29 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bermainlah ke Mandul di Panji | Ada Jahe Merah Hangat dan Mariani yang Petani

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
August 10, 2021
in Khas
Bermainlah ke Mandul di Panji | Ada Jahe Merah Hangat dan Mariani yang Petani

Penulis bersama Ibu Mariani [Foto koleksi Tobing]

Bentang alam begitu indah, hamparan sawah amat luas, memanjakan mata siapa saja yang memasuki kawasan Banjar Mandul, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali. Ini benar-benar tempat yang menarik, masih asri, dan terawatt.

Untuk mencapai tempat ini, hanya diperlukan waktu tidak lebih dari 15 menit dari Kota Singaraja. Saya ke tempat itu, bersama Arik, sahabat saya, akhir pekan lalu, sekadar melepaskan penat dari hiruk-pikuk kehidupan, untuk belajar, mendengarkan dan mencatat cerita-cerita inspiratif dari orang-orang yang jauh dari keramaian.

Gede Ganesha, sahabat saya yang kebetulan menjadi rekan kerja di Koperasi Pangan Bali Utara, menuntun saya menuju ke sebuah rumah di pinggir jalan Dusun Mandul. Kami memarkirkan kendaraan, dan dari luar kami melihat beberapa tanaman buah dan sayur menjuntai dari dalam polibag kecil, berjejer di sisi sebelah utara rumah. Dapat kami lihat ada tomat, cabai hingga terong.

“Om Swastiastu”, suara Gede Ganesha mohon ijin kepada sang pemilik rumah, dan dari dalam muncul sosok perempuan paruh baya dengan menggunakan pakaian biru tua. Ya benar, perempuan itu adalah Nyoman Mariani, seorang ibu rumah tangga yang juga mengabdikan diri sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Tulus Bakti, Desa Panji.

Jahe Merah Hangat-hangat

Ibu Mariani, begitu saya memanggilnya, dia sangat ramah, tekun dan memiliki dedikasi tinggi untuk memajukan kehidupan perempuan di desanya. Salah satunya mengembangkan potensi pertanian di desanya.

Awalnya, tahun 2007, dia bersama beberapa ibu rumah tangga, berniat mengembangkan diri sembari berusaha memaksimalkan potensi pertanian yang ada di desanya. Apalagi, Desa Panji memang memiliki potensi pertanian yang cukup besar dengan wilayah yang luas.

Dia mempersilahkan kami duduk, kami ngobrol-ngobrol santai, selang beberapa lama, dari dalam muncul anak perempuannya Komang Trisna Wahyuni. Dia masih SMP namun sudah terlihat telaten dalam melayani para tamu yang berkunjung ke rumahnya.

Komang membawa nampan yang berisi tiga gelas minuman hangat, dari aromanya sudah dapat dibayangkan kalau minuman itu adalah Sari Jahe Merah yang Ibu Mariani produksi di rumahnya sendiri.

Ibu Marianbi menyiram tanaman. Itu kegiatan rutin

Kami dipersilakan minum, seruput pertama saya bisa merasakan sensasi pedas, namun perlahan rasa itu melebur dengan rasa manis gula batu yang mengikuti. Kehangatan, tidak hanya sampai di mulut, hal itu terasa sampai ke kerongkongan, hingga akhirnya keringat tiba-tiba mengucur dari badan.

Saya tanya ke Arik dan Ganesha, apakah mereka merasakan hal yang sama dan mereka kompak menjawab “iya, saya juga sama”. Benar-benar menyehatkan minuman ini.

Ibu Mariani berusia 47 tahun, suaminya bernama Made Tirta yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai hotel bintang lima di Bali, yang memilih pensiun untuk membantu mengembangkan usaha rumah tangga mereka.

Cara Membuat Serbuk Jahe Merah

Pasangan ini memiliki empat orang anak, mereka semua masih sekolah, dan ada satu yang baru tamat sekolah kapal pesiar. Anaknya ini juga sedang fokus juga mengembangkan kelompok usaha ternak lele di desanya. Untuk cerita ternak lele ini nanti saya akan ulas lagi di tulisan selanjutnya.

Tidak hanya mendapatkan minuman penghangat sari jahe merah, kami pun mendapatkan cerita tahapan-tahapan bagaimana dia membuat produk jahe merah ini. Dimulai dari proses pencucian jahe di air mengalir, hingga akhirnya dibersihkan kulitnya untuk kemudian diparut.

Parutan jahe merah ini diperas, diambil airnya saja. Air itu kemudian direbus dan dicampurkan beberapa bahan lain seperti gula batu dan rempah seperti sereh, pandan dan kayu manis. Rebusan ini dilakukan sampai bahan benar-benar mengkristal, setelah itu seluruh bahan akan didinginkan untuk kemudian dihaluskan kembali sehingga terbentuklah serbuk bubuk.

Satu kilogram serbuk bubuk jahe merah dihasilkan dari 1,5 kilogram jahe merah dan bahan lainnya. Dalam satu bulan dia bisa memproduksi sampai 60 Kg. Rata-rata harga jual perkilo serbuk jahe merah ini dibandrol dengan harga Rp. 150.000. Tapi untuk eceran, Ibu Mariani membuat kemasan 200 gram dengan harga Rp. 35.000 perbungkus.

“Jahe merah niki sudah dipasarkan ke dinas-dinas, Sekolah Polisi Negeri Singaraja, hingga ke Kabupaten Klungkung, Negara dan Denpasar. Kami memasarkan via online dan dibantu juga oleh teman-teman,” katanya.

