1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hadapi Covid-19 dengan Secukupnya | Catatan Seorang Penyintas

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 9, 2021
in Esai
Hadapi Covid-19 dengan Secukupnya | Catatan Seorang Penyintas

Dari lantai dua rumah saya, tempat saya menjalani isolasi mandiri

Ya, Saya positif Sars-CoV2 agen penyebab COVID-19. Deretan huruf berwarna merah di bagian tengah formulir itu dari jauh sudah bisa terlihat jelas dan memastikan status saya saat ini sebagai seorang OTG/GR. Seseorang yang telah terkonfirmasi terinfeksi virus Sars-CoV2 namun dengan gejala minimal seperti yang saya rasakan saat ini, adapun sakit yang saya rasakan cuma demam di sore hari disertai batuk kering.

Akhirnya, semua akan covid pada waktunya, begitu canda seorang teman yang saya kabari kondisi saya. Tak ada kesan meledek di nada bicaranya. Sekedar penyemangat dan membuat saya sadar bahwa positif Covid-19 bukanlah akhir dari segalanya.

Saya termasuk terlambat memeriksakan diri, saya sudah merasa meriang hampir mulai 10 hari yang lalu. Saya sedikit mengabaikannya, karena saya sudah lama sekali tak pernah menderita sakit seperti ini, puluhan tahun mungkin. Saya menerapkan hidup sehat, makan dan tidur teratur di gunung. Olahraga seminggu dua kali di kota. Dengan gaya hidup seperti ini, saya benar benar lupa kapan terakhir minum obat karena influenza, puluhan tahun yang lalu saya pikir. Jadi saya anggap keluhan ini hanya karena kurang tidur, sehingga dibawa tidur nyenyak sehari saja pasti akan hilang dengan sendirinya.

Kamis pagi saya merasa sedikit pusing, sepulang dari kota Negara. Siangnya sepulang kantor sedikit memaksakan diri menyuntik pasien di rumahnya, karena yang bersangkutan tak bisa dibawa ke tempat praktek. Kamis malam langsung tepar, demam sampai pagi. Jumat pagi inisiatif tak ke kantor untuk beristirahat, dan siangnya ambil keputusan untuk pulang saja ke Negara, biar dapat istirahat total tanpa diganggu pasien yang hendak berobat. Di kemudian hari keputusan ini saya syukuri, karena dengan positif-nya saya, kemungkinan hari itu sudah ada virus di tubuh saya, dan kemungkinan terburuk bisa menulari pasien saya, mereka yang datang untuk sembuh, justru jadi sakit karena tertular.

Inisiatif untuk memeriksakan diri datang keesokan harinya. Saat terdengar kabar pasien yang sempat saya periksa di rumah akhirnya dibawa ke rumah sakit, kemudian terkonfirmasi positif Covid-19 hinggga akhirnya meninggal. Jadi saya yang sebelumnya pernah sekamar dengannya untuk memeriksa meski dalam hitungan menit, namun dalam kondisi tidak fit. Maka saya menjadi orang pertama yang mesti ditetapkan sebagai kontak erat dan harus dilanjutkan dengan pemeriksaan swab antigen/PCR untuk memastikan status covid saya.

Inisiatif lainnya datang sore itu, tiba-tiba saja seorang teman sejawat chat mengabarkan dirinya positif, dengan kadar oksigen darah (saturasi) yang menurut saya cukup mengkhawatirkan. Spontan saya unggah kondisi lengkap yang bersangkutan di grup angkatan kedokteran kami. Dan seperti yang saya duga, teman-teman di kota yang sudah pernah mengalami, maupun yang lebih sering menangani kasus kasus Covid begini segera memaksa dia untuk segera mencari pertolongan, dan saya-lah ujung tombaknya biar dia segera dievakuasi ke RS.

Begitu sigapnya teman-teman saya, malam itu juga yang bersangkutan segera berangkat ke Denpasar, dan kalaupun kondisinya memburuk, sampai perlu dirawat di HCU. Satu ruang HCU sudah disiapkan atas namanya dan siap diisi kapan pun juga. Begitu mungkin manifestasi Jiwa Corza diantara sesama dokter, apalagi yang merasa pernah satu angkatan, 6-7 tahun bersama menempuh pendidikan kedokteran dengan segala suka dukanya.

