3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hadapi Covid-19 dengan Secukupnya | Catatan Seorang Penyintas

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 9, 2021
in Esai
Hadapi Covid-19 dengan Secukupnya | Catatan Seorang Penyintas

Dari lantai dua rumah saya, tempat saya menjalani isolasi mandiri

Ya, Saya positif Sars-CoV2 agen penyebab COVID-19. Deretan huruf berwarna merah di bagian tengah formulir itu dari jauh sudah bisa terlihat jelas dan memastikan status saya saat ini sebagai seorang OTG/GR. Seseorang yang telah terkonfirmasi terinfeksi virus Sars-CoV2 namun dengan gejala minimal seperti yang saya rasakan saat ini, adapun sakit yang saya rasakan cuma demam di sore hari disertai batuk kering.

Akhirnya, semua akan covid pada waktunya, begitu canda seorang teman yang saya kabari kondisi saya. Tak ada kesan meledek di nada bicaranya. Sekedar penyemangat dan membuat saya sadar bahwa positif Covid-19 bukanlah akhir dari segalanya.

Saya termasuk terlambat memeriksakan diri, saya sudah merasa meriang hampir mulai 10 hari yang lalu. Saya sedikit mengabaikannya, karena saya sudah lama sekali tak pernah menderita sakit seperti ini, puluhan tahun mungkin. Saya menerapkan hidup sehat, makan dan tidur teratur di gunung. Olahraga seminggu dua kali di kota. Dengan gaya hidup seperti ini, saya benar benar lupa kapan terakhir minum obat karena influenza, puluhan tahun yang lalu saya pikir. Jadi saya anggap keluhan ini hanya karena kurang tidur, sehingga dibawa tidur nyenyak sehari saja pasti akan hilang dengan sendirinya.

Kamis pagi saya merasa sedikit pusing, sepulang dari kota Negara. Siangnya sepulang kantor sedikit memaksakan diri menyuntik pasien di rumahnya, karena yang bersangkutan tak bisa dibawa ke tempat praktek. Kamis malam langsung tepar, demam sampai pagi. Jumat pagi inisiatif tak ke kantor untuk beristirahat, dan siangnya ambil keputusan untuk pulang saja ke Negara, biar dapat istirahat total tanpa diganggu pasien yang hendak berobat. Di kemudian hari keputusan ini saya syukuri, karena dengan positif-nya saya, kemungkinan hari itu sudah ada virus di tubuh saya, dan kemungkinan terburuk bisa menulari pasien saya, mereka yang datang untuk sembuh, justru jadi sakit karena tertular.

Inisiatif untuk memeriksakan diri datang keesokan harinya. Saat terdengar kabar pasien yang sempat saya periksa di rumah akhirnya dibawa ke rumah sakit, kemudian terkonfirmasi positif Covid-19 hinggga akhirnya meninggal. Jadi saya yang sebelumnya pernah sekamar dengannya untuk memeriksa meski dalam hitungan menit, namun dalam kondisi tidak fit. Maka saya menjadi orang pertama yang mesti ditetapkan sebagai kontak erat dan harus dilanjutkan dengan pemeriksaan swab antigen/PCR untuk memastikan status covid saya.

Inisiatif lainnya datang sore itu, tiba-tiba saja seorang teman sejawat chat mengabarkan dirinya positif, dengan kadar oksigen darah (saturasi) yang menurut saya cukup mengkhawatirkan. Spontan saya unggah kondisi lengkap yang bersangkutan di grup angkatan kedokteran kami. Dan seperti yang saya duga, teman-teman di kota yang sudah pernah mengalami, maupun yang lebih sering menangani kasus kasus Covid begini segera memaksa dia untuk segera mencari pertolongan, dan saya-lah ujung tombaknya biar dia segera dievakuasi ke RS.

Begitu sigapnya teman-teman saya, malam itu juga yang bersangkutan segera berangkat ke Denpasar, dan kalaupun kondisinya memburuk, sampai perlu dirawat di HCU. Satu ruang HCU sudah disiapkan atas namanya dan siap diisi kapan pun juga. Begitu mungkin manifestasi Jiwa Corza diantara sesama dokter, apalagi yang merasa pernah satu angkatan, 6-7 tahun bersama menempuh pendidikan kedokteran dengan segala suka dukanya.

