13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hadapi Covid-19 dengan Secukupnya | Catatan Seorang Penyintas

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 9, 2021
in Esai
Hadapi Covid-19 dengan Secukupnya | Catatan Seorang Penyintas

Dari lantai dua rumah saya, tempat saya menjalani isolasi mandiri

Ya, Saya positif Sars-CoV2 agen penyebab COVID-19. Deretan huruf berwarna merah di bagian tengah formulir itu dari jauh sudah bisa terlihat jelas dan memastikan status saya saat ini sebagai seorang OTG/GR. Seseorang yang telah terkonfirmasi terinfeksi virus Sars-CoV2 namun dengan gejala minimal seperti yang saya rasakan saat ini, adapun sakit yang saya rasakan cuma demam di sore hari disertai batuk kering.

Akhirnya, semua akan covid pada waktunya, begitu canda seorang teman yang saya kabari kondisi saya. Tak ada kesan meledek di nada bicaranya. Sekedar penyemangat dan membuat saya sadar bahwa positif Covid-19 bukanlah akhir dari segalanya.

Saya termasuk terlambat memeriksakan diri, saya sudah merasa meriang hampir mulai 10 hari yang lalu. Saya sedikit mengabaikannya, karena saya sudah lama sekali tak pernah menderita sakit seperti ini, puluhan tahun mungkin. Saya menerapkan hidup sehat, makan dan tidur teratur di gunung. Olahraga seminggu dua kali di kota. Dengan gaya hidup seperti ini, saya benar benar lupa kapan terakhir minum obat karena influenza, puluhan tahun yang lalu saya pikir. Jadi saya anggap keluhan ini hanya karena kurang tidur, sehingga dibawa tidur nyenyak sehari saja pasti akan hilang dengan sendirinya.

Kamis pagi saya merasa sedikit pusing, sepulang dari kota Negara. Siangnya sepulang kantor sedikit memaksakan diri menyuntik pasien di rumahnya, karena yang bersangkutan tak bisa dibawa ke tempat praktek. Kamis malam langsung tepar, demam sampai pagi. Jumat pagi inisiatif tak ke kantor untuk beristirahat, dan siangnya ambil keputusan untuk pulang saja ke Negara, biar dapat istirahat total tanpa diganggu pasien yang hendak berobat. Di kemudian hari keputusan ini saya syukuri, karena dengan positif-nya saya, kemungkinan hari itu sudah ada virus di tubuh saya, dan kemungkinan terburuk bisa menulari pasien saya, mereka yang datang untuk sembuh, justru jadi sakit karena tertular.

Inisiatif untuk memeriksakan diri datang keesokan harinya. Saat terdengar kabar pasien yang sempat saya periksa di rumah akhirnya dibawa ke rumah sakit, kemudian terkonfirmasi positif Covid-19 hinggga akhirnya meninggal. Jadi saya yang sebelumnya pernah sekamar dengannya untuk memeriksa meski dalam hitungan menit, namun dalam kondisi tidak fit. Maka saya menjadi orang pertama yang mesti ditetapkan sebagai kontak erat dan harus dilanjutkan dengan pemeriksaan swab antigen/PCR untuk memastikan status covid saya.

Inisiatif lainnya datang sore itu, tiba-tiba saja seorang teman sejawat chat mengabarkan dirinya positif, dengan kadar oksigen darah (saturasi) yang menurut saya cukup mengkhawatirkan. Spontan saya unggah kondisi lengkap yang bersangkutan di grup angkatan kedokteran kami. Dan seperti yang saya duga, teman-teman di kota yang sudah pernah mengalami, maupun yang lebih sering menangani kasus kasus Covid begini segera memaksa dia untuk segera mencari pertolongan, dan saya-lah ujung tombaknya biar dia segera dievakuasi ke RS.

Begitu sigapnya teman-teman saya, malam itu juga yang bersangkutan segera berangkat ke Denpasar, dan kalaupun kondisinya memburuk, sampai perlu dirawat di HCU. Satu ruang HCU sudah disiapkan atas namanya dan siap diisi kapan pun juga. Begitu mungkin manifestasi Jiwa Corza diantara sesama dokter, apalagi yang merasa pernah satu angkatan, 6-7 tahun bersama menempuh pendidikan kedokteran dengan segala suka dukanya.

