14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

Wayan Paing by Wayan Paing
August 9, 2021
in Esai
Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

Anak-anak gowes di pedesaan wilayah Gulinten, Karangasem, lebih banyak menuntun sepeda ketimbang menaikinya.

Istilah gowes dalam kamus bahasa Indonesia online diartikan bersepeda atau menggowes. Menggowes sendiri diartikan sebagai mengayuh sepeda. Jika dicari dalam google translate kata gowes diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai bicycling happily dan bicycling happily diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya bersepeda dengan senang hati.

Sepeda sebagai alat transportasi mulai mengalami transformasi menjadi alat untuk menyalurkan hobi, sebagai alat untuk berpetualang, dan yang paling penting pada masa pandemi saat ini adalah sebagai alat untuk menjaga kesehatan.

Ada banyak manfaat bersepeda bagi kesehatan seperti mengurangi risiko gangguan jantung dan pembuluh darah. Bersepeda secara rutin merupakan salah satu olahraga yang dapat menjaga kesehatan jantung dan menjaga sirkulasi darah dlam tubuh.

Selain itu bersepeda juga akan melatih otot-otot tubuh seperti otot perut, paha, betis, dan kaki. Dengan bersepeda juga mengurangi risiko obesitas karena saat bersepeda lemak akan terbakar dan tidak tertimbun dan menjadi lemak jenuh di dalam tubuh. Pada intinya, bersepeda dengan rutin dan waktu yang tepat dapat menjaga stamina dan kesehatan tubuh. 

Selain dilakukan dengan teratur, pemilihan waktu yang baik untuk bersepeda juga perlu diperhatikan. Bersepeda pada siang hari terik mungkin kurang baik bagi kesehatan, begitu juga kalau bersepeda ditengah guyuran hujan lebat disertai petir.

Di samping itu, bersepeda tengah malam merupakan pilihan yang kurang tepat karena angin malam kurang cocok bagi kesehatan. Waktu yang ideal untuk bersepeda adalah pagi hari ketika udara masih segar dengan sinar matahari yang masih bersahabat, begitupula saat senja merupakan pilihan waktu yang baik.

Selain baik bagi kesehatan tubuh, bersepeda juga dianggap baik bagi kesehatan lingkungan. Di kota-kota besar, pemerintah membuat jalur-jalur khusus untuk pesepeda. Harapannya, makin banyak masyarakat kota yang memakai sepeda dalam melakukan aktivitas penggunaan kendaraan bermotor akan berkurang. Berkurangnya volume penggunaan kendaraan bermotor akan mengurangi polusi udara.

Gerakan bike to work atau bekerja dengan bersepeda sudah lama digaungkan untuk menarik minat masyarakat menggunakan sepeda dalam melakukan aktivitasnya. Walaupun bike to work sudah lama digaungkan, namun kegiatan bersepeda atau gowes baru mulai menggeliat lagi di masa pandemi saat ini.

Hampir setiap saat kita menemukan orang berlalu lalang dengan sepeda terutama diakhir pekan atau waktu-waktu liburan. Status-status media sosial saat ini banyak yang dihiasi kegiatan gowes baik secara individu maupun rombongan. Hal ini memicu makin digandrunginya kegiatan gowes karena sudah dianggap sebagai gaya hidup baru yang perlu diikuti di tengah pandemi. Alasan sederhananya adalah untuk menjaga kesehatan dengan mudah dan murah.

Akan tetapi gowes yang dilakukan di kota-kota besar ternyata tidak mampu tidak mampu mengurangi kebisingan di kota. Ketika jalur sepeda permanen dipermasalahkan, gaungnya sampai ke mana-mana. Televisi, koran, dan berita-berita online babarapa hari terakhir dipenuhi kekisruhan jalur sepeda permanen tersebut.

Anak-anak desa gowes di halaman rumah

Gowes di Pedesaan

Jika di kota-kota keriuhan gowes karena berita dan kotroversinya, di daerah-daerah pedesaan atau pedalaman, keriuhannya berbeda. Di desa-desa bahkan di perkampungan yang jauh di pegunungan sana, gemanya tidak mau kalah. Ruang dan jalur yang gowes tentu tidak sama dengan yang ada di kota. Beberapa ada yang harus berebut dengan jemuran hasil panen yang mengambil sebagain ruang yang ada di halaman rumah.

Kesepian yang disajikan sepeda tidak membuat anak-anak di pelosok merasa puas. Mereka seolah tidak mau kalah dengan keriuhan gowes yang terjadi di kota. Maka terjadilah, sesekali ditempelnya botol bekas minuman mineral di dekat roda agar saat dikayuh, ada suara yang timbul layaknya mengendari kendaraan bermotor.

Jika tidak demikian, bersepeda sambil menirukan suara motor dari mulutnya, merupakan pemandangan yang biasa. Jika tidak puas dengan kedua hal tadi, mengisi beberapa botol plastik bekas dengan kerikil kemudian mengikatkannya di belakang sepeda agar saat dikayuh botol-botol tersebut terseret dan suara yang ditimbulkannya semakin riuh. Sensasi yang dirasakan mungkin sama dengan yang dirasakan oleh orang-orang kota yang berdebat masalah jalur permanen: sama-sama riuh.

Jika riuh gowes yang terjadi di kota karena masalah jalur, di desa terutama yang di daerah perbukitan, demam gowes acapkali menjadi gowes sampai demam. Jalan yang kurang mendukung karena dipenuhi tanjakan dan turunan yang tajam membuat kegiatan gowes sedikit lebih menantang. Seperti di wilayah perbukitan Desa Gulinten di Karangasem.

Anak-anak di desa itu juga suka gowes. Sebagian besar jalanan di perbukitan memaksa para anak-anak pecinta gowes untuk “membawa” sepeda. Membawa dalam artian tidak dikendarai, melainkan dituntun atau didorong karena medannya yang terjal. Medan yang tidak bersahabat dengan sepeda-sepeda yang tidak “bergigi”. Itulah sebabnya, selain karena jatuh dan memar di beberapa bagian tubuh, anak-anak di perbukitan yang demam gowes, akhirnya demam sungguhan karena kelelahan mendorong sepeda ketimbang menaikinya. [T]

Tags: balap sepedadesagowessepeda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hadapi Covid-19 dengan Secukupnya | Catatan Seorang Penyintas

Next Post

Bermainlah ke Mandul di Panji | Ada Jahe Merah Hangat dan Mariani yang Petani

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Bermainlah ke Mandul di Panji | Ada Jahe Merah Hangat dan Mariani yang Petani

Bermainlah ke Mandul di Panji | Ada Jahe Merah Hangat dan Mariani yang Petani

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co