Kembali ke kasus saya, akhirnya Senin pagi saya berangkat sendiri ke RS. Istri yang rencananya ikut swab, mendadak membatalkan diri. Tunggu hasilnya saya saja, kalau positif baru lanjut kami semua, begitu kilahnya. Dalam 1 jam, karena cuma swab Ag hasil langsung jadi dan positif.

Saat disarankan untuk lanjut periksa PCR, saya menolaknya, saya merasa sakit saat dicolok kedua hidung barusan, jadi saya trauma. Dan yang saya tahu, sensitivitas pemeriksaan swab AG sudah mendekati /hampir 90 % pemeriksaan swab PCR.

Sejenak saya tertegun, menikmati kesialan ini sejenak, coba  menyangkalnya sebentar lalu mulai menerimanya sebagai sebuah kenyataan. Saya duduk sebentar, memikirkan siapa-siapa yang mesti saya telpon untuk kabarkan kondisi saya, istri pasti, yang lain menyusul kemudian. Istri saya telpon, dia cukup terpukul tapi saya besarkan hatinya, dan suruh siapkan diri untuk segera dites juga bersama mertua dan anak-anak yang tinggal serumah.

Teman sekantor saya telpon, dan ternyata mereka juga ada inisiatif untuk swab bersama beberapa orang yang mengalami gejala dan akhirnya ada dua yang positif juga, “Hmm tambah banyak kerjaan nannti nih petugas surveilennya”, begitu pikir saya. Dalam perjalanan pulang saya coba merenung kembali, kira-kira dimana saya bisa terpapar virus ini ya, di kantor, di tempat praktek, di kota atau dimana?

Akhirnya saya simpulkan, kemungkinan besar saya dapatnya di praktek. Di Puskesmas saya jarang periksa pasien karena sudah ada dokter ke 2. Kunjungan pasien ke praktek bulan-bulan ini sangat meningkat, jadi kalau itu diperiksa acak, barangkali akan ditemukan satu atau lebih pasien dengan Covid-19. Kebetulan saat itu perlindungan diri saya kurang optimal dan kondisi badan saya sedang menurun. Jadi virus itu gampang masuk ke tubuh saya.

Saya ingat, akhir-akhir ini cukup sering pergi bolak-balik karena suatu urusan ke Tabanan, Singaraja, Negara. Lebih sering dari biasanya. Olahraga tenis sudah lebih sebulan tak bisa karena lapangan ditutup terkait PPKM. Jadi bisa dibayangkan kebugaran tubuh saya ini. Oya sebagai tanggung jawab sosial saya selaku anggota masyarakat yang melayani masyarakat desa disana, malamnya saya langsung menelpon ketua satgas desa saya. Saya menceritakan kronologis kejadian yang menimpa saya, dan berjanji akan bekerjasama terkait langkah langkah selanjutnya yang diambil desa dalam hal penanganan kasus penyebaran Covid-19 seperti ini.

Cukup sudah saya meratapi diri, hidup harus tetap berjalan, begitu tekad saya. Saat seorang teman menanyakan kebenaran status saya di sebuah grup pertemanan, saya jawab secara diplomatis. Saya punya kabar baik dan buruk kata saya. Kabar buruknya, saya terpapar, dan kabar baiknya, badan dan jiwa saya menolak kalah melawan virus ini, begitu saya menyemangati diri.

Saya mulai menghubungi teman-teman yang saya anggap lebih tahu tentang penanganan kasus Covid-19. Jujur saja, sebagai dokter lapangan, selama ini saya fokus ke pencegahan saja, pengobatan pasien kurang kita pelajari, karena kami anggap sudah ada orang yang lebih kompeten untuk hal itu. Masalah pertama yang kita hadapi adalah banjir informasi, begitu banyak info tentang penanganan covid-19 ini dan kita mesti pintar memilih moda penanganan yang dianjurkan tadi.

Metode menghirup uap hangat yang katanya efektif, justru membuat batuk saya bertambah parah. Satu yang saya pegang pada dasarnya terapi utama adalah terapi penunjang saja, pemakaian anti virus dan antibiotik hanya untuk mereka yang mengalami gejala penyerta yang dirasa berat saja.