Kembali ke kasus saya, akhirnya Senin pagi saya berangkat sendiri ke RS. Istri yang rencananya ikut swab, mendadak membatalkan diri. Tunggu hasilnya saya saja, kalau positif baru lanjut kami semua, begitu kilahnya. Dalam 1 jam, karena cuma swab Ag hasil langsung jadi dan positif.

Saat disarankan untuk lanjut periksa PCR, saya menolaknya, saya merasa sakit saat dicolok kedua hidung barusan, jadi saya trauma. Dan yang saya tahu, sensitivitas pemeriksaan swab AG sudah mendekati /hampir 90 % pemeriksaan swab PCR.

Sejenak saya tertegun, menikmati kesialan ini sejenak, coba  menyangkalnya sebentar lalu mulai menerimanya sebagai sebuah kenyataan. Saya duduk sebentar, memikirkan siapa-siapa yang mesti saya telpon untuk kabarkan kondisi saya, istri pasti, yang lain menyusul kemudian. Istri saya telpon, dia cukup terpukul tapi saya besarkan hatinya, dan suruh siapkan diri untuk segera dites juga bersama mertua dan anak-anak yang tinggal serumah.

Teman sekantor saya telpon, dan ternyata mereka juga ada inisiatif untuk swab bersama beberapa orang yang mengalami gejala dan akhirnya ada dua yang positif juga, “Hmm tambah banyak kerjaan nannti nih petugas surveilennya”, begitu pikir saya. Dalam perjalanan pulang saya coba merenung kembali, kira-kira dimana saya bisa terpapar virus ini ya, di kantor, di tempat praktek, di kota atau dimana?

Akhirnya saya simpulkan, kemungkinan besar saya dapatnya di praktek. Di Puskesmas saya jarang periksa pasien karena sudah ada dokter ke 2. Kunjungan pasien ke praktek bulan-bulan ini sangat meningkat, jadi kalau itu diperiksa acak, barangkali akan ditemukan satu atau lebih pasien dengan Covid-19. Kebetulan saat itu perlindungan diri saya kurang optimal dan kondisi badan saya sedang menurun. Jadi virus itu gampang masuk ke tubuh saya.

Saya ingat, akhir-akhir ini cukup sering pergi bolak-balik karena suatu urusan ke Tabanan, Singaraja, Negara. Lebih sering dari biasanya. Olahraga tenis sudah lebih sebulan tak bisa karena lapangan ditutup terkait PPKM. Jadi bisa dibayangkan kebugaran tubuh saya ini. Oya sebagai tanggung jawab sosial saya selaku anggota masyarakat yang melayani masyarakat desa disana, malamnya saya langsung menelpon ketua satgas desa saya. Saya menceritakan kronologis kejadian yang menimpa saya, dan berjanji akan bekerjasama terkait langkah langkah selanjutnya yang diambil desa dalam hal penanganan kasus penyebaran Covid-19 seperti ini.

Cukup sudah saya meratapi diri, hidup harus tetap berjalan, begitu tekad saya. Saat seorang teman menanyakan kebenaran status saya di sebuah grup pertemanan, saya jawab secara diplomatis. Saya punya kabar baik dan buruk kata saya. Kabar buruknya, saya terpapar, dan kabar baiknya, badan dan jiwa saya menolak kalah melawan virus ini, begitu saya menyemangati diri.

Saya mulai menghubungi teman-teman yang saya anggap lebih tahu tentang penanganan kasus Covid-19. Jujur saja, sebagai dokter lapangan, selama ini saya fokus ke pencegahan saja, pengobatan pasien kurang kita pelajari, karena kami anggap sudah ada orang yang lebih kompeten untuk hal itu. Masalah pertama yang kita hadapi adalah banjir informasi, begitu banyak info tentang penanganan covid-19 ini dan kita mesti pintar memilih moda penanganan yang dianjurkan tadi.

Metode menghirup uap hangat yang katanya efektif, justru membuat batuk saya bertambah parah. Satu yang saya pegang pada dasarnya terapi utama adalah terapi penunjang saja, pemakaian anti virus dan antibiotik hanya untuk mereka yang mengalami gejala penyerta yang dirasa berat saja.