Apakah ada kendala selama ini dalam proses produksi? Ibu Mariani menyampaikan kalau kendalanya hanya di kemasan. Kemasannya agak mahal dan dan biaya kemasan dan sticek saja hampir Rp 2.500.  Sementara untuk bahan baku tidak masalah, karena masyarakat petani di Desa Panji dan sekitarnya sudah ada yang mengembangkan pertanian jahe merah dari setengah hektar sampai 1,5 hektar.

“Kami masih urus BPOM, sementara PIRT sudah dibantu oleh Pemerintah Desa melalui Bumdes Panji,” katanya.

Perjalanan Merintis KWT

Ibu Mariani juga menceritakan getir perjalanannya merintis KWT, bagaimana saat itu dia mesti harus meyakinkan diri bahwa perempuan haruslah menjadi bagian dari proses pembangunan sebuah desa. Dia dan teman-temannya sepakat bahwa perempuan harus produktif, tidak terjebak dalam rutinitas yang hanya fokus pada urusan dapur, sumur dan kasur. Sangatlah berat merintis, meyakinkan suami dan keluarga mereka di awal-awal, bahwa apa yang dilakukan para perempuan ini adalah bagian dari usaha untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Kebun KWT Tulus Bakti

Tahun 2019, kelompok ini berhasil membuktikan kepada keluarga dan masyarakat di sekitarnya, bahwa kerja keras mereka berbuah manis dengan disabetnya juara dua kategori KWT, dalam lomba inovasi desa yang diadakan Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng.

“Tiang bersyukur, Pak, ternyata wenten masi perhatian dari Pemerintah, tentang napi sane dibuat oleh KWT,” ujarnya. Ia bersyukur karena adanya perhatian pemerintah tentang apa yang mereka telah perbuat di KWT mereka.

Kebun yang Luas

Waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 siang, Ibu Mariani mengajak kami untuk berkunjung ke kebun yang dikelola oleh KWT mereka, namun sebelum ke sana saya diberikannya oleh-oleh bibit jahe merah dan serbuk jahe merah.

Jarak antara rumah dan kebun hanya beberapa meter saja. Luas kebun itu sekitar 4 are, kebun ini merupakan milik dari anggota KWT yang disewa oleh KWT sebagai kebun percontohan. Disana mereka melakukan aktivitas mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan, hingga proses panen.

Saya melihat banyak sayuran mulai dari pare, cabai, tomat, terong panjang, sayur hijau hingga kangkung. Sementara pagar hidup yang mengelilingi kebun itu ditanam tanaman kelongkang, kelor dan ketela pohon. Ibu Mariani berkilah kalau semua bagian dari kebun ini haruslah produktif, pagarnya kami tanam juga dengan tanaman pangan agar bisa kami petik bersama kelompok.

Kebun ini dikelola oleh 20 anggota KWT, mereka secara bergilir bergotong royong setiap hari Minggu, setiap hari ada 2 orang yang bertugas. Sementara setiap seminggu sekali mereka turun bersama melakukan perawatan sembari memetik hasil kebun untuk bisa mereka bagi bersama kelompoknya. Kebun ini dikelola dengan pola pertanian organik, tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia.

Saat itu, kami juga ditemani oleh anak ketiga dari Ibu Mariani, Komang Trisna Wahyuni. Menurut Komang, dia sangat senang ikut kegiatan berkebun ini. Dia bisa belajar bertani, sembari mendapatkan upah harian sekitar Rp. 60.000 untuk melakukan pembibitan tanaman.

“Lumayan untuk menutupi biaya kuota sekolah daring,” katanya.

Beberapa waktu berselang, datang pelanggan seorang pria, seorang pensiunan dosen salah satu universitas terbesar di Bali Utara, dia bernama Gede Artawan. Dia datang bersama temannya, dia hendak memesan bibit dari KWT ini. Dia menuturkan sangat senang dengan usaha KWT ini, bagaimana mereka berpikir tentang keberdampakan secara ekonomi dan sosial. “Dan sudah mampu memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat. Kalau disini ketersediaan bibit lengkap dan harganya juga terjangkau,” katanya.

Salah seorang anggota KWT Tulus Bakti, Kadek Dian Arianti menyampaikan dia sangat senang bisa menjadi bagian dari kelompok ini. Dia bisa belajar mengenal tanaman, dapat berinteraksi positif dengan anggota lainnya, hingga bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dalam hal pangan. “Tiang jadi senang berkebun, di rumah juga tiang ada beberapa tanaman pangan, dapat bibit dari KWT dan lumayan bisa meringankan pengeluaran sehari-hari.” katanya.

Kesuksesan KWT ini ditandai juga dengan kesuksesannya membeli sebuah lahan di pinggir jalan di Desa Panji. Rencananya, lahan itu akan dikembangkan sebagai sekretariat sekaligus tempat untuk memasarkan produk-produk yang dihasilkan oleh KWT.

Hebat sekali Ibu Mariani, begitu juga dengan semangat perempuan di KWT Tulus Bakti. [T]

___

Baca artikel TOBING CRYSNANJAYA lain

Tok, Tok, Tok…! Sudang Lepet Made Suarti pun Pipih dan Gurih

Tok, Tok, Tok…! Sudang Lepet Made Suarti pun Pipih dan Gurih

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Tags: bulelengDesa PanjiherbalKelompok Wanita Taniobat herbalpertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

Next Post

Kidung, Coki dan Lana | Ekspedisi Garis Langit Melewati Nusantara dan Asia Tenggara

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails
Next Post
Kidung, Coki dan Lana | Ekspedisi Garis Langit Melewati Nusantara dan Asia Tenggara

Kidung, Coki dan Lana | Ekspedisi Garis Langit Melewati Nusantara dan Asia Tenggara

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan
Esai

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi
Esai

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

by Angga Wijaya
April 28, 2026
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co