggota KWT yang disewa oleh KWT sebagai kebun percontohan. Disana mereka melakukan aktivitas mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan, hingga proses panen.

Saya melihat banyak sayuran mulai dari pare, cabai, tomat, terong panjang, sayur hijau hingga kangkung. Sementara pagar hidup yang mengelilingi kebun itu ditanam tanaman kelongkang, kelor dan ketela pohon. Ibu Mariani berkilah kalau semua bagian dari kebun ini haruslah produktif, pagarnya kami tanam juga dengan tanaman pangan agar bisa kami petik bersama kelompok.

Kebun ini dikelola oleh 20 anggota KWT, mereka secara bergilir bergotong royong setiap hari Minggu, setiap hari ada 2 orang yang bertugas. Sementara setiap seminggu sekali mereka turun bersama melakukan perawatan sembari memetik hasil kebun untuk bisa mereka bagi bersama kelompoknya. Kebun ini dikelola dengan pola pertanian organik, tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia.

Saat itu, kami juga ditemani oleh anak ketiga dari Ibu Mariani, Komang Trisna Wahyuni. Menurut Komang, dia sangat senang ikut kegiatan berkebun ini. Dia bisa belajar bertani, sembari mendapatkan upah harian sekitar Rp. 60.000 untuk melakukan pembibitan tanaman.

“Lumayan untuk menutupi biaya kuota sekolah daring,” katanya.

Beberapa waktu berselang, datang pelanggan seorang pria, seorang pensiunan dosen salah satu universitas terbesar di Bali Utara, dia bernama Gede Artawan. Dia datang bersama temannya, dia hendak memesan bibit dari KWT ini. Dia menuturkan sangat senang dengan usaha KWT ini, bagaimana mereka berpikir tentang keberdampakan secara ekonomi dan sosial. “Dan sudah mampu memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat. Kalau disini ketersediaan bibit lengkap dan harganya juga terjangkau,” katanya.

Salah seorang anggota KWT Tulus Bakti, Kadek Dian Arianti menyampaikan dia sangat senang bisa menjadi bagian dari kelompok ini. Dia bisa belajar mengenal tanaman, dapat berinteraksi positif dengan anggota lainnya, hingga bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dalam hal pangan. “Tiang jadi senang berkebun, di rumah juga tiang ada beberapa tanaman pangan, dapat bibit dari KWT dan lumayan bisa meringankan pengeluaran sehari-hari.” katanya.

Kesuksesan KWT ini ditandai juga dengan kesuksesannya membeli sebuah lahan di pinggir jalan di Desa Panji. Rencananya, lahan itu akan dikembangkan sebagai sekretariat sekaligus tempat untuk memasarkan produk-produk yang dihasilkan oleh KWT.

Hebat sekali Ibu Mariani, begitu juga dengan semangat perempuan di KWT Tulus Bakti. [T]

___

Baca artikel TOBING CRYSNANJAYA lain

Tok, Tok, Tok…! Sudang Lepet Made Suarti pun Pipih dan Gurih

Tok, Tok, Tok…! Sudang Lepet Made Suarti pun Pipih dan Gurih

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Tags: bulelengDesa PanjiherbalKelompok Wanita Taniobat herbalpertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

Next Post

Kidung, Coki dan Lana | Ekspedisi Garis Langit Melewati Nusantara dan Asia Tenggara

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 26, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

Read moreDetails

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

Read moreDetails

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

Read moreDetails

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

Read moreDetails

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kidung, Coki dan Lana | Ekspedisi Garis Langit Melewati Nusantara dan Asia Tenggara

Kidung, Coki dan Lana | Ekspedisi Garis Langit Melewati Nusantara dan Asia Tenggara

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 26, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co