Hari pertama saya isolasi mandiri di rumah, sendirian di lantai dua. Makan dan minum dilayani, kamar mandi menggunakan sendiri. Keluhan utama saya adalah batuk yang sangat mengganggu, tak henti-henti, sampai sakit perut karena batuk terus menerus. Obat yang diberikan di rumah sakit hanya berupa vitamin dan antibiotik satu dosis.

Hari berikutnya, semua harus berubah, istri dan dua anak ternyata positif juga. Segera yang belum terpapar diungsikan semua ke rumah mertua. Kami berempat saja di rumah ini, saya tetap di lantai dua sendiri, karena batuk tetap keras, takutnya sedang aktif virus ini. Kebutuhan sehari-hari didukung oleh mertua dan ipar. Pagi sore datang makanan mateng, ipar setiap saat datang untuk belikan obat dan cemilan. Cukup segitu saja kami merepotkan orang lain terkait isolasi yang kami lakukan secara mandiri. Tetangga samping dan belakang rumah mungkin tak tahu kalau kami sedang isoman, kebetulan sekali rumah kami ada di tengah persawahan, cuma ada satu rumah dan satu toko tetangga kami disana.

Gejala utama yang saya rasakan saat terpapar ini adalah demam naik turun, terutama di malam hari, menetap sampai hari ke 10 ini dan biasanya bisa diatasi cukup dengan parasetamol. Obat-obat lain sebagai penunjang adalah vitamin kombinasi yang mengandung vitamin C, vitamin D dan Zinc pada komposisi tertentu.

Gejala lainnya yang sangat mengganggu adalah batuk kering, yang sampai membuat perut sakit, dan bahkan tak bisa memejamkan mata barang sekejap-pun di hari hari awal terpapar. Obat asetilsistein yang cukup bagus, tak cukup membantu. Sampai akhirnya saya minta resep obat jenis tertentu (dilarang sama senior saya), tapi karena tak tahan saya coba minum. Dan terbukti hari berikutnya begitu minum itu, langsung bisa tidur. Tapi saat diminum lagi hari berikutnya, kepala pusing, terasa berputar dan mau muntah, akhirnya muntah. Ternyata itu adalah efek samping obat ini. Terpaksa akhirnya minum obat itu hanya kalau menjelang tidur, biar pusingnya bisa langsung dibawa tidur.

Selain keluhan tadi, hampir tak ada keluhan yang cukup berarti, penciuman masih normal sehingga makan minum apapun masih terasa enak. Istri dan anak hanya mengalami keluhan yang minimal, demam sebentar dan batuk minimal. Untuk mereka cukup obat penunjang dan antibiotik saja, si bungsu yang demam lebih lama, disarankan anti virus juga dalam dosis yang lebih kecil.

Dukungan pihak lain dalam situasi seperti kami saya rasa secukupnya saja. Keluarga terdekat yang selalu bisa dikontak setiap saat itu sudah lebih dari cukup biar kita tak terlalu merepotkan banyak pihak. Jaringan pertemanan medis saya, baik di puskesmas, dinas kesehatan maupun RSU sangat membantu saat diperlukan obat obat khusus yang biasanya susah untuk didapatkan. Bahkan ada obat obat tertentu yang susah dan mahal, bisa saya dapatkan dengan cuma-cuma atas pertolongan teman.

Mudah-mudahan kami segera bisa lepas dari virus ini, sehingga saya bisa beraktivitas kembali di tengah masyarakat. Karena saya menganggap kemarin dapatnya di praktek maka ke depan saya akan coba memperbaiki dan melengkapi sarana perlindungan diri di sana. Saya akan mulai dari penetapan jam praktek, biar saya bisa ada waktu persiapkan diri. Melengkapi tempat cuci tangan dan lebih banyak hand sanitizer. Menyiapkan masker untuk mereka yang tak pakai masker. Memasang lebih banyak lagi ventilasi udara di ruang  praktek saya. Melakukan desinfeksi ruangan sehabis pelayanan pasien.

Mungkin seperti itu saja yang bisa saya bagi disini, terpapar Covid bukanlah akhir dari segalanya, Pante Rei, dan semuanya pasti akan berlalu.[T]

Tags: covid 19kesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sugantika Lekung | “Udah Gitu Aja!”

Next Post

Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co