Kembali ke kasus saya, akhirnya Senin pagi saya berangkat sendiri ke RS. Istri yang rencananya ikut swab, mendadak membatalkan diri. Tunggu hasilnya saya saja, kalau positif baru lanjut kami semua, begitu kilahnya. Dalam 1 jam, karena cuma swab Ag hasil langsung jadi dan positif.

Saat disarankan untuk lanjut periksa PCR, saya menolaknya, saya merasa sakit saat dicolok kedua hidung barusan, jadi saya trauma. Dan yang saya tahu, sensitivitas pemeriksaan swab AG sudah mendekati /hampir 90 % pemeriksaan swab PCR.

Sejenak saya tertegun, menikmati kesialan ini sejenak, coba  menyangkalnya sebentar lalu mulai menerimanya sebagai sebuah kenyataan. Saya duduk sebentar, memikirkan siapa-siapa yang mesti saya telpon untuk kabarkan kondisi saya, istri pasti, yang lain menyusul kemudian. Istri saya telpon, dia cukup terpukul tapi saya besarkan hatinya, dan suruh siapkan diri untuk segera dites juga bersama mertua dan anak-anak yang tinggal serumah.

Teman sekantor saya telpon, dan ternyata mereka juga ada inisiatif untuk swab bersama beberapa orang yang mengalami gejala dan akhirnya ada dua yang positif juga, “Hmm tambah banyak kerjaan nannti nih petugas surveilennya”, begitu pikir saya. Dalam perjalanan pulang saya coba merenung kembali, kira-kira dimana saya bisa terpapar virus ini ya, di kantor, di tempat praktek, di kota atau dimana?

Akhirnya saya simpulkan, kemungkinan besar saya dapatnya di praktek. Di Puskesmas saya jarang periksa pasien karena sudah ada dokter ke 2. Kunjungan pasien ke praktek bulan-bulan ini sangat meningkat, jadi kalau itu diperiksa acak, barangkali akan ditemukan satu atau lebih pasien dengan Covid-19. Kebetulan saat itu perlindungan diri saya kurang optimal dan kondisi badan saya sedang menurun. Jadi virus itu gampang masuk ke tubuh saya.

Saya ingat, akhir-akhir ini cukup sering pergi bolak-balik karena suatu urusan ke Tabanan, Singaraja, Negara. Lebih sering dari biasanya. Olahraga tenis sudah lebih sebulan tak bisa karena lapangan ditutup terkait PPKM. Jadi bisa dibayangkan kebugaran tubuh saya ini. Oya sebagai tanggung jawab sosial saya selaku anggota masyarakat yang melayani masyarakat desa disana, malamnya saya langsung menelpon ketua satgas desa saya. Saya menceritakan kronologis kejadian yang menimpa saya, dan berjanji akan bekerjasama terkait langkah langkah selanjutnya yang diambil desa dalam hal penanganan kasus penyebaran Covid-19 seperti ini.

Cukup sudah saya meratapi diri, hidup harus tetap berjalan, begitu tekad saya. Saat seorang teman menanyakan kebenaran status saya di sebuah grup pertemanan, saya jawab secara diplomatis. Saya punya kabar baik dan buruk kata saya. Kabar buruknya, saya terpapar, dan kabar baiknya, badan dan jiwa saya menolak kalah melawan virus ini, begitu saya menyemangati diri.

Saya mulai menghubungi teman-teman yang saya anggap lebih tahu tentang penanganan kasus Covid-19. Jujur saja, sebagai dokter lapangan, selama ini saya fokus ke pencegahan saja, pengobatan pasien kurang kita pelajari, karena kami anggap sudah ada orang yang lebih kompeten untuk hal itu. Masalah pertama yang kita hadapi adalah banjir informasi, begitu banyak info tentang penanganan covid-19 ini dan kita mesti pintar memilih moda penanganan yang dianjurkan tadi.

Metode menghirup uap hangat yang katanya efektif, justru membuat batuk saya bertambah parah. Satu yang saya pegang pada dasarnya terapi utama adalah terapi penunjang saja, pemakaian anti virus dan antibiotik hanya untuk mereka yang mengalami gejala penyerta yang dirasa berat saja.