Hari pertama saya isolasi mandiri di rumah, sendirian di lantai dua. Makan dan minum dilayani, kamar mandi menggunakan sendiri. Keluhan utama saya adalah batuk yang sangat mengganggu, tak henti-henti, sampai sakit perut karena batuk terus menerus. Obat yang diberikan di rumah sakit hanya berupa vitamin dan antibiotik satu dosis.

Hari berikutnya, semua harus berubah, istri dan dua anak ternyata positif juga. Segera yang belum terpapar diungsikan semua ke rumah mertua. Kami berempat saja di rumah ini, saya tetap di lantai dua sendiri, karena batuk tetap keras, takutnya sedang aktif virus ini. Kebutuhan sehari-hari didukung oleh mertua dan ipar. Pagi sore datang makanan mateng, ipar setiap saat datang untuk belikan obat dan cemilan. Cukup segitu saja kami merepotkan orang lain terkait isolasi yang kami lakukan secara mandiri. Tetangga samping dan belakang rumah mungkin tak tahu kalau kami sedang isoman, kebetulan sekali rumah kami ada di tengah persawahan, cuma ada satu rumah dan satu toko tetangga kami disana.

Gejala utama yang saya rasakan saat terpapar ini adalah demam naik turun, terutama di malam hari, menetap sampai hari ke 10 ini dan biasanya bisa diatasi cukup dengan parasetamol. Obat-obat lain sebagai penunjang adalah vitamin kombinasi yang mengandung vitamin C, vitamin D dan Zinc pada komposisi tertentu.

Gejala lainnya yang sangat mengganggu adalah batuk kering, yang sampai membuat perut sakit, dan bahkan tak bisa memejamkan mata barang sekejap-pun di hari hari awal terpapar. Obat asetilsistein yang cukup bagus, tak cukup membantu. Sampai akhirnya saya minta resep obat jenis tertentu (dilarang sama senior saya), tapi karena tak tahan saya coba minum. Dan terbukti hari berikutnya begitu minum itu, langsung bisa tidur. Tapi saat diminum lagi hari berikutnya, kepala pusing, terasa berputar dan mau muntah, akhirnya muntah. Ternyata itu adalah efek samping obat ini. Terpaksa akhirnya minum obat itu hanya kalau menjelang tidur, biar pusingnya bisa langsung dibawa tidur.

Selain keluhan tadi, hampir tak ada keluhan yang cukup berarti, penciuman masih normal sehingga makan minum apapun masih terasa enak. Istri dan anak hanya mengalami keluhan yang minimal, demam sebentar dan batuk minimal. Untuk mereka cukup obat penunjang dan antibiotik saja, si bungsu yang demam lebih lama, disarankan anti virus juga dalam dosis yang lebih kecil.

Dukungan pihak lain dalam situasi seperti kami saya rasa secukupnya saja. Keluarga terdekat yang selalu bisa dikontak setiap saat itu sudah lebih dari cukup biar kita tak terlalu merepotkan banyak pihak. Jaringan pertemanan medis saya, baik di puskesmas, dinas kesehatan maupun RSU sangat membantu saat diperlukan obat obat khusus yang biasanya susah untuk didapatkan. Bahkan ada obat obat tertentu yang susah dan mahal, bisa saya dapatkan dengan cuma-cuma atas pertolongan teman.

Mudah-mudahan kami segera bisa lepas dari virus ini, sehingga saya bisa beraktivitas kembali di tengah masyarakat. Karena saya menganggap kemarin dapatnya di praktek maka ke depan saya akan coba memperbaiki dan melengkapi sarana perlindungan diri di sana. Saya akan mulai dari penetapan jam praktek, biar saya bisa ada waktu persiapkan diri. Melengkapi tempat cuci tangan dan lebih banyak hand sanitizer. Menyiapkan masker untuk mereka yang tak pakai masker. Memasang lebih banyak lagi ventilasi udara di ruang  praktek saya. Melakukan desinfeksi ruangan sehabis pelayanan pasien.

Mungkin seperti itu saja yang bisa saya bagi disini, terpapar Covid bukanlah akhir dari segalanya, Pante Rei, dan semuanya pasti akan berlalu.[T]

Tags: covid 19kesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sugantika Lekung | “Udah Gitu Aja!”

Next Post

Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails
Next Post
Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co