Hari pertama saya isolasi mandiri di rumah, sendirian di lantai dua. Makan dan minum dilayani, kamar mandi menggunakan sendiri. Keluhan utama saya adalah batuk yang sangat mengganggu, tak henti-henti, sampai sakit perut karena batuk terus menerus. Obat yang diberikan di rumah sakit hanya berupa vitamin dan antibiotik satu dosis.

Hari berikutnya, semua harus berubah, istri dan dua anak ternyata positif juga. Segera yang belum terpapar diungsikan semua ke rumah mertua. Kami berempat saja di rumah ini, saya tetap di lantai dua sendiri, karena batuk tetap keras, takutnya sedang aktif virus ini. Kebutuhan sehari-hari didukung oleh mertua dan ipar. Pagi sore datang makanan mateng, ipar setiap saat datang untuk belikan obat dan cemilan. Cukup segitu saja kami merepotkan orang lain terkait isolasi yang kami lakukan secara mandiri. Tetangga samping dan belakang rumah mungkin tak tahu kalau kami sedang isoman, kebetulan sekali rumah kami ada di tengah persawahan, cuma ada satu rumah dan satu toko tetangga kami disana.

Gejala utama yang saya rasakan saat terpapar ini adalah demam naik turun, terutama di malam hari, menetap sampai hari ke 10 ini dan biasanya bisa diatasi cukup dengan parasetamol. Obat-obat lain sebagai penunjang adalah vitamin kombinasi yang mengandung vitamin C, vitamin D dan Zinc pada komposisi tertentu.

Gejala lainnya yang sangat mengganggu adalah batuk kering, yang sampai membuat perut sakit, dan bahkan tak bisa memejamkan mata barang sekejap-pun di hari hari awal terpapar. Obat asetilsistein yang cukup bagus, tak cukup membantu. Sampai akhirnya saya minta resep obat jenis tertentu (dilarang sama senior saya), tapi karena tak tahan saya coba minum. Dan terbukti hari berikutnya begitu minum itu, langsung bisa tidur. Tapi saat diminum lagi hari berikutnya, kepala pusing, terasa berputar dan mau muntah, akhirnya muntah. Ternyata itu adalah efek samping obat ini. Terpaksa akhirnya minum obat itu hanya kalau menjelang tidur, biar pusingnya bisa langsung dibawa tidur.

Selain keluhan tadi, hampir tak ada keluhan yang cukup berarti, penciuman masih normal sehingga makan minum apapun masih terasa enak. Istri dan anak hanya mengalami keluhan yang minimal, demam sebentar dan batuk minimal. Untuk mereka cukup obat penunjang dan antibiotik saja, si bungsu yang demam lebih lama, disarankan anti virus juga dalam dosis yang lebih kecil.

Dukungan pihak lain dalam situasi seperti kami saya rasa secukupnya saja. Keluarga terdekat yang selalu bisa dikontak setiap saat itu sudah lebih dari cukup biar kita tak terlalu merepotkan banyak pihak. Jaringan pertemanan medis saya, baik di puskesmas, dinas kesehatan maupun RSU sangat membantu saat diperlukan obat obat khusus yang biasanya susah untuk didapatkan. Bahkan ada obat obat tertentu yang susah dan mahal, bisa saya dapatkan dengan cuma-cuma atas pertolongan teman.

Mudah-mudahan kami segera bisa lepas dari virus ini, sehingga saya bisa beraktivitas kembali di tengah masyarakat. Karena saya menganggap kemarin dapatnya di praktek maka ke depan saya akan coba memperbaiki dan melengkapi sarana perlindungan diri di sana. Saya akan mulai dari penetapan jam praktek, biar saya bisa ada waktu persiapkan diri. Melengkapi tempat cuci tangan dan lebih banyak hand sanitizer. Menyiapkan masker untuk mereka yang tak pakai masker. Memasang lebih banyak lagi ventilasi udara di ruang  praktek saya. Melakukan desinfeksi ruangan sehabis pelayanan pasien.

Mungkin seperti itu saja yang bisa saya bagi disini, terpapar Covid bukanlah akhir dari segalanya, Pante Rei, dan semuanya pasti akan berlalu.[T]

Tags: covid 19kesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sugantika Lekung | “Udah Gitu Aja!”

Next Post

Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

Demam Gowes di Kota dan Gowes Sampai Demam di Pedesaan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co